Jangan Anggap Sama Khalifah dengan Khilafah

Jangan Anggap Sama Khalifah dengan Khilafah. Ini Meluruskan Felix Siauw yang Anggap Sama Khalifah dengan Khilafah. “Dengan perjuangkan khilafah, kami ingin menghormati umat Islam yang selalu menyebut khilafah di dalam doa sholat tarawih seperti kholifah Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali.”

Kalimat di atas saya perhatikan selalu diulang Felix Shiauw dan terakhir ditegaskan oleh Ust. Muhammad al-Khatthat pada tayangan ILC.

Di dalam tulisan ini saya ingin mengklarifikasi pernyataan di atas oleh tokoh HTI tersebut.

  1. Bahwa penyebutan kata yang sering dibaca kebanyakan umat Islam di Indonesia di dalam doa sholat tarawih bukan “khilafah” akan tetapi “khalifah”.

  2. Penyebutan kata “khalifah” di situ tidak dimaksudkan sebagai ungkapan keinginan umat untuk mendirikan khilafah.

  3. Konteks penggunaan kata “khalifah” di dalam doa sholat tarawih itu adalah penghormatan atas kedudukan mereka di sisi Rasulullah sholla Allahu alayhi wa sallam.

  4. Keempat nama sahabat yang disebut di dalam doa sholat tarawih itu, oleh para sahabat pada masanya dianggap sebagai “khalifah” (penerus) tugas dan misi Rasulullah di bidang agama walaupun secara faktual mereka adalah pemimpin negara.

  5. Meskipun demikian, Umar ibnu al-Khatthab pernah menolak sebutan khalifah bagi dirinya karena merasa tidak pantas. Umar mengatakan bahwa Abu Bakar yang pantas disebut sebagai “khalifah” karena beliau yang ditunjuk langsung oleh Rasulullah menjadi imam sholat, sebagaimana disebut di dalam riwayat Aisyah.

Umar menyarankan agar dirinya dipanggil dengan sebutan “amir ul-mu’minin” pemimpin orang-orang yang beriman. Sebutan “amir” bagi orang Arab adalah sebutan biasa bagi orang yang memimpin satu rombongan termasuk rombongan perjalanan.

  1. Menarik makna sebutan “khalifah” di dalam bacaan sholat Tarawih ke ranah perjuangan politik penegakan khilafah itu sangat terkesan dipaksakan.

  2. Padahal konteks bacaan itu di dalam doa sholat tarawih adalah tawassul dan tabarruk, bukan siyasah atau politik.

  3. Argumentasi di atas menjadi lebih kuat lagi jika dipadukan dengan hadits riwayat Ahmad yang menyebutkan ke-khalifah-an –dalam makna upaya meneruskan misi Rasulullah itu– hanya berlangsung selama 30 tahun.

Wallahu a’lam bis showab


Dishare dari Pangersa Ajengan Abdi Kurnia Djohan

You might like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.