Membedakan Simbol Bareng dan Simbol Kubu

Waspadai Cara Licik HTI untuk Giring Opini Bubarkan Banser

Membedakan Simbol Bareng dan Simbol Kubu

Ilustrasi

Ada sesuatu yang sanggup dibilang selaku simbol bersama-sama yang diakui seluruh orang dalam sebuah perkumpulan besar atau bahkan dalam kemanusiaan. Kita selaku ummat Islam punya kesamaan yang jadi identitas bersama-sama, misalnya azan. Di manapun azan terdengar, artinya itu ialah tanda serang muslim telah waktunya menunaikan shalat. Di manapun ada pelarangan atau penghinaan kepada azan, maka semua muslim akan keberatan.

Ada juga hal yang jadi milik semua manusia, misalkan perdamaian, kejujuran, keadilan dan sebagainya. Di manapun hal-hal itu dijunjung tinggi, maka akan diapresiasi oleh seluruh orang. Sedemikian sebaliknya bila hal-hal itu Dikotori, maka akan dihakimi oleh siapapun.

Tetapi ada juga hal umum yang lalu berkembang jadi identitas kubu tertentu saja. Misalnya kain penutup rambut bagi perempuan, dulunya orang dari bermacam agama beberapa memakainya tapi sekarang kain tersebut jadi identitas seorang muslimah. Kita menyebutnya selaku jilbab atau kerudung. Sedemikian juga kain panjang yang dipakai menutup tubuh pria dari pundak sampai ke bawah, yang cuma menutupi 1 pundak saja dan membiarkan sebagian badan tampak. Bila kain ini berkelir putih, maka jadi simbol muslim yang tengah ihram, tapi bila kuning bahkan jadi simbol Biksu Hindu.

Ada juga yang asalnya simbol kubu lalu berubah umum jadi milik bersama-sama, misalnya peci hitam. Dulu peci hitam ialah simbol pakaian muslim, sekarang jadi simbol pakaian nasional, tidak wajib Muslim untuk memakainya.

Hal yang sama berlaku dalam ajaran islam sendiri. Misalnya saja Perkara taqiyyah. Sesungguhnya taqiyyah ialah keringanan yang disebutkan secara literal dalam al-Qur’an. Seluruh ulama mengakui kebolehan taqiyyah, tapi tatkala taqiyyah berkembang jadi simbol Syi’ah, maka para ulama menjauhi kata ini bahkan tidak membahasnya. Sedemikian juga pada sebutan “Imam” bagi Sayyidina Ali, meski semua kaum muslimin mengakui keimaman beliau, tapi kebanyakan ulama menghindari ujaran “Imam Ali” karena ujaran ini berkembang jadi simbol Syi’ah.

Loading...
loading...

Sekarang, bagaimana dengan bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid? Kasusnya sama saja, dulu di era Nabi itu jadi milik bersama-sama selaku simbol Tentara muslimin, sekarang di Suriah berkembang jadi bendera (simbol) ISIS sedangkan di Indonesia jadi bendera (simbol) HTI. Jika kebanyakan orang Indonesia menyaksikan itu di pinggir jalan atau di mana pun di Indonesia, maka di benaknya juga akan terbayang HTI, bukan semata simbol bersama-sama lagi selaku bendera ummat islam keseluruhan. Walaupun HTI senantiasa menekankan bahwa bendera itu ialah bendera Rasulullah, tapi tatkala itu mereka jadikan alat propaganda perjuangan mereka, maka wajar bila lalu “bendera Rasul” tidak cuma dimaknai selaku bendera tauhid semata.

Sebagian kalangan sanggup memprotes pengasosiasian bendera “bersama-sama” ini pada kubu tertentu saja dengan berpaku pada sejarah masa lalu, tapi pengasosian ini ialah fakta empiris waktu ini yang tidak bisa dipungkiri. Bila hal ini cukup sulit diterima dan tetap secara naif menegasikan keterkaitan simbol tersebut dengan HTI, maka silakan kibarkan bendera itu di Arab Saudi yang mempunyai kalimat tauhid serupa. Tentu nanti akan tampak bahwa itu bukan semata kalimat tauhid murni lagi, tapi kalimat tauhid yang sudah berasosiasi pada kubu tertentu.

Jadi, bila sekarang ada Perkara oknum yang membakar bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid itu, apakah artinya sanggup dinilai dia menghina kalimat tauhid yang jadi simbol sakral semua ummat Islam? Tidak sesederhana itu. Saya tentu tidak menyokong bahkan menyesalkan aksi seperti itu dan apalagi direcord dan disebar segala karena itu cuma menghasilkan polemik yang tidak Penting. Tetapi, saya juga menyesalkan pihak-pihak yang menutup mata dari Pergantian bendera selaku simbol “bersama-sama” ke simbol kubu tertentu itu. Bila ditanya pelakunya, tentu mereka tidak berniat menghina simbol kalimat tauhid karena siapapun tahu bahwa ini sanggup berkonsekuensi kemurtadan. Mereka pasti niatnya membakar simbol HTI yang sungguh berkemungkinan memecah belah bangsa.

Kasusnya sanggup kita samakan dengan aksi Khalifah Utsman membakar mushaf sahabat. Hal itu tidak sanggup diartikan bahwa beliau tengah menghina firman Allah karena itu berkonsekuensi kemurtadan. Dalam sejarah, cuma Khawarij yang punya pikiran picik seperti itu sampai mereka membantai Khalifah Utsman dengan kejinya. Adapun kenyataannya, Khalifah Utsman cuma membakar catatan pribadi para sahabat yang berkemungkinan memecah belah ummat di lalu hari. Motif atau niat ini akan menentukan cara kita “menghakimi” sesuatu.

Ingat, saya bukan mau membela pembakaran bendera tauhid, tapi mau mengajak supaya kita objektif. Bedakan antara simbol bersama-sama dan simbol yang telah berasosiasi pda golongan supaya tidak keterlaluan dalam Memberi komentar. Cukup Khawarij saja yang pikirannya sempit seperti itu.

Semoga berguna. Wallahu a’lam.

Abdul Wahab Ahmad, Penulis ialah Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember

(FB RozyLuckyLucky/suaraislam)

Loading...


Shared by Ahmad Zaini

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :