Uncategorized

Katakanlah dengan Bangga: “Ana Wahabi Why Not?”

WAHABI KAUM MINDER

Dulu semasa hidupnya Gus Dur pernah bilang bahwa kaum Wahabi adalah kaum yang minder, dan itu ternyata benar adanya. Karena minder, mereka sekarang tidak berani berdialog tentang hal-hal kontroversial yang dibuatnya sendiri secara terbuka yang ditonton oleh banyak orang. Kalau terpaksa nekad, mereka akan jadi bahan tertawaan di forum-forum diskusi atau debat karena seringnya mereka terjebak oleh katan-kata dan pernyataannya sendiri. Hal ini bisa kita lihat dalam Debat Terbuka NU – Wahabi, anatara Wakil Wahabi Ustadz Muamal Hamdi  berhadapan dengan anak-anak muda NU Jember. Sang Wakil Wahabi ketika itu membuat pernyataan yang sangat lucu khas juhala’ Wahabi, yaitu dia bikin istilah “MUKMIN MUSYRIK”. Jelas ini ngawur tanpa landasan dalil apapun, baik dari Al Qur’an, Al Hadits, Al Atsar ataupun perkataan ulama. Akhirnya debat tersebut ditutup karena tidak layak dilanjutkan. 

Hal-hal jahil khas Wahabi ini juga bisa kita lihat dalam mudzakaroh antara Buya Yahya dengan seorang Profesor Wahabi di Cirebon. Profesor ini juga di-KO oleh Buya Yahya ketika saling adu argumentasi persoalan Tawassul yang dianggap syirik oleh wahabi. Begitu juga ketika Buya Yahya meng-KO Ustadz Ahmad Thoharoh, ustadz Wahabi ini tidak berani lagi muncul untuk mudzakaroh sesi berikutnya di TV Cirebon. Demikianlah terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu tentang KO-nya wakil-wakil Wahabi dalam ajang diskusi atau debat Terbuka. baik di Indonesia ataupun di luar negeri. Hal ini semakin membuat mereka minder dalam pergaulan sesama muslim di dunia. Mereka semakin tidak PEDE menyandang sebutan Wahabi, sehingga mereka mengucilkan diri dalam kelompok-kelompok kecil dan menghindari pergaulan sesama muslim. Itulah kenyataannya, baik Di Indonesia, Malaysia,  Australia, Afganistan, Pakistan, dll, bahkan di Arab saudi sendiri.

Nah, agar kaum Wahabi bisa menemukan kembali kebanggaannya sebagai Wahabi, berikut ini kami suguhkan artikel yang akan memberikan dua opsi buat kaum wahabi. Seperti apakah kedua opsi tersebut, silahkan baca artikel berikut ini….

Jika Memang Anda Seorang Wahabi Kenapa Marah Disebut Wahabi ?

Oleh: Kang Ajid

Kami awali tulisan ini dengan mengucap Basmallah dan Hamdallah, semoga tulisan ini bermanfaat bagi setiap yang membacanya. Tulisan ini kami persembahkan buat Wahabi yang minder dan malu atau marah tidak mau di sebut Wahabi.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Wahabi atau Wahhabi adalah satu nama dari sekian banyak nama bagi aliran yang didakwahkan oleh Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab. Beliau melanjutkan pikiran-pikiran kontroversi IBNU TAYMIYYAH, bahkan dakwah Syaikh ini lebih kontroversi dari Ibnu Taymiyah. Gerakan Jihad pembaruan paham Ibnu Taymiyah inilah yang di namai dengan Wahabi sejak kemunculannya, karena di pimpin oleh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab.

Akan tetapi oleh para Juhala’ Wahabi sekarang mencoba menghapus nama atau sebutan Wahabi dengan berbagai macam dalih konyolnya. Ada yang bilang Wahhabi atau Wahabi adalah fiktif karena mereka adalah SALAFI bukan Wahhabi. Ada yang berdalih bahwa Wahabi hanyalah gelar yang di berikan oleh Inggris. Ada yang berdalih bahwa Wahabi bukan aliran yang dibawa oleh Syaikh mereka Muhammad Ibnu Abdil Wahhab tetapi aliran yang di bawa oleh Abdul Wahhab Bin Abdirrahman Bin Rustum. Bermacam dalih telah disampaikan untuk menghapus sebutan Wahabi dari ajaran mereka, agar orang awam tertipu dan percaya bahwa ajaran mereka benar-benar ajaran Al-Quran Hadits menurut pemahaman Para Salafus Sholeh. Maka tertipulah orang yang tertipu, dan semoga mereka kembali ke Ahlus Sunnah yang sebenarnya.

Di awal Perkembangan “dakwah” ini tidak ada yang mempermasalahkan penamaan dengan Wahabi. Apalah arti sebuah nama, bila pahamnya melenceng dari Al-Quran Hadits, bila pemahamannya sangat jauh dari paham Ahlus sunnah Waljama’ah, bila pahamnya telah difatwakan sesat oleh para Ulama Ahlus Sunnah. Seribu kali gonta-ganti nama tetap saja itu ajaran yang sama, karena permasalahannya bukan pada nama. Apa pun nama yang mereka gelari untuk diri mereka tidak akan dapat mengubah apa pun buat kebaikan diri mereka sendiri. Bahkan akan membuat diri mereka terjerumus lebih dalam lagi.

Ketika membaca artikel atau buku putih yang ditulis untuk membantah bahwa dakwah mereka bukan Wahabi tapi Salafi, sungguh kita dapat mengetahui betapa takut dan khawatirnya mereka dengan nama tersebut. Tapi tidak pernah merasa takut dengan aqidah mereka yang telah jauh melenceng dari aqidah Ahlus Sunnah, apalagi jia ditimbang dengan aqidah para Sahabat dan Salafus Sholeh. Dan mereka tidak pernah merasa bersalah dengan dakwah mereka yang telah terang-terangan menjadi musuh Islam dari dalam, na’uzubillah. Semoga Allah menjaga semua keluarga Muslim dari fitnah sekte mereka.

Ketakutan mereka disebut Wahhabi disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:

– Karena sejarah kelam dakwah Syeikh mereka yang di bantu oleh Dinasti King Sa’ud / Saudi.

– Karena telah ada fatwa-fatwa para Ulama Ahlus Sunnah terhadap paham Wahhabi yakni paham yang dibawa oleh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab.

– Karena sudah terdeteksi mereka ingin menipu orang awam dengan nama terkenal untuk paham yang baru, agar orang menyangka bahwa itu ajaran murni menurut Al-Quran Hadits.

– Karena kedok mereka telah terbongkar dalam kitab para Ulama Ahlus Sunnah.

– Karena nama Wahabi / Wahhabi telah dikotori oleh para pendahulu mereka.

– Karena itulah mereka berusaha agar tetap aman walaupun sudah terdeteksi sebagai musuh Islam dari dalam.

– dan masih banyak lagi kemungkinan yang terselubung.

Terlepas dari siapa yang menamakan ajaran mereka itu dengan Wahhabi, dan kapan pertama kali muncul nama itu, harusnya yang mereka bela bukanlah hanya sebatas nama atau sebutan saja. Tapi ada yang lebih penting dari itu yakni Tauhid mereka yang jauh dari ajaran Rasulullah dan para Sahabatnya. Fitnah mereka terhadap para Ulama Salaf, kontradiksi dalam ajaran mereka sendiri bahkan antara satu Syaikh dengan Syaikh yang lain, kesesatan dalam ajaran mereka sendiri, distorsi kitab-kitab para Ulama yang bertentangan dengan mereka, yang semuanya belum bisa mereka pertanggung-jawabkan kepada Ummat Islam sedunia. Tidak ada gunanya buang waktu untuk melenyapkan nama Wahabi yang telah terkenal buat dakwah mereka sejak kemunculannya. Bahkan para Syaikh mereka telah mengakui nama Wahabi tersebut walaupun itu dianggap hanya sebagai sebutan dari musuh mereka.

Syaikh Wahabi Mengakui Nama Wahabi

Ketika para Juhala’ Wahabi tertipu dan terus menipu dengan sekte bahwa mereka bukan Wahabi, ternyata telah ada Syaikh Wahabi yang mengakuinya. Berikut ini akan kami sampaikan pengakuan tersebut, agar tidak adalagi Talbis konyol ini.

1.Syaikh Ahmad ibn ‘Hajar al-Butami dalam Biografi Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab yang juga ditashhihkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Bazz, mengakui Wahhabi adalah ajaran Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab.

– Di halaman 59 disebutkan :

فقامت الثورات على يد دعاة الوهابيين

[maka tegaklah revolusi di atas tangan para da’i Wahhabi…….]

– Di halaman 60 disebutkan :

على أساس من الدعوة الدينية الوهابية في مكة

[atas dasar dari dakwah agama wahhabi di Mekkah………]

– Di halaman 60 juga disebutkan :

فلما التقى بالوهابيين

[manakala berjumpa dengan para Wahhabi………..]

– Di halaman 60 juga disebutkan :

استطاع هؤلاء المسلمون الوهابيون

[sangguplah mereka orang Islam Wahhabi…………]

– Di halaman 60 juga disebutkan :

من المبادئ الوهابية

[dari dasar-dasar Wahhabi…………]

– Di halaman 60 juga disebutkan :

ولكن الدعوة الوهابية

[tetapi dakwah Wahhabi…………]

– Di halaman 60 juga disebutkan :

يدينون بالإسلام على المذهب الوهابي

[mereka beragama dengan Islam atas Mazhab Wahhabi……]

Cukup tujuh saja kita ambil dari kitab Syaikh Wahabi tersebut, dan kita cari dalam kitab Syaikh Wahabi lain. Yaitu dalam kitab Syaikh Dr.Muhammad Khalil Al-Harras yang berjudul: ”Al-Harakatul Wahhabiyah” dari nama kitabnya saja sudah jujur yaitu “Gerakan Wahhabi”. Mari kita buka kitabnya….

– Di halaman 11 disebutkan :

اسس الحركة الوهابية

[Dasar-dasar gerakan Wahhabi……………….]

– Di halaman 14 disebutkan :

الحركة الوهابية تدعو الي توكيد التوحيد

[gerakan Wahhabi menyeru kepada menguatkan Tauhid……….]

– Di halaman 17 disebutkan :

الحركة الوهابية تدعو الي سبيل ربها

[gerakan Wahhabi menyeru kepada jalan Tuhan nya………]

– Di halaman 21 disebutkan :

فلماذا تنسب الوهابية وحدها الى المبالغة

[kenapa Wahhabi saja yang dinisbahkan kepada berlebihan……..]

– Di halaman 22 disebutkan :

لايقع على الوهابية

[tidak terjadi atas Wahhabi………………..]

– Di halaman 30 disebutkan :

ان الوهابية لم تقم للاجتهاد فى الفروع

[sesungguhnya Wahhabi tidak tegak untuk ijtihad dalam masalah furu’………..]

– Di halaman 43 disebutkan :

للدعوة الوهابية

[bagi dakwah Wahhabi]

Cukup tujuh juga dari kitab tersebut, mari kita cari lagi dari kitab Syaikh Wahabi yang lain. Ternyata sangat banyak kitab-kitab Syaikh Wahabi yang mengakui penamaan Wahhabi untuk dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab An-Najdi, diantaranya:

– Syaikh Muhammad Hamid Al-Fiqi dalam kitab Atsarud da’watil wahhabiyah.

– Syaikh Umar Abu Nashri dalam kitab Ibnu Sa’ud.

– Syaikh Muhammad Kurdi Ali dalam kitab Al-Qadim wal-Hadits.

– Syaikh Muhammad Jamil Baiham dalam kitab al-Halqah al-Mafqudah fi Tarikh Arab.

– Syaikh Abdul Karim Al-Khathibi dalam kitab Muhammad ibn Abdil Wahhab.

– dan masih banyak lagi.

Para pembesar Wahabi telah mengakui penamaan Wahabi tersebut terhadap ajaran yang di bawakan oleh Syaikh Mohd bin Abdil Wahhab. Meski sebagian ada yang mengatakan itu sebutan musuh Syaikh terhadap dakwah Syaikh, sebagian lagi ada yang beralasan itu nisbah yang mukhalafah qiyas atau syaz. Biar pun tidak menerima sepenuhnya, tapi para Juhala’ Wahabi justru konyol dengan tidak mengakui sama sekali. Karena biar pun itu nisbah yang mukhalafah qiyas atau penamaan dari musuh, tetap itu nama resmi/tidak resmi untuk dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Najdi yang mereka agungkan itu.

Lalu kenapa marah jika mereka disebut WAHABI? Dengan mengetahui fakta-fakta yang tak terbantahkan itu tentunya mereka malu sehingga menjadi minder dalam pergaulan sesama muslim sedunia, sehingga mereka berusaha dengan berbagai cara untuk gonta-ganti nama dan buat menyebut diri mereka sendiri. Dari sebutan MUWAHID sehingga yang terakhir mereka menyebut dirinya SALAFY.

Akahirnya dengan menimbang fakta-fakta yang diungkap di atas, ada dua opsi buat mereka untuk dipilih:

1- Tetap sebagai WAHABI

2- Bertobat

Jika demikian kenapa mereka tidak memilih opsi paling menentramkan hatinya dan aman, yaitu BERTOBAT? Akan tetapi jika masih ngotot memilih “Tetap sebagai WAHABI” maka bagi pemilih opsi ini katakanlah dengan Bangga: “Ana Wahabi Why Not?” Tetapi jika boleh kami sarankan, janganlah menutup diri, teruslah berusaha mencari kebenaran dan berhentilah berdakwah secara licik dan terkesan ada yang dirahasiakan. Kenapa harus menyampaikan kebenaran dengan cara yang tidak benar, na’uzubillah.

wallahul muwaffiq ila aqwamit thoriq.

Source: https://www.facebook.com/kang.ajid.9

Jasa Web Alhadiy
Tags

Related Articles

167 Comments

  1. @ admint
    ulasan yang mantabh
    @ all aswaja
    untuk lihat video aswaja vs wahabi bisa di bawah ini:
    http://www.buyayahya.org/
    http://www.buyayahya.tv/search/label/Bid%27ah?&max-results=9

    alternatif lain di sini:
    aswaja vs wahabi
    http://www.benderaaswaja.com/2012/07/aswaja-vs-salafi-wahabi.html

    aswaja vs wahabi jilid 2
    http://www.benderaaswaja.com/2012/07/aswaja-vs-wahabi-versi-2.html

    video berdebat pintar dengan wahabi
    http://www.benderaaswaja.com/2012/07/video-pintar-berdebat-dengan-wahabi.html

  2. Assalamu’alaikum….

    Hmmm…, mantab mas Admin. Intinya kalau mereka tidak nyaman dengan disebut sebagai Wahabi, maka lebih baik pilih opsi kedua, yaitu TOBAT. Atau kalau masih kekeh dengan ajaran WAHABISME yg dianutnya, maka katakanlah dg bangga: Ana Wahabi!

    Syukron mas Admin, semoga mereka mendapat pencerahan, bahwa sebutan WAHABI itu bukan fitnah tetapi realitas yg bersumber dari mereka sendiri.

    udah sembuh penasaran saya selama ini, rupanya ini supportnya? Boleh-boleh….. heh heh …

  3. BEghhhh!!!! ulasan yg manteb Kang Admin….. -*andaikan*- saya WAHABY pasti saya akan bangga dan gk perlu malu2 dg sebutan wahaby… dan saya juga akan berani berkata di depan smw orang, bahwa “ANA WAHABY”… tpi sayang 1000 sayang, saya bukan wahaby, so pasti saya juga akan bangga bekata dgn TEGAS, bahwa ” ANA BUKAN WAHABY” 😀 😀 😀

    1. Bismillah…
      Bagmaimana mungkin sesuai sunnah Rasulullah SAW,, kalian itu mengkafirkan, membunuh dan menghina orang yang di kasihi Rsrul,,,
      Ayolah saudara buka mata hati kalian,,,,

    2. kang sabar banggakah antum disebut Wahabi………? meskipun dengan segudang point minus penyimpangan terdapat dalam ajaran wahabi……..?

    3. Sabar@

      Syukurlah kalau itu cuma seandainya, antum jujur dalam hal ini, memang kenyataanya Wahabi terlalu banyak perbuatannya tidak sesuai sunnah Rasulullah saw. Bukankah begitu, Bang sabar?

      1. U, Muhammadiyah, JT, IM, HT, Salafi, Wahabi, Persis, LDII, atau nama/toriqoh apa saja yang mendekatkan diri saya kepada Sunnah Baginda Rosulullah SAW, maka saya akan sangat bangga menjadi bagian dari nama…

        sayang sekali firgoh-firgoh yang anda sebutkan tadi sudah dianggap sessat oleh faham salafi wahabi

    4. Bismillah,
      Seandainya jalan yang ditempuh kawan2 di forum ini membawa saya sesuai sunnah Baginda Rosulullah SAW, maka saya adalah nama apa saja yang dinisbatkan kepada jalan itu.

      Sebagai penuntut ilmu, saya cenderung mencari fakta dan data walau sebatas artikel/tulisan/bacaan di internet yang sumbernyapun kadang jelas kadang kurang jelas juga 🙂

      saya googling dengan keyword “muhammad bin abdul wahab”, beberapa situs agak berbeda nadanya. Mungkin dapat menjadi studi kasus bersama:

      http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_bin_Abdul_Wahhab
      http://arrahmah.com/read/2011/11/22/16492-syekh-muhammad-bin-abdul-wahhab-pejuang-tauhid-yang-memurnikan-islam.html

      http://almanhaj.or.id/content/1780/slash/0/pengertian-wahabi-dan-siapa-muhammad-bin-abdul-wahhab/

      Saya hanya dapat bermohon kepada ALLAH SWT sebagai Penggenggam Mutlaq Kebenaran, agar selalu ditunjukkan jalan yang Haq melalui taufiq dan hidayahnya. Agar logika pemahaman saya tidak disesatkan oleh Syaiton Laknatullah alaih

      NU, Muhammadiyah, JT, IM, HT, Salafi, Wahabi, Persis, LDII, atau nama/toriqoh apa saja yang mendekatkan diri saya kepada Sunnah Baginda Rosulullah SAW, maka saya akan sangat bangga menjadi bagian dari nama itu.

      wallahu ‘alam

      1. Sabar berkata:

        Sebagai penuntut ilmu, saya cenderung mencari fakta dan data walau sebatas artikel/tulisan/bacaan di internet yang sumbernyapun kadang jelas kadang kurang jelas juga 🙂

        Sabar akhinal kirom, Syukur alhamdulillah jika antum senang dg fakta. Kami bisa menunjukkan fakta yg lebih jelas yaitu berupa kitab-kitab tentang bantahan Para Ulama Ahlussunnah terhadap dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Lebih 100 kitab Ulama Ahlussunnah membantah Imam Wahabi tsb.

        Berikut ini di antara kitab-kitab yang membantah dakwah sesat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab:

        1. Ithâf al-Kirâm Fî Jawâz at-Tawassul Wa al-Istighâtsah Bi al-Anbiyâ’ al-Kirâm karya asy-Syaikh Muhammad asy-Syadi. Tulisan manuskripnya berada di al-Khizanah al-Kittaniyyah di Rabath pada nomor 1143.

        2. Ithâf Ahl az-Zamân Bi Akhbâr Mulûk Tûnus Wa ‘Ahd al-Amân karya asy-Syaikh Ahmad ibn Abi adl-Dliyaf, telah diterbitkan.

        3. Itsbât al-Wâsithah al-Latî Nafathâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Abd al-Qadir ibn Muhammad Salim al-Kailani al-Iskandarani (w 1362 H).

        4. Ajwibah Fî Zayârah al-Qubûr karya asy-Syaikh al-Idrus. Tulisan manuskripnya berada di al-Khizanah al-‘Ammah di Rabath pada nomor 4/2577.

        5. al-Ajwibah an-Najdiyyah ‘An al-As-ilah an-Najdiyyah karya Abu al-Aun Syamsuddin Muhammad ibn Ahmad ibn Salim an-Nabulsi al-Hanbali yang dikenal dengan sebutan Ibn as-Sifarayini (w 1188 H).

        6. al-Ajwibah an-Nu’mâniyyah ‘An al-As-ilah al-Hindiyyah Fî al-‘Aqâ-id karya Nu’man ibn Mahmud Khairuddin yang dikenal dengan sebutan Ibn al-Alusi al-Baghdadi al-Hanafi (w 1317 H).

        7. Ihyâ’ al-Maqbûr Min Adillah Istihbâb Binâ’ al-Masâjid Wa al-Qubab ‘Alâ al-Qubûr karya al-Imâm al-Hâfizh as-Sayyid Ahmad ibn ash-Shiddiq al-Ghumari (w 1380 H).

        8. Al-Ishâbah Fî Nushrah al-Khulafâ’ ar-Rasyidîn karya asy-Syaikh Hamdi Juwaijati ad-Damasyqi.

        9. al-Ushûl al-Arba’ah Fî Tardîd al-Wahhâbiyyah karya Muhammad Hasan Shahib as-Sarhandi al-Mujaddidi (w 1346 H), telah diterbitkan.

        10. Izh-hâr al-‘Uqûq Min Man Mana’a at-Tawassul Bi an-Nabiyy Wa al-Walyy ash-Shadûq karya asy-Syaikh al-Musyrifi al-Maliki al-Jaza-iri.

        11. al-Aqwâl as-Saniyyah Fî ar-Radd ‘Alâ Mudda’i Nushrah as-Sunnah al-Muhammadiyyah disusun oleh Ibrahim Syahatah ash-Shiddiqi dari pelajaran-pelajaran al-Muhaddits as-Sayyid Abdullah ibn ash-Shiddiq al-Ghumari, telah diterbitkan.

        12. al-Aqwâl al-Mardliyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya ahli fiqih terkemuka asy-Syaikh Atha al-Kasam ad-Damasyqi al-Hanafi, telah diterbitkan.

        13. al-Intishâr Li al-Awliyâ’ al-Abrâr karya al-Muhaddits asy-Syaikh Thahir Sunbul al-Hanafi.

        14. al-Awrâq al-Baghdâdiyyah Fî al-Jawâbât an-Najdiyyah karya asy-Syaikh Ibrahim ar-Rawi al-Baghdadi ar-Rifa’i. Pemimpin tarekat ar-Rifa’iyyah di Baghdad, telah diterbitkan.

        15. al-Barâ-ah Min al-Ikhtilâf Fî ar-Radd ‘Alâ Ahl asy-Syiqâq Wa an-Nifâq Wa ar-Radd ‘Alâ al-Firqah al-Wahhâbiyyah adl-Dlâllah karya asy-Syaikh Ali Zain al-Abidin as-Sudani, telah diterbitkan.

        16. al-Barâhîn as-Sâthi’ah Fî ar-Radd Ba’dl al-Bida’ asy-Syâ’i-ah karya asy-Syaikh Salamah al-Uzami (w 1379 H), telah diterbitkan.

        17. al-Bashâ-ir Li Munkirî at-Tawassul Bi Ahl al-Maqâbir karya asy-Syaikh Hamdullah ad-Dajwi al-Hanafi al-Hindi, telah diterbitkan.

        18. Târîkh al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Ayyub Shabri Basya ar-Rumi, penulis kitab Mir-âh al-Haramain.

        19. Tabarruk ash-Shahâbah Bi Âtsâr Rasulillâh karya asy-Syaikh Muhammad Thahir ibn Abdillah al-Kurdi. Telah diterbitkan.

        20. Tabyîn al-Haqq Wa ash-Shawâb Bi ar-Radd ‘Alâ Atbâ’ Ibn Abd al-Wahhâb karya asy-Syaikh Taufiq Sauqiyah ad-Damasyqi (w 1380 H), telah diterbitkan di Damaskus.

        21. Tajrîd Sayf al-Jihâd Li Mudda’î al-Ijtihâd karya asy-Syaikh Abdullah ibn Abd al-Lathif asy-Syafi’i. Beliau adalah guru dari Muhammad ibn Abd al-Wahhab sendiri, dan beliau telah membantah seluruh ajaran Wahhabiyyah di saat hidupnya Muhammad ibn Abd al-Wahhab.

        22. Tahdzîr al-Khalaf Min Makhâzî Ad’iyâ’ as-Salaf karya al-Imâm al-Muhaddits asy-Syaikh Muhammad Zahid al-Kautsari.

        23. at-Tahrîrât ar-Râ-iqah karya asy-Syaikh Muhammad an-Nafilati al-Hanafi, mufti Quds Palestina, telah diterbitkan.

        24. Tahrîdl al-Aghbiyâ ‘Alâ al-Istighâtsah Bi al-Anbiyâ Wa al-Awliyâ karya asy-Syaikh Abdullah al-Mayirghini al-Hanafi, tinggal di wilayah Tha’if.

        25. at-Tuhfah al-Wahbiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Dawud ibn Sulaiman al-Baghdadi an-Naqsyabandi al-Hanafi (w 1299 H).

        26. Tath-hîr al-Fu-âd Min Danas al-I’tiqâd karya asy-Syaikh Muhammad Bakhith al-Muthi’i al-Hanafi, salah seorang ulama al-Azhar Mesir terkemuka, telah diterbitkan.

        27. Taqyîd Hawla at-Ta’alluq Wa at-Tawassul Bi al-Anbiyâ Wa ash-Shâlihîn karya asy-Syaikh Ibn Kairan, Qadli al-Jama’ah di wilayah Maghrib Maroko. Karya manuskrip berada di Khizanah al-Jalawi/Rabath pada nomor 153.

        28. Taqyîd Hawla Ziyârah al-Auliyâ Wa at-Tawassul Bihim karya Ibn Kairan, Qadli al-Jama’ah di wilayah Maghrib Maroko. Karya manuskrip berada di Khizanah al-Jalawi/Rabath pada nomor 153.

        29. Tahakkum al-Muqallidîn Biman Idda’â Tajddîd ad-Dîn karya asy-Syaikh Muhammad ibn Abd ar-Rahman al-Hanbali. Dalam kitab ini beliau telah membantah seluruh kesasatan Muhammad ibn Abd al-Wahhab secara rinci dan sangat kuat.

        30. at-Tawassul karya asy-Syaikh Muhammad Abd al-Qayyum al-Qadiri al-Hazarawi, telah diterbitkan.

        31. at-Tawassul Bi al-Anbiyâ’ Wa ash-Shâlihîn karya asy-Syaikh Abu Hamid ibn Marzuq ad-Damasyqi asy-Syami, telah diterbitkan.

        32. at-Taudlîh ‘An Tauhîd al-Khilâq Fî Jawâb Ahl al-‘Irâq ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya asy-Syaikh Abdullah Afandi ar-Rawi. Karya Manuskrip di Universitas Cambridge London dengan judul “ar-Radd al-Wahhabiyyah”. Manuskrip serupa juga berada di perpustakaan al-Awqaf Bagdad Irak.

        33. Jalâl al-Haqq Fî Kasyf Ahwâl Asyrâr al-Khalq karya asy-Syaikh Ibrahim Hilmi al-Qadiri al-Iskandari, telah diterbitkan.

        34. al-Jawâbât Fî az-Ziyârât karya asy-Syaikh Ibn Abd ar-Razzaq al-Hanbali. asy-Sayyid Alawi ibn al-Haddad berkata: “Saya telah melihat berbagai jawaban (bantahan atas kaum Wahhabiyyah) dari tulisan para ulama terkemuka dari empat madzhab, mereka yang berasal dari dua tanah haram (Mekah dan Madinah), dari al-Ahsa’, dari Basrah, dari Bagdad, dari Halab, dari Yaman, dan dari berbagai negara Islam lainnya. Baik tulisan dalam bentuk prosa maupun dalam bentuk bait-bait syai’r”.

        35. Hâsyiyah ash-Shâwî ‘Alâ Tafsîr al-Jalâlain karya asy-Syaikh Ahmad ash-Shawi al-Maliki.

        36. al-Hujjah al-Mardliyyah Fî Itsbât al-Wâsithah al-Latî Nafathâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Abd al-Qadir ibn Muhammad Salim al-Kailani al-Iskandari (w 1362 H).

        37. al-Haqâ-iq al-Islâmiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Mazâ’im al-Wahhâbiyyah Bi Adillah al-Kitâb Wa as-Sunnah an-Nabawiyyah karya asy-Syaikh Malik ibn asy-Syaikh Mahmud, direktur perguruan al-‘Irfan di wilayah Kutabali Negara Republik Mali Afrika, telah diterbitkan.

        38. al-Haqq al-Mubîn Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyîn karya asy-Syaikh Ahmad Sa’id al-Faruqi as-Sarhandi an-Naqsyabandi (w 1277 H).

        39. al-Haqîqah al-Islâmiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Abd al-Ghani ibn Shaleh Hamadah, telah diterbitkan.

        40. ad-Durar as-Saniyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti madzhab Syafi’i di Mekah (w 1304 H).

        41. ad-Dalîl al-Kâfi Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbi karya asy-Syaikh Misbah ibn Ahmad Syibqilu al-Bairuti, telah diterbitkan.

        42. ar-Râ-’iyyah ash-Shughrâ Fî Dzamm al-Bid’ah Wa Madh as-Sunnah al-Gharrâ’, bait-bait sya’ir karya asy-Syaikh Yusuf ibn Isma’il an-Nabhani al-Bairuti, telah diterbitkan.

        43. ar-Rihlah al-Hijâziyyah karya asy-Syaikh Abdullah ibn Audah yang dikenal dengan sebutan Shufan al-Qudumi al-Hanbali (w 1331 H), telah diterbitkan.

        44. Radd al-Muhtâr ‘Alâ ad-Durr al-Mukhtâr karya asy-Syaikh Muhammad Amin yang dikenal dengan sebutan Ibn Abidin al-Hanafi ad-Damasyqi, telah diterbitkan.

        45. ar-Radd ‘Alâ Ibn ‘Abd al-Wahhâb karya Syaikh al-Islâm di wilayah Tunisia, asy-Syaikh Isma’il at-Tamimi al-Maliki (w 1248 H). Berisi bantahan sangat kuat dan detail atas faham Wahhabiyyah, telah diterbitkan di Tunisia.

        46. Radd ‘Alâ Ibn ’Abd al-Wahhâb karya asy-Syaikh Ahmad al-Mishri al-Ahsa-i.

        47. Radd ‘Alâ Ibn Abd al-Wahhâb karya al-‘Allâmah asy-Syaikh Barakat asy-Syafi’i al-Ahmadi al-Makki.

        48. ar-Rudûd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya al-Muhaddits asy-Syaikh Shaleh al-Fulani al-Maghribi. as-Sayyid Alawi ibn al-Haddad dalam mengomentari ar-Rudûd ‘Ala Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya al-Muhaddits asy-Syaikh Shaleh al-Fulani al-Maghribi ini berkata: “Kitab ini sangat besar. Di dalamnya terdapat beberapa risalah dan berbagai jawaban (bantahan atas kaum Wahhabiyyah) dari semua ulama empat madzhab; ulama madzhab Hanafi, ulama madzhab Maliki, Ulama madzhab Syafi’i, dan ulama madzhab Hanbali. Mereka semua dengan sangat bagus telah membantah Muhammad ibn Abd al-Wahhab”.

        49. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Shaleh al-Kawasy at-Tunisi. Karya ini dalam bentuk sajak sebagai bantahan atas risalah Muhammad ibn Abd al-Wahhab, telah diterbitkan.

        50. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Muhammad Shaleh az-Zamzami asy-Syafi’i, Imam Maqam Ibrahim di Mekah.

        51. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Ibrahim ibn Abd al-Qadir ath-Tharabulsi ar-Riyahi at-Tunusi al-Maliki, berasal dari kota Tastur (w 1266 H).

        52. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Abd al-Muhsin al-Asyikri al-Hanbali, mufti kota az-Zubair Basrah Irak.

        53. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh al-Makhdum al-Mahdi, mufti wilayah Fas Maroko.

        54. ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya asy-Syaikh Muhammad ibn Sulaiman al-Kurdi asy-Syafi’i. Beliau adalah salah seorang guru dari Muhammad ibn Abd al-Wahhab sendiri. asy-Syaikh Abu Hamid ibn Marzuq (asy-Syaikh Muhammad ’Arabi at-Tabban) dalam kitab Barâ-ah al-Asyariyyîn Min Aqâ-id al-Mukhâlifîn menuliskan: “Guru Muhammad ibn Abd al-Wahhab (yaitu asy-Syaikh Muhammad ibn Sulaiman al-Kurdi) telah memiliki firasat bahwa muridnya tersebut akan menjadi orang sesat dan menyesatkan. Firasat seperti ini juga dimiliki guru Muhammad ibn Abd al-Wahhab yang lain, yaitu asy-Syaikh Muhammad Hayat as-Sindi, dan juga dimiliki oleh ayah sendiri, yaitu asy-Syaikh Abd al-Wahhab”.

        55. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya Abu Hafsh Umar al-Mahjub. Karya manuskripnya berada di Dar al-Kutub al-Wathaniyyah Tunisia pada nomor 2513. Copy manuskrip ini berada di Ma’had al-Makhthuthat al-‘Arabiyyah Cairo Mesir dan di perpustakaan al-Kittaniyyah Rabath pada nomor 1325.

        56. ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Ibn Kairan, Qadli al-Jama’ah di wilayah Maghrib Maroko. Karya manuskrip di perpustakaan al-Kittaniyyah Rabath pada nomor 1325.

        57. ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya asy-Syaikh Abdullah al-Qudumi al-Hanbali an-Nabulsi, salah seorang ulama terkemuka pada madzhab Hanbali di wilayah Hijaz dan Syam (w 1331 H). Karya ini berisi pembahasan masalah ziarah dan tawassul dengan para Nabi dan orang-orang saleh. Dalam karyanya ini penulis menamakan Muhammad ibn Abd al-Wahhab dan para pengikutnya sebagai kaum Khawarij. Penyebutan yang sama juga telah beliau ungkapkan dalam karyanya yang lain berjudul ar-Rihlah al-Hijâziyyah Wa ar-Riyâdl al-Unsiyyah Fî al-Hawâdits Wa al-Masâ-il.

        58. Risâlah as-Sunniyyîn Fî ar-Radd ‘Alâ al-Mubtadi’în al-Wahhâbiyyîn Wa al-Mustauhibîn karya asy-Syaikh Musthafa al-Karimi ibn Syaikh Ibrahim as-Siyami, telah diterbitkan tahun 1345 H oleh penerbit al-Ma’ahid.

        59. Risâlah Fî Ta-yîd Madzhab ash-Shûfiyyah Wa ar-Radd ‘Alâ al-Mu’taridlîn ‘Alayhim karya asy-Syaikh Salamah al-Uzami (w 1379 H), telah diterbitkan.

        60. Risâlah Fî Tasharruf al-Auliyâ’ karya asy-Syaikh Yusuf ad-Dajwa, telah diterbitkan.

        61. Risâlah Fî Jawâz at-Tawassul Fî ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya mufti wilayah Fas Maghrib al-‘Allâmah asy-Syaikh Mahdi al-Wazinani.

        62. Risâlah Fî Jawâz al-Istigâtsah Wa at-Tawassul karya asy-Syaikh as-Sayyid Yusuf al-Bithah al-Ahdal az-Zabidi, yang menetap di kota Mekah. Dalam karyanya ini beliau mengutip pernyataan seluruh ulama dari empat madzhab dalam bantahan mereka atas kaum Wahhabiyyah, kemudian beliau mengatakan: “Sama sekali tidak dianggap faham yang menyempal dari keyakinan mayoritas umat Islam dan berseberangan dengan mereka, dan siapa melakukan hal itu maka ia adalah seorang ahli bid’ah”.

        63. Risâlah Fî Hukm at-Tawassul Bi al-Anbiyâ’ Wa al-Awliyâ’ karya asy-Syaikh Muhammad Hasanain Makhluf al-Adawi al-Mishri wakil Universitas al-Azhar Cairo Mesir, telah diterbitkan.

        64. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Qasim Abu al-Fadl al-Mahjub al-Maliki.

        65. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Musthafa ibn asy-Syaikh Ahmad ibn Hasan asy-Syathi ad-Damasyqi al-Hanbali.

        66. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Ahamd Hamdi ash-Shabuni al-Halabi (w 1374 H).

        67. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Ahmad ibn Hasan asy-Syathi, mufti madzhab Hanbali di wilayah Damaskus Siria, telah diterbitkan di Bairut tahun 1330 H.

        68. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Ali ibn Muhammad karya manuskrip berada di al-Khizanah at-Taimuriyyah.

        69. Risâlah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Utsman al-Umari al-Uqaili asy-Syafi’i, karya manuskrip berada di al-Khizanah at-Tamuriyyah.

        70. ar-Risâlah ar-Raddiyyah ‘Alâ ath-Thâ-ifah al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Muhammad Atha’ullah yang dikenal dengan sebutan Atha’ ar-Rumi.

        71. ar-Risâlah al-Mardliyyah Fî ar-Radd ‘Alâ Man Yunkir az-Ziyârah al-Muhammadiyyah karya asy-Syaikh Muhammad as-Sa’di al-Maliki.

        72. Raudl al-Majâl Fî ar-Radd ‘Alâ Ahl adl-Dlalâl karya asy-Syaikh Abd ar-Rahman al-Hindi ad-Dalhi al-Hanafi, telah diterbitkan di Jeddah tahun 1327 H.

        73. Sabîl an-Najâh Min Bid’ah Ahl az-Zâigh Wa adl-Dlalâlah karya asy-Syaikh al-Qâdlî Abd ar-Rahman Quti.

        74. Sa’âdah ad-Dârain Fî ar-Radd ‘Alâ al-Firqatain, al-Wahhâbiyyah Wa Muqallidah azh-Zhâhiriyyah karya asy-Syaikh Ibrahim ibn Utsman ibn Muhammad as-Samnudi al-Manshuri al-Mishri, telah diterbitkan di Mesir tahun 1320 H dalam dua jilid.

        75. Sanâ’ al-Islâm Fî A’lâm al-Anâm Bi ‘Aqâ-id Ahl al-Bayt al-Kirâm Raddan ‘Alâ Abd al-Azîz an-Najdi Fî Mâ Irtakabahu Min al-Auhâm karya asy-Syaikh Isma’il ibn Ahmad az-Zaidi, karya manskrip.

        76. as-Sayf al-Bâtir Li ‘Unuq al-Munkir ‘Alâ al-Akâbir, karya al-Imâm as-Sayyid Alawi ibn Ahmad al-Haddad (w 1222 H).

        77. as-Suyûf ash-Shiqâl Fî A’nâq Man Ankar ‘Alâ al-Awliyâ’ Ba’da al-Intiqâl karya salah seorang ulama terkemuka di Bait al-Maqdis.

        78. as-Suyûf al-Musyriqiyyah Li Qath’ A’nâq al-Qâ-ilîn Bi al-Jihah Wa al-Jismiyyah karya asy-Syaikh Ali ibn Muhammad al-Maili al-Jamali at-Tunisi al-Maghribi al-Maliki.

        79. Syarh ar-Risâlah ar-Raddiyyah ‘Alâ Thâ-ifah al-Wahhâbiyyah karya Syaikh al-Islâm Muhammmad Atha’ullah ibn Muhammad ibn Ishaq ar-Rumi, (w 1226 H).

        80. ash-Shârim al-Hindi Fî ‘Unuq an-Najdi karya asy-Syaikh Atha’ al-Makki.

        81. Shidq al-Khabar Fî Khawârij al-Qarn ats-Tsânî ‘Asyar Fî Itsbât Ann al-Wahhâbiyyah Min al-Khawârij karya asy-Syaikh as-Sayyid Abdullah ibn Hasan Basya ibn Fadlal Basya al-Alawi al-Husaini al-Hijazi, telah diterbitkan.

        82. Shulh al-Ikhwân Fî ar-Radd ‘Alâ Man Qâl ‘Alâ al-Muslimîn Bi asy-Syirk Wa al-Kufrân, Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah Li Takfîrihim al-Muslimîn karya asy-Syaikh Dawud ibn Sulaiman an-Naqsyabandi al-Baghdadi al-Hanafi (w 1299 H).

        83. ash-Shawâ-iq al-Ilâhiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Sulaiman ibn Abd al-Wahhab. Beliau adalah saudara kandung dari Muhammad ibn Abd al-Wahhab, telah diterbitkan.

        84. ash-Shawâ-iq Wa ar-Rudûd karya asy-Syaikh Afifuddin Abdullah ibn Dawud al-Hanbali. as-Sayyid Alawi ibn Ahmad al-Haddad menuliskan: “Karya ini (ash-Shawâ-iq Wa ar-Rudûd) telah diberi rekomendasi oleh para ulama terkemuka dari Basrah, Bagdad, Halab, Ahsa’, dan lainnya sebagai pembenaran bagi segala isinya dan pujian terhadapnya”.

        85. Dliyâ’ ash-Shudûr Li Munkir at-Tawassul Bi Ahl al-Qubûr karya asy-Syaikh Zhahir Syah Mayan ibn Abd al-Azhim Mayan, telah diterbitkan.

        86. al-‘Aqâ-id at-Tis’u karya asy-Syaikh Ahmad ibn Abd al-Ahad al-Faruqi al-Hanafi an-Naqsyabandi, telah diterbitkan.

        87. al-‘Aqâ-id ash-Shahîhah Fî Tardîd al-Wahhâbiyyah an-Najdiyyah karya asy-Syaikh Hafizh Muhammad Hasan as-Sarhandi al-Mujaddidi, telah diterbitkan.

        88. ‘Iqd Nafîs Fî Radd Syubuhât al-Wahhâbi at-Tâ’is karya sejarawan dan ahli fiqih terkemuka, asy-Syaikh Isma’il Abu al-Fida’ at-Tamimi at-Tunusi.

        89. Ghawts al-‘Ibâd Bi Bayân ar-Rasyâd karya asy-Syaikh Abu Saif Musthafa al-Hamami al-Mishri, telah diterbitkan.

        90. Fitnah al-Wahhâbiyyah karya as-Sayyid Ahmad ibn Zaini Dahlan, (w 1304 H), mufti madzhab Syafi’i di dua tanah haram; Mekah dan Madinah, dan salah seorang ulama terkemuka yang mengajar di Masjid al-Haram. Fitnah al-Wahhâbiyyah ini adalah bagian dari karya beliau dengan judul al-Futûhât al-Islâmiyyah, telah diterbitkan di Mesir tahun 1353 H.

        91. Furqân al-Qur’ân Fî Tamyîz al-Khâliq Min al-Akwân karya asy-Syaikh Salamah al-Azami al-Qudla’i asy-Syafi’i al-Mishri. Kitab berisi bantahan atas pendapat yang mengatakan bahwa Allah adalah benda yang memiki bentuk dan ukuran. Termasuk di dalamnya bantahan atas Ibn Taimiyah dan faham Wahhabiyyah yang berkeyakinan demikian. Telah diterbitkan.

        92. Fashl al-Khithâb Fî ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya asy-Syaikh Sulaiman ibn Abd al-Wahhab, saudara kandung dari Muhammad ibn Abd al-Wahhab sendiri. Ini adalah kitab yang pertama kali ditulis sebagai bantahan atas segala kesesatan Muhammad ibn Abd al-Wahhab dan ajaran-ajaran Wahhabiyyah.

        93. Fashl al-Khithâb Fi Radd Dlalâlât Ibn ’Abd al-Wahhâb karya asy-Syaikh Ahmad ibn Ali al-Bashri yang dikenal dengan sebutan al-Qubbani asy-Syafi’i.

        94. al-Fuyûdlât al-Wahbiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ ath-Thâ-ifah al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Abu al-Abbas Ahmad ibn Abd as-Salam al-Banani al-Maghribi.

        95. Qashîdah Fî ar-Radd ‘Alâ ash-Shan’âni Fî Madh Ibn ’Abd al-Wahhâb, bait-bait sya’ir karya asy-Syaikh Ibn Ghalbun al-Laibi, sebanyak 40 bait.

        96. Qashîdah Fî ar-Radd ‘Alâ ash-Shan’âni al-Ladzî Madaha Ibn ’Abd al-Wahhâb, bait-bait sya’ir karya as-Sayyid Musthafa al-Mishri al-Bulaqi, sebanyak 126 bait.

        97. Qashîdah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah, bait-bait sya’ir karya asy-Syaikh Abd al-Aziz Qurasyi al-‘Ilji al-Maliki al-Ahsa’i. Sebanyak 95 bait.

        98. Qam’u Ahl az-Zâigh Wa al-Ilhâd ‘An ath-Tha’ni Fî Taqlîd A’immah all-Ijtihâd karya mufti kota Madinah al-Muhaddits asy-Syaikh Muhammad al-Khadlir asy-Syinqithi (w 1353 H).

        99. Kasyf al-Hijâb ‘An Dlalâlah Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb karya manuskrip berada di al-Khizanah at-Taimuriyyah.

        100. Muhiqq at-Taqawwul Fî Mas-alah at-Tawassul karya al-Imâm al-Muhaddits Syaikh Muhammad Zahid al-Kautsari.

        101. al-Madârij as-Saniyyah Fî Radd al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Amir al-Qadiri, salah seorang staf pengajar pada perguruan Dar al-‘Ulum al-Qadiriyyah, Karatci Pakistan, telah diterbitkan.

        102. Mishbâh al-Anâm Wa Jalâ’ azh-Zhalâm Fî Radd Syubah al-Bid’i an-Najdi al-Latî Adlalla Bihâ al-‘Awâmm karya as-Sayyid Alawi ibn Ahmad al-Haddad, (w 1222 H), telah diterbitkan tahun 1325 H di penerbit al-‘Amirah.

        103. al-Maqâlât karya asy-Syaikh Yusuf Ahmad ad-Dajwi, salah seorang ulama terkemuka al-Azhar Cairo Mesir (w 1365 H).

        104. al-Maqâlât al-Wafiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Hasan Quzbik, telah diterbitkan dengan rekomendasi dari asy-Syaikh Yusuf ad-Dajwi.

        105. al-Minah al-Ilâhiyyah Fî Thams adl-Dlalâlah al-Wahhâbiyyah karya al-Qâdlî Isma’il at-Tamimi at-Tunusi (w 1248 H). Karya manuskrip berada di Dar al-Kutub al-Wathaniyyah Tunisia pada nnomor 2780. Copy manuskrip ini berada di Ma’had al-Makhthuthat al-‘Arabiyyah Cairo Mesir. Sekarang telah diterbitkan.

        106. Minhah Dzî al-Jalâl Fî ar-Radd ‘Alâ Man Thaghâ Wa Ahalla adl-Dlalâl karya asy-Syaikh Hasan Abd ar-Rahman. Berisi bantahan atas ajaran Wahhabiyyah tentang masalah ziarah dan tawassul. Telah diterbitkan tahun 1321 H oleh penerbit al-Hamidiyyah.

        107. al-Minhah al-Wahbiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhabiyyah karya asy-Syaikh Dawud ibn Sulaiman an-Naqsyabandi al-Baghdadi (w 1299 H), telah diterbitkan di Bombay tahun 1305 H.

        108. al-Manhal as-Sayyâl Fî al-Harâm Wa al-Halâl karya as-Sayyid Musthafa al-Mishri al-Bulaqi.

        109. an-Nasyr ath-Thayyib ‘Alâ Syarh asy-Syaikh ath-Thayyib karya asy-Syaikh Idris ibn Ahmad al-Wizani al-Fasi (w 1272 H).

        110. Nashîhah Jalîlah Li al-Wahhâbiyyah karya as-Sayyid Muhammad Thahir Al-Mulla al-Kayyali ar-Rifa’i, pemimpin keturunan Rasulullah (al-Asyraf/al-Haba-ib) di wilayah Idlib. Karya berisi nasehat ini telah dikirimkan kepada kaum Wahhabiyyah, telah diterbitkan di Idlib Lebanon.

        111. an-Nafhah az-Zakiyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Abd al-Qadir ibn Muhammad Salim al-Kailani al-Iskandari (w 1362 H).

        112. an-Nuqûl asy-Syar’iyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah karya asy-Syaikh Musthafa ibn Ahmad asy-Syathi al-Hanbali ad-Damasyqi, telah diterbitkan tahun 1406 di Istanbul Turki.

        113. Nûr al-Yaqîn Fî Mabhats at-Talqîn; Risâlah as-Sunniyyîn Fî ar-Radd ‘Alâ al-Mubtadi’în al-Wahhâbiyyîn Wa al-Mustauhibîn.

        114. Yahûdan Lâ Hanâbilatan karya asy-Syaikh al-Ahmadi azh-Zhawahir, salah seorang Syaikh al-Azhar Cairo Mesir.

        Demikian akhi Sabar,
        Semoga fakta di atas bisa memberi jalan hidayah bagi antum dan teman antum, dan berhenti dari sikap ngeyel. Yang bilang Wahabi sesat itu bukan kami, tetapi para Ulama yg lebih kredibel. Wallohu a’lam.

        1. Subhanalloh….
          Smga bisa menurunkan hidayah bagi para pencari ilmu yg tertipu Wahabi, amin….

          syukron mas admin.

        2. Bismillah
          memang sebagai penuntut ilmu saya harus ngeyel agar apa yang saya yakini kelak tidak mudah terkena subhat, Insya ALLAH
          wallahu ‘alam

        3. Terima kasih atas infonya

          (Ngeyel Mode ON)
          Namun dari isi dakwah dan ajaran saya masih melihat adanya kemudahan, gamblang dan kesesuaian dalam pengamalan syariat/ibadah ini.

          Soalnya saya lahir dari keluarga NU, besar dengan yasinan, tahlilan, maulid, berjanji, puputan, puasa muteh, tapi ngeblengnya nggak jadi 🙂
          Masa kuliah juga pernah ikutan dakwah JT, masa kerja kenal dengan IM dan HT, pimpinan saya pernah orang LDII. kalo Muhammadiyah masjidnya depan rumah 🙂
          Sedikit Suluk, lalu dakwah salafi.

          saya punya tabel perbandingan amaliah perjalanan pencarian di atas. Nanti kalo ada kesempatan saya share di sini (kalo dibolehkan ama mas admin tentunya)

          wallahu ‘alam

          1. Bang sabar@

            NGEYEL itu sikap orang2 jahil lho, bang? Kalau sikap orang pintar atau cerdas itu ketika dikasih fakta yg kuat (seperti fakta 100 lebih Ulama Ahlussunnah menentang Wahabi) akan tersentak pikirannya lalu merenungkan fakta tsb. Jadi mereka tidak NGEYEL, kecuaali orang bodoh pasti akan NGEYEL. Lha modalnya kan hanya NGEYEL, ya nggak bang Sabar?

          2. kalo itu hampir sama dengan saya.. namun saya saat ini masih dalam masa transisi alias mencari sebuah kebenaran yang tanpa menghina dan melecehkan satu sama lain….

          1. Alhamdulillah, Selamat kembali ke tanah air tercinta Mas Ucep semoga ibadah di tanah suci mabruk, amin…, maaf baru tahu koment antum sebab beberpa hari menjelang lebaran ini tidak bisa online.

            Silahkan dicopas atau dishre kepada siapa saja.

          2. Alhamdulillah mas @admin, Tahun ini saya bisa iedul fitri di Tanah air dan syukur Alhamdulillah Blog ini semakin ramai, sejak kedatangan saya sabtu lalu, langsung saya buka ternyata semakin padat. Alhamdulillah

  4. artikel yang bagus , cukup untuk menepis ” pengingkaran ” nama / sebutan wahabi , menunggu komen kawan2 wahabi.

  5. Manteb lah artikelnya, gayanya aku suka, hmmm….

    Kalau Aswaja bangga dg Aswajanya, kalau Syi’ah bangga dengan Syi’ahnya, lalu kenapa Wahabi justru malu dg Wahabinya? Itulah persoalannnya. Ada apa dg Wahabi? Kalau ingin tahu, gampang…. baca aja artikel di atas maka jelas lah persoalan yg menyebabkan mereka malu, minder bahkan ada yg marah disebut Wahabi.

    Bagaimana akang2 Wahabi, antum2 punya penjelasan yg sesuai hati nurani anda sendiri? Jangan uneg2 COPAS ya? Monggo dishare apa2 yg menjadi ganjalan hati antum2.

  6. NU, Muhammadiyah, JT, IM, HT, Salafi, Wahabi, Persis, LDII, atau nama/toriqoh apa saja yang mendekatkan diri saya kepada Sunnah Baginda Rosulullah SAW, maka saya akan sangat bangga menjadi bagian dari nama itu.

    sayang sekali firqoh, aliran, organisasi diatas yg anda sebut sudah disesatkan oleh faham wahabi

  7. Wahabi biar tidak terus menerus menjadi musuh Ummat islam dari dalam, maka saya punya usul sebaiknya pemerintah memindahkan seluruh kaum Wahabi Indonesia agar dilokalisasi di Papua saja. Siapa tahu mereka berhasil me-Wahabikan orang2 Papua, kan bagus? Seperti dulu Wali Songo berhasil mengislamkan Masyarakat Jawa.

    nih alamatnya di PAPUA: http://hankam.kompasiana.com/2012/08/05/kerja-keras-tak-kenal-lelah-demi-perdamaian-papua/

    1. maka, papua kelak akan jadi sarang teroris tentunya. yg akan ditakuti oleh semua makhluk Allah segenap penjuru dunia. dan para wahabis akan semakin sombong..ila yaumil qiyamah.

  8. Istilah WAHABI disebarkan oleh orang2 yang tidak setuju dengan dakwah Syekh Abdul Wahhab, karena dakwah beliau mengajak kembali ke kemurnian Islam sebagaimana para sahabat/salafus sholih lakukan…… Sebaiknya pelajari lebih dahulu dakwah beliau dan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan hati bersih….. Insya Allah antum akan melihat kebenaran dakwah ini…. Jangan termakan dengan subhat penamaan WAHABI……

    1. Amoh@

      Sebaiknya antum jangan banyak alasan tapi katakan…. Katakanlah dg bangga, “SAYA WAHABI, WHY NOT?” Nah, gitu baru gentle. Syi’ah aja gentle mengaku mereka Syi’ah, Aswaja gentle dan bangga mengaku Aswaj, lalu kenapa antum2 yg Wahabi malu-malu? Ada apa dg Wahabi, hemmmm?

    2. Amoh@

      Sebaiknya antum jangan banyak alasan tapi katakan…. Katakanlah dg bangga, “SAYA WAHABI, WHY NOT?”

      Nah, gitu baru gentle. Syi’ah aja gentle mengaku mereka Syi’ah, Aswaja gentle dan bangga mengaku Aswaja, lalu kenapa antum2 yg Wahabi malu-malu mengaku Wahabi? Ada apa dg Wahabi, hemmmm?

    3. setuju justru ana bangga dengan wahabi karna ibadah ana berlandaskan alqur,an dan sunnah bukan kek kaum aswaja(asli warisan jahiiyah

      1. omongan anda akan menjadi fitnah jika tanpa bukti… tong buktikan…
        anda yang mengaku berlandaskan Al-Quran dan Sunnah pasti tau akibat fitnah seperti apa

      2. @sunnah
        Dibagian mana ente ikutin Al Qur’an dan Sunnah, coba lihat Kenapa Tauhid Wahabi bagi 3, Coba ente tunjukin di ayat mana dan Hadist mana yang menyuruh Tauhid dibagi 3 ???????????????
        Dari hal ini aja, Faham Wahabi sudah keluar dari Al Qur’an dan Sunnah, padahal Tauhid adalah “Ushul Ilm”.

  9. Alex Leonardo@

    Saya setuju dg usulan Bang Alex, memang sebaiknya Kaum Salafy Wahabi dilokalisir di Papua aja. Dijamin mereka tidak akan berkembang karena tidak tahu cara berdakwah di tengah2 orang2 non muslim. Nanti akan terbukti bahwa Wahabi or Saklafy itu benar2 benalu ato parasit bagi ummat Islam.

    Sebaiknya diusulinnya ke DPR biar dibahas di rapat LUAR BIASA.

    1. Bismillah,

      Kenapa takut Dakwah Wahabi ?
      Kenapa harus dipindahkan ? supaya tidak berkembang ? berarti saat ini sedang berkembang dong ?
      Dakwah Ilahiyah akan mudah diterima oleh masyarakat, InsyaALLAH

      wallahu’alam

  10. hahahah bisa aja bang alex ngga di pertimbagkan dulu kalo ntar wahabi suruh ngislamin tanah indonesia timur..tar yang ada pake acara bakar rumah penduduk lagi kalo penduduknya ga mau sholat jamaah..ihhh seyem ntar malah kita yang dapat citra n stigma buruk hanya karena mereka gag bisa dakwah sesuai tempat yang mereka singgahi….soalnya mereka pasti bawa bawa nama islam….yaa salaam

  11. Bismillaah,

    Pada 10 malam terakhir Ramadhon, Rasulullaah i’tikaf atau berdiam diri di masjid bersama para sahabatnya. Di kampunga saya, Cilebut, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, masjhid yang ramai dengan orang yang i’tikaf adalah Masjid Walidain, Perumahan Pesona Cilebut. Masjid tersebut dicap sebagai masjid Wahabi. Sedangkan, masjid-masjid lain sepi. Mengapa begini?

    Kalau orang yang rajin i’tikaf karena mengikuti sunnah Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam disebut Wahabi, maka saya mau disebut Wahabi.

    Kalau orang yang selalu merapikan shaf shalat berjamaah dengan menempelkan bahu dengan bahu kawannya dan mata kaki dengan mata kaki kawannya sehingga shaf menjadi rapat dan lurus seperti yang dicontohkan oleh para sahabat Rasulullaah disebut Wahabi, maka saya mau disebut Wahabi.

    Kalau orang yang berdiri dengan menghadapkan jari-jari kaki ke kiblat untuk shalat seperti berdirinya Rasulullaah disebut Wahabi, maka saya mau menjadi Wahabi.

    Kalau orang yang meluruskan punggungnya saat ruku’ dan sujud untuk mengikuti perintah Rasulullaah disebut Wahabi, maka saya mau menjadi Wahabi.

    Kalau orang yang memelihara jenggot untuk mengikuti sunnah Rasulullaah yang juga berjenggot, maka saya mau menjadi Wahabi.

    Kalau orang berpakaian di atas mata kaki untuk mengikuti perintah Rasulullaah disebut Wahabi, maka saya mau disebut Wahabi.

    Kalau orang yang hanya mau beribadah bila ada contohnya dari Rasulullaah disebut Wahabi, saya mau disebut Wahabi.

    Kalau orang yang berpegang teguh pada Qur’an dan Sunnah disebut Wahabi, maka saya mau disebut Wahabi.

    Wallaahu a’lam.

    1. klo orang yang menuduh amalan orang lain syirik padahal orang itu sudah menunjukkan dalil” berdasarkan Al-quran, hadist dan ijtihad para ulama?? apa masih mau disebut wahabi?

  12. Ane setuju banget dengan usulan Bung Alex. Namun kurang sedikit kata-katanya yg perlu ditambahi yakni “Wahabi biar tidak terus menerus menjadi musuh Ummat islam dari dalam, maka saya punya usul sebaiknya pemerintah memindahkan seluruh kaum Wahabi Indonesia agar dilokalisasi di Papua saja… …dan Pemerintah jangan lupa juga untuk membuat Tembok (seperti Tembok Cina) & akses melalui udara di hentikan agar Wahabi tidak bisa keluar dari Papua”…

  13. Bismillah…..

    Mohon maaf sebelumnya kang Suradi@.

    Sudikah anda disebut WAHABI ketika anda atau teman teman anda suka usil terhadap amaliyah orang lain dengan mengatakan kami sebagai Ahli Bid’ah, Khurofat, Syirik, Penyembah Kuburan dsb?

    HADAANALLOHU WA IYYAKUM

    1. Bismillah,

      Bukan usil kali. Namun Peduli atas dasar sayang terhadap saudaranya muslim yang melakukan amaliah yang tanpa dalil shahih
      walaupun caranya barangkali mungkin dianggap keras/frontal sehingga tidak disukai.

      Wallahu’alam

  14. MUNAJAT “SANG AHLI BID’AH”

    Bismillah….

    Yaa Alloh…. Ketika kami bergembira pada hari kelahiran Nabi-Mu dengan membaca Sholawat atas Beliau, membuka sekilas keagungan Akhlaqnya melalui pembacaan Siroh Nabawi, bershodaqoh dan berbagi, mendengar taushiyah dari guru-guru kami, sesungguhnya Engkau Maha Tahu, bahwa itu semua adalah bagian dari Ekspresi kecintaan kami kepada Nabi-Mu yang dengannya kami berharap dari-Mu kuatkanlah iman kami untuk menjalankan petunjuk-Mu, semakin mantap dalam Sunnah Nabi-Mu. Jika ini menyebabkan kami dituduh sebagai AHLI BID’AH, Sungguh kami Tak Peduli.

    Yaa Alloh…. Ketika kami menziarai Pusara Nabi-Mu, Kekasih-Mu, sungguh karena kerinduan hati yang menggebu, Ketika kami menziarahi makam para Awliya, Syuhada, Serta Orang-orang Sholih, sungguh sebagai ungkapan Syukur kami kami pada-Mu sekaligus terima kasih kami pada mereka yang telah Engkau jadikan sarana pemberi informasi tentang-Mu, tentang Agama-Mu yang Haq. Jika karena ini kami disebut sebagai KAUM KUBURIYYUN, Sungguh kami Tak Peduli.

    Yaa Alloh…. Telah Engkau wajibkan atas kami berbakti kepada orang-orang tua kami, baik ketika mereka masih hidup maupun setelah meninggal, oleh karenanya kuhadiahkan pahala bacaan fatiha buat mereka, kuhadiahkan pula pahala bacaan dzikir yang lain untu mereka, kupersembahkan bagi mereka pahala shodaqoh, karena kami tahu, kami tak bisa lagi menunjukkan bakti kami pada mereka selain dengan do’a dan amal sholih kami. Jika karena ini semua kami dituduh PENGANUT TRADISI SESAT, Sungguh kami Tak Peduli.

    نسألك اللهم التوفيق لمحابك من الاعمال, وصدق التوكل عليك, و الغنية عمن سواك, و كل الخير و القبول أمين,

  15. Bismillaah,

    Amalan yang benar akan memberikan semangat kepada pengamalnya untuk meningkatkan amal ibadahnya berdasar ilmu. Ia akan menjadi rajin menuntut ilmu untuk mengetahui dalil amalannya. Ia akan meningkatkan kualitas dan kuantitas amalan-amalannya. Pengamalan banyak amalan yang berkualitas akan membuahkan akhlak yang mulia pada diri pengamalanya.

    Sudah beratus-ratus tahun, masyarakat senantiasa berbondong-bondong menghadiri Maulidan dengan tujuan untuk meneladani kehidupan beragama Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

    Jika amalan itu benar dan baik, maka makin lama masjid-masjid makin dipenuhi orang untuk shalat berjamaah bahkan waktu subuh sekalipun. Shaf-shaf mereka makin rapat dan lurus sehingga terlihat seperti barisan pasukan perang yang kokoh dan tak terkalahkan. Masjid-masjid akan penuh dengan orang yang i’tikaf pada 10 malam terakhir Bulan Ramadhon. Toko buku Islam ramai dikunjungi oleh orang-orang yang haus menuntut ilmu agama Islam. Industri jilbab tumbuh pesat karena peningkatan permintaan seiring meningkatnya jumlah wanit berjilbab besar. Makin banyak oraang berjenggot karena ingin mengikuti sunnah Rasulullaah, makin banyak laki-laki berpakaian di atas mata kaki karena ingin mengikuti sunnah Rasulullaah, dst.

    Namun tanda-tanda tersebut belum kelihatan hingga saat ini. Masjid belum penuh sesak bahkan saat subuh. Shaf-shaf shslat berjamaahnya masih berantakan. 10 hari terakhir Ramadhon, masjid makin sepi namun mall makin ramai. Masih sedikit wanita Muslim berjilbab dibanding yang tidak berjilbab. Dari yang berjilbab, banyak yang berjilbab gaul. Umat Islam masih enggan berjenggot dan berpakaian di atas mata kaki. Dst.

    Mohon maaf bila ada kata-kata yang tak berkenan di hati kawan-kawan semua.

    Wallaahu a’lam.

    1. Bismillah…..

      Kang Suradi@.

      Maaf sebelumnya, semakin jauh anda berbicara semakin nglantur tak berdasar, sekali lagi ana ulangi jika memang anda merasa paling benar, dan kami di pihak yang salah, mari berdiskusi ilmiyah tidak dengan ngomong ngalor ngidul nggak karuan, jika ukuran kebenaran anda adalah ramainya masjid anda, coba anda perhatikan masjid Ampel Surabaya, bahkan dimasjid kampung ana sendiri, tapi apakah layak disebut anda ini sebagai orang berilmu jika menghukumi Maulidan dengan mengukur jamaah masjidnya?

      Bukankah anda sendiri yang mengatakan amal harus didasarkan pada ilmu? lalu atas dasar apa anda menghukumi Iman seseorang hanya dengan Ramainya Masjid? Ingat zaman Mu’awiyah masjid juga masih Ramai seperti masjid anda bahkan mungkin lebih Ramai, Masjid Syi’ah juga mungkin lebih Ramai dari masjid anda, kaum Khowarij juga berjama’ah dengan meluruskan Shof dan rapat, Apa berarti Syiah dan Khowarij lebih benar dari anda?

    2. Kang Suradi@. Sekedar tambahan…

      Gimana ya jama’ah yang ada dimasjidil Haram yang shofnya tidak pada lurus, juga terjadi lalu lalang didepan orang sholat, padahal mereka anti Maulid? bahkan Jubah sang Imam juga Isbal menyapu lantai dan diantara para jama’ahnya tidak jarang yang tidak berjenggot, padahal mereka juga Anti Maulid?

      1. Bismillaah,

        Janganlah melakukan amalan berdasarakan kebiasaan di suatu tempat meski itu di Majidil Haram. Kebiasaan di suatu tempat bisa berbeda dari kebiasaan di tempat lain. Pasti akan terjadi banyak perbedaan kaarena banyaknya tempat. Dan perbedaan cenderung menimbulkan perselisihan.

        Maka dari itu, dasarkanlah amalan kita pada apa yang dikatakan Allah (Qur’an) dan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (hadits). Dengan demikian, amalan akan sama meski dilakukan di banyak tempat.

        Wallaahu a’lam.

  16. Bismillah

    Istilah wahabi dinisbatkan kepada Syaikh Muhamad bin Abdul Wahab at Tamimi, seorang ulama besar dari Hijaz yang berjuang menegakkan tauhid memberantas kesyrikan di semenanjung Arabia. Dilihat dari penyebutannya saja istilah ini sudah rancu, lantaran kata wahabiyah justru mengacu pada ayah Syaikh Muhamad at Tamimi sebagai penggerak dakwah yang bernama Abdul Wahab. Jika mau fair, harusnya dakwah beliau disebut Muhamadiyah sesuai dengan nama tokohnya. Akan tetapi jika nama itu yang digunakan, maka tujuan pemunculan istilah tersebut sebagai alat penggiring opini negatif terhadap dakwah beliau takkan pernah terwujud.

    Dapat dipastikan istilah wahabiyah sengaja dimunculkan oleh pihak – pihak yang tak menyenangi dakwah beliau baik dari kalangan kafir maupun dari kalangan kaum muslimin itu sendiri. Tak cukup dengan sekedar penciptaan opini, musuh – musuh dakwah tauhid bahkan menciptakan sejarah palsu tentang dakwah beliau . Wahabi selalu diidentikkan dengan kekerasan, kebrutalan, dan jejak berdarah. Saat ini pun, ketika terjadi teror yang mengguncang tanah air sebagian orang langsung menuduh wahabi sebagai biang keroknya. Apalagi bila pelakunya memiliki identitas jenggot, jidat hitam, celana ngatung, dan istrinya bercadar. Tuduhan itu sungguh tak berdasar.Pasalnya, dalam berbagai kitab yang ditulis oleh para ulama yang dicap wahabi, justru menyerukan kepada kaum muslimin untuk mentaati pemerintahnya. Tak main – main. Taat terhadap penguasa merupakan salah satu pilar aqidah. Bahkan, Saudi Arabia yang dicap sebagai tempat tumbuh berkembangnya wahabiyah justru sering menjadi sasaran teror Al Qaida.

    Sebetulnya penyebutan istilah wahabi dengan konotasi negatif bukan barang baru di tanah air. Dulu, di masa pemerintahan Hindia Belanda, istilah tersebut juga dimunculkan untuk memberi stigma negatif para da’i yang menolak taklid terhadap mazhab dan menolak pelestarian adat istiadat yang berbau kesyrikan. Para da’i yang acapkali diberi stigma wahabi kala itu adalah mereka yang tergabung dalam organisasi Muhamadiyah, Persis, dan Al Irsyad.

    Jadi, apa beda salafi dengan wahabi? Perbedaannya adalah pada asal muasal pemunculan istilah tersebut. Istilah Salafi dimunculkan sebagai identitas atas sebuah dakwah tauhid yang menyeru kepada umat untuk kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah berdasarkan pemahaman salafus shalih. Sedangkan, istilah wahabi dimunculkan oleh musuh – musuh dakwah tauhid baik dari golongan kafir maupun kaum muslimin sendiri yang kian resah lantaran dakwah ini semakin berkembang dari hari ke hari. Siapakah golongan umat Islam yang tak menghendaki dakwah tauhid ini berkembang pesat menyinari hati para insan? ana bangga bermanhaj salaf. ana bangga mengikuti pemahaman Syaikh Muhamad bin Abdul Wahab at Tamimi. Antum smw jng salah, Syaikh Muhamad bin Abdul Wahab at Tamimi bukan dari Najed tapi dr Hijaz. dan Ana berlepas diri dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Najdi yg antum sebutkan. Wallohu ‘alam.

  17. Alhamdulillah, wasshsholaatu wassalaamu ‘alaa Rosulillah, wa ‘alaa Aalihi wa Ashaabihhi wa Manwaalah

    Allohuumaa Yaa Alloh, yaa Lathiif

    Lembutkan hati kami dan saudara-saudara kami

    Tambahkan kepada kamii ilmu yang bermanfaat

    Ringankan hati dan langkah kami untuk mengikuti Jalan – Mu

    Jauhkan dari kami kedengkian dan ta’ashub

    Kuatkan ukhuwah kami dalam Kasih=Mu

    Amiin amiin

    Hadaanalloohu waiyyaakum

    Mari sama-sama meningkatkan taqwa kita kepada Alloh SWT

  18. Mohon bantuannya…
    Ilmu apa untuk membuka misteri kehidupan dunia.? mohon pencerahanya.. Ummati.. Please..
    Aku mohon dengan sangat bantuannya.. Ilmu apa itu, mohon ditampilkan komen ini.. Butuh pencerahanya. (aku bingung, diberi kata kunci ada dalam lirik lagunya Gus Dur, tapi tak cari belum menemukan ilmu tersebut)

  19. Bismillaah,

    Malam ini adalah malam ke 27 Ramadhon. Marilah kita penuhi masjid hingga pagi hari, lebih baik lagi selama 24 jam, untuk i’tikaf. Kita shalat, membaca Qur’an, bedzikir, berdoa dan amalan lainnya untuk membersihkan diri. Mari kita sempurnakan puasa kita dengan i’tikaf hingga akhir Ramadhon.

    Mohon maaf kepadakawan-kawan di ummatipress atas perkataan-perkataan saya yang tidak berkenan di hati kawan-kawan semua.

    Wallaahu a’lam.

  20. Mohon bantuannya…
    Ilmu apa untuk membuka misteri kehidupan dunia.? mohon pencerahanya.. Ummati.. Please..
    Aku mohon dengan sangat bantuannya.. Ilmu apa itu, mohon ditampilkan komen ini.. Butuh pencerahanya. (aku bingung, diberi kata kunci ada dalam lirik lagunya Gus Dur, tapi tak cari belum menemukan ilmu tersebut)

  21. Assalamualaikum buat semua,
    selamat Hari Raya/Lebaran Eidil Fitri Minal Wal Fa izin untuk seluruh muslimin/muslimat

  22. @Ibnu Suradi
    Kasihan masanya sudah agak lama tapi antum masih belum ketemu pencerahan dan masih belum dapat keluar dari lingkaran kepalsuan Wahhabi. Ana anjurkan sentiasalah bersolat istikharah atau istighathah, juga amat baik baik mengamalkan membaca “Fatihah” 40 x selepas sonat Suboh atau jadikan Fatihah itu sebagai zikir harian dengan membaca 1k sehari. Fatihah itu Ummul Kitab suatu doa yang amat besar,
    bacalah dengan penuh penghayatan dan harapan keredhaan dari Allah.

  23. Bismillah…

    Saya melihat admin,sangat disayangkan sekali , berilmu tapi tak memiliki pikiran yg jernih…, kwn2 sekalian coba belajar yg banyak lagi.., disini jelas antum2 berkata sangat kasar dan tdk sopan sekali…, apakah itu amaln yg antum2 amalkan??? ingat, penjelasan yg dsampaikan admin tidak berdasar sama sekali, melainkan hanya didasarkan hanya pd kebencian semata, nafsu semata, naudzubillah…. saya sangat setuju dengan @ Sabar , @ Amoh , @ Ibnu Suradi @ dan Abu Hakim….., coba liat komen2 mereka….,tdk ada yg menghina dan mencaci krn mereka tegak diatas jalan yg benar….,tdk spt selebihnya….., sgt saya sayangkan sekali, berilmu tapi mencap yg lain sesat…, apakah antum2 sudah benar apa belum??? apakah sudah sholat berjamaah dimesjid 5 kali sehari apa belum??? sudah merapatkan shaf (bahu-bahu dan kaki) dalam sholat apa belum??? sudah memakai pakaian diatas mata kaki apa belum?? sudah beribadah sesuai sunnah Rasul apa belum?? sungguh Rasululloh tdk pernah mengajarkan seseorang utk mencaci spt antum2 yg lakukan ini, apa sich masalahnya dgn Wahhabi,?? Muhammad bin abdul wahhab membawa ajaran tauhid(yang benar) itu makanya org2 yg tdk senang dgn ajaran beliau memberi gelar dgn “Wahhabi” apakah kalian tahu?? dan yang haq itu tetap haq, sayang sekali Wahhabi yang kalian benci merupakan nama Allah “Ya Wahhab”, apakah kalian tahu?? pada admin, coba banyak belajar lagi, dan jangan lakukan FITNAH ini lagi….., ” …mereka hendak menipu org2 beriman, tetapi mereka menipu diri mereka sendiri…”

    “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

    Kalau antum2 berkenan dan ingin mencari kebenaran, silahkan download kajian ttg ” Meluruskan Sejarah Wahhabi” oleh ustad Abu Ubaidah yusuf di link berikut :

    http://us.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abu%20Ubaidah%20Yusuf%20As-Sidawi/Meluruskan%20Sejarah%20Wahabi

    http://us.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Badrusalam/Pro%20Kontra%20Dakwah%20Wahhabi

    http://us.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Ali%20Musri/Apa%20Itu%20Wahabi

    semoga kawan2 yang belum mendapat pencerahan agar segera mendapatkannya, supaya tidak lagi saling Fitnah…. wassalam

    jika ibadah yang saya lakukan berdasar pada Alquran dan Sunnah Rasululloh disebut WAHHABI…..MAKA SAYA BANGGA DENGAN NAMA ITU…. ALLAHUAKBAR..

    1. apa anda tidak malu berkata demikian, disampang madura terlepas dari masalah kriminal yang sedang di usut polisi, siapa yang sebenarnya memerangi syiah, di jember pun begitu, apakah yang memerangi itu dari golongan anda ? mohon anda ngaca dulu sebelum berkoar2

  24. @prabu, kita disini utk mencari kebenaran atau hanya utk berdebat kosong spt ini saja?? antum jgn hnya liat di indonesia saja, tp antum lihat di bagdad, suriah, iran, dan banyak lg disana dimana mereka kaum syiah membantai ahlus sunnah, btw ana sangat meragukan isi blog ini kemungkinan admin ini berkedok sbg sunni, yg sbenarnya syiah….

    saran bagi antum2 yg awam akan ilmu agama dan manhaj ahlus sunnah harap hati2 dgn ahlul bid’ah, krn mereka menjadikan bid’ah dan kesesatan itu samar2 dimata kita, sehingga kita buta akan kebenaran dan lebih mengedepankan nafsu semata dlm memutuskan/berkomentar, ingat hanya Al-quran dan As-sunnah saja yg wajib dijadikan hujjah/dasar syar’i yg haq…..

    semoga bermanfaat….. wassalam

    1. @Abu Dzar dan teman-temannya :
      Saudara Abu Dzar, ini INDONESIA, dimana founding father negeri ini, termasuk Bapak Sukarno, KH. Wahid Hasyim, Agus Salim dan banyak tokoh lain Republik ini sudah sepakat untuk menjadikan Pancasila dan UUD 1945 menjadi dasar negara. ISLAM salah satunya sebagai ruh perjuangan bangsa besar ini. Namun semua telah sepakat untuk menjadikan negeri ini sebagai negara kesatuan yang menyatukan semua Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA)

      Semua SARA dilindungi oleh Pancasila dan UUD 1945. Jadi walaupun kami pengikut Ahlus Sunnah Wal Jamaah akan tetap juga mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku, bahwa setiap warga negara berhak memeluk agama/keyakinannya dan negara melindunginya.

      Jadi kalau ada aliran apapun, termasuk aliranmu Salafy Wahabi tetap dilindungi oleh Pancasila dan UUD 1945. Apa yang kita bicarakan disini adalah dalam konteks lita’arafu dan yuhasabu. Kita tidak perlu meniru Arab Saudi, Iran, Iraq, Suriah atau apapun dalam bernegara, sekali lagi ini Indonesia Bung. Jangan bawa sentimen negara lain ke Indonesia secara membabi buta. Kalau saudara cocok dengan cara Arab Saudi bernegara lebih baik pindah saja kewarganegaraanmu. Tidak kurang Gus Dur merupakan contoh kami dalam memahami Islam hidup di Negara Majemuk Indonesia tercinta ini. Indonesia sudah sepakat tidak menjadikan negara khilafah karena majemuknya, hanya kelompok aliran keras termasuk Teroris yang hendak meng-Islam-kan Indonesia.

      Kepada seluruh umat Islam berhati-hatilah terhadap faham mereka ini, yang membawa sentimen negara lain ke negeri ini

      Konsep bid’ah kalian juga sangat tidak sesuai dengan konsep bid’ah para ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang kami ikuti.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    1. @maya : coba tunjukkan artikel/comment dalam blog ini klo ada yg membela syiah, fitnah itu lebih kejam dari pada membunuh, coba terangi hati kita dengan berdzikir dan bersholawat agar hati kita tidak berkarat

    2. Waduh mbak, coment-nya qo’ asal ya? Bukankah KH. Hasyim Muzadi dan para Ulama Jawa Timur sedang berupaya mempersatukan kembali Ukhuwah di Madura?

      Maaf mbak bukan kami membela Syi’ah, namun memahami keberagaman dalam kemajmukan adalah karakter ASAWAJA NU, Kalo mBaknya NU, ana mau nanya NU yang sebelah mana ya?…..

  25. BASMALLAH ,
    YANG KU TAHU SALAFY ITU , CELANA CINGKRANG TINGGI-TINGGI NDAK PANTAS , ITU RIYA BIAR DIANGGAP SANTRI DAN paling TAKWA (biartidak dianggap orang tak ber Ibadah)DAN JELAS BERJENGGOT,
    HANYA KENAL DAN MENYAPA AKRAB SESAMA MEREKA, INI YANG KULIHAT DALAM PER GAULAN SEHARI HARI..ITU SAJA.. WASSLM

  26. Bismillah….

    @Derajat, sederhana saja, saya ga akan melebar kemana-mana.., kalo bagi anda Gus Dur sbg pedaman dlm beragama tapi kalo Bagi Ana Cukup Rasululloh Shalallahu’alaihi wassalam sebagai Suri Teladan bagi ana dlm memahami islam dan beribadah yg sesuai tuntunannya,

    Cukup Rasululloh Shalallahu’alaihi wassalam pelita dari segala pelita yg ada dmuka bumi ini, mengapa?? ana Muslim yg Beriman pada Rasul dan meyakini bahwa beliau Utusan Alloh ‘Azza wa jalla, kenapa??

    beliau adalah MANUSIA TERBAIK SEPANJANG SEJARAH MANUSIA dimuka bumi ini mulai dari Nabi Adam hingga kiamat nanti dan RASUL Mahsum (dipelihara oleh Alloh dari kesalahan), beda dgn manusia lain yg penuh dgn kesalahan…, Apakah ada yg lebih mulia dari Rasul sbg panduan hidup beragama?? adakah yg lebih mulia dari Abu Bakar, Ustman bin Affan, Ali, Umar bin Khatab dan para sahabat lainnya???

    dlm tausyiahnya Ustad Maududi mengatakan : “…kalo kepala sudah diusap oleh kiai, ada jaminan pasti akan masuk syurga , sehingga berebut mereka menciumi tangan kiainya, dan kiainya pun seolah-olah memberikan pemahaman kpd murid2nya dan dgn mudahnya tangan2nya diangkat utk diciumi oleh murid2nya… dan terkadang tangannya dibawah agar murid2nya sujud’ menciumi tangan kiainya itu…,

    Siapa Anda kiai??? apakah Stempel Syurga ada pd tanganmu??
    Apakah syurga Alloh ada pd org2 yg mencium kakimu..??

    R A S U L….., MANUSIA TERBAIK DIPERMUKAAN BUMI INI…. tak seorangpun yg menciumi kaki beliau… R A S U L…MANUASIA TERBAIK SEPANJANG SEJARAH MANUSIA YG ADA DIPERMUKAAN BUMI…mulai dari Nabi Adam hingga kiamat….tak seorang pun dibiarkan SUJUD dihadapan beliau…. SIAPA ANDA?? AGAMA APA YG ANDA AJARKAN KPD MANUSIA??? WAHAI KIAI ???

    Anda tdk lebih mulia dari Abu Bakar, Anas bin Malik, Abu Hurairah, … anda tdk lebih mulia dari Abdulloh bin Abbas, Abdulloh bin Umar, tak seorangpun manusia2 mulia yg disebutkan oleh Alloh dlm Al-Quran sbg Muhajirin dan Anshar yg dilakukan itu oleh umat kpd mereka, tapi andai Abu Bakar dan Ustman dan Ali tdk memiliki itu… SIAPA ANDA ???

    Apalagi setelah kami tahu, wanita2 yg bukan mahrom mu dgn senang anda salami dan dgn senang tangan anda dicium oleh wanita2 itu…………..

    Anda merasa mulia dari Abu Bakar dan Umar ???? OMONG KOSONG………!!!!…” .

    itulah sedikit kutipan tausyiah, bagi mereka yg meng agung agung kan para kiai nya……

    1. @Abu Dzar :
      Rupanya saudara, mohon maaf, perlu belajar membaca lagi ya. Kalimat saya diatas mengatakan “Tidak kurang Gus Dur merupakan contoh kami dalam memahami Islam hidup di Negara Majemuk Indonesia tercinta ini.”

      Saya tidak sedang membandingkan Gus Dur dengan Rasulillah SAW. Wah kacau juga cara baca saudara ya ??? 😀

      Gus Dur bagi saya adalah pemimpin yang memberi contoh hidup di negeri yang majemuk ini. Ini INDONESIA Bung… Lalu kalau memang saudara mencontoh Rasulillah kenapa masih mencontoh omongan Syaikh-syaikhmu yang suka mengkafirkan dan membid’ahkan orang itu.

      Kalau pedoman hidup yang paling utama jelas Allah dan Rasulillah SAW. pedoman kami, saudara tak perlu mengajar seakan saudara paling pengikut Rasulillah SAW.

      Sekali lagi saya mengingatkan saudara, bahwa saudara hidup di INDONESIA bukan Iran, Iraq, Suriah apalagi Arab Saudi. Siapapun bisa hidup dan bekerjasama di negeri ini. Negara melindungi semua warga negaranya, baik itu Sunni, Syiah, Salafy Wahabi, Katolik, Hindu dan sebagainya, semua itu diatur dan didasari dari Pancasila dan UUD 1945. JADI JANGAN BAWA SENTIMEN POLITIK, AGAMA, KEPERCAYAAN APAPUN KE NEGERI TERCINTA INI. Silahkan kalau kelompok kalian mau menghancurkan peradaban manusia di negara lain saja. Bahkan kami mewaspadai laten TERORISME adalah dari kelompok saudara, yang dari ciri-ciri dan pemahamannya sama. Tidak kurang PBNU juga sudah menyerukan dimana-mana akan LATEN SALAFY WAHABI DAN TURUNANNYA yang bisa membenturkan sesama anak bangsa.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  27. @ Prabu, ga da bedanya Ahlul Bid’ah dengan Syiah, yg jelas semua artikel yg ada di blog ini adalah merupakan PERKARA2 BARU DALAM AGAMA ALIAS BID’AH, SESAT LAGI MENYESATKAN……. hati2 bagi yg awam akan ilmu agama, jangan sampai terkecoh dlm artikel ini yg menyamarkan amalan-amalan baik tapi sebenarnya adalah bid’ah, sehingga benar dimata kita, PESAN ANA, PEGANG TEGUHLAH PADA KITABULLOH (AL-QURAN) DAN SUNNAH NABI…., apa2 yg diajarkan oleh Rasul amalkanlah, dan apa2 yg ditinggalkan Rasul maka jauhilah dan hati2 dgn perkara2 baru sesungguhnya perkara2 baru dlm agama itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu tempatnya di NERAKA……

    “Rasulullah datang untuk memecah, antara al-haq dan al-batil, antara ahli tauhid dan ahli syirik, antara islam dengan kekafiran dan antara petunjuk dan kesesatan sehingga menjadi jelas dan berbeda antara GELAP dan CAHAYA.”

    Ibnu Taimiyah mengatakan : ” Lebih mulia org2 yg melakukan kemaksiatan spt mencuri, memerkosa, korupsi dll dari pada Ahlul Bid’ah, karena bahaya Bid’ah itu lebih besar dari kemaksiatan karena bid’ah itu merusak agama yang sempurna sedangkan kemaksiatan adalah melanggar agama, pelaku bid’ah lebih sulit dinasehati dan lebih sulit untuk bertaubat karena mereka merasa diatas petunjuk dan tidak merasa bersalah sedangkan pelacur, perampok, pembunuh, mereka tetap meyakini perbuatannya adalah maksiat dan dosa dan mereka lebih dekat pd ampunan Alloh.

    sehingga ulama mengatakan :”Perbuatan bid;ah pelakunya itu lebih disukai iblis dari pada maksiat dan Alloh subhanawataala lebih memurkai perbuatan bid’ah dan pelakunya daripada maksiat”

    wallahu’alam bishsowab….

    1. @Abu Dzar :
      Hai Abu Dzar, saya baca kata-katamu seperti kata-kata orang yang sudah putus asa. Pembicaraanmu loncat sana-sini tidak jelas. Dan saya salut kepada Admin, ternyata bisa memancing pengikut Salafy Wahabi di Indonesia ini keluar dari sarangnya. Kata-katanya penuh sumpah serapah. Mereka mau membawa SENTIMEN LUAR NEGERI ke INDONESIA. Ini jelas kelompok yang sangat berbahaya !!!

      Patut kita sarankan kepada para ulama/Kyai/Habaib Ahlus Sunnah Wal Jamaah untuk sering mengadakan pengajian umum tentang Siapa dan Apa Salafy Wahaby ini, termasuk ajarannya yang ujung-ujungnya sangat berbahaya bagi Umat Islam khususnya di Indonesia. Saya sudah mendengar dan melihat tak kurang Habib Luthfi bin Yahya, KH. Said Agil Siradj, Habib Mundzir Fuad Al Musawwa, Para Pengurus Ponpes Sidogiri, Langitan, seluruh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama serta Para Ulama yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu sudah sangat gerah dengan gerakan mereka ini yaitu HTI, MTA, JAT, Ponpes Ngruki, dan masih banyak lagi.

      Maka saya ikut menyerukan untuk ikut membentengi diri kita, keluarga, orang tua, teman dan sahabat dengan selalu mengingatkan BAHAYANYA KELOMPOK SALAFY WAHABI dalam bentuk apapun, tapi tetap dalam koridor yang santun dan lebih menjelaskan ke umat tentang Aqidah kita bersama Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

      Semoga Allah selalu menolong dan meridhai perjuangan kita.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    2. pelaku maksiat mudah untuk dinasehati karena mereka telah meyakini perbuatannya adalah maksiat dan dosa dan mereka lebih dekat pd ampunan Alloh.
      sadangkan pelaku bid’ah susah untuk di nasehati karena mereka telah menganggap baik bid’ah yang telah di lakukannya, sehingga pelakunya susah untuk bertaubat, kecuali orang-orang yang bertaqwa kepada Alloh, mengikuti jejak rosululloh dan para sahabatnya. karena rosululloh berwasiat:
      “Aku wasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, (agar) mendengarkan dan mentaati, sekalipun kalian diperintah oleh seorang hamba sahaya. Karena sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang dipanjangkan umurnya, maka ia akan melihat banyak terjadi perselisihan (dalam agama), maka hendaklah kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yang mendapatkan petunjuk sesudahku, berpegang teguhlah padanya, gigitlah sunnah itu dengan gigi gerahammu. Dan berhati-hatilah kamu terhadap perkara-perkara yang dibuat-buat (dalam agama), karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah kesesatan.” (HR. Ahmad 4/126, Abu Dawud no. 4607, At-Tirmidzy no. 2676, Ibnu Majah no. 44, Ad-Darimy (1/44-45).
      orang yang mengamalkan suatu amalan yang rosululloh dan para sahabat tidak mengerjakan, hendaklah kalian bertaqwa kepada Alloh. saya tau bahwa aswaja adalah sangat mencintai rosululloh, telah kita ketahui bersama bahwasanya rosululloh telah berwasiat ketika terjadi perselisihan hendaklah kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yang mendapatkan petunjuk sesudahku, berpegang teguhlah padanya, gigitlah sunnah itu dengan gigi gerahammu. Dan berhati-hatilah kamu terhadap perkara-perkara yang dibuat-buat (dalam agama), karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah kesesatan.
      dalam rangka mencintai rosululloh hendaknya mereka taat kepada wasiat rosululloh ini.

      1. @Gunawan :
        Kelihatannya saudara pandai berdalil dengan hadits-hadits. Saya salut.

        Sekarang begini saja, secara ilmu nahwu, Bid’ah itu asal katanya dari apa ?, bagaimana sifatnya ?, bagaimana kedudukannya dalam suatu kalimat ? Ta’rif bid’ah sendiri dari beberapa hadits apa maksudnya ?

        Mohon dijelaskan, saya siap menyimak. Atas penjelasan saudara saya sampaikan terimakasih.

        Kebenaran hakiki hanya milik Allah
        Hamba Allah yang faqir dan dhaif
        Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    3. @Abu Dzar, lucu deh anda. di atas anda berkata : “dan apa2 yg ditinggalkan Rasul maka jauhilah”. seolah olah, setiap perkara yg tidak di lakukan oleh Rasul, namun dilakukan oleh umatny, otomatis haram. coba anda baca kaidah ushul fiqih. Tidak ada dalam kaidah ushul fiqih itu yg menyatakan bahwa sesuatu yg ditinggalkan Rasul maka hukumnya haram.

  28. @abu dzar
    Wah kata-katanya hebat sekali ya. apakah itu faham ente yang selalu menggembar-gemborkan kembali ke Al Qur’an dan sunnah ????

  29. @abu dzar
    bukankah kami sudah menunjukkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW tentang amalan” kami??
    kenapa masih di permasalahkan…

    ketika Sayyidina Umar Ra. mengumpulkan orang” yang shalat teraweh menjadi 1 imam (berjamaah) beliau berkata : inilah sebaik-baik bid’ah.”
    jika seandainya Sayyidina Umar Ra. hidup dijaman sekarang… Apakah anda akan bilang.. itu sesat, dan tempatnya di Neraka??
    mungkin anda mengelak… itu bukan hal bid’ah karena Rasulullah pernah Shalat taraweh berjama’ah..
    mungkin anda sudah lebih pintar dari dari Sayyidina Umar dalam mengartikan bid’ah seperti yang Rasulullah maksudkan..
    saya akan gunakan kalimat sakti anda “Ayo Kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah” ^^

  30. @abu dzar, tampaklah sekarang siapa dan bagaimana tabiat anda sesungguhnya, omongan anda lain dari kelakuan anda, anda tampaknya juga pengagum ibnu taimiyah, siapa ibnu taimiyah itu ? apakah cap surga sudah ada pada tangannya ? apakah lebih mulia dari Nabi SAW, atau lebih mulia dari Sayyidina Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali ? he…he…he.. coba anda jawab pertanyaan saya saudaraku,

  31. Pelaku maksiat mudah untuk dinasehati karena mereka telah meyakini perbuatannya adalah maksiat dan dosa dan mereka lebih dekat pd ampunan Alloh.

    sadangkan pelaku bid’ah susah untuk di nasehati karena mereka telah menganggap baik bid’ah yang telah di lakukannya, sehingga pelakunya susah untuk bertaubat, kecuali orang-orang yang bertaqwa kepada Alloh, mengikuti jejak rosululloh dan para sahabatnya. karena rosululloh berwasiat:

    “Aku wasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, (agar) mendengarkan dan mentaati, sekalipun kalian diperintah oleh seorang hamba sahaya. Karena sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang dipanjangkan umurnya, maka ia akan melihat banyak terjadi perselisihan (dalam agama), maka hendaklah kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yang mendapatkan petunjuk sesudahku, berpegang teguhlah padanya, gigitlah sunnah itu dengan gigi gerahammu. Dan berhati-hatilah kamu terhadap perkara-perkara yang dibuat-buat (dalam agama), karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah kesesatan.” (HR. Ahmad 4/126, Abu Dawud no. 4607, At-Tirmidzy no. 2676, Ibnu Majah no. 44, Ad-Darimy (1/44-45).

    Orang yang mengamalkan suatu amalan yang rosululloh dan para sahabat tidak mengerjakan, hendaklah kalian bertaqwa kepada Alloh. saya tau bahwa aswaja adalah sangat mencintai rosululloh, telah kita ketahui bersama bahwasanya rosululloh telah berwasiat ketika terjadi perselisihan hendaklah kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yang mendapatkan petunjuk sesudahku, berpegang teguhlah padanya, gigitlah sunnah itu dengan gigi gerahammu. Dan berhati-hatilah kamu terhadap perkara-perkara yang dibuat-buat (dalam agama), karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah kesesatan.

    Dalam rangka mencintai rosululloh hendaknya mereka taat kepada wasiat rosululloh ini.

    1. @Gunawan :
      Kelihatannya saudara pandai berdalil dengan hadits-hadits. Saya salut.

      Sekarang begini saja, secara ilmu nahwu, Bid’ah itu asal katanya dari apa ?, bagaimana sifatnya ?, bagaimana kedudukannya dalam suatu kalimat ? Ta’rif bid’ah sendiri dari beberapa hadits apa maksudnya ?

      Mohon dijelaskan, saya siap menyimak. Atas penjelasan saudara saya sampaikan terimakasih.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang faqir dan dhaif
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    2. @gunawan
      Ente gak usah teriak-teriak bid’ah, coba deh ente jelaskan pertanyaan mas @bu hilya dan @mas derajat. Agar temen-temen disini jelas. Katanya ingin kembali Ke Al Qur’an dan As Sunnah.

  32. Mengikuti yg ada di Blog…. memang banyak ..yang ada Abdu Wahab yang meneruskan Titah Ibnu Taimiyah sempat kena Fitnah semasa hidup, Melarang Siarah Kubur, Melarang Malu id , bid’ah Kunut, ini semua tinggal di membuka kitab2 dari Ulama yang masih ada….

    1. @Satyo :
      Imamul Udzma kami jelas Sayyidina Muhammad SAW. selanjutnya para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, dan ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang diberi petunjuk serta diridhai hingga akhir zaman.

      Memangnya ada apa tanya-tanya Imam Ahlus Sunnah Waljamaah Mas Satyo ??? 😀

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  33. klo antum ngaku ahlussunnah wal jamaah maka ikutilah cara beragamanya rosul dan para sahabatnya. dan ikutilah para ulama yang mengikuti jejak rosul dan para sahabat. apabila pendapat ulama ada yang bertentangan dengan dalil yang shohih, maka ikutilah dalil yang shohih dan buanglah pendapat ulama tersebut.

    1. @Gunawan :

      Gak usah pakai kata “antum-antum”, kita di Indonesia 😀 atau anda memang pandai bahasa Arab, mari sekali lagi saya ulang ya ….

      Kelihatannya saudara pandai berdalil dengan hadits-hadits. Saya salut.

      Sekarang begini saja, secara ilmu nahwu, Bid’ah itu asal katanya dari apa ?, bagaimana sifatnya ?, bagaimana kedudukannya dalam suatu kalimat ? Ta’rif bid’ah sendiri dari beberapa hadits apa maksudnya ?

      Mohon dijelaskan, saya siap menyimak. Atas penjelasan saudara saya sampaikan terimakasih.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang faqir dan dhaif
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

      1. klo anda ngaku ahlussunnah wal jamaah maka ikutilah cara beragamanya rosul dan para sahabatnya. dan ikutilah para ulama yang mengikuti jejak rosul dan para sahabat. apabila pendapat ulama ada yang bertentangan dengan dalil yang shohih dan kuat, maka ikutilah ulama yang memegang dalil yang shohih dan kuat tersebut.

        1. @gunawan :
          Rupanya saudara ini hanya penggembira saja ya ? 😀

          Kalau saudara bisa jawab pertanyaan saya sebelumnya baru kita bahas materi lain. Kalau belum tahu atau malah tidak mengerti ya sudah Mas, meneng wae, ngomong mengko ndak salah (diam saja, bicara nanti malah salah) 😀

          Ngono wae koq repot. 😀

          Kebenaran hakiki hanya milik Allah
          Hamba Allah yang faqir dan dhaif
          Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    2. @gunawan
      Ente laksanain sesuai hadist yang shahih kalau ente gak mau ikutin ulama :
      1. Pergi haji, tapi ente masukin kata “jika mampu”, karena itu tambahan ulama, badan ente masih muda n kuat, kalau ente gak punya duit, ente jalan kaki.
      2. Tahajut gak pernah putus
      3. Puasa senin kamis dan 3 hari ditengah bulan (13,14 dan 15)
      4. Jangan temani orang kafir (Yahudi dan Nasrani), termasuk gak bekerja di Perusahaannya.
      5. Sedekahkan seluruh harta ente.

      Itulah yang paling shahih dan dilakukan Rasulullah dan 4 sahabat, gak ada yang berani ganggu gugat dah, ane yakin.
      Sekarang jawab pertanyaan @mas derajat.

      1. klo anda ngaku ahlussunnah wal jamaah maka ikutilah cara beragamanya rosul dan para sahabatnya. dan ikutilah para ulama yang mengikuti jejak rosul dan para sahabat. apabila pendapat ulama ada yang bertentangan dengan dalil yang shohih dan kuat, maka ikutilah ulama yang memegang dalil yang shohih dan kuat tersebut.
        klo ada yang salah mohon dikoreksi.
        wallohu ta’ala a’lam.

        1. @gunawan
          Tunjukin dong cara yang benar menurut Rasulullah, bukan menurut ente, ustad ente atau hawa nafsu ente.
          Jangan koment yang gak jelas. Kalau ane ngikutin yang sudah jelas dari Garis keturunan (Habib, Maulana, Syarif) dari Rasulullah yang pasti gak salah didunia maupun akhirat, yang dijamin gak bakalan nyasar.
          “Allahumashalli ala sayyidina muhammad wa ala ali sayyidina muhammad” ini pegangan ane, pasti ane berguru sama keturunan Rasulullah.

        2. Jika di tinjau dari sudut pandang bahasa, bid’ah adalah diambil dari kata bida’ yaitu al ikhtira ‘/mengadakan sesuatu tanpa adanya contoh sebelumnya. Seperti yang termaktub dalam Kitab Shahih Muslim bi Syarah Imam Nawawi dijelaskan sebagai berikut:

          والمراد غالب البدع . قال أهل اللغة : هي كل شيء عمل على غير مثال سابق

          “Dan yang dimaksud bid’ah, berkata ahli bahasa, dia ialah segala sesuatu amalan tanpa contoh yang terlebih dahulu”[1]

          Sedangkan jika ditujukan dalam hal ibadah pengertian-pengertian bid’ah tersebut diantaranya:

          البدعة: طريقة مستحدثة في الدين، يراد بها التعبد، تخالف الكتاب، والسنة وإجماع سلف الأمة

          “Bid’ah adalah suatu jalan yang diada-adakan dalam agama yang dimaksudkan untuk ta’abudi, bertentangan dengan al Kitab (al qur`an), As Sunnah dan ijma’ umat terdahulu“
          البدعة في مقابل السنة، وهي : (ما خالفت الكتاب والسنة أو إجماع سلف الأمة من الاعتقادات والعبادات) ، أو هي بمعنى أعم : (ما لم يشرعه الله من الدين.. فكل من دان بشيء لم يشرعه الله فذاك بدعة

          Bid’ah adalah kebalikannya dari sunnah, dan dia itu apa-apa yang bertentangan dengan al qur`an, as sunnah, dan ijma’ umat terdahulu, baik keyakinnanya atau peribadahannya, atau dia itu bermakna lebih umum yaitu apa-apa yang tidak di syari’atkan Allah dalam agama…maka segala dari sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah maka yang demikian adalah bid’ah.

          الْبِدْعَةُ فِي الشَّرِيعَةِ إحْدَاثُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

          Bid’ah dalam syari’ah adalah apa yang diada-adakan yang tidak ada perintah Rasulullah shalallahu ta’ala ‘alaihi sallam.

          وَعَنْ الْهَرَوِيِّ الْبِدْعَةُ الرَّأْيُ الَّذِي لَمْ يَكُنْ لَهُ مِنْ الْكِتَابِ وَلَا مِنْ السُّنَّةِ

          Dan dari al Harawi bahwa bid’ah ialah pendapat pikiran yang tidak ada padanya dari kitab (al Qur`an) dan as Sunnah.

          Ibnu Hajar al As Qalani dalam Fathul Bari menjelaskan
          والمراد بقوله ” كل بدعة ضلالة ” ما أحدث ولا دليل له من الشرع بطريق خاص ولا عام

          “Dan yang dimaksud dengan sabdanya “Setiap bid’ah adalah sesat” yakni apa yang diadakan dan tanpa dalil padanya dari syari’at baik dengan jalan khusus maupun umum”[2]

          Menurut Ibnu Taimiyah: ‘ Bid’ah dalam agama ialah sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan rasul-Nya yaitu tidak diperintahkan dengan perintah wajib atau perintah sunnah. Adapun yang diperintahkan dengan perintah wajib dan sunnah serta diketahui perintah-perintah tersebut dengan dalil-dalil syar’i, maka hal itu termasuk yang disyari’atkan oleh Allah, meskipun terjadi perselisihan diantara ulama di beberapa masalah dan sama saja, baik hal itu sudah diamalkan pada masa Rasulullah atau tidak.

          Menurut As-Syahtibi: ‘ Bid’ah adalah suatu cara di dalam agama yang diada-adakan (baru) menyerupai agama dan dimaksudkan dalam melakukannya untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah ta’ala.

          Menurut Ibnu Rajab: ‘ Yang dimaksudkan dengan bid’ah adalah sesuatu yang diadakan tanpa ada dasarnya di dalam syari’at. Adapun suatu yang ada dasarnya dalam syara’, maka bukan bid’ah meskipun dikatakan bid’ah menurut bahasa.’

          Menurut As-Suyuti: ‘ Bid’ah ialah suatu ungkapan tentang perbuatan yang bertentangan dengan syari’at karena menyelisihinya atau perbuatan yang menjadikan adanya penambahan dan pengurangan syari’at. ‘

          Ulama bersefaham bahwa dari beberapa pengertian bid’ah tersebut diatas yang paling mengena pada maksud bid’ah yang dapat dikatakan sesat adalah yang diartikan oleh Iman As- Syathibi.[3] Dari definisi-definisi tersebut dapat diambil pokok-pokok pengertian bid’ah menurut syara sebagai berikut:

          a. Bid’ah ialah sesuatu yang diadakan di dalam agama. Maka tidak termasuk bid’ah sesuatu yang diadakan di luar agama untuk kemaslahatan dunia seperti pengadaan hasil-hasil industri dan alat-alat untuk mewujudkan kemaslahatan manusia yang bersifat duniawi.

          b. Bid’ah tidak memiliki dasar yang menunjukkannya dalam syari’at. Adapun hal-hal yang memiliki dasar-dasar syari’at, maka bukan bid’ah meskipun tidak ada dalilnya dalam syari’at secara khusus. Contohnya pada zaman kita ini orang yang membuat alat alat seperti kapal terbang, roket, tank, dll. dari alat-alat perang modern dengan tujuan persiapan memerangi orang-orang kafir dan membela kaum muslimin. Maka perbuatannya bukan bid’ah meskipun syari’at tidak menjelaskannnya secara rinci, dan Rasulullah tidak menggunakan alat-alat tersebut untuk memerangi orang-orang kafir. Tetapi membuatnya termasuk dalam firman Allah secara umum, ” Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja.” (Al-Anfal : 60). Begitu pula perbuatan-perbuatan lain yang semisal. Maka setiap sesuatu yang memiliki dasar dalam syara’, ia termasuk syari’at dan bukan bid’ah.

          c. Bid’ah di dalam agama kadang-kadang dikurangi dan kadang-kadang ditambah, sebagaimana dijelaskan oleh As-Suyuti meskipun perlu pembatasan bahwa sebab menguranginya adalah agar lebih mantap dalam beragama. Adapun jika sebab menguranginya bukan agar lebih mantap dalam beragama, maka bukan bid’ah. Seperti meninggalkan perintah yang wajib tanpa udzur. Itu disebut maksiat bukan bid’ah begitu pula meninggalkan perkara sunnat tidak dianggap bid’ah.

          Berdasarkan hal tersebut diatas maka bahwa bid’ah itu hanya ada dalam hal agama/ibadah, ini sesuai dengan sabda Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam:
          عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

          Artinya: “Siapa yang membuat hal baru dalam ajaran agama kami apa yang bukan bagian darinya, maka perbuatannya itu tertolak.”[4]

          Dan dapat kita lihat keterkaitan antara hadist diatas dengan hadist dibawah yaitu mengenai niat dalam beribadah:

          Artinya: “Sesungguhnya segala amalan ibadah itu tergantung dari niat.”[5] Jadi para ulama bersepakat bahwa ciri amal ibadah agar diterima oleh Allah adalah:

          a. Meniatkan amal perbuatannya semata demi Allah SWT dan ikhlas kepada-Nya

          b. Amal ibadahnya itu dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat.

          Oleh karena itu, saat Imam al-Fudhail bin Iyadh yang beliau adalah gurunya Imam Asy Syafii, daa beliau juga adalah seorang faqih yang zaahid, ditanya tentang firman SWT, “….supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya….” (Al-Mulk:2), Penanya: “Amal apakah yang paling baik ??” Beliau menjawab: “yaitu amal ibadah yang paling ikhlas dan paling benar” Penanya: “Wahai Abu Ali (al-Fudhail bin Iyadh), apa yang dimaksud dengan amal ibadah yang paling ikhlas dan paling benar itu ?” Beliau menjawab: “Suatu amal ibadah, meskipun dikerjakan dengan ikhlas, namun tidak benar maka amal itu tidak diterima oleh Allah SWT. Kemudian meskipun amal ibadah itu benar namun dikerjakan dengan tidak ikhlas juga tidak diterima oleh Allah SWT. Amal ibadah baru diterima bila dikerjakan dengan ikhlas dan dengan benar pula. Yang dimaksud dengan ikhlas adalah dikerjakan semata untuk Allah SWT dan yang dimaksud dengan benar adalah dikerjakan sesuai dengan tuntunan Sunnah.[6]

          Dengan demikian nyatalah bahwa segala sesuatu itu dianggap benar apabila ibadah dilakukan ikhlas dan sesuai dengan syari’at. Jika ada ulama yang berani mengatakan bahwa jika kita beribadah asalkan dengan niat yang ikhlas akan tetapi tidak dilakukan sesuai dengan syariat atau tidak ada perintahnya mengenai peribadahan tersebut akan diterima oleh Allah maka kadar keilmuan seorang ulama itu harus di pertanyakan. Bahkan ada pula sebagian dari para ustadz-ustadz di daerah yang mereka berani sekali mengatakain asalkan niat Lillahi Ta’aala maka segala sesuatunya itu bisa diterima atau ditolak itu menjadi urusan Allah. Karena manusia hanya berusaha Allahlah yang menentukan. Mereka (para ulama-ulama tersebut) lupa atau tidak mengetahui bahwa selain ikhlas harus juga sesuai/diperintahkan oleh syari’at.

          Setelah hal tersebut diatas kemudian timbul lagi permasalahan baru yang disebut sebagai Bid’ah hasanah. Sebenarnya ungkapan bid’ah hasanah ini muncul ketika Umar r.a mendapati suatu kaum muslimin pada zamannya melakukan shalat tarawih pada malam bulan Ramadhan dengan sendiri-sendiri dan bahkan ada yang berjama’ah hanya dengan beberapa orang saja dan ada yang berjama’ah dengan jumlah besar. Keadaan ini terus berlangsung hingga Amirul Mu’minin Umar r.a mengumpulkan mereka kepada satu Imam, lalu beliau radhiallahu ‘anhu berkata: “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini (shalat taraweh secara berjama’ah)”.

          Yang kemudian bisa dijadikan pertanyaan adalah apakah benar qiyamul lail dengan berjama’ah di bulan Ramadhan itu temasuk bid’ah yang dikatagorikan kepada bid’ah yang menyesatkan? Hal ini dijawab oleh Syaikh Muhammd bin Shalih al Utsaimini bahwa hal tersebut bukan bid’ah akan tetapi termasuk sunnah Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam, berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan muslim dari Aisyah r.a, bahwa nabi pernah melakukan qiyamul lail di bulan Ramadhan dengan para sahabat selama tiga malam berturut-turut, kemudian beliau sholallahu ‘alaihi wasallam tidak melakukannya pada malam berikutnya dan bersabda: “Sesungguhnya aku takut kalau shalat tersebut diwajibkan atas kamu lalu kamu tidak akan sanggup melaksakannya.”

          Disini jelas sekali bahwa Umar r.a tidaklah mengada-ada atau membuat ajaran baru berupa qiyamul lail dibulan Ramadhan secara berjama’ah dengan satu imam, akan tetapi beliau r.a mencoba ingin menyatukan orang-orang yang shalatnya bersendiri-sendiri dan sebagian yang lain berjama’ah. Tidak mungkin apa yang Umar r.a ucapkan “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini (shalat taraweh secara berjama’ah)” adalah bid’ah yang sebagimana yang disabdakan Nabi: Setiap bid’ah itu adalah sesat.” Juga sesuatu yang tidak mungkin jikalau Umar r.a melakukan sesuatu yang dilarang oleh Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam, karena beliau adalah salah seorang hamba dikalangan sahabat yang mendapat jaminan masuk surga dan beliau juga dikatagorikan sebagai golongan generasi terbaik dan termasuk Khulafa Arasyidin yang lurus dan adil.

          Disamping itu pula ada pendapat imam Syafii yang disalahkan artikan dari sebagian kaum muslimin yang kemudian dijadikan kontrovesi dan perselisihan, dan sebagian para ulama berlindung pada qaul Imam Syafi’ie ini. Yaitu tentang pembagian bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah sayyi‘ah (buruk). Imam Syafi’I berkata:

          عَنْ حَرْمَلَة بْنِ يَحْيَ رَحِمَهُ اللهُ قَالَ : سَـمِعْتُ الشَّا فِعِيَّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى يَقُوْلُ : اَلْبِدْعَةُ بِدْ عَتَانِ بِدْعَةٌ مَحْمُوْدَةٌ وَبِدْعَةٌ مَذْمُوْمَةٌ فَمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مُحْمُوْدٌ وَمَا خَالَفَ السَّنَّةَ فَهُوَ مَذْمُوْم .ٌ

          Dari Harmalah bin Yahya rahihullah berkata: “Aku mendengar as Syafi’ie rahimahullahu ta’ala berkata: Bid’ah ada dua, yaitu bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela. Apa yang bersesuaian dengan sunnah maka itu adalah terpuji dan apa yang bertentangan dengan sunnah berarti tercela.”[7]

          وَقَالَ الرَّبِيْعُ رَحِمَهُ اللهُ : قَالَ الشَّـافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى : اَلْمُحْدَثَاتُ مِنَ اْلاُمُوْرِ ضَرْبَانَ : اَحَدُهُمَا مَا اَحْدَثَ يُخَالِفُ كَتَابًا اَوْ سُنَّةً اَوْاِجْمَاعًا اَوْ اَثَرًا فَهَذِهِ الْبِدْعَةُ الضَّلاَلَةُ . وَالثَانِيْ مِنَ الْخَيْرِ لاَ خِلاَفَ فِيْهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هَذَا فَهِيَ غَيْرُ مَذْمُوْمَة.

          Berkata Ar-Rabbi rahimahullah: Telah berkata as-Syafi’ie rahimahullahu Ta’ala: perkara-perkara yang diadakan terbagi dua: yang pertama apa yang di buat bertentangan dengan al-Kitab (al Qur’an), Sunnah, Ijma atau atsar, maka inilah bid’ah yang sesat. Kedua apa yang di buat berupa kebaikan yang tidak bertentangan dengan salah satu dari perkara (al Qur’ah, Sunnah, Ijma, dan atu atsar) maka itu perbuatan yang tidak tercela.[8]

          “Bid’ah itu terbagi kepada yang baik dan yang buruk, atau yang terpuji dan tercela. Dalam perkara ini, termasuklah setiap yang diada-adakan selepas zaman Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam dan para Khulafa Ar-Rasyidin”[9]

          Persoalan-persoalan qaul Imam Syafii ini telah dijelaskan oleh salafus shalih, diataranya Abdul Qayyum bin Muhammad bin Nasir as-Shaibani rahimahullahu dalam kitabnya اللمع فى الرد على محسني البدع hal 36 – 37.

          Beliau menjelaskan qaul Imam Syafii tersebut diantaranya:

          a. Tidak diterima seharusnya perkataan sesorang manusia yang bertentangan dengan sabda Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam walau siapapun orangnya. Sabda Nabi adalah hujjah bagi setiap orang dan bukan perkataan seseorang itu menjadi hujjah untuk menentang/meninggalkan sabda Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam[10] sedangkan nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda tentang bid’ah:
          وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

          Artinya: “Setiap bid’ah itu sesat dan setiap yang sesat itu dari neraka.”[11] Dalam hal ini juga Abdulah bin Abbas Radhiallahu ‘anhuma berkata:

          Artinya: Tidak ada pendapat seseorang (yang) dapat diambil atau ditinggalkan kecuali sabda Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam.[12] Sebagai kesimpulan bahwa pendapat seseorang itu tidak bisa berketerusan diterima bila bertentangan dengan sabda Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam.

          c. Bagi siapa yang mau mencoba untuk memahami tentang qaul Imam Syafii maka dia tidak akan ragu-ragu lagi bahwa yang dimaksudkan dengan Imam Syafii bid’ah dari segi bahasa (لغوى) bukan syar’i (شرعي). Ini berdalilkan kenyataan dari Imam Syafii sendiri sesungguhnya setiap bid’ah dalam syara bertentangan dengan al Qur’an dan As-Sunnah. Imam Syafie sendiri mengaitkan bid’ah yang baik dengan apa yang tidak bertentangan dengan al Qur’an dan as-Sunnah karena setiap bid’ah bertentang dengan firman Allah dan hadist Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam. Seperti firman-Nya
          الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ

          Artinya: Hari ini Aku telah sempurnakan bagi kamu agamamu (Al Maidah: 3) dan juga sabda Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam:
          مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

          Barang siapa yang membuat hal baru dalam ajaran agama kami apa yang bukan bagian darinya, maka perbuatannya itu tertolak.”[13] Lalu yang sebenarnya yang dimaksudkan oleh Imam Syafie sebagai bid’ah hasanah/mahmudah (baik/terpuji), yaitu pembukuan mushaf mushaf Al qur’an, kitab-kitab hadist dan shalat tarawih, ini amat tepat menurut definisi bahasa karena walaupun ia tidak ada contoh sebelumnya tetapi dia ada dasarnya dari syara yakni uncapan dari para sahabat Rasul sholallahu ‘alaihi wasallam. Dan juga pembinaan madrasah karena menuntut ilmu itu wajib menurut syara. Jadi semua yang berkaitan dengan dunia yang tidak memudharatkan adalah sesuatu yang baru lagi baik/terpuji karena tidak bertentangan dengan syara.

          Penjelasan tersebut diatas menunjukan bahwa setiap bid’ah yang dikatakan terpuji sebenarnya bukanlah bid’ah, karena ia tidak melibatkan urusan agama hanya di sangka bid’ah lantaran kurang memahami istilah bid’ah menurut bahasa dan syara. Adapun bid’ah yang dianggap sesat setelah didapati secara qath’I ialah yang bertentangan dengan al Qur’an dan as sunnah dan juga tiada dalil syara yang menyertainya.

          d. Sebenarnya bagi ulama yang mengetahui pendirian Iman Syafie rahimahullah yang tegas, beliau sangat teliti dalam mengikuti Sunnah Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam dan sangat membenci kepada muqallid (orang yang bertaqlid buta) dan orang yang menolak hadist Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam. Maka sepatutnyalah seseorang itu tidak berprasangka terhadapnya sehingga kita dapati pandangan beliau terhadap hadist sahih. Terutama hadist ” Sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat”. Maka dari itu yang paling tepat dan benar ialah bahwa ucapan Imam syafie ini semestinya di letakkan di tempat yang sesuai dengan hadist tersebut bukan dijadikan alasan untuk menentang hadist tersebut, karena apa yang dimaksudkan Imam syafie ialah bid’ah dari segi bahasa (lughah) bukan dari segi syara’ atau dalam persoalan agama. Imam Syafie rahimahullah menegaskan:
          قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى : اِذَا وَجَدْتُمْ فِى كِتَابِيْ خِلاَفَ سُنَّةَ رَسُـوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُوْلُوْا بِهَا وَدَعُوْا مَا قُلْتُه.ُ

          “Apabila kamu temui di dalam Kitabku apa yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah, maka berkatalah (ambil/peganglah} kamu dengan sunnah tersebut dan hendaklah kamu tinggalkan apa yang telah aku katakan.”[14]

          Jika ditinjau dari segi bahasa bahwa sabda Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi “Kullu” ini bermakna bahwa setiap atau semua. Kata Kullu ini juga dapat dipahami “semua atau setiap” seperti dalam Firman Allah surah Al Imran ayat 185, yang berbunyi ” Kullu nafsin zaa iqotul maut yang artinya Setiap atau Semua yang bernyawa pasti akan mati. Kullu disini mencakup segala-galanya, maka kata “Kullu”secara sah dan secara nyata bahwa tidak ada benda yang benyawa yang tidak akan mati.

          Jadi sabda Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam “Kullu Bid’atin dhalalah” sudah tentu mencakupi semua bid’ah pasti sesat tanpa harus adanya bid’ah yang baik dalam hal syara’. Dengan demikian jelaslah bahwa semua dalil yang ada bersifat umum dan mutlak meskipun banyak tetapi tidak ada pengecualian sedikitpun dan sudah menjadi ketetapan ilmu ushul bahwa setiap kaidah syar’i yang umum atau dalil syar’i yang umum bila berulang-ulang di banyak tempat dan mempunyai pendukung-pendukung, serta tidak ada pembatasan dan tidak ada pengkhususan, maka hal tersebut menunjukkan tetap dalam keumumannya

          Oleh karena itu tidak layak bagi ulama zaman sekarang untuk berlindung dibalik ungkapan “Ini adalah bid’ah hasanah” bila di kaitkan dengan hal ibadah karena tidak ada jaminan dari Nabi bahwa ulama sekarang adalah sebaik-sebaiknya generasi yang disebutkan dalam sabda Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam yang telah dijelaskan sebelumnya. Jadi intinya perkataan seorang ulama boleh diterima atau di tolak terkecuali Sabda Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam yang mengharuskan kita terima. Yang terpenting adalah bagaimana beramal yang ikhlas dan sesuai dengan apa yang telah disyari’atkan Allah dan Rasul-Nya.

          Mengapa Islam keras terhadap permasalahan Bid’ah

          Permasalahan bid’ah memanglah sangat ditentang oleh agama karena bid’ah akan membawa kesesatan dan setiap kesesatan itu berasal dari neraka, bahkan Nabi kita sendiri yang menyebutnya bahwa “setiap bid’ah itu adalah sesat.” [15] Maka dari itu sangatlah berbahaya sekali bid’ah ini, karena bid’ah bisa mematikan sunnah dan merupakan seburuk-buruknya perkara.

          Saya kutipkan dari beberapa kitab hadist yang menyatakan bid’ah itu adalah sesat, dan perlu kita ketahui yang mengatakan sesat ini bukanlah dari seorang ulama akan tetapi dari Nabi kita shalallahu ‘alai sallam, diantaranya:

          Dalam kitab Shahih Bukhari diriwayatkan sebagai berikut:

          قَالَ عَبْدُ اللَّهِ إِنَّ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَإِنَّ مَا تُوعَدُونَ لآتٍ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ

          “Berkata Abdullah sesungguhnya sebaik-baiknya ucapan adalah Kitab Allah dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam dan seburuk-buruknya perkara adalah yang diada-adakannya dan (sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu tidak sanggup menolaknya – Surah Al An’am: 134)[16]

          Dalam shahih Muslim diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, bersabda Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam:

          أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

          “Sebagai pendahuluan sesungguhnya sebaik-baiknya ucapan adalah Kitab Allah dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam dan seburuk-buruknya perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat”[17]

          Dalam Kitab Sunan Abu Dawud diriwayatkan dari ‘Irbadh bin Syariyah, Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

          أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإ ِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

          “Aku wasiatkan kepada kamu hendaklah kamu bertaqwa kepada Allah dan dengarlah serta ta’atlah sekalipun kepada budak Habsyi, karena sesungguhnya orang hidup diantaramu sesudahku dikemudian hari maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka dari itu hendaklah kamu sekalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah khalifah yang mendapat petunjuk dan lurus, hendaklah kamu berpegang dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham mu (berpegang teguh) dan jauhilah oleh kamu sekalian akan perkara yang diada-adakan, maka sesungguhnya setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.[18]

          Dalam Sunan Attirmidzy diriwayatkan dari Katsir bin Abdullah dari bapaknya dari neneknya:

          أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لِبِلاَلِ بْنِ الْحَارِثِ « اعْلَمْ ». قَالَ مَا أَعْلَمُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « اعْلَمْ يَا بِلاَلُ ». قَالَ مَا أَعْلَمُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « أَنَّهُ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِى قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِى فَإِنَّ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلاَلَةٍ لاَ يَرْضَاهَا اللَّهُ وَر َسُولُهُ كَا نَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَا مِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ ذ َلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ

          “Bahwasannya Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Bilal bin Harits (Ketahuilah) Bilal berkata: apa yang harus aku ketahui ya Rasulullah, Bersabda Nabi (Ketahuilah Ya Bilal), Bilal Berkata apa yang harus aku ketahui Ya Rasulullah, Rasulullah bersabda: {Sesungguhnya siapa yang menghidupkan Sunnah dari Sunnahku yang sungguh telah dimatikan dimasa sesudahku, maka sesungguhnya ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya dengan tidak dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa yang mengada-adakan bid’ah yang sesat yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya maka baginya seperti dosa-dosa yang mengerjakannya dengan tidak dikurangi yang demikian dari dosa-dosa orang-orang itu}. Berkata Abu ‘Isa hadis ini hasan.[19]

          Dalam Sunan An Nasaai diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, Bersabda Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam:

          كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ فِى خُطْبَتِهِ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيُثْنِى عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ يَقُولُ مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِىَ لَهُ إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْىِ هَد ْىُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُو رِ مُحْدَثَا تُهَا و َكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

          “Adalah Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam dia bersabda dalam khutbahnya dengan memuji kepada Allah dan kepadanya dan kepada keluarganya, kemudian dia bersabda barang siapa yang ditunjuki Allah maka tidak ada yang menyesatkan kepadanya, dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka tiada ada yang memberi petunjuk kepadanya, sesungguhnya sebenar-benarnya perkataan adalah Kitab Allah dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam dan seburuk-buruknya perkara adalah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan dari neraka.”[20]

          Dalam Mukadimah Sunan Ibnu Majah diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

          إِنَّمَا هُمَا اثْنَتَانِ الْكَلاَمُ وَالْهَدْىُ فَأَحْسَنُ الْكَلاَمِ كَلاَمُ اللَّهِ وَأَحْسَنُ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمَّدٍ أَلاَ و َإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ شَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

          “Sesungguhnya tiada lain melainkan dua yaitu al Kalam (perkataan) dan petunjuk, maka sebaik-baiknya kalam adalah Kalam (firman) Allah dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam, ketahuilah hendaklah kamu menjauhi perkara yang diada-adakan, maka sesungguhnya seburuk-buruknya perkara adalah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”

          Diriwayatkan dari Hudzaifah ra, ia berkata: bersabda Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam:
          لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ صَوْمًا وَلاَ صَلاَةً وَلاَ صَدَقَةً وَلاَ حَجًّا وَلاَ عُمْرَةً وَ لاَ جِهَادًا وَلاَ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً يَخْرُجُ مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا تَخْرُجُ الشَّعَرَةُ مِنَ الْعَجِين

          “Allah tidak akan menerima puasanya orang yang berbuat bid’ah, tidak menerima shalatnya, tidak menerima shadaqahnya, tidak menerima hajinya, tidak menerima umrahnya, tidak menerima jihadnya, tidak menerima taubatnya, dan tidak menerima tebusannya, ia keluar dari islam sebagaimana keluarnya helai rambut dari tepung.

          Dan diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah bersabda:
          أَبَى اللَّهُ أَنْ يَقْبَلَ عَمَلَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ

          “Allah enggan bahwasannya menerima amal perbuatan bid’ah hingga dia meninggalkan bid’ahnya”

          Dalam Musnad Ahmad bin Hanbal diriwayatkan dari al Qasim bin Abdurrahman, dari bapaknya dari Abdullah, ia berkata:

          إِنَّهُ سَيَلِى أَمْرَكُمْ مِنْ بَعْدِى رِجَالٌ يُطْفِئُونَ السُّنَّةَ وَيُحْدِثُونَ بِدْعَةً وَيُؤَخِّرُونَ الصَّلاَةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا. قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ بِى إِذَا أَدْرَكْتُهُمْ قَالَ « لَيْسَ يَا ابْنَ أُمِّ عَبْدٍ طَاعَةٌ لِمَنْ عَصَى اللَّهَ ». قَالَهَا ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

          “Sesungguhnya seburuk-buruknya perkara kamu sekalian sesudahku yaitu seseorang yang mematikan sunnah, mengada-adakan bid’ah dan mengakhirkan shalat dari waktunya, berkata ibnu Mas’ud Ya Rasulullah bagaimana apabila aku mengetahui mereka, Rasul bersabda: Ya Ibnu Ummi ‘Abdin tidak ada keta’atan bagi orang yang durhaka kepada Allah” Dia berkata tiga kali.”[21]

          Disamping hal tersebut diatas Dr. Yusuf Qardhawi dalam Kitabnya As Sunnah wal Bid’ah menjelaskan mengenai bahaya bid’ah diantaranya:

          a. Pembuat dan pelaku bid’ah mengangkat dirinya sebagai pembuat syariat baru dan sekutu bagi Allah Swt. Bila bid’ah dapat dibenarkan dalam Islam maka bukan tidak mungkin bila kemudian Islam akan menjadi agama yang sama dengan agama-agama sebelumnya, yang ahli-ahli agamanya menambahkan hal-hal baru dalam agamanya dengan hawa nafsunya sehingga pada akhirnya agama tersebut berubah sama sekali dari yang aslinya. Dengan demikian, orang yang membuat bid’ah meletakkan dirinya seakan-akan sebagai pihak yang berwenang menetapkan hukum dan menjadi sekutu bagi Allah. Sebagai contoh para mufasir menafsirkan ayat:
          غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ

          Artinya: Bukan jalan orang-orang dimurkai atas mereka, yaitu mereka yang telah mengetahui kebenaran yang hak tetapi tidak melaksanakannya, dan berpindah kepada yang lain seperti orang-orang Yahudi, mereka telah mengetahui kitab Allah, tetapi tidak melaksanakannya, dan pada ayat selanjutnya Bukan jalan orang-orang yang sesat (al-Fatihah: 7) yaitu orang yang berani-berani saja membuat jalan sendiri diluar yang digariskan oleh Allah dan para Rasul-Nya. Contoh dalam hal ini ialah kaum nasrani karena mereka mengikuti kebenaran akan tetapi mereka tidak benar dalam melakukannya sebab tidak sesuai dengan yang telah disyari’atkan.

          Ada sebuah hadis yang sahih dirawikan oleh Abd bin Humaid dari ar-Rabi bin Anas, dan Riwayat Abd bin Hummaid juga dari pada Mujahid, demikian juga daripada Said bin Jubair dan hadist lain yang dirawikan oleh Imam Ahmad dan lain-lain daripada Abdullah bin Syaqiq, daripada Abu zar, dan diriwayatkan juga oleh Sufyan bin Uyaynah dalam tafsirnya, daripada Ismail bin Abu Kholid. Bahwa Ady bin Hatim r.a. bertanya kepada Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam., “Siapakah yang dimurkai Allah itu?” Jawab Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam., “Alyahud (Yahudi)”. “Dan siapakah yang sesat itu?” Jawab Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam. “An-Nashara (Kristen/Nasrani)”.

          Yang wajib ditekankan ialah kepada sebab-sebab maka Yahudi dikatakan terkena murka dan sebab-sebab nasrani tersesat. Yahudi dimurkai karena mereka selalu mengingkari segala petunjuk yang dibawakan oleh rasul-rasul mereka, kisah pengingkaran yahudi tersebut di dalam kitab-kitab mereka sendiri sampai sekarang, sehingga Nabi Musa AS, pernah mengatakan bahwa mereka itu keras kepala, tak mau tunduk, sampai mereka membunuh Nabi-nabi Allah. Nashoro tersesat karena sangat cintanya kepada Nabi Isa Al masih, mereka katakan Isa as itu anak Allah, bahkan Allah sendiri menjelma menjadi anak, datang kedunia menebus dosa manusia dan juga mereka membuat syari’at-syariat baru dan menambah-nambahkannya diluar dari yang ditetapkan oleh rasul-Nya. Oleh karena itu Allah mengecam tindakan kaum nasrani ini dengan firmannya:

          “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan juga (mempertuhankan) Almasih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia, Maha suci Allah dari apa yang mereka sekutukan.” (At-Taubah: 31)

          Sebuah hadist yang diriwayat oleh Imam At-tarmidzy, dari Ady bin Hatim ra. “Bahwa ketika dakwah rasulullah sampai kepadanya, Ady lari menuju syam, ketika itu dia masih beragama Nasrani, akan tetapi saudara perempuannya telah masuk islam. Lalu saudara perempuannya membujuk Ady untuk memeluk Islam. Ady kemudian setuju dan kemudian datang menghadap Rasul dan keadaan dilehernya tergantung tanda salib yang terbuat dari perak. Ketika Rasul melihat salib tersebut, Rasul membaca ayat “Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib dari kalangan mereka sebagai tuhan selain Allah….(at-taubah: 31). Ketika Ady mendengar ini, dia menjawab: Tidak ya Rasulullah, mereka tidak melakukan apa yang engkau katakan. Kemudian Rasul menjawab: “Tetapi mereka mengharamkan apa yang telah di halalkan, dan menghalalkan apa yang telah di haramkan oleh Allah. Dan bila ketetapan ini dilakukan oleh kaumnya, inilah yang di maksudkan bahwa mereka telah menyembah orang-orang alim dan rahib-rahib di kalangan mereka sebagai Tuhan mereka.

          Oleh karena tersebut diatas sudah selayaknya kita sebagai mu’min tidak mengikuti pola yang telah diterapkan oleh kaum Nasrani tersebut. Bahwa mutlak yang namanya ibadah yang berkaitan dengan syari’at itu harus sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya agar kita tidak termasuk umat yang salah jalan.

          b. Pembuat bid’ah memandang agama tidak lengkap dan bertujuan melengkapinya. Hal ini bertentangan dengan surat Al-Maidah:3 …Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah kuridhai Islam sebagai agamamu.” Ibnu Majisyun meriwayatkan dari Imam Malik–Imam Darul Hijrah–bahwa dia berkata, “Siapa yang telah membuat praktek bid’ah dalam agama Islam dan ia melihatnya sebagai suatu tindakan yang baik, berarti ia telah menuduh Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam telah menghianati risalah. Dasarnya adalah ayat di atas. Agama Islam telah sempurna sesuai pernyataan ayat tersebut dan tidak membutuhkan penambahan lagi.

          c. Praktek Bid’ah Mempersulit Agama dan menghilangkan sifat kemudahannya. Agama Islam datang dengan sifat mudah dilaksanakan, kemudian orang-orang yang membuat praktek bid’ah mengubah sifat mudah itu menjadi susah dan berat. Misalnya: Redaksi shalawat yang paling afdhal adalah shalawat yang biasa kita baca ketika Tashawud akhir. Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk membaca shalawat dengan redaksi tadi, Mungkin hanya 1/4 atau 1/2 menit. Namun banyak orang yang mengarang dan membuat redaksi-redaksi shalawat baru kepada Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam yang tidak diperintahkan oleh Allah Swt.

          d. Bid’ah dalam agama mematikan sunnah. Jika seseorang mencurahkan energinya untuk melaksanakan perbuatan bid’ah, niscaya energinya untuk menjalankan Sunnah menjadi berkurang karena kemampuan manusia terbatas. Sebagai contoh dalam sebuah majlis dzikir yang dipimpin oleh seseorang kemudian didalamnya seseorang tersebut memerintahkan kepada pengikutnya untuk membaca misalnya Alfatihah 100X, Al Ikhlas 111 X, Annas 111 X, dan Al falaq 111 X dan sebagainya, dengan tujuan yang tidak jelas dapat ilmunya dari mana akan tetapi ia berani mengatakan bahwa hal ini dilakukan untuk taqarrub kepada Allah, bahkan terlebih parah lagi jikalau untuk sesuatu yang bersifat magic seperti untuk ilmu kebatinan, kekebalan dan lain sebagainya. Dan jelaslah bahwa bid’ah itu dapat menguras energinya sehingga sunnah yang berasal dari Rasulnya tidak terpelajari karena waktu habis terkuras dengan bacaan-bacaan yang bukan di syari’atkan oleh Allah dan Rasul-nya. Apakah lebih baik jika kita membuka dan mempelajari Al Quran/tafsirnya dan Kitab-kitab hadist.

          e. Bid’ah dalam agama membuat manusia tidak kreatif dalam urusan-urusan keduniawian. Generasi Islam yang pertama banyak menelurkan kreativitas dalam bidang-bidang duniawi dan mempelopori banyak hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Ilmu-ilmu Islam yang dihasilkan pada saat itu seperti ilmu alam, matematika, astronomi dan lain-lain menjadi ilmu yg dipelajari dunia dan masyarakat dunia belajar tentang ilmu-ilmu itu dari kaum muslimin. Mayoritas yang melatar belakangi generasi Islam pertama ini menggeluti dan mengembangkan ilmu-ilmu tadi adalah motif agama. Misalnya: Al-Khawarizmi menciptakan ilmu aljabar salah satunya untuk menyelesaikan masalah2 tertentu dalam bidang wasiat dan warisan. Karena sebagian darinya memerlukan hitungan-hitungan matematika. Kelihatan bahwa dalam bidang agama mereka semata berpegang pada nash dan Al-Qur’an sedang dalam bidang kehidupan mereka berkreasi.

          f. Bid’ah dalam Agama memecah belah dan menghancurkan persatuan umat. Berpegang teguh pada Sunnah akan menyatukan umat sehingga dapat menjadi satu barisan kokoh di bawah bimbingan kebenaran yang telah diajarkan oleh Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam. Karena Sunnah hanya satu sedang bid’ah tidak terbilang jumlahnya. Oleh karena itu, bila kita secara konsekuen mengikuti Sunnah maka saat itu mereka bersatu padu. [22]

          Setelah mengetahui bahwa begitu bahayanya bid’ah tersebut maka seharusnyalah kita menghindari dari hal tersebut diatas. Maka dari itu tetaplah berpegang pada Al qur-an dan Assunah, atsar dan ijma sahabat, Tabi’in dan tabi’ut tabi’in karena mereka orang yang dinyatakan Rasulullah sebaik-baiknya generasi. Berikut firman-firman Allah serta nasihat-nasihat yang diberikan oleh Nabi-Nya dan generasi terbaik yang telah tersebut diatas dan para salafus shalih untuk tidak berpecah belah lantaran perbuatan bid’ah diantaranya:

          a. Firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 102 – 103
          يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ – وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَةَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

          Artinya: Hai Orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. Dan perpeganglah kamu semua dengan dengan tali Allah dan jangan berpecah-belah. Dan ingatlah nikmat Allah terhadapmu ketika kamu saling bermusuhan maka Dia satukan hati kamu lalu kamu menjadi saudara dengan nikmat-Nya dan ingatlah ketika kamu berada di bibir jurang neraka lalu Dia selamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat-Nya agar kamu mendapat petunjuk.

          b. Firman Allah dalam Surah Al An’am ayat 153
          وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

          Artinya: Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus[23] maka ikutilah dia, dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan (lainnya)[24] sebab jalan-jalan itu akan mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Allah berwasiat kepada kamu mudah-mudahan kamu bertaqwa.

          c. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah meridhai tiga perkara untuk kamu …diantaranya: dan hendaklah kamu berpegang dengan tali Allah.”[25]

          d. Dari abdullah bin Amr ra, dia berkata: ‘Rasulullah bersabda’: “Setiap amal perbuatan memiliki saat untuk semangat dan setiap semangat memiliki waktu lemah. Maka setiap waktu lemahnya kembali kepada sunnahku maka dia mendapat petunjuk, dan barang siapa waktu lemahnya kembali kepada bukan sunnahku maka dia akan celaka.”[26]

          e. Hudzaifah bin Al Yaman r.a berkata: “Hai para qari (pembaca Al qur’an) bertaqwalah kepada Allah dan telusurilah jalan-orang-orang sebelum kamu, sebab Demi Allah seandainya kamu melampaui mereka (para sahabat), sungguh kamu melampaui sangat jauh, dan jika kamu menyimpang ke kanan dan kekiri maka kamu akan tersesat sejauh-jauhnya.”[27]

          f. Ibnu Mas’ud berkata: “Ikutlah (sunnah) dan jangan berbuat bid’ah, sebab sungguh itu (sunnah) telah cukup untuk kalian. Dan bahwa setiap bid’ah itu adalah sesat.” [28] Dan dia r.a juga berkata: “Berpeganglah kamu dengan ilmu (as-sunnah) sebelum diangkat, dan berhati-hatilah kamu dari mengada-adakan hal yang baru (bid’ah), dan melampaui batas dalam berbicara dan membahas suatu perkara, hendaklah kalian tetap berpegang dengan contoh yang lalu.” [29] Dan dia r.a juga berkata lagi: “Sederhana dalam as sunah[30] lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah”[31]

          g. Imam Azuhry berkata: Ulama kita yang terdahulu selalu mengatakan: “Berpegang dengan as-sunnah itu adalah keselamatan. Dan ilmu itu tercabut dengan segera, maka tegaknya ilmu adalah kekokohan Islam sedangkan perginya para ulama akan hilang pula semua itu (ilmu dan agama).”[32]

          h. Sa’id bin Jubair[33] berkata: “mengenai ayat – Dan beramal shalih kemudian mengikuti petunjuk” (Surah thaha: 82), yaitu senantiasa berada diatas As-Sunnah dan mengikuti al-Jama’ah).”[34]

          i. Ibnu Abbas r.a berkata: “Tetaplah kamu beristiqamah dan berpegang dengan atsar serta jauhilah bid’ah.”[35]

          j. Imam Al Auza’i rahimahullah berkata: “Berpeganglah dengan atsar salafus shalih meskipun seluruh manusia menolakmu, dan jauhilah pendapat orang-orang (selain salafus shalih) meskipun mereka (ahli bid’ah) menghiasi perkataannya terhadapmu.”[36]*

          Demikianlah nasihat-nasihat Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam dan pendapat para generasi terbaik dari umat ini mengenai bid’ah, maka selayaknya mereka itu semua dapat di jadikan ikutan buat kaum muslimin zaman sekarang. Hal ini mereka (para sahabat, generasi setelahnya, dan setelahnya lagi) lakukan demi murninya ajaran Islam dan tidak dikotori oleh bid’ah yang menyesatkan. Ulama-ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan para imam sesudahnya, telah dapat kita lihat kebaikannya pada abad-abad kemuliaan, dan mereka telah bersepakat dalam mencela, memburukkan, menjauhi bid’ah dan pelakunya serta tidak ada keragu-raguan dan tawaquf (berdiam diri). [37]

          Footnote

          [1] Lih: Kitab Shahih Muslim bi syarah An Nawawi pada Kitab Jum’at ketika membahas masalah “Kullu Bid’atun Dhalaalah”

          [2] Lih: Fathul Bari bi syarah Shahih Bukhari Kitab Al I’thisham bikitabi wa sunnah, ketika menjelaskan hadist “sebaik-baiknya ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam dst…

          [3] Nama lengkap dari Imam As-Syathibi ialah Ibrahim bin Musa bin Muhammad al-Lakhami al-Gamathi. Ia adalah seorang ahli ushul fiqh dan hafizh hadist dari kalangan penduduk Garnathah (Grenada – sekarang). Disamping itu ia juga seorang imam madzhab Maliki. Wafat pada tahun 790H/13788 M, (lih: al-A’laam, Zerekly: 10/75). Karya-karya beliau diantaranya al-muwafaqaat fi ushul asy-syaria’ah, dan al-Iti’shaam fi bayaan as sunnah wal bid’ah.

          [4] Muttafaq ‘alaih, dari ‘Aisyah r. lih: Syarh Sunnah, karya al-Baghawi, dengan tahqiq Zuhair asy-syawisy dan syu’aib al-arnauth, 1/211, hadist no.103, juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah. Lih al-Muntaqa min Kitab at Targhib wa Tarhib, 1/112, hadist no.32 dan Hadist ini juga diriwayatkan oleh Imam Nawawi dalam empat puluh hadits (atau dikenal dalam Kitab Hadist Arba’in)

          [5] Penggalan hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam Bab Permulaan Wahyu, Muslim dalam Kitab al-Imaarah.

          [6] As Sunnah wal Bid’ah karya Syaikh Yusuf Qardhawi hal 17-19

          [7] Lih: Kitab الباعث على انكار البدع والحوادث karya Abi Syamah as-Syafie hal 12, dan dan juga Ibnu Hajar al Asqalani mengutipnya dalam Kitabnya Fathul Bary bi syarah Shahih Bukhari pada Kitab al I’thisham bi kitabi wa as sunnah bab “الاقتداء بسنن رسول الله صلى الله عليه وسلم

          “, ketika beliau rahimahullah menjelaskan hadist [‏إن أحسن الحديث كتاب الله وأحسن الهدي هدي ‏ ‏محمد ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وشر الأمور محدثاتها].

          [8] Kitab Al Haul karya As Suyuti, tahqiq Muhammad Muhyidin Abdul Hamid hal: 539 dan juga Ibnu Hajar al Asqalani mengutipnya dalam Kitabnya Fathul Bary bi syarah Shahih Bukhari pada Kitab al I’thisham bi kitabi wa as sunnah bab “الاقتداء بسنن رسول الله صلى الله عليه وسلم

          “, ketika beliau rahihullah menjelaskan hadist [‏إن أحسن الحديث كتاب الله وأحسن الهدي هدي ‏ ‏محمد ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وشر الأمور محدثاتها]

          [9] Lih. Al-bid’ah Tahdiidiha wa mauqif al-Islami Minha karya Izzat Ali ‘Athiah hal 160

          [10] Manaqib as- Sayfie hal 469

          [11] Lafazh tersebut Kitab Sunan An Nasaii dalam Kitab Shalat ‘Iedain, dan hadist semakna adalah banyak.

          [12] Fatawa aimatul Muslimin I/138 karya Mahmud Khatab as-Subki

          [13] Muttafaq ‘alaih, dari ‘Aisyah r. lih: Syarh Sunnah, karya al-Baghawi, dengan tahqiq Zuhair asy-syawisy dan syu’aib al-arnauth, 1/211, hadist no.103, juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah. Lih: al-Muntaqa min Kitab at Targhib wa Tarhib, 1/112, hadist no.32 dan Hadist ini juga diriwayatkan oleh Imam Nawawi dalam emapat puluh hadits (atau dikenal dalam Kitab Hadist Arba’in)

          [14] Al Majmu Fatawa’ I/63

          [15] HR Muslim dan Baihaqi dan Baihaqi menambahkan dalam Kitab Asma wa Sifat: Wa kullu dhalalatin fin nar dan An-Nasi’I meriwayatkan pula dengan sanad yang sahih.

          [16] Lih: Shahih Bukhari Kitab Al I’thisham bi kitabi was sunnah bab al Iqtadaa`i bisunnani Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam

          [17] Lih: Kitab Shahih Muslim Kitab Jum’at

          [18] Lih: Kitab Sunan Abu Dawud pada Kitab As Sunnah, Sunan Ibnu Majah pada Mukadimahanya, Sunan Ad Darimy pada Kitab Mukadimah

          [19] HR At Tirmidzy pada Kitab ‘Ilmu dan ia menghasankannya dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dimukadimahnya.

          [20] Lih: Kitab Sunan An Nasaii pada bab Shalat ‘Ieddain.

          [21] Lih: Musnad Ahmad dalam bab Musnad Abdullah bin Mas’ud ra.

          [22] Lih: As Sunnah wal Bid’ah karya Dr. Yusuf Qardhawi, adapun contoh dan lain sebagainya adalah penambahan dari penulis.

          [23] Ibnul qayim menafsirkan masksud dari jalan lurus ialah meng-Esa-kan Allah dalam beribadah dan menjadikan rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai satu-satunya ikutan

          [24] Jalan-jalan lain tersebut ialah berbagai bid’ah, khurafat dan syubhat sebagaimana ucapan Mujahid dan lain-lain tafsir

          [25] HR Al-Baghawy I/202 no.101

          [26] HR Ahmad dan Ibnu Hibban

          [27] As-Sunnah Ibnu Nashr dan Al Laikal I/90.

          [28] AS-Sunnah Ibnu Nashr 28

          [29] Ad Darimy 1/66 no. 143, al Ibanah Ibnu Baththah 1/324 no. 169

          [30] Sederhana dalam sunnah maksudnya tetap dalam as-sunnah meskipun hanya mengamalkan yang wajib. Syaikh Ali Hasan berkata: Kata-kata mutiara dari sahabat rasul ini juga diriwayatkan oleh banyak sahabat lainnya seperti Abu Darda. Abul Ahwas berkata: ” Wahai Sallam, tidurlah dengan cara sunnah dan itu lebih baik bagimu daripada bangun dengan cara bid’ah.

          [31] Ibnu Nashr 30, al Ibanah Ibnu Baththah 1/320 no. 161 dan Al Laikal 1/88 no. 114

          [32] Ad Darimy I/58 no.16

          [33] Murid dari Ibnu Abas r.a

          [34] Al-Ibanah 1/323 no. 165 dan Al-Laikal 1/71 no.72

          [35] Al – Itisham 1/112

          [36] Kitab as-Syari’ah 63 – *Sebagian dari permasalahan ini bisa dilihat di Kitab Lammudzur Mantzur Min Qaoulin Mantzur karya Abu Abdullah Jamal bin Farihan Al-Haristi

          [37] Pembahasan mengenai Sunnah dan bid’ah ini saya ambil dari beberapa kitab diantaranya: Shahih Bukhari dan Fathul Bari syarah Sahih Bukhari, Shahih Muslim bi Syarah Imam An Nawawi, Sunan Attirmidzy, Sunan Ibnu Majah, Sunan An Nasai, Sunan Ad Daarimiy, Musnad Ahmad bin Hanbal, Sunan Al Baihaqi, Mauqif ahlus sunnah wal jama’ah min ahli ahwa` wa al bid’a oleh Ibrahim bin Amir ar Ruhaili, Sunah wa al Bid’ah oleh Yusuf Qadhrawi, Ahlus sunnah wal Jama’ah oleh Abu Muhammaad Dzulqarnain, Mauqif Ahluus Sunnah wal Jama’ah min ‘ulamaaniyah oleh Muhammad ‘Abdul Haadi al Mashuriy, Mauqif Ahlus sunnah wa Jama’ah minal bid’a wa al mubtadi’ah oleh Syaikh Abdur Rahman ‘Abdul Khaliq, Man hum ahlus sunnah wal jama’ah wa man hum ahlul bid’a wa Adhalaal oleh Syaikh Islam Taqiyuddin bin Tayimiyah, Hadist Arba’in oleh Imam Nawawi, Kembali kepada Al Quran dan As Sunnah oleh KH Munawar Chalil, Fatawa al Kubra oleh Ibnu Taymiyah pada Kitab Sunnah wa Bid’ah, Tariiqah Mahmuudiyah fii Syarah Thariqah Muhammadiyah wa syari’ah nabawiyah pada bab al awalu li I’thosham bikitabi wa as sunnah.

          1. @gunawan
            Sebenarnya udah cape juga dijelasin sama ustad-ustad disini tentang bid’ah. coba ente baca komen2 ustad @abu Hilya.
            Jangan kita mencampur adukkan bid’ah dalam pengertian syariat dengan bid’ah dalam pengertian bahasa dan kita harus melihat dalam memahami apakah sesuatu itu termasuk ibadah atau hanya sekedar ekspresi atau sebuah kecintaan. Sesungguhnya bid’ah yang dibicarakan dalam al-Qur’an dan sunnah adalah inovasi dalam urusan agama, yaitu dengan penambahan atau pengurangan dalam syariat Islam, seperti menambah jumlah raka’at shalat, dll. Atas bid’ah seperti inilah Nabi saw mengatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat. Sedangkan segala sesuatu yang baru, yang didalamnya terdapat manfaat bagi kehidupan masyarakat, jika ia dilakukan tanpa menisbatkannya pada agama dan ia bukanlah perbuatan yang diharamkan secara syariat, maka ia adalah bid’ah yang baik / hasanah. Misalnya, jika suatu bangsa merayakan hari kemerdekaannya dll yang kesemuanya pada dasarnya halal, maka tidak ada larangan untuk melakukannya.

            1) Atas semua permasalahan yang berhubungan dengan syari’at, haruslah merujuk pada dalil khusus dalam Qur’an maupun hadits, seperti jumlah raka’at shalat 5 waktu, masalah wudlu, zakat, haji, ijab kabul, jual beli, talak, masa iddah dll. Akan tetapi untuk masalah-masalah seperti : memperingati hari kemerdekaan suatu bangsa, hari jadi sebuah kota, peringatan hari pahlawan, tata cara berpakaian, termasuk ekspresi sebuah kecintaan, dll, itu semua tidak memerlukan dalil khusus, tapi cukup merujuk pada dalil umum mengenai hal-hal itu.
            2) Kalau kita menganggap peringatan maulid sebagai ibadah, itu adalah anggapan kita yang keliru, sebab hal itu tidak pernah menganggapnya sebagai ibadah. Itu hanya menganggapnya bisa mendapat / mendatangkan nilai pahala jika disertai dengan niat yang baik.
            3) Lihat kisah Ka’ab bin zuhair : untuk membuktikan bahwa membaca puji-pujian terhadap Nabi saw adalah boleh, yang mana kebiasaan tersebut (puji-pujian kepada nabi saw) sering kita dapati pada acara peringatan maulid.

            Bid’ah dari segi bahasa ialah mengadakan sesuatu yang tidak ada contoh sebelumnya. Mana kala dari segi istilah ialah mengadakan sesuatu perbuatan atau iktikad atau mengeluarkan perkataan yang tidak terdapat keizinannya dari pada syarah’ sesuai Al-Quran, As-Sunnah, ijma’ atau qiyas dan tidak termasuk juga dalam Qawaid As-Syar’iyyah. Berdasarkan ini setiap perkara baru dirujuk kepada al-quran, as-sunnah, ijma’ atau qiyas. Sekiranya ada, maka itu dikatakan sebagai bagian syariat. Sekiranya tidak ada, hendaklah dilihat kepada Qawaid As-Syar’iyyah. Sekiranya ada, maka ia juga sebagian dari syariat dan tidak boleh dianggap bid’ah. Setelah tidak ditemui, barulah boleh dikatakan bid’ah atau sesat.

            Ada nas-nas yang menganjurkan perkara-perkara baru yang baik dan ada nas-nas yang mencela orang yang menganjurkan jalan-jalan yang buruk. Sabda Rasulullah saw:

            “Siapa yang melakukan sunnah (perbuatan) yang baik, maka baginya pahala dan pahala orang yang beramal dengannya sampai hari kiamat, dan siapa yang melakukan sunnah yang buruk, maka atasnya dosa dan dosa orang beramal dengannya sampai hari kiamat”.
            “Siapa yang dalam mengadakan perkara Kami ini (agama) perkara yang bukan daripadanya, maka ia tertolak.”
            Suatu amalan yang dilakukan tidak boleh dengan mudahnya dikatakan sebagai bid’ah melainkan telah mencukupi syarat-syaratnya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh para ulama. Bid’ah yang wajib diperangi, mestilah mengambil beberapa perkara-perkara berikut :

            Pertama, ia hendaklah termasuk dalam perkara yang dilakukan oleh seseorang dengan tujuan ibadah.
            Kedua, amalan itu dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah (syariat tauhid).
            ketiga tidak didapati asasnya dalam agama.

            Ayat ini mungkin lebih jelas tentang apa-apa saja yang diberikan oleh Allah dan Rasulullah juga larangannya :
            Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu Karena takut kemiskinan, kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya). (An An’am : 151)

          2. Tahlilan, Yasinan dan Maulidan atau Istighathsah adalah suatu ACARA atau Peringatan yang mana kita dengan mengadakan acara tersebut dapat mendatangkan Pahala. Tidak seperti pembagian tauhid menjadi 3, nah ini yang menjurus kepada Tauhid (syariat) agama. Ini yang gak boleh.Berani gak ente menyalahkan orang yang membagi tauhid menjadi 3 ?

          3. Bismillah,..

            Mas Gunawan, sekarang silahkan anda menyampaikan kesimpulan anda tentang definisi Bid’ah, mengingat dari uraian anda diatas, anda belum menyampaikan definisi bid’ah sesuai pemahaman anda terhadap uraian anda sendiri…

          4. @Gunawan :
            Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Ustadz @bu Hilya dan Kang Ucep, coba saya tanggapi ulasan saudara Gunawan ini.

            Menurut saya saudara Gunawan ini hanya sekedar COPAS dari situs Salafy Wahabi tentang definisi bid’ah menurut versi mereka. Bahkan menurut saya cara-cara mereka menyambung-nyambungkan fatwa Mazhab Ahlus Sunnah Wal Jamaan dengan fatwa mereka ini jelas mengajak kita mengikuti pemahaman bid’ah adalah sesuai pendapat mereka yang juga cocok dengan pendapat Imam-imam Ahlus Sunnah. Tidak kurang ada qaul Imam Syafi’i dan Imam Abu Zakaria Yahya Bin Syaraf Nawawi (Imam Nawawi) dibawakan mereka untuk pemahaman bid’ah. Bagaimanapun caranya jelas beda, karena pemahaman bid’ah menurut mereka hanya “DHALALAH” alias Sesat atau Tersesat, tidak ada ta’rif yang lain seperti dikemukakan Imam Syafi’i, Imam Nawawi atau Imam Mazhab yang lain.

            Intinya uraian diatas adalah kebohongan besar dengan membawa Imam-Imam Mazhab, khususnya Mazhab Syafi’i.

            Saya sendiri menemukan kebohongan diantara Salafy Wahabi sendiri yang jelas/terang. Untuk jelasnya saya ungkapkan sebagai berikut :

            1. Syaikh Ibnu Taymiah sendiri membagi Bid’ah dengan 2 (dua) bagian yaitu Bid’ah Hasanah dan Bi’d Dhalalah.
            Hal ini tercantum di Kitab “Muwafaqah Sharih al-Ma’qul Li Shahih al-Manqul” karya Ibnu taymiyah, halaman : 144 – 145, yaitu dengan mengutip definisi Imam Syafi’i, yaitu berbunyi : “Berkata Imam Syafi’i RA. Bid’ah itu dibagi dua, yaitu : bid’ah yang menyelisihi/ingkar kepada Kitab (Qur’an), Sunnah (Hadits), Ijma’ dan atsar sahabat Rasulillah SAW., maka itu adalah bid’ah dhalalah dst.” Saya punya scan kitabnya, tapi mohon maaf tidak bisa saya tampilkan disini karena keterbatasan blog ini untuk menampilkan hasil scan (berekstensi JPG).

            2. Ibnu Taimiyah pun memfatwakan adanya Ibadah di malam Nisfu Sya’ban. Jelasnya saya kutipkan disini yaitu :

            Berkata Ibnu Taimiyah pada kitab Majmu’ Fatawa jilid 24 juga pada mukasurat seterusnya 132 teksnya:

            وأما ليلة النصف – من شعبان – فقد رُوي في فضلها أحاديث وآثار ، ونُقل عن طائفة من السلف أنهم كانوا يصلون فيها، فصلاة الرجل فيها وحده قد تقدمه فيه سلف وله فيه حجة (( فلا ينكر مثل هذا )) ، أما الصلاة جماعة فهذا مبني على قاعدة عامة في الاجتماع على الطاعات والعبادات
            Terjemahan kata Ibnu Taimiyah di atas:
            ” Berkenaan malam Nisfu Sya’ban maka telah diriwayatkan mengenai kemulian dan kelebihan Nisfu Sya’ban dengan hadith-hadith dan athar, dinukilkan dari golongan AL-SALAF (bukan wahhabi) bahawa mereka menunaikan solat khas pada malan Nisfu Sya’ban, solatnya seseorang pada malam itu secara berseorangan sebenarnya telahpun dilakukan oleh ulama Al-Salaf dan dalam perkara tersebut TERDAPAT HUJJAH maka jangan diingkari, manakala solat secara jemaah (pd mlm nisfu sya’ban) adalah dibina atas hujah kaedah am pada berkumpulnya manusia dalam melakukan amalan ketaatan dan ibadat” .

            3. Syaikh Bin Baz memperbolehkan berdo’a menghadap kubur, walaupun kaum Salafy Wahabi menolaknya. Ini jelas menolak Imam Hujjahnya sendiri. Berikut kutipannya :

            Pertanyaan no.624: ”Apakah dilarang ketika berdoa untuk mayit dengan menghadap ke kuburannya?”
            Jawaban: ”Tidak dilarang…! bahkan mendoakan mayit dengan menghadap kiblat atau menghadap kuburnya itu terserah. Karena Nabi Muhammad saw pernah pada suatu hari setelah prosesi pemakaman beliau berdiri diatas kuburnya dan bersabda : “Mohonkanlah ampunan untuk saudara kalian ini, dan mintakanlah ketetapan imannya, karena dia sekarang sedang di tanyai (oleh malaikat).
            Dalam kejadian ini Nabi saw tidak mengatakan:
            “Menghadaplah kalian ke arah kiblat…..!!
            Saya juga punya scannya (file JPG) sayang tidak bisa saya tampilkan disini.

            4.Ibnu Taymiah memperbolehkan tawassul kepada Rasulillah. Berikut kutipannya :

            Kitab : “Al Kalim Ath Thayyib”(“KATA-KATA YANG BAIK”) ditulis oleh Syaikh Ibnu Taimiyah, penerbit : Dar al Kutub al Ilmiyyah, Beirut Lebanon, T. 1417, h. 123,
            Ibn Taimiyah menuliskan riwayat sebagai berikut:
            “Dari al Haitsam ibn Hanasy, berkata: “Dahulu, ketika kami duduk di -majelis- sahabat Abdullah ibn Umar ibn al-Khath-thab (semoga ridla Allah selalu tercurah baginya), tiba-tiba kaki beliau terkena “kahdir”; yaitu semacam lumpuh tapi sesaat (tidak permanen), lalu ada seseorang berkata kepadanya: “Sebutkanlah orang yang paling engkau cintai?? Maka sahabat Abdullah ibn Umar berkata: “Yaa Muhammad….”. Kemudian saat itu pula beliau langsung sembuh dari sakitnya tersebut; seakan ia telah terlepas dari ikatan”.
            Dengan periwayatan hadits itu Ibnu Taimiyah mengakui kebolehan bertawassul, yang terus ditolak oleh kelompok Salafy Wahabi. Sayang teksnya bentuk JPG juga tidak dapat saya munculkan.

            5. Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab pendiri Wahabi mengakui sampainya bacaan Qur’an kepada Mayyit walaupun kelompok Salafy Wahabi mengingkarinya (Aneh…!!!). Berikut kutipannnya Kitab Ahkam Tamannil Maut karya Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab :

            [ محمد بن عبدالوهاب ]
            ذكر محمد بن عبد الوهاب في كتابه أحكام تمني الموت [ ص75 ] مايفيد وصول ثواب الأعمال من الأحياء إلى الأموات ومن ضمنها قراءة القران للأموات حيث ذكر:
            وأخرج سعد الزنجاني عن أبي هريرة مرفوعا من دخل المقابر ثم قرأ فاتحة الكتاب وقل هو الله أحد والهاكم التكاثر ثم قال أني جعلت ثواب ما قرأت من كلامك لأهل المقابر من المؤمنين والمؤمنات كانوا شفعاء له إلى الله تعالى
            وأخرج عبد العزيز صاحب الخلال بسنده عن أنس مرفوعا من دخل المقابر فقرأ يس خفف الله عنهم وكان له بعدد من فيها حسنات
            انتهى
            Sa’ad Azzanjani meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah RA dengan hadits marfu’:
            BARANG SIAPA MEMASUKI PEKUBURAN KEMUDIAN MEMBACA FATIHAH,QUL HUWALLOHU AHAD,ALHA KUM ATTAKATSUR KEMUDIAN DIA BERKATA: YA ALLAH AKU MENJADIKAN PAHALA BACAAN KALAMMU INI UNTUK AHLI KUBUR DARI ORANG-ORANG MU’MIN,MAKA AHLI KUBUR ITU AKAN MENJADI PENOLONGNYA NANTI DI HADAPAN ALLAH SWT…..
            Abdul Azizi Shahib Al-kholllal meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas dalam hadits marfu’:
            NABI SAW BERSABDA:
            BARANGSIAPA YANG MEMASUKI PEKUBURAN KEMUDIAN DIA MEMBACA YASIN, MAKA ALLAH AKAN MERINGANKAN SIKSAAN MEREKA,DAN DIA AKAN MENDAPATKAN PAHALA AHLI KUBUR TERSEBUT……

            5. Ibnu Qayyim Al Jauziyyah (Murid Ibnu Taimiyah) juga mengakui diterimanya bacaan Qur’an diatas kubur. Padahal menurut mereka tidak boleh membaca Qur’an di kubur. Berikut kutipannya dalam Kitab Ar-Ruh :
            وقد ذكر عن جماعة من السلف أنهم أوصوا أن يقرأ عند قبورهم وقت الدفن قال عبد الحق يروى أن عبد الله بن عمر أمر أن يقرأ عند قبره سورة البقرة وممن رأى ذلك المعلى بن عبد الرحمن وكان الامام أحمد ينكر ذلك أولا حيث لم يبلغه فيه أثر ثم رجع عن ذلك وقال الخلال في الجامع كتاب القراءة عند القبور اخبرنا العباس بن محمد الدورى حدثنا يحيى بن معين حدثنا مبشر الحلبى حدثني عبد الرحمن بن العلاء بن اللجلاج عن أبيه قال قال أبى إذا أنامت فضعنى في اللحد وقل بسم الله وعلى سنة رسول الله وسن على التراب سنا واقرأ عند رأسى بفاتحة البقرة فإنى سمعت عبد الله بن عمر يقول ذلك قال عباس الدورى سألت أحمد بن حنبل قلت تحفظ في القراءة على القبر شيئا فقال لا وسألت يحيى ابن معين فحدثنى بهذا الحديث قال الخلال وأخبرني الحسن بن أحمد الوراق حدثنى على بن موسى الحداد وكان صدوقا قال كنت مع أحمد بن حنبل ومحمد بن قدامة الجوهرى في جنازة فلما دفن الميت جلس رجل ضرير يقرأ عند القبر فقال له أحمد يا هذا إن القراءة عند القبر بدعة فلما خرجنا من المقابر قال محمد بن قدامة لأحمد بن حنبل يا أبا عبد الله ما تقول في مبشر الحلبي قال ثقة قال كتبت عنه شيئا قال نعم فأخبرني مبشر عن عبد الرحمن بن العلاء اللجلاج عن أبيه أنه أوصى إذا دفن أن يقرأ عند رأسه بفاتحة البقرة وخاتمتها وقال سمعت ابن عمر يوصي بذلك فقال له أحمد فارجع وقل للرجل يقرأ
            وقال الحسن بن الصباح الزعفراني سألت الشافعي عن القراءة عند القبر فقال لا بأس بها وذكر الخلال عن الشعبي قال كانت الأنصار إذا مات لهم الميت اختلفوا إلى قبره يقرءون عنده القرآن قال وأخبرني أبو يحيى الناقد قال سمعت الحسن بن الجروى يقول مررت على قبر أخت لي فقرأت عندها تبارك لما يذكر فيها فجاءني رجل فقال إنى رأيت أختك في المنام تقول جزى الله أبا على خيرا فقد انتفعت بما قرأ أخبرني الحسن بن الهيثم قال سمعت أبا بكر بن الأطروش ابن بنت أبي نصر بن التمار يقول كان رجل يجيء إلى قبر أمه يوم الجمعة فيقرأ سورة يس فجاء في بعض أيامه فقرأ سورة يس ثم قال اللهم إن كنت قسمت لهذه السورة ثوابا فاجعله في أهل هذه المقابر فلما كان يوم الجمعة التي تليها جاءت امرأة فقالت أنت فلان ابن فلانة قال نعم قالت إن بنتا لي ماتت فرأيتها في النوم جالسة على شفير قبرها فقلت ما أجلسك ها هنا فقالت إن فلان ابن فلانة جاء إلى قبر أمه فقرأ سورة يس وجعل ثوابها لأهل المقابر فأصابنا من روح ذلك أو غفر لنا أو نحو ذلك
            Membaca Al-qur’an Diatas Kubur Dan Mengadiahkan Pahalanya bagi Mayyit (Muslim)
            Tarjamahannnya :
            Pernah disebutkan daripada setengah para salaf, bahwa mereka mewasiatkan supaya dibacakan diatas kubur mereka di waktu penguburannya. Telah berkata abdul haq, diriwayatkan bahwa Abdullah bin umar pernah menyuruh supaya diabacakan diatas kuburnya surah al-baqarah. Pendapat ini dikuatkan oleh mu’alla bin hanbal, pada mulanya mengingkari pendapat ini kerana masih belum menemui sesuatu dalil mengenainya, kemudian menarik balik pengingkarannya itu setelah jelas kepadanya bahwa pendapat itu betul.
            Berkata Khallal di dalam kitabnya ‘Al-jami’ : Telah berkata kepadaku Al-Abbas bin Muhammad Ad-dauri, berbicara kepadaku Abdul Rahman bin Al-Ala’ bin Lajlaj, daripada ayahnya, katanya : Ayahku telah berpesan kepadaku, kalau dia mati, maka kuburkanlah dia di dalam lahad, kemudian sebutkanlah : Dengan Nama Allah, dan atas agama Rasulullah !, Kemudian ratakanlah kubur itu dengan tanah, kemudian bacakanlah dikepalaku dengan pembukaan surat albaqarah, kerana aku telah mendengar Abdullah bin Umar ra. Menyuruh membuat demikian. Berkata Al-Abbas Ad-Dauri kemudian : Aku pergi bertanya Ahmad bin Hanbal, kalau dia ada menghafal sesuatu tentang membaca diatas kubur. Maka katanya : Tidak ada ! kemudian aku bertanya pula Yahya bin Mu’in, maka dia telah menerangkan kepadaku bicara yang menganjurkan yang demikian.
            Berkata Khallal, telah memberitahuku Al-Hasan bin Ahmad Al-Warraq, berbicara kepadaku Ali bin Muwaffa Al-Haddad, dan dia adalah seorang yang berkata benar, katanya :Sekalai peristiwa saya bersama-sama Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari menghadiri suatu jenazah. Setelah selesai mayit itu dikuburkan, maka telah duduk seorang yang buta membaca sesuatu diatas kubur itu. Maka ia disangkal oleh Imam Ahmad, katanya : Wahai fulan ! Membaca sesuatu diatas kubur adalah bid’ah !. Apa bila kita keluar dari pekuburan itu, berkata Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari kepada Imam Ahmad bin Hanbal : Wahai Abu Abdullah ! Apa pendapatmu tentang si Mubasysyir Al-Halabi ? Jawab Imam Ahmad : Dia seorang yang dipercayai. Berkata Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari seterusnya : Aku menghafal sesuatu daripadanya ! Sangkal Imam Ahmad bin Hanbal : Yakah, apa dia ? Berkata Muhammad bin Qudamah : Telah memberitahuku Mubasysyir, daribada Abdul Rahman Bin Al-Ala’ bin Lajlaj, daripada ayahnya, bahwasanya ia berpesan, kalau dia dikuburkan nanti, hendaklah dibacakan dikepalanya ayat-ayat permulaan surat Al-Baqarah, dan ayat-ayat penghabisannya, sambil katanya : Aku mendengar Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) mewasiatkan orang yang membaca demikian itu.
            Mendengar itu, maka Imam Ahmad bin Hanbal berkata kepada Muhammad bin Qudamah : Kalau begitu aku tarik tegahanku (Bhs Ind : penolakanku ) itu. Dan suruhlah orang buta itu membacakannya.
            Berkata Al- Hasan bin As-sabbah Az-za’farani pula : Saya pernah menanyakan hal itu kepada Imam Syafi’i, kalau boleh dibacakan sesuatu diatas kubur orang, maka Jawabnya : Boleh, Tidak mengapa !
            Khalal pun telah menyebutkan lagi dari As-sya’bi, katanya : Adalah Kaum Anshor, apabila mati seseorang diantara mereka, senantiasalah mereka mendatangi kuburnya untuk membacakan sesuatu daripada Al-Qur’an.
            Asy-sya’bi berkata, telah memberitahuku Abu Yahya An-Naqid, katanya aku telah mendengar Al-Hasan bin Al-Haruri berkata : Saya telah mendatangi kubur saudara perempuanku, lalu aku membacakan disitu Surat Tabarak (Al-Mulk), sebagaimana yang dianjurkan. Kemudian datang kepadaku seorang lelaki danmemberitahuku, katanya : Aku mimpikan saudara perempuanmu, dia berkata : Moga-moga Allah memberi balasan kepada Abu Ali (yakni si pembaca tadi) dengan segala yang baik. Sungguh aku mendapat manfaat yang banyak dari bacaannya itu.
            Telah memberitahuku Al-Hasan bin Haitsam, katanya aku mendengar Abu Bakar atrusy berkata : Ada seorang lelaki datang ke kubur ibunya pada hari jum’at, kemudian ia membaca surat Yasin disitu. Bercerita Abu Bakar seterusnya : Maka aku pun datang kekubur ibuku dan membaca surah Yasiin, kemudian aku mengangkat tangan : Ya Allah ! Ya Tuhanku ! Kalau memang Engkau memberi pahala lagi bagi orang yang membaca surat ini, maka jadikanlah pahala itu bagi sekalian ahli kubur ini !
            Apabila tiba hari jum’at yang berikutnya, dia ditemui seorang wanita. Wanita itu bertanya : Apakah kau fulan anak si fulanah itu ? Jawab Abu Bakar : Ya ! Berkata wanita itu lagi : Puteriku telah meninggal dunia, lalu aku bermimpikan dia datang duduk diatas kuburnya. Maka aku bertanya : Mengapa kau duduk disini ? Jawabnya : Si fulan anak fulanah itu telah datang ke kubur ibunya seraya membacakan Surat Yasin, dan dijadikan pahalanya untuk ahli kuburan sekaliannya. Maka aku pun telah mendapat bahagian daripadanya, dan dosaku pun telah diampunkan karenanya.

            6. Imam Adz Dzahabi (juga murid Syaikh Ibnu Taimiyah) dalam kitabnya Mu’jam asy Syuyukh mengatakan (Sayangnya lagi-lagi saya tidak bisa memunculkan teks aslinya karena hasil scan) :
            “Imam Ahmad pernah ditanya tentang mengusap makam nabi dan menciumnya; dan beliau melihat bahwa melakukan perkara itu bukan suatu masalah (artinya boleh)”.
            “Jika dikatakan: Bukankah para sahabat tidak pernah melakukan itu? Jawab: Karena mereka melihat langsung Rasulullah dan bergaul dengannya, mereka mencium tangannya, bahkan antar mereka hampir “ribut” karena berebut sisa/tetesan air wudlunya, mereka membagi-bagikan rambut Rasulullah yang suci pada hari haji akbar, bahkan apa bila Rasulullah mengeluarkan ingus maka ingusnya tidak akan pernah jatuh kecuali di atas tangan seseorang (dari sahabatnya) lalu orang tersebut menggosok-gosokan tangannya tersebut ke wajahnya”.
            “Tidakkah engkau melihat apa yang dilakukan oleh Tsabit al Bunani?, beliau selalu mencium tangan Anas ibn Malik dan meletakannya pada wajahnya, beliau berkata: Inilah tangan yang telah menyentuh tangan Rasulullah. Perkara-perkara semacam ini tidak akan terjadi pada diri seorang muslim kecuali karena dasar cintanya kepada Rasulullah”
            “Abdullah bin Ahmad (anak Imam Ahmad ibn Hanbal) berkata: Saya telah melihat ayahku (Imam Ahmad ibn Hanbal) mengambil sehelai rambut dari rambut-rambut Rasulullah, lalu ia meletakan rambut tersebut di mulutnya; ia menciuminya. Dan aku juga melihatnya meletakan rambut tersebut di matanya, dan ia juga mencelupkan rambut tersebut pada air lalu meminumnya untuk tujuan mencari kesembuhan dengannya.
            Aku juga melihat ayahku mengambil wadah (bejana/piring) milik Rasulullah, beliau memasukannya ke dalam dalam air, lalu beliau minum dari air tersebut. Aku juga melihatnya meminum dari air zamzam untuk mencarikesembuhan dengannya, dan dengan air zamzam tersebut ia mengusap pada kedua tangan dan wajahnya.
            Aku (adz Dzahabi) katakan: Mana orang yang keras kepala mengingkari Imam Ahmad?? Padahal telah jelas bahwa Abdullah (putra Imam Ahmad) telah bertanya kepada ayahnya sendiri (Imam Ahmad) tentang orang yang mengusap-usap mimbar Rasulullah dan ruang (makam) Rasulullah; lalu Imam Ahmad menjawab: “Aku tidak melihat itu suatu yang buruk (artinya boleh)”. Semoga kita dihindarkan oleh Allah dari faham-faham sesat Khawarij dan para ahli bid’ah”

            7. Syaikh Utsaimin juga menyampaikan sampainya bacaan Qur’an ke ahli mayit yang banyak diingkari pengikutnya :

            وأما القراءة للميت بمعنى أن الإنسان يقرأ و ينوي أن يكون ثوابها للميت، فقد اختلف العلماء رحمهم الله هل ينتفع بذلك أو لا ينتفع؟ على قولين مشهورين الصحيح أنه ينتفع، ولكن الدعاء له أفضل
            “Pembacaan al-Qur’an untuk orang mati dengan pengertian bahwa manusia membaca al-Qur’an serta meniatkan untuk menjadikan pahalanya bagi orang mati, maka sungguh ulama telah berselisih pendapat mengenai apakah yang demikian itu bermanfaat ataukah tidak ? atas hal ini terdapat dua qaul yang sama-sama masyhur dimana yang shahih adalah bahwa membaca al-Qur’an untuk orang mati memberikan manfaat, akan tetapi do’a adalah yang lebih utama (afdlal).”
            Sumber : Majmu Fatawa wa Rasaail [17/220-221] karya Muhammad bin Shalih al-Utsaimin [w. 1421 H]

            8. Syaikh Utsaimin marah kepada Syaikh Albani yang mengatakan Adzan jum’at dua kali bid’ah, berikut kutipannya :

            “ثم يأتي رجل في هذا العصر، ليس عنده من العلم شيء، ويقول: أذان الجمعة الأول بدعة، لأنه ليس معروفاً على عهد الرسول صلي الله عليه وسلم، ويجب أن نقتصر على الأذان الثاني فقط ! فنقول له: إن سنة عثمان رضي الله عنه سنة متبعة إذا لم تخالف سنة رسول الله صلي الله عليه وسلم، ولم يقم أحد من الصحابة الذين هم أعلم منك وأغير على دين الله بمعارضته، وهو من الخلفاء الراشدين المهديين، الذين أمر رسول الله صلي الله عليه وسلم باتباعهم.”
            “ada seorang laki-laki dewasa ini yang tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali mengatakan, bahwa azan Jumaat yang pertama adalah bid’ah, kerana tidak dikenal pada masa Rasul , dan kita harus membatasi pada azan kedua saja! Kita katakan pada laki-laki tersebut: sesungguhnya sunahnya Utsman R.A adalah sunah yang harus diikuti apabila tidak menyalahi sunah Rasul SAW dan tidak di tentang oleh seorangpun dari kalangan sahabat yang lebih mengetahui dan lebih ghirah terhadap agama Allah dari pada kamu (al-Albani). Beliau (Utsman R.A) termasuk Khulafaur Rasyidin yang memperoleh pentunjuk, dan diperintahkan oleh Rasullah SAW untuk diikuti”. Lihat: al-‘Utsaimin, Syarh al-’Aqidah al- Wasîthiyyah (Riyadl: Dar al-Tsurayya, 2003) hal 638.

            Sebenarnya masih banyak lagi. Tapi saya rasa cukup untuk menangkal hujjah Salafy Wahabi Anyaran seperti Saudara Gunawan ini.

            Kebenaran hakiki hanya milik Allah
            Hamba Allah yang faqir dan dhaif
            Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

          5. Mas Gunawan@,

            Inilah pertanyaan dari Ust. Derajad :

            Sekarang begini saja, secara ilmu nahwu, Bid’ah itu asal katanya dari apa ?

            Dan inilah jawaban anda :

            Jika di tinjau dari sudut pandang bahasa, bid’ah adalah diambil dari kata bida’

            Dan berikut redaksi yang anda kutip entah dari mana sumbernya:

            البدعة في مقابل السنة، وهي : (ما خالفت الكتاب والسنة أو إجماع سلف الأمة من الاعتقادات والعبادات) ، أو هي بمعنى أعم : (ما لم يشرعه الله من الدين.. فكل من دان بشيء لم يشرعه الله فذاك بدعة

            Selanjutnya inilah terjemah anda:

            Bid’ah adalah kebalikannya dari sunnah, dan dia itu apa-apa yang bertentangan dengan al qur`an, as sunnah, dan ijma’ umat terdahulu, baik keyakinnanya atau peribadahannya, atau dia itu bermakna lebih umum yaitu apa-apa yang tidak di syari’atkan Allah dalam agama…maka segala dari sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah maka yang demikian adalah bid’ah.

            Anda ini lucu, dan jika dismpaikan semua koreksinya, akan semakin lucu melihat anda memahami agama ini…

  34. To Mas Derajad, semoga alloh memberi hidayah dan mencabut sifat ujub dalam dirinya

    ((اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعْ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعْ وَمِنْ نَفْسٍ لاَتَشْبَعْ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ ُيْستَجَابُ لَهُ))

    “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusu’, nafsu yang tidak pernah puas, dan do’a yang tidak dikabulkan

    وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

    “Dan semua perkara yang baru adalah bid’ah dan seluruh bid’ah adalah kesesatan dan seluruh kesesatan di neraka” (HR An-Nasaai no 1578)

    Bid’ah yang di maksud ini adalah perkara dalam agama .. jangan di tafsirkan dengan yang lain……..

    Kaidah ini juga merupakan penggalan dari wasiat Nabi yang telah mengalirkan air mata para sahabat radhiallahu ‘anhum, sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat ‘Irbaadh bin Sariyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

    kalo anda Mas Derajad merasa LEBIH PINTAR DARI Rosulullah dan Imam An-Nasaai, maka lawanlah mereka dengan ilmu anda ?

    dikarenakan SIFAT anda yang sombong dan menolak yang Haq. merasa anda paling benar sendiri…

    Mohon ampunlah kepada alloh atas sifat sombong anda .

  35. To ucep , semoga alloh memberi hidayah dan mencabut sifat ujub dalam dirinya

    ((اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعْ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعْ وَمِنْ نَفْسٍ لاَتَشْبَعْ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ ُيْستَجَابُ لَهُ))

    “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusu’, nafsu yang tidak pernah puas, dan do’a yang tidak dikabulkan

    Siapa anda(UCEP) berani berkata seperti itu apakah anda hafal qur’an an 30 juz, apakah ANDA ULAMA, DOKTOR / PROFESSOR ATAU ANDA IMAM MASJIDIL HARAM …

    JANGAN MENCELA ORANG BELUM TENTU YANG MENCELA LEBIH BAIK DARI PADA YANG DICELA…..

    APAKAH UMAR R.A PERNAH BERKATA SEPERTI YANG ANDA KATAKAN(UCEP) ? ( tentang Haji dst)…

    PADAHAL ( UMAR R.A) YANG MERIWAYATKAN HADIST TERSEBUT.. DAN MENGERTI KAIDAH DARI HADIST TERSEBUT

    APAKAH IA PERNAH MENANTANG SESEORANG, SEPERTI YANG ANDA (UCEP) LAKUKAN ?

  36. Lucu sekali kalian yang mencela , karena sifat sombong merasa DIRINYA LEBIH PANDAI, lalu Banyak bertanya dan Mencela Seseorang..(PADAHAL Sudah jelas yang di maksud)

    JANGAN MENCELA ORANG BELUM TENTU YANG MENCELA LEBIH BAIK DARI PADA YANG DICELA

  37. daripada ribut yok kita dengerin fatwa cabul ulama salafi/wahabi..
    djamin mantab….. DOLLY bakalan makin berkibar

    http://www.alarabynews.com/?p=40093

    Syekh Jasim As Saidi di Bahrain. Dalam twiternya sang Syekh berfatwa :

    اؤكد على ما ذكرته مسبقا…القليل من الدعارة والخمر في البحرين لتغطية العجز الاقتصادي مجاز شرعا. وولي الامر يرى ما لا يراه الآخرون

    “Aku tegaskan perkataanku sebelumnya bahwa MELACURKAN DIRI dan KHOMR asal tidak terlalu sering untuk menutupi KELEMAHAN EKONOMI itu boleh secara syari’at. Waliyyul amr (yg membahas ini) mempunyai pertimbangan yang lebih baik daripada orang kebanyakan”

  38. @Gunawan
    Modal copas aja berani komentar, mending diam dan belajar lagi pada guru yang benar, bukan guru modal tipu-tipu

  39. @Gunawan :
    Mengenai asal kata bid’ah dibahas dalam Ilmu Nahwu daripada saudara sulit menjelaskannya, berikut saya uraikan sedikit sebagai berikut :
    Dalam Bahasa Arab (Lughatul Arabiyah) Bid’ah berasal dari Isim bada’a- yabda‘u-bad‘an wa bid‘at[an] yang artinya adalah mencipta sesuatu yang belum pernah ada, memulai, dan mendirikan.

    Jika kita baca pada Alfiyah Ibnu Malik bait 52-53, maka berdasarkan/ditinjau dari sifatnya Isim ini ada dua, yaitu : Isim Nakirah (Kata Benda dengan sifat umum atau tak tentu). Sifat Isim yang lain yaitu Isim Makrifat (Kata Benda dengan sifat khusus atau tertentu). Isim Nakirah contohnya adalah Rijal (laki-laki), nisa’ (perempuan), kitab dst. Sedang Isim Makrifat contohnya Ana (saya), anta (kamu), Ali (nama orang), Zaid (nama orang), mekkah dst. Isim makrifat ini mempunyai lima lagi jenisnya.

    Disini jelas bahwa Bid’ah termasuk dalam Isim Nakirah.

    Setiap Isim ini dalam Ilmu Nahwu dikenal memiliki sifat, yaitu baik dan buruk.

    Untuk menjelaskan sifatnya dalam kalimat, maka kita menggunakan ilmu balaghah.

    Untuk itu kita gunakan pendekatannya kepada hadits :
    كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّار

    Dalam Ilmu Balaghah dikatakan,

    حدف الصفة على الموصوف

    “membuang sifat dari benda yang bersifat”.

    Jadi jika ditulis lengkap dengan sifat dari bid’ah kemungkinannya adalah

    a. Kemungkinan pertama :

    كُلُّ بِدْعَةٍ حَسَنَةٍ ضَلاَ لَةٌ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ

    Semua “bid’ah yang baik” itu sesat (dholalah), dan semua yang sesat (dholalah)masuk neraka

    Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat (dholalah)berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil.

    b. Kemungkinan kedua :

    كُلُّ بِدْعَةٍ سَيِئَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِىالنَّاِر

    Semua “bid’ah yang jelek” itu sesat (dholalah), dan semua yang sesat (dholalah)masuk neraka

    Jadi kesimpulannya bid’ah yang sesat masuk neraka adalah bid’ah sayyiah (bid’ah yang buruk).
    ِ
    Hal ini senada dengan penjelasan Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf Nawawi Ad Dimasyqi As Syafi’i yang dikenal dengan Imam Nawawi. Beliau menjelaskan:

    قَوْلُهُ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ هَذَاعَامٌّ مَخْصٍُوْصٌ وَالْمُرَادُ غَالِبُ الْبِدَعِ .

    “Sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam, “Kullu Bid’ah dlalalah” ini adalah ‘Amm Makhshush,kata-kata umum yang dibatasi jangkauannya. Jadi yang dimaksud adalah sebagian besar bid’ah itu sesat, bukan seluruhnya.” (Syarh Shahih Muslim, 6/154).

    Sebagai pelengkap, saya nukilkan penjelasan Imam Muhammad bin Idris As Syafi’i tentang definisi bid’ah tersebut, yaitu

    قاَلَ الشّاَفِعِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -ماَ أَحْدَثَ وَخاَلَفَ كِتاَباً أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعاًأَوْ أَثَرًا فَهُوَ البِدْعَةُالضاَلَةُ ، وَماَ أَحْدَثَ مِنَ الخَيْرِ وَلَمْ يُخاَلِفُ شَيْئاً مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ البِدْعَةُالمَحْمُوْدَةُ -(حاشية إعانة 313 ص 1الطالبين -ج )

    Artinya ; Imam Syafi’i ra berkata –Segala hal yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan bertentangan dengan Al-Qur’an,Al-Hadits,Ijma’ (sepakat Ulama) dan Atsar (Pernyataan sahabat) adalah bid’ah yang sesat (bid’ah dholalah).Dan segala kebaikan yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan tidak bertentangan dengan pedoman tersebut maka ia adalah bid’ah yang terpuji (bid’ah mahmudah atau bid’ah hasanah), bernilai pahala. (Hasyiah Ianathuth-Thalibin –Juz 1 hal. 313).

    Semoga menjadi pelajaran bagi saudara dan saya sendiri.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  40. mas derajad,

    Imam Syafi’i berkata –Segala hal yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan bertentangan dengan Al-Qur’an,Al-Hadits,Ijma’ (sepakat Ulama) dan Atsar (Pernyataan sahabat) adalah bid’ah yang sesat (bid’ah dholalah).Dan segala kebaikan yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan tidak bertentangan dengan pedoman tersebut maka ia adalah bid’ah yang terpuji (bid’ah mahmudah atau bid’ah hasanah), bernilai pahala.

    yang saya mau tanyakan kepada mas derajad, imam syafi’i berkata seperti itu apakan imam syafi’i pernah melakukan amalan bid’ah yang rosul dan para sahabatnya tidak mengerjakan?

    1. @Dini :
      Sebelum kita bicara ke amalan. Saya bertanya ke saudara, jika ada seorang ahli fiqih memfatwakan seperti tersebut, beliau pernah melakukan apa tidak ?

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad gizi mengatakdst”.

  41. Apalah arti sebuah nama? Tatkala mendengar nama/cap/merek “WAHABI”, bagi kelompok tertentu sudah menunjukkan alergi, ngeri, mengutuk, dan sebagainya. Kelompok yang lain menghindarkan diri untuk memakai nama/cap/merek “WAHABI”. Kelompok yang lain, lain lagi: Kalau tidak sesuai dengan apa yang kami pahami dan jalani, berarti tidak mengikuti Standar Operasional dan Prosedur (SOP), dan mereka itu harus diperangi. Kelompok yang lainnya lagi, begitu marah dan tidak nyaman tatkala kelompok lainnya-lainnya yang membahas bagaimana memahami dan menjalankan suatu produk sesuai dengan SOP. Di zaman yang demikian demokratis semacam ini, masih saja terlibat perdebatan atas perbedaan-perbedaan itu. Semestinya kita sekalian berfokus pada keyakinan masing-masing, tidak perlu dan tidak penting menghakimi orang atau kelompok lain. Satu kata yang tidak pernah mencapai titik temu dan berlarut-larut untuk dibahas ialah “BID’AH”. Tetapi ketika saya kemukakan atau saya EDIT – REPLACE menjadi INOVASI atau MODIFIKASI jangan-jangan ada yang marah kecil, marah setengah besar, dan MARAH BESAR. Jangan-jangan setelah saya posting ini, muncul perdebatan yang tidak keruan jeluntrungnya, mengotak-atik agar INOVASI atau MODIFIKASI jangan dipakai untuk perkara yang krusial. Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang?

  42. bismillahirohmanirrohim… air beriak tanda tak dalam. begitulah jadinya kalau berguru pada ABU GOOGLE dan USTADZ YAHOO! Dalil berdasarkan al qur’an dan hadits terjemahan. Nasikh wal mansukh gak paham. Asbabun nuzul ayat gak ngerti. Nahwu shorof apalagi. sanadnya gak jelas. ke’alimannya diragukan. tholabul ‘ilminya baru kemaren. zuhudnya kagak kelihatan, ihlasnya jaaaauuuuh. BANYAK YG HAPAL ALQUR’AN DAN HADITS SENANG MENGKAFIRKAN ORANG LAIN. KAFIRNYA SENDIRI TDK TERASA KARENA MASIH KOTOR HATI DAN AKALNYA. SAUDARAKU JANGAN HANYA MENGKAJI SYARIAT SECARA HITAM PUTIH NANTI KAMU HANYA BISA MENDONGENG, MENULIS DAN MEMBACA YG PD AKHIRNYA AKAN MEMBAWA KAMU KEHIDUPAN YG CELAKA. wallahu a’lam bishowab

  43. bismillahirohmanirrohim… air beriak tanda tak dalam. begitulah jadinya kalau berguru pada ABU GOOGLE dan USTADZ YAHOO! Dalil berdasarkan al qur’an dan hadits terjemahan. Nasikh wal mansukh gak paham. Asbabun nuzul ayat gak ngerti. Nahwu shorof apalagi. sanadnya gak jelas. ke’alimannya diragukan. tholabul ‘ilminya baru kemaren. zuhudnya kagak kelihatan, ihlasnya jaaaauuuuh. perjuangan dan kesetiaan utk agama, bangsa dan negara diragukan, manfaat bagi umat nihil. BANYAK YG HAPAL ALQUR’AN DAN HADITS SENANG MENGKAFIRKAN ORANG LAIN. KAFIRNYA SENDIRI TDK TERASA KARENA MASIH KOTOR HATI DAN AKALNYA. SAUDARAKU JANGAN HANYA MENGKAJI SYARIAT SECARA HITAM PUTIH NANTI KAMU HANYA BISA MENDONGENG, MENULIS DAN MEMBACA YG PD AKHIRNYA AKAN MEMBAWA KAMU KEHIDUPAN YG CELAKA. wallahu a’lam bishowab

  44. Orang yang terkena pengaruh fatwa-fatwa kaum Wahabi biasanya jadi berpikiran sempit dalam memandang kehidupan beragama, yaitu hanya antara SUNNAH dan BID’AH, itupun menurut definisi mereka sendiri. Akibatnya, orang itu tidak bisa leluasa melihat kemaslahatan atau kebaikan suatu amalan yang di dalamnya terselip harapan untuk mendapatkan pahala dari nilai-nilai agama, hanya karena “format” mereka menganggap tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah Saw, padahal menurut para ulama, tidak dikerjakannya suatu amalan tidak menunjukkan bahwa amalan itu terlarang.

    Cara pandang yang sempit seperti ini kemudian melahirkan dua keadaan pada diri orang itu, yaitu:
    1. Fokus melaksanakan ibadah dengan format yang menurutnya persis seperti Rasulullah saw, seperti apa yang disebutkan di dalam sunnah Rasulullah Saw.
    2. Waspada dari perkara-perkara yang mereka anggap sebagai bid’ah.
    Keadaan yang pertama akan membuat orang itu merasa bangga dengan amal ibadahnya sendiri, sebab ia merasa amal ibadahnya itu bernilai karena sesuai sunnah. Di samping itu, keadaan tersebut juga bisa membangkitkan kesombongan saat melihat amal ibadah orang lain yang mereka anggap tidak sesuai sunnah sehingga menjadi sia-sia dan tidak berpahala.
    Keadaan yang kedua, yaitu kewaspadaannya terhadap perkara yang ia anggap bi’dah dengan pengertian yang tidak jelas, akan menumbuhkan ketakutan akan terjerumus kepada perbuatan bid’ah yang pada puncaknya berubah menjadi sikap PARANOID terhadap setiap perkara baru berbau agama.

    Saking paranoidnya, maka setiap menjumpai perkara baru berbau agama dalam bentuk apa saja (baik ucapan maupun perbuatan) dan dari kebiasaan ini dan dari kesempitan cara pandang mereka yang selalu membagi urusan agama cuma antara “Sunnah & Bid’ah”, maka terlontarlah ungkapan-ungkapan yang penuh kesombongan seperti berikut : “Tidak ada dalilnya!”, “Hadisnya dha’if (lemah)!”, “Tidak pernah dilakukan Rasulullah Saw.!”
    Ungkapan “Tidak ada dalilnya!” adalah ungkapan yang tergesa-gesa dalam menghukumi suatu amalan, di mana banyak pendapat para pendakwah Wahabi ini berani melontarkannya kepada masyarakat dengan maksud meyakinkan dan memperdayai mereka seolah memang suatu amalan itu tidak ada dalilnya, padahal di sana ada ratusan bahkan ribuan jilid kitab tafsir dan kitab hadis yang jika mereka kaji satu persatu maka dalil itu akan mereka temukan. Kesombongan mereka membuat diri mereka seolah sudah menelusuri semua kitab-kitab itu dan seolah-olah mereka sudah hafal seluruh dalil, lalu berani memastikan ada atau tidak adanya dalil.

    Kenyataannya, mereka memang belum menelusuri semua rujukan dalil itu, bahkan mereka juga tidak mau membaca kitab-kitab para ulama yang menjelaskan dalil-dalil amalan seperti Maulid, tahlilan, atau lainnya, dengan alasan haram hukumnya membaca karya-karya ahli bid’ah. Mengapakah mereka tidak mencontoh Imam Malik bin Anas (ulama salaf) yang karena sifat tawadhu’ (rendah hati)nya ia lebih banyak menjawab “aku tidak tahu” saat ditanya tentang berbagai masalah? Apakah mereka lebih alim dari Imam Malik sehingga mereka berani memvonis suatu amalan dengan “Tidak ada dalilnya!” dan langsung saja menjatuhkan vonis bid’ah tanpa mengkaji lagi pendapat para ulama yang jelas-jelas sudah membahas dalil-dalilnya?

    Ungkapan “Hadisnya dha’if (lemah)!” yang seringkali dilontarkan dapat menimbulkan anggapan di benak masyarakat awam seolah hadis dha’if sama sekali tidak boleh dijadikan dalil dan harus dicampakkan. Padahal telah nyata bahwa para ulama hadis telah sepakat bahwa hadis dha’if itu sah dijadikan hujjah (dalil) bagi fadha’il a’mal (keutamaan amal) yaitu agar orang terdorong melakukan amal shaleh (lihat Al-Kifayah fi ‘ilmi Ar-Riwayah, Al-Khathib Al-Baghdadi, al-Maktabah al-‘Ilmiyah, Madinah, juz 1, hal. 133. Lihat juga Syarh Sunan Ibni Majah, juz 1, hal. 98).

    Yang justeru sangat aneh adalah sikap kaum Wahabi yang sok anti hadis dha’if, sementara untuk kepentingan misi dakwahnya ternyata mereka juga menggunakan hadis dha’if yang mendukung fahamnya. Lebih buruknya lagi, mereka banyak mendasari hukum dha’if suatu hadis dengan hasil penelitian ulamanya yaitu Albani yang tidak diakui kapabilitasnya dalam ilmu hadis oleh para ulama hadis, bahkan ia dianggap “plin-plan” dalam menilai hadis.
    Ungkapan “Tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw.!” Ini sama sekali tidak bisa dijadikan alasan untuk melarang suatu amalan. Karena kalau tidak pernah berguru ataupun membaca kitab-kitab para fuqaha, maka amalan ini dapat dianggap SALAH bahkan bisa jadi terjadi penyimpangan yang cukup serius. Hadist yang Ribuan jumlahnya (mencapai +/- 900.000), jadi bagaimana kita tahu cara hidup dan apa yang dikerjakan Rasulullah SAW, laa hanya baca 10 hadist itupun tidak bisa menunjukan Sanadnya.
    Agama Islam sangat sempurna dalam mencakup berbagai aspek seluruh kehidupan. Sungguh kesempurnaan Islam itu tidak akan pernah terlihat bila urusan agama ini selalu hanya dipandang dari dua kategori saja Sunnah atau Bid’ah. Kesempitan cara pandang seperti ini akan membuat umat Islam tenggelam dalam permasalahan lama yang sebenarnya sudah tuntas dibahas oleh para ulama.

  45. Dari kalangan ulama madzhab al-Maliki, al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki, ulama terkemuka abad 12 Hijriah dan semasa dengan pendiri Wahhabi, berkata dalam Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Jalalain sebagai berikut:
    “Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah, dan oleh sebab itu mereka menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin sebagaimana yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka, yaitu kelompok di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahhabiyah, mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang pendusta.” (Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, juz 3, hal. 307).

    Dari kalangan ulama madzhab Hanafi, al-Imam Muhammad Amin Afandi yang populer dengan sebutan Ibn Abidin, juga berkata dalam kitabnya, Hasyiyah Radd al-Muhtar sebagai berikut: “Keterangan tentang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, kaum Khawarij pada masa kita. Sebagaimana terjadi pada masa kita, pada pengikut Ibn Abdil
    Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci. Mereka mengikuti madzhab Hanabilah. Akan tetapi mereka meyakini bahwa mereka saja kaum Muslimin, sedangkan orang yang berbeda dengan keyakinan mereka adalah orang-orang musyrik. Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan membunuh Ahlussunnah dan para ulamanya sampai akhirnya Allah memecah kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum Muslimin pada tahun 1233 H.” (Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar, juz 4, hal. 262).

    Dari kalangan ulama madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi berkata dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al- Hanabilah ketika menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi, sebagai berikut: “Abdul Wahhab bin Sulaiman al-Tamimi al-Najdi, adalah ayah pembawa dakwah
    Wahhabiyah, yang percikan apinya telah tersebar di berbagai penjuru. Akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Padahal Muhammad (pendiri Wahhabi) tidak terang-terangan berdakwah kecuali setelah meninggalnya sang ayah. Sebagian ulama yang aku jumpai menginformasikan kepadaku, dari orang yang semasa dengan Syaikh Abdul Wahhab ini, bahwa beliau sangat murka kepada anaknya, karena ia tidak suka belajar ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Sang ayah selalu berfirasat tidak baik tentang
    anaknya pada masa yang akan datang. Beliau selalu berkata kepada masyarakat, “Hati-hati, kalian akan menemukan keburukan dari Muhammad.” Sampai akhirnya takdir Allah benar-benar terjadi. Demikian pula putra beliau, Syaikh Sulaiman (kakak Muhammad bin Abdul Wahhab), juga menentang terhadap dakwahnya dan membantahnya dengan bantahan yang baik berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Syaikh Sulaiman menamakan bantahannya dengan judul Fashl al- Khithab fi al-Radd ‘ala Muhammad bin Abdul Wahhab. Allah telah menyelamatkan Syaikh Sulaiman dari keburukan dan tipu daya adiknya
    meskipun ia sering melakukan serangan besar yang mengerikan terhadap orang-orang yang jauh darinya. Karena setiap ada orang yang menentangnya, dan membantahnya, lalu ia tidak mampu membunuhnya secara terang-terangan, maka ia akan mengirim orang yang akan menculik dari tempat tidurnya atau di pasar pada malam hari karena pendapatnya yang mengkafirkan dan menghalalkan membunuh orang yang menyelisihinya.” (Ibn Humaid al-Najdi, al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah, hal. 275).

    Dari kalangan ulama madzhab Syafi’i, al-Imam al-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan al-Makki, guru pengarang I’anah al-Thalibin, kitab yang sangat otoritatif (mu’tabar) di kalangan ulama di Indonesia, berkata: “Sayyid Abdurrahman al-Ahdal, mufti Zabid berkata: “Tidak perlu menulis bantahan terhadap Ibn Abdil Wahhab. Karena sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam cukup sebagai bantahan terhadapnya, yaitu “Tanda-tanda mereka (Khawarij) adalah mencukur rambut (maksudnya orang yang masuk dalam ajaran Wahhabi, harus mencukur rambutnya)”. Karena hal itu belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari kalangan ahli bid’ah.” (Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Fitnah al-Wahhabiyah, hal. 54).

  46. Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah :
    1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah
    (Imam Syafii)
    Berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela), maka yang sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yang tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dengan ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih : “inilah sebaik baik bid’ah”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)

    2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah
    “Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yang berbunyi : “seburuk buruk permasalahan adalah hal yang baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah” (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yang dimaksud adalah hal hal yang tidak sejalan dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu‘anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya” (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yang baik dan bid’ah yang sesat”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)

    3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy
    rahimahullah (Imam Nawawi)
    “Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang dosanya”, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yang
    baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yang buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yang baru adalah Bid’ah, dan semua yang Bid’ah adalah sesat”, sungguh yang dimaksudkan adalah hal baru yang buruk dan Bid’ah yang tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105) Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu Bid’ah yang wajib, Bid’ah yang mandub, bid’ah yang mubah, bid’ah yang makruh dan bid’ah yang haram.

    4. Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy
    rahimahullah
    Mengenai hadits “Bid’ah Dhalalah” ini bermakna “Aammun makhsush”, (sesuatu yang umum yang ada pengecualiannya), seperti firman Allah : “… yang Menghancurkan segala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula ayat : “Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia keseluruhannya” QS Assajdah-13), dan pada kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).

    Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yang bertentangan dengan pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati hati darimanakah ilmu mereka?, berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau seorang yang disebut imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yang tak punya sanad, hanya menukil menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa memperdulikan fatwa fatwa para Imam?

  47. “Abdurrahman bin Abd al-Qari berkata: “Suatu malam di bulan Ramadhan aku pergi ke masjid bersama Umar bin al-Khaththab. Ternyata orang-orang di masjid berpencar-pencar dalam sekian kelompok. Ada yang shalat sendirian. Ada juga yang shalat menjadi imam beberapa orang. Lalu Umar radhiyallahu anhu berkata: “Aku berpendapat, andaikan mereka aku kumpulkan dalam satu imam, tentu akan lebih baik”. Lalu beliau mengumpulkan mereka pada Ubay bin Ka’ab. Malam berikutnya, aku ke masjid lagi bersama Umar bin al-Khaththab, dan mereka melaksanakan shalat bermakmum pada seorang imam. Menyaksikan hal itu, Umar berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini. Tetapi menunaikan shalat di akhir malam, lebih baik daripada di awal malam”. Pada waktu itu, orang-orang menunaikan tarawih di awal malam.” (HR. al-Bukhari [2010]).

    Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah menganjurkan shalat tarawih secara berjamaah. Beliau hanya melakukannya beberapa malam, kemudian meninggalkannya. Beliau tidak pernah pula melakukannya secara rutin setiap malam. Tidak pula mengumpulkan mereka untuk melakukannya. Demikian pula pada masa Khalifah Abu Bakar radhiyallahu anhu. Kemudian Umar radhiyallahu anhu mengumpulkan mereka untuk melakukan shalat tarawih pada seorang imam dan menganjurkan mereka untuk melakukannya. Apa yang beliau lakukan ini tergolong bid’ah. Tetapi bid’ah hasanah, karena itu beliau mengatakan: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”

    “Al-Sa’ib bin Yazid radhiyallahu anhu berkata: “Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar adzan Jum’at pertama dilakukan setelah imam duduk di atas mimbar. Kemudian pada masa Utsman, dan masyarakat semakin banyak, maka beliau menambah adzan ketiga di atas Zaura’, yaitu nama tempat di Pasar Madinah.” (HR. al-Bukhari [916]).
    Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar adzan Jum’at dikumandangkan apabila imam telah duduk di atas mimbar. Pada masa Utsman, kota Madinah semakin luas, populasi penduduk semakin meningkat, sehingga mereka perlu mengetahui dekatnya waktu Jum’at sebelum imam hadir ke mimbar. Lalu Utsman menambah adzan pertama, yang dilakukan di Zaura’, tempat di Pasar Madinah, agar mereka segera berkumpul untuk menunaikan shalat Jum’at, sebelum imam hadir ke atas mimbar. Semua sahabat yang ada pada waktu itu menyetujuinya. Apa yang beliau lakukan ini termasuk bid’ah, tetapi bid’ah hasanah dan dilakukan hingga sekarang oleh kaum Muslimin. Benar pula menamainya dengan sunnah, karena Utsman termasuk Khulafaur Rasyidin yang sunnahnya harus diikuti berdasarkan hadits sebelumnya.

    Selanjutnya, beragam inovasi dalam amaliah keagamaan juga dipraktekkan oleh para sahabat secara individu. Dalam kitab-kitab hadits diriwayatkan, beberapa sahabat seperti Umar bin al-Khaththab, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, al- Hasan bin Ali dan lain-lain menyusun doa talbiyah-nya ketika menunaikan ibadah haji berbeda dengan redaksi talbiyah yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Para ulama ahli hadits seperti al-Hafizh al-Haitsami meriwayatkan dalam Majma’ al-Zawaid, bahwa Anas bin Malik dan al-Hasan al-Bashri melakukan shalat Qabliyah dan Ba’diyah shalat idul fitri dan idul adhha.

    Lihatlah, perilaku para sahabat dan ulama ulama yg muktabar. Mereka melakukan inovasi yg tidak pernah di contohkan oleh Nabi.

    Oleh karena itulah, perkataan saudara kita Abu Dzar yg berbunyi : “apa2 yg diajarkan oleh Rasul amalkanlah, dan apa2 yg ditinggalkan Rasul maka jauhilah dan hati2 dgn perkara2 baru sesungguhnya perkara2 baru dlm agama itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu tempatnya di NERAKA……”

    JAdi, seolah olah saudara Abu Dzar menganggap sesat amalan yg dilakukan oleh sahabat dan ulama ulama yg muktabar. SUPER SEKALI

  48. Para “Syech COPAS” lagi weekend kemana ya? Lagi minta petunjuk “Mujtahid” kali ya? Begitulah kalau baca bukunya cuma satu, udah gito buku terjemahan yang sudah di-set untuk membantah dan mempersoalkan amalan muslim lainnya. Ya MENTOK deh …. Daripada mempersoalkan amalam muslim lainnya, lebih baik belajar lagi. Percaya deh syurga Allah sangat luas, bukan untuk golongan ente doang. Jangan terlalu pusing mikirin orang lain masuk neraka dan terlalu bangga dengan amalan diri sendiri. Jadilah orang yang santun dengan saudara semuslim.

  49. Saya punya pertanyaan kepada Saudara Abu Dzar dan kawan kawannya. Berdasarkan kaidah saudara Abu Dzar yg berbunyi : apa2 yg diajarkan oleh Rasul amalkanlah, dan apa2 yg ditinggalkan Rasul maka jauhilah dan hati2 dgn perkara2 baru sesungguhnya perkara2 baru dlm agama itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu tempatnya di NERAKA……

    Apakah boleh membayarkan zakat hanya dengan harganya saja? Dalam masalah ini ada dua pendapat :

    pendapat pertama : Bahwa membayarkan zakat hanya dengan harganya saja sama sekali masih dianggap belum cukup. pendapat ini dianut oleh ahli fiqih mazhab Syafi’iy, mazhab Zahiri, dan sebagian riwayat yang termasyhur di kalangan mazhab Maliki dan Hanbali.

    Pendapat kedua : Bahwa membayarkan zakat hanya dengan harganya saja, seperti memakai uang dan lain-lainnya sudah dianggap cukup, dan zakatnya telah dianggap sah. Pendapat inilah yang dikatakan oleh para ahli fiqih mazhab Hanafi, dan sebagian riwayat yang termasyhur dikalangan mazhab Maliki dan mazhab Hanbali. Menurut salah saturiwayat, bahwa pendapat ini bersumber dari khalifah ‘Umar ibnu ‘Abdul ‘Aziz, Hasan al-Bashri dan Sufyan ats-Tsauri. Ada pula riwayat lain yang bersumber dari Imam Ahmad, yang isinya sama seperti pendapat mereka, yaitu dalam masalah selain zakat fitrah.

    Dati kedua pendapat diatas, mana pendapat yg sesuai dengan sunnah, dan mana pendapat yg di vonis bid’ah serta masuk neraka sesuai dengan kaidah Abu Dzar?

    Atas penjelasannya say ucapkan terima kasih.

  50. Disebutkan di dalam sunan an-Nasa’i sebuah hadits shahih:
    Dari Suwar bin Abdullah ia berkata: menceritakan kepada kami Marhum bin Abdul Aziz dari Abu Ni’amah dari Abu Utsman an-Nahdiy dari Abu Sa’id al-Khudriy ia berkata: Berkata Mu’awiyah Radhiyallaahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju halaqah para sahabat beliau, kemudian beliau bertanya, “Apa yang menyebabkan kalian semua duduk berkumpul?” Mereka para sahabat menjawab, “Kami duduk berkumpul tidak lain untuk berdo’a kepada Allah Ta’ala dan memuji-Nya atas karunia petunjuk agama-Nya dan menganugerahkan engkau (Wahai Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam) kepada kami.” Kemudian beliau bertanya, “Demi Allah, tidakkah kalian duduk berkumpul kecuali hanya untuk itu?” Jawab para sahabat, “Demi Allah, tiada kami duduk berkumpul kecuali hanya untuk itu.” Maka beliau pun bersabda, “Sungguh aku menyuruh kalian bersumpah bukan karena mencurigai kalian. Akan tetapi karena aku telah didatangi Jibril ‘alaihissalam. Kemudian ia memberitahukan kepadaku bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla membanggakan kalian di hadapan para malaikat” (Sunan an-Nasa’i).

    Hadits shahih tersebut diatas, disamping menjelaskan keutamaan berkumpul untuk berdzikir, juga menjelaskan tentang perbuatan para shahabat Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam yang berkumpul dalam rangka untuk bersyukur kepada Allah Ta’aala atas anugerah-Nya yang berupa diutusnya baginda Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka. Bersyukur dan bergembira atas diutusnya Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alaihi wa sallam adalah merupakan salah satu tujuan dilaksanakannya majelis maulid Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam.

    Lantas, mengapa kami dianggap Ahli Bid’ah dan sesat?

  51. Tawassul kepada Nabi Muhammad Shollallaahu ‘Alaihi Wa Sallam setelah wafatnya beliau adalah diperbolehkan. Ibn Katsir (Abu al-Fida’ Isma’il bin Umar bin Katsir al-Qarasyi ad-Dimisyqi, lahir 701 H, wafat 774 H) di dalam menafsirkan QS. An-Nisaa’: 64, beliau menjelaskan:
    “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisaa’: 64)

    Allah Ta’ala memberikan petunjuk bagi orang-orang yang bermaksiat dan berdosa, jika ada diantara mereka yang terjatuh ke dalam perbuatan dosa dan maksiat, hendaknya ia mendatangi Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam, dan hendaknya pula ia memohon ampun kepada Allah Ta’aala disisi beliau, dan meminta pula kepada beliau untuk memohonkan ampun kepada Allah Ta’aala atas dosa-dosa mereka. Maka barangsiapa diantara mereka melakukan hal yang demikian ini, maka Allah Ta’aala akan menerima taubat mereka, menyayangi mereka, dan mengampuni dosa-dosa mereka. Dan inilah perwujudan dari firman-Nya: – “Tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang“.

    Dan telah disebutkan oleh jama’ah dari kalangan mereka: Syaikh Abu Nashr bin ash-Shibagh di dalam kitabnya “Asy-Syaamil” sebuah hikayah yang masyhur dari al-‘Utbiy, ia berkata: Suatu ketika aku duduk di samping makam Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam, kemudian datang seorang A’rabiy yang berkata: Assalaamu ‘alaika Ya Rasulallaah, sungguh aku mendengar Allah Ta’ala berfirman:
    “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisaa’: 64)

    Dan oleh sebab itulah, aku mendatangi engkau untuk memohon ampun atas dosa-dosaku dan memohon syafa’at dengan perantaraan engkau kepada Allah Ta’aala. Kemudian ia melantunkan sebuah sya’ir:

    Wahai sebaik-baik orang yang jasadnya disemayamkan di tanah ini…
    Sehingga semerbaklah tanah dan bukit karena jasadmu…
    Jiwaku sebagai penebus bagi tanah tempat persemayamanmu…
    Di sana terdapat kesucian, kemurahan, dan kemuliaan…

    Kemudian, orang A’rabiy tersebut pergi. Dan aku pun terserang kantuk kemudian tertidur. Dalam tidurku aku bermimpi bertemu dengan Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam, dan Beliau Shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai ‘Utbiy, susullah orang A’rabiy tadi dan sampaikan kepadanya bahwasanya Allah Ta’aala telah mengampuni dosa-dosanya”

    (Tafsir ibn Katsir, QS. An-Nisaa’: 64).

    Lantas, mengapa ada saudara kami yg menjatuhkan vonis syirik karena kami bertawassul dengan Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam di kala beliau sudah wafat.

  52. Terlebih dahulu saya mau minta maaf jika kata kata saya telah menyinggung. Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhu yang berkata: “Sepulangnya dari peperangan Ahzab, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jangan ada yang shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” (HR.Al-Bukhari [894]).

    Sebagian sahabat ada yang memahami teks hadits tersebut secara tekstual, sehingga tidak shalat Ashar–walaupun waktunya telah berlalu– kecuali di tempat itu. Sebagian lainnya memahaminya secara kontekstual, sehingga mereka melaksanakan shalat Ashar, sebelum tiba di perkampungan yang dituju. Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam menerima laporan tentang kasus ini, beliau tidak mempersalahkan kedua kelompok sahabat yang berbeda pendapat dalam memahami teks hadits beliau.” (HR. al-Bukhari [894])

    Berkaitan dengan hal tersebut Sayidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi mendera orang yang minum khamr sebanyak empat puluh kali. Abu Bakar mendera empat puluh kali pula. Sedangkan Umar menderanya delapan puluh kali. Dan kesemuanya adalah sunnah. Akan tetapi, empat puluh kali lebih aku sukai.” (HR. Muslim (3220) dan Abi Dawud (3384).

    Dalam hadits ini, Ali bin Abi Thalib menetapkan bahwa dera empat puluh kali yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Abu Bakar, sedang dera delapan puluh kali yang dilakukan oleh Umar kepada orang yang minum khamr, keduanya sama-sama benar.

    Ada baiknya kita perhatikan perkataan Seorang ulama salaf dari generasi tabi’in, al-Imam al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar al-Shiddiq berkata: “Perbedaan pendapat di kalangan sahabat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam merupakan rahmat bagi manusia.” (Jazil al-Mawahib, 21).

    Khalifah yang shaleh, Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu juga berkata: “Aku tidak gembira seandainya para sahabat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam tidak berbeda pendapat. Karena seandainya mereka tidak berbeda pendapat, tentu tidak ada kemurahan dalam agama.” (Jazil al-Mawahib, 22).

    Paparan di atas menyimpulkan bahwa perbedaan pendapat di kalangan sahabat telah terjadi sejak masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan ternyata perbedaan tersebut dilegitimasi oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan menjadi rahmat bagi umat Islam sebagaimana diakui oleh ulama salaf yang saleh. Wallahu a’lam.”

    Lantas, mengapa ada saudara saudara kami yg memvonis kami Ahli Bid’ah, sesat, syirik dan masuk Neraka, hanya karena pendapat kami tidak sesuai dengan mereka.

  53. Ada saudara saudara kami yg mengutip pendapat al-Imam Ibn Rajab, bahwa bid’ah hasanah itu tidak ada. Yang namanya bid’ah itu pasti sesat”.

    Sesungguhnya, kalianlah yg salah dalam mengutip pendapat al-Imam Ibn Rajab tersebut. Sebagai bukti, bahwa Ibn Rajab menerima bid’ah hasanah, dalam kitabnya, Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam fi Syarth Khamsin Haditsan min Jamawi’ al-Kalim, beliau mengutip pernyataan al-Imam al-Syafi’i yang membagi bid’ah menjadi dua. Dan seandainya al-Imam Ibn Rajab memang berpendapat seperti yang Anda katakan, kita tidak akan mengikuti beliau, tetapi kami akan mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat yang mengakui adanya bid’ah hasanah.”

    Hanya saja beliau tidak mau menamakan bid’ah hasanah dengan bid’ah, tetapi beliau namakan Sunnah. Jadi hanya perbedaan istilah saja.

  54. Hanya nimbrung,,,,
    Tanya bagi suka membid’ahkan…..
    “Kiran-kira yang suka membid’ahkan termasuk perbuatan bid’ah ndak”

  55. Terima kasih mas Admin atas postingannya. Sungguh luar biasa perjuangan antum semua yang anti ajarannya “wahabi”. Saya jadi teringat perjuangannya Abdul Uzza alias Abu Lahab yang begitu gigih menentang dan menghalangi dakwah Rasululloh dengan berbagai cara dan dengan memberi gelar yang macam-macam.

    Saya semakin sadar dan yakin dakwah “wahabi” inilah dakwahnya Rasululloh dan Para Sahabatnya.

    Oleh karena itu saksikanlah wahai manusia dan jin pernyataan saya ini:

    SAYA BANGGA JADI WAHABI, WHY NOT !!!!!!!!!!!!!!!!!!

    1. Abdul Kholik@

      Waahhh… saya juga ikut senang sama seperti Mas Admin, artinya mas admin berhasil mensupport salah satu penganut Wahabi untuk bangga sebagai Wahabi. Why not, gitu lho? Ya, musti kudu harus begitu dong, jangan taqiyah melulu, melabeli diri sebg Salafy atau jadang2 Ahlussunnah Wal Jmaah, he he….

      Oh ya, saya sekalian titip pesan ya, buat Radio Roja supaya bangga juga dong sebagai Wahabi, jangan pakai Jargon: ” ROJA…. Radio Ahlussunnah Wal Jamaah”, ganti jargonnya begini…: Roja, Radio Orang Wahabi….”, he he… , Oke, sampaikan ke Radio Roja ya Mas Abdul Kholik, jangan lupa ya? Makasih ya…?

    2. Kalau setahu saya sih, Salafy ato wahabi itu dakwahnya Syaikh Muhammad BAW kemdian dilanjut oleh bin Baz, Utsaimin, al albani dll, yg kemudian dg dukungan duit realnya yg melimpah Wahabisme From najd itu diasong sampai ke Indonesia, dg label baru: Salafy ato terkadang tanpa malu2 menyebut diri sbg Ahlussunnah wal Jamaah, seperti Radio Roja dg jargon manisnya “AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH”, nyamar nih ye? Dan sudah banyak yg tertipu dikira Aswaja beneran, eh nggak tahunya ASLI WAHABI dari NAJDI.

      Dal;ah hadits Shahih disebutkan oleh nabi saw tentang Fitnah NAJDI (Syaik Muhammad BAW Al Najdi) :

      حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

      Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan” [Shahih Bukhari 2/33 no 1037].

      Dan terbukti, dakwah yg penuh fitnah itu memang dari Najd, Arab saudi sekarang.

  56. Asslm tangan menunjuk pasti 1 jari , 4 jari menunjuk pada dirinya sendiri begitu kalo menunjuk orang bid’ah apa gak nunjuk diri sendiri mari muhasabah /introspeksi cari ilmu jangan korek 2 orang, gajah dilautan tampak tapi dipelupuk tak tampak wassalm

    1. Saya sering dengar Ustadz Wahabi mengatakan seperti apa yg antum katakan. Ityulah Dalil pembelaan diri yg sangat aneh. Kalau menurut saya, 1 jari menunjuk yg 3 pasti tergenggam sedangkan jempol tetap mengarah ke depan, antum ini gemana cara menunjuknya kok yang 4 bisa menunjuk ke diri mu sendiri? Aneh deh Wahabi kalau bikin dalil?

      Lagian yg selama ini hobby nunjuk2 orang lain bid’ah kan Wahabi, sadar nggak?

  57. hemm aduh!! gak ada manfaatnya website ini.. saya sibuk cari artikel tentang fiqih atau tauhid.. ehhh pembahasanya wahabi melulu.. kok bahas wahabi selalu sih ustad? kenapa gak bahas kristen, syiah, atau yahudi? atau islam liberal? kayaknya ada yang takut nih dengan wahabi.. sampai2 gak henti2nya bahas wahabi!

    aduhh sebagai mahasiswa yang baru belajar agama islam, saya kecewa dengan situs yang di tunjuk teman saya.. bukanya memabahas orang2 kafir yang nyata.. malah membahas golongan golongan. emang wahaby kafir ya? sampai beribu-ribu artikel hanya tentang wahaby tok.. perkenalkan saya orang medan, ayah saya seorang muallaf. masih banyak syubhat kristen di keluarga saya.. tolong dibahas tentang kristen sesekali kenapa? perihatin saya ketika salah satu keluarga saya bilang islam gak da beda dengan keristen. karena banyaknya perpecahan. gimana nih ustad? kapan kita bahas tentang kristenya? kapan? bosen klo bahas tentang wahaby atau salafy terus? bisa makin bodoh sala di depan orang2 kristen medan yang jago ngomong!!

  58. Hadis Nabi tentang Bid’ah Artinya:
    “Siapa saja yang membuat sunnah (perbuatan) yang baik dalam agama Islam, maka dia akan mendapatkan pahala dari perbuatan tersebut serta pahala dari orang-orang yang mengamalkannya setelah itu, tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka. Dan barangsiapa yang membuat sunnah (perbuatan) yang jelek, maka ia akan mendapatakan dosa dari perbuatan itu dan dosa-dosa orang setelahnya yang meniru perbuatan tersebut, tanpa sedikitpun mengurangi dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim no. 4830)

    1. derajat hadistnya gimana?tau gak arti sunnah?islam itu sudah sempurna,oleh yg Maha Sempurna.sudah dikasih contoh yg sempurna,nabi Muhammad.islam itu sempurnaaaaaaaa.gak usah ditambahiiiiin

      .

      1. sudah tahu sempurna….koq akidahnya masih ditambahi Tauhid Trinitas (Rububiyah, Uluhiyah, Asma’washifat)? Mohon maaf, kalau istighasah ke Amerika dan sekutunya yg membantai saudara2 kita di Palestina itu bid’ah nggak mas???

  59. BLOG INI SAYA BERTANYA : “KENAPA ANDA PECINTA BID’AH MARAH BILA DIKATAKAN AHLU BID’AH DOLALAH” —-ANDA YANG HARUS BERTOBAT—- ALLAHU AKBAR!

    1. @Yahya
      Kita disini gak pernah MARAH kalau dikatakan ahlul bid’ah, cuma memberi pengertian aja sama yang mengatakan bid’ah, karena yang mengatakan mungkin gak mengerti ilmu alias BODOH tentang kata bid’ah yang sebenarnya.
      Kalau bertobat, mungkin ente yang lebih dulu bertobat, karena Tauhid ente bagi 3. Padahal Tauhid adalah yang inti dalam beragama ya.

    2. lho katanya wahabi gak mengenal bid’ah dholalah ? gimana seh yahya ….. berarti anda mengakui adanya bid’ah hasanah dong… oalaaaaah wahabiiii wahabi !

  60. Melihat komentar mas yahya, semakin meyakinkan saya akan perkataan Abuya Sayyid Alwi Al Maliki dalam kitab mafaahim beliau:

    “Karena itu Anda akan melihat ia berkata : Setelah sabda penetap syari’ah dan pemilik risalah bahwa setiap bid’ah itu sesat, apakah sah ungkapan : akan datang seorang mujtahid atau faqih, apapun kedudukannya, lalu ia berkata, “Tidak, tidak, tidak setiap bid’ah itu sesat. Tetapi sebagian bid’ah itu sesat, sebagian baik dan sebagian lagi buruk. BERANGKAT DARI PANDANGAN INI BANYAK MASYARAKAT TERPEDAYA. MEREKA IKUT BERTERIAK DAN INGKAR SERTA MEMPERBANYAK JUMLAH ORANG-ORANG YANG TIDAK MEMAHAMI TUJUAN-TUJUAN SYARI’AH DAN TIDAK MERASAKAN SPIRIT AGAMA ISLAM.”
    Wallohu a’lam

  61. Wahabi, yang suka menyebut dirinya, Salafi, juga menyebut dirinya Ahlusunnah waljamaah tujuannya dari gerakan/aliran ini adalah mempersatukan ummat Islam seluruh dunia, dengan syarat semuanya harus jadi wahabi, kalau tidak bakal kena stempel ahli bidah dan syirk

  62. Di Mali puak Salafi/wahabi menunjukan taring buas mereka, memerintah hanya 10bulan penduduk Mali hidup dlm ketakutan, di rejam, putung tangan, kaki, di execute, makam para wali/ulama, kitab-kitab ratusan tahun, (Timbaktu di gelar sebagai ‘The city of 300 saints’) di bakar dan di musnahkan, anak anak madrasah berusia semuda 10 tahun di ajar angkat senjata…adakah ini ajaran Rasulullah saw??? Ini kah perjalanan ahli sunnah???
    Ini org gila, taksub, salafy wahabi sesatttt

  63. anak anak kecil itu masih suci tidak mengenal dosa. tapi kalo lihat wahabi ketakutan tiada terkira. langsung masuk rumah sembunyi…. ditanya kenapa?… saya melihat setan pak… wajahnya seram.. dijidatnya ada tanduknya.. pas saya lihat.. ternyata ada orang bercelana cingkrang.. jenggotnya tidak beraturan dan dijidatnya ada tanduknya… (seperti itukah tampang ahli ibadah…)

  64. Kepada yang sudah terlanjur menjadi pengikut wahabi, pintu tobat selalu terbuka.
    dengan logika yang sangat sederhana aja,solawat pada nabinya haram, memperingati maulid (hari lahir) nabinya haram, dari situ aja sudah jelas. pendahulu utama wahabi adalah orang orang yang membenci nabi, Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab hanya pengikut dan penerus saja ko’. sehingga anak dan cucu serta keturunan mereka, diharamkan bersolawat pada nabi Muhammad SAW. sedangkan bid’ah dan syirik cuma kedok untuk alasan pembantaian kaum muslim. seperti halnya UU pornografi, beberapa tahun kedepan, nantinya akan dijadikan alasan untuk merubah beberapa isi ayat Al-Qur’an, seperti lafadz farji (kemaluan wanita), jima’ (berhubungn suami istri), dsb.yang nantinya dianggap porno.

  65. kalo perayaan kelahiran Muhammad abd. Wahab di rayakan umat wahabi salafi di KSA selama tujuh hari sebagai perayaan wajib dan besar ( dengan seminar dari universitas dengan faham2 wahabi ) bukan ini lebih bida’ah karena Abd.Wahab alias pendiri wahabi baru lahir diNaj’d abad ke 12 H, jadi apasih yang suka diucapkan uztadz 2 wahabi jika dakwah Jumat selalu mengengatakan “Bid’ah dollalah, dollalaah finnar” yang bikin bidah siapa? yang bikin hadis2 palsu siapa? yang selalu membenarkan hadis dhoif siapa? yang membunuh dan mengkafirkan umat islam di Madinah, Thaif awal pemaksaan kehendak faham wahabi salafi oleh Muhammaad Abd. Wahab kepada masyarakat di Madinah, Penghancuran situs 2 sejarah peninggalan Nabi dan para sahabat, dengan alasan bidah, bukan ente yang bid’ah, kenapa Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. di haramkan, sabagai umat muslim yang telah diberikan petunjuk jalan yang lurus dari Allah SWT, melalui perantaranya Nabi kekasih Allah yang berakhlak mulia. apa salah kita rayakan untuk mengingat perjuangan nya, keikhlasan nya, keteguhan nya, pengorbanan nya, suritauladan nya, anda bayangkan jaman Nabi lahir, Tanah semenanjung arab adalah jahiliah ,penuh kebodohan dan kekejian dan kemusyrikan kenapa di balik balik setelah Allah memberikan kemakmuran kepada mereka. astagfirullah aladziem. wassalam.

  66. Assalamu’alaikum
    Kayaknya kontroversial banget nih..
    Ah, ane sudah terbiasa yang seperti ini, kawan.. 🙂 :peace

Jika ada ditemukan artikel yang salah, dan lain-lannya, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: