Prihatin Melihat Situs-situs Sejarah Dihancurkan

Prihatin Melihat Situs-situs Sejarah yang Dihancurkan. Banyak situs-situs sejarah pada peradaban masa lalu yang hingga kini masih terawat dan tetap terjaga keasliannya. Dan ada pula yang telah hilang entah karena dicuri ataupun yang lainnya.

Salah satunya yaitu Negara Belanda. Tidak sedikit peninggalan-peninggalan situs sejarah di Indonesia dimiliki oleh Belanda. Karena Belanda pernah menjajah Indonesia selama 3,5 abad. Menurut Ryvo Octaviano, acara yang diinisiasi PPI Leiden dan PPI Belanda menawarkan konsep “penjelajahan” lokasi-lokasi bersejarah di Kota Leiden yang memiliki kedekatan historis dengan Indonesia. Sekitar sepuluh spot dipilih sebagai lokasi, di antaranya adalah rumah antropolog Snouck Hurgronje dan kediaman Achmad Soebardjo (menteri luar negeri pertama Indonesia).

Beberapa nama seperti Parlindoengan Loebis, R.M. Sosrokartono, R. Soemitro dan Soetan Casejangan Soripada cukup asing karena tidak terlalu mendapat banyak porsi dalam historiografi Indonesia. |Namun, siapa sangka ternyata mereka pernah berjuang demi terbentuknya konsep “Indonesia” ketika mereka berstatus sebagai mahasiswa Leiden,” ujarnya.

“Siapa sangka pula puisi Chairil Anwar dan Ranggawarsita terpampang gagah menghiasi sudut Kota Leiden,” katanya.

Dalam ruangan kecil museum yang telah berusia 176 tahun tersebut tersimpan koleksi arca-arca asli peninggalan Kerajaan Singasari, puluhan keris dengan ornamen yang sangat indah (salah satunya merupakan keris yang digunakan oleh Cut Nyak Dien).

Selain itu juga terdapat boneka-boneka yang merepresentasikan keragaman suku di Indonesia yang merupakan hadiah untuk Ratu Wilhelmina. Serta beragam koleksi menarik lainnya. “Kami juga beruntung karena pada saat yang sama, kami juga berkesempatan melihat eksibisi ’Een Huis vol Indonesie’ yang baru saja dibuka di museum etnologi tertua di dunia tersebut,” ujar Ryvo.

Dengan adanya pendekatan antara pemerintah Indonesia dengan Belanda, ada beberapa arca dan lontar yang mempunyai nilai sejarah yang tinggi sudah dikembalikan meskipun tidak semuanya. Disisi lain mungkin, Belanda ingin memuseumkan beberapa peninggalan-peninggalan yang dulu pernah mereka jajah di Indonesia untuk dijadikan sebagai bukti penjajahannya pada masa itu.

600 barang antik dikembalikan ke Museum Nasional Irak

BAGHDAD, (PRLM) – Lebih dari 600 barang antik dikembalikan ke Museum Nasional Irak setelah ditemukan di dalam kotak-kotak di kantor Perdana Menteri Nuri al-Maliki. Beberapa dari artefak bersejarah yang berusia ribuan tahun itu dulu diseludupkan ke luar dari Irak dalam periode waktu tertentu sebelum ditemukan di Amerika Serikat. Mereka kemudian dikembalikan ke Irak awal 2009 namun menghilang.

Artefak yang ditemukan antara lain berupa permata, patung perunggu, maupun lempengan tanah liat. Direktur Museum Nasional Irak, Amira Eidan, mengatakan temuan tersebut merupakan koleksi yang penting. “Beberapa berasal dari awal era Musim dan yang lainnya dari masa Sumerian, sebagian dari Babylonia, Hellenistik -periode berbeda dan kota berbeda,” menurut Menteri urusan Barang Purbakala Irak, Qahtan al-Jubouri, yang dikutip “BBC”

Ribuan artefak termasuk yang menggambarkan masa 7.000 kebudayaan di Mesopotamia dicuri dari Irak pada masa kekacauan saat invasi pimpinan Amerika Serikat tahun 2003. Walau ditempuh upaya internasional untuk melacaknya, tak sampai setengah dari artefak itu yang berhasil ditemukan kembali.

Sejak invasi AS untuk menggulingkan Presiden Saddam Hussein berlangsung 7 tahun lalu, sebanyak 15.000 relik dijarah. 638 Artefak di antaranya diserahkan ke PM, namun dinyatakan hilang lagi.

Kalangan sejarawan menganggap Irak telah kehilangan warisan budaya nasional setelah terjadinya aksi penjarahan massal tahun 2003 itu. Padahal Irak adalah salah satu tempat lahirnya peradaban di muka bumi ini. Ratusan benda antik yang kini kembali termasuk patung tanpa kepala raja Sumeria yang dikoleksi Saddam. Selain itu adalah tembikar, cangkir kaca, manik-manik dari periode sejarah Mesopotamia.

Irak juga menemukan 500 artefak antara lain patung kepala Raja Sumeria, Entemena dan senjata AK-47 milik Saddam Hussein.

Apabila suatu Negara tidak memiliki situs-situs peninggalan sejarahnya. Maka besar kemungkinannya sejarah atau bahkan peninggalan-peninggalan yang dimiliki oleh suatu Negara tersebut bisa dicuri dan diklaim sebagai miliknya.

Madinah akan mengalami penghancuran ?

Tidak hanya itu, semua situs Islam di Saudi perlahan demi perlahan mulai punah bahkan dihilangkan. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melukiskan peristiwa itu 1400 tahun yang lalu. Seperti yang disebutkan terdahulu, situasi Madinah saat ini, dengan bangunan-bangunan modern, tampak bertolak belakang dengan hadits yang menyebutkan bahwa Madinah akan mengalami penghancuran.

Namun, dengan pencermatan yang lebih saksama, kita mengetahui bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara khusus menyebutkan bahwa Yatsrib, bukan Madinah, akan dirusak.

Pernyataan Nabi yang sangat akurat itu mengungkapkan makna yang bisa dipahami dalam konteks modern. Yatsrib adalah kota Nabi tempat munculnya cahaya pengetahuan yang menyinari dunia. Ia merupakan tempat berdirinya pemerintahan Islam yang pertama, dan sumber banyak prestasi para sahabat.

Kharâb Yatsrib berarti bahwa peradaban kota tua Madinah (yang dulu dikenal dengan nama Yatsrib) akan rusak. Dampaknya adalah bahwa segala peninggalan klasik dan tradisional dalam Islam akan dihancurkan pada masa-masa sebelum datangnya Kiamat.

Pengrusakkan itu dilakukan oleh sekelompok orang yang menyebarkan versi Islam dengan pemahaman yang dangkal, yang mendiskreditkan dan meremehkan tradisi-tradisi klasik. Kini, kita menyaksikan kemunculan sekelompok orang yang menentang setiap aspek Islam tradisional, Islam arus utama, yang telah dipelihara oleh umat Islam selama lebih dari 1400 tahun. Kelompok tersebut ingin mengubah seluruh pemahaman keagamaan dengan menawarkan Islam “modernis” mereka.

Orang-orang tersebut merupakan kelompok minoritas di tubuh umat Islam.  Gagasan-gagasan mereka yang penuh penyimpangan telah disanggah dan ditolak dari berbagai sisi oleh para ulama Islam, seperti yang telah banyak ditulis orang. Tidak ada yang namanya Islam itu dimodernkan, diperbaiki, ataupun dibenahi.  Islam adalah agama yang sempurna, sejak pertama kali dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hingga Hari Kiamat.

Mereka (kaum Wahhabi) yang mengklaim diri sebagai “pembaharu Islam” berusaha menyuguhkan hal-hal baru untuk menggantikan dan menghapus hal-hal klasik dan tradisional dalam Islam.

Aliran Wahhabi kedok “pemurnian” Islam

Aliran Wahhabi inilah yang pertama kali mengajukan pemahaman yang sepenuhnya baru tentang Islam, dengan kedok “pemurnian” Islam.

Ideologi Wahhabisme ini telah merusak Islam tradisional atas nama “pemurnian” Islam, seakan-akan semua orang Islam sebelum munculnya Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb telah tersesat.

Alih-alih membawa pemurnian, ia justru telah menghancurkan ilmu-ilmu dan praktik keislaman yang telah berakar selama berabad-abad. Semua hal yang telah diwariskan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan generasi Islam sepeninggal beliau tiba-tiba dicap sebagai bentuk penyembahan berhala (syirik) yang harus dimusnahkan.

Orang-orang Islam yang melaksanakan ibadah haji dijejali dengan bahan-bahan bacaan dan propaganda mereka, sehingga para jemaah itu menganggap bahwa keyakinan dan praktik tradisional mereka bertentangan dengan Islam.  Sekte Wahhabi meragukan tradisi keilmuan yang telah berusia 1400 tahun, dan melontarkan tuduhan kufur, syirik, bidah, dan haram terhadap berbagai praktik dan pemahaman tradisional.

Kerusakan pertama yang menimpa Yatsrib adalah ketika Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb menghancurkan ilmu-ilmu “keislaman” dengan cara meracuni pemahaman orang-orang Islam terhadap agama mereka.

Ungkapan Kharâb Yatsrib yang kedua merujuk pada penghancuran fisik terhadap bangunan dan monumen yang berasal dari masa Nabi di Yatsrib, kota Madinah klasik. Di Madinah memang telah terjadi perluasan Masjidil Haram, tetapi kenyataan tersebut tidak bertolak belakang dengan ungkapan “Kharâb Yatsrib” karena hadits tersebut merujuk pada kota tua Madinah yang dikenal dengan Yatsrib, dan semua yang mewakilinya.

Segala sesuatu yang terkait dengan kehidupan Nabi telah dipelihara oleh orang-orang Islam selama bertahun-tahun, apakah masjid tua, benda-benda sejarah, atau makam rasul, para sahabat, istri, dan anak-anaknya.

Meskipun orang-orang Islam selama berabad-abad sepakat bahwa situs-situs tersebut merupakan bagian penting dalam sejarah dan tradisi Islam, semuanya dihancurkan oleh aliran Wahhabi dengan menggunakan dalih bahwa “semua itu bukan lagi Islam”.

Pemahaman mereka dangkal terhadap Islam

Pemahaman mereka yang dangkal terhadap Islam mengakibatkan penghancuran sejumlah benda peninggalan sejarah dan monumen. Kharâb berarti “penghancuran,” tetapi kata ini juga bermakna peruntuhan.”

Memang, kantong-kantong tradisi klasik masih ada, dan hendak dibangun kembali oleh umat Islam, tetapi mereka tidak diperkenankan membangunnya kembali, sehingga yang tersisa hanyalah reruntuhan dan puing-puing bangunan.

Tidak ada lagi orang yang mengetahui lokasi kuburan para sahabat. Di Gunung Uhud dekat Madinah, kita bisa menyaksikan puing-puing bangunan yang awalnya merupakan makam yang dilengkapi dengan kubah dan hiasan-hiasan indah. Dengan makam yang terlihat jelas, bangunan suci itu mengenang para sahabat yang gugur bersama Hamzah di Gunung Uhud.

Kini, hanya ada reruntuhan dinding yang diabaikan oleh para pengunjung.  Demikian pula halnya, sudah  tidak ada lagi bekas-bekas yang menunjukkan makam para syuhada Badar. Juga, tidak ada lagi tanda kuburan istri Nabi, Khadîjah al-Kubrâ di Jannat al-Mu’ala, Mekah.

Di Jannat al-Baqî’ (permakaman yang bersebelahan dengan makam dan Masjid Nabi di Madinah), makam ‘Utsmân, ‘Â’isyah dan sejumlah sahabat telah dipelihara oleh penguasa ‘Utsmani hingga awal abad ke-20, namun jejak-jejaknya kini telah dihilangkan. Hal itu merupakan  pengrusakan fisik terhadap peradaban Islam yang ada sejak zaman  Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tinggal di Yatsrib.

Dengan perlahan-lahan dan diam-diam, para pengikut sekte Wahhabi telah melenyapkan semua hal yang terkait dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Islam tradisional, sehingga saat ini nyaris tak tersisa. Tindakan yang seperti ini dinilai sangat meresahkan umat islam dunia karena  Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh sentral dalam umat islam sepanjang hayat umat Islam akan menghormati dan meneladani Nabi Muhammad SAW jadi kecaman keras akan datang dari penjuru umat Islam dunia.

Demikianlah, kita Hanya Bisa Prihatin Melihat Situs-situs Bersejarah yang Dihacurkan.

Jasa Website Alhadiy

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :