Maestro Kaligrafi Indonesia Angkat Bicara Masalah Bendera HTI Yang Disebut Bendera Rasulullah, Ternyata Begini Faktanya!

Maestro Kaligrafi Indonesia Angkat Bicara Soal Bendera HTI Yang Disebut Bendera Rasulullah, Ternyata Begini Faktanya!

Maestro Kaligrafi Indonesia Angkat Bicara Masalah Bendera HTI Yang Disebut Bendera Rasulullah, Ternyata Begini Faktanya!

Maestro Kaligrafi Indonesia KH Didin Sirojuddin AR menyampaikan pandangannya perihal bendera yang selama ini diklaim selaku bendera Islam sebab bertulis lafal tauhid dari segi khat. Pengurus Lembaga Kaligrafi (Lemka) ini menggugat pengakuan bendera Islam selama ini oleh sekelompok masarakat.

Didin yang sekarang mengasuh pesantren kaligrafi di Sukabumi ini menerangkan Kemajuan sejarah khat, seni tulis aksara Arab, dari Nabi Saw sampai khat yang dikenal masarakat Islam sekarang ini.

Menurut dia, Nabi Saw tidak pernah mengibarkan bendera bertuliskan kaligrafi lafal tauhid. Rasulullah mengibarkan dan mengobarkan ghirah tauhid.

“Yang dikibarkan dan dikobarkan Rasulullah ialah ghirah dan kumandang tauhid, Lā ilāha illallāh, Muhammadun Rasūlullāh, bukan bendera berkaligrafi kalimat tauhid,” kata Didin yang malang melintang dalam kontes kaligrafi nasional semenjak 1981 ke NU Online, Sabtu (27/10) sore.

Ia menambahkan bahwa bendera tauhid selaku bendera Nabi Saw ialah pengakuan oleh sekelompok orang. Ia mempersoalkan pengakuan tersebut dengan meminta bukti otentik dan akurat.

“Bendera tauhid selaku bendera Rasulullah seperti beberapa diperbincangkan waktu-waktu belakangan, tidaklah benar dan tanpa dasar yang akurat. Tidak pula dikuatkan fakta dokumenter yang ditinggal,” kata pendekar kaligrafi ini.

Menurut dia, bendera Rasulullah yang dipergunakan waktu itu ialah kain polos tanpa tulisan apa pun. Dalam perang-perang bareng Khalid pun sampai zaman Umar, bendera serdadu Islam masih polos. Bendera-bendera serdadu itu cuma kain polos dengan warna-warna tertentu.

“Kemudian dari mana kita tahu, bendera Rasulullah tidak berisi kaligrafi apa pun? Tulisan Arab di zaman Rasulullah masih sederhana dan cuma dipakai untuk menyalin teks wahyu di media kulit, pelepah kurma, batu, dan kayu yang tercecer di tempat-tempat wahyu diturunkan,” katanya.

Loading...
loading...

Dunia tulis-menulis, ia menambahkan, belum mentradisi di zaman Rasulullah, kecuali di beberapa kalangan yang dapat dihitung dengan jari. Bahkan Rasulullah pernah memerintahkan untuk menghapus info apa pun selain Al-Qur’an yang Hadir dari dirinya sebab dikhawatirkan tercampur Al-Qur’an dengan unsur kata-kata lain waktu kitab suci dikodifikasi sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim.

Ia mengutip hadits riwayat Muslim yang terjemahannya, “Jangan tulis soal diriku. Siapa mecatat dariku selain Al-Qur’an, hendaknya dia menghapusnya kembali. Bicarakanlah soal saya dan itu tidak mengapa. Namun siapa berdusta atas namaku, maka silakan menduduki tempatnya di neraka,” (HR Muslim).

Menurut dia, hadits ini menutup kemungkinan adanya tulisan atau lukisan kaligrafi di medium selain lembaran-lembaran Al-Qur’an yang tercecer. Kecuali Al-Qur’an, tulisan berisi kalimat thayibah cuma Ada pada surat-surat Nabi Muhammad SAW ke raja-raja seperti Heraklius, Kisra, Muqauqis, Harits Al-Ghassani, Harits Al-Himyari, dan Najasi selaku stempel.

“Menasabkan bendera-bendera berkaligrafi khat Tsulus sempurna seperti bendera Arab Saudi, bendera HTI, dan lain-lain selaku ‘bendera Rasulullah’ lebih tidak pas lagi. Karena, khat Tsulus belum lahir di masa Rasulullah. Tsulus lahir atas inisiatif Khalifah Muawiyah,” kata Didin.

Ia menjelaskan bahwa yang mendekati pola khat Kufi pada zaman Nabi ialah kalimat tauhid pada bendera ISIS. Tapi, tulisan tersebut di zaman Nabi cuma dipakai untuk menyalin mushaf Al-Qur’an, bukan pada bendera.

“Kalimat tauhid di bendera, apalagi kalau ditulis dengan kaligrafi yang indah, amat cakep. Namun jangan diklaim selaku bendera Rasulullah sebab Nabi Muhammad SAW tidak pernah mempergunakan bendera yang itu. Begitulah sejarah yang sesungguhnya. Supaya kita tidak larut dan berlarut-larut dalam cerita yang dibikin-bikin atau bohong,” kata Didin yang juga pengajar pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.(Alhafiz K)

(NU.or.id/surabaya24.online/ suaraislam)

Loading...


Shared by Ahmad Zaini

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :