Klarifikasi KH Muhaimin Zen: NUGL Tebar Fitnah ‘Kerjasama NU – Iran’

NUGL Tebar Fitnah Soal Kerjasama NU – Iran, Klarifikasi KH Muhaimin Zen: Kerjasama dengan Iran Bukan Program PBNU….


 

Islam-Institute, Jakarta – Lagi, Gerombolan Gagal Lurus (GGL) atau yang menamakan dirinya Komplotan NUGL dalam websitemya yang beralamat nugarislurus.com kembali menebar fitnah dan paham kebencian kepada para kyai Nahdlatul Ulama. Dengan berbagai judul dan postingan sudah dibuat GGL dalam beberapa hari ini. Seperti biasanya, mengungkit dan mencari-cari kekhilafan kyai NU seakan jadi menu makanan pokok sehari-hari dalam tulisannya itu, tak lain ialah untuk memuaskan hasrat nafsunya. Mungkin bagi GGL jikalau belum menjelek-jelekan saudaranya, jikalau belum membuka aib saudaranya, atau jikalau belum menebarkan fitnah ke saudara sesama muslimnya, maka terasa ada yang hambar dan kurang dalam hidupnya.

Kali ini, Gerombolan Gagal Lurus membuka tudingan lama terkait kerjasama antara PBNU dan Iran. Isu tersebut sesungguhnya telah basi tapi lagi-lagi GGL tampaknya masih belum terpuaskan nafsunya dan tetap mengkonsumsi “makanan basi” tersebut untuk menjatuhkan para kyai NU. Ketua Umum PBNU dituding sudah melaksanakan kerjasama dan pengiriman maha siswa Indonesia ke negara Republik Islam Iran. Padahal, melalui tabyayyun tingkat tinggi, tudingan itu sudah terbantahkan.


Ketua Umum Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (PP JQH NU) Dr. KH. A. Muhaimin Zen, MA geram atas berbagai tudingan yang tak benar yang dialamatkan ke PBNU. Beliau pun merasa terpanggil untuk melaksanakan klarifikasi (tabayun) terkait polemik kerjasama dan
pengiriman maha siswa ke Iran. 

Dalam klarifikasi yang ditulis Ketum PP JQH NU pada 27 Januari 2016, membantah tudingan Gerombolan Gagal Lurus yang mengumumkan Kyai Said Aqil Siradj melaksanakan kerjasama dan pengiriman maha siswa Indonesia ke Iran. Yang benar ialah itu bukan program dari Kyai Said Aqil Siradj tapi
inisiatif dari PP JQH NU.


Kerjasama antara PP JQH NU dan Iran ini pun bukan asal-asalan dan tanpa alasan. Hal ini ditunaikan untuk meningkatkan pembinaan kepada para anggotanya yaitu para Qori dan Qoriah di Indonesia. KH Muhaimin Zen juga menerangkan bahwa kerjasama ini muncul sesudah memperoleh arahan dan info dari Syekh Herbawi Mesir di waktu PP JQH NU melaksanakan pemeriksaan terkait seni baca al-Qur’an ke para Qori ternama dunia.

Dikarenakan PP JQH NU levelnya cuma sebatas badan otonom PBNU lanjut Muhaimin, maka Rektor Jami’ah al-Musthafa Iran meminta supaya penandatangannya melibatkan Ketua Umum PBNU yang selevel tingkatannya. Belum sempat melaksanakan aksi, kerjasama ini pun dicancel.


Jadi, tak benar jikalau ada yang menjelaskan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Sirodj sudah melaksanakan kerjasama dan pengiriman mahasisa ke Iran. Sungguh itu ialah fitnah dari golongan yang tak menyukai Ahlussunnah wal Jama’ah di Indonesia, seperti GGL dan Wahabi
Dan berikut ialah klarifikasi Ketua Umum PP JQH NU Dr. KH. A. Muhaimin Zen, MA yang membantah keterlibatan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Sirodj terkait kerjasama dan pengiriman maha siswa ke Iran:

Sehubungan dengan acara seminar di pesantren Sidogiri tanggal 24 Januari
2016 yang menyinggung-nyinggung problem kerjasama Jami’ah al-Musthafa
QUM Iran dan PBNU, maka saya (A. Muhaimin Zen, Ketum PP JQH NU) merasa
terpanggil untuk mengklarifikasikan.

Loading...
loading...

Sejatinya problem kerjasama Iran dan PBNU itu Program dari Pimpinan
Pusat Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (PP JQH NU) bukan
Program PBNU. Ketua Umum PP JQH merasa berkewajiban membina
anggotanya di bidang Qori’ Qori’ah, atas permintaan komunitas Qori’
Qori’ah ketum di minta untuk meningkatkan pembinaan Qori’ Qori’ah di
lingkungan JQH NU.

Bagian usaha untuk meningkatkan kualitas pembinaan tersebut langkah
pertama tahun 2010 ketum menggelar kunjungan ke Mesir bersama-sama Qori’
Qori’ah JQH NU. Alhamdulillah selama 20 hari di Mesir di fasilitasi oleh
Bapak Fakhir Dubes Indonesia untuk Mesir. Untuk menggelar pemeriksaan
ke Qori’-Qori’ kenamaan antara lain Syekh Herbawi. Di sinilah para Qori’
Qori’ah JQH memperoleh pengalaman yang terlalu luas antara lain; bahwa
seni baca al-Qur’an yang dilombakan di Indonesia itu bersumber dari
tujuh lagu بحصر جسد :

ب Bayati
ح Husaini
ص Soba
ر Rost
ج Jiharka
س Sika
د Nahawand
Menurut Syekh Herbawi diantara 7 lagu ini beberapa yang bersumberkan
dari Persia (Iran). Maka atas info tersebut kami dari tim peneliti
JQH NU menindaklanjuti pemeriksaan ke Iran.

Tahap selanjutnya tahun 2011 tim peneliti 12 orang yang diketuai oleh
Prof. Dr. Ahmad Mubarak, MA atas izin Wakil Rois ‘Am, Gus Mus untuk
menelusuri ke Iran. Tim tersebut berjumlah 12 orang, yaitu:

  • Prof. DR. Ahmad Mubarak (Ketua Delegasi)

 

  • Prof. KH. Dr. Said Agil Siraj, MA (Ketum PBNU/Anggota Delegasi)

 

  • Dr. H. A. Muhaimin Zen, MA (Ketum JQH/Anggota Delegasi) (Masing-masing beserta istri)

 

  • PW JQH Sumatra Utara, bersama-sama 4 orang Qori’ Qori’ah

 

  • PW JQH Jawa Timur dan pengurus lainnya

Yang semuanya berjumlah 12 orang.

Dalam pemeriksaan ini, diterima oleh Rektor Jami’ah al-Musthafa Prof. Dr.
Ali Reza Aarafi QOM Iran. Yang berikutnya di pertemukan dengan
beberapa Qori’ Internasional di Iran yang kenamaan. Maka untuk langkah
berikutnya, perjumpaan ini ditindaklanjuti dengan MOU yang isinya kerjasama sebatas pengembangan seni baca al-Qur’an, ulumul Qur’an dan lain-lain. MOU
ini semestinya ditanda tangani oleh Ketua Umum PP JQH dan Rektor
Jami’ah al-Musthafa Iran sebab PP JQH ini statusnya badan Otonom di
bawah PBNU yang tak selevel dengan Rektor Jami’ah al-Musthafa QOM maka
Rektor Jami’ah al-Musthafa meminta yang tanda tangan selevel dengan
beliau yaitu Ketum PBNU dalam hal ini, Prof. Dr. KH. Said Agil Siraj. Akan
tetapi, MOU ini belum sempat action maka tanggal 14 desember 2011 Ketum
PP JQH disidang oleh Katib Syuriah NU untuk dimintai pertanggungjawaban
atas MOU tersebut dan lantas MOU itu DI BATALKAN oleh Syuriah NU.

Terkait dengan pengiriman maha siswa ke Iran setahu saya (Ketum PP JQH NU)
itu ditunaikan pada era periode kepemimpinan PBNU Gusdur, bukan Periode
KH. Hasyim Muzadi dan bukan pula periode Kiyai Said Agil Siraj.
Keputusan strategi yang ditunaikan oleh Gus Dur waktu itu ialah untuk untuk
menjaga hubungan baik dengan Iran dan tak sampai mensyiahkan masyarakat NU
maka dikirimlah calon-calon maha siswa di luar NU dari Persis dan masyarakat
yang memang telah jadi syiah di Indonesia.

Jakarta, 27 Januari 2016

Ketum PP JQH NU

Dr. H. A. Muhaimin Zen, MA

 

Sungguh fitnah ialah perkara yang terlalu fatal, karena dan akibat dari fitnah akan mengakibatkan jatuhnya korban yang sungguh dahsyat, bukan saja nama orang yang difitnah itu memperoleh aib, tetapi fitnah mengakibatkan lenyapnya suatu bangsa, dengan fitnah manusia akan saling mencaci, memaki dan bunuh menghabisi walau sesama ummat Islam. Cukuplah peringatan keras dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya; “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan fitnah ke orang-orang mukmin laki-laki dan wanita, lantas mereka tak bertaubat, maka bagi mereka azab jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang terlalu pedih.” (QS. al-Buruj: 10).

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “Berbuat fitnah lebih besar khilafnya daripada menghabisi.” (Q.S. Al-Baqarah: 217).

Lantas dalam Firman-Nya yang lain, “Wahai orang yang beriman! Jauhilah dari kebanyakan sangkaan, sebab sesungguhnya sebahagian daripada sangkaan itu ialah dosa, dan janganlah kau mengintip atau mencari-cari kekhilafan dan keaiban orang, dan janganlah kau mengumpat setengah yang lain. Adakah seseorang kau suka memakan daging saudaranya yang telah mati? Telah tentu kau jijik kepadanya. (Oleh sebab itu patuhilah larangan tersebut) dan bertaqwalah kau ke Allah, sesungguhnya Allah Maha penerima taubat dan Maha penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12).

Nabi Saw bersabda: “Ndak akan masuk surga Nammaam (orang yang suka menyebar fitnah).” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Loading...

sumber

loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :