Legacy Politik Amien Rais?

Legacy Politik Amien Rais?

Legacy Politik Amien Rais?

Saya masih ingin menyorot perilaku politik Amien Rais. 2 kali mangkir dari panggilan polisi, dengan argumentasi salah nama dalam surat panggilan, terus tatkala akhirnya datang ia didampingi 300 pengacara, dan 500-an Alumni 212. Ditambah lagi, sebelum panggilan telah ngancam-ngancam. Akan ini-itu, membeberkan fakta yang katanya menarik. Mau ngomongin korupsi besar yang mangkrak di Komisi Pemberantasan Korupsi. Dan seterusnya.

Perilaku yang cakep? Tidak. Untuk yang mengklaim telah berlevel tingkat dewa, yang telah sanggup mendefinisikan partai allah dan partai syetan, yang telah tahu isyarat atau bahasa langit, perilaku politiknya negatif. Tidak patut pakai.

sebelum ini ia telah koar-koar penegakan hukum. Namun dipanggil selaku saksi atas sebuah Perkara, belum-belum telah cem-ngancem cem-macem. Padahal konteks permasalahannya sendiri, atas Perkara penyidikan pada Ratna Sarumpaet. Sesiapa yang dinilai tahu dan berhubungan dengan objek hukumnya, ‘cuma’ akan dimintai keterangannya, info, kesaksiannya. Untuk konfirmasi.

Namun kenapa reaksinya keterlaluan? Bahkan di Mapolda dia minta pada Presiden Joko Widodo mencopot Tito Karnavian dari posisi Kapolri, sebab tudingan nerima duit? Dikatakannya di Polri beberapa polisi yang lebih baik dan jujur. Apa maksud provokasi ini? Adu domba?

Habis dimintai Penjelasan, selama 6 jam, Amien Rais muji-muji polisi bertindak terlalu baik dan profesional. Kenapa? Tentu saja lega sebab cuma ditanya-tanya soal Ratna Sarumpaet thok. Lain halnya kalau ia ditanya-tanya soal bagaimana duit Rp 600 juta, entah dari siapa, apakah Sutrisno Bachir atau Menkes?

Beberapa cacat politik publik figur ini, sekiranya mau digali. Tetapi sudahlah, itu seluruh masa lalu. Jadi tidak relevan lagi sesungguhnya, meski fatal. Dari semenjak bagaimana cara dia menaikkan dan lalu menjatuhkan Gus Dur. Kelakuannya menyangkut konstitusi negara, yang mungkin di sisi itu Yusril Ihza Mahendra pun sanggup baperan.

Masalah sokongan politik, tidak ada urusan untuk menilainya, meski dia membawa dalil tukang sihir. Tulisan ini lebih menyorot karakter dan perilaku politik seorang yang disubya-subya selaku publik figur. Dalam praksis politik, patrapnya bukan sebuah legacy kalau kita ngomongin Reformasi 1998. Ia cuma sebab Ada dalam Peluang Emas, dan tega memanfaatkannya.

Ia sekarang bilang agama tidak sanggup dipisahkan dari politik. Ia mengkhianati disertasinya sendiri, sebab agama ternyata sungguh efektif digunakan, untuk pressure politik.

Sumber: FB Sunardian Wirodono


Suara Islam by Ahmad Zaini

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.