Kenapa Orang Mudah Percaya dengan Berita Bohong?

Mengapa Mereka Rela Mempertahankan Hoax Mati-matian?

Kenapa Orang Mudah Percaya dengan Berita Bohong?


Di era digital waktu ini, berita bohong (hoax) bisa dengan mudah tersebar. Dengan sokongan sosial media, orang tidak Penting bersusah payah menyebarkannya dari mulut ke mulut. Cukup dengan sekali klik sesudah mengetik beberapa baris kalimat atau foto dengan caption yang bersifat provokatif, berita bohong dapat tersebar luas.

Menyaksikan daya jangkau yang terlalu cepat dan luas maka hal tersebut tentu akan berbanding lurus dengan dampak yang dihasilkan. Walaupun tidak seluruh orang yang menerima hoax pasti percaya, tetapi setidaknya makin beberapa hitungan total penerima hoax, makin beberapa pula kemungkinan orang akan terpengaruh.

Setidaknya, ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang jadi mudah percaya kepada berita bohong. Faktor tersebut diantaranya ialah: kredibilitas pembawa berita, sosial konteks pembaca yang meliputi kesamaan kubu dan kompetisi antar group.

Kredibilitas pembawa pesan terlalu berpengaruh pada penerimaan audiens. Dalam Perkara drama Ratna Sarumpaet misalnya; figur Ratna selaku aktivis HAM dan ujung tombak oposisi dapat dikatakan cukup untuk bisa meyakinkan audiens khususnya dari mereka yang mempunyai kesamaan pandangan.

Kecuali itu, sosial konteks yang secara spesifik mengarah pada rasa persamaan dan kesatuan selaku 1 kubu juga Ikut memberikan Andil besar. Faktanya, di media sosial, mereka yang awalnya percaya dan dengan bersemangat menyebarkan berita ini ialah orang-orang yang Ada dalam 1 barisan dengan Ratna.

Dalam kondisi yang telah sedemikian (mempercayai berita dengan dasar kredibilitas pembawa berita dan diikuti dengan prasangka negatif serta sedikit manuver untuk menyerbu kubu lain), kompetesi antar kubu menjadikan tensi untuk percaya atau sebaliknya jadi makin besar.

Mereka yang Ada dalam 1 barisan dengan figur si Pembawa berita akan lebih mudah bahkan langsung percaya dengan argumentasi simpati dsb. Adapun mereka yang tak sama kubu (baca: lian) pada umumnya juga tidak dapat langsung percaya. Mereka meragukan dan mempunyai kecenderungan untuk tidak percaya. Kecenderungan ini lah yang lantas menjadikan kubu lian menyelidiki kebenaran berita.

Secara umum, mereka yang mudah percaya dengan berita bohong sejatinya mengalami bias dalam berpikir. Hal ini dapat terjadi pada siapa pun, baik mereka yang mempunyai level intelegensi tinggi maupun rendah. Sebagaimana dijelaskan dalam buku yang berjudul Dismantling the Mask of Enmity (1989) yang disusun oleh Psychologist for Social Responsibility (PfSR). Maka tidak heran, kalau kita menyaksikan beberapa orang berpendidikan tinggi tetapi pada kenyataannya dengan mudah percaya dengan berita bohong dan Ikut menyebarkan ulang.

Loading...
loading...

Mereka yang mengalami bias berpikir cenderung akan mudah menerima pemberitaan tanpa mencoba untuk mengklarifikasinya, “taken for granted.” Hal itu dapat terjadi sebab beberapa efek yang muncul dari bias bepikir seperti prasangka negatif, stereotip dan cenderung mengingat hal negatif dari kubu lian.

Dalam beberapa Perkara, walaupun seseorang memperoleh info sanggahan kepada berita bohong dari figur yang kredibel dibidangya, dia masih saja sulit menerimanya dan cenderung keukeuh untuk mempercayai berita bohong tersebut. Hal ini dikarenakan sebab seseorang tersebut lebih mengedepankan prasangka dan label negatif yang terlanjur dia berikan pada yang lian dibandingkan dengan logika berpikir secara kritis dan menyaksikan sebuah berita dengan objektif.

Menyaksikan hal tersebut, di era yang begitu mudah untuk mengakses info ini, kita dituntut untuk lebih selektif dan menjaga nalar kritis dalam menerima sebuah berita. Bukan cuma sebab sebuah berita Hadir dari figur dan kubu yang berlatar belakang sama, kemudian jadi argumentasi Inti untuk langsung percaya. Pun sedemikian sebaliknya, cuma dengan argumentasi “Anda bukan golongan kami,” lantas menyebabkan kita antipati kepada berita yang disampaikan.

Ahirnya, saya bersepakat dengan Prof. Nadirsyah Hosen yang pernah menjelaskan melalui akun tweet-nya @na_dirs (04/10) bahwa tidak seluruh hal dari kubu sendiri pasti benar. Pun sedemikian sebaliknya, tidak seluruh hal dari kubu lain (lawan) pasti salah.

Dan, al-qur’an sendiri telah Memperingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 soal perlunya tabayun (klarifikasi). يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Wahai orang- orang yang beriman, kalau ada seorang faasiq Hadir ke Anda semua dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), supaya jangan sampai Anda semua menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, lantas akhirnya Anda semua jadi menyesal atas perlakuan Anda semua.

Wallau a’lam…

Ahmad Aminuddin, penulis ialah pegiat aktif di Islami Institute Jogja.

Loading...

IslamiDotCo Shared by Ahmad Naufal

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *