Kebebasan Beragama: Menyorot Kembali Dalil-Dalil Agama

Kebebasan Beragama: Menyorot Kembali Dalil-Dalil Agama

Kebebasan Beragama: Menyorot Kembali Dalil-Dalil Agama


Istilah kebebasan beragama menurut David E. Apter pada mulanya mengacu terhadap masyarakat-masyarakat yang majemuk. Menurut Musdah Mulia kebebasan beragama ialah suatu kebebasan yang amat dibutuhkan secara mutlak bagi pemeliharaan dan penjagaan atas martabat insan di dalam masarakat yang terorganisasikan selaku satu kategori penjagaan paling minimum yang dapat diterima. Seorang sufi sekaligus ilmuwan Iran, Syed Hossein Nasr memilah dua bentuk kebebasan beragama:

Pertama, kebebasan sebagai (freedom to be), yang ditandai oleh pengalaman keberadaan-diri yang asali berhubungan dengan mistikisme yang perhatian utamanya ialah kebebasan pribadi, bukan kebebasan politis. Kebebasan pribadi ialah kebebasan mutlak (absolute or infinite freedom), yang terdapat di dalam kehidupan spiritual, yang juga disebut selaku kebebasan moral (kebebasan menentukan sendiri tanpa hambatan sebab-sebab eksternal), atau kebebasan batin pada pikiran dan imaginasi.  Kedua, kebebasan bertindak (freedom to act) yang ada dalam batas-batas yang dipaksakan oleh realitas eksternal terhadap insan.

Banyak sarjana modern cukup dibuat kliyengan dengan persoalan hadis man baddala dinahu faqtuluhu. Banyak berpendapat bahwa hadis man baddala dinahu faqtuluhu merupakan hadis ahad. Selaku hadis ahad, dalam pandangan Abu Hanifah dalalatnya ialah dzanni (relatif). Dengan begitu, maka hadis tersebut ndak dapat menasakh ayat Al-Quran sebab dalalatnya Al-Quran ialah qath’I.

Riwayat senada dengan redaksi tak sama, diriwayatkan Imam Malik, dari Zayd ibn Aslam bahwa Rasulullah bersabda, “Man ghayyar dinah fa ‘dribu unuqah” (barangsiapa mengubah agamanya, maka pukullah lehernya)”. Menurut Imam Malik, maksud dari hadis ini ialah barangsiapa keluar dari Islam dan berpindah ke yang lain, misalnya sebagai kafir zindiq, maka hukuman yang pantas untuknya ialah hukum bunuh.

Dikisahkan bahwa Rasulullah pernah menyampaikan Abu Musa ke Yaman. Selang banyak waktu, Rasulullah menyampaikan Mu’adh ibn Jabal ke tempat yang sama. Sama di sana Mu’adh dipertemukan dengan seorang laki-laki. Mu’adh menanyakan, “Siapa laki-laki itu?.” Dijelaskan, pada mulanya laki-laki itu beragama Yahudi, lalu masuk Islam akan tetapi banyak waktu lalu ia kembali masuk agama Yahudi. Mu’adh berkata, “Saya ndak bakal turun dari pelana unta ini sampai ia dibunuh sebagaimana perintah Allah dan Rasul-Nya”. Atas dasar itu maka dibunuhlah laki-laki tersebut sesudah sebelumnya diberi kesempatan bertaubat selama dua puluh hari atau dalam dalam riwayat yang lain dua bulan.

Dalam riwayat lain, Al-Husaini menambahkan sebuah hadis yang diriwayatkan Aisyah bahwa pada Perang Uhud ada seseorang wanita murtad. Nabi Muhammad memerintahkan supaya orang yang bersangkutan disuruh bertaubat, sekiranya ndak mau, maka ia wajib dibunuh. Cerita senada juga diriwayatkan Jabir sebagaimana dilansir Abu Ishaq Al-Syairazi. Bahwa pernah suatu kala wanita bernama Ummu Ruman murtad. Nabi memerintahkan supaya wanita tersebut bertaubat, sekiranya ia malas kembali maka wajib dibunuh.

Jamal Al-Banna mengusulkan bukti lain. Menururtnya, pernah suatu kala di zaman Nabi Saw. ada dua belas laki-laki Muslim yang keluar dari Islam, di antaranya ialah Al-Harits ibn Suwaid Al-Anshari. Dua belas orang itu lalu keluar dari Madinah ke Mekah. Sekalipun telah keluar dari Islam, Nabi Saw. ndak menghabisi mereka. Nabi Saw. ndak memerintahkan sahabat mengejar mereka demi dibunuh.

Konon kejadian kembalinya Al-Harits ibn Suwaid terhadap agama yang dipeluk sebelum datangnya agama yang dibawa Muhammad S aw. sebagai karena diturunkannya ayat wa mayyabtaghi ghairal islamadina. Cerita senada juga terdapat dalam Al-Sirat Al-Nabawiyah Ibn Hisyam. Ubaidillah ibn Jahsy sesudah berpindah berbarengan istirnya (Ummu Habibah binti Abi Sufyan) ke Habasyah, ia kembali memeluk Kristen dan meninggal dalam kondisi Kristen.

Muhammad Husain Haikal dalam Hayatu Muhammad menerangkan, semenjak awal sampai periode Madinah, Muhammad Saw. memang punya cita-cita politik memberikan kebebasan terhadap tiap-tiap ummat, baik Islam maupun Yahudi demi menjalankan ajaran agamanya. Ini sebab disadari, kebebasan merupakan sarana paling efektif mencapai kesatuan integral.

menurut penjelasan tersebut Abd Moqsith Ghazali menyimpulkan bahwa kebebasan beragama bukan cuma memperoleh legitimasi normatif-teologis, melainkan dikukuhkan dari sudut pandang politik. Pandangan yang senada juga dikatakan Aisyah Abdurrahman bintu Al-Syāthi’. Menurut dia larangan pemaksaan beragama itu ialah demi memastikan bahwa akidah itu sungguh-sungguh bersumber dari keyakinan hati, sebab ndak ada iman yang benar kecuali bila berasal dari hati yang tulus, murni, tenang dan jujur. Pemaksaan cuma bakal menghasilkan pengakuan di mulut, tetapi pengingkaran di dalam hati, dan itu ialah kemunafikan yang oleh Islam dinilai selaku kekafiran yang paling jahat.

Jaminan atas kebebasan beragama menurut Abd Moqsith Ghazali juga diakui dalam Islam dengan didasarkan pada teks Q.S. Al-Baqarah ayat 256. Sekalipun hadis man baddala dinahu faqtuluhu benar datang dari Nabi, sebagaimana dikatakan Abd Moqsith Ghazali, dalam catatan sejarah Nabi sendiri ndak pernah menerapkan hadis tersebut. Lanjut, Abd Moqsith Ghazali berpendapat bahwa terkait persoalan itu setidaknya ada 3 kemungkinan.

Pertama, mungkin pada zaman Nabi, persisinya di Madinah, ndak ada orang Islam yang geser agama ke agama lain sehingga hukum bunuh ndak perlu diterapkan. Kedua, mungkin saja pada zaman Nabi ada banyak orang Islam yang geser agama, tapi Nabi ndak menerapkan hukum yang seperti inilah. Ketiga, mungkin pada zaman Nabi telah ada banyak orang geser agama, tapi hadis tersebut sengaja ndak dilaksanakan sebab ia dimaksudkan demi menjaga ketentraman dan stabilitas ummat Islam yang baru banyak tahun memeluk agama Islam.

Menurut Ibn Rusyd penerapan hadis tersebut bukan terhadap orang yang keluar dari Islam (geser agama), tetapi terhadap mereka yang murtad yang hendak memerangi kaum Muslimin. Senada dengan Ibn Rusyd, Maulana Muhammad Ali, mengumumkan bahwa yang dimaksud dalam hadits man baddala dinahu faqtuluhu ialah orang yang mengubah agamanya dan berkoalisi dengan musuh-musuh Islam, lalu bertempur melawan kaum muslimin.

Sementara sebagaimana dikatakan Yûsuf Qarad}âwî, Umar b. Khat}t}âb memahami hadis man baddal dînah faqtulûh ialah dalam kapasitas selaku pemimpin ummat sekaligus kepala negara. Bukan dalam kapasitasnya menyampaikan suatu fatwa atau menyampaikan wahyu dari Allah yang wajib diikuti dalam segala situasi. Pada bagian lain, al-Bukhârî meriwayatkan hadis yang menjelaskan bahwa Rasulullah Saw. menolak permintaan izin dari ‘Umar demi menghabisi ‘Abd Allâh ibn Ubay ibn Salûl, seorang munafk yang memprovokasi golongan Muhajirin dan Ansar supaya saling berperang. Beliau bersabda: “Jangan, nanti orang bakal berkata bahwa ia (Muhammad Saw.) menghabisi sahabatnya sendiri”.

Dalam konteks dewasa ini, di mana kebebasan beragama sudah diakui kebanyakan negara-negara besar di dunia atau masarakat dunia, bukan ndak mungkin polemik bahkan bakal muncul kala hukuman mati diterapkan terhadap kaum Muslim yang berharap memeluk agama lain. Tak saja haknya yang dijamin oleh negara selaku masyarakat negara yang sah, melainkan juga bahkan bertentangan dengan prinsip dasar Al-Quran selaku syariat utama Islam. Nabi saw. sendiri sebagaimana tercantum dalam banyak riwayat bahkan ndak pernah melaksanakan praktik sebagaimana tertuang dalam hadis tersebut melainkan bahkan sebaliknya.

Sebagaimana dikatakan Syed Hossein Nasr, pada dasarnya Nabi saw. ialah orang yang full kasih sayang dan kemurahan hati. Hal ini tampak terang kala Nabi saw. menundukkan kota Makkah, kala Nabi Saw. sudah sukses menaklukkan orang-orang yang memusuhinya, ndak terpikir olehnya demi menggelar pembalasan bahwa sebaliknya Nabi Saw. mengampuni mereka.

 

Source by Ahmad Naufal

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

KOLOM KOMENTAR ANDA :