Mau Cepat Kaya, Ikuti Sayembara WikiLeaks Berhadiah 110 Ribu USD !

Julian Assange dan WikiLeaks Adakan Sayembara dengan Hadiah 110 Ribu USD

Islam-Institute.com, WASHINGTON – Walaupun bisa bikin kaya mendadak, sayembara WikLeaks ini sepertinya tidak cocok untuk orang Indonesia. Ya, situs kontroversial WikiLeaks mengadakan sayembara dengan hadiah yang cukup menggiurkan. Situs yang dimiliki oleh Julian Assange ini memberikan hadiah 110 ribu USD bagi siapa saja yang bisa mendapatkan dokumen rahasia perdagangan Amerika Serikat (AS) dengan Eropa.

Pengumuman sayembara WikiLeaks itu sekaligus menandai dimulainya kegiatan pengumpulan uang untuk membayar mereka yang bisa mengungkap secara detail rencana untuk perdagangan Trans-Atlantik dan kemitraan investasi, demikian seperti dikutip dari laman CNN, Rabu (12/8/2015).

 

WikiLeaks Gelar Sayembara Berhadiah 110 Ribu USD
(Ilustrasi)

 

Sampai sejauh ini, dana yang terkumpul sudah mencapai 25 ribu USD. Di antara para donatur terselip nama-nama tenar macam desainer Vivienne Westwood, mantan Menteri Keuangan Yunani Yanis Varoufakis, dan pendiri situs itu sendiri Julian Assange.

WikiLeaks mengambil langkah untuk memastikan masyarakat Eropa akhirnya bisa membaca perjanjian monster dalam dunia perdagangan,” begitu bunyi pernyataan WikiLeaks.

Komisi Eropa yang bertanggung jawab atas negosiasi serta kesepakatan perdagangan dan investasi dengan AS itu mengaku akan transparan dalam setiap usaha perdagangan yang dilakukan. Kedua belah pihak telah memiliki situs yang memuat informasi tentang kesepakan perdagangan Trans-Atlantic tersebut.

Sayembara dengan hadiah yang sama juga berlaku bagi mereka yang bisa memberikan informasi terbaru tentang pembicaraan perdagangan untuk Kemitraan Trans-Pasifik yang sedang berlangsung. Pembicaraan tentang kesepakatan itu sedang berlangsung yang melibatkan AS dengan 11 negara lainnya.

Pembicaraan mengenai kesepakatan Trans-Pasifik ini sebelumnya telah menuai kritik terkait beberapa isu. Kesepakatan ini dikhawatirkan akan menghancurkan bisnis otomotif Jepang dan merugikan pihak petani. Sedangkan di Australia, konsumen akan dipaksa untuk membayar lebih mahal atas obat karena harus membayar ongkos paten obat tersebut dan mencegah obat generik menguasai pasar. (al/esn)

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :