Kampanye Gulingkan Al-Assad Ialah Wujud Keangkuhan AS

Website Islam Institute

Andrew Korybko: Kampanye Gulingkan Al- Assad Ialah Wujud Keangkuhan Amerika (Bag 1)

Masalahnya senantiasa soal keangkuhan Amerika yang dengan seenaknya mendikte negara lain, kemudian memaksa melaksanakan serbuan angkatan bersenjata bila permintaan itu ditolak.

Islam-institute.com, RUSIA – Desakan obsesif Amerika Serikat yang mengumumkan “Assad mesti berangkat” ialah ekspresi paling berbahaya dari keangkuhan Amerika tahun sekarang. Dalam perjumpaan pressnya,  sekretaris pers Gedung Putih, Joshua Earnest, mengungkapkan slogan terkenal Obama yang menjelaskan “Assad mesti berangkat”.

“Perkumpulan Internasional sudah mengambil keputusan bahwa inilah saatnya bagi Assad untuk berangkat. Ia sudah jelas-jelas kehilangan legitimasi untuk memimpin. Ia sudah kehilangan kepercayaan dari rakyat di negerinya, paling tidak mereka, atau… menurut saya, setidaknya dari mereka yang biasanya jadi sumber angkatan bersenjata untuknya untuk melaksanakan serbuan.” seperti ini ungkapan Earnest.

Keangkuhan yang dipamerkan AS itu sungguh mengherankan dan membahayakan. Problem di Suriah tidak dan tidak pernah lepas dari Presiden Assad! Masalahnya senantiasa soal keangkuhan Amerika yang dengan seenaknya mendikte negara lain, kemudian memaksa melaksanakan serbuan angkatan bersenjata bila permintaan itu ditolak.

Keangkuhan Amerika

“Problem Suriah”, secara langsung sanggup ditelusuri dengan menyaksikan kegagalan keputusan strategi politik luar negeri Amerika di Timur-Tengah. AS dengan brutal sudah memaksa melaksanakan Pergantian rezim di Timur-Tengah yang diawali disaat tahun-tahun Bush berkuasa. Eks Komandan Inti Sekutu Eropa untuk NATO, Jendral Wesley Clark pernah mengungkapkan hal itu dalam memoarnya di tahun 2007 lalu. Dalam memoar itu, jendral senior itu megatakan bahwa Bush mempertunjukkan kepadanya sebuah memo dan berkata,

“Ini ialah surat dari kantor sekretaris pertahanan (waktu itu dijabat Donald Rumsfeld) yang menguraikan taktik, bahwa kami akan mengambil alih tujuh negara dalam 5 tahun,”  lalu Bush menyebut nama negara itu 1 persatu, diawali dengan Irak dan Suriah dan akan berakhir dengan Iran.

Awal tahun itu, awak media investigasi, Seymour Hers mecatat dan mengungkap sebuah tabir kebusukan Amerika dalam The New Yorker disana ia merinci bahwa diantara spesifikasi Pergantian rezim regional yang diplaningkan oleh pemerintahan Bush ialah dengan mempergunakan Ikhwanul Muslimin untuk melancarkan perang Sektarian melawan pemerintahan Suriah.

Pada waktu itu, argumentasi yang dipakai ialah kedekatan Damaskus dengan Teheran, tetapi  info berikutnya sebagaimana diadukan The Guardian mengungkapkan bahwa keputusan untuk membangun pipa gas antara Iran, Irak dan Suriah di tahun 2010, dan penolakan Damaskus kepada hal serupa dari Qatar, sepertinya berpengaruh besar kepada mengapa planning anti pemerintah itu lalu diusulkan sesudah setahun kejadian itu.

Diawali pada tahun 2011, Timur Tengah diguncang dengan apa yang disebut “Arab Spring (kebangkitan Arab)”, yang disebut oleh Jendral Rusia, Kepala staff Valery Gerasimov sewaktu melakukan konferensi legal Soal topik ini tahun lalu di Moskow selaku teater Revolusi kelir yang luas.

Apa yang amat ingin dikerjakan Amerika Serikat ialah menggulingkan seluruh republik di Timur Tengah (Bahkan mereka yang bersekutu dengan AS dan Mesir) untuk untuk membawa transisi kubu Ikhwanul Muslimin ke tampuk kekuasaan di saban negara sebab hal ini akan membikin AS  lebih mudah untuk mengendalikan semua wilayah.

Anggap saja hal itu selaku versi neokonservatif ‘dari partai komunis abad ke-21, tetapi diarahkan langsung untuk mengendalikan Timur Tengah dan bukan Eropa.

Kerajaan-kerajaan Teluk tidak jadi target operasi “kudeta” ini sebab kesetiaan mereka yang besar kepada Amerika. Argumentasi lain mengapa mereka tidak dijadikan target, ialah sebab gangguan dalam negeri di kerajaan-kerajaan tersebut dikhawatirkan akan mengganggu kepentingan-kepentingan Amerika di sana.

Antara kerajaan-kerajaan Teluk pro Amerika dan dan Uni Eropa pro-Amerika Ada beberapa republik yang tidak secara tegas Ada dalam genggaman Amerika (atau sama sekali tidak terpengaruh dengan Amerika, seperti Suriah), jadi, dalam rangka untuk mengendalikan wilayah Afro-Eurasia yang membentang dari Islandia sampai Yaman, diperlukan penggulingan pemerintahan-pemerintahan tersebut, yang dikemas dalam bungkus Revolusi Kelir “Kebangkitan Arab”.  (al/ARN/RM/Sputnik)

You might like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.