Ketupat Lebaran: Makna Puasa dan Idul Fitri Menurut Sufi Nusantara (2-habis)

Ketupat Lebaran: Makna Puasa dan Idul Fitri Menurut Sufi Nusantara (2-habis)

Kupat ialah ngaku lepat (mengklaim salah) dan laku papat (empat laku). Misalnya, sungkeman ialah bentuk pengakuan yang indah sebab biasanya dilaksanakan terhadap orang tua dan orang-orang lain yang lebih tua. Ini mengajarkan penghormatan, berbakti, rendah hati, dan memohon keikhlasan dan maaf dari orang tua, dengan harapan orang tua mendoakan anak-anaknya supaya diampuni; doa orang tua, seperti kita tahu, lebih ijabah dalam pengertian ini.Sedangkan laku papat ialah lebaran, luberan, leburan dan laburan. Lebar dalam bahasa jawa artinya ”selesai”, selaku tanda berakhirnya bulan ramadhan, dan terbukanya pintu ampunan. Luberan ialah melimpah, selaku simbol ajaran demi melimpahkan rezeki, baik yang wajib maupun sunnah: zakat, sedekah terhadap keponakan-keponakan, tetangga (dengan menyampaikan atau bertukar makanan, dan sebagainya) – yang secara umum ialah bentuk perhatian sosial.

Leburan ialah melebur, ialah meleburkan dosa dan kekhilafan diri kita dan orang lain dengan saling memaafkan, supaya ”energi buruk kolektif” berupa dendam, benci, dan amarah, diubah sebagai ”energi positif kolektif” – kasih sayang, saling berbuat baik, dan seterusnya. Dan laburan ialah ”melabur” dengan kapur, ialah memutihkan – artinya memutihkan hati dan menjaganya supaya tetap putih (suci). Nggak heran kalau dalam tradisi di jawa kita pada masa lebaran sering menguping ungkapan semacam ”parikan” ialah ”kupat santen, kawulo lepat nyuwun ngapunten.”

Jadi, apapun kualitas puasa kita, entah puasa awam atau spesial dan amat spesial, Allah tetap memberikan balasan dan peluang demi membenahi diri melalui puasa lantaran Rahmat dan Kasih-Sayang-Nya. Yang penting ialah, meski kita masih berpuasa ala kadarnya, paling tak tumbuh kesadaran melalui pendidikan ruhani via puasa dan idul fitri, yang terus diulang tiap-tiap tahun selama kita masih hidup dan sanggup, bahwa puasa dan kebajikan sosial ialah dua hal yang melambangkan tajalli dari tindakan-Nya dan sifat-sifat-Nya, mengingatkan kita bahwa pada hakikatnya apapun yang kita lakukan tak bakal pernah lepas dari-Nya, baik dalam ibadah individu maupun sosial, baik dalam kesalehan individu maupun kesalehan sosial.Kalau kesadaran ini terus dilatih, maka seseorang insya Alah, dengan izin-Nya, bakal senantiasa mengembalikan segala urusan kepada-Nya, senantiasa mengingat-Nya, yang artinya orang secara tidak langsung diajak berzikir dalam tiap-tiap tindakan tanpa dia sadari.

Pada akhirnya, kalau istiqomah melatih kesadaran ruhani melalui puasa wajib dan sunah, orang bakal memahami bahwa inna lillahi wa inna ilaihi rojiun bukan cuma soal kematian, tetapi juga dalam soal kehidupan; kanjeng Nabi bersabda, ”Matilah sebelum engkau mati.”

Maka, bagi orang yang  berpuasa (dengan benar) ia bakal menemui dua kegembiraan: “di ketika berbuka dan berjumpa dengan Tuhannya.” Insan “berbuka puasa” dalam arti bahwa dengan berlatih menghilangkan hijab-hijab kedirian supaya hati sebagai suci melalui tindakan menahan hawa-nafsu, sehingga sampai terbuka mata hati dan ruhaninya, menyaksikan kebesaran Allah dan sifat-sifat Allah dalam tiap-tiap ciptaan, dan pada gilirannya ia bakal berjumpa dengan Tuhannya, dalam kondisi sebagaimana pertama kali ia diciptakan, ialah dalam kondisi fitrah.  Wa Allahu a’lam

embahNyutz | dapat dipanggil via twitter @embahnyutz

Source by Ahmad Naufal

Jasa Website Alhadiy

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

KOLOM KOMENTAR ANDA :