[KH Maimoen Zubair] Tidak sedikit yang Puasa, tapi Cuma Memperoleh Lapar dan Dahaga

[KH Maimoen Zubair] Tidak sedikit yang Puasa, tapi Cuma Memperoleh Lapar dan Dahaga

Transkip Kajian agama KH Mamimoen Zubair

Puasa Romadlon ialah suatu kewajiban yang sekaligus berfungsi selaku guru pendidik supaya tercipta suatu naluri ketaqwaan dalam hati kita. Al-Quran yang merupakan cahaya petunjuk sempurna juga diturunkan pada bulan Romadlon. Sedangkan petunjuk tak bakal bisa jadi diberikan kecuali terhadap orang yang bertaqwa.
Hal ini mengandung pelajaran bahwa menghidupkan bulan puasa dengan membaca, mempelajari dan memahami Al-Quran bakal melahirkan cahaya berupa hidayah dalam hati.

Atas dasar apa pemahaman itu?.
Mari kita bersama-sama mendayung perahu supaya sanggup berjalan mengarungi laut keilmuan.
Hidayah ialah cahaya. Seseorang yang berada dalam kegelapan tak bisa jadi menyaksikan tanpa ada cahaya. Dunia ini sebenarnya gelap gulita, dan sebagai jelas benderang bagaikan kita lihat tak lain sebab adanya cahaya ALLOH.

ALLOH berfirman dalam surat Al-Nur Ayat 35:
الله نور السموات والأرض
Dan bagian cahaya itu ialah Kalamullah Al-Qur’an. Sebagaimana​ firman-Nya dalam surat Al-Nisa’ Ayat 174:
وأنزلنا إليكم نورا مبينا
Cahaya tak bisa jadi didapatkan kecuali oleh orang yang mempunyai hati suci dan bertaqwa. Taqwa ialah hasil dari adanya puasa yang benar dan merupakan alat atau kendaraan yang sanggup mengantarkan insan ke cahaya hidayah dan petunjuk dengan Al-Qur’an.

Terus bagaimana dengan puasa harfiy?. Apakah pun menghasilkan ketaqwaan?.
Sebelum membicarakan lebih detail, mari kita ketahui terlebih dahulu apa itu puasa harfiy, sebab tidak sedikit orang yang berpuasa, tetapi tak memperoleh balasan dari puasa yang dilaksanakan kecuali cuma lapar dan dahaga.
Puasa harfiy ialah puasa yang mencegah orang yang berpuasa dari syahwat perut dan farji cuma pada siang hari, sedangkan pada waktu malam ia seperti budak perut dan farji.

Loading...
loading...

Puasa yang menghasilkan ketaqwaan ialah puasa yang disertai dengan niat dari hati guna mensifati diri dengan sifat ALLOH (yang pantas guna insan) dengan kadar kesanggupan.
Secara hakikatnya, puasa merupakan bagian sifat ketuhanan. Dan tak bersifat dengan sifat ini secara sempurna kecuali ALLOH, Dzat yang memberi makan, tetapi tak makan dan tak diberi makan.
ALLOH Berfirman dalam surat Al-Ikhlas ayat ketiga:
الله الصمد
Dan puasa ialah bagian dari makna “Ash-Shamad”.
Ini ialah makna dalam hadits Qudsiy yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhori berikut:
كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به
“Tiap amal anak Adam itu untuknya, kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-KU dan saya yang bakal memberikan balasannya”.

Dalam hadits itu, Puasa disandarkan terhadap ALLOH. Dengan artian tak ada yang bersifat puasa dengan sempurna kecuali ALLOH saja. Hal itu sebab ALLOH tak memerlukan keperluan maupun keinginan (Syahwat) semenjak azali dan selamanya. Sedangkan makhluk masih memerlukan makan, berharap tercapainya​ keperluan dan keinginan.

Inilah niat yang semestinya diperhatikan, supaya puasa kita pun berfungsi selaku pemecah syahwat dan pemutus keinginan-keinginan duniawi dari puasa yang dilaksanakan. Bila hal ini tak dilaksanakan dan tak ada usaha dari kita, maka syahwat dan keinginan itu bakal menjauhkan dan memutuskan diri kita dari ALLOH. Wal-‘iyadzu Billah.

ALLOH berfirman dalam surat Al-Furqon Ayat 43-44:
أرأيت من اتخذ إلهه هواه أفأنت تكون عليه وكيلا، أم تحسب أن أكثرهم يسمعون أو يعقلون، إن هم إلا كالأنعام بل هم أضل سبيلا
Penyembah hawa nafsu itulah penyembah dan pengikut syahwatnya, dia diibaratkan oleh Al-Qur’an bahwa binatang ternak lebih mulia darinya.

Sumber : muslimoderat.net

[KH Maimoen Zubair] Tidak sedikit yang Puasa, tapi Cuma Memperoleh Lapar dan Dahaga

Loading...

Link

loading...

You might like

About the Author: Hakim Abdul

KOLOM KOMENTAR ANDA :