Krisis Pengungsi Suriah di Eropa Tidak Sanggup Ditutupi Media Barat

Website Islam Institute

Aylan dan Galip Kurdi, Bongkar Krisis Pengungsi Yang Tidak Sanggup Ditutupi Media Barat

Quartz juga memberitahukan bahwa 638 migarn sudah meninggal waktu berusaha menyebrang lautan Mediterania, cuma pada bulan Agustus ini saja. Tengah 3.600 an pengungsi diperkirakan meninggal di semua dunia pada tahun sekarang,

Islam-institute.com, JAKARTA – Dunia seperti baru menyadari bahwa ada krisis pengungsi yang terlalu kronis melanda Eropa. Sesungguhnya krisis pengungsi telah ada semenjak lama, termasuk pengungsi Afrika yang tidak terhitung jumlahnya. Para pengungsi ini menyelamatkan diri dari negara mereka sebab takut tindak kekejaman kaum ekstrimis. Tidak terhitung pula  yang sudah kehilangan nyawa dalam perjalanan mereka ke Eropa. Fakta bahwa tidak 1 pun dari para pengungsi itu ialah orang-orang “kulit putih” tampaknya jadi problem Inti di balik kurangnya respons global kepada bencana menakutkan yang terlalu luas ini.

Illustrasi Foto: seorang bocah kecil dari Suriah berumur 3 tahun, Aylan Kurdi, yang diadukan terdampar, dengan posisi tertelungkup di atas pasir sebab perahu karet yang dinaikinya tenggelam, waktu hendak menyeberang dari Turki ke Yunani, sudah mengetuk hati sanubari pembaca di dunia Barat.

The Guardian memberitahukan bahwa kematian anak laki-laki kecil dari Suriah tersebut sudah membangkitkan opini publik dan menekan Eropa untuk cepat mengambil aksi nyata Soal krisis pengungsi ini. Komisi tinggi PBB juga akhirnya menyeru ke Uni Eropa untuk cepat menangani 200.000 lebih pengungsi dalam sebuah program relokasi massal. Inggris diadukan sudah Sepakat untuk mengambil 4.000 pengungsi, dan Jerman berencana menerima kisaran 800.000 pencari suaka tahun sekarang.

The Independent, lebih memfokuskan Soal krisis pengungsi Suriah yang dinilai selaku efek dari perang sipil yang tidak berkesudahan di sana. Seorang anak laki-laki berumur 13 tahun yang sekarang Ada di Hongaria berbarengan dengan saudarinya menjelaskan, “Kami mohon, tolonglah penduduk Suriah. Masyarakat Suriah butuh pertolongan sekarang. Tolong hentikan perang. Kami tidak ingin tinggal di Eropa, hentikan saja perang,” ungkap anak tersebut. “Polisi tidak menyukai penduduk Suriah di Serbia, Hongaria, Macedonia, bahkan Yunani,” tambahnya.

Sebuah petisi ke parlemen Inggris juga dibuat dan diinginkan akan memaksa negara untuk mengatasi problem dengan menawarkan suaka yang lebih proporsional dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya.

Sejatinya krisis pengungsi Suriah bukannya baru saja diawali. Sebagaimana diadukan Washington Post, kisaran 11 juta orang, atau nyaris setengah dari semua populasi di Suriah sudah meninggalkan negara itu atau meninggal semenjak tahun 2011, dan dalam hal ini, 4 juta orang sudah dipaksa keluar dari negerinya. Parahnya,  PBB sudah memberitahukan kekurangan biaya besar dalam menangani jutaan pengungsi Suriah.

Perkara Aylan yang terdampar sukses membikin beberapa outlet media sekarang beramai ramai memfokuskan diri pada krisis pengungsi Suriah di Mediterania. Contohnya, Quartz mengumumkan bahwa foto tersebut, sudah menggugah kesadaran di Eropa dengan caranya yang baru yaitu “selaku sebuah simbol Soal apa yang terjadi waktu kemanusiaan  gagal”. Quartz juga memberitahukan bahwa 638 migarn sudah meninggal waktu berusaha menyebrang lautan Mediterania, cuma pada bulan Agustus ini saja. Tengah 3.600 an pengungsi diperkirakan meninggal di semua dunia pada tahun sekarang, menggaris bawahi hal ini terkait juga dengan adanya krisis global.

Media-media tersebut juga menyingkap keadaan sebenarnya antara usaha negara-negara Eropa yang ingin melaksanakan sesuatu yang lebih kepada krisis dan menolong lebih beberapa lagi pengungsi, dan adanya rasisme di Eropa sendiri dalam penyelenggaraan pertolongan itu. selaku contoh, Hongaria sekarang sudah menutup pintu bagi seluruh pengungsi, tengah sebagian negara-negara Eropa seperti Polandia, Bulgaria, Slovakia dan Republik Chechnya memperlihatkan keburukan mereka sendiri dengan keputusan untuk lebih memilih pengungsi kristen atau non muslim untuk mampu diterima di negara mereka.

Sebuah pernyataan dari presiden Rusia, Vladimir Putin sebagaimana diadukan RT, menyebut bahwa AS yang diikuti secara buta oleh Eropa, sudah melaksanakan keputusan strategi politik luar negeri yang ‘menyesatkan’ di Timur Tengah dan Afrika Utara tanpa mempertimbangkan karakteristik sejarah, agama, nasional dan budaya lokal.

 “Amerika,” kata Putin,” tidak wajib menanggung akibat dari krisis pengungsi yang dikarenakan olehnya, tapi Eropa yang wajib menanggungnya.”

BBC, memberitahukan berita Soal artis pemenang Oscar, Emma Thompson, yang menyalahkan Inggris dan menyebut bahwa back-ground rasisme ialah penyebab Inggris Tidak mau untuk menerima lebih beberapa lagi pengungsi.

“Kalau orang-orang ini ialah kulit putih, penduduk Eropa, yang Hadir akibat dari pemerintahan diktator seperti yang terjadi di Bosnia, kalau saja mereka yang Hadir, saya rasa kita akan merasakan perbedaan kepada cara penanganannya,” ungkap Thompson pada BBC.

Tak sama dengan beberapa fokus media, Deutsche Welle mengulas masuknya pengungsi Afrika ke Eropa. Ribuan orang Afrika sudah menyebrang Mediterania dalam sebuah perjalanan berbahaya, untuk menyelamatkan diri dari kerepotan ekonomi, pelanggaran hak asasi manusia, perang, dan konflik Suku serta agama yang tidak kunjung setelah di negara-negara mereka. Misalnya, lebih dari 300.000 orang mengungsi dari Eritrea tahun lalu. Menurut PBB, beberapa dari para pemuda itu menyelamatkan diri dari wajib angkatan bersenjata. Laporan ini juga memperlihatkan bahwa Nigeria, Somalia, Gambia, Sudan Selatan dan Senegal, serta negara-negara Afrika lainnya ialah negara dengan paling beberapa pengungsi berasal sebelum krisis Suriah merebak. (al/ARN/AB/RM)

 

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.