Joko Widodo Sambut Tukang Becak Masuk Istana, Jadi Ingat Gus Dur Ya?

Kala Tukang Becak Masuk Istana

Sikap Presiden Joko Widodo yang terbuka kepada masarakat jelata Memperingatkan kita untuk presiden Gus Dur. Tatkala Gus Dur jadi presiden RI yang cuma setahun lebih sdikit itu juga menjadikan Istana Negara di Jakarta jadi istana rakyat. Rakyat begitu mudah masuk istana Negara pada zaman Gus Dur

Sekarang Presiden Joko Widodo juga hal yang sama dengan Gus Dur tanpa canggung. Apakah sebab keduanya merupakah presiden yang lahir dan besar di tengah masarakat biasa? Mampu jadi sungguh sedemikian….

BOGOR – Berbaju kaos seadanya, celana pendek dan bersandal jepit. Ada juga yang membawa serta topi capingnya. Mereka berjajar masuk istana Bogor.

Wajahnya sumringah. Mungkin ini ialah Peluang Emas seumur hidupnya. Mereka sungguh suka melalui istana yang megah itu seraya mengayuh becaknya. Mengantarkan penumpang. Mencari rezeki.

Diizinkan masuk ke dalam istana dengan pakaian seadanya, dapat jadi cuma mimpi. Namun mimpi itu jadi keadaan sebenarnya sekarang. Segerombolan penarik becak, Hadir dengan pakaian seadanya. Diterima Presiden Joko Widodo. Mereka bersilaturahmi dengan pemimpinya di hari raya.

“Saya terharu. Ternyata tukang becak seperti saya dapat juga masuk ke istana Presiden,” ucap Ending, tukang becak yang biasa mangkal di pasar kisaran Bogor.

Pagi tadi, mereka berbarengan kisaran 2000 orang lainnya bersalaman dengan Presiden Joko Widodo, mengucapkan selamat hari raya, menjejekan kaki di istana. “Kami dimanusiakan. Sama dengan tamu lainnya.”

Presiden Jokowi (kiri) berjabat tangan dengan penduduk di acara Silahturahmi Idul Fitri 1 Syawal 1439 H di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/6). Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo melaksanakan silahturahmi lebaran dengan bermacam kalangan masarakat mulai pejabat negara, menteri Kabinet Kerja dan masarakat umum yang tinggal di kisaran Kota Bogor, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Widodo S Jusuf/hp/18.

“Saya kesini cuma hendak mendoakan Pak Joko Widodo,” ucap rekan lainnya.

Saban tahun Presiden Joko Widodo sungguh menggelar open haouse. Tahun lalu open house dihelat di istana negara Jakarta. Serombongam pedagang kaki 5 dan petugas kebersihan datang juga dalam acara itu.

Basa-basi dan protokoler berbusana tidak berlaku. Rakyat dapat datang dengan wajahnya yang asli. Diterima selaku manusia, sebagaimana layaknya seorang tamu. Berbarengan ibu negara, Presiden Joko Widodo menyalami mereka 1 per 1.

Ini bukan kali ke-1. Tatkala perkawinan Gibran di Solo, Presiden juga menerima para tukang becak di atas pelaminan. Mereka Hadir bercelama pendek dan handuk kecil masih melingkar di leher. Menyalami Presiden, ibu negara dan ke-2 mempelai.

Joko Widodo menyambutnya dengan akrab. Karena mereka ialah para tukang becak yang sering mangkal di kisaran rumah pribadinya di Solo. Mungkin saja diantara mereka ialah saksi hidup begaimana Gibran, Kahiyang dan Kaesang tumbuh.

Loading...
loading...

Tatkala mereka datang selaku tamu undangan diacara perkawinan anak seorang Presiden, berbaur dengan para elit undangan lainnya, tidak ada beda. Seluruh ialah tamu. Dan tuan rumah yang baik wajib memperlakukn tamu dengan baik.

Di jaman Joko Widodo, kekuasaan jadi begitu akrab dan dekat. Presiden bukan lagi posisi setengah dewa. Dia datang di tengah rakyat. Dia tampil dalam dengus kehidupan rakyat.

Sebelum lebaran, Joko Widodo sempat berkunjung rumah kontrakan Gibran dan keluarganya di kisaran Sunter, Jakarta. Rumah itu biasa saja. Jalan di depannya cuma dapat dilalui 1 mobil.

Gibran tampaknya ingin dikenal bukan selaku anak seorang Presiden negeri besar ini. Dia cuma seorang pedagang martabak, yang mencari nafkah untuk keluarganya.

Jikapun untuk keluarganya juga untuk usaha di Jakarta dia wajib mengontrak rumah, terus masalahnya apa? Inilah yang baru dapat dicapai oleh seorang pedagang martabak. Ya, rumah kontrakan seorang pedagang martabak. Bukan istana mewah seorang anak Presiden.

Mungkin revolusi mental sungguh tengah dibangun Joko Widodo. Diawali dari keluarganya. Di mulai dari anak-anaknya. Dan itu diperlihatkan dengan terang ke depan publik. Sebuah cerita anak seorang Presiden yang wajib berjuang menghidupi kekuarganya sendiri.

Beberapa tahun lalu kita juga menguping putri Joko Widodo, yang bercita-cita jadi pegawai negeri di Pemda Solo, ternyata tidak lolos seleksi. walau anak seorang Presiden, saat tesnya tidak mencapai hasil memuaskan, Kahiyang Ayu wajib merelakan mengubur mimpinya jadi PNS.

Seperti juga Gibran, saat tes CPNS, Kahiyang bertindak seperti layaknya ribuan pelamar lain. Dia tidak memposisikan diri selaku putri seorang Presiden.

Bagi Joko Widodo, revolusi mental diawali dari lingkaran paling dekat.

Namun mungkin tak sama di mata seorang anak muda lain yang baru melek politik. Dia berpidato mempersoalkan revolusi mental. Dia mengkritik makna revolusi mental yang pernah dicanangkan Presiden Joko Widodo.

Padahal anak muda eks Mayor itu, dapat berdiri disitu, sebab bapaknya. Bukan sebab prestasinya sendiri. Dia berpidato digagah-gagahkan –mungkin seraya melirik telepromter– juga sebab dia anak seorang ketua umum Parpol yang eks Presiden.

Tatkala dia menanyakan soal revolusi mental, sesungguhnya dia tengah bercerita mengenai hal posisi dirinya sendiri.

“Joko Widodo itu seperti saya, mas,” ucap Abu Kumkum.

“Kok, dapat kang?”

“Iya, saya juga gak akan membantu jikalau anakku jualan minyak telon oplosan seperti bapaknya. Itu KKN.”

“Lha, emangnya engkau menginginkan anakmu nanti jadi apa?”

“Jadi Calon presiden ajalah, mas. Walaupun saya tahu, jadi Cagub aja belum tentu kepilih.” [ARN]

Loading...

Source by Samsul Anwar

loading...

You might like

About the Author: Samsul Anwar

KOLOM KOMENTAR ANDA :