Kenapa NU Ada di Indonesia, Ini Sejarah NU

Loading...

Kenapa NU ada di Indonesia – Cerita dalam sejarah NU, kenapa NU ada di Indonesia. Ternyata NU ada di Indonesia terkait munculnya ajaran wahabi. Artikel kenapa NU ada di Indonesia ini ialah lanjutan dari artikel sebelumnya. Yaitu Cerita dalam Sejarah NU, Kenapa NU Ada di Indonesia.

Ada 3 alasan dalam sejarah kenapa NU ada di Indonesia. 3 motif alasan ini melatarbelakangi lahirnya NU (Nahdlatul Ulama) 31 Januari 1926:

1. Motif Agama.

Bahwa Nahdlatul Ulama lahir atas ghirah menegakkan dan mempertahankan Agama Allah di Nusantara, meneruskan perjuangan dakwah Wali Songo. Terlebih Belanda-Portugal nggak cuma menjajah Nusantara, tapi juga menyebarkan agama Kristen-Katolik dengan terlalu gencarnya. Mereka membawa para misionaris-misionaris Kristiani ke berbagai wilayah.

2. Motif Nasionalisme.

NU lahir sebab niatan kuat untuk menyatukan para ulama dan tokoh-tokoh agama dalam melawan penjajahan. Antusias nasionalisme itu pun tampak juga dari nama Nahdlatul Ulama itu sendiri yaitu Kebangkitan Para Ulama. NU pimpinan Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari terlalu nasionalis.

Sebelum RI merdeka, para pemuda di berbagai daerah mendirikan organisasi bersifat kedaerahan. Seperti Jong Cilebes, Pemuda Betawi, Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, dan sebagainya. Namun, kiai-kiai NU malah mendirikan organisasi pemuda bersifat nasionalis.

Pada 1924, para pemuda pesantren mendirikan Syubbanul Wathon (Pemuda Tanah Air). Organisasi pemuda itu lalu jadi Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO). Yang bagian tokohnya ialah pemuda gagah, Muhammad Yusuf (KH. M. Yusuf Hasyim -Pak Ud).

Selain itu dari rahim NU lahir lasykar-lasykar perjuangan fisik. Di kalangan pemuda muncul lasykar-lasykar Hizbullah (Serdadu Allah) dengan panglimanya KH Zainul Arifin. Dia ini seorang pemuda kelahiran Barus Sumatra Utara 1909. Dan di kalangan orang tua ada Sabilillah (Jalan ke Allah) yang di komandoi KH. Masykur.

Sejarah NU menulis, meski bangsa Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Tapi 53 hari lalu NICA (Netherlands Indies Civil Administration) nyaris mencaplok kedaulatan RI. Pada 25 Oktober 1945, 6.000 serdadu Inggris tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. pasukan itu dipimpin Brigadir Jenderal Mallaby. Panglima Brigade ke-49 (India). Penjajah Belanda yang telah kabur pun membonceng serdadu sekutu itu.

Praktis, Surabaya genting. Untung, sebelum NICA datang, Soekarno sempat menyampaikan utusan menghadap Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng, Jombang. Melalui utusannya, Soekarno menanyakan kpd Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari: “Apakah hukumnya membela tanah air? Bukan membela Allah, membela Islam, atau membela al-Qur’an. Sekali lagi, membela tanah air?”

Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari yang sebelumnya telah punya fatwa jihad kemerdekaan bertindak cepat. Dia memerintahkan KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri, dan para Kiyai lain untuk mengumpulkan para Kiyai se-Jawa dan Madura. Para Kiyai dari Jawa dan Madura itu kemudian rapat di Kantor PB Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO). Di Jalan Bubutan VI/2, Surabaya, dipimpin Kyai Wahab Hasbullah pada 22 Oktober 1945.

Pada 23 Oktober 1945, Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari atas nama Pengurus Besar NU mendeklarasikan seruan jihad fi sabilillah, yang lalu dikenal dengan Resolusi Jihad.
Ada 3 poin penting dalam Resolusi Jihad itu:

a) Pertama, tiap-tiap muslim – tua, muda, dan miskin sekalipun- wajib memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia.

b) Kedua, pejuang yang mati dalam perang kemerdekaan layak disebut syuhada.

c) Ketiga, penduduk Indonesia yang memihak penjajah dinilai selaku pemecah belah persatuan nasional, maka mesti diganjar mati.

Jadi, ummat Islam wajib hukumnya membela tanah air. Bahkan, haram hukumnya mundur tatkala kita berhadapan dengan penjajah dalam radius 94 km (jarak ini disesuaikan dengan dibolehkannya Qashar Shalat). Di luar radius itu dinilai fardhu kifayah (kewajiban kolektif, bukan fardhu ‘ain, kewajiban individu).

Fatwa jihad yang ditulis dengan huruf pegon itu lalu digelorakan Bung Tomo lewat radio. Keruan saja, penduduk Surabaya dan warga Jawa Timur yang keberagamaannya kuat dan kebanyakan NU merasa terbakar semangatnya. Ribuan Kiyai dan santri dari berbagai daerah -seperti ditulis M.C. Ricklefs (1991), mengalir ke Surabaya.

Meletuslah kejadian 10 November 1945 yang dikenang selaku hari pahlawan. Para Kiyai dan pendekar tua membentuk barisan pasukan non regular Sabilillah yang dikomandani oleh KH. Maskur. Para santri dan pemuda berjuang dalam barisan pasukan Hizbullah yang dipimpin oleh H. Zainul Arifin. Sementara para Kiyai sepuh berada di barisan Mujahidin yang dipimpin oleh KH. Wahab Hasbullah. Perang tidak terelakkan sampai akhirnya Brigadir Jenderal Mallaby mati.

3. Motif Mempertahankan Faham Ahlussunnah wal Jama’ah.

NU lahir untuk membentengi ummat Islam khususnya di Indonesia supaya tetap teguh pada ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Yaitu para Pengikut Sunnah Nabi, Sahabat. Dan Ulama Salaf Pengikut Nabi-Sahabat. Sehingga nggak tergiur dengan ajaran-ajaran baru (nggak dikenal zaman Rasul-Sahabat-Salafus Shaleh/ajaran ahli bid’ah). Pembawa ajaran-ajaran bid’ah yang sesat (bid’ah madzmumah) menurut ulama Ahlussunnah wal Jama’ah ialah selaku berikut:

a) Kaum Khawarij dengan imam/pemimpinnya Abdullah bin Abdul Wahab ar-Rasabi. Tokoh radikal ini muncul di masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib Ra. Dia berpendapat bahwa orang yang berdosa besar ialah kafir. Sehingga ciri khas mereka mudah menuduh orang-orang Islam yang nggak sepaham dengan ajarannya selaku kafir. Bahkan sahabat Ali bin Abi Thalib Ra pun dicap kafir sebab dinilai berdosa besar. Sebab Sayyidina Ali mau menerima tawaran tahkim/perdamaian yang diusulkan oleh pemberontak Muawiyyah Ra.

b) Kaum Syi’ah, lebih-lebih sesudah munculnya sekte syi’ah Rafidhah dan Ghulat. Tokoh pendiri Syi’ah ialah Abdullah bin Saba’ seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam. Dan menyebarkan ajaran Wishoya, bahwa kepemimpinan sesudah Nabi ialah lewat wasiat Nabi Saw. Dan yang memperoleh wasiat ialah Ali bin Abi Thalib Ra. Dan Abu Bakar, Umar dan Utsman termasuk perampok jabatan.

c) Aliran Mu’tazilah yang didirikan oleh seorang tabi’in yang bernama Wasil bin Atho’. Ciri ajaran ini ialah menafsirkan al-Qur’an dan kebenaran agama ukurannya ialah akal manusia. Bahkan mereka berpendapat untuk sebuah keadilan Allah mesti menciptakan al-manzilah baina al-manzilataini. Ialah satu tempat di antara surga dan neraka selaku tempat bagi orang-orang gila.

d) Faham Qodariyyah yang pendirinya ialah Ma’bad al-Juhaini dan Ghailan ad-Dimasyqi. Keduanya murid Wasil bin Atho’ dan keduanya dijatuhi hukuman mati oleh Gubernur Irak dan Damaskus sebab menyebarkan ajaran sesat (bid’ah). Ciri ajarannya ialah manusia berkuasa full atas dunia ini. Sebab tugas Allah sudah selesai dengan diciptakannya dunia, dan bertugas lagi nanti tatkala kiamat datang.

e) Aliran Mujassimah atau kaum Hasyawiyyah ciri aliran ini menjasmanikan Allah (menyerupakan Allah dengan makhluk). Yang diawali dengan menafsirkan al-Qur’an secara lafdziy dan nggak menerima ta’wil. Sehingga sehingga mengartikan yadullah ialah Tangan Allah. (Lihat Ibnu Hajar al-‘Asqolani dalam Fath al-Baari Juz XX hal. 494). Bahkan mereka sanggup menjelaskan, bahwa pada suatu tatkala, kedua mata Allah kesedihan, lalu para malaikat datang menemui-Nya. Dan Dia (Allah) menangisi (kesedihan) berakibat banjir Nabi Nuh As. Sehingga mata-Nya jadi merah. Dan ‘Arsy meratap hiba seperti suara pelana baru. Dan bahwa Dia melampaui ‘Arsy dalam kondisi melebihi empat jari di segenap sudut. (Lihat asy-Syahrastani dalam al-Milal wa an-Nihal, hal. 141).

loading...

f) Ajaran-ajaran Para Pembaharu Agama Islam (Mujaddid) yang diawali dari Ibnu Taimiyyah (661-728 H / 1263-1328 M. Atau abad ke 7 – 8 H / 13 – 14 M. Ialah 700 tahun sesudah Nabi Saw wafat atau 500 tahun dari masa Imam asy-Syafi’i). Beliau mengklaim penganut madzhab Hanbali, tapi anehnya beliau malah jadi orang pertama yang menentang sistem madzhab. Pemikirannya lalu dilanjutkan muridnya Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah. Aliran ini lalu dikenal dengan nama aliran salafi-salafiyah yang mengklaim memurnikan ajaran kembali ke al-Qur’an dan Hadits. Tetapi di sisi lain mereka malah mengingkari beberapa hadits-hadits Shahih (inkarus sunnah). Mereka ingin memberantas bid’ah tetapi pemahaman soal bid’ahnya melenceng dari makna bid’ah yang dikehendaki Rasulullah Saw. Melenceng dari Yang dipahami oleh para sahabat dan para ulama salaf Ahlussunnah wal Jama’ah.

Mereka juga membangkitkan kembali penafsiran al-Qur’an-Sunnah secara lafdziy. Golongan Salafi ini percaya bahwa al-Qur’an dan Sunnah cuma sanggup diartikan secara tekstual (apa adanya teks) atau literal. Dan nggak ada arti majazi atau kiasan di dalamnya. Pada kenyataannya terdapat ayat al-Qur’an yang mempunyai arti harfiah dan ada juga yang mempunyai arti majazi. Yang mana kata-kata Allah Swt mesti diartikan sesuai dengan kesucian-NYA. Kalau kita nggak dapat membedakan di antara keduanya maka kita akan menemui beberapa kontradiksi yang timbul di dalam Al-Qur’an. Maka dari itu sangatlah penting untuk memahami problem tersebut.

Dengan adanya keyakinan bahwa seluruh kandungan Al-Qur’an dan Sunnah cuma mempunyai makna secara tekstual atau literal. Dan jauh dari makna majazi atau kiasan ini, maka akibatnya mereka memberi sifat secara fisik kpd Allah Swt. (Umpama Dia Swt. mempunyai tangan, kaki, mata dan lain-lain seperti makhlukNya). Mereka juga menjelaskan terdapat kursi yang terlalu besar (‘Arsy) di mana Allah Swt duduk. (Sehingga Dia memerlukan ruangan atau tempat untuk duduk) di atasnya. Terdapat beberapa problem lainnya yang diartikan secara tekstual. Hal ini sudah membikin beberapa fitnah di antara ummat Islam. Dan inilah yang paling pokok dari mereka yang membikin tak sama dari madzhab yang lain. Salafisme ini cuma berjalan atas 3 komposisi yaitu; Syirik, Bid’ah dan Haram. (Penjelasan rincinya akan dibicarakan lalu).

Munculnya Muhammad bin Abdul Wahab di abad ke 12 H / 18 M. Seorang pembaharu agama (mujaddid) yang lahir di Ayibah lembah Najed (1115-1201 H/1703-1787 M). Yang mengklaim selaku penerus ajaran Salafi Ibnu Taimiyyah. Dan lalu mendirikan madzhab Wahabi atau Wahabiyyah. Ia pun mengklaim selaku Ahlussunnah wal Jama’ah sebab meneruskan pemikiran Imam Ahmad bin Hanbal yang diterjemahkan oleh Ibnu Taimiyyah. Namun sebagaimana pendahulunya, Muhammad bin Abdul Wahab dan pengikutnya pun layaknya kaum Khawarij. Yang mudah mengkafirkan para ulama yang nggak sejalan dengan dia. Bahkan sesama madzhab Hanbali pun ia mengkafirkannya.

Kenapa NU Ada di Indonesia Terkait Munculnya Ajaran Wahabi

Di sini, kita akan menyampaikan beberapa pengkafiran Muhammad bin Abdul Wahhab. Kepada beberapa tokoh ulama Ahlussunnah yang nggak sejalan dengan pemikiran sektenya:

• Dalam sebuah surat yang dilayangkan kpd Syeikh Sulaiman bin Sahim. Seorang tokoh madzhab Hanbali pada zamannya. Ia (Muhamad Abdul Wahhab) menuliskan. “Saya mengingatkan kepadamu bahwa engkau berbarengan ayahmu sudah dengan terang melaksanakan perbuatan kekafiran, syirik dan kemunafikan! Engkau berbarengan ayahmu siang dan malam sekuat tenagamu sudah berbuat permusuhan kepada agama ini! Engkau ialah seorang penentang yang sesat di atas keilmuan. Dengan sengaja melaksanakan kekafiran kepada Islam. Kitab kalian itu jadi bukti kekafiran kalian!” (Lihat dalam ad-Durar as-Saniyah jilid 10 hal. 31).

• Dalam sebuah surat yang dilayangkan untuk Ibnu Isa. Sosok yang sudah melaksanakan adu argumentasi kepada pemikirannya. Muhammad Abdul Wahhab menvonis sesat para ahli fikih (fuqoha) secara keseluruhan. Ia (Muhamad Abdul Wahhab) mengumumkan. (Firman Allah); “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka selaku Tuhan selain Allah”. Rasul dan para imam setelahnya sudah mengartikannya selaku ‘Fikih’ dan itu yang sudah dinyatakan oleh Allah selaku perbuatan syirik. Mempelajari hal tadi masuk kategori menuhankan hal-hal lain selain Allah. Saya nggak menyaksikan terdapat perbedaan pandangan para ahli tafsir dalam problem ini.” (Lihat dalam ad-Durar as-Saniyah jilid 2 hal. 59).

• Berhubungan dengan Imam Fakhrur Razi. Ulama Pengarang kitab Tafsir al-Kabir, yang bermadzhab Syafi’i Asy’ary. Ia (Muhamad Abdul Wahhab) menjelaskan. “Sesungguhnya Razi tersebut sudah mengarang sebuah kitab yang membenarkan para penyembah bintang”. (Lihat dalam ad-Durar as-Saniyah jilid 10 hal. 355). Betapa kedangkalan ilmu Muhamad bin Abdul Wahhab kepada karya Imam Fakhrur Razi. Padahal dalam karya tersebut, Imam Fakhrur Razi menerangkan soal beberapa hal yang menerangkan fungsi gugusan bintang. Dalam kaitannya dengan fenomena yang berada di bumi. Termasuk berhubungan dengan bidang pertanian. Tapi Muhammad bin Abdul Wahhab dengan keterbatasan ilmu kepada ilmu perbintangan sudah menvonisnya dengan julukan yang nggak layak. Tanpa didasari ilmu yang cukup.

Kenapa NU Ada di Indonesia, Membendung Ajaran Faham Wahabi

Dari berbagai pernyataan di atas maka jangan kita heran kalau Muhammad bin Abdul Wahhab pun mengkafirkan. Serta diikuti oleh para pengikutnya (Wahabi). Mereka mengkafirkan para ahli teologi (mutakallimin) Ahlusunnah secara keseluruhan (Lihat dalam ad-Durar as-Saniyah jilid 1 hal. 53). Bahkan ia (Muhamad Abdul Wahhab) mengaku-ngaku bahwa kesesatan para ahli teologi tadi merupakan konsensus (ijma’) para ulama. Dengan mencatut nama para ulama seperti adz-Dzahabi, Imam Daruquthni dan al-Baihaqi.

Tokoh Pembaharu Agama (mujaddid) lain penerus faham salafi Ibnu Taimiyyah ialah muncul pada abad ke 19 di Afghanistan. Dia yang bernama Jamaluddin al-Afghani (1838-1898). Ajarannya diteruskan oleh muridnya dari Mesir di abad ke 19 – 20 M yang bernama Muhammad Abduh (1949-1905). Pemikiran Muhammad Abduh menyebar ke berbagai penjuru dunia lewat tulisannya yang dimuat dalam majalah al-Manar. sesudah beliau wafat pada tahun 1905, majalah al-Manar diteruskan oleh muridnya yang bernama Muhammad Rasyid Ridla (1865-1935). Kumpulan tulisan Muhammad Abduh dan M. Rasyid Ridla ini lalu dibukukan jadi Tafsir al-Manar.

Dalam perkembangannya aliran Salafi-Wahabi pun terpecah dalam beberapa faksi (kubu) dengan karakteristiknya masing-masing. Tergantung pada imam mana yang diikutinya. Tokoh ulama Wahabi yang jadi rujukan dan teladan waktu ini ialah Muhammad Nashiruddin al-Albani. Dia seorang guru besar Ilmu Hadits di Universitas Islam Madinah yang lahir pada tahun 1915 dan wafat 1 Oktober 1989. Ia dipuja-puja kaum Wahabi-Salafi bahkan dinilai lebih alim dari Imam Bukhori. Sebab ia men-Takhrij/mengomentari beberapa haditsnya Imam Bukhori (194 – 256 H).

Sedemikian artikel kedua dari Sejarah NU, anda sanggup meneruskan ke bagian 3 (terakhir) dari Sejarah NU, Kenapa NU Ada di Indonesia.

Komite Hijaz Bagian Sejarah NU, Ada Apa dengan NU ?

Simpan

loading...

Simpan

Loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :