Khalifah Umar al-Faruq RA, Legendaris Islam Sejauh Zaman

Daftar 10 cerita karomah dan kasyaf Sayyidina Umar Bin Khattab Ra, cerita Sahabat Nabi yang melegenda sejauh zaman ….

Cerita Sayyidina Umar (1)

Ibnu Abi Dunya meriwayatkan bahwa tatkala Umar bin Khattab r.a. melewati pemakaman Baqi’, ia mengucapkan salam, “Semoga keselamatan dilimpahkan padamu, hai para penghuni kubur. Kukabarkan bahwa istri kalian telah nikah lagi, rumah kalian telah ditempati, kekayaan kalian telah dibagi.” Lalu ada suara tanpa rupa menyahut, “HaiUmar bin Khattab, kukabarkan juga bahwa kami sudah memperoleh balasan atas kewajiban yang sudah kami lakukan, keuntungan atas harta yang yang sudah kami dermakan, dan penyesalan atas kebaikan yang kami tinggalkan.” (Dikemukakan dalam bab mengenai hal kubur)

Yahya bin Ayyub al-Khaza’i menceritakan bahwa `Umar bin Khattab mendatangi makam seorang pemuda lalu memanggilnya, “Hai Fulan! Dan orang yang takut akan waktu menghadap Tuhannya, akan memperoleh dua surga (QS Al-Rahman [55]: 46). Dari liang kubur pemuda itu, terdengar respon, “Hai ‘Umar, Tuhanku sudah memberikan dua surga itu kepadaku dua kali di dalam surga.” (Riwayat Ibnu ‘Asakir)

Cerita Sayyidina Umar (2)

 

Al Taj al-Subki menyampaikan bahwa bagian karamah Khalifah ‘Umar al-Faruq r.a. dikemukakan dalam sabda Nabi yang berbunyi, “Di antara umat-umat sebelum kalian, ada orang-orang yang jadi legenda. Kalau orang seperti itu ada di antara umatku, dialah ‘Umar.”

Cerita Sayyidina Umar (3)

 

Diceritakan bahwa Umar bin Khattab r.a. mengangkat Sariyah bin Zanim al-Khalji selaku pemimpin bagian angkatan perang kaum muslimin untuk menycrang Persia. Di Gerbang Nihawan, Sariyah dan pasukannya terdesak sebab hitungan total pasukan musuh yang terlalu beberapa, sehingga pasukan muslim hampir kalah. Sementara di Madinah,Umar naik ke atas mimbar dan berkhutbah. Di tengah-tengah khutbahnya, ‘Umar berseru dengan suara lantang, “Hai Sariyah, berlindunglah ke gunung. Barangsiapa menyuruh esrigala untuk menggembalakan kambing, maka ia sudah berlaku zalim!” Allah membikin Sariyah dan seluruh pasukannya yang ada di Gerbang Nihawan dapat menguping suara Umar di Madinah. Maka pasukan muslimin berlindung ke gunung, dan berkata, “Itu suara KhalifahUmar.” Akhirnya mereka selamat dan memperoleh kemenangan.

Al Taj al-Subki menerangkan bahwa ayahnya (Taqiyuddin al-Subki) menambahkan cerita di atas. Pada waktu itu, Ali menghadiri khutbah Umar lalu ia ditanya, “Apa maksud perkataan KhalifahUmar barusan dan di mana Sariyah sekarang?” Ali menjawab, “‘Doakan saja Sariyah. Tiap-tiap problem pasti ada jalan keluarnya.” Dan sesudah kejadian yang dialami Sariyah dan pasukannya diketahui ummat muslimin di Madinah, maksud perkataan `Umar di tengah-tengah khutbahnya tersebut jadi terang

Menurut al Taj al-Subki, Umar r.a. nggak bermaksud memperlihatkan karamahnya ini, Allah-lah yang menampakkan karamahnya, sehingga pasukan muslimin di Nihawan dapat melihatnya dengan mata telanjang, seakan-akanUmar menampakkan diri secara nyata di depan mereka dan meninggalkan majelisnya di Madinah sementara seluruh panca indranya merasakan bahaya yang menimpa pasukan muslimin di Nihawan. Sariyah berbicara dengan Umar seperti dengan orang yang ada bersamanya, baikUmar sungguh-sungguh bersamanya secara nyata atau seakan-akan bersamanya. Para wali Allah terkadang mengetahui hal-hal luar biasa yang dikeluarkan oleh Allah melalui lisan mereka dan terkadang nggak mengetahuinya. Kedua hal tersebut ialah karamah.

 

Cerita Sayyidina Umar (4)

Dalam kitab al-Syamil, Imain al-Haramain menceritakan Karamah ‘Umar yang tampak tatkala terjadi gempa bumi pada masa pemerintahannya. Saat itu, ‘Umar malah mengucapkan pujian dan sanjungan kpd Allah, padahal bumi bergoncang begitu menakutkan. Lalu Umar memukul bumi dengan kantong tempat susu sambil berkata, “Tenanglah engkau bumi, bukankah saya sudah berlaku adil kepadamu.” Bumi kembali tenang waktu itu juga. Menurut Imam al-Haramain, pada hakikatnyaUmar r.a. ialah amirul mukminin secara lahir dan batin juga selaku khalifah Allah bagi bumi-Nya dan bagi warga bumi-Nya, sehingga `Umar mampumemerintahkan dan menghentikan gerakan bumi, sebagaimana ia menegur kesalahan-kesalahan warga bumi.

Cerita Sayyidina Umar (5)

 

Imam al-Haramain juga menyampaikan cerita mengenai hal sungai Nil dalam kaitannya dengan karamah ‘Umar. Pada masa jahiliyah, sungai Nil nggak mengalir sehingga tiap-tiap tahun dilemparlah tumbal berupa seorang perawan ke dalam sungai tersebut. Saat Islam datang, sungai Nil yang semestinya telah mengalir, tenyata nggak mengalir. Warga Mesir lantas mendatangi Amr bin Ash dan memberitahukan bahwa sungai Nil kering sehingga diberi tumbal dengan melempar seorang perawan yang dilengkapi dengan perhiasan dan pakaian terbaiknya. Lalu Amr bin Ash r.a. berkata kpd mereka, “Sesungguhnya hal ini nggak boleh dikerjakan sebab Islam sudah menghapus tradisi tersebut.” Maka warga Mesir bertahan selama 3 bulan dengan nggak mengalirnya Sungai Nil, sehingga mereka sungguh-sungguh menderita.

‘Amr mecatat surat kpd Khalifah `Umar bin Khattab untuk menceritakan kejadian tersebut. Dalam surat respon untuk ‘Amr bin Ash, ‘Umar mengumumkan, “Engkau benar bahwa Islam sudah menghapus tradisi tersebut. Saya menyampaikan secarik kertas untukmu, lemparkanlah kertas itu ke sungai Nil!” Lalu Amr membuka kertas tersebut sebelum melemparnya ke sungai Nil. Ternyata kertas tersebut berisi tulisan Khalifah ‘Umar untuk sungai Nil di Mesir yang mengumumkan, “Kalau engkau mengalir sebab dirimu sendiri, maka jangan mengalir. Tetapi kalau Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa yang mengalirkanmu, maka kami mohon kpd Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa untuk membuatmu mengalir.” Lalu ‘Amr melempar kertas tersebut ke sungai Nil sebelum kekeringan benar-bcnar terjadi. Sementara itu warga Mesir sudah bersiap-siap untuk geser meninggalkan Mesir. Pagi harinya, ternyata Allah Swt. sudah mengalirkan sungai Nil enam belas hasta dalam satu malam.

Cerita Sayyidina Umar (6)

 

Imam al-Haramain menceritakan karamah Umar lainnya. ‘Umar pernah memimpin suatu pasukan ke Syam. Lalu ada sekelompok orang menghalanginya, sehingga ‘Umar berpaling darinya. Lalu sekelompok orang tadi menghalanginya lagi,Umar pun berpaling darinya lagi. Sekelompok orang tadi menghalangi `Umar untuk ketiga kalinya dan ‘Umar berpaling lagi darinya. Pada akhirnya, diketahui bahwa di dalam sekelompok orang tersebut terdapat pembunuh ‘Utsman dan Ali r.a.

Cerita Sayyidina Umar (7)

 

Dalam kitab Riyadh al-Shalihin, Imam Nawawi menyampaikan bahwa Abdullah bin Umar r.a. berkata, “Tiap-tiap kaliUmar menjelaskan sesuatu yang menurut prasangkaku begini, pasti prasangkanya itu yang benar.”

Saya nggak menyampaikan riwayat dari Ibnu Umar tersebut dalam kitab Hujjatullah ‘ala al-‘Alamin. Cerita mengenai hal Sariyah dan sungai Nil yang terlalu terkenal juga disebutkan dalam kitab Thabaqat al-Munawi al-Kubra. Dalam kitab tersebut juga dikemukakan karamah ‘Umar yang lainnya yaitu tatkala ada orang yang bercerita dusta kepadanya, laluUmar menyuruh orang itu diam. Orang itu bercerita lagi kpd `Umar, lalu Umar menyuruhnya diam. Lalu orang itu berkata, “Tiap-tiap kali saya berdusta kepadamu, niscaya engkau menyuruhku diam.”

Cerita Sayyidina Umar (8)

 

Diccritakan bahwa ‘Umar menanyakan kpd seorang laki-laki, “Siapa namamu?” Orang itu menjawab, “Jamrah (artinya bara).” Umar menanyakan lagi, “Siapa ayahmu?” Ia menjawab, “Syihab (lampu).”Umar menanyakan, “anak cucu siapa?” Ia menjawab, “anak cucu Harqah (kebakaran).” ‘Umar menanyakan, “Di mana tempat tinggalmu?” Ia menjawab, “Di Al Harrah (panas).” Umar menanyakan lagi, “Daerah mana?” Ia menjawab, “Di Dzatu Lazha (Tempat api).” LaluUmar berkata, “Saya menyaksikan keluargamu sudah terbakar.” Dan seperti itulah yang terjadi.

Cerita Sayyidina Umar (9)

 

Fakhrurrazi dalam tafsir surah Al-Kahfi menceritakan bahwa bagian kampung di Madinah dilanda kebakaran. Lalu Umar mecatat di secarik kain, “Hai api, padamlah dengan izin Allah!” ‘Secarik kain itu dilemparkan ke dalam api, maka api itu langsung padam.
<h3 style="text-align: center;"><strong>Cerita Sayyidina Umar (10)</strong></h3>
Fakhrurrazi menceritakan bahwa ada utusan Raja Romawi datang menghadap
Umar. Utusan itu mencari rumah Umar dan mengira rumah ‘Umar seperti istana para raja. Orang-orang menjelaskan, “‘Umar nggak mempunyai istana, ia ada di padang pasir sedang memerah susu.” seusai sampai di padang pasir yang ditunjukkan, utusan itu menyaksikanUmar sudah menaruh kantong tempat susu di bawah kepalanya dan tidur di atas tanah. Terperanjatlah utusan itu menyaksikan Umar, lalu berkata, “Bangsa-bangsa di Timur dan Barat takut kpd manusia ini, padahal ia cuma seperti ini. Dalam hati ia berjanji akan menghabisiUmar waktu sepi seperti itu dan membebaskan ketakutan manusia terhadapnya. Tatkala ia sudah mengangkat pedangnya, tiba-tiba Allah mengeluarkan dua harimau dari dalam bumi yang siap memangsanya. Utusan itu jadi takut sehingga terlepaslah pedang dari tangannya. ‘Umar lantas terbangun, dan ia nggak menyaksikan apa-apa. ‘Umar menanyai utusan itu mengenai hal apa yang terjadi. Ia menceritakan kejadian tersebut, dan akhirnya masuk Islam.

Menurut Fakhrurrazi, kejadian-kejadian luar biasa di atas diriwayatkan secara ahad (dalam bagian tingkatan sanadnya cuma ada satu periwayat). Adapun yang dikisahkan secara mutawatir ialah kenyataan bahwa walaupun `Umar menjauhi kekayaan duniawi dan nggak pernah memaksa atau menakut-nakuti orang lain, ia sanggup menguasai daerah Timur dan Barat, serta menaklukkan hati para raja dan pemimpin. Kalau anda mengkaji buku-buku sejarah, anda tidak akan menemukan pemimpin seperti ‘Umar, semenjak zaman Adam sampai sekarang. Bagaimana ‘Umar yang begitu menghindari sikap memaksa dapat menjalankan politiknya dengan gemilang. Tak diragukan lagi, itu ialah karamahnya yang paling besar.  (al/salafytobat)

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :