Kisah IBNU MULJAM si Pembunuh Sayyidina Ali Karromallohu Wajhah

Kisah IBNU MULJAM si Pembunuh Sayyidina Ali Karromallohu Wajhah

Kisah IBNU MULJAM si Pembunuh Sayyidina Ali Karromallohu Wajhah

Karena berita hoaks, IBNU MULJAM seorang Hafizd Qur’an membunuh Syadina Ali bin Abu Tholib saat Solat Subuh di bulan suci Ramadan. Padahal Syadina Ali adalah sahabat, sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad saw.

Ketika itu Ali bin Abu Tholib memasuki masjid. Ia melihat ada seorang yang masih tidur dengan mendekap dadanya, seakan ada yang disembunyikan.

Imam Ali lalu membangunkannya. “Ayo shalat…. ” Tetapi lelaki itu tidak bergerak.

Imam Ali lalu memulai shalat subuhnya sendiri. Dan lelaki yang tidur tadi perlahan bangun dari tidurnya sambil mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Ia lalu mengendap-endap memasuki masjid dan tampak olehnya Imam Ali sedang bersujud di rakaat pertamanya.

Lelaki itu kemudian berdiri mengangkang di depan Imam Ali yang sedang bersujud sambil memegang sebuah pedang besar yang telah diberi racun olehnya. Tepat ketika Imam Ali mengangkat kepalanya dari sujud, pedang itu diayunkan dan membelah dahinya..

Kisah IBNU MULJAM si Pembunuh Sayyidina Ali Karromallohu Wajhah

Sebuah riwayat mengatakan, ketika menebas dahi Imam Ali, lelaki itu berteriak, ““Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu dan bukan milik teman-temanmu, hai Ali!”

Loading...
loading...

Banyak yang mengingkari kisah ini dan mengatakan bahwa Imam Ali dibunuh oleh suruhan Yahudi dan Nasrani. Tetapi sesungguhnya Ibnu Muljam adalah seorang yang hafal Qur’an, puasanya tidak pernah putus, shalat malamnya kuat dan bacaan kitabnya merdu.

Seorang muslim akan merasa rendah diri ketika Ibnu Muljam menampakkan kemampuannya menjalankan syariat. Tapi ternyata itu tidak menghentikannya untuk membunuh orang yang dikasihi Nabi Muhammad, pemeluk Islam pertama dan sejak kecil bersama Nabi Saw. Imam Ali juga dikenal sebagai bagian dari tim penyusun kitab suci Al-Qur’an di masa kekhalifahan Utsman bin Affan.

Bagi Ibnu Muljam, Ali bin abu thalib adalah seorang kafir, karena berbeda pandangan dengannya. Dan ia merasa darah Sayyidina Ali Karromallohu Wajhah halal untuk ditumpahkan olehnya.

Imam Ali tidak mengerang sedikit pun. Dengan dahi terkoyak, ia mengucap, “Aku menang, ya Allah….”

Imam Ali meninggal dunia tiga hari kemudian, sesudah meninggalkan banyak pesan kepada kedua anaknya, Hassan dan Hussain. Kedua anaknya ini kelak juga dibunuh oleh mereka yang mengaku pengikut agama kakeknya, Nabi Muhammad Saw.

Sayyidina Ali syahid, sebuah kemenangan yang diidamkannya dalam perjalanan di dunia.

Fanatisme beragama dengan meninggalkan nalar atau logika, membuat seorang Ibnu Muljam menjadi pembunuh yang mengerikan. Ia menafsirkan sendiri ayat-ayat Allah dengan nafsunya, secara tekstual tanpa mengerti konteks tanpa memahami maknanya.

Generasi penerus Ibnu Muljam masih eksis terpelihara sampai sekarang. Mereka yang beragama dengan nafsu dan hobi mengkafirkan dan membunuh sesama – bahkan seiman – dengan alasan “mengikuti perintah Allah….”

Tentunya Allah sesuai nafsu dan prasangkanya….

Loading...

Sadarlah, politisasi agama bisa melahirkan para Ibnu Muljam baru di zaman sekarang. Mereka yang menghalalkan segala cara dengan menyebar hoax, bahkan sampai menjual nama Allah demi kepentingan diri dan kelompoknya. Mereka ini berpotensi menjadi Ibnu Muljam.

loading...

You might like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *