Kelompok Prabowo Tidak Sanggup Saingi Narasi Joko Widodo

Kubu Prabowo Tak Bisa Saingi Narasi Jokowi

Kelompok Prabowo Tidak Sanggup Saingi Narasi Joko Widodo

Tatkala saya mencoba menegasikan propaganda ora mutu, sentimen agama yang dikapitalisasi, fitnah yang diamplifikasi, hoaks yang diamplifikasi, insinuasi… dan sejenisnya, pada hari-hari terakhir ini saya menemukan narasi yang terlalu keren dari “perdebatan” mengenai hal 2 capres yang akan berlaga dalam pemilihan presiden pada 2019.

Pak Prabowo dan tim kampanye yang memperkenalkan prestasi Pak Prabowo mencapai puncak Gunung Everest ialah narasi yang keren. Itu ialah simbol keniscayaan kerja keras, koordinasi yang rapi, logistik yang cukup, dan evaluasi terus-menerus dari suatu program kerja.

Pak Jokowi yang mempergunakan narasi mengenai hal Avengers dan Game of Thrones ialah simbol keniscayaan kerja keras, kebersamaan semua elemen bangsa, dan kewaspadaan pada Pergantian zaman yang begitu cepat untuk mencapai kegemilangan bangsa ini.

Kurang keren apa coba narasi-narasi itu? Saya selaku masyarakat bangsa Indonesia yang meyakini tagline “Saya Cinta Indonesia” selaku kesejatian diri saya menangkap suatu pertalian langsung antara narasi-narasi itu dengan kedirian saya, kesejatian saya.

Tema mengenai hal mencapai puncak Gunung Everest ialah tema keren yang langsung terpaut dengan kedirian saya. Bukan sebab saya pendaki gunung. Itu ialah kedirian saya selaku “cah nggunung” dan suka membaca kisah-kisah mengenai hal kepencintaalaman.

Buku kumpulan tulisan Norman Edwin mengenai hal mendaki gunung, menyusuri gua, dan kepencintaalaman lainnya ialah 1 dari ribuan buku koleksi saya yang sudah saya baca berkali-kali dan saya tidak pernah bosan membaca buku itu.

saya malah merasa senantiasa memperoleh sensasi baru waktu membaca ulang buku kumpulan tulisan Norman Edwin itu. Saya juga mengoleksi beberapa buku lainnya mengenai hal kepencintaalaman.

Loading...
loading...

Soe Hok Gie yang maha siswa dan aktivis itu ialah pendaki gunung. Saya mengoleksi dan membaca buku biografi Gie dan buku-buku karya dia. Dari Gie saya berkesimpulan kepencintaalaman dan intelektualisme ialah sepaket.

Yang paling berkesan lainnya ialah kala masa SMA saya sering turun gunung ke Kota Jogja dan mampir di sebuah toko peralatan petualangan outdoor. Di toko itu saya rutin berbelanja majalah terbitan Wanadri. Sayang, koleksi majalah spesial ini sudah lenyap seluruh dimakan cuaca kaki Gunung Merapi yang tidak bersahabat dengan buku dan majalah.

Narasi mengenai hal Game of Thrones dan Avengers juga dengan telak menyentuh kedirian saya. Masa kecil saya lewati dengan keakraban bareng superhero. Semenjak SD saya pembaca komik Pendekar Trigan, Deni Manusia Ikan, Album Cerita Ternama yang jadi etalase sekian beberapa superhero, dan ragam komik superhero lainnya.

Narasi mengenai hal superhero ialah simbol mengenai hal Kewajiban memerhatikan daya sokong lingkungan bagi kehidupan manusia dan Kemajuan kemanusiaan kita.

Avengers dan Game of Thrones serta cerita superhero lainnya sesungguhnya bukan sekadar cerita hitam putih mengenai hal penjahat dan bukan penjahat. Ini ialah narasi dan simbol mengenai hal dunia dan daya dukungnya bagi kehidupan manusia dan kemanusiaan.

Tatkala kemanusiaan dinegasikan otomatis merusak daya sokong lingkungan bagi kehidupan manusia. Avengers dan Game of Thrones ialah pelajaran mengenai hal menjaga bumi, menjaga dunia, supaya senantiasa pas dan ramah bagi manusia dan kemanusiaan.

Kurang keren apa coba narasi-narasi itu? Sekali lagi, itu dengan menegasikan propaganda ora mutu, sentimen agama yang dikapitalsiasi, fitnah yang diamplifikasi, hoaks yang diamplifikasi, insinuasi… dan sejenisnya. Jikalau ternyata ini seluruh masih ada, ya tidak jadi keren sama sekali.

Sumber : Status Facebook Ichwan Prasetyo

(redaksiindonesia/ suaraislam)

Loading...


Suara Islam Shared by Ahmad Zaini

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :