Kenapa Intoleransi dan Aksi anarkis Berkembang di Indonesia?

Kenapa Intoleransi dan Aksi anarkis Berkembang di Indonesia?

Ilustrasi

Kekhilafan dalam melihat dan menerapkan Islam selaku ajaran agama menyebabkan berkembangnya paham-paham intoleran dan radikal yang berujung pada maraknya aksi aksi anarkis dan terorisme.

Demi itu, perlu edukasi bahwa paham-paham intoleran dan aksi anarkis ndak sesuai dengan ajaran agama manapun dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang tertuang dalam butir-butir Pancasila selaku falsafah dan dasar negara Indonesia.

Ahli antropologi budaya dan pengajar di King Fahd University for Petroleum and Minerals Arab Saudi, Profesor Sumanto Al Qurtuby berpendapat, berkembangnya intoleransi dan aksi anarkis di Indonesia sebab ummat Islam cenderung ndak sanggup membedakan antara Islam selaku sebuah ajaran normatif, dengan Islam selaku manifestasi kebudayaan dan produk politik kekuasaan.

“Dalam praktik sehari-hari ada kecenderungan ummat Islam yang mencampuradukkan antara Islam selaku sebuah ajaran, Islam selaku sebuah produk politik kekuasaan dan Islam selaku manifestasi kebudayaan Arab. Ajaran dijadikan selaku budaya sementara budaya dijadikan ajaran,” kata Sumanto di sela-sela acara dialog “Islam Rahmatan Lil Alamin: Antara Ajaran dan Budaya” yang diadakan Lingkar Wanita Nusantara (LPN) di Jakarta.

Sumanto menilai, ummat Islam di Indonesia sebaiknya memisahkan Islam selaku ajaran agama, dengan politik kekuasaan dan kebudayaan dari luar khususnya Arab, yang belum tentu sesuai dengan konteks ke-Indonesia-an. Selama ummat Islam Indonesia ndak sanggup membedakan ketiga hal tersebut, maka Islam selaku rahmat bagi semesta (rahmatan lil alamin) sulit terwujud.

“Produk-produk sosial budaya dari Arab jangan diimpor ke sini karena itu sanggup menimbulkan pertentangan di masarakat. Contohnya soal cadar, yang belakangan marak dipakai wanita Indonesia,” ucapnya.

Sumanto memaparkan, hubungan antara Arab (khususnya Arab Teluk), Barat (khususnya Amerika), dan Indonesia (khususnya masarakat yang mengagumi Arab) terbilang unik. Dalam kehidupan ummat Islam di Indonesia ketika ini ada kecenderungan menyerap budaya Arab dan anti Barat. Sementara Arab malah sekarang tidak sedikit menyerap budaya barat.

Loading...
loading...

“Hampir seluruhnya produk-produk Barat mulai dari restoran fast food, sampai produk-produk berkelas dan bermerk, seluruhnya ada di wilayah Teluk. Mal-mal megah dibangun demi menampung produk-produk Barat tadi. Masyarakat Arab sebagai konsumen setia sebab memang mereka hobi shopping,” paparnya.

Sumanto juga menyinggung ghirah modernisasi dalam bidang sosial keagamaan di Arab Saudi dan negara-negara Teluk wajib jadi contoh ummat Islam di Indonesia kalau ingin mewujudkan Islam rahmatan lil alamin. Ketika ini, di Timur Tengah sedang gencar modernisasi Islam selaku power jalan tengah (moderat), bukan Islam yang radikal maupun ultra liberal.

“Semestinya Islam moderat ini ditiru ummat Islam di Indonesia. Bakal tetapi yang terjadi di Indonesia, di satu sisi ummat Islam sebagai kubu yang ekstrem, radikal, intoleran, dan ndak menghargai keberagaman dan kebhinekaan. Di sisi lain, ada kubu ultra liberal yang ndak menghormati dimensi fundamental Islam itu sendiri,” ujarnya.

Sumanto juga menyoroti peran wanita dalam menangkal paham intoleran, radikalisme, dan terorisme. menurutnya, wanita wajib ikut aktif sebagai penggerak utama toleransi dan memerangi praktik-praktik intoleran dan radikalisme.

Di Arab Saudi dan Arab Teluk, kata dia, kaum wanita turut terlibat dalam memerangi gerakan ekstremisme dan kontra terorisme melalui program-program pemerintah.

“Di Indonesia, wanita juga wajib turut terlibat aktif selaku motor penggerak pluralisme dan kebangsaan,” ucap Sumanto.

Ketua Lingkar Wanita Nusantara LPN Cherly Sriwidjaja menjelaskan, pengaruh ajaran keagamaan garis keras yang menimbulkan penyimpangan-penyimpangan dalam pola pikir masarakat dinilai telah amat mengkhawatirkan.

“Ajaran-ajaran yang disusupi oleh paham-paham aksi anarkis dan bibit-bibit radikalisme sudah meresahkan dan mengganggu kestabilan situasi dalam negeri terutama di bidang politik, hukum dan keamanan,” katanya melalui keterangan tertulis di Jakarta.

Dia meneruskan, hal ini terjadi sebab sebagian masarakat salah dalam mempersepsikan negara Arab Saudi dan bangsa Arab yang dijadikan teladan oleh kelompok-kelompok Islam di Tanah Air.

(rmol.co/ suaraislam)

Loading...


Source by Ahmad Zaini

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :