Mazhab, Politik dan Tahun Politik 2019

Ini soal keterkaitan Mazhab, Politik dan Tahun Politik 2019. Dua bulan lalu, saya pernah dikeluarkan dari sebuah grup fb betawi. Sederhana, sebab saya melawan hoax dan berita sentimen kebencian yang dituduhkan kpd NU, Banser dan pemerintah. Lantas, akhirnya cap syiah pun dilekatkan kpd saya. Grup betawi berubah jadi grup islam mazhab tertentu. Etnis berubah jadi sentimen politik aliran yang menjengkelkan.

Beberapa kali saya postingkan hasil prosiding pemeriksaan saya mengenai betawi, mulai makam keramat sampai perkampungan etnis. Tanggapan ada, tapi sedikit. Saya juga postingkan aktifitas haul serta aktifitas kaum betawi, komentar juga biasa dan sedikit. Beda cerita jikalau yg diposting ialah foto cewek bahenol dan bohay, komentar sanggup ratusan. Saya bingung mengukur variabel kesalehan dan orientasi seksualitas mereka.

Di grup wa alumni SMA, informasi yang beredar juga nggak jauh tak sama. Sentimen kpd NU, banser dan pemerintah jadi bumbu sehari-hari. Ndak lupa bumbu ilusi PKI serta petuah nasehat ala wahabi. Tiba2 saja, beberapa kawan yang dulu nggak pernah ngaji, tiba2 memegang stempel surgawi dan dengan mudahnya memberi cap sunnah dan bid’ah. Muak dengan beragam berita, cukuplah saya kirimkan satu berita yang membikin mereka marah2, sehingga mempunyai alasan untuk left dengan gembira.

sesudah tertangkapnya jaringan saracen dan MCA, saya kira hoax nggak akan pernah habis. Kaum bani micin cyber army senantiasa berdalil: “masih percaya kpd pemerintah dan sumber berita mainstream seperti kompas, media indonesia, kumparan, detiknews dan sebagainya. Kasihan deh lu”. Itu komentar kawan kuliah saya, beberapa hari lalu.

Singkatnya mereka telah kadung dijejali hoax, bahwa cuma berita dari sumber mereka yang benar. Di luar itu ialah fitnah, salah, sesat, zionis, syiah dan musuh islam.

****

Perihal kepercayaan mengenai kebenaran, mengingatkan saya kpd kejadian sejarah sepeninggal terbunuhnya Sayyidina Usman RA.

Tatkala Sayyidina Ali jadi khalifah, fitnah terus berkobar. Orang2 yang menuntut darah Usman, lalu menjadikan agama selaku dalil pembangkangan politik. Mereka yang dipimpin oleh Muawiyah lalu menantang Imam Ali untuk berperang, sehingga terjadilah perang siffin antara sesama saudara seiman, antara Ali bin Abi Thalib al Hasyimi dengan Muawiyah bin Abu Sufyan al Umawi, sesudah sebelumnya terjadi perang saudara antara Imam Ali dan Aisyah.

Di akhir perang siffin, lahirlah kubu yang bernama khawarij. Kubu ini ialah kubu yang khoroja atau keluar dari kubu Imam Ali dalam perang siffin, sebab Imam Ali memilih tahkim atau berdamai lewat syura Abu Musa Al Asy’ari dengan Amr bin Ash. Mereka pun lalu memusuhi Imam Ali. Mereka berdalih bahwa Imam Ali, sang pintu ilmu, sudah keluar dari kebenaran. Mereka menjadikan urusan politik selaku urusan keagamaan, sehingga wajib diputuskan dengan berhakim kpd al Qur’an. Ndak benar dan dibenarkan bagi seorang muslim untuk berdamai dengan orang yg nggak benar, begitulah dalih mereka. Dengan kata lain, baik Imam Ali apalagi Muawiyah, keduanya sudah keluar dari kebenaran. Mereka sudah sesat dan wajib dibunuh. Sedemikian versi kebenaran versi khawarij. Dengan perlahan dan pasti, lalu mereka merekontruksi ajaran islam ala mereka dan menjadikannya mazhab.

