Kegamangan Kaum Nasionalis Berhadapan dengan Kaum Radikal

Kegamangan Kaum Nasionalis Menghadapi Kaum Radikal

Kegamangan Kaum Nasionalis Berhadapan dengan Kaum Radikal

Nabi Muhammad saw bersabda: “saban Anda semua ialah penggembala, dan seorang penggembala akan ditanya soal gembalaannya” (kullukum ra’in wa kullu ra’in mas’ulun ‘an ra’iyyatihi), dan ini Adalah landasan moral bagi saban penduduk negara untuk mempersoalkan orientasi dan teori pembangunan nasional yang dipakai di negara-nya.

Waktu ini kaum Nasionalis (para pembela NKRI) mengalami ujian yang terlalu berat. Dari sisi kiri mereka diserang oleh kaum liberal yang menyebarkan faham Humanisme Liberal. Faham ini berpijak pada kebebasan individu berdasar nilai-nilai HAM universal. Mereka menganggap nasionalisme telah usang sebab sanggup membelenggu kebebasan individu. Dari sisi kanan, kaum Nasionalis berhadapan dengan kubu radikal fundamentalis yang ingin mengganti dasar negara Pancasila dengan Alquran-Hadits dan merubah bentuk negara NKRI dengan negara Islam. Kubu yang memahami ajaran agama secara tekstual skripturalis ini menganggap nasionalisme ialah bid’ah dan NKRI ialah thoghut sebab tidak berdasar Alquran-Hadits.

Dengan sokongan teknologi info (medsos) ke-2 gerakan yang sudah merongrong ideologi negara ini menyebar dengan cepat dan menggerus ghirah nasionalisme. Seperti tampak dalam fenomena pergeseran dari “citizenship” (ikatan kewargaan berdasar ideologi dan teritorial negara) ke “nitizenship” (suatu ikatan kewargaan di dunia maya yang melampaui batas teritorial negara dan menembus seka-sekat ideologis).

Berhadapan dengan ke-2 intimidasi ini kaum Nasionalis tampak gamang. Mereka tidak sanggup bersikap dan bertindak tegas kepada bermacam manuver yang ditunaikan para aktivis gerakan transnasional baik yang dari kanan maupun kiri yang sudah menghancur-leburkan ideologi negara atas nama kebebasan dan agama. Sikap ini tampak terang pada aparat negara dan kubu sipil lainnya (ormas). Sikap tidak tegas ini muncul sebab ketakutan dinilai anti Islam dan memusuhi ummat Islam kalau menindak tegas para aktivis gerakan transnasional yang sudah merongrong spirit nasionalisme.

Hal ini tampak terang dalam Perkara pembakaran bendera HTI di Garut. Keberanian Banser bertindak tegas kepada ormas terlarang HTI sudah dipelintir seakan Banser memusuhi dan menghina Islam sehingga jadi sasaran caci maki. Saya tidak sanggup membayangkan kalau yang melaksanakan hal itu bukan Banser. Kalau organisasi yang mempunyai akar keislaman yang kuat saja sanggup dihujat dan dicaci maki, apalagi kalau tindakan tersebut ditunaikan oleh kubu yang tidak mempunyai basis keislaman yang kuat.

Loading...
loading...

Kecuali itu kegamangan kaum Nasionalis juga sebab takut dituduh menabrak HAM dan kebebasan individu masarakat. Ini tampak tatkala pemerintah mengeluarkan Perpu Ormas dan pelarangan HTI selaku usaha pencegahan dini kepada gerakan radikal yang mengancam kedaulatan negara. Tindakan pemerintah ini memperoleh reaksi keras tidak cuma dari HTI tapi juga dari kaum liberal sebab dinilai memberangus kebebasan.

Akibat tindakan yang gamang ini gerakan transnasional menggerus nasionalisme jadi makin liar tidak terkendali. Pemerintah jadi tampak lemah sebab tidak punya nyali bersikap tegas pada ormas terlarang seperti HTI. Padahal selaku organisasi terlarang, posisi HTI sama dengan PKI di depan hukum. Keduanya ialah kubu dan faham yang tidak boleh hidup di negeri NKRI yang berdasar Pancasila. Tetapi sebab HTI mempergunakan simbol agama mereka mudah mengelabui massa. Beberapa masarakat yang tertipu oleh logika dangkal HTI Soal Islam yang disampaikan secara provokatif.

Sikap gamang aparat negara dalam menyikapi manuver politik kaum radikal transnasional ini terlalu berbahaya sebab sanggup memancing timbulnya konflik horizontal. Khususnya antara kubu sipil (ormas) Nasionalis yang telah tidak tahan menyaksikan ideologi negaranya terancam dengan ormas terlarang, yang terus melaksanakan provokasi dan manuver merongrong negara atas nama agama. Seperti tampak dalam Perkara pembakaran bendera HTI di Garut.

Untuk mecegah meluasnya benturan dan konflik sosial di masarakat maka Penting ada tindakan tegas dari aparat negara kepada kubu yang mengancam ideologi dan kedaulatan negara. Tidak usah gamang dan ragu menghancur-leburkan gerakan yang akan mengganti ideologi dan dasar negara, walaupun tindakan tersebut ditunaikan atas nama agama.

Sungguh ada risiko akan ada perlawanan dari kubu masarakat, khususnya mereka yang pemahaman agamanya dangkal dan simbolik sehingga mudah tertipu oleh provokasi HTI. Tetapi kalau aparat bertidak tegas sesuai dengan koridor hukum, maka kebanyakan rakyat akan menyokong, dan dengan cara ini konflik horizontal akan bisa dicegah.

Dan yang tidak kalah penting, kaum Nasionalis wajib kompak bersatu menyokong aparat bertindak tegas. Jangan sampai mereka dibiarkan sendiri sehingga kehilangan legitimasi berhadapan dengan gerakan para pengkhianat negara. Dengan seperti ini Banser tidak lagi merasa sendirian mempertahankan NKRI harga mati, sehingga dia tidak lagi jadi sasaran hujatan dan caci maki cuma sebab cintanya pada NKRI.

Al-Zastrouw

(islami.co/ suaraislam)

Loading...


Shared by Ahmad Zaini

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :