Joko Widodo kok Dituduh Melaksanakan Pencitraan

Jokowi kok Dituduh Melakukan Pencitraan

Joko Widodo kok Dituduh Melaksanakan Pencitraan

— NET. (@netmediatama) August 18, 2018

Menurut saya video itu sukses mencapai tujuannya, yaitu mencitrakan Joko Widodo selaku seorang kepala negara yang gaul dan santai, serta fokus pada jalan penyelesaian. Dia dekat dengan rakyat, mengutamakan kepentingan rakyat (seperti Pramuka yang butuh menyeberang), dan punya cincin kawin. Eh!

Namun di medsos cepat muncul dua cara menilai video itu. Para pencinta Joko Widodo memujinya habis-habisan, dengan cara yang lebih dramatis daripada video itu sendiri. Mereka tentu menyangkal bahwa Joko Widodo sedang melaksanakan pencitraan. Itu natural saja kok. Joko Widodo ya memang begitu sehari-hari. Joko Widodo bukan orang yang suka melaksanakan pencitraan. Pokoknya dia benar.

Para pembenci telah ancang-ancang semenjak semula: pasti Joko Widodo akan memanfaatkan acara ini untuk mencitrakan diri sendiri. Naik motor sampai terbang seperti di film-film Hollywood dan Bollywood itu membahayakan diri sendiri selaku kepala negara. Jikalau kenapa-kenapa, negara ini yang rugi. Lho, kan itu pakai pemeran pengganti. Nah jikalau pakai pemeran pengganti, itu namanya penipuan. Salah lagi.

Susah memang, berhadapan dengan pencinta dan pembenci. Keduanya sama-sama enggak rasional. Padahal menurut ilmu politik, sama sekali enggak ada yang salah dengan pencitraan oleh politisi. Jadi para pencinta enggak perlu membantah, para pembenci enggak perlu menuduhkan seakan pencitraan ialah nista. Politisi zaman now telah pasti mesti melaksanakan pencitraan. Yang penting enggak ada dusta dan manipulasi dalam pencitraan itu. Drama-drama dikit boleh lah. Publik tahu kok, mana yang dramatisasi mana yang riil.

Kenapa politisi perlu melaksanakan pencitraan?

Jawabnya sederhana: karena rakyat (selaku demos maupun selaku konstituen) enggak semuanya mengenal sang politisi secara pribadi. Cuma tidak banyak yang berjumpa secara langsung. Jikalau levelnya cuma RT, besar kemungkinan orang saling mengenal satu sama lain. Pak/Bu RT dikenal secara pribadi oleh beberapa orang. Namun jikalau telah lingkup gubernur apalagi presiden, berapa beberapa yang kenal secara pribadi? Lalu dari mana 190an juta pemilih itu mampu mengenali kandidat? Ya tentu saja dari citra publik yang dibangun oleh para kandidat itu. Di sini lah pencitraan jadi essensial.

Pencitraan memudahkan politisi mengenalkan diri pada publik. Pencitraan juga membantu publik mengambil keputusan dengan lebih cepat, hendak memilih siapa. Ini sama sekali enggak beda dari perdagangan. Para pembuat produk mesti membangun brand image untuk memberi gambaran mudah pada para (calon) konsumen soal produk macam apa yang ditawarkannya. Detail soal produk itu ada di buku petunjuk dan ada di pengalaman pemakaian oleh para pembeli. Brand image toh akan diuji dalam pemakaian oleh konsumen.

Begitu pulalah pencitraan oleh politisi. Benar atau tidaknya citra yang tertangkap oleh pikiran beberapa orang akan diuji oleh kenyataan kinerja politisi itu. Dalam tahap ujian ini, rakyat mempunyai kekuasaan yang amat besar.
Pencitraan yang enggak terbukti dengan kinerja akan membikin pemilih ilfil dalam pemilu selanjutnya. Pencitraan yang sesuai kinerja akan membawa seorang politisi pada peluang kedua.

Jadi santai saja. Tidak usah tuduh Joko Widodo melaksanakan pencitraan, karena memang kenyataannya begitu. Tidak usah disangkal juga, karena kenyataannya memang begitu.


Source by Ahmad Naufal

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.