Kriminalisasi Ulama di Masa Khilafah, Mau Kembali ke Zaman Khilafah?

Kriminalisasi Ulama di Masa Khilafah, Mau Kembali ke Zaman Khilafah? Mikirrrrr! Belakangan ini para penyokong khilafah jaman now beberapa menebar isu sudah terjadi kriminalisasi ulama di masa Presiden Jokowi. Bahkan seorang eks Presiden juga ikut-ikutan menganggap sudah terjadi kriminalisasi ulama. Kriminalisasi itu artinya orang yang ndak bersalah tapi dinilai melaksanakan perbuatan kriminal.
Atau ada orang yang sebenarnya bukan ulama tapi seakan dia naik kelas jadi ulama cuma gara-gara jadi tersangka tindak kejahatan. Benar atau tidaknya, kita serahkan pada proses hukum dan peradilan yang berlaku.
Saya cuma hendak mengisahkan bahwa di masa Khilafah jaman old sudah terjadi penyiksaan dan tindakan mematikan kepada para ulama. Sehingga jika penyokong eks HTI teriak-teriak cuma khilafah yang sanggup menghentikan terjadinya kriminalisasi ulama, maka terang mereka buta dengan apa yang terjadi pada khilafah masa lalu.
Ini tidak banyak cuplikannya yang diambil dari kitab Tarikh karya Imam Thabari dan juga Imam Suyuthi:
1. Khalifah al-Manshur memerintahkan untuk mencambuk Imam Abu Hanifah rahimahullah saat menolak diangkat jadi hakim, memenjarakannya sampai wafat di bui. Dikatakan bahwa Imam Abu Hanifah wafat sebab diracun akibat sudah berfatwa membolehkan memberontak melawan Khalifah Abu Ja’far al-Manshur.
2. Menurut Imam Suyuthi, Imam Malik mengeluarkan fatwa bahwa boleh keluar memberontak kepada al-Manshur mengingat kekejaman yang dilakukannya. Gubernur Madinah lalu menangkap dan mencambuk Imam Malik akibat fatwa itu. Telah sebelumnya disebut di atas tindakan Khalifah al-Manshur ke Imam Abu Hanifah.
3. Kekejaman kepada ulama ndak berhenti pada dua nama besar Imam Mazhab ini tapi juga menimpa ulama lainnya yaitu Sufyan ats-Tsauri dan Abbad bin Katsir —yang pertama seorang ahli fiqh ternama, dan yang kedua seorang perawi Hadits. Hampir saja keduanya menemui ajal waktu Abu Ja’far al-Manshur menunaikan ibadah haji. Tetapi Sufyan dan Abbad selamat meski telah dimasukkan dalam bui dan menanti waktu eksekusi. Kata Imam Suyuthi, “tapi Allah ndak memberi kesempatan khalifah sampai di Mekkah dengan selamat. Dalam perjalanan dia sakit dan wafat. Allah sudah melarang kekejamannya kepada kedua ulama itu.”
4. Fitnah menerpa Imam Syafi’i, sampai ia diseret dengan tangan terantai ke tempat Khalifah Harun ar-Rasyid di Baghdad dan terancam hukuman mati. Tetapi beliau sukses menyampaikan peleidoi yang luar biasa, yang membikin Khalifah melepasnya. Pada waktu itulah Imam Syafi’i berjumpa dengan Syekh Muhammad bin Hasan al-Syaibani, seorang murid dari Imam Abu Hanifah. Maka mulailah Syafi’i belajar pada ulama hebat ini.
5. Khalifah al-Makmun memerintahkan dikumpulkannya para ulama dan diinterogasi apakah mereka berpendapat al-Qur’an itu qadim atau makhluk. Sesiapa yang menjawab makhluk, maka amanlah dia. Sementara sesiapa yang menjawab qadim, habislah dia disiksa. Surat lengkap Khalifah al-Makmun ke Ishaq bin Ibrahim yang memulai mihnah ini sanggup dibaca di Tarikh Thabari, juz 8/361-345.
6. Keputusan strategi Khalifah al-Makmun diteruskan oleh khalifah berikutnya. Imam Ahmad bin Hanbal ditangkap dan perintahkan untuk dicambuk oleh Khalifah al-Mu’tashim sebab bertahan bahwa al-Qur’an itu qadim.
7. Ibn Sikkit seorang ahli sastra Arab yang jadi guru kedua putra Khalifah al-Mutawakkil, diinjak perutnya sampai wafat. Imam Suyuthi menulis bahwa ada riwayat lain yang menjelaskan al-Mutawakkil memerintahkan pengawalnya mencabut lidah Ibn Sikkit sampai wafat. Ibn Sikkit dituduh selaku Rafidhah.
8. Imam Buwaythi (salah seorang murid terkemuka Imam Syafi’i) wafat di bui dengan tangan terikat akibat ndak lolos ujian keyakinan (mihnah), di masa Khalifah al-Watsiq. Beliau bertahan bahwa al-Qur’an itu qadim.
9. Imam Suyuthi memberitahukan dalam kitabnya Tarikh Al-Khulafa bagaimana kepala Ahmad bin Nashr al-Khuza’i dipenggal oleh Khalifah al-Watsiq dan lalu dikirim ke Baghdad sementara tubuhnya diperintahkan untuk digantung di gerbang kota Samarra. Kemudian, masih menurut catatan Imam Suyuthi, Khalifah tinggalkan tulisan yang tergantung di telinga Khuza’i: “Inilah Ahmad ibn Nashr al-Khuza’i yang membangkang mengenai kemakhlukan al-Qur’an dan menganggap Allah sanggup dilihat kelak dengan mata kita. Dia dieksekusi oleh Khalifah Harun al-Watsiq. Inilah siksaan Allah yang lebih awal dari nerakaNya.”
10. Imam Thabari memberitahukan bahwa kisaran 29 orang pengikut dan keluarga Ahmad ibn Nashr al-Khuza’i juga diburu dan dimasukkan ke bui oleh Khalifah al-Watsiq, ndak boleh dikunjungi siapapun, dirantai dengan besi dan ndak diberi makanan. Tubuh Khuza’i yang tanpa kepala itu digantung selama 6 tahun dan baru diturunkan sesudah Khalifah al-Watsiq wafat. Kekejaman yang enggak terhingga.
Seperti ini catatan ringkas akan kriminalisasi kepada para ulama yang ditunaikan oleh para Khalifah masa lalu. Ini fakta sejarah yang enggak terbantahkan dan dicatat dalam kitab klasik yg mu’tabar. Kebanyakan dieksekusi tanpa melalui proses peradilan.
Ini tentu tak sama dengan keadaan sekarang di NKRI dimana saban yang diduga melaksanakan tindak kejahatan akan berhadapan dengan proses hukum dengan didampingi pengacara dan berlaku asas praduga enggak bersalah. Waktu pengadilan nanti didatangkan para saksi. Dan jika ndak puas dengan keputusan hakim, masih sanggup melaksanakan usaha banding dan lalu kasasi.
Jika sekarang kita kembali ke masa Khilafah, ngapain capek-capek pakai proses peradilan, tinggal penggal saja kepala mereka. Nah, percaya anda masih mau kembali ke jaman khilafah? Mikirrrrr!
Kriminalisasi Ulama di Masa Khilafah, Mau Kembali ke Zaman Khilafah?
Nadirsyah Hosen, Ketua PBNU Australia (Penulis buku Tafsir al-Qur’an di Medsos).

loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :