KAPOLRI Tito Karnavian Soal NU dan Muhammadiyah Benar Secara kontekstual

Islam Institute

Pidato KAPOLRI Tito Karnavian Soal NU dan Muhammadiyah Benar Secara kontekstual Benar Kalau Dipahami Secara kontekstual. Belakangan ini beredar isu panas terkait KAPOLRI Tito Karnavian, khususnya di media sosial. Hal ini berawal dari ceramah KAPOLRI yg mengumumkan NU dan Muhammadiyah punya peran vital bagi keutuhan NKRI dari ancaman kelompok-kelompok radikal. Pidato tersebut ditunaikan pada awal 2017 di pondok pesantren milik KH. Ma’ruf Amien.

Sebab salah memahami pidato KAPOLRI, muncul tuntutan supaya KAPOLRI minta maaf ke Uma Islam. Bahkan ada pihak yg menuntut supaya KAPOLRI dicopot dari jabatannya. Padahal KAPOLRI Tito Karnavian atas pernyataannya soal peran NU dan Muhammadiyah itu benar secara kontekstual.
Bagaimana sejatinya cara memahami pidato Tito Karnavian tersebut? Yuk, kita ikuti penjelasan dari Muhammad AS Hikam eks menteri di era presiden Gus Dur berikut ini….

MENYIMAK KRITIK ATAS STATEMEN KAPOLRI TENTANG NU & MUHAMMADIYAH

Beberapa hari belakangan, di medsos muncul berbagai kritik atas statemen Kapolri Jenderal Tito Karnavian (TK) terkait dg peran kesejarahan organisasi Islam. Dikesankan oleh para pengritik tsb bhw Kapolri meremehkan peran ornas2 Islam selain NU & Muhammadiyah dalam memerjuangkan dan membela NKRI. Dikatakan pula oleh para pengritik tsb bhw Kapolri enggak paham sejarah. Dan tentu saja ujung2nya ialah tuntutan supaya beliau minta maaf kpd ormas2 Islam dan mencabut statemennya.

Jikalau menurut hemat saya, statemen yg dikritik bbrp pihak yg trdpt dlm.pidato Kapolri itu wajib dicermati bukan HANYA dr sisi apa yg dikatakan tetapi juga KONTEKS statemen tsb dibuat. Kalau mengikuti penjelasan dari KH Ma’ruf Amin, Ketua MUI (lihat tautan video di bawah), maka konteks pidato Kapolri tsb setidaknya ada dua:

Pertama, pidato TK ialah menyikapi dinamika ancaman kelompok2 anti Pancasila dan NKRI pada DEWASA ini. Dalam pandangan Kapolri, NU dan Muhammadiyah, ialah dua ormas yang tetap konsisten. Jadi, menurut Ketua MUI tsb, konteks pidato TK bukan soal SEJARAH peran ormas2 Islam dalam memerjuangkan berdirinya NKRI. Jikalau problem peran sejarah itu Kapolri tentu amat paham bhw bukan cuma dua ormas Islam besar itu saja yg mempunyai saham yg penting di dalamnya.
Sedang pihak yang disebut ingin merontokkan NKRI, masih dalam konteks tsb, tentunya ialah berbagai organisasi radikal yang SAAT ini mengusung ideologi-2 radikal baik dari dalam maupun transnasional. Misalnya Al-Qaeda, JI, ISIS, NII, dll.

Konteks yg kedua ialah fakta bhw pidato Kapolri tsb ditunaikan pada awal 2017 di ponpes milik KH. Ma’ruf Amien. Jadi penjelasan Ketua MUI itu sanggup dipertanggungjawabkan kesahihan dan validitasnya. Kalau waktu ini pidato tsb memetik kritik tentu sanggup dijelaskan oleh Kapolri secara gamblang dan jujur dg mempertunjukkan konteks dan arah yang dimaksudkan beliau pada waktu pidato tsb ditunaikan.

Hemat saya, tanpa mencermati teks dalam konteksnya maka sanggup saja terjadi pemahaman dan penafsiran yang distortif thd suatu statemen. Itu sebabnya amat tepat, dan saya setuju, kalau Kapolri bermaksud utk berjumpa dg berbagai pemangku kepentingan, khususnya ormas2 Islam, dan menjelaskannya secara terbuka, jujur, dan kontekstual itu.

Jangan sampai terlanjur ada paham yg salah dan/atau kesalahpahaman yg lalu digoreng utk menunjang kepentingan2 politik tertentu yg pada akhirnya merugikan ummat dan bangsa Indonesia.

Simak tautan terkait pernyataan KAPOLRI Tito Karnavian Soal NU dan Muhammadiyah ini:

Statemen Kapolri Terkait NU dan Muhammadiyah Harus Dilihat dari Konteksnya
Al-Irsyad Apresiasi Kapolri Kumpulkan Ormas Islam Klarifikasi Pernyataannya
Wasekjen MUI Minta Kapolri Tito Karnavian Minta Maaf Soal Pidato
MUI – Kapolri Tabbayun

Jasa Website Alhadiy

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :