Meluruskan Kaum Nyinyir yang Menghukumi Sesat Melantunkan Ya Lal Wathon saat Sa’i

Berikut ini kami ingin meluruskan kaum Nyinyir yang menghukumi sesat melantunkan Ya Lal Wathon saat Sa’i. Beberapa hari ini viral di medsos tentang pelaksanaan ibadah saI, karena diantara ritualnya diselingi dengan lantunan syiir ya lal wathon yang menjadi lagu wajibnya Nahdlatul Ulama.

Tentu saja praktek ini memunculkan pro kontra di antara kaum muslimin. bahkan banyak yang nyinyir dan ada yang menilai sesat, tidak punya adab, dan haram.

 

Hukum pelaksanaan Sa’i berselibkan syiir Ya Lal Wathon

Berikut saya sampaikan ulasan tentang hukum pelaksanaan Sa’i berselibkan syiir ya lal wathon tersebut.

1. Rasulullah SAW. Bersabda:

Dijadikannya thawaf di baitullah, saI antara shofa marwah, dan melempar jimar adalah demi menjaga konsistensi diri dalam berdzikir pada Allah.

Dari hadits ini tertera secara jelas bahwa thawaf, saI, dan melempar jumrah adalah bagian ibadah yang harus diisi penuh dengan dzikir kepada Allah SWT. Tidak sepatutnya bila dalam pelaksanaan ritual ibadah tersebut ternyata kita lalai (ghoflah) dari dzikir kepada Allah terlebih lagi masih membawa kebiasaan maksiat dan belum mau bertaubat.

Jadi, sai tidak hanya diisi dengan kalimat-kalimat doa, tapi juga dianjurkan untuk melafadlkan dzikir-dzikir.

Apakah syiir ya lal wathan termasuk kategori dzikir?

Jawabannya: iya.

Karena syiir tersebut mengajak pada dua kebaikan yakni ingat kepada Allah dan mengajak cinta tanah air.

 

2. Hukum menggaungkan syiir ya lal wathon.

Menggaungkan syiir yang bertemakan dzikir pada Allah dan cinta tanah air adalah sunnah baik di dalam masjid terlebih lagi di luar masjid.

3. Hukum cinta tanah air ( nasionalisme ) dan hukum tidak cinta tanah air ( anti NKRI dan perangkat-perangkatnya )

Nasionalisme harus terpatri dalam sanubari setiap anak bangsa demi menjaga semangat mempertahankan, siap berkorban dan berjuang demi bangsa, sehingga tetap lestari dalam kemajmukannya baik di bidang agama, suku dan budayanya terpelihara menjadi kekuatan riil demi memperkokoh kedaulatan bangsa.

Sehingga terciptalah suasana kehidupan yang damai, saling menghormati, menghargai, melindungi, dan mengasihi.

Dalam sebuah hadits disebutkan:

.
Tatkala Rasulullah SAW. Pulang dari bepergian dan melihat dinding kota Madinah, beliau mempercepat laju kudanya. Dan bila mengendarai tunggangan, maka beliau gerak-gerakkan karena cintanya pada Madinah.
Syekh Ibnu Hajar al-Ashqalani menegaskan bahwa hadits tersebut menunjukkan dua hal pokok: yakni tentang keutamaan kota Madinah dan disyariatkannya cinta tanah air.

(3/ 621)

Sayyidina Umar bin Khattab RA. Menjelaskan:

Seandainya tidak ada cinta tanah air, niscaya akan semakin hancur suatu negeri yang terpuruk.

Maka dengan cinta tanah air, negeri-negeri akan termakmurkan.

(6/ 442)

NB: Dari paparan ringkas ini bisa disimpulkan bahwa :

1. Menggaungkan syiir ya lal wathon saat pelaksanaan saI adalah sebuah kebaikan dengan syarat tidak disuarakan dengan arogan hingga mengganggu yang lain, karena cinta tanah air adalah kewajiban setiap muslimin.

Terlebih lagi, saat ini ajaran cinta tanah air banyak yang tidak memahaminya.

2.Tidak mencintai NKRI beserta perangkatnya adalah perbuatan dosa.

Maka, diharuskan untuk segera bertaubat, terlebih saat melaksanakan ibadah saI.
__
Oleh: M. Asnawi Ridlwan (Wakil Sekretaris LBM-PBNU)
Sumber: KBAswaja

 

You might like

About the Author: admin

KOMENTAR: Jika ada artikel yang salah, dll, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.