Kenapa dalam Wudhu Disunnahkan Membasuh Anggota Wudhu 3 Kali?

Selain Berpahala, 3 Ibadah Ini Pancarkan Kecantikan Wajah

Kenapa dalam Wudhu Disunnahkan Membasuh Anggota Wudhu 3 Kali?

Membasuh dan mengusap atau menyapu ialah 2 hal yang tak sama. Membasuh ialah mengalirkan air ke bagian-bagian anggota wudhu, sedangkan mengusap ialah menyapu dengan tangan yang telah dibasahi dengan air.

Membasuh dan mengusap member wudhu 3 kali-tiga kali dalam fikih disebut dengan taslis. Adapun kesunahan taslis, dalam wudhu disimpulkan dari beberapa Penjelasan hadits, di antaranya:

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ الطُّهُورُ فَدَعَا بِمَاءٍ فِى إِنَاءٍ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلاَثًا ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا ثُمَّ غَسَلَ ذِرَاعَيْهِ ثَلاَثًا ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ فَأَدْخَلَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّاحَتَيْنِ فِى أُذُنَيْهِ وَمَسَحَ بِإِبْهَامَيْهِ عَلَى ظَ اهِرِ أُذُنَيْهِ وَبِالسَّبَّاحَتَيْنِ بَاطِنَ أُذُنَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثَلاَثًا ثَلاَثًا ثُمَّ قَالَ هَكَذَا الْوُضُوءُ فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا أَوْ نَقَصَ فَقَدْ أَسَاءَ وَظَلَمَ. أَوْ ظَلَمَ وَأَسَاءَ. رواه ابو داود

Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa ada seorang pria mendatangi Nabi SAW., lalu menanyakan, “Rasulullah, bagaimana cara bersuci itu?.” Maka beliau meminta supaya diambilkan air dalam ember lalu beliau membasuh ke-2 telapak tangannya sebanyak 3 kali. Lantas beliau membasuh wajahnya sebanyak 3 kali. Membasuh ke-2 lengannya 3 kali. sesudah itu beliau mengusap kepalanya, lantas memasukkan 2 jari telunjuknya ke dalam ke-2 telinganya dan mengusap bagian luar daun telinganya dengan ke-2 ibu jarinya, sementara ke-2 ibu jarinya mengusap bagian dalam telinganya. Lalu beliau membasuh ke-2 kakinya sebanyak 3 kali-tiga kali. Beliau lantas bersabda, “Demikianlah cara berwudhu. Sesiapa saja yang menambah atau menguranginya, sungguh ia sudah berbuat jelek atau zalim.” atau “berbuat zalim atau melaksanakan kejelekan.” (HR. Abu Dawud)Pengulangan wudhu 3 kali-tiga kali ini amat Penting diperhatikan, sebab kalau ditinggal wudhu seseorang akan dinilai makruh, kecuali kalau ada kepentingan yang mendesak (uzhur), seperti sebab waktu shalat yang telah nyaris habis atau terbatasnya persediaan air. Malah dalam keadaan seperti ini, melaksanakan taslis hukumnya ialah haram.

Lalu bagaimana kalau seseorang membasuh atau menyapu anggota wudhunya lebih dari 3 kali?. Imam al-Zarkasyi, ulama fikih kondang bermazhab Syafi’i – sebagaimana dilansir Sulaiman al-Bujairami – menerangkan bahwa mengurangi atau menambah lebih dari 3 kali basuhan atau usapan hukumnya sama-sama makruh.

Pandangan al-Zarkasyi ini dipahami dari Penjelasan Nabi:

فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا أَوْ نَقَصَ فَقَدْ أَسَاءَ وَظَلَمَ. أَوْ ظَلَمَ وَأَسَاءَ

“Sesiapa saja yang menambah atau menguranginya, sungguh ia sudah berbuat jelek atau zalim.” atau “Berbuat zalim atau melaksanakan kejelekan.”

Dan imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ membenarkan pandangan tersebut. Lantas Ibnu Daqiq al-‘Id memberikan jalan penyelesaian bagi orang yang ingin menambah basuhan atau usapan lebih dari 3 kali supaya terhindar dari makruh, supaya basuhan atau usapan yang ke-4 dan seterusnya dikerjakan dengan maksud atau niat tabarrud (supaya terasa segar).

Adapun wudhu Rasulullah yang terkadang dikerjakan cuma sekali-sekali atau 2 kali-dua kali cuma punya tujuan untuk menerangkan untuk umatnya akan kebolehannya, bukan dalam bentuk pensyari’atan.

Dalam hal ini, Ibnu al-Mubarok sebagaimana dilansir al-Mubarokfuri dalam bukunya, Tuhfadz al-Ahwadzi menjelaskan, “Saya tidak merasa aman, sanggup jadi orang yang membasuh atau mengusap anggota wudhunya lebih dari 3 kali akan berdosa.”

Pengulangan wudhu sebanyak 3 kali-tiga kali mesti diterima apa adanya selaku bentuk paketan dari syari’ (ta’abbudi) yang tidak bisa digali hikmah dan nilai rasionalitasnya. Akan tetapi berdasar spirit hadis al-dinu huwa al-‘aqlu la dina li man la ‘aqla lahu (Agama Islam ialah agama yang rasional, dan tidak dinilai sempurna agama seseorang kalau ia tidak mempergunakan rasionalnya), maka sebagian ulama menjelaskan bahwa taslis dalam wudhu ialah ta’aqquli (bisa digali nilai rasionaltisnya).

Pertanyaan yang mungkin muncul ialah kenapa pengulangan dalam wudhu mempergunakan angka ganjil 3, bukan 5 atau 7? Di antara angka-angka yang ada, angka ganjil 3 Adalah bilangan tengah, sedikit juga tidak berlebihan sedikit. Kalau yang dipilih Syari’ angka 5 atau 7 tentu akan memberatkan dan tentulah terjadi israf (berlebih-lebihan) dalam pemanfaatan air. Wallahu A’lam

Source by Ahmad Naufal

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.