Jika Sanggup Menandingi Ulama Madzhab, Silahkan Langsung Gunakan AlQur’an dan Hadits

Kalau Mampu Menandingi Ulama Madzhab, Silahkan Langsung Gunakan AlQur’an dan Hadits

Jika Sanggup Menandingi Ulama Madzhab, Silahkan Langsung Gunakan AlQur’an dan Hadits

Kita ndak mendapati – semenjak dulu – ulama salaf yang beneran salaf pun ulama madzhab, yang dalam masalah-masalah fiqih, mereka menisbatkan pandangan hasil ijtihad mereka terhadap al-Qur’an dan sunnah. Dengan bahasa yang lebih ringan, kita ndak pernah mendapati mereka menuliskan dalam kitab-kitab mereka “ini pandangan yang shahih dan benar menurut al-Qur’an dan sunnah”. Bukan pernah kita dapati itu. Sama sekali ndak pernah. Yang kita dapati ialah, bahwa mereka dalam masalah-masalah fiqih yang mereka ijtihad-kan mereka menisbatkan pandangan mereka itu terhadap diri mereka atau madzhab mereka.
Itu tentu tidak sebab para salaf dan ulama madzhab serta imam-imam mulia mereka ndak mengambil hukum dari al-Qura’an dan sunnah. Tidak itu tentunya. Salah kalau ada yang beranggapan bagaikan ini. Toh para imam-imam itu beserta ulamanya, ialah orang yang memang amat mengerti dengan dalam maksud teks syariah, bagus ayat atau pun hadits. Bagus itu yang manthuq atau pun yang mafhum-nya. Apa yang mereka lakukan dengan ndak menisbatkan pandangan mereka terhadap al-Qur’an dan sunnah, itu bukti kedalaman kepahaman mereka kepada teks-teks al-Quran dan sunnah.

Syariah dan Fiqih

Yang mesti kita tahu terlebih dahulu, bahwa dalam al-Qur’an dan sunnah yang merupakan 2 sumber utama dalam syariat Islam ini ada di dalamnya teks yang bersifat qath’iy (pasti), dan pun yang sifatnya Dzanniy (duga-duga). Yang Qath’iy itu ialah teks yang ndak punya makna berbilang dan telah ndak bisa jadi ditafsirkan lagi, serta ndak perlu ditunaikan didalamnya ijtihad. Itu yang disebut dengna istilah Nash. Bagaikan wajibnya shalat, haramnya berjudi, mencuri pun berzina. Kesemua itu syariah yang menghukumi.
Jadi wajibnya shalat itu tidak perkara ijtihadiy, maka ndak mampu dikatakan “shalat itu wajib menurut madzhab fulan…”, ndak mampu. Wajib dikatakan bahwa “shalat itu wajib menurut syariat islam!”.
Di samping Qath’iy, ada bahkan tidak sedikit teks syariah yang sifatnya dznniy; sebab memang ini yang sebagai porsi terbesar dalam teks syariah, bagus itu ayat al-Qur’an atau pun Hadits nabi s.a.w.. dzanniy itu teks yang masih pelbagai tafsir, mana ndak mampu digali hukum dari teks tersebut jika cuma berdiri sendiri sebab memang masih bias kandungannya. Yang membikin teks syariah itu sebagai dzanniy tidak sedikit sebabnya, mampu sebab memang dari sisi bahasa, teks tersebut punya arti yang lebih dari satu dan kesemua punya power dari segi pemakaian.
Atau bisa jadi sebab memang kandungannya berseinggungan atau berselisih denga teks syariah lainnya. Atau mampu pun sebab sumbernya yang masih diragukan; bagaikan hadits Ahad. Pada intinya, teks-teks syariah yang sifatnya dzanniy ini ndak bisa jadi mampu difahami dan ndak mampu digali hukum dari akndungannya kecuali dengan usaha pemeriksaan yang lebih mendalam. Itu yang dinamakan dengan ijithad.

Fiqih = Teks Dzanniy = Ijtihad

Nah, di teks-teks dzanniy inilah para imam madzhab dan ulamanya bekerja. Artinya mereka memang bekerja menggali hukum dari teks-teks yang syariah itu sendiri ndak memberikan hukum secara pasti, sebab memang sifatnya yang dzanniy. Jika dibiarkan, tentu bakal ada kekosongan hukum yang Terang amat ndak membantu bagi orang awam. Maka dari itu, mereka; para imam beserta ulama madzhab memeriksa, menelaah apa yang sesungguhnya dimaksud oleh Allah s.w.t. dan pun Rasul-Nya s.a.w. dari ayat dan pun hadits, guna lalu dihasilkan dari pemeriksaan tersebut sebuah hukum. Itu yang disebut dengan ijtihad.
Itu yang disebut perkara ijtihadiy. Lapangannya ialah teks-teks dzanniy, yang bekerja di dalamnya ialah imam dan ulama madzhab. Pekerjaan disebut ijtihad, dan hasilnya dinamakan fiqih.
Contohnya ijtihad ulama madzhab dalam hal menghitung masa iddah perempuan yang tertalak oleh suaminya; apakah 3 kali masa hadih, atau 3 kali masa suci? Disebutkan dalam ayat dengan redaksi “Quru’”; yang dalam bahasa arab, mampu artinya masa suci, mampu artinya pun masa haidh. Atau pun ijtihad ulama madzhab terkait bismillah dalam shalat sebelum membaca al-Fatihah, dikarenakan sebab sebab memang tidak sedikit dalil yang bersinggungan. Satu riwayat menjelaskan baca, riwayat lain malah ndak. ini lapangan ijtihad yang mana ulama bekerja di dalamnya guna kita; orang awam supaya mudah memahami.

Maka dalam 2 hal di atas, atau lebih luasnya dalam hal fiqih, sebab memang medan kerjanya ialah teks-teks dzanniy yang butuh Ijtihad, ndak mampu seseorang –siapapun itu- menjelaskan bahwa masa Iddah perempuan itu 3 masa haidh menurut syariat. Bukan! yang benar itu menurut madzhab fulan. Bukan pun kita katakan, membaca bismillah dikeraskan dalam shalat itu ialah yang benar menurut syariat. Bukan mampu! Itu benar menurut ijtihadnya imam fulan atau madzhab fulan; Sebab memang syariah sendiri memberi peluang guna diselenggarakan ijtihad di dalamnya.

Ijtihad = Hasil Otak Tidak Wahyu

Dan yang namanya ijtihad itu kebenaran ndak mutlak dan ndak ditetapkan pada ijtihad siapa. Yang sungguh-sungguh tahu di ijtihad mana kebenran itu berada hanyalah Allah s.w.t.. Ulama cuma menjalankan perintah, bahwa teks yang masih bias wajib dijalankan ijtihad, tentu yang melakukan mereka yang kompeten. Maka kalimat yang masyhur dari kalangan imam mazdhab itu ialah “qouliy shawab, yahtamilu al-khatha’. Qoulu Ghairy Khatha’, Yahtamilu shawab” = “pendapatku benar, tapi mampu jadi salah. Pandangan selainku salah, tapi mampu jadi benar”.

Sebab memang yang namanya ijihad itu hasilnya mampu jadi benar, mampu jadi salah. Tetapi kalau memamng ditunaikan oleh pihak yang kompeten dan otoritatif, kesalahanya ndak berdosa bakal malah memperoleh pahala. Sebab memang kebenarannya ndak pasti, ndak ada ulama yang heroik menisbatkan pendapatnya terhadap al-Qur’an dan sunnah Nabi s.a.w.. Bisa jadi sampai sini mampu dipahami mengapa ndak ada ulama yang menjelaskan dalam problem fiqih “ini pandangan yang benar menurut al-Qur’an dan sunnah!”. Bukan ada!
Hukum fiqih yang dihasilkan ialah hasil kerja otaknya sendiri, yang mampu jadi salah mampu jadi benar. Dan otaknya itu terbatas, pun bukanlah referensi kebenaran dalam syariah. Meraka senantiasa menjelaskan: “ini pendapatku, kalau benar ini dari Allah. Kalau salah ini dari diriku dan pun syetan!. Sama sekali ndak ada dari mereka yang mematok kebenaran. Dan yang menyelisihnya salah, salah, serta sudah menyelisih syariah.
Jika mereka menisbatkan pendapatnya itu terhadap al-Quran dan sunnah, itu artinya ia menisbatkan sesuatu yang kebenarannya belum dipastikan terhadap Allah s.w.t. dan Rasul s.a.w.. Itu artinya ia merasa bahwa otaknya itu ialah representasi dari apa yang diinginkan oleh Allah s.w.t dan Rasul-Nya s.a.w.. artinya, kalau pendapatnya salah artinya ia sudah menisbatkan kekhilafan terhadap Allah s.w.t. yang maha benar dan terhadap Rasul s.a.w.. Dosa apa yang lebih besar dibandingkan menisbatkan kekhilafan terhadap Allah dan Rasul-Nya? Ini penghinaan terhadap al-Quran dan sunnah namanya.

Allah Maha Benar Bukan Bisa jadi Salah

Jadi, para ulama madzhab menisbatkan pandangan ijtihadnya terhadap diri mereka dan madzhab mereka sendiri ndak terhadap al-Qur’an dan sunnah tidak mereka ndak berhukum dengan al-Quran dan sunnah. Tetapi Kuatir jika apa yang mereka ijtihadkan itu bukanlah sebuah kebenenaran yang Allah swt dan Rasul-Nya inginkan. Mereka cuma menjalankan tugas ijtihad, tapi ndak bertugas guna mengaku-ngaku bahwa ijtihadnya yang paling benar. Sebab itu mereka ndak menjelaskan: “ini pandangan yang sesuai Kitab dan Sunnah!”.
Tetapi malah dengan tegas mereka menjelaskan bahwa hasil ijtihadnya itu ialah pendapatnya sendiri. Kalimat yang masyhur bagaikan ini: “ini ialah pendapatku, jika ini benar maka itu dari (anugerah) Allah dan jika salah maka itu dari saya sendiri dan dari syetan. Dan Allah serta Rasul-Nya terbebas dari (ijtihad)-ku ini.”
Dan ini ialah kebiasaan ulama salaf yang sungguh-sungguh salaf yang memang diwarisi dari para sahabat Nabi s.a.w.. Ini pun terekam oleh Imam Ibn Taimiyyah dalam tidak sedikit halaman di kitab beliau Majmu’ al-Fatawa, salah satunya di Bab 10, hal. 450:
وَقَدْ قَالَ أَبُو بَكْرٍ وَابْنُ مَسْعُوْدٍ وَغَيْرُهُمَا مِنَ الصَّحَابَةِ فِيْمَا يُفْتُوْنَ فِيْهِ بِاجْتِهَادِهِمْ: إِنْ يَكُنْ صَوَابًا فَمِنَ اللهِ وَإِنْ يَكُنْ خَطَأً فَهُوَ مِنِّي وَمِنَ الشَّيْطَانِ وَاللهُ وَرَسُوْلُهُ بَرِيئَانِ مِنْهُ
“dan Abu Bakr serta Ibnu Mas’ud serta sahabat lainnya sudah berkata dalam tiap fatwa yang merekaijtihadkan: ini ialah pendapatku, jika ini benar maka itu dari (anugerah) Allah dan jika salah maka itu dari saya sendiri dan dari syetan. Dan Allah serta Rasul-Nya terbebas dari (ijtihad)-ku ini.”

Jadi, ndak gampang menjelaskan: “ini yang benar sesuai quran dan sunnah!”. Sebagaimana pun para sahabat mengajarkan itu. Sebab mampu saja ijtihadnya itu salah, akhirnya ia menisbatkan pandangan yang salah terhadap Allah dan Nabi saw. Naudzubillah.
Dan lebih jauh lagi, jika menisbatkan pandangan pribadi terhadap sunnah, itu artinya menjual nama Nabi s.a.w. supaya pendapatnya ‘laku’, padahal sama sekali itu tidak Nabi yang menjelaskan, nyatanya itu hasil dari otaknya yang terbatas, ingat bahwa berdusta atas nama Nabi s.a.w., hadiahnya ialah nereka.
وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“siapa yang berbohong atasku, maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka” (Muttafaq ‘alayh)

Jadi, masih mau mencatut nama Allah s.w.t., dan Rasul-Nya s.a.w. supaya pandangan pribadi dari otak yang dangkal ini ‘laku’ di depan khalayak awam? Silahkan kalau memang sanggup menandingi para sahabt pun ulama-ulama madzhab.

Wallahu a’lam.

Catatan :
Mengenal Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali

Ada baiknya kita mengenal para Imam Mazhab bagaikan Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali yang sudah menyusun kitab Fiqih bagi kita seluruhnya.

Abu Hanifah (Imam Hanafi)

Nu’man bin Tsabit bin Zuta bin Mahan at-Taymi (bahasa Arab: النعمان بن ثابت), lebih dikenal dengan nama Abū Ḥanīfah, (bahasa Arab: بو حنيفة) (lahir di Kufah, Irak pada 80 H / 699 M — tewas di Baghdad, Irak, 148 H / 767 M) merupakan pendiri dari Madzhab Hanafi.
Abu Hanifah pun merupakan seorang Tabi’in, generasi sesudah Sahabat nabi, sebab dia pernah berjumpa dengan salah seorang sahabat bernama Anas bin Malik, dan meriwayatkan hadis darinya serta sahabat lainnya.[3]
Imam Hanafi disebutkan selaku tokoh yang pertama kali menyusun kitab fiqh berdasarkan kelompok-kelompok yang berawal dari kesucian (taharah), salat dan seterusnya, yang lalu diikuti oleh ulama-ulama sesudahnya bagaikan Malik bin Anas, Imam Syafi’i, Abu Dawud, Bukhari, Muslim dan lainnya.

http://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Hanifah
Imam Malik

Mālik ibn Anas bin Malik bin ‘Āmr al-Asbahi atau Malik bin Anas (lengkapnya: Malik bin Anas bin Malik bin `Amr, al-Imam, Abu `Abd Allah al-Humyari al-Asbahi al-Madani), (Bahasa Arab: مالك بن أنس), lahir di (Madinah pada tahun 714 (93 H), dan tewas pada tahun 800 (179 H)). Ia ialah ahli ilmu fikih dan hadits, serta pendiri Mazhab Maliki.

Biografi

Abu abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amirbin Amr bin al-Haris bin Ghaiman bin Jutsail binAmr bin al-Haris Dzi Ashbah. Imama malik lahir di Madinah al Munawwaroh. sedangkan mengenai problem tahun kelahiranya terdapat perbedaaan riwayat. al-Yafii dalam kitabnya Thabaqat fuqoha meriwayatkan bahwa imam malik lahir pada 94 H. ibn Khalikan dan yang lain berpendapat bahawa imam malik lahir pada 95 H. sedangkan. imam al-Dzahabi meriwayatkan imam malik lahir 90 H. Imam yahya bin bakir meriwayatkan bahwa ia menguping malik berkata :”saya lahir pada 93 H”. dan inilah riwayat yang paling benar (menurut al-Sam’ani dan ibn farhun)[3].
Ia menyusun kitab Al Muwaththa’, dan dalam penyusunannya ia menghabiskan waktu 40 tahun, selama waktu itu, ia menunjukan terhadap 70 ahli fiqh Madinah.
Kitab tersebut menghimpun 100.000 hadits, dan yang meriwayatkan Al Muwaththa’ lebih dari seribu orang, sebab itu naskahnya tak sama beda dan seluruhnya berjumlah 30 naskah, tetapi yang terkenal cuma 20 buah. Dan yang paling masyur ialah riwayat dari Yahya bin Yahyah al Laitsi al Andalusi al Mashmudi.
Sejumlah ‘Ulama berpendapat bahwa sumber sumber hadits itu ada tujuh, yaitu Al Kutub as Sittah ditambah Al Muwaththa’. Ada pula ulama yang menetapkan Sunan ad Darimi selaku ganti Al Muwaththa’. Saat melukiskan kitab besar ini, Ibn Hazm berkata,” Al Muwaththa’ ialah kitab soal fiqh dan hadits, saya belum mnegetahui bandingannya.
Hadits-hadits yang terdapat dalam Al Muwaththa’ ndak semuanya Musnad, ada yang Mursal, mu’dlal dan munqathi. Sebagian ‘Ulama menghitungnya berjumlah 600 hadits musnad, 222 hadits mursal, 613 hadits mauquf, 285 perkataan tabi’in, disamping itu ada 61 hadits tanpa penyandara, cuma dikatakan sudah sampai kepadaku” dan “ dari orang kepercayaan”, tetapi hadits hadits tersebut bersanad dari jalur jalur lain yang tidak jalur dari Imam Malik sendiri, sebab itu Ibn Abdil Bar an Namiri menentang penyusunan kitab yang berusaha memuttashilkan hadits hadits mursal , munqathi’ dan mu’dhal yang terdapat dalam Al Muwaththa’ Malik.
Imam Malik menerima hadits dari 900 orang (guru), 300 dari golongan Tabi’in dan 600 dari tabi’in tabi’in, ia meriwayatkan hadits bersumber dari Nu’main al Mujmir, Zaib bin Aslam, Nafi’, Syarik bin Abdullah, az Zuhry, Abi az Ziyad, Sa’id al Maqburi dan Humaid ath Thawil, muridnya yang paling akhir ialah Hudzafah as Sahmi al Anshari.
Adapun yang meriwayatkan darinya ialah tidak sedikit sekali diantaranya ada yang lebih tua darinya bagaikan az Zuhry dan Yahya bin Sa’id. Ada yang sebaya bagaikan al Auza’i., Ats Tsauri, Sufyan bin Uyainah, Al Laits bin Sa’ad, Ibnu Juraij dan Syu’bah bin Hajjaj. Adapula yang belajar darinya bagaikan Asy Safi’i, Ibnu Wahb, Ibnu Mahdi, al Qaththan dan Abi Ishaq.

Malik bin Anas menyusun kompilasi hadits dan ucapan para sahabat dalam buku yang terkenal sampai sekarang, Al Muwatta.
Di antara guru beliau ialah Nafi’ bin Abi Nu’aim, Nafi’ al Muqbiri, Na’imul Majmar, Az Zuhri, Amir bin Abdullah bin Az Zubair, Ibnul Munkadir, Abdullah bin Dinar, dan lain-lain.
Di antara murid beliau ialah Ibnul Mubarak, Al Qoththon, Ibnu Mahdi, Ibnu Wahb, Ibnu Qosim, Al Qo’nabi, Abdullah bin Yusuf, Sa’id bin Manshur, Yahya bin Yahya al Andalusi, Yahya bin Bakir, Qutaibah Abu Mush’ab, Al Auza’i, Sufyan Ats Tsaury, Sufyan bin Uyainah, Imam Syafi’i, Abu Hudzafah as Sahmi, Az Aubairi, dan lain-lain.

Pujian Ulama guna Imam Malik
An Nasa’i berkata,” Bukan ada yang aku lihat orang yang pintar, mulia dan jujur, tepercaya periwayatan haditsnya melebihi Malik, kami ndak tahu dia ada meriwayatkan hadits dari rawi matruk, kecuali Abdul Karim”.
(Ket: Abdul Karim bin Abi al Mukharif al Basri yang menetap di Makkah, sebab ndak senegeri dengan Malik, keadaanya sedikit diketahui, Malik cuma tidak banyak mentahrijkan haditsnya soal keutamaan amal atau menambah pada matan).
Sedangkan Ibnu Hayyan berkata,” Malik ialah orang yang pertama menyeleksi para tokoh ahli fiqh di Madinah, dengan fiqh, agama dan keutamaan ibadah”.
Imam as-Syafi’i berkata : “Imam Malik ialah Hujjatullah atas makhluk-Nya sesudah para Tabi’in “.
Yahya bin Ma’in berkata :”Imam Malik ialah Amirul mukminin dalam (ilmu) Hadits”
Ayyub bin Suwaid berkata :”Imam Malik ialah Imam Darul Hijrah (Imam madinah) dan as-Sunnah ,seorang yang Tsiqah, seorang yang bisa dipercaya”.
Ahmad bin Hanbal berkata:” Kalau engkau menyaksikan seseorang yang tidak suka imam malik, maka ketahuilah bahwa orang tersebut ialah ahli bid’ah”
Seseorang menanyakan terhadap as-Syafi’i :” apakah anda menemukan seseorang yang (alim) bagaikan imam malik?” as-Syafi’i menjawab :”saya menguping dari orang yang lebih tua dan lebih berilmu dari pada saya, mereka menjelaskan kami ndak menemukan orang yang (alim) bagaikan Malik, maka bagaimana kami(orang sekarang) menemui yang bagaikan Malik?[3] ”

Kitab Al-Muwaththa

Al-Muwaththa bererti ‘yang disepakati’ atau ‘tunjang’ atau ‘panduan’ yang membicarakan soal ilmu dan hukum-hukum agama Islam. Al-Muwaththa merupakan sebuah kitab yang berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh Imam Malik serta pandangan para sahabat dan ulama-ulama tabiin. Kitab ini lengkap dengan banyak problem agama yang merangkum ilmu hadits, ilmu fiqh dan sebagainya. Seluruhnya hadits yang ditulis ialah sahih kerana Imam Malik terkenal dengan sifatnya yang tegas dalam penerimaan sebuah hadits. Dia amat berhati-hati kala menapis, mengasingkan, dan membicarakan serta menolak riwayat yang meragukan. Dari 100.000 hadits yang dihafal beliau, cuma 10.000 saja diakui sah dan dari 10.000 hadits itu, cuma 5.000 saja yang disahkan sahih olehnya sesudah diteliti dan dibandingkan dengan al-Quran. Menurut sebuah riwayat, Imam Malik menghabiskan 40 tahun guna mengumpul dan menapis hadits-hadits yang diterima dari guru-gurunya. Imam Syafi pernah berkata, “Tiada sebuah kitab di muka bumi ini sesudah al qur`an yang lebih tidak sedikit mengandungi kebenaran selain dari kitab Al-Muwaththa karangan Imam Malik.”
inilah karangan para ulama muaqoddimin

Wafatnya Sang Imam Darul Hijroh

Imam malik jatuh sakit pada hari ahad dan menderita sakit selama 22 hari lalu 10 hari sesudah itu ia wafat. sebagian meriwayatkan imam Malik wafat pada 14 Rabiul awwal 179 H.
sahnun meriwayatkan dari abdullah bin nafi’:” imam malik wafat pada usia 87 tahun” ibn kinanah bin abi zubair, putranya yahya dan sekretarisnya hubaib yang memandikan jenazah imam Malik. imam Malik dimakamkan di Baqi’

http://id.wikipedia.org/wiki/Malik_bin_Anas

Imam Syafi’i

Abū ʿAbdullāh Muhammad bin Idrīs al-Shafiʿī atau Muhammad bin Idris asy-Syafi`i (bahasa Arab: محمد بن إدريس الشافعي) yang akrab disapa Imam Syafi’i (Gaza, Palestina, 150 H / 767 – Fusthat, Mesir 204H / 819M) ialah seorang mufti besar Sunni Islam dan pun pendiri mazhab Syafi’i. Imam Syafi’i pun tergolong kerabat dari Rasulullah, ia masuk didalamnya dalam Bani Muththalib, yaitu bernasab dari al-Muththalib, saudara dari Hasyim, yang merupakan kakek Muhammad.
Ketika usia 20 tahun, Imam Syafi’i berangkat menuju Madinah guna berguru terhadap ulama besar ketika itu, Imam Malik. Dua tahun lalu, ia pun berangkat menuju Irak, guna berguru pada murid-murid Imam Hanafi di sana.
Imam Syafi`i mempunyai dua dasar tak sama guna Mazhab Syafi’i. Yang pertama namanya Qaulun Qadim dan Qaulun Jadid.
http://id.wikipedia.org/wiki/Imam_Asy-Syafi’i

Tulisan di bawah terpaksa pun dihapus.

Bagaimana bisa jadi Imam Syafi’ie yang lahir tahun 150 H dan wafat tahun 203 H disebut menolak paham Asy’ariyyah yang memperkenalkan ajaran Sifat 20 temporer Imam Abu Hasan Al Asy’ari sendiri baru lahir tahun 260 H atau 57 tahun sesudah Imam Syafi’ie tewas?

Imam Syafi’ie ialah Imam Fiqih. Beda dengan Imam Asy’ari yang merupakan Imam problem Tauhid. Jika bagaikan itu, maka Imam Syafi’ie pun jauh dari paham Trinitas Tauhid yang dibawa oleh Muhammad bin Abdul Wahab yang lahir tahun 1115 Hijriyah:

Imam Asy-Syafi`i masuk didalamnya Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, beliau jauh dari pemahaman Asy’ariyyah dan Maturidiyyah yang melenceng dalam aqidah, khususnya dalam problem aqidah yang berhubungan dengan Asma dan Shifat Allah subahanahu wa Ta’ala.

Sumber: Majalah As-Salaam

http://nippontori.multiply.com/reviews/item/7?&show_interstitial=1&u=%2Freviewspersen2Fitem

Imam Hambali

Sebetulnya ingin mengambil referensi dari Wikipedia di bawah:

http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_bin_Hanbal

Tapi ada yang aneh yang mengumumkan Murid Imam Hambali ialah Imam Syafi’i:

Imam Asy-Syafi’i. Imam Ahmad pun pernah berguru kepadanya.

Padahal banyak literatur yang ada menyebut bahwa guru Imam Syafi’i yang lahir tahun 150 H ialah Imam Malik (lahir tahun 93 H). Temporer Imam Hambali yang lahir tahun 164 H (14 tahun lebih muda dari Imam Syafi’i) ialah murid dari Imam Syafi’i.

Hubungan Guru dengan Murid tidak bakal pernah berubah meski seorang guru menanyakan sejumlah hal terhadap muridnya. Aneh kan kalau Imam Hambali berkata: “Imam Syafi’i itu dulu Guruku. Tapi sesudah saya lebih pintar, sekarang Imam Syafi’i jadi muridku” Insya Allah ndak seperti itu.

walaupun Imam Hambali ialah seorang Imam yang pintar, akan tetapi pengumuman terbuka bahwa murid Imam Hambali ialah Imam Syafi’i memperlihatkan adanya perubahan seenaknya oleh kaum Salafi Wahabi dalam rangka memuja Imam Hambali yang mereka jadi teladan secara keterlaluan/ghulluw.

===
Imam Hambali
Beliau ialah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin ‘Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzuhl bin Tsa‘labah adz-Dzuhli asy-Syaibaniy. Nasab beliau berjumpa dengan nasab Nabi pada diri Nizar bin Ma‘d bin ‘Adnan. Yang artinya berjumpa nasab pula dengan nabi Ibrahim.
Saat beliau masih dalam kandungan, orang tua beliau geser dari kota Marwa, tempat tinggal sang ayah, menuju kota Baghdad. Di kota itu beliau lahir, tepatnya pada bulan Rabi‘ul Awwal -menurut pandangan yang paling masyhur- tahun 164 H.
Ayah beliau, Muhammad, tewas dalam usia muda, 30 tahun, kala beliau baru berumur 3 tahun. Kakek beliau, Hanbal, berpindah menuju wilayah Kharasan dan sebagai wali kota Sarkhas pada masa pemeritahan Bani Umawiyyah, lalu berkoalisi menuju dalam barisan penyokong Bani ‘Abbasiyah dan karenanya ikut merasakan penyiksaan dari Bani Umawiyyah. Disebutkan bahwa dia dahulunya ialah seorang panglima.

Masa Menuntut Ilmu
Imam Ahmad tumbuh dewasa selaku seorang bocah yatim. Ibunya, Shafiyyah binti Maimunah binti ‘Abdul Malik asy-Syaibaniy, berperan full dalam mendidik dan membesarkan beliau. Untungnya, sang ayah meninggalkan guna mereka dua buah rumah di kota Baghdad. Yang sebuah mereka tempati sendiri, sedangkan yang sebuah lagi mereka sewakan dengan harga yang amat murah. Dalam hal ini, kondisi beliau sama dengan kondisi syaikhnya, Imam Syafi‘i, yang yatim dan miskin, tetapi tetap mempunyai ghirah yang tinggi. Keduanya pun mempunyai ibu yang sanggup menghantar mereka terhadap kemajuan dan kemuliaan.
Beliau memperoleh pendidikannya yang pertama di kota Baghdad. Ketika itu, kota Bagdad sudah sebagai pusat peradaban dunia Islam, yang full dengan insan yang tak sama asalnya dan beragam kebudayaannya, serta full dengan beragam kategori ilmu pengetahuan. Di sana tinggal para qari’, ahli hadits, para sufi, ahli bahasa, filosof, dan sebagainya.
Setamatnya menghafal Alquran dan mempelajari ilmu-ilmu bahasa Arab di al-Kuttab ketika berumur 14 tahun, beliau meneruskan pendidikannya menuju ad-Diwan. Beliau terus menuntut ilmu dengan full azzam yang tinggi dan ndak mudah goyah. Sang ibu tidak sedikit membimbing dan memberi beliau dorongan ghirah. Bukan lupa dia mengingatkan beliau supaya tetap memperhatikan kondisi diri sendiri, terutama dalam problem kesehatan. Soal hal itu beliau pernah bercerita, “Terkadang saya ingin cepat berangkat pagi-pagi sekali mengambil (periwayatan) hadits, tetapi Ibu cepat mengambil pakaianku dan berkata, ‘Bersabarlah dulu. Tunggu sampai adzan berkumandang atau sesudah orang-orang selesai shalat subuh.’”
Perhatian beliau ketika itu memang tengah tertuju terhadap keinginan mengambil hadits dari para perawinya. Beliau menjelaskan bahwa orang pertama yang darinya beliau mengambil hadits ialah al-Qadhi Abu Yusuf, murid/rekan Imam Abu Hanifah.
Imam Ahmad tertarik guna mecatat hadits pada tahun 179 ketika berumur 16 tahun. Beliau terus berada di kota Baghdad mengambil hadits dari syaikh-syaikh hadits kota itu sampai tahun 186. Beliau melaksanakan mulazamah terhadap syaikhnya, Hasyim bin Basyir bin Abu Hazim al-Wasithiy sampai syaikhnya tersebut wafat tahun 183. Disebutkan oleh putra beliau bahwa beliau mengambil hadits dari Hasyim berkisar 3 ratus ribu hadits lebih.
Pada tahun 186, beliau mulai melaksanakan travelling (mencari hadits) menuju Bashrah lalu menuju negeri Hijaz, Yaman, dan selainnya. Tokoh yang paling menonjol yang beliau temui dan mengambil ilmu darinya selama perjalanannya menuju Hijaz dan selama tinggal di sana ialah Imam Syafi‘i. Beliau tidak sedikit mengambil hadits dan faedah ilmu darinya. Imam Syafi‘i sendiri amat memuliakan diri beliau dan terkadang menjadikan beliau rujukan dalam mengenal keshahihan sebuah hadits. Ulama lain yang sebagai sumber beliau mengambil ilmu ialah Sufyan bin ‘Uyainah, Ismail bin ‘Ulayyah, Waki‘ bin al-Jarrah, Yahya al-Qaththan, Yazid bin Harun, dan lain-lain. Beliau berkata, “Aku ndak sempat berjumpa dengan Imam Malik, tetapi Allah menggantikannya untukku dengan Sufyan bin ‘Uyainah. Dan aku ndak sempat pula berjumpa dengan Hammad bin Zaid, tetapi Allah menggantikannya dengan Ismail bin ‘Ulayyah.”
Demikianlah, beliau amat menekuni pencatatan hadits, dan ketekunannya itu menyibukkannya dari hal-hal lain sampai-sampai dalam hal berumah tangga. Beliau baru merid sesudah berumur 40 tahun. Ada orang yang berkata terhadap beliau, “Wahai Abu Abdillah, Anda sudah mencapai seluruhnya ini. Anda sudah sebagai imam kaum muslimin.” Beliau menjawab, “Berbarengan mahbarah (tempat tinta) sampai menuju maqbarah (kubur). Saya bakal tetap menuntut ilmu sampai saya masuk liang kubur.” Dan memang selalu bagaikan itulah kondisi beliau: menekuni hadits, memberi fatwa, dan kegiatan-kegiatan lain yang memberi manfaat terhadap kaum muslimin. Temporer itu, murid-murid beliau berkumpul di sekitarnya, mengambil darinya (ilmu) hadits, fiqih, dan lainnya. Ada tidak sedikit ulama yang pernah mengambil ilmu dari beliau, di antaranya kedua putra beliau, Abdullah dan Shalih, Abu Zur ‘ah, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Atsram, dan lain-lain.
Beliau menyusun kitabnya yang terkenal, al-Musnad, dalam jangka waktu berkisar enam puluh tahun dan itu telah dimulainya semenjak tahun tahun 180 ketika pertama kali beliau mencari hadits. Beliau pun menyusun kitab soal tafsir, soal an-nasikh dan al-mansukh, soal tarikh, soal yang muqaddam dan muakhkhar dalam Alquran, soal jawaban-jawaban dalam Alquran. Beliau pun menyusun kitab al-manasik ash-shagir dan al-kabir, kitab az-Zuhud, kitab ar-radd ‘ala al-Jahmiyah wa az-zindiqah(Bantahan terhadap Jahmiyah dan Zindiqah), kitab as-Shalah, kitab as-Sunnah, kitab al-Wara ‘ wa al-Iman, kitab al-‘Ilal wa ar-Rijal, kitab al-Asyribah, satu juz soal Ushul as-Sittah, Fadha’il ash-Shahabah.
Pujian dan Penghormatan Ulama Lain Kepadanya
Imam Syafi‘i pernah mengusulkan terhadap Khalifah Harun ar-Rasyid, pada hari-hari akhir hidup khalifah tersebut, supaya mengangkat Imam Ahmad sebagai qadhi di Yaman, tetapi Imam Ahmad menolaknya dan berkata terhadap Imam Syafi‘i, “Aku datang terhadap Anda guna mengambil ilmu dari Anda, tetapi Anda malah menyuruh aku sebagai qadhi guna mereka.” seusai itu pada tahun 195, Imam Syafi‘i mengusulkan hal yang sama terhadap Khalifah al-Amin, tetapi lagi-lagi Imam Ahmad menolaknya.
Suatu hari, Imam Syafi‘i masuk menemui Imam Ahmad dan berkata, “Engkau lebih tahu soal hadits dan perawi-perawinya. Kalau ada hadits shahih (yang engkau tahu), maka beri tahulah saya. Insya Allah, kalau (perawinya) dari Kufah atau Syam, saya bakal berangkat mendatanginya kalau memang shahih.” Ini memperlihatkan kesempurnaan agama dan akal Imam Syafi‘i sebab mau mengembalikan ilmu terhadap ahlinya.
Imam Syafi‘i pun berkata, “Saya keluar (meninggalkan) Bagdad, temporer itu ndak saya tinggalkan di kota tersebut orang yang lebih wara’, lebih faqih, dan lebih bertakwa daripada Ahmad bin Hanbal.”
Abdul Wahhab al-Warraq berkata, “Saya ndak pernah menyaksikan orang yang bagaikan Ahmad bin Hanbal”. Orang-orang menanyakan kepadanya, “Dalam hal apakah dari ilmu dan keutamaannya yang engkau pandang dia melebihi yang lain?” Al-Warraq menjawab, “Dia seorang yang kalau ditanya soal 60.000 problem, dia bakal menjawabnya dengan berkata, ‘Sudah dikabarkan terhadap kami,’ atau, “Sudah disampaikan hadits terhadap kami’.”Ahmad bin Syaiban berkata, “Saya ndak pernah menyaksikan Yazid bin Harun memberi penghormatan terhadap seseorang yang lebih besar daripada terhadap Ahmad bin Hanbal. Dia bakal mendudukkan beliau di sisinya kalau menyampaikan hadits terhadap kami. Dia amat menghormati beliau, ndak mau berkelakar dengannya”. Demikianlah, padahal bagaikan diketahui bahwa Harun bin Yazid ialah salah seorang guru beliau dan terkenal selaku salah seorang imam huffazh.
Keteguhan di Masa Full Cobaan
Sudah sebagai keniscayaan bahwa kehidupan seorang mukmin ndak bakal lepas dari ujian dan cobaan, terlebih lagi seorang alim yang berjalan di atas jejak para nabi dan rasul. Dan Imam Ahmad masuk didalamnya di antaranya. Beliau memperoleh cobaan dari 3 orang khalifah Bani Abbasiyah selama rentang waktu 16 tahun.
Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, dengan Terang tampak kecondongan khalifah yang berkuasa menjadikan unsur-unsur asing (non-Arab) selaku power penunjang kekuasaan mereka. Khalifah al-Makmun menjadikan orang-orang Persia selaku power pendukungnya, sedangkan al-Mu‘tashim memilih orang-orang Turki. Akibatnya, malah tidak banyak untuk tidak banyak kelemahan menggerogoti kekuasaan mereka. Pada masa itu diawali penerjemahan menuju dalam bahasa Arab buku-buku falsafah dari Yunani, Rumania, Persia, dan India dengan sokongan biaya dari penguasa. Akibatnya, dengan cepat banyak bentuk bid‘ah merasuk menyebar menuju dalam akidah dan ibadah kaum muslimin. Beberapa macam kubu yang sesat menyebar di tengah-tengah mereka, bagaikan Qadhariyah, Jahmyah, Asy‘ariyah, Rafidhah, Mu‘tashilah, dan lain-lain.
Kubu Mu‘tashilah, secara spesial, memperoleh sokongan dari penguasa, terutama dari Khalifah al-Makmun. Mereka, di bawah pimpinan Ibnu Abi Duad, sanggup mempengaruhi al-Makmun guna membenarkan dan menyebarkan pendapat-pendapat mereka, di antaranya pandangan yang mengingkari sifat-sifat Allah, masuk didalamnya sifat kalam (berbicara). Berangkat dari pengingkaran itulah, pada tahun 212, Khalifah al-Makmun lalu memaksa kaum muslimin, khususnya ulama mereka, guna meyakini kemakhlukan Alquran.
Sejatinya Harun ar-Rasyid, khalifah sebelum al-Makmun, sudah menindak tegas pandangan soal kemakhlukan Alquran. Selama hidupnya, ndak ada seorang juga yang heroik mengumumkan pandangan itu sebagaimana dikisahkan oleh Muhammad bin Nuh, “Saya pernah menguping Harun ar-Rasyid berkata, ‘Sudah sampai kabar kepadaku bahwa Bisyr al-Muraisiy menjelaskan bahwa Alquran itu makhluk. Merupakan kewajibanku, kalau Allah menguasakan orang itu kepadaku, niscaya bakal saya hukum bunuh dia dengan cara yang ndak pernah ditunaikan oleh seorang juga’”. Tatkala Khalifah ar-Rasyid wafat dan kekuasaan beralih menuju tangan al-Amin, kubu Mu‘tazilah berusaha menggiring al-Amin menuju dalam kubu mereka, tetapi al-Amin menolaknya. Baru lalu kala kekhalifahan berpindah menuju tangan al-Makmun, mereka sanggup melakukannya.
Demi memaksa kaum muslimin menerima pandangan kemakhlukan Alquran, al-Makmun sampai menggelar ujian terhadap mereka. Selama masa pengujian tersebut, ndak terhitung orang yang sudah dipenjara, disiksa, dan bahkan dibunuhnya. Ujian itu sendiri sudah menyibukkan pemerintah dan warganya bagus yang umum maupun yang spesial. Ia sudah sebagai bahan perbincangan mereka, bagus di kota-kota maupun di desa-desa di negeri Irak dan selainnya. Sudah terjadi perdebatan yang sengit di kalangan ulama soal hal itu. Bukan terhitung dari mereka yang menolak pandangan kemakhlukan Alquran, masuk didalamnya di antaranya Imam Ahmad. Beliau tetap konsisten memegang pandangan yang hak, bahwa Alquran itu kalamullah, tidak makhluk.
Al-Makmun bahkan sempat memerintahkan bawahannya supaya membawa Imam Ahmad dan Muhammad bin Nuh menuju hadapannya di kota Thursus. Kedua ulama itu juga akhirnya digiring menuju Thursus dalam kondisi terbelenggu. Muhammad bin Nuh tewas dalam travelling sebelum sampai menuju Thursus, sedangkan Imam Ahmad dibawa kembali menuju Bagdad dan dipenjara di sana sebab sudah sampai berita soal kematian al-Makmun (tahun 218). Disebutkan bahwa Imam Ahmad tetap mendoakan al-Makmun.
Sepeninggal al-Makmun, kekhalifahan berpindah menuju tangan putranya, al-Mu‘tashim. Dia sudah memperoleh wasiat dari al-Makmun supaya meneruskan pandangan kemakhlukan Alquran dan menguji orang-orang dalam hal tersebut; dan dia juga melaksanakannya. Imam Ahmad dikeluarkannya dari bui lalu dipertemukan dengan Ibnu Abi Duad dan konco-konconya. Mereka mendebat beliau soal kemakhlukan Alquran, tetapi beliau sanggup membantahnya dengan bantahan yang ndak bisa mereka bantah. Akhirnya beliau dicambuk sampai ndak sadarkan diri lalu dimasukkan kembali menuju dalam bui dan mendekam di sana selama berkisar 28 bulan –atau 30-an bulan menurut yang lain-. Selama itu beliau shalat dan bermalam dalam kondisi kaki terbelenggu.
Selama itu pula, tiap harinya al-Mu‘tashim mengutus orang guna mendebat beliau, tetapi respon beliau tetap sama, ndak berubah. Akibatnya, bertambah kemarahan al-Mu‘tashim terhadap beliau. Dia mengancam dan memaki-maki beliau, dan menyuruh bawahannya mencambuk lebih keras dan menambah belenggu di kaki beliau. Seluruhnya itu, diterima Imam Ahmad dengan full kesabaran dan keteguhan bak gunung yang menjulang dengan kokohnya.

Sakit dan Wafatnya
Pada akhirnya, beliau dibebaskan dari bui. Beliau dikembalikan menuju rumah dalam kondisi ndak sanggup berjalan. seusai luka-lukanya sembuh dan badannya sudah kuat, beliau kembali menyampaikan pelajaran-pelajarannya di masjid sampai al-Mu‘tashim wafat.
Seterusnya, al-Watsiq diangkat sebagai khalifah. Bukan tak sama dengan ayahnya, al-Mu‘tashim, al-Watsiq juga meneruskan ujian yang ditunaikan ayah dan kakeknya. dia juga masih menjalin kedekatan dengan Ibnu Abi Duad dan konco-konconya. Akibatnya, warga Bagdad merasakan cobaan yang kian keras. Al-Watsiq mencegah Imam Ahmad keluar berkumpul berbarengan orang-orang. Akhirnya, Imam Ahmad bersembunyi di rumahnya, ndak keluar darinya bahkan guna keluar mengajar atau menghadiri shalat jemaah. Dan itu dijalaninya selama tidak cukup lebih lima tahun, yaitu sampai al-Watsiq tewas tahun 232.
Sesudah al-Watsiq wafat, al-Mutawakkil naik menggantikannya. Selama dua tahun masa pemerintahannya, ujian soal kemakhlukan Alquran masih dilangsungkan. Lantas pada tahun 234, dia menghentikan ujian tersebut. Dia mengumumkan menuju seluruh wilayah kerajaannya larangan atas pandangan soal kemakhlukan Alquran dan ancaman hukuman mati bagi yang melibatkan diri dalam hal itu. Dia pun memerintahkan terhadap para ahli hadits guna menyampaikan hadits-hadits soal sifat-sifat Allah. Maka demikianlah, orang-orang juga bergembira juga dengan adanya pengumuman itu. Mereka memuji-muji khalifah atas keputusannya itu dan melupakan kejelekan-kejelekannya. Di mana-mana terdengar doa untuknya dan namanya disebut-sebut berbarengan nama Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, dan Umar bin Abdul Aziz.
Menjelang wafatnya, beliau jatuh sakit selama sembilan hari. Menguping sakitnya, orang-orang juga berdatangan ingin menjenguknya. Mereka berdesak-desakan di depan pintu rumahnya, sampai-sampai sultan memposisikan orang guna berjaga di depan pintu. Akhirnya, pada permulaan hari Jumat tanggal 12 Rabi‘ul Awwal tahun 241, beliau menghadap terhadap rabbnya menjemput ajal yang sudah dientukan kepadanya. Kaum muslimin bersedih dengan kepergian beliau. Tidak tidak banyak mereka yang turut menghantar jenazah beliau sampai beratusan ribu orang. Ada yang menjelaskan 700 ribu orang, ada pula yang menjelaskan 800 ribu orang, bahkan ada yang menjelaskan sampai satu juta lebih orang yang menghadirinya. Semuanya memperlihatkan bahwa amat banyaknya mereka yang datang pada ketika itu untuk memperlihatkan penghormatan dan kecintaan mereka terhadap beliau. Beliau pernah berkata kala masih sehat, “Katakan terhadap ahlu bid‘ah bahwa perbedaan antara kami dan kalian ialah (tampak pada) hari kematian kami”.
Demikianlah gambaran ringkas ujian yang dilalui oleh Imam Ahmad. Tampak bagaimana sikap agung beliau yang ndak bakal diambil kecuali oleh orang-orang yang full keteguhan lagi ikhlas. Beliau bersikap bagaikan itu malah kala sebagian ulama lain berpaling dari kebenaran. Dan dengan keteguhan di atas kebenaran yang Allah berikan kepadanya itu, maka madzhab Ahlussunnah juga dinisbatkan terhadap dirinya sebab beliau sabar dan teguh dalam membelanya. Ali bin al-Madiniy berkata menggambarkan keteguhan Imam Ahmad, “Allah sudah mengokohkan agama ini lewat dua orang laki-laki, ndak ada yang ketiganya. Yaitu, Abu Bakar as-Shiddiq pada Yaumur Riddah (ketika orang-orang tidak sedikit yang murtad pada awal-awal pemerintahannya), dan Ahmad bin Hanbal pada Yaumul Mihnah”.
http://www.infogue.com/viewstory/2012/01/30/imam_hambali/?url=http://alhidayah-colomadu.blogspot.com/2012/01/imam-hambali.html

Perbedaan Antar Mazhab?

Di antara tonggak penegang ajaran Islam di muka bumi ialah muncul sejumlah mazhab raksasa di tengah ratusan mazhab kecil lainnya. Ke-4 mazhab itu ialah Al-Hanabilah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah. Sejatinya hitungan total mazhab besar ndak cuma terbatas cuma 4 saja, akan tetapi ke-4 mazhab itu memang diakui eksistensi dan jati dirinya oleh ummat selama 15 abad ini.

Keempatnya masih utuh tegak berdiri dan dijalankan serta dikembangkan oleh kebanyakan muslimin di muka bumi. Masing-masing punya basis power syariah serta masih sanggup melahirkan para ulama besar di masa sekarang ini.

Berikut sekelumit sejarah ke-4 mazhab ini dengan tidak banyak gambaran landasan manhaj mereka.

1. MazhabAl-Hanifiyah.

Didirikan oleh An-Nu’man bin Tsabit atau lebih dikenal selaku Imam Abu Hanifah. Beliau berasal dari Kufah dari bernasab bangsa Persia. Beliau hidup dalam dua masa, Daulah Umaiyah dan Abbasiyah. Beliau masuk didalamnya pengikut tabiin , sebagian ahli sejarah menyebutkan, ia bahkan masuk didalamnya Tabi’in.

Mazhab Al-Hanafiyah sebagaimana dipatok oleh pendirinya, amat dikenal selaku terdepan dalam problem pemanfaatan akal/ logika dalam mengupas problem fiqih. Oleh para pengamat dianalisa bahwa di antaralatar belakangnya ialah:

Sebab beliau amat berhati-hati dalam menerima sebuah hadits. Bila beliau ndak berlebihan percaya atas keshahihah suatu hadits, maka beliau lebih memlih guna ndak menggunakannnya. Dan selaku gantinya, beliau menemukan seperti itu tidak sedikit formula bagaikan mengqiyaskan suatu problem dengan problem lain yang punya dalil nash syar’i.

Tidak cukup tersedianya hadits yang telah diseleksi keshahihannya di tempat di mana beliau tinggal. Sebaliknya, seperti itu tidak sedikit hadits palsu, lemah dan bermasalah yang beredar di masa beliau. Perlu diketahui bahwa beliau hidup di masa 100 tahun pertama semenjak wafat nabi SAW, jauh sebelum era imam Al-Bukhari dan imam Muslim yang terkenal selaku ahli peneliti hadits.

Di lalu hari, metodologi yang beliau perkenalkan memang amat berguna buat ummat Islam sedunia. Apalagi mengingat Islam mengalami perluasan yang amat jauh menuju seluruh penjuru dunia. Memasuki wilayah yang jauh dari pusat sumber syariah Islam. Metodologi mazhab ini sebagai amat menentukan dalam dunia fiqih di banyak negeri.

2. Mazhab Al-Malikiyah

Mazhab ini didirikan oleh Imam Malik bin Anas bin Abi Amir Al-Ashbahi .Berkembang semenjak awal di kota Madinah dalam urusan fiqh.

Mazhab ini ditegakkan di atas doktrin guna mereferensi dalam segala sesuatunya terhadap hadits Nabi Saw dan praktek warga Madinah. Imam Malik membangun madzhabnya dengan 20 dasar; Al-Quran, As-Sunnah , Ijma’, Qiyas, amal ahlul madinah , perkataan sahabat, istihsan, saddudzarai’, muraatul khilaf, istishab, maslahah mursalah, syar’u man qablana .

Mazhab ini ialah kebalikan dari mazhan Al-Hanafiyah. Jika Al-Hanafiyah tidak sedikit sekali mengandalkan nalar dan logika, sebab tidak cukup tersedianya nash-nash yang valid di Kufah, mazhab Maliki malah ‘kebanjiran’ sumber-sumber syariah. Karena mazhab ini tumbuh dan berkembang di kota Rasulullah Sawsendiri, di mana penduduknya ialah bocah bernasab para shahabat. Imam Malik amat meyakini bahwa praktek ibadah yang dikerjakan warga Madinah sepeninggal Nabi Saw mampu dijadikan dasar hukum, meski tanpa wajib mereferensi terhadap hadits yang shahih para umumnya.

3. Mazhab As-Syafi’iyah

Didirikan oleh Muhammad bin Idris Asy Syafi’i . Beliau lahir di Gaza Palestina tahun 150 H, tahun wafatnya Abu Hanifah dan wafat di Mesir tahun 203 H.

Di Baghdad, Imam Syafi’i mecatat madzhab lamanya . Lantas beliu geser menuju Mesir tahun 200 H dan menuliskan madzhab baru . Di sana beliau wafat selaku syuhadaul ‘ilm di akhir bulan Rajab 204 H.

Bagian karangannya ialah “Ar-Risalah” buku pertama soal ushul fiqh dan kitab “Al-Umm” yang berisi madzhab fiqhnya yang baru. Imam Syafi’i ialah seorang mujtahid mutlak, imam fiqh, hadis, dan ushul. Beliau sanggup memadukan fiqh ahli ra’yi dan fiqh ahli hadits .

Dasar madzhabnya: Al-Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Beliau ndak mengambil perkataan sahabat sebab dinilai selaku ijtihad yang mampu salah. Beliau pun ndak mengambil Istihsan selaku dasar madzhabnya, menolak maslahah mursalah dan perbuatan warga Madinah. Imam Syafi’i menjelaskan, ”Barangsiapa yang melaksanakan istihsan maka ia sudah menciptakan syariat.” Warga Baghdad menjelaskan,”Imam Syafi’i ialah nashirussunnah ,”

Kitab “Al-Hujjah” yang merupakan madzhab lama diriwayatkan oleh empat imam Irak; Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, Za’farani, Al-Karabisyi dari Imam Syafi’i. Temporer kitab “Al-Umm” selaku madzhab yang baru yang diriwayatkan oleh pengikutnya di Mesir; Al-Muzani, Al-Buwaithi, Ar-Rabi’ Jizii bin Sulaiman. Imam Syafi’i menjelaskan soal madzhabnya,”Kalau sebuah hadits shahih bertentangan dengan perkataanku, maka ia ialah madzhabku, dan buanglah perkataanku di belakang tembok,”

4. Mazhab Al-Hanabilah

Didirikan oleh Imam Ahmad bin Hanbal Asy Syaibani . Lahir di Baghdad dan tumbuh besar di sana sampai tewas pada bulan Rabiul Awal. Beliau mempunyai pengalaman travelling mencari ilmu di pusat-pusat ilmu, bagaikan Kufah, Bashrah, Mekah, Madinah, Yaman, Syam.

Beliau berguru terhadap Imam Syafi’i kala datang menuju Baghdad sehingga sebagai mujtahid mutlak mustaqil. Gurunya amat tidak sedikit sampai mencapai ratusan. Ia menguasai sebuah hadis dan menghafalnya sehingga sebagai ahli hadis di zamannya dengan berguru terhadap Hasyim bin Basyir bin Abi Hazim Al-Bukhari .

Imam Ahmad ialah seorang ahli hadis dan fiqh. Imam Syafi’i berkata kala melaksanakan travelling menuju Mesir,”Aku keluar dari Baghdad dan tidaklah aku tinggalkan di sana orang yang paling bertakwa dan paling faqih melebihi Ibnu Hanbal ,”

Dasar madzhab Ahmad ialah Al-Quran, Sunnah, fatwah sahahabat, Ijam’, Qiyas, Istishab, Maslahah mursalah, saddudzarai’.

Imam Ahmad ndak mengarang satu kitab juga soal fiqhnya. Tapi pengikutnya yang membukukannya madzhabnya dari perkataan, perbuatan, respon atas pertanyaan dan lain-lain. Tapi beliau mengarang sebuah kitab hadis “Al-Musnad” yang memuat 40.000 lebih hadis. Beliau mempunyai kukuatan hafalan yang kuat. Imam Ahmad mengunakan hadis mursal dan hadis dlaif yang derajatnya meningkat terhadap hasan tidak hadis batil atau munkar.

Di antara murid Imam Ahmad ialah Salh bin Ahmad bin Hanbal bocah terbesar Imam Ahmad, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal . Shalih bin Ahmad lebih menguasai fiqh dan Abdullah bin Ahmad lebih menguasai hadis. Murid yang ialah Al-Atsram disapa Abu Bakr dan nama aslinya; Ahmad bin Muhammad , Abdul Malik bin Abdul Hamid bin Mihran , Abu Bakr Al-Khallal , Abul Qasim yang terakhir ini mempunyai tidak sedikit karangan soal fiqh madzhab Ahmad. Bagian kitab fiqh madzhab Hanbali ialah “Al-Mughni” karangan Ibnu Qudamah.

Sumber : muslimoderat.net

You might like

About the Author: Hakim Abdul

KOLOM KOMENTAR ANDA :