Jawababan Dingin Rusia atas Ultimatum 48 Jam Teroris di Suriah

Ultimatum 48 jam dari kubu teroris di Suriah telah lewat, ternyata tak berdampak besar bagi Rusia. (Istimewa)

 

Islam-Institute, MOSKOWUltimatum 48 jam yang diteriakkan pemberontak Suriah beberapa waktu lalu ternyata tak berdampak besar pada Rusia. Negeri Beruang Merah itu cuma merespon secara dingin atas ultimatum yang dibuat oleh 23 kubu teroris pemberontak itu.

Rusia malah menyebut ultimatum 48 jam tersebut selaku usaha kelompok-kelompok teroris di Suriah untuk menyalahkan pemerintah Suriah sebab terus terjadinya pelanggaran gencatan senjata oleh kedua pihak berseteru di negara tersebut.

Posisi kubu teroris atau pemberontak Suriah terus terdesak pada akhir-akhir ini sehingga mereka mempergunakan strategi apapun yang akan sanggup menolongnya supaya selamat dari kejaran pasukan pemerintah Suriah. Padahal problem pelanggaran gencatan senjata senantiasa diawali oleh pihak teroris dan pemberontak.

“Kami menganggap pernyataan pemimpin kubu oposisi dan kubu yang bertindak di bawah nama mereka pada tanggal 22 Mei 2016 selaku usaha untuk melemparkan tanggung jawab cuma untuk pelanggaran rezim sehingga minta penyetopan permusuhan ke pasukan pemerintah,” kata kepala pusat Rusia untuk Rekonsiliasi di Suriah, Letjen. Sergey Kuralenko, seperti dikutip Russia Today pada Selasa (24/5).

Loading...
loading...

Pemberontak Suriah dan kelompok-kelompok teroris, seperti dikabarkan sebelumnya, sudah memberikan ultimatum 48 jam kpd AS dan Rusia. Kaum teroris dan pemberontak Suriah memberikan waktu 48 jam kpd AS dan Rusia untuk mendesak rezim Bashar al-Assad supaya menghentikan serbuan udara ke wilayah yang dikuasai kubu teroris di Suriah.

Sementara itu, di kesempatan yang sama Kuralenko juga mendesak Amerika Serikat (AS) untuk mempergunakan pengaruhnya kepada pemberontak Suriah supaya mentaati gencatan senjata atau yang disebut juga dengan ‘penyetopan permusuhan‘ di Suriah.

Loading...

“Sekali lagi, kami meminta dari sisi Amerika untuk meneruskan usaha dengan unit oposisi moderat supaya memotivasi mereka berkoalisi dengan rezim menjaga gencatan senjata, menyediakan data yang tepat mengenai wilayah yang mereka kontrol dan mundur dari wilayah yang dikuasi oleh Front al-Nusra atau kubu teroris lainnya,” pungkasnya.  (al/esn/sn)
dibaca 1.066x

 

loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :