Kenali Bibit Perilaku Khawarij yang Merasa Paling Islam dan Paling Sesuai Sunnah

Kenali Bibit Perilaku Khawarij yang Merasa Paling Islam dan Paling Sesuai Sunnah

Oleh: Tuisan Facebook Abdul Wahab Ahmad

Khawarij dikenal dalam sejarah islam selaku kubu radikal pertama yang mengotori kemuliaan ajaran agama dengan pemahaman ekstrem. Tindakan mematikan kejam Khalifah Utsman bin Affan dan Khalifah Ali bin Abi Thalib ialah tidak banyak contoh perilaku ekstrem mereka yang mengatasnamakan agama. Jargon “La hukma illa lillah”, tiada hukum kecuali milik Allah, mereka gunakan demi menyesatkan dan bahkan menghalalkan darah orang-orang muslim yang tidak sepaham dengan mereka. Enggak heran, Rasulullah pun dinilai ndak berlaku adil oleh salah seorang mereka.

Provokasi, pemberontakan sampai ragam tindakan mematikan ialah buah dari pikiran ekstrem mereka yang memahami dalil agama secara sempit. Sebelum itu seluruhnya terjadi, perlu diketahui pemikiran yang sebagai bibit-bibitnya. Bibit-bibit inilah yang berkemungkinan besar menjelma sebagai perilaku Khawarij, walaupun ndak semuanya betul-betul sebagai Khawarij dalam realitanya. Bibit-bibit itu ialah:

1. Merasa sebagai perwujudan al-Qur’an dan as-Sunnah.

Mereka merasa dirinya ialah perwujudan al-Qur’an dan as-Sunnah sehingga ucapan mereka ialah setara dengan keduanya. Siapa yang ndak setuju kepada pemikiran mereka dinilai menyalahi bahkan menentang al-Qur’an dan as-Sunnah itu sendiri. Mereka pantang menisbatkan pandangan mereka terhadap diri mereka sendiri, tapi seluruhnya keterangan yang keluar dari mulut mereka dinisbatkan pada al-Qur’an dan as-Sunnah.

Mereka menutup mata dan telinga dari fakta bahwa teks al-Qur’an dan as-Sunnah dapat dipahami secara beragam dan dipraktekkan secara beragam pula oleh para ulama. Mereka cuma meyakini satu penafsiran saja selaku penafsiran yang asli dan selain itu ialah penyelewengan.

Jika pun secara teori mereka mengklaim tidak maksum, tapi secara praktek mereka mengklaim orang paling maksum sebagaimana seluruh kaum muslimin mengakui kemaksuman al-Qur’an dan as-Sunnah. Sedangkan seluruh ulama yang tak sama pandangan dengan mereka dinilai ndak maksum, mampu salah dan tergelincir.

2. Enggak sanggup membedakan mana ranah muttafaq ‘alaihi dan mana ranah mukhtalaf fihi.

Dalam islam. hukum suatu hal itu adakalanya telah disepakati oleh seluruhnya orang islam (muttafaq ‘alaihi) dan adakalanya masih diperselisihkan (mukhtalaf fihi). Berikut ini contoh-contohnya:

Yang telah disepakati misalnya bahwa bid’ah itu haram dan pelakunya layak dijauhi. Seluruhnya mazhab islam setuju soal hal ini dan mecatat tidak sedikit buku tentangnya. Tetapi apakah suatu tindakan termasuk bid’ah atau ndak, itu lain cerita. Ada sahabat Nabi yang menyebut Shalat Tarawih dan Dhuha selaku bid’ah dan ada juga yang ndak. Apakah maulid Nabi merupakan bid’ah? jawabannya tergantung menurut ulama yang mana. Ini ialah ranah ikhtilaf.

Seluruhnya setuju bahwa shalat wajib ikut Nabi Muhammad. Ini ialah kesepakatan seluruhnya golongan. Namun apakah shalat yang ikut Nabi Muhammad itu berqunut kala subuh? Apakah dalam shalat yang seperti Nabi itu membaca bismillah (baik secara pelan atau nyaring)? Apakah wajib sesekali pakai sandal? dan seabrek pertanyaan lainnya. Jawabannya tergantung menurut ulama yang mana. Ini ialah ranah ikhtilaf.

Seluruhnya golongan setuju bahwa syirik itu dosa besar, bahkan paling besar. Ini ranah yang disepakati. Tetapi apakah seluruh tawassul dengan dzat termasuk kesyirikan? apakah seluruh tabarrukan termasuk kesyirikan? Jawabannya tergantung menurut siapa. Ini ialah ranah ikhtilaf.

Mereka yang dalam pikirannya tertanam bibit-bibit khawarij takkan sanggup membedakan antara ranah yang disepakati dan ranah ikhtilaf itu. Bagi mereka, seluruhnya pandangan dan pemahaman mereka sendiri ialah ranah yang disepakati sedangkan seluruh pemahaman yang tak sama ialah penyimpangan, kesesatan dan kebodohan. Karena itulah, mereka mudah memberikan vonis sesat, ahli bid’ah, ahli syirik, dan bermacam vonis lainnya terhadap siapa pun yang tak sama pandangan.

3. Cuma ikhtilaf internal mereka yang layak diperhitungkan.

Pada dasarnya, tidak seorang pun dapat menyangkal bahwa perbedaan pandangan ialah keniscayaan, termasuk orang dengan bibit-bibit khawarij itu. Tapi perbedaan pandangan yang mereka akui hanyalah perbedaan pandangan di internal mereka sendiri, bukan antara mereka dengan seluruh insan di jagat raya. Bila ulama atau ustadz mereka tak sama pandangan, maka ketika itulah mereka berpikir terbuka dan toleran. Tetapi tatkala ada perbedaan pandangan antara ulama atau ustadz idola mereka dengan tokoh lain yang walaupun bergelar mujtahid mutlak seperti para imam Mazhab sekalipun, maka ketika itulah mereka merasa memegang kunci kebenaran mutlak dan satu-satunya pihak yang punya dalil al-Qur’an dan as-Sunnah.

Mereka tahu bahwa para ulama seringkali tak sama pandangan. Para sahabat Nabi tak sama pandangan, para Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in tak sama pandangan, para Mujtahid pun tak sama pandangan. Akhirnya mereka melaksanakan tarjih dengan memilih pandangan yang menurut mereka paling sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Kelihatan beres dan tidak problem. Padahal kenyataannya mereka buta kepada realita bahwa para Sahabat, para Tabi’in sampai para mujtahid mutlak itu juga melaksanakan tarjihnya masing-masing. Mereka menutup mata dan telinga rapat-rapat dari fakta bahwa seluruhnya tokoh ulama yang betul-betul hidup di era salaf itu juga memilah dan memilih mana yang betul-betul mereka anggap sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.

Sebab menutup mata dan telinga itulah, maka mereka mampu dengan bangga berkata bahwa mereka ialah orang yang ikut dalil sambil mengesankan bahwa seluruhnya orang lain di jagat raya ini tidak ikut dalil. Dikiranya para ulama mujtahid itu ikut hawa nafsu dan lepas dari dalil sampai tergelincir. Faktanya, tarjih kepada dalil yang mereka lakukan tidak layak dibandingkan dengan tarjih kepada dalil yang dilaksanakan para imam mujtahid. Beda kualitas pelaku tarjih tentu beda kualitas hasil tarjihnya.

4. Enggak sanggup membedakan antara dalil dan syubhat.

Bila orang islam yang waras seluruhnya setuju bahwa shalat lima waktu ialah wajib, tapi ndak beginilah dengan orang-orang yang mengklaim muslim tetapi melenceng. Mereka menjelaskan bahwa shalat itu esensinya ialah demi mengingat Allah sedangkan mereka telah pada level senantiasa mengingat Allah sehingga shalat telah ndak wajib lagi atas mereka. Yang mereka ucapkan ini ialah syubhat atau kerancuan apologetik; sebuah alasan yang dibuat-buat demi menentang kebenaran syariat Allah. Argumen para ulama demi mematahkan syubhat itu dengan menukil ayat, hadis, serta ijmak yang berisi kewajiban shalat lima waktu ialah dalil.

Tapi, bagi orang-orang dengan bibit-bibit khawarij ndak beginilah prakteknya. Seluruh pijakan mereka disebut selaku dalil sedangkan seluruh pijakan orang-orang di alam raya ini yang tak sama kesimpulan dengan mereka disebut dengan syubhat. Akhirnya seluruh pembelaan mereka kepada pemahaman sempit mereka sendiri disebut selaku menepis syubhat. Makin fatal mereka dikalahkan dalam arena dialog, makin tidak mampu menjawab argumen lawan, maka makin percaya mereka bahwa syubhat sudah menyambar-nyambar. Akhirnya, mereka makin mengucilkan diri dan sebagai eksklusif, tahdzir sana dan tahdzir sini. Sulit sekali mereka ini sadar bahwa yang mereka menyebut selaku syubhat itu pada hakikatnya ialah dalil yang lebih kuat dari dalil mereka.

Itulah empat hal yang sebagai bibit-bibit perilaku khawarij. Faktor pertama ialah poin utama yang lantas melahirkan faktor-faktor seterusnya. Cuma hidayah Allah atau kematian saja yang mampu membikin pemikiran sempit mereka itu berakhir. Semoga kita seluruhnya jauh dari sifat-sifat yang sebagai bibit-bibit khawarij ini. Amin.

Semoga berguna.

Source by Hakim Abdul

You might like

About the Author: Hakim Abdul

Jika ada ditemukan artikel yang salah, dan lain-lannya, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.