Jakarta Declaration, Sikap Joko Widodo dan Boikot Israel

Jakarta Declaration pada prinsipnya menentang penjajahan Israel atas Tanah Air Palestina, langkah kongkritnya ialah boikot Israel, ke kemerkdeaan Palestina …

 

 

Islam-Institute, JAKARTA – Bagian penulis muda Husein Ja’far Al Hadar di bagian media Nasional GeoTimes memberikan analisanya mengenai hal sikap Joko Widodo dan Boikot Israel.

Negeri ini dibangun oleh founding fathers di atas pondasi nilai-nilai kebaikan universal: perdamaian, kemanusiaan, kemerdekaan, dan lain-lain. Negeri ini, seperti dikatakan Bung Karno, bukan negeri Islam sontoloyo, yang bagian cirinya, seperti ditulis dalam Surat-surat Islam dari Endeh (1930-an), royal dan hobi mencap kafir. Sebab itu, negeri ini menginisiasi lahirnya Deklarasi Bogor 2007 yang pada poinnya mendukung keberislaman yang rahmat: moderat, toleran, dan bersatu.

Negeri ini juga, seperti tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 mengumumkan, “bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh karena itu, maka penjajahan di atas dunia mesti dihapuskan sebab ndak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Sebab itu, meski mendadak dan karenanya cuma mempunyai waktu dan persiapan singkat, Presiden Jokowi mau dan sigap jadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa OKI menggantikan Maroko. Dan akhirnya melahirkan “Jakarta Declaration” yang pada prinsipnya menentang penjajahan Israel atas Tanah Air Palestina dan mendukung rencana aksi konkret para pemimpin OKI untuk penyelesaian krisis Palestina dan Al-Quds.

Mendukung rencana aksi konkret itu jadi poin penting sebab berbagai perjanjian damai, deklarasi, dan konferensi untuk kemerdekaan Palestina telah sering dilaksanakan semenjak dulu. Akan tetapi hasilnya nihil, lantaran sifatnya sering tampak seremonial normatif saja. Enggak ada aksi konkret. Karenananya, ia cuma jadi semacam prasasti komitmen belaka.

Bagian poin terpenting dari langkah konkret yang diinisiasi Indonesia ialah pemboikotan Israel. “Penguatan tekanan ke Israel, termasuk boikot kepada produk Israel yang dihasilkan di wilayah pendudukan (Palestina),” ujar Presiden Joko Widodo dalam pidato penutup KTT Luar Biasa OKI di Jakarta.

“Dunia Islam mendukung warga internasional untuk mencegah masuknya produk Israel dan seluruh negara mengumumkan kembali komitmen untuk menjaga Al-Quds Al-sharif, antara lain dengan sokongan finansial untuk Al-Quds,” lanjut Presiden Joko Widodo dalam Konferensi Pers di Ruang Cendrawasih di JCC, Jakarta.

Poin itu masih berada pada tatanan komitmen, dan kita menanti sembari bersiap atas “kerja” boikot tersebut. Akan tetapi, yang terang, boikot memang bagian langkah konkret strategis untuk menekan Israel. alasannya, telah jamak diketahui bahwa kontribusi bagian ekonomi dan bisnis pada aksi penjajahan Israel atas Palestina begitu besar.

Pada hari “lahir” Israel ke-50 (14 Oktober 1998), misalnya, Israel di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Benyamin Netanyahu waktu itu sampai memberi penghargaan agung “Jubilee Awards” ke tokoh-tokoh serta perusahaan-perusahaan ekonomi-bisnis yang sudah menyokong power ekonomi-militer Israel melalui investasi serta hubungan perdagangan.

Komitmen boikot tersebut secara ndak langsung juga strategis untuk memberikan pendidikan konkret dalam membangun kemandirian ekonomi Indonesia sesuai cita-cita Trisakti Bung Karno dan Nawa Cita Joko Widodo. alasannya, sebagaimana ditulis dalam ulasan di Harian Times of Israel pada Senin (8/3) lalu menjawab komitmen Presiden Joko Widodo tersebut, jurnalis Israel David Shamah menyebut Indonesia selaku negara berkembang berkemungkinan besar besar dalam memerlukan sentuhan teknologi buatan Israel bagi negaranya, khususnya dalam teknologi.

Apalagi Kepala Asosiasi Perdagangan Internasional (FTA) dari Kementerian Ekonomi, Ohad Cohen, menyebutkan Indonesia dan Israel merupakan kawan lama di bidang bisnis. Bahkan, hubungan dagang antara kedua negara mencapai ratusan juta dolar per tahun. Padahal, kalau mau dan serius, kita mempunyai aset generasi unggul di bidang teknologi yang siap mengisi pondasi kemandirian bangsa di bidang teknologi, juga berbagai bidang lain. Di sisi lain, itu artinya boikot dan tekanan telak bagi Israel.

Bagian power utama ekonomi dan bisnis Israel memang pada bidang teknologi: pesan instan, pesan suara, teknologi internet sampai nano-teknologi, dan teknologi angkatan bersenjata. Dalam satu dekade ini, Israel terus jadi magnet bagi modal ventura yang sudah membantu industri teknologi tumbuh di sana.

Pada tahun 2009, biaya ventura Israel diperkirakan mencapai 1 miliar dolar AS. Sementara itu, Dow Jones Venture Source mengabarkan, meski di tengah krisis dan keterbatasan, pemilik modal seluruh dunia menginvestasikan hampir 904 juta dolar AS ke Israel dalam sembilan bulan pertama tahun 2010.

Adapun perusahaan Cina menarik kisaran 2 miliar dolar AS pada periode yang sama dan perusahaan India menarik 710 juta dolar AS. Padahal, Cina dan India ialah power ekonomi terbesar penguasa pasar Asia. Maka, enggak keterlaluan kalau Adam Fisher, mitra Israel dari Bessemer Venture Partners AS, memprediksikan Israel akan jadi penguasa pasar Asia baru menyalip India dan bersaing dengan Cina dalam kurun waktu dua dekade ke depan. Menakutkan bukan?!

Menurut data Pusat Kajian Komunikasi (PUSKAKOM) UI per 14 April 2015, pengguna teknologi internet saja di Indonesia mencapai 88,1 juta pengguna. Adapun data pengguna internet aktif di seluruh dunia versi We Are Social per Agustus 2015 mencapai angka 3,17 miliar dengan pertumbuhan per tahun 7,6 %. Indonesia ialah bagian negara dengan pengguna internet terbesar di dunia bareng negara-negara Asia lain yang lantas menempatkannya jadi benua dengan pengguna internet terbesar di dunia.

Itu seluruh masih di tingkat teknologi, belum produk (Israel secara langsung maupun enggak langsung) yang membanjiri pasar kita serta keputusan strategi yang sudah menghegemoni nyaris seluruh keputusan strategi politik di negara-negara sekutu AS. Maka, boikot ialah langkah konkret strategis. Apalagi, kalau kerja boikot dilaksanakan oleh seluruh elemen bangsa ini, bareng warga dan pemerintah negara-negara OKI, serta rival-rival politik Israel dan AS di Timur Tengah, Asia, Amerika Latin, dan Afrika.

sesudah pernyataan keras Presiden Joko Widodo itu, muncul kontroversi dalam penafsiran atas ajakan boikot tersebut. Juru Bicara Kepresidenan menyebut bahwa yang dimaksud Joko Widodo bukanlah boikot barang atau produk, melainkan keputusan strategi Israel di tanah Palestina. Adapun pihak Kementerian Luar Negeri Indonesia menerangkan maksud pernyataan Presiden Joko Widodo itu mengajak OKI memboikot seluruh produk yang berasal dari wilayah pendudukan Israel.

Alhasil, usaha ini perlu keputusan strategi konkret teknis lanjutan, misalnya menutup akses masuk bagi seluruh produk yang dimaksud. Sesuatu yang lebih soft sesungguhnya juga sudah dilaksanakan Uni Eropa semenjak 2015 yang setuju mengesahkan sebuah guideline yang mengharuskan produk yang berasal dari wilayah pendudukan Israel diberikan label “Israeli settlement”. Dengan sedemikian, masyarakatnya tahu dan mereka mempunyai pilihan untuk memboikotnya atau ndak sesuai perhatian atau ketidakpedulian mereka pada Palestina.

Akan tetapi, terlepas dari itu, yang terang menurut saya, di tingkat kita selaku rakyat sepatutnya mengambil ide utama pernyataan tersebut: “Boikot. Titik!” Kalau pemerintah, dengan pertimbangan diplomatis, taktis, dan keterikatan normatif membikin mereka secara teknis cuma melaksanakan pemboikotan terbatas, kita enggak perlu mesti terjebak pada teknis semacam itu. Enggak ada ikatan apa pun yang mengikat kita selaku masyarakat negara yang merdeka.

Satu-satunya ikatan kita malah ikatan empatik dengan rakyat Palestina atas berbagai pertimbangan: kemanusiaan universal, solidaritas muslim, atau balas budi atas sokongan Palestina di hari terdepan dan terawal dalam kemerdekaan bangsa ini secara de facto.

Walau tentu kita menyadari begitu kuatnya cengkraman produk Israel dalam kebutuhan kita sehari-hari, terlebih berhubungan dengan dunia internet.

Sebab itu, boikot Israel yang kita lakukan haruslah smart. Dalam artian, pilihan kita ialah memboikot seluruh produk Israel yang masih dapat kita dapatkan alternatifnya secara mumpuni sembari terus mengupayakan kemandirian kita, dan selebihnya menjadikan produk-produk Israel selaku senjata untuk menyerbu balik Israel, seperti mengkampanyekan solidaritas Palestina melalui internet atau media sosial yang kebanyakan berafiliasi pada kepentingan Israel.

Maka, pilihannya ialah kalau kita enggak dapat memboikot produknya, kita memboikot fungsi produk itu sehingga jadi senjata makan tuan bagi Israel. Tentu, butuh kesadaran, kecerdasan, kesabaran, dan keikhlasan untuk itu. Dalam catatan sejarah, Turki dan Arab Saudi pernah gagal melakukan gerakan semacam ini. Kita enggak ingin mengulang itu.

Akhirnya, kalau masih ada yang menanyakan, apakah usaha boikot kepada kepentingan-kepentingan serta produk-produk Israel itu sungguh-sungguh efektif selaku sikap konkret atas solidaritas sosial-kemanusiaan publik Indonesia kepada Palestina serta usaha menekan Israel?

Coba Anda menanyakan pada Mahatma Gandhi, pejuang India, yang di tahun 1920 sudah sukses melepaskan tanah airnya dari jeratan politik-militer Inggris melalui program boikot bernama “swadesi”.

Sumber: GeoTimes

 

You might like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.