Cerita sejarah lalu terus berlanjut. Kaum khawarij pada akhirnya melaksanakan aksi tindakan mematikan kepada Imam Ali, sang menantu nabi. Anak Imam Ali, Al Hasan, memerintah sebentar. Tapi, sebab enggak tahan akan tekanan kekuasaan dan pertikaian, ia pun menyerahkan kekuasaannya kpd Muawiyah. Maka berakhirlah masa kekhalifahan dan lalu berganti kpd pemerintahan para raja ialah nasab Muawiyah dan Umayyah.

Loading...
loading...

Waktu Muawiyah memerintah, pengikut setia Imam Ali terus beroposisi. Keputusan strategi Muawiyah yang menuding anaknya, Yazid, selaku putra mahkota, merupakan pengingkaran kesepakatan kpd al Hasan. Perlawanan kepada rezim umayyah pun makin meningkat. sesudah Yazid diangkat ditunjuk selaku khalifah, maka Al Husain pun memperoleh sokongan selaku khalifah tandingan. Yazid yang nggak sanggup tinggal diam, lalu mengirimkan bala tentaranya dan sukses menghabisi secara brutal dan keji al Husain, penghulu pemuda penghuni surga, di bumi Karbala.

sesudah itu, muncullah secara perlahan fanatisme kepada ahlul bayt yang berujung kpd kristalisasi mazhab Syiah. Mirip dengan khawarij yang mempercayai versi kebenaran berdasar al Qur’an dan hadits versi sendiri, Syiah pun lalu mengambil kebenaran cuma berdasar sumber internal yang mereka yakini, yaitu kpd para imam 12 yang terpelihara dari berbuat dosa.

Dengan sedemikian, persoalan politiklah yang mendasari berdirinya dua mazhab dalam islam, yaitu khawarij dan syiah. Agama ialah dalil yang menguatkan argumentasi politik mereka.

****

Kebersamaan mereka dipicu antipati kepada Joko Widodo dan Ahok

Sambil mengingat sejarah, saya bergumam dalam hati, apakah problem politik yang mengatasnamakan “bela islam dan ulama” akan mengkristal kpd ajaran dogmatis dan membangun mazhab tertentu? Saya kira model kebenarannya memang sama, tapi ikatan emosional yang lahir ialah tak sama.

Dalam perahu besar “mazhab bela islam” ada beragam kepercayaan fiqh yang sulit disatukan. Habib Rizieq amaliyahnya sama dengan NU, tak sama dengan Bahtiar Nasir atau kubu modernis lainnya. Belum lagi wahabi garis lunak yang ikut2an, perbedaannya makin sulit disatukan.

Adapun satu hal yang membikin mereka merasa sama ialah antipati kepada pemerintahan Joko Widodo, dan Ahok ialah bagian dari Joko Widodo. Dan ujungnya ialah anti kpd siapapun yang mesra kpd Joko Widodo, termasuk di dalamnya NU dan Ansor. Celakanya, untuk menghantam pemerintah, terkadang hoax dan berita kebencian pun jadi bagian yang menyatukan mereka. Seperti yang terbongkar dalam kasus saracen dan MCA.

Dengan sedemikian, power “mazhab bela islam” cuma akan jadi mazhab sesaat yang sifatnya politik. Sekedar untuk menjatuhkan atau minimal selaku oposan, kepada kekuasaan Presiden Jokowi.

Pertanyaaannya lalu, sampai kapan mazhab ini akan bertahan, maka jawabannya akan ditemukan pada 2019. Kalau Joko Widodo terpilih lagi untuk periode kedua, Ahok bebas dan jadi menteri. Sementara Habib Rizieq yg pulang ke tanah air lalu diadili dan masuk penjara, maka mazhab ini akan bertahan setidaknya lima tahun lagi.

Dan saya nggak berkepentingan atas pertarungan tersebut. Impor terus berlanjut, keberpihakan kepada kaum miskin masih belum benar2 diusahakan. Bandara baru dibangun, sedangkan rakyat, sawah dan rumahnya digusur.

Mazhab saya ialah mazhab yang menolak ketertindasan, membela kaum miskin papa dan menyuarakan kaum yang teraniaya. Siapapun dia, agamanya, etnisnya dan pandangan politiknya. Selama berpihak kpd kaum komprador kapitalis fasis yang anti kebebasan dan kemanusiaan, bukanlah saudara semazhab saya.

Mazhab saya ada dalam secangkir kopi!

Loading...

loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :