Ketum Muhammadiyah Himbau Tidak Ada Aksi Massa atas Pembakaran Bendera HTI

Ketua Umum Muhammadiyah Himbau Tidak Ada Aksi Massa atas Pembakaran Bendera HTI

Ketum Muhammadiyah Himbau Tidak Ada Aksi Massa atas Pembakaran Bendera HTI

Perkara pembakaran bendera bertuliskan lafadz Laa Ilaaha Illa Allah di Garut menimbulkan reaksi penentangan cukup meluas di tanah air. Bermacam pandangan disertai sejumlah aksi bermunculan di daerah. Pro dan kontra pun terjadi di ruang publik. Muhammadiyah sungguh prihatin atas problem ini dan tidak ingin masalah ini terus meluas jadi problem nasional yang menyebabkan retak di tubuh bangsa.

Kami percaya ummat Islam maupun semua warga Indonesia tetap sanggup menjaga keutuhan nasional. Bermacam pengalaman pahit sebelum ini lebih dari cukup untuk jadi bahan pelajaran ruhaniah yang membikin ummat dan bangsa ini makin matang dan dewasa. Karenanya Perkara pembakaran bendera tersebut jangan menjadikan ummat Islam dan bangsa Indonesia tepecah-belah dan jatuh pada saling bertentangan 1 sama lain.

Karenanya, dihimbau supaya semua ummat Islam dan masyarakat bangsa bisa menahan diri dengan tetap bersikap tenang dan tidak keterlaluan dalam berhadapan dengan problem yang sensitif ini. Hindari aksi-aksi yang bisa menambah masalah jadi bertambah berat dan bisa memperluas suasana saling pertentangan di tubuh ummat dan bangsa. Beban bangsa Indonesia sungguh berat dengan bermacam problem seperti korupsi dan kerepotan ekonomi, sehingga jangan ditambah dengan problem baru.

Sikap legowo dan tidak apologi atas kekhilafan Penting ditunjukkan selaku wujud kedewasaan berbangsa. Seluruh pihak penting mengedepankan jiwa ikhlas untuk berusaha saling meminta maaf dan memberi maaaf 1 sama lain berlandaskan spirit ukhuwah sebagaimana diajarkan dalam Islam. Insya Allah tidak ada yang jatuh diri sebab saling memaafkan, sebaliknya hal itu menggambarkan kemuliaan diri.

Seluruh komponen bangsa pada dasarnya mencintai Indonesia dan tidak ada 1 pihak pun yang berhak mengakui diri paling nasionalis. Pada situasi seperti inilah terletak ujian mengamalkan ajaran Islam soal ukhuwah, rahmatan lil-‘alamim, tasamuh, dan tawasuth sesama ummat Islam maupun bangsa Indonesia sebagaimana sering disuarakan selaku karakter wasathiyah atau moderat yang didengungkan selama ini.

Loading...
loading...

Spesial ke masyarakat dan semua barisan di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah supaya tidak melaksanakan aksi-aksi massa dalam merespons problem pembakaran bendera tersebut. Sebaiknya ikutserta dalam menciptakan suasana tenang, damai, dan kebersamaan untuk terwujudnya kemaslahatan ummat dan bangsa. Sambil tetap giat dalam usaha-usaha membimmbing, memberdayakan, dan memajukan warga. Termasuk terus aktif dalam memobilisasi biaya dan kerelawanan untuk penangunggalangan bencana dan pasca bencana di Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah.

Ke pemerintah dan instansi terkait diinginkan bisa menyikapi dan berhadapan dengan problem ini dengan arif dan seksama, serta mencari jalan penyelesaian yang the best bagi keamanan bangsa. Sikap mengayomi secara adil dan bijakasana ke semua masyarakat dan komponen bangsa amat diutamakan. Jangan salah mengambil langkah sebab boleh jadi di balik problem ini Ada bermacam tautan problem yang tersimpan dan tidak sederhana untuk dipecahkan secara instan.

Bagi aparat kepolisian hendaknya bisa bertindak objektif dan profesional sesuai koridor hukum yang berlaku disertai kesanggupan membaca realitas secara smart dan bijak dalam antusias menegakkan hukum yang tidak sekadar verbal. Manakala penyelesaian hukum atas Perkara ini bersifat parsial, tidak menyentuh substansi problem Inti, dan tidak memperlihatkan objektivitas yang menyeluruh, maka bisa menimbulkan ketidakpuasan publik secara luas. Kami percaya pimpinan kepolisian di semua tingkatan bisa bertindak bijak, adil, objektif, dan seksama dalam menuntaskan Perkara ini secara hukum yang berdiri tegak di atas fondasi keadilan yang otentik.

Mudah-mudahan seluruh pihak bisa mengambil pejlaaran berharga dari Perkara yang sama-sama tidak diinginkan ini. Bahwa saban sikap dan tindakan yang keterlaluan (israf, ghuluw) dalam segala hal atas nama apapun sungguh tidaklah baik dan tidak bermaslahat, sebaliknya agama mengajarkan sebaik-baik urusan ialah yang bersifat tengahan dalam makna yang sebenar-benarnya. Mari kita menaikkan taqarrub ke Allah, sambil memohon pertolongan supaya bangsa Indonesia dilimpahi jiwa damai, berkah, dan karunia-Nya.

(suaraislam)

Loading...


Shared by Ahmad Zaini

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :