Kelebihan Orang Indonesia Mirip Ahlul Madinah

Website Islam Institute

Habib Muhammad Al-Junaid: Kelebihan Orang Indonesia Mirip Ahlul Madinah

Kelebihan orang Indonesia ialah lebih mirip ke ahlul Madinah, orang yang hatinya lapang dalam menerima agama Islam. Mereka orang Madinah begitu rindu pada Rasulullah, Anda semua punya sifat yang tidak jauh dari ini,” kata habib Muhammad memuji kajian agama Kliwonan ini dengan rasa gembira.

Berikut catatan perjalanan ustadz Abdul Wahab di Tegal, semoga jadi motivasi bagi kita untuk lebih giat dan rajin beramal shalih dan dan kian ringan dalam melaksanakan amalan-amalan Sunnah Rasul saw. Dan catatan perjalanan tholibul ilmi ini jadi khasanah keagamaan kita. Yuk kita simak laporannya….

=========================

Kami berkesempatan berkunjung acara Kliwonan di Cikura. Nama acara lengkapnya ialah “Kajian agama Akbar dan Istighatsah Kubro Malam Jum’at Kliwon di Desa Cikura, Bojong Kab. Tegal” atau akrab dan pendeknya kami menyebut “Kliwonan Cikura”. Acara besar ini Adalah acara rutin dari Pondok Pesantren Attauhhidiyyah di Tegal dan Cikura untuk warga umum secara luas. Waktu ini nama pondok pesantren di Giren berubah jadi pondok Syeh Said Bin Syeh Armia dan di Cikura berubah nama jadi pondok Syeh Armia Bin Syeh Kurdi. Susunan acara diawali dari pembacaan yasin dan tahlil juga ziarah kubur, kajian kitab Sulam at-Taufiq dan ad-Dasuqi, pembacaan asmaul husna dan shalawat Mudhariyyah serta ditutup dengan istighatsah bersama-sama.

Ribuan orang berbondong-bondong memadati acara dari bermacam penjuru Hadir ke desa ini melawan udara nan dingin menusuk. Ada yang Hadir dari Jakarta, Cirebon, Banjarnegara, Pemalang, Pekalongan, Batang, dan tentu dari Tegal sendiri dengan bermacam kendaraannya masing-masing menempuh jalan terjal dan berbukit. Mereka datang dengan niat mencari ilmu, berkumpul bersama-sama ulama dan para sholihin dan mencari keberkahan majelis dzikrullah.

Malam Jum’at Kliwon, 18 September 2015, saya Sampai kira-kira sehabis Isya saat maulid tengah dibaca. seusai doa maulid selesai lalu para hadirin membaca doa ta’lim dan kalamun qodimun yang dipimpin oleh pengasuh pondok pesantren, yaitu KH. Ahmad Saidi. Semoga Allah Swt. memanjangkan umur dan memberikan kesehatan selalu ke beliau.

a. Kajian agama KH. Ahmad Saidi

Kajian agama pun diawali dengan meneruskan Penjelasan beliau perihal isi kitab Sulam at-Taufiq bab maksiat hati. Diterangkan bahwasanya, “kita Penting mewaspadai maksiat hati sebab itu sifatnya samar-samar. Di dunia ini ada maksiat yang kelihatan ada yang tidak. Beberapa contoh maksiat yang tidak kelihatan seperti menganggap remeh orang lain, mengecilkan orang lain, riya dll.”

“Misalnya saat kita shalat Tahajud, tapi di hati berkata: “Wah orang-orang tengah terlelap tidur, tengah saya shalat”. Atau saat kita menggunakan pakaian, menggunakan minyak wangi, ternyata supaya dipuji orang. Kita niat mengeluarkan makanan supaya dinilai murah hati, bukan niat lillahi ta’ala tapi niat sebab manusia. Sesungguhnya maksiat itu secara pembagian ada yang khafi (tidak kelihatan) ada yang jalli (kelihatan). Bermacam contoh kongkrit dipaparkan dalam Penjelasan ini secara komprehensif dan detail oleh kiai Ahmad Saidi.

Ada contoh penting relevan dengan bulan haji ini mengenai hal bagaimana orang yang kelihatan beribadah tapi ternyata tengah maksiat. Orangnya menggunakan kopyah tapi untuk dipanggil haji, supaya terhormat, supaya kelihatan di mata warga selaku “haji”. Ini ialah ibadah tapi aslinya tengah maksiat. “Amalnya dapat bubar seluruh pahalanya karena maksiat hati”, pesan beliau.

Beliau meneruskan dengan 1 cerita, “pernah terjadi di Jaman Mbah Kholil Bangkalan. Suatu hari Mbah Kholil merilis pada santri-santrinya bahwasanya beliau akan kehadiran Nabi Khidir. Santri-santripun lalu bergegas bersiap-siap, menggunakan wewangian dan pakaian-pakaian terbaiknya untuk menyambut Nabi Khidir ini.

Lantas di luar Sangkaan mereka, datanglah seorang pasukan Belanda yang mukanya amat bengis dan seram sehingga murid-murid Mbah Kholil pun panik dan mengambil senjata-senjata seadanya seperti bambu, parang dan lain-lainnya takut-takut gurunya akan disakiti oleh pasukan itu. Tetapi Mbah Kholil menerimanya dengan halus dan menyuruhnya masuk lalu menutup pintu.

Di luar santri-santri menunggunya dengan kuatir. Beberapa santri juga mengintip di luar kamar dengan harap-harap cemas. Lantas keluarlah dari ruangan itu seorang pengemis dan santri-santri pun malas bersalaman dan orang itu pun sudah berangkat. seusai itu baru santri-santri menyesal sebab Mbah Kholil berkata itu yang barusan masuk dan keluar ialah Nabi Khidir.”

KH. Ahmad meneruskan ceritanya, “Di Tanah jawa jaman dahulu kala juga ada majelis wali lalu ada orang berpakaian seperti orang ngarit, ternyata dia ialah pemimpin wali pada masa itu. Seluruh yang datang terheran-heran dan lalu meminta bukti. Wali tersebut berdoa meminta bukti dan lalu hujan besarlah semua tanah Jawa tetapi di majelis itu tidak kehujanan sedikitpun.”

“Ada pula wali yang berkumpul di Lebanon untuk membicarakan problem yang penting. Siapa yang paling tinggi pangkatnya di sana? Ternyata ada orang menggunakan kuda dan dikawal berwujud pasukan. Ternyata itu ialah wali quthub,” kata kiai Ahmad.

Poin KH. Ahmad Saidi dari cerita sejarah ini ialah, kita jangan meremehkan orang lain (jangan menyaksikan luarnya saja) sebab kita tidak tahu siapa dia dan juga itu Adalah maksiat hati. Penjelasan berlanjut, “apabila kita disuruh untuk mengaji tapi tidak mau, itu juga takabbur.”

“Analoginya saat ada orang yang melarat, orang susah tengah lapar tapi Tidak mau diberi nasi/makanan tapi dia Tidak mau diberi makanan itu dengan kecongkakannya. Itu artinya sombong. Nah jika panjenengan diajak kajian agama tidak mau itu juga sombong ke Allah. Ada adzan Dzuhur tidak mau shalat, itu juga sombong. Karena sombong bukan cuma omongan, ketinggian kata-kata dan hati tapi saat perintah Allah diabaikan. Karena perintah Allah Adalah perintah tertinggi. Kita membandingkan perintah antar manusia saja itu kadang wajib dipatuhi (misal pasukan) apalagi antara Tuhan dan makhlukNya. Su’ul adab kepada Tuhan ialah saat kita melalaikan perintahnya.

Kita minum air siapa? Siapa yang menjalankan jantung? Diundang Allah tidak mau? Jika tangan kita tidak dapat bergerak bagaimana? Telinga kita tidak dapat menguping bagaimana? Kita begitu sering mengabaikannya, su’ul adab. Tetapi, begitu baiknya Allah sebab lebih mendahulukan rahmatNya ke kita.” Papar kiai Ahmad.

“Puncaknya kebaikan ialah husnul khatimah. Dan puncaknya kejahatan ialah mati kafir. Kuburan kita makin dekat. Kita wajib jadi makin baik senantiasa, dari hari ke hari. Jangan mengecilkan orang lain, kita lihat walaupun ke Yahudi, Nabi masih hormat. Kita tidak tahu dia nanti bisa hidayah, masuk surga. Kita jangan sampai menganggap orang lain kecil. Ini maksiat yang tidak kelihatan.” Kata KH. Ahmad Saidi bin KH. Said bin Syaikh Armia.

Kajian pun dilanjutkan dengan mengaji tauhid kitab ad-Dasuqi halaman 167 yang membicarakan mengenai hal sifat qudrat, iradat, ilmu dan hayat. 4 sifat ini wajib (wajib secara logika) ada di Sang Pencipta. Qudrat kuasa, iradat kersa/mau, ilmu itu mengerti, dan hayat itu hidup. Bermacam contoh logika dan analogi dipaparkan KH. Ahmad selaku penjelasan untuk mempermudah audiens. Waktu bergulir dan lalu KH. Ahmad mempersilakan adiknya, KH. Muhammad Hasani untuk meneruskan mauidzah hasanah.

b. Kajian agama KH. Muhammad Hasani

KH. Hasani mengucap salam dan lalu mengucapkan selamat Hadir ke dai-dai Allah dari yang jauh-jauh Hadir dari Republik Yaman. Pada Peluang ini KH. Chasani membuka dengan kalam pesan Syaikh Muhammad Ibn Fadhal al-Balkhi (Balkh/Afganistan yang wafat kisaran tahun 319 H/931 M). Imam Ibn Fadhal ditanya perihal siapa orang yang celaka? Lantas beliau menjawab: “Ialah orang-orang yang: 1) Diberi rizki ilmu tapi tidak diberi rizki amal. 2) Diberi ibadah yang beberapa tapi tidak diberi ikhlas dalam beribadah. 3) Diberi rizki mengenal orang-orang shaleh tapi tidak mau memuliakan mereka.”

KH. Hasani merinci penjelasan bab ‘ilmu yang berguna’ di atas dengan perkataan Imam Syafi’i: “Ilmu bukan yang dihapalkan oleh lisan tapi ilmu ialah yang berguna”.

Dilanjutkan dengan kutipan dari kalam Syaikh Yahya bin Muadz ar-Razi (wafat di Naishabur/Iran tahun 258 H), beliau berkata bahwa: “Barangsiapa yang mencari ilmu tujuannya cuma semata-mata ilmunya tapi bukan amalnya maka ilmu itu tidak akan berguna untuknya. Tetapi barangsiapa yang berangkat mencari ilmu dengan maksud amal, maka sekalipun ilmunya sedikit tetapi pasti akan manfaat untuknya.”

Penjelasan dilanjutkan dengan kutipan kalam al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad atau terkenal dengan Imam Haddad (meninggal di Tarim 1132 H): “Barangsiapa memposisikan dirinya di depan Allah seperti budak di depan tuannya, maka dia akan meraih seluruh kesempurnaan.”

KH. Hasani mengajak hadirin bermuhasabah, “bila kita mengukur ketaatan kita sesama manusia pada majikan, kalau diibaratkan karyawan lalu dianalogikan ketaatan kita ke Allah maka kita itu hamba yang disenangi, dipuji, atau dicaci oleh Allah? Kita beribadah wajib ikhlas.”

Ada sebuah cerita yang diceritakan KH. Hasani untuk menerangkan poin ini. Suatu hari seorang kyai yang bekerja selaku penenun, dengan amat hati-hati menenun menginginkan harganya dapat mahal. seusai tenunannya rampung, lalu hendak dijual ke Pasar ternyata ditawar dengan harga rendah. Maka kiai itu pun menangis, bukan sebab kain hasil tenunannya ditawar dengan harga murah, tapi sebab teringat pada amal-amalnya. “Bagaimana kalau amalnya tidak diterima atau dihargai murah oleh Allah?”

Beliau juga menceritakan perihal cerita di dalam kitab Thabaqat al-Auliya mengenai hal seseorang yang tidak memperoleh faedah dari Syaikh Muhammad Fadhal sebab tidak takdzim dan menghormati ulama besar ini. KH. Hasani pun mengakhiri mauidzah hasanahnya.

KH. Ahmad Saidi juga mengucapkan selamat Hadir ke para tamu ulama dari Yaman, sambil memperkenalkan ke para hadirin. Hadir di tengah-tengah kita ialah Habib Muhammad bin Abdullah al-Junaid, tangan kanan Habib Umar bin Hafidz. Hadir pula Habib Husein bin Hamid Ba’alawi, Habib Alwi bin Ibrahim Bilfaqih (putra Munsyid Ba’alawi). Ada pula Habib Hilmi bin Khalid Alkaff dari Jakarta, murid Habib Umar bin Hafidz yang akan menerjemahkan dari bahasa Arab ke Indonesia.

c. Ceramah Habib Muhammad Al-Junaid

Habib Muhammad bin Abdullah Aljunaid pun dipersilakan untuk memberikan mauidhoh hasanahnya. Habib Muhammad mengucap salam dan membuka dengan shalawat.

“Kita wajib bersyukur bahwasanya kita datang di tempat yang mulia ini. Beliau berkata bahwa kehadiran ini mengingatkannya pada memorinya dulu. Habib Mundzir sering meminta beliau untuk mendatangi KH. Ahmad Saidi, tapi waktu belum mempertemukannya di sini. Mungkin hikmahnya supaya kerinduan bertambah. Tetapi alhamdulillah malam hari ini dapat Hadir ke sini. “Tugas saya berkhidmah ke ulama dan mentaati perintah ulama. Itulah yang diperintahkan guru saya, Habib Umar bin Hafidz.”

Baginda Rasul Saw. berpesan: “Muslim ialah 1 badan, akan sakit kalau 1 badan yang lain sakit.” Ini ialah maksud dari perkumpulan ini (Jum’at Kliwonan). Kumpulan ini menghasilkan kasih sayang yang tinggi. Inilah yang diinginkan Allah dan diusahakan Nabi supaya kita menjaga Islam dan memenangkan agama Islam. Ummat Islam wajib bersatu, jangan ada sekat antara Arab-Jawa, perbedaan membuahkan perpecahan. Kita berkumpul dan bersatu di sini untuk memenangkan agama Islam. “Buahnya ialah kita menebarkan kasih sayang. Kita seluruh menjaga ini. Tetap menjaga kasih sayang dimana-mana. Ini akan terjaga dengan perkumpulan-perkumpulan seperti ini.”

Beliau menyampaikan pujian majelis ini dari ulama-ulama Hadhramaut, “Anda semua di sini mempunyai seluruh cahaya Baginda Rasul, Anda semua mempunyai perjuangan Rasulullah dan memperoleh bagian dari perjuangan Rasul.”

“Kelebihan orang Indonesia ialah lebih mirip ke ahlul Madinah, orang yang hatinya lapang dalam menerima agama Islam. Mereka orang Madinah begitu rindu pada Rasulullah, Anda semua punya sifat yang tidak jauh dari ini,” kata habib Muhammad memuji kajian agama Kliwonan ini dengan rasa gembira.

Beliau berpesan kita mesti mengupas dan belajar sejarah ulama terdahulu. Tetapi juga perjuangan kita tidak cukup sampai di sini sebab kita mesti mengajak hitungan total yang lebih besar selaku power Islam. Beliau menginginkan majelis Kliwonan ini istiqomah, meneruskan yang sudah dilaksanakan Rasulullah yang dulu juga bermajelis seperti ini. Paling penting bukan ummat yang Hadir beberapa tetapi ialah kebersamaan kita, berkumpul dengan guru dan orang-orang shalih. Kebersamaan ini penting sebab bersambung dengan sanad guru-guru kita.

Dahulu ada cerita anjing yang masuk surga sebab menemani ashabul kahfi, hikmahnya kita wajib menyaksikan dengan siapa kita berteman. Apabila anjing dapat masuk surga sebab menemani orang shalih maka bagaimana dengan kita manusia yang khidmat ke para shalihin? Tentu akan lebih dari ini.

Habib Muhammad juga berkisah mengenai hal pelepah pohon kurma yang tidak dipakai lagi di mimbar Rasulullah. Pelepah itu menangis dan Rasululah pun memeluknya dan membisikkan kata-kata kepadanya: “Engkau akan terus menemaniku di dunia dan akan hidup sampai kiamat, atau engkau berhentilah menangis dan selamanya akan menemaniku di surga?”

Pelepah itu memilih berhenti menangis dan menemani Nabi di Surga. “Bagaimana kondisi dekat kita dengan Rasulullah? Bagaimana hubungan kita dengan guru-guru kita?” Ajak beliau selaku instrospeksi bersama-sama.

Terakhir, beliau menyampaikan bahwa kedatangannya di Majelis Kliwonan ini juga tidak lepas dari karena Habib Abdurrahman bin Syaikh Alattas. Hubungan KH. Ahmad dengan Habib Syaikh Alattas amat baik. Beliau mengajak kita seluruh berdoa supaya KH. Ahmad dan KH. Hasani panjang umur dan selalu sehat senantiasa.

d. Ceramah Habib Husein Ba’alawi

Lantas Habib Husein bin Hamid Ba’alawi dipersilakan oleh KH. Ahmad untuk menyampaikan mauidzah penutup sesudah Habib Muhammad. Habib Husein menyampaikan mauidzah pendek mengenai hal keutamaan malam Jum’at yang kita seluruh di sini tengah memuliakannya.

“Beberapa-banyaklah membaca shalawat di malam Jum’at atau di hari Jum’at, khususnya membaca Dalailul Khairat.” Beliau juga bercerita bagaimana sejarah Dalailul Khairat ditulis. Acara pun dilanjutkan dengan Istighatsah dan doa bersama-sama.

Kunjungi www.facebook.com/muslimedianews Sumber MMN: http://www.muslimedianews.com/2015/09/kata-ulama-yaman-kelebihan-orang.html#ixzz3mWkAZd3A

You might like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.