Kerepotan Jual Extra Produksi Minyak, Saudi Menyesal Turuti Trump

Kesulitan Jual Extra Produksi Minyak, Saudi Menyesal Turuti Trump

Kerepotan Jual Extra Produksi Minyak, Saudi Menyesal Turuti Trump

RIYADH – Arab Saudi sudah terburu-buru untuk meningkatkan produksi minyak di bawah tekanan dari Presiden AS Donald Trump, cuma untuk menemukan bahwa pasar global mungkin belum membutuhkannya. Banyak ahli keuangan mengungkap hal ini dalam laporan yang dimuat The Independent, Sabtu (21/07).

Produksi minyak mentah kerajaan melonjak paling tinggi selama bulan lalu. Ini dikarenakan presiden AS meminta sokongan sekutu-sekutunya untuk “menstabilkan” harga minyak dan mengisi kesenjangan pasokan yang akan tercipta oleh sanksi-sanksi yang akan ia terapkan kembali kepada Iran.

Akibatnya, sekarang Saudi wajib berjuang untuk menjual ekstra produksi minyak yang telah terlanjur diproduksi sebanyak mungkin, sehingga muncul penyesalan bahwa mungkin mereka sudah membuka keran berlebihan cepat, menurut orang-orang yang diberi penjelasan oleh Riyadh dalam sejumlah hari terakhir.

Baca: Saudi Genjot Produksi Minyak Sesuai Permintaan Trump

Martijn Rats, ahli strategi minyak global di Morgan Stanley, menjelaskan: “Arab Saudi dan sejumlah anggota lain Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) sudah meningkatkan ekspor secara tajam menjelang sanksi kepada Iran, dan ketidaksesuaian waktu antara efek ini menekan harga minyak.”

Pernyataan publik yang langka dari Kementerian Energi Saudi awal pekan ini mampu dijadikan selaku ilustrasi kegelisahan mereka.

Pernyataan itu menolak selaku “tanpa dasar” saban kekuatiran bahwa kerajaan bergerak untuk melebihkan pasokan pasar dunia.

“Ekspor akan stabil bulan ini dan jatuh pada Agustus,” bunyi pernyataan itu.

Baca: Saudi Takkan Sanggup Gantikan Minyak Iran Pasca Sanksi

Pada perjumpaan terakhir OPEC di akhir Juni, Saudi dan sekutu mereka, termasuk sejumlah tetangga dari Dewan Kerjasama Teluk dan juga produsen non-OPEC, berjanji untuk meningkatkan output kisaran satu juta barel per hari untuk mengimbangi gangguan di Venezuela dan Libya, ditambah kerugian menjulang di Iran.

Mereka bereaksi kepada tekanan dari Presiden Trump, yang menampar kartel di Twitter seusai harga minyak mentah London mencapai yang tertinggi dalam 3 tahun dengan lebih dari 80 dolar (£ 61) per barel pada bulan Mei.

Harga semenjak itu turun ke kisaran 73 dolar sebab Libya memulihkan sejumlah produksi yang terhenti dan perang perdagangan AS-China yang meningkat memicu kekuatiran soal power permintaan.

Loading...
loading...

“Mereka mengeluarkan tidak sedikit minyak mentah sekarang, dan mereka kuatir soal tekanan pada harga,” tulis harian itu mengutip Mike Wittner, kepala riset pasar minyak di Societe Generale SA di New York.

Baca: Tekanan AS Kepada Iran untuk Tutupi Kejahatan Saudi di Yaman

Hal ini juga menyoroti spekulasi di antara para ahli bahwa harga dapat merosot lebih jauh bahkan saat sanksi kepada Iran dilaksanakan, secara spesial mengingat bahwa dampak sanksi tetap “terlalu tak pasti”.

Pada bulan Mei, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa ia akan menarik Amerika keluar dari perjanjian nuklir 2015 dengan Iran dan memaksakan kembali sanksi yang sudah direncanakan untuk dicabut.

Trump menekankan bahwa sanksi yang akan dikenakan pada Iran akan diberikan “pada tingkat tertinggi”.

Sanksi akan diawali dengan larangan universal kepada Iran atas pembelian atau memperoleh dolar AS yang akan mulai berlaku pada bulan Agustus. Ini diinginkan menutup saluran perbankan untuk perdagangan dengan Iran.

Fase kedua sanksi akan meliputi pembatasan pembelian minyak mentah dari negara dan investasi dalam proyek-proyek bagian minyak yang akan jadi efektif pada awal November.

Dipercaya secara luas bahwa pemerintahan Trump sudah menekan Saudi untuk meningkatkan produksi minyak mereka sehingga melarang kejutan di pasar seusai pasokan minyak Iran terputus.

Tetapi, para ahli sudah menekankan bahwa saban peningkatan output Saudi akan bersifat sementara dan memompa lebih tidak sedikit minyak mungkin tak berkelanjutan dalam jangka waktu yang lama. (ARN)


Source by Muhammad Najib

loading...

You might like

About the Author: Muhammad Najib

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *