Kenapa Penyokong Ormas Radikal Mengkritik keras Usaha Diplomasi Gus Yahya?

Katib Aam PBNU Akan Dilantik Presiden Jokowi Sebagai Wantimpres

Kenapa Penyokong Ormas Radikal Mengkritik keras Usaha Diplomasi Gus Yahya?

Oleh M. Imdadun Rahmat

Kehadiran KH Yahya Tsaquf di Israel memetik kontroversi. Bagi kalangan yang pro, apa yang ditunaikan kyai yang akrab dipanggil Gus Yahya selaku bentuk usaha membela Palestina. Lawatan itu dipandang hal yang biasa saja selaku usaha membangun, mendukung dan memperkuat prosessolusi perdamaian Palestina-Israel. Topiknya pun aktual “Pergeseran dari Konflik ke Kerja Sama”. Karena, Kemajuan mutakhir hubungan Palestina-Israel tengah meruncing akibat Yerussalem Timur dianeksasi Israel secara sepihak untuk dijadikan ibukota. Korban berjatuhan di pihak Palestina.

Namun bagi yang kontra, kehadirannya dianggap selaku legitimasi kepada eksistensi Israel. Yahya dituduh menyalahi posisi Indonesia yang menyokong Palestina. Di media social ia dihujat selaku penyokong Zionisme, boneka AS dan Israel, penghianat kepada Palestina, bahkan dinilai musuh Islam.

Dalam menilai yang tengah diakukan Gus Yahya, menyaksikan rekam jejaknya sangatlah membantu kita lebih objektif. Di NU, Gus Yahya dikenal selaku bagian jubir penting NU di luar negeri. Ia memperoleh mandate spesial dari PBNU semenjak Gus Yahya menjabat selaku wakil katib tahun 2010. Semenjak itu Gus Yahya lebih sering berbicara mengenai hal NU, Islam Indonesia dan Islam damai di luar negeri dari pada di dalam negeri. Amerika dan Eropa ialah wilayah yang paling sering dikunjunginya untuk menerangkan hakekat Islam. Ia sering diundang dalam forum-forum internasional untuk menggalang perdamaian Barat dan Islam yang meruncing pasca tragedi WTC. Ia terlalu dihormati di kalangan Muslim di Amerika dan Eropa sebab pidato-pidatonya dianggap efektif bagi usaha mengurangi Islamofobia. Ia punya hubungan baik dengan para pejabat dan para aktivis NGO yang concern pada isu perdamaian di Amerika Utara dan negara-negara Eropa.

Bagi Gus Yahya, perdamaian, dialog dan kerjasama ialah jalan untuk membangun dunia yang lebih makmur, harmonis, dan adil. Selaku kyai sekaligus aktivis perdamaian, ia tidak memilih jalan aksi anarkis, pemanfaatan senjata dan perang dalam menuntaskan konflik dan sengketa. Bagi dia, membela Palestina tidak wajib dengan bom Kendat, menyampaikan roket atau menantang perang Israel. Bukan cuma sebab untuk waktu ini mustahil memenangi perang, tetapi juga sebab dampak negatif yang diakibatkan perang itu sendiri bagi rakyat Palestina.

Jalan senjata terbukti melahirkan lingkaran syetan aksi anarkis, balas membalas, dan keputusan strategi represif Israel kepada rakyat Palestina seperti blockade tapal batas, pembangunan tembok, dan kontrol super ketat. Tiap-tiap serbuan atas target Israel oleh pihak Palestina senantiasa jadi legitimasi serbuan membabi buta angkatan bersenjata Israel. Ujungnya yang paling menderita ialah masyarakat sipil Palestina. Jalan damai ialah penyelesaian realistis.

Perbedaan pandangan, polemik dan kontroversi mengenai hal “jalan lurus” perjuangan membela Palestina tidak cuma terjadi di luar Palestina, termasuk di Indonesia, tetapi lebih-lebih di Palestina sendiri. Perbedaan itu menghasilkan keragaman faksi perjuangan, partai politik, dan pengelompokan warga. Perbedaan itu bahkan menghasilkan konflik aksi anarkis dan perang saudara. Sesama rakyat Palestina, sesama muslim saling menghabisi sebab perbedaan pandangan mengenai hal taktik perjuangan.

Kontroversi Sejauh Masa

Selaku hasil dari 4 kali perang (tahun 1948, 1956, 1967, dan 1973) dan beberapa kali usaha diplomasi di antaranya Konferensi Madrid (1991), Perundingan Oslo (1993), KTT Camp David II (2000), dan perbincangan Peta Jalan Damai (Peace Road Map, 2002) konflik Palestina (Arab)-Israel, tercapai keadaan yang mengarah untuk “co-existent” di mana Israel mengakui status “semi otonom” otoritas Palestina di bawah kepemimpinan PLO melalui konsep “Land for Peace (Tanah untuk Perdamaian). Israel mengembalikan wilayah Tepi Barat Sungai Jordan dan Jalur Gaza dengan tapal batas pasca Perang 1967. Otoritas Palestina di bawah Yasser Arafat diteruskan Mahmod Abbas inipun belum diakui selaku negara full di PBB dan diganggu dengan problem pemukiman Yahudi yang tidak kunjung dibongkar bahkan terus berkembang.

Apakah “jalan keluar 2 negara” ini diterima seluruh rakyat Palestina? Tidak. Ada yang memilih “1 negara 2 bangsa” ialah sebuah negara sekuler meliputi semua tanah yang dikuasai Israel dan Palestina dengan bangsa Yahudi dan Arab hidup berbarengan. Tetapi, pendukungnya sedikit. Ada beberapa orang Palestina yang berharap merebut kembali seluruh tanah Palestina dan menghapuskan Israel dari peta dunia. Kubu ini beberapa Disokong oleh mereka yang jadi pengungsi di negara-negara Jiran yang tanahnya jadi wilayah Israel.

Hak mereka untuk kembali ke tanah air yang sudah jadi Negara Israel ditutup rapat oleh Israel. Israel bersikeras melawan Resolusi PBB No. 194 untuk mengembalikan pengungsi Arab sebab kalau masyarakat Arab boleh pulang akan jadi power politik besar bahkan sanggup memenangkan Pemilihan Umum di Israel. Orang Palestina di pengungsian Tidak mau “jalan keluar 2 negara” sebab mereka terancam jadi pengungsi secara permanen. Bagi mereka, PLO dan negara-negara yang setuju dengan “jalan keluar 2 negara”, Arab Saudi, Mesir, Emirat Arab dan Yordania ialah penghianat.

Perbedaan cara berfikir dan kepentingan kubu membentuk spectrum luas gerakan perlawanan Palestina. Ada keragaman ideologi dan paradigma yang selalu berebut pengaruh. Secara general ada 2 kecenderungan yang senantiasa berkontestasi. Kubu yang berorientasi “moderat” dan yang “radikal”. Kubu ke-1 menempuh jalur ganda perjuangan; perlawanan senjata dan diplomasi. Mereka siap bernegosiasi untuk jalan keluar tengah (jalan keluar 2 negara berdaulat). Ini direpresentasikan oleh PLO yang didominasi faksi Fatah.

Adapun kubu ke-2 Tidak mau bernegosiasi, Tidak mau eksistensi Israel dan cuma 1 jalan, perlawanan bersenjata. Kubu ini diwakili oleh Ihwanul Muslimin, Hizb al-Tahrir, faksi-faksi pro-Khomeini (di antaranya Hezbollah), al-Da’wah wa al-Tabligh, dan organisasi-organisasi jihad seperti Hamas, Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP) dan faksi pro-intifada yang bermarkas di Damaskus, Syiria. (Emile F. Sahliyeh 2001).

Kontestasi antar kubu di Palestina mengerucut pada persaingan politik di Pemilihan Umum antara PLO (Fatah) dan Hamas (Ikhwanul Muslimin). Pada Pemilihan Umum 2006 Hamas menangi Pemilihan Umum legislatif. Pimpinan Hamas Ismail Haniyeh menjabat perdana menteri, mendampingi presiden Mahmod Abbas. Ada matahari kembar. Masing-masing jalan sendiri. Fatah kooperatif dengan Israel selaku konsekwensi proses perdamaian yang tengah berjalan, sebaliknya, Hamas berkonfrontasi dengan gerilya, serbuan mortar, dan bom Kendat.

Selaku otoritas legal, Tentara pemerintah, Fatah melaksanakan penertiban kepada para pelaku serbuan dengan perlucutan senjata. Hamas Tidak mau dan terjadilah perang saudara di Jalur Gaza. Fatah mengontrol 40 ribu Tentara legal pemerintah dan beberapa ribu member Brigade Syahid Al-Aqsa, Hamas mengontrol 20 ribu Tentara bersenjata member Brigade Izzuddin Al-Qassam. Perang saudara selama 2 tahun sekarang mematikan 83 Tentara Hamas, 165 prajurit Fattah, dan 98 masyarakat sipil Palestina. Walaupun sekarang Fatah dan Hamas sudah bersedia berdamai atas mediasi Mesir, tetapi bermacam perbedaan antara keduanya tetap potensial memicu kembali konflik.

Perlunya Usaha Damai

Dalam situasi yang memanas pasca sengketa Al-Aqsha dan Yerussalem Timur, usaha penyelesaian damai wajib Disokong seluas-luasnya. Masarakat internasioal yang berpihak pada kemanusiaan dituntut untuk mendesak pihak-pihak yang terlibat dalam konflik ini untuk menempuh langkah diplomasi. Supaya proses penyelesaian menyeluruh Palestina-Israel sanggup diwujudkan.

Untuk mengawali sebuah diplomasi diniscayakan “jeda kemanusiaan” (moratorium) berupa penyetopan aksi anarkis oleh seluruh fihak. Ini tidak mudah mengingat syarat ke diplomasi semacam ini wajib berlomba dengan sikap anti-dialog dan cara aksi anarkis yang terus dipelihara oleh kalangan fundamentalis-radikal di Israel maupun Palestina. Secara internal, faksi-faksi pro perdamaian bersaing dengan kubu radikal-kanan. Di Israel, Partai Pekerja yang pro-perdamaian bersaing dengan Partai Likud yang agresif kepada Palestina. Di Palestina, Fatah bersaing dengan Hamas.

Waktu ini, partai Likud jadi penguasa di Israel. Benyamin Netanyahu menerapkan keputusan strategi yang tidak menyokong perdamaian; meneruskan pembangunan pemukiman Yahudi di wilayah Palestina, agresi angkatan bersenjata, membikin terowongan Al-Aqsha, dan merebut Yerusalem Timur jadi ibukota. Keputusan strategi yang tidak populer macam ini jadi ciri pemerintahan Likud.

Partai Likud sungguh Disokong oleh para imigran asal Eropa dan Amerika (Askenazim) yang mengalami radikalisasi sebab holocaust, pembunuhan masal bangsa Yahudi oleh Nazi. Pengalaman sejarah yang pahit ini menyebabkan interpretasi mereka atas doktrin “tanah yang dijanjikan” yang ada dalam Bible terlalu keterlaluan. Mereka meyakini bahwa tanah yang membentang dari sungai Eufrat di Irak sampai sungai Nil di Mesir ialah hak mereka dan wajib diambil paksa. Kecuali itu, tak sama dengan penyokong Partai Pekerja yang berasal dari wilayah Arab, Asia dan Afrika (Shepardim), mereka tidak mempunyai pengalaman sejarah hidup berdampingan secara damai dengan bangsa Arab sebelum gerakan migrasi (settler movement). (Roger Garaudi, Falisthin Ardl al-Risalat al-Ilahiyyah, 1986)

Di pihak Palestina, gerakan untuk mensabotase bermacam usaha perdamaian juga sering ditunaikan oleh bermacam kubu garis keras semisal Hamas, Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP) dan faksi-faksi pro-kekerasan yang bermarkas di Damaskus, Syiria. Kubu garis keras ini, sebagaimana penyokong Likud, mengalami radikalisasi sebab kesengsaraan yang berkepanjangan yang dialami oleh bangsa Palestina sebab Zionisme. Bagi mereka, berdamai dengan Israel tidak berguna sebab negara Yahudi menanggung dosa yang tidak terampuni atas rakyat Palestina dan ummat Islam. Sikap ini memperoleh pembenaran dari penafsiran yang literal kepada ayat “Yahudi dan Nashrani tidak akan rela atas Anda semua sampai Anda semua ikut jalan mereka” dan ayat-ayat senada lainnya.

Menyaksikan hal di atas, usaha untuk “menjinakkan” kecenderungan anti dialog baik dalam tubuh Likud maupun faksi radikal Palestina jadi kunci pokok jalan atau mandeknya proses jalan keluar damai. Dalam hal ini keprihatinan terbesar ada pada pihak Likud. Karena, Likud mempunyai supremasi sumberdaya baik politik maupun angkatan bersenjata sebab kekuasaannya di Israel. Ia terlalu powerfull sampai PBB pun tidak berdaya menghadapinya. Sebagaimana biasanya ia cuma patuh untuk AS. Partai Pekerja dan para penganjur perdamaian seringkali tidak didengar oleh Likud. walau sedemikian, suara internasional termasuk suara dunia Islam hars dihadirkan di Israel untuk memperkuat arus perdamaian di sana.

Adapun untuk “mengendalikan” faksi-faksi radikal di Palestina, tidaklah sesulit Likud. Karena, pergulatan yang dinamis antara Partai Likud dan Partai Pekerja yang moderat dalam pemerintahan Israel dan Knesset, terlalu mempengaruhi konstelasi antar faksi yang ber-interplay dalam tubuh gerakan kemerdekaan Palestina. Pengaruh tersebut berlangsung dalam pola yang terlalu rumit. Tetapi kalau disederhanakan, kita temukan pola; kalau keputusan strategi radikal ditunaikan Israel, maka pengaruh dan legitimasi gerakan radikal di Palestina juga meningkat. Tetapi, kalau Israel lunak, sokongan rakyat kepada gerakan perlawanan bersenjata akan menyurut dan akibatnya faksi-faksi radikal tersebut akan lumpuh dengan sendirinya.

Dalam konteks kontestasi antara jalan damai vs jalan senjata inilah, semestinya kita menyaksikan makna kehadiran Gus Yahya di Israel. Gus Yahya diundang oleh orang Israel yang mendukung pendekatan damai. Pengundang Gus Yahya ialah kalangan yang beroposisi dengan penguasa Likud yang keras untuk rakyat Palestina. Jadi terang di sini posisi Gus Yahya selaku penerus Gus Dur yang berjumpa Simon Peres untuk menyokong jalan damai yang tengah ditempuh Partai Pekerja, Kaum Sephardimdi waktu Partai Likud, kaum Askenazim memilihjalan keras kepada rakyat Palestina.

Kecuali itu, para penghujat Gus Yahya di Indonesia juga sanggup dipahami dalam konteks keperpihakan mereka kepada persaingan jalan damai vs jalan senjata ini. Jadi terang dan masuk akal mengapa mereka penghujat Gus Yahya. Karena, kehadiran Gus Yahya merugikan madzhab kerasnya Hamas. Kaum Ikhwanul Muslimin di Indonesia pasti tidak suka dengan yang ditunaikan Gus Dur dan Gus Yahya. Wallahu A’lam.

Penulis ialah Direktur Said Aqil Siroj (SAS) Institute dan pengamat Timur Tengah via NU Online

Source by Hakim Abdul

You might like

About the Author: Hakim Abdul

KOLOM KOMENTAR ANDA :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.