Jasa Web Alhadiy
Berita Indonesia

Laskar Aswaja Akan Kawal Sistem AHWA Keputusan Munas Ulama

Laskar Aswaja Bakal Kawal Sistem AHWA Demi Rais Aam Syuriah Panutan Nahdliyin

Islam-institute.com, JAKARTA – NU (Nahdlatul Ulama) melalui MUNAS (musyawarah nasional) alim ulama beberapa waktu lalu telah memutuskan penerapan sistem AHWA (Ahlul Halli wal Aqdi) untuk memilih Rais Aam syuriah bagi organisasi keagamaan terbesar di tanah air itu. Sistem AHWA yang menggunakan sistem perwakilan untuk memilih posisi tertinggi di NU itu akan diterapkan pada Muktamar NU ke-33 di Jombang, Jawa Timur, awal Agustus ini. Dan kini Muktamar NU ke-33 tersebut sedang berlangsung.

Dukungan atas keputusan munas alim ulama NU tentang penerapan Sistem AHWA untuk memilih rais aam Syuriah itu juga terus mengalir. Salah satunya dari Laskar ASWAJA (Ahlussunnah Jamaah Wal Jamaah).

 

 

Ketua Umum DPP Laskar Aswaja, ‎Adhi Permana‎ menyatakan keputusan munas NU agar rais aam syuriah dalam Muktamar NU ke-33 ini dipilih melalui Sistem AHWA harus dihormati. Menurutnya, pemegang posisi rais aam syuriah memang harus figur mumpuni, mampu bersikap adil, berilmu, berintegritas, tawadlu, zuhud dan punya kemampuan pemimpin.

“Karena ulama itu adalah penerus nabi. Dan posisi rais aam tidak hanya bermakna pucuk pimpinan dalam struktur organisasi NU, tetapi juga merupakan simbol pemimpin panutan umat,” kata Adhi Permana melalui rilisnya ke media, Minggu (28/6/2015) malam.

Untuk memilih rais aam Syuriah dengan kriteria yang ketat sepert itu, lanjut Adhi Permana, tentunya tak bisa dilakukan oleh orang awam. Karena munas alim ulama NU memutuskan pembentukan Sistem AHWA yang akan memilih rais aam.

Adhi Permana menegaskan, Sistem AHWA sebagai bentuk perwakilan kaum nahdliyin yang akan memilih rais aam Syuriah tentu akan diisi oleh figur-figur yang arif, jujur, punya keteguhan sikap, berintegritas moral dan sifat-sifat luhur lainnya. Sifat itulah yang belum tentu dimiliki pemilih andai rais aam dilakukan melalui pemilihan suara terbanyak.

“Tidak semua orang memenuhi syarat menjadi pemilih dengan karakteristik luhur, sehingga apabila pemilihan dilakukan secara langsung maka dikhawatirkan hasil pilihannya bukanlah figur rais aam seperti yang diharapkan,” ujarnya.

Karena itu Laskar Aswaja juga akan mengawal keputusan munas alim ulama tentang Sistem AHWA untuk memilih rais aam itu. Adhi Permana menegaskan, pola Sistem AHWA itu juga sesuai dengan ajaran fikih ahlussunah wal jamaah.

Adhi Permana menegaskan, NU ketika memutuskan untuk kembali ke Khittah 1926 juga melalui forum AHWA. Bahkan mendiang KH Abdurrahman Wahid ketika naik menjadi ketua dewan tanfidz PBNU dalam muktamar ke-27 di Situbondo juga terpilih melalui model sistem AHWA.

“Jadi konsep ini justru telah dikenal dan diamalkan oleh para ulama pendiri NU sejak tahun 1926 sampai dengan tahun 1952 ketika NU menjadi partai politik. Jadi kami sangat mendukung keputusan untuk menerapkan konsep AHWA sebagai bagian dari Khittah NU 1926,” pungkas Adhi Permana. (al/ara/jpnn)

Jasa Web Alhadiy
Tags

Related Articles

Jika ada ditemukan artikel yang salah, dan lain-lannya, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker