Kalau Bukan Mujtahid, Itu Artinya Muqallid!

Mujtahid – Muqallid di sini maksudnya ialah orang yang mengikuti pandangan hasil ijtihad para Imam mazhab. Singkatnya, seorang muqallid itu sama dengan orang yang  bermazhab. Jadi tak sama jauh dengan sebutan ‘taklid buta’ yang senantiasa dilontarkan oleh orang-orang berpaham  wahabi, mereka sengaja membikin  istilah yang semenjak awal memang ditujukan untuk menyerbu orang-orang muqallid (bermazhab).

Ingat, pengikut wahabisme merupakan firqah yang anti mazhab.  Ini ialah catatan amat penting buat mereka yang merasa dirinya bukan muqallid. Renungkanlah kondisi dirimu, ilmu agama yang kalian miliki dan apa-apa yang selama ini sudah membikin anda begitu arogan menganggap diri bukan seorang muqallid. Dan waktu ditanyakan kepadamu: Jikalau bukan seorang muqallid, artinya anda seorang Mujtahid?” Kalian menjawab, “Kami bukan mujtahid juga bukan muqallid, bla, bla, bla…. dan menyebut bermacam-macam dalil dengan salah pasang alias ndak tepat selaku dalilnya.

Supaya Ndak Sembarangan Berbicara Hukum Agama; Anda Ndak Akan Pernah Mencapai Derajat Mujtahid Maka Anda Wajib Jadi Seorang Muqallid

Oleh: Abou Fateh

Ijtihad ialah mengeluarkan (menggali) hukum-hukum yang ndak terdapat nash (teks) yang terang. Maka seorang mujtahid (orang yang melaksanakan ijtihad) ialah orang yang mempunyai keahlian untuk itu, ia seorang yang hafal ayat-ayat ahkam, hadits-hadits ahkam beserta mengetahui sanad-sanad dan kondisi para perawinya, mengetahui nasikh dan mansukh, ‘am dan khash, muthlaq dan muqayyad serta menguasai betul bahasa Arab dengan sekira hafal pemaknaan-pemaknaan saban nash sesuai dengan bahasa al Qur’an, mengetahui apa yang sudah disepakati oleh para ahli ijtihad dan apa yang diperselisihkan oleh mereka, sebab kalau ndak mengetahui hal ini maka dimungkinkan ia menyalahi ijma’ (konsensus para ulama) para ulama sebelumnya.

Lebih dari syarat-syarat di atas, masih ada sebuah syarat besar lagi yang wajib terpenuhi dalam berijtihad yaitu power pemahaman dan nalar. Lalu juga disyaratkan mempunyai sifat ‘ialah; yaitu selamat dari dosa-dosa besar dan ndak membiasakan berbuat dosa-dosa kecil yang bila diperkirakan secara hitungan hitungan total dosa kecilnya tersebut melebihi hitungan total perbuatan baiknya. Sedangkan Muqallid (orang yang melaksanakan taqlid; mengikuti pandangan para mujtahid) ialah orang yang belum sampai kpd derajat tersebut di atas.

Dalil bahwa orang Islam terbagi kpd dua tingkatan ini ialah hadits Nabi:

” ??? ???? ???? ??? ?????? ?????? ?????? ??? ????? ? ???? ???? ???? ?? ??? ???? ” (???? ??????? ???? ????)

Maknanya: “Allah memberikan kemuliaan kpd seseorang yang menguping perkataanKu, lantas ia menjaganya dan menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya, betapa beberapa orang yang menyampaikan tapi ndak mempunyai pemahaman”. (H.R. at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Bukti terdapat pada lafazh: ???? ???? ?? ??? ???? “”
“Betapa beberapa orang yang menyampaikan tapi ndak mempunyai pemahaman”.
Dalam riwayat lain: “???? ???? ???? ?? ????”
“Betapa beberapa orang yang menguping (disampaikan kepadanya hadits) lebih mengerti dari yang menyampaikan”.

Bagian dari redaksi hadits tersebut memberikan pemahaman kpd kita bahwa ada di antara yang menguping hadits dari Rasulullah mempunyai kapasitas cuma meriwayatkan saja, sementara pemahamannya kepada kandungan hadits tersebut mungkin kurang, mampu jadi pemahaman orang yang menguping/mengambil hadits tersebut darinya lebih luas dan lebih komprehensif. Orang yang kedua ini dengan power nalar dan pemahamannya mempunyai kesanggupan untuk menggali dan mengeluarkan hukum-hukum dan masalah-masalah (dinamakan Istinbath) yang terkandung di dalam hadits tersebut. Dari sini diketahui bahwa mampu saja ada sebagian sahabat Nabi di mana sebagian murid mereka mungkin lebih paham kepada kandungan hadits-hadits Nabi lebih dari pada mereka sendiri.
Pada redaksi hadits lain soal ini:

” ???? ???? ??? ??? ?? ?? ???? ??? ”

“Betapa beberapa orang yang membawa fiqh kpd orang yang lebih paham darinya”. (Dua riwayat ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Orang yang mempunyai kapasitas inilah yang disebut mujtahid yang dimaksud oleh hadits Nabi:

” ??? ?????? ?????? ????? ??? ????? ???? ?????? ????? ??? ??? ” (???? ???????)

“Apabila seorang Penguasa berijtihad dan benar maka ia memperoleh dua pahala dan bila salah maka ia memperoleh satu pahala”. (H.R. al Bukhari)

Dalam hadits ini disebutkan Penguasa (??????) secara spesial sebab ia lebih memerlukan kpd aktivitas ijtihad dari pada lainnya. Di kalangan para ulama salaf, terdapat para mujtahid yang sekaligus penguasa, seperti para khalifah yang enam; Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, al Hasan ibn ‘Ali, ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz, Syuraih al Qadli dan lainnya.

Para ulama hadits yang mecatat karya-karya dalam Mushthalah al Hadits menyebutkan bahwa ahli fatwa dari kalangan sahabat cuma kurang dari sepuluh, yaitu kisaran enam menurut suatu pandangan. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa ada kisaran dua ratus sahabat yang mencapati tingkatan Mujtahid dan ini pandangan yang lebih sahih. Kalau kondisi para sahabat saja seperti ini adanya maka bagaimana mungkin saban orang muslim yang mampu membaca al Qur’an dan menelaah beberapa kitab berani berkata: “Mereka (para mujtahid) ialah manusia dan kita juga manusia, ndak semestinya kita taqlid kpd mereka”. Padahal sudah terbukti dengan data yang valid bahwa kebanyakan ulama salaf bukan mujtahid, mereka ikut (taqlid) kpd ahli ijtihad yang ada di kalangan mereka. Dalam shahih al Bukhari diriwayatkan bahwa seorang buruh sewaan sudah berbuat zina dengan isteri majikannya. Lalu ayah buruh tersebut menanyakan soal hukuman atas anaknya, ada yang menjelaskan: “Hukuman atas anakmu ialah membayar seratus ekor kambing dan (memerdekakan) seorang budak wanita”.

Lalu sang ayah kembali menanyakan kpd ahli ilmu, jawab mereka: “Hukuman atas anakmu dicambuk seratus kali dan diasingkan satu tahun”. Akhirnya ia datang kpd Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bareng suami wanita tadi dan berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya anakkku ini bekerja kpd orang ini, lalu ia berbuat zina dengan isterinya. Ada yang berkata kepadaku hukuman atas anakku ialah dirajam, lalu saya menebus hukuman rajam itu dengan membayar seratus ekor kambing dan (memerdekakan) seorang budak wanita. Lalu saya menanyakan kpd para ahli ilmu dan mereka menjawab hukuman anakmu ialah dicambuk seratus kali dan diasingkan satu tahun ?”. Rasulullah berkata: “Saya pasti akan memberi keputusan hukum kepada kalian berdua dengan Kitabullah, al-walidah (budak wanita) dan kambing tersebut dikembalikan kepadamu dan hukuman atas anakmu ialah dicambuk seratus kali dan diasingkan (dari kampungnya sejauh jarak Qashar –kisaran 78 Km) setahun”.

Laki-laki tersebut sekalipun seorang sahabat tapi ia menanyakan kpd para sahabat lainnya dan respon mereka salah lalu ia menanyakan kpd para ulama di kalangan mereka sampai lantas Rasulullah memberikan fatwa yang sesuai dengan apa yang dikatakan oleh para ulama mereka. Dalam kejadian ini Rasulullah memberikan pelajaran kpd kita bahwa sebagian sahabat sekalipun mereka menguping langsung hadits dari Nabi tapi ndak semuanya memahaminya, artinya ndak seluruh sahabat mempunyai kesanggupan untuk mengambil hukum dari hadits Nabi. Mereka ini cuma berperan meriwayatkan hadits kpd lainnya sekalipun mereka memahami betul bahasa Arab yang fasih. Dengan seperti ini sangatlah aneh orang-orang bodoh yang berani menjelaskan: “Mereka ialah manusia dan kita juga manusia…”. Mereka yang dimaksud ialah para ulama mujtahid seperti para imam yang empat (Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad ibn Hanbal).

Senada dengan hadits di atas, hadits yang diriwayatkan Abu Dawud soal seorang laki-laki yang cedera di kepalanya. Pada suatu malam yang dingin ia junub, sesudah ia menanyakan soal hukumnya kpd orang-orang yang bersamanya, mereka menjawab: “Mandilah !”. Lalu ia mandi dan meninggal (sebab kedinginan). Saat Rasulullah dikabari soal hal ini, beliau berkata: “Mereka sudah membunuhnya, semoga Allah membalas perbuatan mereka, Tidakkah mereka menanyakan jikalau memang ndak tahu, sebab obat ketidaktahuan ialah menanyakan !”. Jadi obat kebodohan ialah menanyakan, menanyakan kpd ahli ilmu. Lalu Rasulullah berkata : ” Sesungguhnya cukup bagi orang tersebut bertayammum, dan membalut lukanya dengan kain lalu mengusap kain tersebut dan membasuh (mandi) sisa badannya”. (H.R. Abu Dawud dan lainnya). Dari kasus ini diketahui bahwa seandainya ijtihad diizinkan bagi saban orang Islam untuk melakukannya, tentunya Rasulullah ndak akan mencela mereka yang memberi fatwa kpd orang junub tersebut padahal mereka bukan ahli untuk berfatwa.
Lalu di antara tugas spesial seorang mujtahid ialah melaksanakan qiyas, yaitu mengambil hukum bagi sesuatu yang ndak ada nashnya dengan sesuatu yang mempunyai nash sebab ada kesamaan dan keserupaan antara keduanya.

Maka berhati-hati dan waspadalah kepada mereka yang menganjurkan para pengikutnya untuk berijtihad, padahal mereka sendiri, juga para pengikutnya amat jauh dari tingkatan ijtihad. Mereka dan para pengikutnya ialah para pengacau dan perusak agama. Termasuk kategori ini ialah orang-orang yang di majelis-majelis mereka biasa membagikan lembaran-lembaran tafsiran suatu ayat atau hadits, padahal mereka ndak pernah belajar ilmu agama secara langsung kpd para ulama. Orang-orang semacam ini ialah golongan yang menyempal dan menyalahi para ulama Ushul Fiqh. Sebab para ulama ushul berkata: “Qiyas ialah pekerjaan seorang mujtahid”. Di samping itu mereka juga menyalahi para ulama ahli hadits.

Jasa Website Alhadiy

You might like

About the Author: admin

1 Comment

  1. Insya Allah inilah manhaj atau metodologi yang Haq dalam memahami Nushushusyari`ah Manhajul istinbath Ahlu Sunnah Wal-Jama`ah.
    Bandingkan dengan Manhaj Wahabi Salafi, yang mengecoh Ummat Islam dengan selogan Usangnya ” memahami Qur`an dan Hadist dengan pemahaman Sahabat atau Salaf ” seolah – olah mensejajarkan Ilmu mereka (wahabi/salafi) dengan para Sahabat Nabi dan Salafusholihin.
    sehingga muncullah Ajakan dan seruan untuk berIjtihad yang dimotori oleh Syeikh Khojandi dan al-albani, sehingga dampak dari seruan dan ajakan ini adalah munculnya Ekstrimis-ekstrimis yang mengatasnamakan Islam, mulai membuat Onar dengan ini itu Syirik Bid`ah, dan pengkafiran dan pemusyrikan Ummat Islam yang tidak sefaham dengan golongannya, hingga memunculkan Teroris-teroris yang mencoreng nama Islam sebagai Rahmatan lil`alamin.
    padahal semua ini timbul karena kedangkalan dan kejahilan mereka dalam memahami Qur`an dan Hadist.

KOLOM KOMENTAR ANDA :