Kesengsaraan Anak-Anak di Aleppo Dalam Liputan Awak media

ALEPPO – Penderitaan anak-anak di Aleppo dalam liputan awak media Rusia. Bocah-bocah di Aleppo yang berada di wilayah yang dikuasai pemerintah mengalami pertempuran berat saban hari. Kubu oposisi yang didukung AS mencoba untuk merebut kembali wilayah mereka yang hilang. Sementara fokus sebagian besar media Barat pada kesengsaraan di daerah yang dikuasai pemberontak. Russia Today mengabarkan sisi lain dari pertempuran di Aleppo di bawah kendali pemerintah Suriah.

Reporter RT, Lizzie Phelan mengabarkan bagian dari dua RS di Aleppo. RS yang sekarang berusaha untuk mengatasi masuknya orang yang cedera dalam pertempuran itu. Mereka yang mencari dukungan terdiri dari angkatan bersenjata dan penduduk sipil. Begitu beberapa orang memerlukan perawatan akibat luka-luka berat. RT meliput kesengsaraan anak-Anak di Aleppo di tengah pertempuran.

 

 

Para pemberontak sekarang mempunyai kontrol dari 3 akademi angkatan bersenjata di selatan. Dan sudah mengintensifkan usaha mereka untuk membawa lebih beberapa wilayah di bawah kontrol mereka, Phelan menerangkan. Mereka mencoba untuk memperoleh akses ke jalan selatan Aleppo, dan mereka melakukan tembakan sasaran sipil secara random. Sasaran kian menambah kesengsaraan anak-Anak di Aleppo.

Beberapa bocah-bocah di antara mereka yang cedera. Phelan sudah berbicara dengan dua gadis yang cedera parah akibat terkena serpihan dari rudal. Serbuan ruda ditembakkan dari daerah yang dikuasai oleh pemberontak di selatan kota. Sasaran beberapa melukai bocah-bocah, dapat dibayangkan bagaimana kesengsaraan bocah-bocah di Aleppo.

Alaa, berumur 11 thn, cedera oleh serbuan pemberontak di rumahnya di South #Aleppo. Dia bilang dia takut pulang ke rumah. #Syria

“Lengan, kaki, lutut, dan muka saya cedera,” kata Alaa 11 tahun yang terbaring di tempat tidur RS. Beberapa ditutupi perban, sementara dia menambahkan bahwa merasakan lututnya yang paling sakit.

“Kami sedang bercakap-cakap dengan keluarga waktu itu, lalu seperti dalam mimpi. Lalu, saya mulai berteriak dan menguping orang tua saya berteriak, juga. Dan saya menyadari bahwa rudal sudah menghantam rumah kami. sebelum ini, kami sudah menguping suara ledakan rudal dari daerah dekat kami. Namun kali ini mendarat tepat di rumah kami”, tambahnya.

“Saya takut. Saya nggak ingin kembali ke rumah,” katanya kpd reporter RT.

Alaa sekarang menjelaskan dia ingin jadi dokter untuk dapat membantu mereka yang menderita, seperti yang dia alami. Dia berbagi mimpi dengan gadis lain di RS yang sama, Faten 12 tahun, yang juga cedera dalam serbuan itu.

“Saya sedang duduk di balkon dengan teman-teman saya saat saya menguping suara rudal yang datang menghantam gedung,” kenang Faten. “Hal selanjutnya yang saya tahu, lenganku rusak patah dan luka parah. Saya cuma bermain dengan teman-teman saya saat saya menguping sesuatu memukulku, dan lalu saya menyadari pasukan sedang membawaku.”

© lizzie_phelan / Instagram Faten. #Aleppo

Lonjakan pengungsi terus meningkat seiring peningkatan di medan perang. Koresponden RT, Lizzie Phelan mengunjungi daerah, yang jadi tuan rumah mereka yang sudah kehilangan tempat tinggal sebab konflik.

Ke kanan, ada tenda dari orang-orang yang mengungsi tiga-empat tahun lalu, dan masih tinggal di tempat penampungan sementara, ujar Phelan. Ke kiri, ada orang-orang yang baru saja kehilangan rumah mereka. Warga setempat menjelaskan bahwa kesengsaraan bocah-bocah di Aleppo dan mereka seluruh berlebihan berat untuk ditanggung.

“Sepuluh hari yang lalu, teroris masuk ke 1.070 apartemen. Saya meninggalkan rumah cuma dengan pakaian saja. Hal yang sama terjadi pada lingkungan tempat saya tinggal sebelum perang pecah. Saya ingat suatu hari saya bangun sebab suara dari luar. Dan menyaksikan orang-orang bersenjata berat dengan jenggot panjang sudah memasuki wilayah kami. Saya cuma diselimuti rasa takut, akhirnya saya membawa keluarga dan menyelamatkan diri,” kata penduduk Aleppo Mohamed Khalouf.

 

Perempuan ini sudah mengungsi selama 5 tahun. Ia melahirkan di jalan, di mana kian beberapa orang yang mendirikan rumah di #Aleppo © lizzie_phelan / Instagram

 

Bocah-bocah Yaman menyusul kesengsaraan bocah-bocah di Aleppo

Bagi beberapa orang, sepertinya amat sulit akan bertahan selamanya.

“Kita seluruh dalam perahu yang sama disini. Kami amat memerlukan dukungan. Kami memerlukan susu, makanan, dan popok untuk bocah-bocah kita. Situasi di sini amat menakutkan. Saya melahirkan putri saya disini di jalan. Dalam 3 minggu, ia akan berumur satu tahun”, seorang perempuan, yang ditandai selaku Fared, menjelaskan kpd reporter RT.

Beberapa sungguh-sungguh nggak ingin difilmkan. Tetapi bersemangat untuk berkata pada dunia supaya masarakat internasional menguping mengenai hal kerepotan mereka. Dan apa yang sejatinya terjadi di Aleppo.

“Kami memerlukan Anda untuk menguping kami. Kami mempunyai bocah-bocah yang lahir di jalan-jalan. Bagaimana mereka dapat berangkat ke sekolah, untuk memperoleh pendidikan? Untuk tumbuh dan hidup normal?”

Di zaman modern ini, pernag akan tetap terus taerjadi di belahan dunia manapun. Nggak dapat diprediksi di mana akan ada lagi nanak-anak yang menderita akibat perang. Kabarnya, di Yaman juga beberapa bocah-bocah menderita akibat perang menyusul penderitaan anak-anak di Aleppo.

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

Jasa Website Alhadiy

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :