Kata Imam Syafii Dan Imam Ghazali: Waktu Jenggot Panjang, Otak Jadi Berkurang

Kata Imam Syafii Dan Imam Ghazali: Saat Jenggot Panjang, Otak Jadi Berkurang

Kata Imam Syafii Dan Imam Ghazali: Waktu Jenggot Panjang, Otak Jadi Berkurang

Baldatuna.com – Seperti mereka yang tidak pernah lelah mencaci, memfitnah kiai kami, maka kamipun takan pernah lelah memberikan klarifikasi klarifikasi atas tudingan tudingan keji untuk kiai kami !!!

Beberapa fitnah mendera NU dan Ketum PBNU KH Said Aqil Siraj di media abal-abal full fitnah. Masih beberapa yang menanyakan kebenaran berita tersebut. Dan berulangkali tidak terbukti.

Dulu KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah berkata, “Pak Said, sampeyan besok akan jadi Ketum PBNU. Namun pada waktu kepemimpinan sampeyan, NU akan mengalami badai fitnah yang besar, bahkan dahsyat.”

Gus Dur terdiam seraya melihat ke Pak Said yang juga terdiam menguping wejangan Gus Dur tersebut yang sebelumnya tidak disangka sama sekali.

“Namun sampeyan tidak usah kuatir sebab fitnah itu cuman sebentar dan NU akan menemukan lagi kejayaannya,” sambung Gus Dur yang disambut tawa keduanya.

Sekarang ini dapat kita lihat kebenaran dari ucapan-ucapan Gus Dur. Nyatanya, Pak Said jadi Ketum PBNU dan juga terkena fitnah yang terus-menerus dilancarkan ke NU. Mulai dari tudingan syirik, liberal, kafir, bid’ah, syiah, sampai sebutan syetan.

Ada yang diutarakan secara nyata dan kasar, ada juga yang melalui kiasan-kiasan. Yang dahsyat ialah fitnah dan tudingan keji dari dalam dalam tubuh NU sendiri, yaitu orang-orang yang mengklaim NU tapi sebenarnya mereka merusak NU. Naudzubillah.

Pada zaman Kyai Said inilah, NU hidup dalam zaman yang disebut Nabi Muhammad selaku katsural qalam (beberapa pena) sehingga beberapa juga kalam (ujaran) yang mudah ditulis dan disebar tanpa tanggungjawab.

Kyai dihina, orang tua kanjeng Nabi disebut masuk neraka, amalan ulama sholihin disebut syirik, orang NU kembali disebut ahli bid’ah dan quburiyyun.

IMAM SYAFI’I DAN HUJJATUL ISLAM IMAM GHAZALI SOAL JENGGOT.

كلّما طالت اللحية، تكوسج العقل

“Waktu jenggot panjang, otak jadi pendek.”

Kitab diwan Imam al-Syafii “al-Wafi bi al-Wafayat” (tepatnya di jilid ke-2 halaman ke-123): kitab-biografi 29 jilid, ditulis lebih dari enam ratus tahun lalu oleh ulama-penulis Sunni bernama Shalahuddin al-Shafadi.

Kisaran 250 tahun sebelum al-Shafadi, Imam al-Ghazali telah menukil kutipan serupa di kitab “Ihya Ulumiddin” di bagian bab “Asrar al-Thaharah”. Pas di atas pasal “al-Lihyah” (Jenggot).

كلما طالت اللحية تشمر العقل

“Waktu jenggot panjang, otak jadi berkurang.”

إحياء علوم الدين – (ج 1 / ص 143)

وقال النخعي عجبت لرجل عاقل طويل اللحية كيف لا يأخذ من لحيته ويجعلها بين لحيتين فإن التوسط في كل شيء حسن ولذلك قيل كلما طالت اللحية تشمر العقل

Kata-kata yang dilansir Imam al-Ghazali tersebut bermakna sama dengan kata-kata Imam Syafii. Cuma tak sama di 1 kata saja.تكوسج dan تشمر. Beda kata, maksudnya sama.

Dalam “Ihya”, Imam al-Ghazali Memperingatkan kita, ada sepuluh hal yang dibenci dalam berjenggot. Di antara sepuluh itu, 2 hal amat dibenci dan sebaiknya dihindari bagi kaum berjenggot.

Ke-1;

Berjenggot sebab ingin pamer. Imam al-Ghazali menukil kutipan, “Ada 2 syirik yang dapat tumbuh dalam jenggot: merawatnya sebab ingin pamer dan membiarkannya awut-awutan sebab ingin dinilai zuhud.”

Ke-2;

Waktu jenggot buat Anda sombong. Waktu Anda, misal, merasa jenggot menaikkan tingkat keislaman Anda, lalu melihat rendah keislaman orang lain sebab tidak berjenggot. Anda merasa amat islami sebab berjenggot, orang lain dinilai tidak islami sebab tidak berjenggot.

(Perihal kesombongan, tentu saja ia tidak cuma jadi godaan orang berjenggot. Orang tidak berjenggot juga dapat terjangkiti kesombongan, semisal melihat orang-orang berjenggot dengan tatapan buruk. Sombong sungguh keburukan yang dapat menempel di apa dan siapa saja).

Yang terang, kata-kata Imam al-Syafii atau kutipan yang dinukil Imam al-Ghazali di atas (atau pernyataan Kyai Said) bukan ungkapan buruk untuk memojokkan kaum berjenggot.

Konon, Imam al-Syafii sendiri mempunyai jenggot yang cakep dan terawat. Masa, orang berjenggot mengucapkan kata-kata buruk perihal kejenggotannya? Kan nganu.

المزني يقول : ما رأيت وجها أحسن من وجه الشافعي ، ولا رأيت لحية أحسن من لحيته ، وكان ربما قبض عليها فلا تفضل عن قبضته

(تاريخ دمشق لابن عساكر)

Imam Al-Muzani, bagian murid Imam Syafi’i menjelaskan, “Saya belum pernah menyaksikan muka sebagus muka Imam Syafi’i. Belum pernah pula kulihat jenggot seindah jenggotnya. Kadang-kadang beliau menggenggam jenggotnya dan tidak melebihi dari genggamannya.”

(Tarikh Dimasyq, Ibnu Asakir 51/28)

PENJELASAN KH AQIL SIRAJ SOAL JENGGOT.

“Sungguh Rasulullah itu berjenggot, tapi jenggotnya bukan aksesoris, bukan cuma pantas-pantas, bukan cuma lambang simbolis, simbol.

Namun jenggot ialah Adalah lambang kerendahan hati, lambang keputusan strategi, kearifan. Lambang tawadhu’ bahasa arabnya, yang orang berakhlak tinggi.

Jadi orang yang berjenggot itu sungguh syaraf untuk menyokong kecerdasannya berkurang, ketarik oleh jenggot, tapi nanti kecerdasan otaknya akan down ke hati.

Jadi hatinya yang pintar bukan otaknya. Yaitu hati yang bersih, hati yang mulia, hati yang full dengan makrifat, dengan akhlak yang mulia.”

“Jadi orang yang berjenggot seperti Imam Ghazali, atau Imam siapalah, atau para Wali Songo itu kan berjenggot juga, itu bukan cuma otaknya yang pintar, tapi hatinya bersih, intuisinya tajam, jadi kecerdasannya geser ke hatinya.

Oleh sebab itu, oleh sebab itu, orang yang berjenggot wajib akhlaknya mulia, orang yang berjenggot wajib hatinya mulia”

Dari Penjelasan Ketum PBNU Said Aqil Siradj di atas dapat kita dapatkan beberapa kesimpulan:

1. KH SAS mengakui jika suara yang di duga menghina jenggot itu ialah suaranya.

2. Jenggot Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bukan aksesoris, bukan cuma pantas-pantas, bukan cuma lambang simbolis, simbol.

3. Jenggot ialah Adalah lambang tawadhu’, lambang kerendahan hati, lambang keputusan strategi, lambang kearifan, dan lambang orang yang berakhlak tinggi.

4. Orang berjenggot syaraf yang menyokong kecerdasannya berkurang, ketarik oleh jenggot, tapi nanti kecerdasan otaknya akan down ke hati.

5. pengakuan pada poin ke 4 ialah pengakuan yang ilmiah.

6. Otak pintar, hati bersih, serta intuisi tajam, mempunyai hubungan yang erat dengan jenggot. Sebab kecerdasan seseorang yang berjenggot dapat geser ke hatinya.

7. Orang yang berjenggot wajib berakhlak mulia, orang yang berjenggot wajib berhati mulia.

Source: Muslimoderat.net

Source by Hakim Abdul

You might like

About the Author: Hakim Abdul

KOLOM KOMENTAR ANDA :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.