Jangan Asal Memberikan Gelar Ulama, Ini Kriteria-Kriteria Seorang Ulama

Subhanallah, Kang Sandiaga Uno

Jangan Asal Memberikan Gelar Ulama, Ini Kriteria-Kriteria Seorang Ulama


Semenjak awal perkembangannya, Islam sudah mempunyai atribut atau gelar untuk orang-orang yang berdakwah dan mengajarkan agama Islam ke warga. Gelar yang begitu sakral dalam Islam dan cuma berhak disandang oleh orang-orang yang sungguh-sungguh Ada pada makam tersebut ialah gelar ulama.

Kata ulama berasal dari bahasa Arab (علماء) yang Adalah bentuk jamak dari kata عليم, yang mempunyai arti orang yang berilmu atau orang yang mengetahui. Ulama dalam Islam ialah pewaris para nabi, sebagaimana hadis Rosulullah SAW yang diriwatkan oleh Imam Bukhori;

 إن العلماء هم ورثة الأنبياء .

Ulama ialah gelar tertinggi dalam Islam, walaupun secara bahasa dia bermakna umum, yaitu orang yang mengetahui. Tapi secara istilah, ulama mempunyai sebuah definisi yang begitu ketat dan tidak dapat diberikan ke sembarang orang. Ulama ialah pelita dipermukaan bumi ini, selaku pemegang estafet kepemimpinan para Nabi, yaitu dalam menyampaikan kebenaran ke manusia sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT.

Dalam Tafsir fi Dzilali Al-Qur’an karya Sayyid Qutb, ulama ialah orang-orang yang memikirkan dan memahami apa yang terkandung dalam Al-Qur’an “(العلماء هم الذين يتدبرون الكتاب العجيب (القرأن”.

Dalam artian, ulama ialah orang yang menguasai segala keilmuan yang Ada dalam Islam, sehingga sanggup memahami dan menggali apa yang terkandung dalam Al-Qur’an dan juga Hadis. Baik itu dari aspek hukum, hikmah, sejarah dan lainnya.

Tapi selain itu, ulama juga bukan cuma seorang yang mempunyai kesanggupan untuk memahami apa yang ada dalam 2 sumber Inti dari ajaran agama Islam yang dibawa Nabi Saw, Al-Qur’an dan hadis, tetapi juga mesti mempunyai rasa takut ke Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Faathir ayat 28;

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ، إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ، إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ.

Dan seperti ini (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut ke Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun(.

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, mengambil pandangan atau tafsiran dari Hasan al-Bashri. Menjelaskan;

العالم من خشي الرحمن بالغيب ورغب فيما رغب الله فيه وزهد فيما سخط الله فيه

Loading...
loading...

Bahwasanya orang alim (ulama) ialah orang yang takut ke Allah SWT yang tidak kelihatan, dan suka ke yang disenangi oleh Allah SWT serta meninggalkan apa yang dibenci oleh Allah SWT.

Dari penjelasan tersebut, dapat difahami bahwasanya seorang ulama selain menguasai ilmu agama yang mendalam, juga mesti mempunyai akhlak yang terpuji dan rasa takut ke Allah SWT.

Lebih detail, Prof. M Quraish Shihab dalam tafsirnya Al-Misbah, menjelaskan bahwa ulama ialah seseorang yang mengetahui baik dengan ilmu agama ataupun fenomena alam, sehingga dengan pengetahuannya mengantarkan dirinya khasyah (takut) ke Allah SWT.

Khasyah dalam artian rasa takut yang disertai penghormatan yang lahir akibat pengetahuan mengenai hal objek, sebagaimana yang diungkapkan oleh ar-Raghib al-Asfahani dalam kitabnya Mu’jam Mufradat al-Fadz Al-Qur’an. Orang yang mempunyai sifat tersebut ialah seorang ulama, sedangkan orang yang tidak memilikinya bukanlah seorang ulama.

Kenapa yang mempunyai sifat tersebut cuma ulama? Sebab seorang ulama tentu saja mengetahui dan menguasai ilmu fikih, tafsir, tauhid, tasawuf, hadis dan bermacam keilmuan lainnya, seperti nahwu, shorof, bahkan juga ilmu-ilmu yang bersifat umum. Dengan pengetahuannya itu, bisa memunculkan rasa takut ke Allah SWT, serta menimbulkan perbuatan-perbuatan baik yang dilaksanakan oleh ulama tersebut, sebab merasa senantiasa diawasi oleh Allah SWT.

menurut penjelasan di atas, ada 4 hal yang dijadikan kriteria apakah seseorang dapat termasuk kategori ulama.

Ke-1, dia mempunyai pengetahuan yang terang kepada agama, kitab suci, dan ayat-ayat atau tanda-tanda kekuasan Allah SWT yang ada di bumi dan alam semesta ini.

Ke-2, pengetahuan tersebut mengatarkannya mempunyai rasa khasyah (takut) ke Allah SWT.

Ketiga, mempunyai kedudukan selaku pewaris para Nabi, dengan sanggup mengemban tugas-tugas selaku seorang yang menyebarkan ajaran-ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW, dengan benar sesuai perintah Allah SWT.

Ke-4, mempunyai kedudukan yang tinggi disisi Allah SWT.

Jadi gelar ulama bukanlah gelar yang bisa didapatkan dengan mudah apalagi murah, cuma dengan kumpul-kumpul sebuah perkumpulan yang mengatasnamakan selaku perkumpulan ulama. Pemberian gelar ulama bagi seseorang, mesti mempuyai kriteria sebagaimana yang dirumuskan di atas.

Seorang yang pemikir atau cendekiawan atau intelektual, bahkan hukama’ (ahli hukum) belum tentu disebut selaku ulama. Tetapi akhir-akhir ini, gelar ulama kok begitu mudah dan murahnya disematkan ke seorang yang tidak memenuhi kriteria dan pantas dinilai selaku ulama.

Pemberian gelar ulama yang begitu sakral yang tidak pada tempatnya, dan cuma didasari egosentrisme politik. Bahkan cuma tengah mempertontonkan sebuah kekonyolan, dalam memahami sebuah agama.

Wallahu A’lam.

Loading...

Source by Ahmad Naufal

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

KOLOM KOMENTAR ANDA :