KIAI QURAISH SHIHAB, IDOLA KID ZAMAN NOW

Meluruskan Fitnah-Fitnah Terhadap Habib Quraish Shihab

KIAI QURAISH SHIHAB (HABIB QURAISH SHIHAB) IDOLA YANG HEBAT UNTUK KID ZAMAN NOW ? Yuk, simak kisah nyata berikut ini, kepolosan santri mulia ini akan menitikkan air mata …..

KIAI QURAISH SHIHAB, IDOLA KID ZAMAN NOW
Keterangan Foto: Sebelah kiri Gus Mus (Kh. Mustofa Bisri) dan sebelah kanan KH Qurash Shihab (Habib Quraish Shihab).

 

“Ayah tahu kiai Quraish Shihab?” tanya anak keduaku, suatu saat.

Saya menggeleng. Dahiku mengernyit.

“Itu lho yang nulis kitab Tafsir al-Mishbah…”

Spontan saya terkekeh. Geli, sebab ia menyebut sang mufassir Prof. Dr. M. Quraish Shihab dg sapaan ta’zhim “kyai”. Sapaan yang enggak lazim buat beliau.

“Terus kenapa?” tanyaku.

“Belakangan ini aku sering baca kitab tafsirnya itu. Di perpustakaan sekolah, setiap kali istirahat atau pas ustadz enggak hadir…” Matanya berbinar, mengerjap. Ia bilang, telah masuk jilid kedua. Syukur diam-diam menggenangi hatiku.

“Bagus?” pancingku.

Ia mengangguk, berulang. Di sekolah maupun di pondok ia mengaji sejumlah kitab tafsir klasik. Tapi, katanya, al-Mishbah tak termasuk.

“Tapi, sayang sekali, kitab-kitab besar seperti itu cuma boleh dibaca di tempat, enggak bisa dipinjam.”

Saya berusaha memahami kecewanya.

“Di rumah, Ayah punya?”

Saya menggeleng. Sejumlah buku karya Prof Quraish saya memang punya, relatif lengkap.

“Membumikan al-Qur’an” ialah yang pertama kukoleksi, semenjak awal 1990an. Seingatku, tinggal beberapa yang belum kupunya, termasuk Tafsir al-Mishbah itu.

“Kalau semester pertama ini aku ranking 1, Ayah mau membelikanku sebagai hadiah?”

“Yang jilid keberapa?”

“Semuanya, Yah. 15 jilid…”

Saya tersenyum. Seteguk ludah enggak sengaja tertelan. Anggukanku beberapa saat lalu menggerakkan bibirnya berucap “terima kasih”. Senyumnya mengembang.

Belakangan, ia benar-benar ranking 1. Itu tahun pertamanya di MMA Tambak Beras, kelas 2, sebuah sekolah khusus keagamaan, sederajat SLTA kelas 10.

Sialnya, saya lupa dengan janjiku dan ia pun enggak mengingatkanku. Tapi, saban kali sambang, ia masih saja rajin bercerita dan mengajakku diskusi soal hasil bacanya atas al-Mishbah. Ia pun sempat mengkonfirmasi label syiah, liberal, dll yang dituduhkan kpd Prof Quraish… dan alhamdulillah ia sendiri enggak percaya.

Di semester selanjutnya, ranking 1 kembali ia raih. Celakanya, saya masih saja lupa dan ia enggak menagih. Saya cuma menghadiahinya pelukan hangat dan usapan lembut di kepala…

Dan saya tetap saja lupa, bahkan sampai beberapa bulan lalu ketika ia bercerita dengan raut muka masygul: perpustakaan untuk sementara ditutup, sedang direhab.

“Padahal aku telah masuk jilid keempat,” keluhnya.

Memasuki tahun kedua, saya enggak jua ingat sampai kemudian “kegagalan” menghampirinya pada semester gasal tempo hari. Rankingnya melorot menuju urutan 3.

Saya enggak sedih, pun enggak marah. Sok bijak, saya bahkan menghiburnya untuk tetap semangat. Yang membuatku terpukul ialah cara dia memberitahuku soal kegagalan itu…

“Ayah tak usah membelikanku kitab al-Mishbah. Gak jadi aku minta hadiah…,” suaranya seperti tercekat di ujung telpon.

“Kenapa?”

Hening. Kurapikan ingatan soal hadiah yang dia maksud. Saya mengulang tanya. Lama, enggak ada respon.

“Maaf ya, Yah. Rankingku semester ini turun. Ayah gak usah belikan dah. Biar aku baca di perpustakaan saja. Sekarang sudah selesai direhab kok, telah dibuka…”

Hatiku remuk. Rasa bersalah membekapku. Permintaan anakku sederhana, minta dihadiahi kitab kesukaannya untuk capaian prestasi ranking 1 dua semester berturut-turut. Kala itu, saya telah bertekad untuk segera membelikannya. Sayang, lagi-lagi saya lupa. Kesibukan yang mengepung hari-hari meraibkan ingatan itu…

Sampai hari Selasa kemarin istri menelpon.

“Yah, jika smpean punya duit lebih, tolong belikan anak-e kitab Tafsir al-Mishbah. Arek-e pas sambangan tempo hari titip duit ke aku 800 ribu. Hasil nyisihkan uang jajane utk beli kitab itu, tapi jangan bilang-bilang Ayah jare…”

Saya terdiam. Rasa bersalah membuncah. Terbayang wajah anak keduaku itu. Teringat tingkah lucunya, juga cita-citanya yang sejak kecil berubah-ubah: penebang pohon, penjaga pantai, penjaga palang pintu kereta, masinis, pengusaha, guru karate, dokter, polisi, hansip, dll.

Begitu masuk MTs dan tinggal di pesantren tahfizh, ia berhenti bicara cita-cita. Kalau ditanya, ia selalu menjawab cuma bercita-cita pingin menghadiahi mahkota indah untuk saya dan ibunya kelak di hari berbangkit…

“Yah, kok diam sih? Smpean pernah janji ta mau belikan areke?”

“Ya. Nanti kubelikan. Duite simpen baik2. Saat sambang lagi nanti, kembalikan ke areke…”

Sorenya, saya langsung menuju toko buku. Membeli kitab yang setahun lebih diidamkan anakku dan terlupakan olehku.

Malamnya, kuminta ke istriku, bila anakku telpon, bilang jika yang dijanjikan Ayah telah terbeli.

Dan seharian ini telah empat kali dia menelponku cuma untuk bilang “Terima kasih ya, Yah. Terima kasih…”

Pada telpon keempat kalinya menjelang Maghrib tadi iseng kutanya cita-citanya.

“Mufassir,” jawabnya tegas. “Seperti kiai Quraish Shihab. Doakan ya, Yah…”

Mataku mendadak basah, berkaca-kaca. Kuaminkan berulang-ulang… (sahabats, tolong bantu diaminkan ya? Swun!)

Semoga Allah swt mengabulkan cita besarnya itu dan memuliakan Prof. Dr. M. Quraish Shihab yang sudah menginspirasi anakku mengubah cita-citanya…


There are no perfect fathers but a father will always love perfectly.

#TafsirAlmishbah
#KyaiQuraishShihab
#AhmadWadudAlumam
#MMATambakBeras

sumber

Jasa Website Alhadiy

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :