Uncategorized

Link – Link Pembongkar Kedustaan Salafy Wahabi

Kedustaan Salafy Wahabi – Faham Salafy Wahabi semakin digoncang perkara saling mengkafirkan di antara mereka sendiri. Ada apa dengan Salafy Wahabi? Ini menunjukkan bukti bahwa begitu rapuh dalil-dalil yang menjadi dasar pemahaman di antara mereka. Lantas bagaimana menyikapi hal ini?

Tidak lain kembalilah kepada Al-Qur’an dan hadits menurut penjelasan ulama-ulama yang alim-amilin. Mereka berilmu tapi sekaligus juga mengamalkan ilmunya. Merekalah panutan kita, merekalah para pewaris Nabi SAW dalam ilmu, akhlak, dan ibadahnya. Mereka saling menghormati sesama Ulama dan menyayangi orang yang lebih bodoh.

Awas tersesat di belantara Wahabisme

 

Untuk mengantarkan kepada pemahaman agama yang lebih mapan, marilah kita berkunjung ke blog-blog di bawah ini dengan niat mencari kebenaran. Mari kita aduk-aduk seluruh isi blog-blog ini, kalau perlu untuk postingan yang lebih lama. Rubahlah kebiasaan berkunjung  ke blog  lain hanya untuk menengok judul-judulnya tanpa membaca isinya, inilah kebiasaan kami dulu.

Tapi setelah menyadari bahwa di blog juga sarat akan ilmu, maka kami betah berlama-lama mengkaji isi blog orang lain. Yang baik kami ambil sebagai ilmu, yang kurang baik pun menjadi pengetahuan yang tak kalah pentingnya. Jangan hanya  membaca postingan terbaru, sebab yang sudah lama pun memberikan informasi ilmu yang sangat penting. Semoga Allah Swt menurunkan hidayah kepada kita semua, amin….

Jasa Web Alhadiy
Tags

Related Articles

10 Comments

  1. Memang tidak lepas dari asal-usulnya, dan makin ke zaman mutakhir ini mereka semakin bernafsu ingin melenyapkan tasawuf dari dunia Islam.

    Tapi kami yakin mereka akan lelah sendiri karena bertabrakan dengan fakta kuat bahwa Tasawuf justru adalah aktualisasi dari praktek IHSAN. Ingat, ada IMAN, ada ISLAM Juga IHSAN. Dari IHSAN inilah lahir Ilmu Tasawuf atau tazkiyatun Nafsi.

    1. Miris sekali, saat ini kita bisa lihat akibat “ditinggalkan” nya ilmu Tasawuf. Sekolah, Pondok Pesantren, Pengajian yang diajarkan hanya sebatas ilmu agama, nash-nash Al-Qur’an dan nash-nash Hadits secara harfiah atau tekstual.
      Pemahaman yang dalam dengan hikmah tidak mereka ajarkan sepenuh hati kepada murid yang akan terwujud dalam akhlak dan amal. Sesungguhnya mereka tidak paham untuk mengajarkannya karena “meninggalkan” ilmu Tasawuf.
      Bahkan musuh-musuh Islam membuat image bahwa ilmu Tasawuf sebagai hal ghaib, mistik dll.

  2. @mutiarazuhud

    assalam…

    mengenai pendapat ibnu taymiah ttg tasawuf dan apa kata ibnu taymiah ttg tasawuf dan juga kesaksian para ulama fiqih ttg tasawuf antum bisa lihat di sini..

    wassalam…

  3. @gondrong

    Walaikumsalam
    Catatan-catatan kecil yang antum sampaikan dari link tersebut bisa jadi memang pernah ada. Bahkan Ibnu Qayyim Al Jauzi (murid Ibnu Taimiyah) ada membuat tulisan tentang tazkiyatun nafs yakni “Madarijus Salikin”. Bahkan tulisan/kitab tersebut bagi kalangan mereka, boleh dikata setara dengan Ihya’ Ulumuddin karya al-Ghazali.

    Kenyataannya, kesetaraan tersebut tidak bisa kita temukan karena sejatinya keahlian/kompetensi mereka dalam tataran bidang yang berbeda. Ibnu Taimiyah dan kawan-kawan dengan metode pemahaman secara lahiriah atau tekstual sedangkan ulama-ulama tasawuf dengan metode pemahaman yang dalam (hikmah).

    Kesadaran akan perbedaan keahlian/kompetensi dalam bidang yang berbeda inilah yang saya upayakan untuk dapat dipahami oleh saudara-saudara muslimku melalui blog http://mutiarazuhud.wordpress.com, sehingga antar sesama muslim tidak terjadi saling mencela, saling “menilai”, saling “menghakimi” berdasarkan tingkat/kompetensi pemahaman Islam, seolah-olah mewakili Allah.

    Padahal Allah telah sampaikan bahwa adanya perbedaan tingkat pemahaman / kompetensi pada muslim semata-mata semua itu merupakan kehendak Allah sebagaimana firmanNya yang artinya.“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah – 269).

  4. mau tanya, awam nih..
    kalo Wahabi menolak tasawuf, apakah nabi & sahabat2nya serta imam yang empat, tabi’in & tabi’ut bertasawuf? kapan munculnya tasawuf? bila semua yang di atas bertasawuf.. berarti bisa dibilang Nabi Muhammad, sahabat, imam yang empat adalah Sufi sejati.. benar begitu? bila benar sufi.. kenapa pengikutnya tidak meneladani menjadi sufi? apakah Habaib2 di Indonesia seluruhnya sufi? atau sufi itu pilihan? bila pilihan, maka sewajibnya pengikut Nabi Muhammad memilih sufi.. bukan memilih jalan lain.

    1. @Wahab
      Tahukah antum, mengapa mereka dipanggil sebagai Salafush Sholeh?

      Karena mereka sholeh, baik, berakhlak baik, mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya.

      Mereka yakin bahwa Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.
      Mereka adalah generasi terbaik yang berserah diri (Islam) kepada Allah.

      Sehingga mereka mencapai tingkatan muslim yang terbaik yakni Ihsan (muhsin/muhsinin). Ihsan (kata arab) yang maknanya baik, terbaik.

      Kami berupaya mengikuti/mencontoh para Salafush sholeh. Kami mendalami tasawuf dalam islam adalah mendalami tentang akhlakul karimah, mendalami upaya agar dapat “seolah-olah melihatNya”, mendalami tentang ihsan yang bagian dari pokok-pokok ajaran Islam sebagaimana yang disampaikan oleh malaikat Jibril

      Tentang Islam (rukun Islam/fiqih), Tentang Iman (rukun Iman/Ushuluddin) , Tentang Ihsan (akhlak/tasawuf)

      Rasulullah saw berkata, “Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda.”

      Kadang kita mendengar saudara muslim kita yang memperturutkan hawa nafsunya, sibuk dengan istilah tasawuf mengatakan,

      “kalau tasawuf ajaran Rasulullah ?? dari mana asal kata tasawuf ??”

      “Apakah Muhammad Rasulullah saw, pernah bertutur dalam hadist sahih bahwa “Sarana atau ilmu untuk paham seputar mengenal Allah adalah ilmu
      Tasawuf”?”

      “Apakah Muhammad Rasulullah saw pernah mengaku sebagai sufi dan pendiri aliran tasawuf??”

      Berikut tulisan yang menarik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dan yang senada dengan itu, memperdebatkan masalah yang bukan substansi, yakni istilah tasawuf.

      Sumber:

      Membahas masalah Tasawuf saya jadi ingat pengajian rutin mingguan yang diadakan di Masjid Al-Buthi, Damaskus, setiap Jumat bakda Ashar, membahas kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiah yang disampaikan langsung oleh Syaikh Dr. M. Said Ramadhan Al-Buthi. Pembahasan terakhir kebetulan sampai pada Bab Tasawuf, setelah selesai membahas Bab Al-Faqr.

      Dalam pengajian terakhir (14/5/2010), Syaikh Al-Buthi menerangkan bahwa istilah tasawuf adalah istilah yang tidak memiliki asal. Memang ada yang mengatakan bahwa Tasawuf berasal dari kata Shuuf (bulu domba), Ahlus Shuffah (penghuni Shuffah), Shafaa (jernih), Shaff (barisan) dan lain-lain. Namun teori-teori itu tidak ada yang tepat menurut beliau sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Qusyairi sendiri dalam kitabnya. Namun yang menjadi fokus pembahasan bukanlah itu, yaitu meributkan masalah nama atau istilah yang takkan pernah ada habisnya, karena setiap orang bisa membuat istilah sesuka hatinya. Yang menjadi fokus adalah substansinya. Oleh karena itu, ada sebuah ungkapan yang sudah sangat masyhur di kalangan para ulama dan santri, “La musyahata fil ishthilah (tidak perlu ribut karena membahas istilah).”

      Dalam dunia ushul fikih kita mengenal istilah Wajib dan Fardhu, menurut Jumhur Fuqoha keduanya memiliki arti yang sama, namun menurut Hanafiyah keduanya berbeda. Dalam dunia Mushtolah Hadis kita mengenal istilah Hadis Mursal yang menurut ahli hadis artinya adalah hadis yang dinaikkan oleh seorang tabii tanpa menyebutkan siapa perantaranya kepada Nabi SAW, namun menurut ahli ushul artinya adalah hadis yang terputus secara mutlak, di mana pun letaknya dan berapa pun jumlah perawinya, mirip Hadis Munqathi’. Imam Asy-Syafii mengingkari Istihsan dan mengatakan bahwa “Barangsiapa ber-istihsan maka ia telah membuat syariat (baru)”, sedangkan Ulama Hanafiyah paling banyak menggunakan Istihsan. Setelah diselidiki dan diteliti ternyata perbedaan mereka hanya sampai pada tataran istilah saja (ikhtilaf lafzhi), namun pada substansinya mereka sepakat. Istihsan yang dimaksud oleh Imam Asy-Syafii bukanlah Istihsan yang selama ini dipakai oleh Ulama Hanafiyah. Kata Sunnah pun memiliki pengertian yang bebeda-beda menurut ahli fikih, ushul fikih dan mustholah hadis. Demikianlah seterusnya, perdebatan dalam masalah istilah takkan pernah menemui titik temu dan takkan memberikan manfaat yang signifikan.

      Demikian pula dalam masalah Tasawuf. Banyak orang berbondong-bondong mengumandangkan genderang dan mengibarkan bendera perang terhadap apa yang disebut Tasawuf. Buku-buku ditulis, pengajian-pengajian digelar, perang opini dikobarkan. Semuanya dengan satu tujuan, memberangus Tasawuf dari muka bumi. Sementara itu, di sisi lain berbondong-bondong pula orang yang siap membela mati-matian Tasawuf. Padahal, banyak di antara mereka yang tidak mengerti dan tidak memahami apa hakikat dari istilah Tasawuf itu sendiri. Ironis.

      Syaikh Al-Buthi berkata, “Jika Tasawuf yang kalian maksud itu adalah pelanggaran-pelanggaran terhadap syariat seperti ikhtilath (campur baur) laki-laki dengan perempuan dan lain-lain, maka aku akan berdiri bersama kalian dalam memerangi Tasawuf. Namun jika yang kalian perangi adalah perkara-perkara yang memang berasal dari Islam seperti tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), akhlak dan lain-lain, maka berhati-hatilah!”

      Beliau juga sering mengulang-ulang perkataan ini, “Namailah sesuka kalian: Tasawuf, Tazkiyah, Akhlak atau yang lainnya selama substansinya sama.”

      Ya, ternyata istilah tidaklah sedemikian penting dibandingkan dengan subtansinya selama dalam batas-batas yang bisa ditolerir. Syaikh Al-Buthi bahkan menegaskan dalam ceramahnya, “Saya sengaja berusaha sebisa mungkin untuk tidak menggunakan istilah tasawuf dalam kitab saya, Syarah Hikam Atho’iyah, demi menjaga perasaan saudara-saudara kami yang sudah termakan opini bahwa tasawuf bukanlah dari Islam.”

      Namun, apakah dengan demikian beliau mengingkari inti atau substansi Tasawuf? Jawabannya seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Apapun istilahnya, jika memang terbukti berupa pelanggaran terhadap syariat maka kita harus berdiri dalam satu barisan untuk memeranginya. Namun jika hal-hal itu adalah bagian dari Islam atau bahkan inti ajaran Islam, maka tidak semestinya kita menolaknya.

      Jadi, kita mesti banyak berhati-hati dalam menggunakan istilah sebelum memahami makna sebenarnya. Jangan sampai kita terjebak dalam perangkap musuh yang sengaja mengkotak-kotakkan umat Islam dengan cara menciptakan istilah-istilah agar umat Islam disibukkan membahasnya lalu terlupakan akan tugas yang lebih penting dan lebih besar manfaatnya daripada itu. Jangan sampai kita terpecah-pecah karena masalah furu’iyyah sementara kita melupakan prinsip-prinsip agama kita. Wallahu a’lam.

      Orang-orang kafir atau orang-orang yahudi, mereka tahu bahwa jalan menuju kesempurnaan (ihsan) seorang muslim adalah mendalami tentang ihsan(tasawuf), sehingga mereka berupaya mencitrakan buruk kepada tasawuf dalam Islam dan sebagian ulama termakan propaganda tersebut. Perhatikanlah bagaimana Orang-orang kafir atau orang-orang yahudi berupaya meruntuhkan akhlak kaum muslim dengan budaya mereka, pornografi, seks bebas, homoseksual, miras, narkoba dll.

      Hal inilah yang terjadi di zaman yang dikatakan modernisasi agama dimana ulama-ulama melupakan tentang tasawuf dalam islam, sehingga dari ulama-ulama seperti itu lahirlah kaum muslim yang taat beribadah namun tidak berakhlakul karimah.

      Untuk itulah kami menganjurkan kepada mereka yang berwenang dan sedang memasukkan aspek “etika” kedalam kurikulum pendikan memperhatikan tentang Ihsan atau Tasawuf dalam Islam. Silahkan baca tulisan selengkapnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/

      Jadi kemerosotan akhlak yang kita temui di negeri kita, bisa jadi karena para ulama telah melupakan tentang tasawuf dalam Islam atau melupakan tentang ihsan, melupakan tentang akhlakul karimah

      Akhlakul karimah adalah kesadaran atau perbuatan/perilaku secara sadar dan mengingat Allah.

      Perhatikanlah mereka yang korupsi, mafia peradilan/hukum atau yudikatif yang tidak menegakkan keadilan, para penguasa (eksekutif) yang masih kurang peduli dengan nasib rakyatnya, para legislatif yang sebagian mereka masih belajar tentang etika dan belajar membedakan antara uang rakyat dengan uang pribadi, belajar bagaimana mereka mewakili rakyat dengan keadaan rakyat sesungguhnya dan lain lain, tentu sebagian mereka taat menjalankan ibadah sholat, puasa, zakat bahkan ibadah haji namun pada hakikatnya mereka tidak berakhlakul karimah. Mereka tidak mengingat Allah ta’ala ketika hendak melakukan perbuatannya.

      Wassalam

Jika ada ditemukan artikel yang salah, dan lain-lannya, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: