LIPI: NU Paling Keras Tolak Intoleransi, HTI Sampai Reuni Aksi 212

Website Islam Institute

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Amin Mudzakkir memberikan analisanya Soal isu radikalisme dan intoleransi yang mengemuka di tahun politik. Dari pengamatan LIPI lewat jejak media daring dan sosial, Nahdlatul Ulama (NU) jadi kubu yang paling keras Tidak mau intoleransi tumbuh di Indonesia.

Hal tersebut disampaikannya dalam dialog bertema Quo Vadis Demokrasi: Mekanika Elektoral dalam Arus Politik Identitas di markas Para Syndicate, Jl Wijaya Timur 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (7/12).

“NU penolak (intoleransi),” kata Mudzakkir.

Dia menambahkan, dari jejak media juga diketahui bahwa NU terlalu keras kepada organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dibubarkan pemerintah maupun soal isu reuni akbar 212.

“Lebih keras dari kubu kubu yang lain sebab ini dinilai bagian dari politik bukan agama. Dan ini dapat direcord lewat jejak digital, dan kami punya software untuk (menganalisa) dan NU sungguh cukup (kuat Tidak mau intoleransi) khususnya PBNU,” tegasnya.

Penolakan NU kepada isu intoleransi terang tampak dari Track Record digital. Baik media online maupun media sosial. Ini pun memunculkan analisa, kalau berbicara konservatisme politik di Indonesia, berasal dari sebuah fanatisme keagamaan. Namun resep penyembuhan intoleransinya juga dari keagamaan.

“Jadi penolakan kepada penolakan intoleransi politik muncul dari agama,” ujar dia.

Dialog juga dihadiri Direktur Eksekutif PARA Syndicate Ari Nurcahyo, Pengamat Politik asal President University Mohamad AS Hikam dan Budayawan sekaligus intelektual Islam Mohammad Sobary.

(merdeka/suaraislam)

The post LIPI: NU Paling Keras Tolak Intoleransi, HTI Sampai Reuni Aksi 212 appeared first on The Truly Islam.

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.