KH Ma’ruf Amin: Dakwah NU itu Santun, Merangkul tanpa Ancaman dan Merendahkan

KH Ma’ruf Amin, Rais Aam PBNU Keturunan Syekh Nawawi Al Bantani

KH Ma’ruf Amin: Dakwah NU itu Santun, Merangkul tanpa Ancaman dan Merendahkan

Siapa enggak kenal dengan KH. Ma’ruf Amin? Berikut tidak banyak cerita soal beliau. …

Masih ingatkah kita dengan berita super heboh soal kiyai-kiyai Madura yang dikabarkan oleh media yang (dapat jadi) belum sempat belajar kitab adab menuntut ilmu Ta’limul Mutaallim?. Media tersebut sudah memberitakan bahwa para kiyai Madura pimpinan KH. Ali Karrar sudah “Melabrak” Rais Am PBNU KH. Ma’ruf Amin di Jakarta sebab struktural PBNU sudah disusupi oknum liberal.

Dalam budaya ke-NU-an, terlalu tercela dan kurang a*ar sekali kalau ada junior atau santri berani melabrak ustadz atau kiyainya yang lebih senior. Istilah “melabrak” disini pantasnya dipakai untuk orang tua yang nggak terima anak putrinya dihamili oleh seorang pemuda bejat yang nggak bermoral.

Jikalau boleh saya perjelas, kiyai-kiyai dari Madura ialah junior, sedangkan KH. Ma’ruf Amin ialah senior mereka bahkan sesepuh mereka yang alim nan waro’. Pantasnya hubungan diantara mereka ialah santri dan kiyainya sendiri, sehingga kata yang tepat bukan “melabrak”, akan tetapi sowan memohon kejelasan ilmu dan perkara.

Ini ialah bagian pelajaran adab berharga yang patut kita renungkan. Supaya kita senantiasa tahu diri dan beretika disaat bergaul dengan senior atau orang yang lebih tua dari kita. Cerita yang ingin saya sampaikan seterusnya yaitu:

Bahwa ada seorang Kiyai menitipkan Ust. AMG di barisan lembaga bahsul masail NU kpd KH. Ma’ruf Amin. Alasan sang kyai penitip bahwa Ust. AMG tersebut memang piawai dalam bidang fiqh dan ushul fiqh. Tetapi sayangnya, sang ust ialah sosok yang tertuduh pentolan Islam Liberal yang wajib dibasmi ke akar-akarnya, sehingga nggak layak masuk barisan pengurus PBNU.

Menguping aduan dari kiyai-kiyai Madura tersebut, KH. Ma’ruf nggak kemudian gegabah mengiyakan permintaan mereka. Dengan ruh dakwah Walisongo, kebijaksanaan, kesantunan, kelembutan, ketenangan, beliau menjawab (kurang lebih), “Pengurus NU itu ada 2, pertama : Man Qod Shofa, kedua : Man Fit Tasfiyah”.

Maksud dari istilah ‘Man Qod Shofa’ ialah para Kiyai-kiyai dan para ustadz NU yang memang sungguh-sungguh berjalan diatas garis yang dikokohkan hadratus Syekh Muhammad Hasyim Asy’ari. Adapun yang kedua, istilah ‘Man Fit Tasfiyyah’ ialah barisan pengurus NU yang tidak banyak cenderung aliran ‘kanan dan kiri’.

NU terlalu berbangga dengan ‘Man Qod shofa’nya. Adapun yang ‘Man Fit Tasfiyyah’, beliau-beliau diberi kesempatan jadi pengurus NU sembari diberi pendekatan kasih sayang dan bimbingan cinta supaya kecenderungan ‘kanan-kiri’ itu tidak banyak untuk tidak banyak dapat terkikis dan hilang dari pemikiran mereka.

Dengan sedemikian NU tetap pada prinsip dakwahnya yang santun dan halus. Bukan menolak, memangkas dan bukan juga menjauhi orang yang belum sefaham, akan tetapi mengajak, merangkul tanpa ancaman dan merendahkan.

Memang, cara untuk menyelaraskan pemikiran kita kpd orang yang belum sefaham bukan dengan menakut-nakuti, menjauhi dan mengusir mereka. Yang tepat dan bijak ialah dengan memberi kesempatan mereka dan menggenggam hati mereka pelan-pelan. Inshallah disaat hati tersebut telah melunak niscaya akan mudah menggiringnya ke jalan yang lebih baik dan benar.

Seperti ini tidak banyak cerita yang dapat saya sampaikan. Semoga ada tidak banyak manfaat dan kebaikan yang langsung menyentuh hati halus kita, sehingga kita dapat lebih baik dari sebelumnya.

Salam perdamaian dan persaudaraan

Sumber Status Fb: Mochamad Ihsan Ufiq via muslimoderat.net

Source by Hakim Abdul

You might like

About the Author: Hakim Abdul

KOMENTAR: Jika ada artikel yang salah, dll, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.