KH Asad Syamsul Arifin, Santri di Balik Berdirinya NU

Ya Jabbar Ya Qahhar, Siapa Punya nyali Sama NU Akan Hancur…. Argumentasi yang melatarbelakangi lahirnya NU ….

KH Asad Syamsul Arifin, Santri di Balik Berdirinya NU

 

KH Asad Syamsul Arifin ialah pelaku sejarah berdirinya NU, beliaulah yang jadi media penghubung dari KH. Ahmad Kholil Bangkalan yang memberi isyarat supaya KH. Muhammad Hasyim Asyari mendirikan Jamiyah Ulama yang lalu bernama Nahdlatul Ulama. Pidato ini awalnya berbahasa Madura dan berikut ialah translit selengkapnya:

Assalamualaikum Wr. Wb. yang akan saya sampaikan pada Anda tidak bersifat nasehat atau pengarahan, tapi saya mau bercerita ke Anda seluruh. ANDA suka mendengarkan cerita? (Hadirin menjawab: Ya).

Jikalau suka saya mau bercerita. Begini saudara-saudara. Tentunya yang datang ini kebanyakan masyarakat NU, ya? Ya? (Hadirin menjawab: Ya).

Jikalau ada selain masyarakat NU tidak apa-apa ikut mendengarkan. Cuma yang saya sampaikan ini soal NU, Nahdlatul Ulama. Sebab saya ini orang NU, tidak boleh berubah-ubah, telah NU. Jadi saya mau bercerita ke anda mengapa ada NU?

Tentunya muballigh-muballigh yang lain menceritakan isinya kitab. Jikalau saya tidak. Sekarang saya ingin bercerita soal kenapa ada NU di Indonesia, apa sebabnya? Tolong didengarkan ya, khususnya para pengurus, Pengurus Cabang, MWC, Ranting, kenapa ada NU di Indonesia.

Begini, ummat Islam di Indonesia ini mulai kira-kira 700 tahun dari sekarang, kira-kira, para auliya’, pelopor-pelopor Rasulullah Saw. ini yang masuk ke Indonesia membawa syariat Islam menurut aliran bagian 4 madzhab, yang 4. Jadi, ulama, para auliya’, para pelopor Rasulullah Saw.
masuk ke Indonesia ke-1 kali yang dibawa ialah Islam. Menurut orang sekarang Islam Ahlussunah wal jema’ah, syariat Islam dari Rasulullah Saw. yang beraliran bagian 4 madzhab khususnya madzhab Syafi’i. Ini yang terbesar yang ada di Indonesia.

Madzhab-madzhab yang lain juga ada. Ini termasuk Islam Ahlussunah wal jema’ah. Termasuk yang dibawa Walisongo, yang dibawa Sunan Ampel, termasuk Raden Asmoro ayahanda Sunan Ampel, termasuk Sunan Kalijogo, termasuk Sunan Gunung Jati. Seluruh ini ialah ulama-ulama pelopor yang masuk ke Indonesia, yang membawa syariat Islam Ahlussunah wal jema’ah.

Kira-kira tahun 1920, waktu saya ada di Bangkalan (Madura), di pondok kiai Kholil. Kira-kira tahun 1920, kiai Muntaha Jengkebuan menantu kiai Kholil, mengundang tamu para ulama dari semua Indonesia. Secara bersamaan tidak dengan berjanji Hadir bersama-sama, sejumlah kisaran 66 ulama dari semua Indonesia.

Masing-masing ulama memberitahukan: Bagaimana kiai Muntaha, tolong sampaikan ke kiai Kholil, saya tidak punya nyali menyampaikannya. ini seluruh telah berniat untuk sowan ke Hadhratus Syaikh. Ini tidak ada yang punya nyali jika bukan Anda yang menyampaikannya.

kiai Muntaha berkata: Apa keperluannya?

Begini, sekarang ini mulai ada kelompok-kelompok yang amat tidak suka dengan ulama Salaf, tidak suka dengan kitab-kitab ulama Salaf. Yang diikuti cuma al-Quran dan Hadits saja. Yang lain tidak Penting diikuti. Bagaimana pandangan pelopor-pelopor Walisongo sebab ini yang telah berjalan di Indonesia. Karena rupanya kubu ini melalui kekuasaan pemerintah Jajahan, Hindia Belanda. Tolong disampaikan pada kiai Kholil.

Sebelum para tamu sampai ke kediaman kiai Kholil dan masih Ada di Jengkuban, kiai Kholil menyuruh kiai Nasib: Nasib, ke sini! Bilang ke Muntaha, di al-Quran telah ada, telah cukup:

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (QS. at-Taubat ayat 32)

Jadi jika telah dikehendaki oleh Allah Ta’ala, maka kehendakNya yang akan terjadi, tidak akan gagal. Bilang ya ke Muntaha.

Jadi para tamu belum sowan telah dijawab oleh kiai (Kholil). Ini karomah saudara, belum Hadir telah dijawab keperluannya. Jadi para ulama tidak menyampaikan apa-apa, Cuma bersalaman. Saya puas sekarang kata kiai Muntaha. Jadi saya belum sowan, telah dijawab hajat saya ini.

Tahun 1921-1922 ada musyawarah di Kawatan (Surabaya) di rumah kiai Mas Alwi. Ulama-ulama berkumpul sebanyak 46, bukan 66. Namun cuma semua Jawa, bermusyawarah termasuk Abah saya (KH. Syamsul Arifin), termasuk kiai Sidogiri, termasuk kiai Hasan almarhum, Genggong, membicarakan problem ini.

Seperti apa, seperti apa? Dari Barat kiai Asnawi Qudus, Ulama-ulama Jombang seluruh, kiai Thohir. para kiai berkata: Tidak ada jadinya, tidak ada kesimpulan. hingga tahun 1923, kata kiai 1: Mendirikan Jamiyah (organisasi), kata yang lain: Syarikat Islam ini saja diperkuat. Kata yang lain: Organisasi yang telah ada saja.

Belum ada NU. (Sementara) yang lain telah merajalela. Tabarruk-tabarruk telah tidak boleh. Orang minta berkah ke Ampel telah tidak boleh. Minta syafaat ke nenek moyang telah tidak boleh. Ini telah tidak dikehendaki. Telah ditolak seluruh oleh kelompok-kelompok tadi. Seperti apa bawaan ini.

Lalu ada 1 ulama yang matur (menghadap) sama kiai: kiai, saya menemukan 1 sejarah tulisan Sunan Ampel. Beliau mecatat seperti ini (kiai As’ad berkata: Jikalau tidak salah ini kertas tebal.

Saya masih kanak-kanak. Belum dewasa cuma mendengarkan saja): Waktu saya (Sunan Ampel Raden Rahmatullah) mengaji ke paman saya di Madinah, saya pernah pernah bermimpi berjumpa Rasulullah, sambil berkata ke saya (Raden Rahmat): Islam Ahlussunah wal jema’ah ini bawa hijrah ke Indonesia. Sebab di tempat kelahirannya ini telah tidak sanggup melakukan Syariat Islam Ahlussunah wal jema’ah. Bawa ke Indonesia.

Jadi di Arab telah tidak sanggup melakukan syariat Islam Ahlussunah wal jema’ah. Pada zaman Maulana Ahmad, belum ada istilah Wahabi, belum ada istilah apa-apa. Ulama-ulama Indonesia ditugasi melaksanakan wasiat ini.

Kesimpulannya mari Istikharah. Jadi ulama berempat ini melakukannya. Ada yang ke Sunan Ampel. Ada yang ke Sunan Giri. Dan ke sunan-sunan yang lain. Paling tidak 40 hari. Ada 4 orang yang ditugasi ke Madinah.

Akhirnya, tahun 1923 seluruh berkumpul, sama-sama memberitahukan. Hasil laporan ini tidak tahu siapa yang memegang. Apa kiai Wahab, apa kiai Bisri. Insya Allah ada laporan lengkapnya. Dulu saya pernah minta sama Gus Abdurrahman dan Gus Yusuf supaya dicari.

Sesudah tidak menemukan kesimpulan, tahun 1924, kiai (Kholil) memanggil saya. Ya saya ini. Saya tidak bercerita orang lain. Saya sendiri. Saya dipanggil: As’ad, ke sini kau!

Asalnya saya ini mengaji di pagi hari, dimarahi oleh kyai, sebab saya tidak dapat mengucapkan huruf Ra’. Saya ini pelat (cadal). Arrahman Arrahim.

kiai marah: Bagaimana kau membaca al-Quran kok seperti ini? Disengaja apa tidak?!

Saya tidak sengaja kiai. Saya ini pelat.

kiai lalu keluar (kiai Kholil melaksanakan sesuatu). Lalu esok harinya pelat saya ini hilang.
Ini bagian kekeramatan kiai yang diberikan ke saya.

Ke-2, saya dipanggil lagi: Mana yang cedal itu? Telah sembuh cedalnya?

Telah kiai.

Ke sini. Besok kau berangkat ke Hasyim Asyari Jombang. Tahu rumahnya?

Tahu.

Kok tahu? Pernah mondok di sana?

Tidak. Pernah sowan.

Tongkat ini antarkan, berikan pada Hasyim. Ini tongkat kasihkan.

Ya, kyai.

Kau punya uang?

Tidak punya, kyai.

Ini.

Saya diberikan uang Ringgit, uang perak yang bulat. Saya letakkan di kantong. Tidak saya pakai. hingga sekarang masih ada. Tidak beranak, tapi berbuah (berkah). Beranaknya tidak ada. Jikalau buahnya beberapa. Saya simpan. Ini berkah. Ini buahnya.

sesudah keesokan harinya saya mau berangkat, saya dipanggil lagi: Ke sini kau! Ada ongkosnya?
Ada kyai.

Tidak makan kau? Tidak merokok kau? Kau kan suka merokok?

Saya dikasih lagi 1 Ringgit bulat. Saya simpan lagi. Saya telah punya 5 Rupiah. Uang ini tidak saya apa-apakan. Masih ada sampai sekarang. kiai keluar: Ini (tongkat) kasihkan ya, (kiai Kholil membaca QS. Thaha ayat 17-21):

Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: Ini ialah tongkatku, saya berpegangan padanya, dan saya pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya. Allah berfirman: Lemparkanlah ia, hai Musa! Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka seketika ia jadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya ke keadaannya awalnya.

Sebab saya ini namanya masih muda. Masih gagah. Sekarang saja telah keriput. Gagah pakai tongkat dilihat terus sama orang-orang. Kata orang Arab Ampel: Orang ini gila. Muda pegang tongkat.

Ada yang lain bilang: Ini wali.

Wah macam-macam perkataan orang. Ada yang bilang gila, ada yang bilang wali. Saya tidak mau tahu, saya cuma disuruh kiai. Wali atau tidak, gila atau tidak terserah kau.

Saya terus berjalan. Saya terus diolok-olok, gila. Sebab masih muda pakai tongkat. Jadi perkataan orang tidak dapat diikuti. Rusak seluruh, yang menghina berlebihan parah. Yang memuji juga keterlaluan.
Wali itu, kok tahu? Jadi ini ujian. Saya diuji oleh kiai. Saya terus jalan.

hingga di Tebuireng, (kiai Hasyim menanyakan): Siapa ini?

Saya, kiai.

Anak mana?

Dari Madura, kiai.

Siapa namanya?

As’ad.

Anaknya siapa?

Anaknya Maimunah dan Syamsul Arifin.

Anaknya Maimunah kau?

Ya, kiai

Keponakanku kau, Nak. Ada apa?

Begini kiai, saya disuruh kiai (Kholil) untuk menghantar tongkat.

Tongkat apa?

Ini, kiai.

Sebentar, sebentar

Ini orang yang sadar. kiai ini pintar. Sadar, hadziq (smart). Bagaimana ceritanya?
Tongkat ini tidak langsung diambil. Namun ditanya dulu mengapa saya diberi tongkat. Saya menyampaikan ayat:

Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: Ini ialah tongkatku, saya berpegangan padanya, dan saya pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya. Allah berfirman: Lemparkanlah ia, hai Musa! Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka seketika ia jadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya ke keadaannya awalnya.

“Alhamdulillah, Nak. Saya ingin mendirikan Jamiyah Ulama. Saya teruskan jika begini. Tongkat ini tongkat Nabi Musa yang diberikan kiai Kholil ke saya.

Ya Jabbar ya Qahhar, Siapa yang Berani Sama NU akan Hancur
Pendiri NU KH Muhammad Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jombang – Jawa Timur.

Inilah planning mendirikan Jamiyah Ulama. Belum ada Nahdlatul Ulama. Apa katanya? Saya belum pernah menguping berita berdirinya Jamiyah Ulama. Saya tidak mengerti.

sesudah itu saya mau pulang. Mau pulang kau?

Ya, kiai.

Cukup uang sakunya?

Cukup, kiai.

Saya cukup didoakan saja, kiai.

Ya, mari. Haturkan sama kiai, bahwa planning saya untuk mendirikan Jamiyah Ulama akan diteruskan.

Inilah asalnya Jamiyatul Ulama.

Tahun 1924 akhir, saya dipanggil lagi oleh kiai Kholil: As’ad, ke sini! Kau tidak lupa rumahnya Hasyim?

Tidak, kiai.

Hasyim Asy’ari?

Ya, kiai.

Di mana rumahnya.

Tebuireng.

Dari mana asalnya?

Dari Keras (Jombang). Putranya kiai Asyari Keras.

Ya, benar. Di mana Keras?

Di baratnya Seblak.

Ya, kok tahu kau?

Ya, kiai.

Ini tasbih antarkan.

Ya, kiai.

Lalu diberi uang 1 Ringgit dan rokok. Saya kumpulkan. Semuanya jadi 3 Ringgit dengan yang dulu. Tidak ada yang saya pakai. Saya ingin tahu buahnya.

Terus, pagi hari kiai keluar dari Langgar: Ke sini, makan dulu!

Tidak, kiai. Telah minum wedang dan jajan,

Dari mana kau bisa?

Saya beli di jalan, kiai

Jangan berbelanja di jalan! Jangan makan di jalan! Santri kok makan di jalan?

Ya, kiai.

Berkalung Tasbih: Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar

Saya makan di jalan dimarahami. Santri kok menjual harga dirinya? Akhirnya saya ditanya: Cukup itu?

Cukup, kiai.

Tidak!

Diberi lagi oleh kiai. Dikasih lagi 1 Ringgit. Saya simpan lagi. Lalu tasbih itu dipegang ujungnya: Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar. Jadi Ya Jabbar 1 kali putaran tasbih. Ya Qahhar 1 kali putaran tasbih. Saya disuruh dzikir.

Ini.

Disuruh ambil. Saya tengadahkan leher saya. Kok leher?

Ya, kiai. Tolong diletakkan di leher saya supaya tidak terjatuh.

Ya, jika begitu.

Jadi saya berkalung tasbih. Masih muda berkalung tasbih. Saya berjalan lagi, berjumpa kembali dengan yang membahas saya dulu: Ini orang yang megang tongkat itu? Wah.. Hadza majnun. Ada yang bilang “wali”, ya seperti tadi. Jadi saya tidak menjawab. Saya tidak bicara jika belum berjumpa kiai. Saya berpuasa. Saya tidak bicara, tidak makan, tidak merokok, sebab amanatnya kiai. Saya tidak punya nyali berbuat apa-apa. Sebagaimana ke Rasulullah, ini ke guru. Saya tidak punya nyali. Saya berpuasa. Saya tidak makan, tidak minum tidak merokok. Tidak terpakai uang saya.

Ada yang narik: Karcis! karcis!

Saya tidak ditanya. Saya pikir ini sebab tasbih dan tongkat. Saya pura-pura tidur sebab tidak punya karcis. Jadi selama perjalanan 2 kali saya tidak pernah berbelanja karcis. Mungkin sebab tidak menyaksikan saya. Ini telah terang keramatnya kiai. Jadi Auliya’ itu punya karomah. Saya makin percaya dengan karomah. Saya makin percaya.

Saya lalu sampai di Tebuireng, kiai (Hasyim) tanya: Apa itu?

Saya mengantarkan tasbih.

Masya Allah, Masya Allah. Saya diperhatikan betul oleh guru saya. Mana tasbihnya?

Ini, kiai. (dengan menjulurkan leher).

Lho?

Ini, kiai. Tasbih ini dikalungkan oleh kiai ke leher saya, sampai sekarang saya tidak memegangnya. Saya takut su’ul adab (tidak sopan) ke guru. Karena tasbih ini untuk Anda. Saya tidak akan berbuat apa-apa kepada barang milik Anda.

Lalu diambil oleh kiai: Apa kata kiai?

Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.

Siapa yang punya nyali pada NU akan hancur. Siapa yang punya nyali pada ulama akan hancur. Ini dawuhnya.

Pada tahun 1925, kiai Kholil wafat tanggal 29 Ramadhan. Beberapa orang berserakan. Akhirnya pada tahun 1926 bulan Rajab diresmikan Jamiyatul Ulama. Ini telah dibuat, organisasi telah disusun. Termasuk yang menyusun ialah kiai Dahlan dari Nganjuk, yang membikin anggaran dasar.

Lalu para ulama sidang lagi untuk mengutus ke Gubernur Jend.. Ya, seperti itulah yang bisa saya ceritakan.

Sumber : Rahasia Dibalik Lahirnya NU (Nahdlatul Ulama)

Selaku masyarakat Indonesia khususnya masyarakat NU haruslah mengetahui sejarah Bangsa ini. Bagaimana NU dalam peranannya yang begitu besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, mempertahankan keutuhan NKRI dan bagaimana back-ground lahirnya ormas terbesar di dunia Nahdlatul Ulama (NU) ini lahir. Silakan disimak dan dihayati mudah-mudahan jadi pijakan bagi kita untuk lebih menghargai jasa-jasa para Pahlawan.

Argumentasi yang melatarbelakangi lahirnya NU (Nahdlatul Ulama)

Ada 3 argumentasi yang melatarbelakangi lahirnya Nahdlatul Ulama 31 Januari 1926:

1. Motif Agama.

Bahwa Nahdlatul Ulama lahir atas antusias menegakkan dan mempertahankan Agama Allah di Nusantara, meneruskan perjuangan Wali Songo. Terlebih Belanda-Portugal tidak cuma menjajah Nusantara, tapi juga menyebarkan agama Kristen-Katolik dengan amat gencarnya. Mereka membawa para misionaris-misionaris Kristiani ke bermacam wilayah.

2. Motif Nasionalisme.

NU lahir sebab niatan kuat untuk menyatukan para ulama dan tokoh-tokoh agama dalam melawan penjajahan. Antusias nasionalisme itu pun kelihatan juga dari nama Nahdlatul Ulama itu sendiri ialah Kebangkitan Para Ulama. NU pimpinan Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari amat nasionalis. Sebelum RI merdeka, para pemuda di bermacam daerah mendirikan organisasi bersifat kedaerahan, seperti Jong Cilebes, Pemuda Betawi, Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, dan sebagainya. Namun, kiai-kiai NU malah mendirikan organisasi pemuda bersifat nasionalis.

Pada 1924, para pemuda pesantren mendirikan Syubbanul Wathon (Pemuda Tanah Air). Organisasi pemuda itu lalu jadi Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) yang bagian tokohnya ialah pemuda gagah, Muhammad Yusuf (KH. M. Yusuf Hasyim -Pak Ud).

Kecuali itu dari rahim NU lahir lasykar-lasykar perjuangan fisik, di kalangan pemuda muncul lasykar-lasykar Hizbullah (Serdadu Allah) dengan panglimanya KH. Zainul Arifin seorang pemuda kelahiran Barus Sumatra Utara 1909, dan di kalangan orang tua Sabilillah (Jalan ke Allah) yang di komandoi KH. Masykur.
Sejarah menulis, meski bangsa Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, 53 hari lalu NICA (Netherlands Indies Civil Administration) nyaris mencaplok kedaulatan RI. Pada 25 Oktober 1945, 6.000 pasukan Inggris Sampai di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. pasukan itu dipimpin Brigadir Jend. Mallaby, Panglima Brigade ke-49 (India). Penjajah Belanda yang telah kabur pun membonceng pasukan sekutu itu.

Praktis, Surabaya genting. Untung, sebelum NICA Hadir, Soekarno sempat menyampaikan utusan menghadap Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asyari di Pesantren Tebuireng, Jombang. Melalui utusannya, Soekarno menanyakan ke Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asyari: Apakah hukumnya membela tanah air? Bukan membela Allah, membela Islam, atau membela al-Qur’an. Sekali lagi, membela tanah air?

Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asyari yang sebelumnya telah punya fatwa jihad kemerdekaan bertindak cepat. Dia memerintahkan KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri, dan para Kiyai lain untuk mengumpulkan para Kiyai se-Jawa dan Madura. Para Kiyai dari Jawa dan Madura itu kemudian rapat di Kantor PB Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO), Jalan Bubutan VI/2, Surabaya, dipimpin Kyai Wahab Hasbullah pada 22 Oktober 1945.

Loading...
loading...

Pada 23 Oktober 1945, Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asyari atas nama Pengurus Besar NU mendeklarasikan himbauan jihad fi sabilillah, yang lalu dikenal dengan Resolusi Jihad.
Ada 3 poin penting dalam Resolusi Jihad itu: a) Ke-1, tiap-tiap muslim tua, muda, dan miskin sekalipun- wajib memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia. b) Ke-2, pejuang yang mati dalam perang kemerdekaan patut disebut syuhada. c) Ketiga, masyarakat Indonesia yang memihak penjajah dinilai selaku pemecah belah persatuan nasional, maka mesti diganjar mati.

Jadi, ummat Islam wajib hukumnya membela tanah air. Bahkan, haram hukumnya mundur waktu kita berhadapan dengan penjajah dalam radius 94 km (jarak ini disesuaikan dengan dibolehkannya Qashar Shalat). Di luar radius itu dinilai fardhu kifayah (kewajiban kolektif, bukan fardhu ain, kewajiban individu).

Fatwa jihad yang ditulis dengan huruf pegon itu lalu digelorakan Bung Tomo lewat radio. Keruan saja, masyarakat Surabaya dan masarakat Jawa Timur yang keberagamaannya kuat dan kebanyakan NU merasa terbakar semangatnya. Ribuan Kiyai dan santri dari bermacam daerah -seperti ditulis M.C. Ricklefs (1991), mengalir ke Surabaya.

Meletuslah kejadian 10 November 1945 yang dikenang selaku hari pahlawan. Para Kiyai dan pendekar tua membentuk barisan Tentara non regular Sabilillah yang dikomandani oleh KH. Maskur. Para santri dan pemuda berjuang dalam barisan Tentara Hizbullah yang dipimpin oleh H. Zainul Arifin. Sementara para Kiyai sepuh Ada di barisan Mujahidin yang dipimpin oleh KH. Wahab Hasbullah. Perang tidak terelakkan sampai akhirnya Brigadir Jend. Mallaby meninggal.

3. Motif Mempertahankan Faham Ahlussunnah wal jema’ah.

NU lahir untuk membentengi ummat Islam khususnya di Indonesia supaya tetap teguh pada ajaran Islam Ahlussunnah wal jema’ah (Para Pengikut Sunnah Nabi, Sahabat dan Ulama Salaf Pengikut Nabi-Sahabat), sehingga tidak tergiur dengan ajaran-ajaran baru (tidak dikenal zaman Rasul-Sahabat-Salafus Shaleh/ajaran ahli bid’ah). Pembawa ajaran-ajaran bid’ah yang sesat (bid’ah madzmumah) menurut ulama Ahlussunnah wal jema’ah ialah selaku berikut:

a) Kaum Khawarij dengan imam/pemimpinnya Abdullah bin Abdul Wahab ar-Rasabi yang muncul di masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib Ra. yang berpendapat bahwa orang yang berdosa besar ialah kafir, sehingga ciri khas mereka mudah menuding orang-orang Islam yang tidak sepaham dengan ajarannya selaku kafir. Bahkan sahabat Ali bin Abi Thalib Ra. pun dicap kafir sebab dinilai berdosa besar mau menerima tawaran tahkim/perdamaian yang diusulkan oleh pemberontak Muawiyyah Ra.

b) Kaum Syi’ah, lebih-lebih sesudah munculnya sekte syi’ah Rafidhah dan Ghulat. Publik figur pendiri Syi’ah ialah Abdullah bin Saba seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam dan menyebarkan ajaran Wishoya, bahwa kepemimpinan sesudah Nabi ialah lewat wasiat Nabi Saw. Dan yang memperoleh wasiat ialah Ali bin Abi Thalib Ra. Dan Abu Bakar, Umar dan Utsman termasuk perampok jabatan.

c) Aliran Mu’tazilah yang didirikan oleh seorang tabi’in yang bernama Wasil bin Atho’, ciri ajaran ini ialah menafsirkan al-Qur’an dan kebenaran agama size-nya ialah akal manusia, bahkan mereka berpendapat untuk sebuah keadilan Allah mesti menciptakan al-manzilah baina al-manzilataini, ialah 1 tempat di antara surga dan neraka selaku tempat bagi orang-orang gila.

d) Faham Qodariyyah yang pendirinya ialah Ma’bad al-Juhaini dan Ghailan ad-Dimasyqi keduanya murid Wasil bin Atho’ dan keduanya dijatuhi hukuman mati oleh Gubernur Irak dan Damaskus sebab menyebarkan ajaran sesat (bid’ah), ciri ajarannya ialah manusia berkuasa full atas dunia ini, sebab tugas Allah sudah selesai dengan diciptakannya dunia, dan bertugas lagi nanti waktu kiamat Hadir.

e) Aliran Mujassimah atau kaum Hasyawiyyah ciri aliran ini menjasmanikan Allah (menyerupakan Allah dengan makhluk) yang diawali dengan menafsirkan al-Qur’an secara lafdziy dan tidak menerima ta’wil, sehingga sehingga mengartikan yadullah ialah Tangan Allah. (Lihat Ibnu Hajar al-‘Asqolani dalam Fath al-Baari Juz XX hal. 494). Bahkan mereka sanggup menjelaskan, bahwa pada suatu waktu, ke-2 mata Allah kesedihan, lalu para malaikat Hadir menemuiNya dan Dia (Allah) menangisi (kesedihan) berakibat banjir Nabi Nuh As. sehingga mataNya jadi merah, dan Arsy meratap hiba seperti suara pelana baru dan bahwa Dia melampaui Arsy dalam kondisi melebihi 4 jari di segenap sudut. (Lihat asy-Syahrastani dalam al-Milal wa an-Nihal, hal. 141).

f) Ajaran-ajaran Para Pembaharu Agama Islam (Mujaddid) yang diawali dari Ibnu Taimiyyah (661-728 H / 1263-1328 M atau abad ke 7 8 H / 13 14 M ialah 700 tahun sesudah Nabi Saw. wafat atau 500 tahun dari masa Imam asy-Syafi’i). Beliau mengklaim penganut madzhab Hanbali, tapi anehnya beliau malah jadi orang ke-1 yang menentang sistem madzhab. Pemikirannya lalu dilanjutkan muridnya Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah. Aliran ini lalu dikenal dengan nama aliran salafi-salafiyah yang mengklaim memurnikan ajaran kembali ke al-Qur’an dan Hadits, tetapi di sisi lain mereka malah mengingkari beberapa hadits-hadits Shahih (inkarus sunnah). Mereka ingin memberantas bid’ah tetapi pemahaman soal bid’ahnya melenceng dari makna bid’ah yang dikehendaki Rasulullah Saw., yang dipahami oleh para sahabat dan para ulama salaf Ahlussunnah wal Jama’ah.

Mereka juga membangkitkan kembali penafsiran al-Qur’an-Sunnah secara lafdziy. Golongan Salafi ini percaya bahwa al-Quran dan Sunnah cuma dapat diartikan secara tekstual (apa adanya teks) atau literal dan tidak ada arti majazi atau kiasan di dalamnya. Pada kenyataannya Ada ayat al-Quran yang mempunyai arti harfiah dan ada juga yang mempunyai arti majazi, yang mana kata-kata Allah Swt. mesti diartikan sesuai dengannya. Kalau kita tidak bisa membedakan di antara keduanya maka kita akan menemui beberapa kontradiksi yang timbul di dalam Al-Quran. Maka dari itu sangatlah penting untuk memahami problem tersebut.

Dengan adanya keyakinan bahwa semua kandungan Al-Quran dan Sunnah cuma mempunyai makna secara tekstual atau literal dan jauh dari makna majazi atau kiasan ini, maka akibatnya mereka memberi sifat secara fisik ke Allah Swt. (umpama Dia Swt. mempunyai tangan, kaki, mata dan lain-lain seperti makhlukNya). Mereka juga menjelaskan Ada kursi yang amat besar (Arsy) dimana Allah Swt. duduk (sehingga Dia memerlukan ruangan atau tempat untuk duduk) di atasnya. Ada beberapa problem lainnya yang diartikan secara tekstual. Hal ini sudah membikin beberapa fitnah di antara ummat Islam, dan inilah yang paling pokok dari mereka yang membikin tak sama dari madzhab yang lain. Salafisme ini cuma berjalan atas 3 komposisi yaitu; Syirik, Bidah dan Haram. (Penjelasan rincinya akan dibicarakan lalu).

Munculnya Muhammad bin Abdul Wahab di abad ke 12 H / 18 M, seorang pembaharu agama (mujaddid) yang lahir di Ayibah lembah Najed (1115-1201 H/1703-1787 M) yang mengklaim selaku penerus ajaran Salafi Ibnu Taimiyyah dan lalu mendirikan madzhab Wahabi-Wahabiyyah. Ia pun mengklaim selaku Ahlussunnah wal jema’ah sebab meneruskan pemikiran Imam Ahmad bin Hanbal yang diterjemahkan oleh Ibnu Taimiyyah, tapi sebagaimana pendahulunya, Muhammad bin Abdul Wahab dan pengikutnya pun layaknya kaum Khawarij yang mudah mengkafirkan para ulama yang tidak sejalan dengan dia, bahkan sesama madzhab Hanbali pun ia mengkafirkanya.

Di sini, kita akan menyampaikan beberapa pengkafiran Muhammad bin Abdul Wahhab kepada beberapa publik figur ulama Ahlussunnah yang tidak sejalan dengan pemikiran sektenya:

Dalam sebuah surat yang dilayangkan ke Syeikh Sulaiman bin Sahim seorang publik figur madzhab Hanbali pada zamannya Ia (Muhamad Abdul Wahhab) menuliskan: Saya Memperingatkan kepadamu bahwa engkau bersama-sama ayahmu sudah dengan terang melaksanakan perbuatan kekafiran, syirik dan kemunafikan! Engkau bersama-sama ayahmu siang dan malam sekuat tenagamu sudah berbuat permusuhan kepada agama ini! Engkau ialah seorang penentang yang sesat di atas keilmuan. Dengan sengaja melaksanakan kekafiran kepada Islam. Kitab Anda semua itu jadi bukti kekafiran Anda semua! (Lihat dalam ad-Durar as-Saniyah jilid 10 hal. 31).

Dalam sebuah surat yang dilayangkan untuk Ibnu Isa yang sudah melaksanakan argumentasi kepada pemikirannya Muhammad Abdul Wahhab menvonis sesat para ahli fikih (fuqoha) secara keseluruhan. Ia (Muhamad Abdul Wahhab) mengumumkan: (Firman Allah); Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka selaku Tuhan selain Allah. Rasul dan para imam setelahnya sudah mengartikannya selaku Fikih dan itu yang sudah dinyatakan oleh Allah selaku perbuatan syirik. Mempelajari hal tadi masuk kategori menuhankan hal-hal lain selain Allah. Saya tidak menyaksikan Ada perbedaan pandangan para ahli tafsir dalam problem ini. (Lihat dalam ad-Durar as-Saniyah jilid 2 hal. 59).

Berhubungan dengan Imam Fakhrur Razi pengarang kitab Tafsir al-Kabir, yang bermadzhab Syafii Asyary ia (Muhamad Abdul Wahhab) menjelaskan: Sesungguhnya Razi tersebut sudah mengarang sebuah kitab yang membenarkan para penyembah bintang. (Lihat dalam ad-Durar as-Saniyah jilid 10 hal. 355). Betapa kedangkalan ilmu Muhamad bin Abdul Wahhab kepada karya Imam Fakhrur Razi. Padahal dalam karya tersebut, Imam Fakhrur Razi menerangkan soal beberapa hal yang menerangkan fungsi gugusan bintang dalam kaitannya dengan fenomena yang Ada di bumi, termasuk berhubungan dengan bidang pertanian. Tetapi Muhammad bin Abdul Wahhab dengan keterbatasan ilmu kepada ilmu perbintangan sudah menvonisnya dengan julukan yang tidak patut, tanpa didasari ilmu yang cukup.

Dari bermacam pernyataan di atas maka jangan kita heran kalau Muhammad bin Abdul Wahhab pun mengkafirkan serta diikuti oleh para pengikutnya (Wahhabi)para ahli teologi (mutakallimin) Ahlusunnah secara keseluruhan (Lihat dalam ad-Durar as-Saniyah jilid 1 hal. 53), bahkan ia (Muhamad Abdul Wahhab) mengaku-ngaku bahwa kesesatan para ahli teologi tadi Adalah konsensus (ijma) para ulama dengan mencatut nama para ulama seperti adz-Dzahabi, Imam Daruquthni dan al-Baihaqi.

Publik figur Pembaharu Agama (mujaddid) lain penerus faham salafi Ibnu Taimiyyah ialah muncul pada abad ke 19 di Afghanistan yang bernama Jamaluddin al-Afghani (1838-1898). Ajarannya diteruskan oleh muridnya dari Mesir di abad ke 19 20 M yang bernama Muhammad Abduh (1949-1905). Pemikiran Muhammad Abduh menyebar ke bermacam penjuru dunia lewat tulisannya yang dimuat dalam majalah al-Manar. sesudah beliau wafat pada tahun 1905, majalah al-Manar diteruskan oleh muridnya yang bernama Muhammad Rasyid Ridla (1865-1935). Kumpulan tulisan Muhammad Abduh dan M. Rasyid Ridla ini lalu dibukukan jadi Tafsir al-Manar.

Dalam perkembangannya aliran Salafi-Wahabi pun terbelah dalam beberapa faksi (kubu) dengan karakteristiknya masing-masing, tergantung pada imam mana yang diikutinya. Publik figur ulama Wahabi yang jadi rujukan dan teladan waktu ini ialah Muhammad Nashiruddin al-Albani seorang guru besar Ilmu Hadits di Universitas Islam Madinah yang lahir pada tahun 1915 dan wafat 1 Oktober 1989. Ia dipuja-puja kaum Wahabi-Salafi bahkan dinilai lebih alim dari Imam Bukhori, sebab ia men-Takhrij/mengomentari beberapa haditsnya Imam Bukhori (194 256 H).

Awal Mula Salafi Wahabi masuk ke Indonesia

Ajaran Salafi Wahabi ini masuk ke Indonesia mulanya:

1) Dibawa oleh seorang publik figur pembaharu agama (mujaddid) asal Yogyakarta yang bernama Darwis yang aktif dan rutin ikut pemikiran Muhammad Abduh-M. Rasyid Ridla lewat majalah al-Manar dan ajaran Wahabi. Ia lalu dikenal dengan nama KH. Ahmad Dahlan yang pada 18 Nopember 1912 mendirikan organisasi keagamaan Muhammadiyyah. Walaupun kenyataannya dalam amaliyah sehari-hari selama hidupnya KH. Ahmad Dahlan lebih dekat ke madzhab Syafii. Tetapi sepeninggal beliau terjadi modernisasi total dari para penerusnya.

2) Syaikh Akhmad Soorkati (1872-1943) seorang publik figur pembaharu (mujaddid) asal Sudan yang kalah bersaing dalam Jami’at al-Khair di negaranya, lalu Hijrah ke Indonesia dan tahun 1914 di Betawi mendirikan organisasi al-Irsyad.

3) Di Bandung pun muncul Mujaddid yang bernama A. Hasan yang juga dikenal selaku Hasan Bandung atau Hasan Bangil yang tahun 1927 meneruskan organisasi PERSIS (Persatuan Islam) yang didirikan pada 1923 oleh KH. Zam Zam Palembang.

4) HOS. Cokroaminoto dengan PSII (Persatuan Syarikat Islam Indonesia).
Apa yang Menyebabkan Aliran “Islam Baru Bisa Menyebar dengan Cepat?
Muhammad bin Abdul Wahab pernah menguji coba ajaranya ke warga Bashrah, tetapi sebab mereka ialah penganut fanatik ajaran Ahlussunnah wal jema’ah, maka usahanya seperti menabrak batu karang. Lalu Muhammad bin Abdul Wahhab menetap di Diriyah dan Pangeran Muhammad ibn Saud (dari Diriyah Najed) setuju untuk saling dukung-mendukung dengan Wahhabi.

Famili/Klan Saud dan Tentara/lasykar Wahhabi berkembang jadi dominan di semenanjung Arabia, ke-1 menundukkan Najed, lalu memperluas kekuasaan mereka ke pantai timur dari Kuwait sampai Oman. Orang Saudi juga membawa tanah tinggi ‘Asir di bawah kedaulatan mereka dan Tentara Wahhabi mereka menggelar serbuan di Irak dan Suriah, dan menguasai kota suci Shi’ah, Karbala tahun 1801.
Pada tahun 1802, Tentara Saudi-lasykar Wahhabi merebut kota Hijaz (Jeddah, Makkah, Madinah dan sekitarnya) di bawah kekuasaan mereka. Hal ini menyebabkan kemarahan Daulah Utsmaniyah Turki, yang sudah menguasai kota suci semenjak tahun 1517, dan membikin Daulah Utsmaniyah bergerak. Tugas untuk menghancur-leburkan Wahhabi diberikan oleh Daulah Utsmaniyah Turki ke raja muda kuat Mesir, Muhammad Ali Pasha.

Muhammad Ali menyampaikan pasukannya ke Hijaz melalui laut dan merebutnya kembali. Anaknya, Ibrahim Pasha, lalu memimpin Tentara Utsmaniyah ke jantung Najed, merebut kota ke kota. Akhirnya, Ibrahim mencapai ibukota Saudi, Diriyah dan menyerangnya untuk beberapa bulan sampai kota itu menyerah pada musim dingin tahun 1818.

Ibrahim lalu membawa beberapa member klan Al Saud dan Ibn Abdil Wahhab ke Mesir dan Ibukota Utsmaniyah, Istanbul Turki, dan memerintahkan penghancuran Diriyah, yang reruntuhannya sekarang tidak pernah disentuh kembali. Pemimpin Saudi terakhir, Abdullah bin Saud dieksekusi di Ibukota Utsmaniyah, dan kepalanya dilempar ke air Bosphorus. Sejarah kerajaan Saudi Ke-1 berakhir, tapi, Wahhabi dan klan Al Saud hidup terus dan mendirikan kerajaan Saudi Ke-2 yang bertahan sampai tahun 1891.

Perselingkuhan agama – ambisi kekuasaan – kepentingan asing diawali dari wilayah Najed. Tatkala lasykar Wahhabi – klan Al Saud yang dipimpin Abdul Aziz Ibnu Sa’ud menyusun power kembali disertai sokongan persenjataan mesin dari sekutu lamanya, Inggris (antek Amerika). Maka awal tahun 1900-an mereka menyerbu kembali kota Hijaz yang waktu itu dipimpin Raja Syarif Husain. Tatkala itu Hijaz cuma dibantu oleh Daulah Utsmaniyyah Turki yang telah mulai lemah, dan akhirnya pada tahun 1924 waktu kekuasaanya telah mengecil Raja Syarif Husain mengasingkan diri ke kepulauan Cyprus dan kekuasaanya diberikan pada putranya yang bernama raja Syarif Ali.

Raja Syarif Ali membikin kota-kota pertahanan baru, tapi lasykar Wahhabi-klan Ibnu Sa’ud dengan persenjataan hebat sukses mengepung seluruh kota, sampai yang tersisa cuma pertahanan di pelabuhan Jeddah. Pada ahir 1925 waktu lasykar Wahhabi-klan Ibnu Sa’ud sukses menguasai pelabuhan Jeddah, maka Raja Syarif Ali menyerah pada pemberontak.

Dari tahun 1925 inilah Hijaz dengan 2 kota suci Makkah dan Madinah dikuasai oleh Famili Sa’ud dan Wahhabi. Dan ahirnya pas tanggal 23 September tahun 1932, Hijaz berubah nama jadi al-Mamlakah al-‘Arabiyyah as-Sa’udiyyah, Kerajaan Arab Sau’di, yang dinisbatkan ke nama leluhurnya ialah Al Sa’ud, dengan Ibukotanya Riyadh. Dan tahun 1943 muncullah ARAMCO (Arabian-American Company) yang mengeksplorasi minyak Arab Saudi. Dari sejarah itulah, mengapa sampai waktu ini Arab Saudi senantiasa tidak dapat bersuara selain seperti suara Amerika, sekalipun mesti tak sama dengan negara-negara Islam lainnya.

Jatuhnya Hijaz ke tangan pemberontak pada 1925 tidak cuma berakibat Pergantian pemeritahan, tapi juga merombak total praktek-praktek keagamaan di Hijaz dari yang awalnya Ahlussunnah wal jema’ah jadi faham Wahhabi. Seperti larangan bermadzhab, larangan ziarah ke makam-makam pahlwan Islam, larangan merokok, larangan berhaji dengan cara madzhab. Bahkan makam Rasulullah Saw., sahabat dan tempat-tempat bersejarah pun berencana akan digusur sebab dinilai selaku biang/tempatnya kemusyrikan.

Tatkala aliran Salafi-Wahhabi berkembang di Diriyyah maupun Najed itu belumlah membikin risau ummat Islam dunia. Tetapi waktu mereka menguasai pusat Islam ialah 2 kota suci di Hijaz, maka hal ini menimbulkan dampak yang luar biasa, termasuk dalam persebarannya ke semua dunia. Menyaksikan Pergantian ajaran yang terjadi di Hijaz, maka nyaris seluruh ummat Islam Ahlussunnah wal jema’ah di semua dunia memprotes planning pemerintahan baru di Hijaz yang ingin memberlakukan asas tunggal, ialah madzhab Wahhabi.

Protes luar biasa pun muncul di Indonesia, waktu bulan Januari 1926 ulama-ulama Ahlussunnah wal jema’ah di Indonesia berkumpul di Surabaya untuk membicarakan Pergantian ajaran di 2 kota suci. Dari perjumpaan tersebut lahirlah panita Komite Hijaz yang diberi mandat untuk mengahadap raja Ibnu Sa’ud demi menyampaikan masukan dari ulama-ulama Ahlussunah wal jema’ah di Indonesia. Akan tetapi sebab belum ada organisasi induk yang menaungi delegasi Komite Hijaz, maka pada tanggal 31 Januari 1926, ulama-ulama Ahlussunnah wal jema’ah Indonesia kembali berkumpul dan membentuk organisasi Induk yang diberi nama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Para Ulama) dengan Rois Akbar Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asyari .

Susunan delegasi Komite Hijaz NU untuk menghadap raja Ibnu Sa’ud ialah selaku berikut:
Penasehat : KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Masyhuri Lasem, KH. Kholil Lasem Ketua : KH. Hasan Gipo, Wakil Ketua : H. Shaleh Syamil Sekretaris : Muhammad Shadiq Pembantu : KH. Abdul Halim

Materi pokok yang hendak disampaikan langsung ke depan raja Ibnu Sa’ud ialah:
1) Meminta ke raja Ibnu Sa’ud untuk memberlakukan kebebasan bermadzhab 4: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. 2) Meminta tetap diramaikannya tempat bersejarah sebab tempat tersebut sudah diwakafkan untuk masjid. 3) Mohon supaya disebarluaskan ke semua dunia tiap-tiap tahun sebelum jatuhnya musim haji, baik ongkos haji, perjalanan keliling Makkah maupun soal Syekh. 4) Mohon hendaknya seluruh hukum yang berlaku di negeri Hijaz, ditulis selaku undang-undang supaya tidak terjadi pelanggaran cuma sebab belum ditulisnya undang-undang tersebut. 5) Jam’iyyah NU mohon respon tertulis yang menerangkan bahwa utusan telah menghadap raja Ibnu Sa’ud dan telah pula menyampaikan usul-usul NU tersebut.

Loading...

Daftar Pustaka:
Al-Milal wa al-Nihal, Syaikh Abdul Karim asy-Syahrastani Fath al-Bari fi Syarh Shohih al-Bukhari, Al-Imam Ibnu Hajar al-Asqolani KH. Zainul Arifin, panglima Hizbullah, Seorang Pahlawan, NU Online Pertumbuhan dan Kemajuan NU, Drs. Choirul Anam. Bisma 1 Surabaya Resolusi Jihad dalam Kejadian 10 November, M. Masud Adnan, Jawa Pos Telaah Kritis Atas Doktrin Faham Salafi / Wahabi, A. Sihabuddin Dll.

loading...

You might like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *