Kalau Ada yang Menghina Islam Nusantara, Bungkam dengan Cara Ini

Jika ada yang Menghina Islam Nusantara, Bungkam dengan Cara ini

Kalau Ada yang Menghina Islam Nusantara, Bungkam dengan Cara Ini

Edisi: Membungkam Kubu Anti Islam Nusantara. Supaya Beda dengan Mereka Yang Sudah Membajak Istilah Islam untuk menggiring ummat supaya benci Islam Nusantara, mereka berlogika begini: “Kalau istilah Islam Nusantara itu baik, mengapa KH Hasyim Asyari (pendiri NU) ndak membikin istilah tersebut kala itu, kok malah dibuat ketika NU dipimpin Kyai Said? Artinya istilah Islam Nusantara ndak baik, sesat dan menyesatkan”

Maka balikkan logika tersebut, begini caranya:
1. Pertanyaan yang sama ialah kalau Islam Ahlussunnah wal jema’ah (Aswaja) itu baik, mengapa Rasulullah kala itu nggak membikin istilah Islam Aswaja. Kenapa istilah Islam Aswaja kok dibuat masa Imam Abu Hasan al-Asy’ari, apakah artinya Imam al-Asy’ari merubah Islam sebagaimana yang disyariatkan Rasulullah?

2. Kalau Islam Terpadu (jargon PKS) itu baik, mengapa Rasulullah ndak mendakwahkan Islam terpadu ketika itu, kok Islam saja (tanpa embel-embel) yang didakwahkan Rasul? Apakah Islam sebagaimana yang diajarkan Rasul “ndak terpadu” sehingga wajib ditambah-tambahi istilah “TERPADU”?

3. Kalau Islam Berkemajuan (jargon Muhammadiyah) itu baik, mengapa Rasulullah kala itu ndak mendakwahkan istilah Islam Berkemajuan, kok Islam saja (tanpa embel-embel) yang didakwahkan Rasul? Apakah Islam sebagaimana yang diajarkan Rasul “ndak maju” sehingga ketika ini wajib repot-repot ditambah-tambahi istilah “BERKEMAJUAN”?

4. Kenapa cuma istilah Islam Nusantara saja yang kalian nyinyiri padahal kubu kalian istilah Islamnya juga ada embel-embelnya, “Terpadu”? Sebegitunya kalian benci dengan NU.

Ketahuilah wahai para nyinyier, bahwa Islam itu satu. Islam yang satu tersebut bersumber pada satu titik yaitu al-Quran Hadits. Al-Quran Hadits tersebut amat lengkap, dari hulu sampai hilir terkait kehidupan dunia dan akhirat seluruhnya sudah terkodifikasi dengan apik dalam al-Quran Hadits.

Tetapi keluasan cakupan al-Quran Hadits tersebut, ndak seluruhnya dimengerti ummat Islam. Ada ummat Islam yang memahami Islam itu cuma berdasar ayat-ayat perang saja sehingga melahirkan perilaku keras, radikal, destruktif dan anti toleran. Mereka memahami Islam, ya memang seperti itu, wajib seperti itu, dan kalau ndak seperti itu bukan Islam. Padahal malah kebanyakan dalil dalam ajaran Islam itu berisi ayat-ayat damai, ayat ramah, ayat rahmah, ayat pencerah dan ayat kekeluargaan (ukhuwah).

Loading...
loading...

Akibat anggapan bahwa Islam itu wajib radikal maka nama baik Islam rusak/tercoreng di mata internasional. Martabat dan marwah Islam sebagai buruk. Padahal mereka (yang radikal) itu ndak mewakili Islam, tapi hanyalah pencilan (istilah amat minoritas dalam ilmu statistik).

Islam Nusantara mengembalikan kebesaran nama Islam

Akibat adanya kubu perusak nama besar Islam tersebut, maka kala ada ulama ingin mengembalikan kebesaran nama Islam itu, wajib pakai istilah apa? Kalau pakai istilah “Islam” SAJA, tanpa embel-embel maka ummat bakal bingung. “Lhohh….di sana Islam tapi kok suka marah, keras, radikal, teror. Di sini kok malah Islam yang ramah, damai, toleran, menghargai perbedaan dan menyenangkan. Islam yang benar, yang mana sih???…..”

Demi menghindari kebingungan, kerancuan dan jumboh tersebut maka diambillah nama suatu istilah tertentu dengan maksud demi MEMBEDAKAN antara Islam yang destruktif dan Islam yang konstruktif. Maka diambillah istilah Nusantara. Jadi “Nusantara” hanyalah cuma istilah demi membedakan dengan “radikalis dan teroris”. Sejatinya juga dapat mengambil istilah Islam X, Islam Y atau Islam Z. Cuma kebetulan istilah Nusantara itu istilah unik, baik unik kalimatnya maupun unik proses Islamisasinya, dimana di dunia Timur Tengah, Islam didakwahkan dengan simbol “al-Quran di tangan kanan dan pedang di tangan kiri”. Sedangkan Islamisasi di Nusantara pakai metode “al-Quran di tangan kanan dan budaya di tangan kiri”.

Sekali lagi, istilah Islam Nusantara hakikinya dipakai demi menyelamatkan Islam dari kesan yang buruk, radikalis, teroris dan destruktif. Sebab selama ini sadar atau ndak bahwa Islam sudah dibajak oleh oknum yang enggak bertanggungjawab.

Jadi Islam Ahlussunnah wal jema’ah dikodifikasi di masa Imam Abu Hasan al-Asyari (ndak di masa Rasulullah) sebab zaman Imam al-Asyari, Islam sudah dibajak oleh orang-orang yang enggak bertanggungjawab, sehingga kala itu ada Islam Khawarij, Islam Syiah, Islam Musyabbihah, Islam Mujassimah, dsb. Tentu di masa Rasulullah ndak ada firqah-firqah seperti itu, Islam kala itu masih murni.

Begitu juga mengapa Islam Nusantara baru muncul ketika kepemimpinan Kyai Said, kok ndak di zaman Mbah Hasyim? Ya sebab ketika ini ada pembajakan kepada nama Islam. Yang radikalis mengkkaim selaku Islam, yang teroris mengakui selaku Islam dan yang politis mengakui juga selaku Islam.

Bagaimana memunculkan Islam supaya enggak terkesan buruk seperti itu? Ya dimunculkanlan istilah ISLAM NUSANTARA. (FP Suara Nahdliyyin)

Loading...

Source by Hakim Abdul

loading...

You might like

About the Author: Hakim Abdul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *