Tasawuf Islam

Meluruskan Tudingan “Tasawuf Bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits”

Meluruskan Tudingan “Tasawuf Bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits”

Oleh: Edi AH Iyubenu, esais dan wakil ketua LTN PWNU DIY. @edi_akhiles, FB: Edi MulyonoApa benar pemikiran dan gerakan tasawuf bertentangan dengan al-Qur’an dan tuntunan Rasulullah Saw.?

Tema ini kerap benar dijadikan sasaran tembak oleh sekelompok muslim yang memposisikan dirinya selaku ahlus sunnah yang paling murni, benar, dan sesuai tuntunan Rasul Saw.

Bidikan pertamanya ialah bukan adanya ajaran tasawuf dalam al-Qur’an dan hadits Nabi Saw.

Kalau yang dimaksud “ajaran” ialah teks-teks naqli yang sharih dalam al-Qur’an dan hadits, memang benar pengakuan tersebut. Akan tetapi, sebelum keburu Anda terseret membenarkan tudingan sesat pada tasawuf, mari mengerti dulu hal-hal berikut:

Pertama, menganggap ajaran Islam yang bagus dan benar hanyalah yang ada bunyi teksnya, literal (bayani), ini pandangan yang bermasalah. Kenapa? Karena berisiko menjadikan Islam sedemikian sempit, terbatas, sudah selesai di masa 16 abad silam ketika diturunkan al-Qur’an dan lahirnya hadits-hadits Nabi Saw.

Kalau yang dimaksud sudah selesai ialah hal-hal yang berskala mahdhah, misal kaifiyat shalat, puasa, haji, dan sejenis, tentu seluruhnya muslim setuju tanpa kecuali. Tetapi apakah Islam cuma berhenti di level rukun iman dan rukun Islam? Terang bukan. Surat al-Ankabut ayat 43, misal, sudah memberikan info yang mestinya mengundang refleksi, kreasi, bahkan jelajah imajinasi kita dalam maksud makin meluaskan, mengembangkan, mendalamkan, dan mematangnya pemikiran dan praktik keislaman kita. “Dan perumpamaan-perumpamaan ini kami buat guna insan; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”

Apa yang sanggup kita tangkap dari ayat yang memotivasi kita guna berilmu tersebut? Nggak lain ialah pendalaman dan penyelaman kognisi, pemikiran, yang tentu saja maksud dan tujuannya ialah makin mendekatkan kita terhadap Allah Swt. Nggak ada lainnya.

hingga di sini, jelas betul bahwa pengakuan keharaman atau kesesatan paham tasawuf dikarenakan bukan adanya dalil sharih tentangnya merupakan pandangan yang bermasalah pada aras ‘orang-orang yang berilmu tersebut’.

Kedua, tudingan zindiq (orang yang menabrak syariat dengan mengada-adakan hal-hal yang bukan diterangkan secara tekstual oleh al-Qur’an dan Rasul Saw.) Terang bukan fair dan muskil dipertanggungjawabkan kebenarannya kalau kita setuju bahwa maksud utama kita berpikir dan beramaliah (masuk didalamnya yang mengatasnamakan mengikuti al-Qur’an dan tuntunan Rasul Saw.) adaah guna taqarrub ilallah.

Aku tunjukkan satu bukti saja, yaitu ayat yang menuding pada perlunya kita merenungkan fenomena-fenomena kauniyah dari Allah. Misal dalam surat al-Hadid ayat 1: “Seluruhnya yang berada di langit dan bumi bertasbih terhadap Allah (mengumumkan kebesaran Allah)…” Kala kita melihat langit di malam yang gerimis, umpama kita sanggup meresapkan kemahakusaan Allah pada hati kita, iman kita, lalu menjelma kedalaman laku amaliah syariat kita, misal dzikir atau shalat, bukankah itu berguna sekali bagi taqarrub ilallah? Apakah melihat langit di kala hujan bakal dipersoalkan otentisitasnya dan gunanya bagi kedalaman iman dan syariat kita cuma asbab bukan diharuskan selaku ajaran oleh Rasulullah Saw?

Terang hal sejenis ialah pola pikir yang bermasalah alias logical fallacy.

Tepat di koridor demikianlah pengakuan sesat, mengada-ada yang buruk (bid’ah sayyiah) terhadap para salik, murid-murad, tarekat, dan mereka yang mendalami tasawuf enggak mempunyai bangunan berpikir yang otoritatif.

Sejarah sudah memperlihatkan pada kita bahwa awal lahirnya gerakan tasawuf di abad pertama dan kedua Hijriah (itu artinya di era tabi’in dan tabi’it tabi’in, serta sebagian kecil era sahabat) –dan kita tahu inilah era emas yang dipuji oleh Rasulullah Saw sendiri sebelum beliau mangkat—tidak asbab persoalan politik-ideologis yang mengembuskan radikalisme ala Khawarij. Tidak. Malah sebaliknya, sejumlah muslim awal sengaja meninggalkan hiruk-pikuk perpolitikan dan ideologi faksional yang menguat di antara ummat Islam dengan cara memfokuskan diri pada perkara-perkara ibadah.

Mereka ialah para ‘ubbad (ahli ibadah). Lantas pilihan mereka manarik diri dari kecamuk politik yang meruncing menghantarkan mereka guna menampilkan sikap-sikap wara’, ta’dhim, dan zuhud. Idetitas komunitas yang mereka bangun ialah dengan mempergunakan baju wol yang kasar (suf). Dari sinilah identifikasi itu berawal, yaitu sekelompok muslim yang memilih mendedikasikan diri dan aktivitasnya pada peribadatan terhadap Allah dan menjauhi riuh-pikuk duniawi dengan kezuhudan yang direpresentasikan oleh wol yang kasar. Mereka lalu dikenal selaku ahli tasawuf.

Jadi, identifikasi kaum ini terbedakan dengan Terang dibandingkan kecenderungan umum muslimin masa itu –meski ini bukan lalu artinya bahwa di luar komunitas tasawuf ini ialah muslim-muslim yang tidak ahli ibadah dan tergila-gila pada urusan duniawi.

Kalau karakter utama kaum tasawuf yang ‘ubbad dan zuhud ini dikorelasikan dengan travelling hidup Rasulullah Saw sendiri, di manakah letak kesalahannya, sesatnya, bukan sesuainya? Terang enggak sanggup dibuktikan.

Seluruhnya kita mengerti dengan pasti betapa Rasulullah Saw ialah puncak dari teladan kekhusyukan dan keistikamahan ibadah terhadap Allah. Sekalipun beliau dijamin ma’shum, kita tahu betapa beliau tiap hari enggak tidak cukup dari seratus kali membaca istighfar. Juga kita tahu dari sejarah betapa beliau sampai bengkak kakinya lantaran amat tidak sedikit menunaikan shalat-shalat sunnah.

Ini perkara peribadatannya.

Lalu perkara bukan terikatnya hati Rasulullah Saw pada urusan-urusan meterial duniawi, dengan istilah sekarang ialah zuhud, ialah kita misalnya mengetahui dari catatan sejarah betapa Rasuluallah Saw mengikat perutnya dengan batu-batu untuk menahan rasa laparnya dan betapa sering beliau kelihatan mempunyai bekas pelepah korma di pipinya asbab bukan bermalam di atas kasur empuk.

Kezuhudan (baca: kesederhanaan, kerendahan hati, dan kewara’an) inilah yang diteladani para ahli tasawuf semenjak awal kelahirannya. Sosok-sosok awal ahli tasawuf macam Hasan al-Bashri dan Rabi’ah Adawiyah memperlihatkan dua karakter utama itu: ‘ubbad dan zuhud.

Begitupun lalu kita tahu bagaimana sosok Imam Ghazali yang kondang betul dengan warisan Ihya’ Ulumuddin-nya meninggalkan keriuhan universitas yang dipimpinnya dan berlabuh terhadap kezuhudan yang menakjubkan.

Seluruhnya sikap ‘ubbadh dan zuhud itu enggak lain dimaksudkan guna mendekatkan diri terhadap Allah.

Apakah Anda masih memerlukan ayat-ayat yang sharih dalam al-Qur’an soal perintah rajin dan khusyuk beribadah terhadap Allah dan bukan mengikatkan hawa nafsu terhadap materi-materi duniawi di sini?

Amat bejibun ayat-ayat yang memotivasi menuju penjuru tersebut.

Imam Junaid al-Baghdadi, misal, memberikan nasihat terhadap kita sekarang bahwa perjuangan mendekatkan diri terhadap Allah melalui jalan tasawuf (beliau mengistilahkannya tauhid dan ‘arif) yang sungguh-sungguh cuma bakal tercapai bila (1) kita mengerahkan seluruh jiwa dan raga guna menjalankan syariat Allah. (2) menyerahkan segala apa yang kita ketahui, pahami, dan bahkan amalkan selaku karunia Allah Swt. (3) Nggak menjadikan diri terikat terhadap apa juga selain terhadap Allah. Nggak ada yang datang selain dari Allah. Masuk didalamnya bahkan tauhid yang kita ketahui dan amalkan.

Kala beliau ditanya apa itu tauhid, beliau menjawabnya dengan menukil ungkapan Abu Bakar Ash-Shiddiq: “Segala puji milik Allah yang sudah memberikan terhadap makhlukNya ketidakmampuan guna mempelajari segala sesuatu tentangNya, kecuali melalui ketidakberdayaan mereka guna meraih pengetahuan tentangNya.”

Bukankah ini sikap rendah hati yang luar biasa, tawadhu’, tawakal, dan la haula wala quwwata illa billah –yang jelas-jelas diajarkan oleh al-Qur’an dan dituntunkan oleh Rasulullah Saw.?

Tampak benar sekarang bahwa akar penolakan –bahkan tudingan sesat—terhadap pemikiran dan gerakan tasawuf sebenarnya terlahir dari (1) kekakuan nalar yang terjebak oleh pemutlakan wajib adanya dalil dan dalil pada seluruh lelampah hidup muslim, (2) cara berpikir yang sempit, saklek, dan dangkal kepada ajaran Islam (bagus teks al-Qur’an, hadits Nabi Saw., dan khazanah emas para salafus shalih), dan (2) lemahnya kreasi-kreasi ikhtiari yang pada hakikatnya sah-sah saja yang berniatan menggempalkan iman, Islam, dan ihasan kita terhadap Allah Swt.

Semoga berguna.

Masjid An-Nur, Tegalsari, 28 Mei 2018

Source: Bangkitmedia.com

Jasa Web Alhadiy
Tags

Related Articles

Jika ada ditemukan artikel yang salah, dan lain-lannya, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker