Kasus E-KTP, KPK Temukan Bukti Kesaksian Keponakan Setnov

Kasus E-KTP, KPK Temukan Bukti Kesaksian Keponakan Setnov


loading…

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menemukan bukti penyokong atas ‎kesaksian tersangka eks Direktur PT Murakabi Sejahtera sekaligus eks Ketua Konsorsium Murakabi Irvanto Hendra Pambudi Cahyo terkait para politikus penerima uang.Ketua KPK Agus Rahardjo mengumumkan, ‎perkara atau kasus dugaan korupsi ‎pembahasan sampai persetujuan anggaran dan proyek pengadaan e-KTP di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) tahun 2011-2013 (sampai adendum kontrak ke-9) tetap dikembangkan KPK. Dia mengakui memang dalam persidangan terdakwa Direktur Utama PT Quadra Solutions kurun 2012-2013 Anang Sugiana Sudihardjo di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (22/5) ada fakta masuk didalamnya fakta baru yang disampaikan Irvanto Hendra Pambudi Cahyo.

Agus menggariskan, KPK tetap fokus menindaklanjuti kesaksian Irvanto dalam persidangan soal para politikus yang diduga selaku penerima uang terkait proyek e-KTP. Tetapi dia menggariskan, KPK ndak cuma bergantung pada kesaksian Irvanto dan catatan milik keponakan Setya Novanto (Setnov) ini. Sebab telah ada bukti-bukti penyokong lain.

“Kan jadi sumbernya tidak dari Irvanto saja. Tetapi disebutkan fakta persidangan dan lain-lain. Nanti teman-teman penyidik bakal menindaklanjuti itu. Kita nggak perlu merinci itu (bukti-bukti penyokong yang telah ada),” tegas Agus di Gedung Merah Putih ‎KPK, Jumat (25/5/2018) malam.

Eks kepala Lembaga Keputusan strategi Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) bila dilihat persidangan Anang di hari yang sama memang nama-nama politikus atau anggota DPR yang disebut Irvanto dengan didukung kesaksian terpidana eks Ketua DPR sekaligus eks Ketua Umum DPP Partai Golkar Setnov. Agus menggariskan, nama-nama yang disebutkan tersebut berkemungkinan besar disapa dan diperiksa KPK dalam penyidikan tersangka Irvanto. Bahkan secara umum masih bakal ada tersangka dari unsur 3 klaster.

“Kita bakal menentukan guna e-KTP itu kan ada 3 cluster ya, pengusaha lantas eksekutif dan legislatif. Kita bakal kaji mana yang bakal kita bawa (dijadikan selaku tersangka lantas menuju pengadilan). Sebab masih tidak sedikit sekali guna e-KTP itu yang wajib kita tindak lanjuti,” tegasnya.

Agus membeberkan, dari 3 unsur tersebut KPK sedang menentukan mana yang sebagai skala prioritas. Sebab kesemuanya bergantung pada bukti-bukti dan unsur pidananya. Lalu mana siapa pihak yang dapat dimintai pertanggungjawaban secara hukum selaku tersangka yang masuk prioritas utama. “Ya nanti ada,” ucapnya.

Loading...
loading...

Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengumumkan, kasus e-KTP masih ditangani KPK bagus di tahap penyidikan dengan 3 orang dan satu terdakwa di tahap persidangan. Febri menggariskan, KPK sedang mempelajari dan mendalami secara utuh sejumlah nama yang disebutkan Irvanto Hendra Pambudi Cahyo dalam persidangan terdakwa Anang Sugiana Sudihardjo.

“Nama-nama yang disebut Irvanto sedang kita dalami apakah didukung bukti lain atau ndak. Permintaan justice collaborator (JC) Irvanto pun sedang kita pertimbangkan, kita lihat apakah konsisten atau nggak,” tegas Febri di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat (25/5) malam.

Dalam keterangannya di depan majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta pada Senin (21/5), Irvanto menyebutkan para anggota DPR yang diduga selaku penerima uang terkait proyek e-KTP. Pertama, Ketua Komisi II DPR 2010-2012 dari Fraksi Partai Golkar yang sekarang Komisaris PT Indonesia Asahan Aluminium Persero (Inalum) Chairuman Harahap sebesar USD500.000 dan SGD1 juta.

Kedua, USD600.000 dalam dua kali pemberian menuju eks Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR yang sekarang Sekretaris Jenderal Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (sekretaris jendral ICMI) Mohammad Jafar Hafsah. Ketiga, USD700.000 menuju eks Sekretaris Fraksi Partai Golkar di DPR yang sekarang anggota Komisi XI Ade Komaruddin.

Ke-4 dan kelima, eks Ketua Banggar dari Fraksi Partai Golkar yang sekarang Ketua Komisi XI Melchias Marcus Mekeng dan tersangka anggota Komisi II dari Fraksi Partai Golkar 2009-2014 dan 2014-2019 Markur Nari dengan total USD1 juta.

Keenam, SGD1,2 juta dalam dua kali pemberian menuju eks Ketua Komisi II dari Fraksi Partai Golkar yang sekarang anggota Komisi III Agun Gunandjar Sudarsa. Ketujuh, pemberian USD100.000 menuju eks anggota Komisi I DPR 2009-2014 dan 2014-2019 yang sekarang pun Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf. Selain itu ada banyak nama yang dilupa Irvanto.

Kasus E-KTP, KPK Temukan Bukti Kesaksian Keponakan Setnov

Loading...

[Source]

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

KOLOM KOMENTAR ANDA :