Jadilah NU Murni Jangan Jadi NU Nano-nano

Website Islam Institute
Loading...

Jadilah NU Murni Jangan Jadi NU Nano-nano. Menjadi Nahdhiyyin Murni atau Nahdliyyin Kaffah, menurut istilah Ahmad Tsauri, maksudnya yaitu manjadi Nahdhiyyin yang bukan rasa nano-nano, ada rasa Wahabi, PKS, apalagi rasa HTI.

Kali ini kami sajikan tulisan menarik yang ditulis di DutaIslamdotcom yg mengulas tulisan Ahmad Tsauri, alumni Lirboyo dan murid Maulana Habib Lutfi bin Yahya. Dia mecatat seperti di bawah ini:

“… Kita pun akan amat sulit mengerjakan gerakan riil apabilai  generasi muda NU sendiri tak begitu faham pemikiran, ajaran, kearifan, filosofi dan NU secara epistemologis. NU tak lebih dari sebatas label. Jadi tak usah heran bila ada NU rasa Wahabi, NU rasa HTI, NU rasa PKS, NU rasa Arab, dll…

Kalau NU merupakan proses pelembagaan kebijaksanaan Islam Indonesia yang mengakomodir otentisitas sekaligus lokalitas maka NU sekian beberapa rasa itu tak lagi NU. Melestarikan paham NU sama dengan mengawal keutuhan NKRI…..”

Duta Islam mengulasnya selaku berikut:

Setuju dengan Tsauri, jadi nahdliyin tersebut tak mudah. Jangan kira jikalau engkau tahlilan, maulid, manaqiban, engkau telah jadi NU. Maka itu, seluruh ulama NU menambahkan kata an-nahdliyah sesudah ahlussunah wal jama’ah. Ini untuk memisahkan  Aswaja NU dengan Aswaja beberapa rasa yang disebutkan Tsauri di atas.

Pengertian Aswaja An-Nahdliyah tak cuma meliputi aspek amaliah, yaitu mengikuti bagian dari mazhab 4 dalam fiqh, Al-Asy’ari dan Al-Maturidi dalam akidah, dan Al-Junaid dan Al Ghazali dalam tasawuf, tapi pun meliputi sikap hidup (ideologi) yang terangkum dalam: tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang, proporsional). 3 prinsip ini jadi landasan NU dalam menyikapi sekian beberapa persoalan: kebangsaan, politik, sosial, ekonomi, budaya.

Dalam politik, garis politik NU ialah politik kebangsaan. Hadrotussyekh Hasyim Asy’ari mengatakan dengan tegas, nasionalisme dan agama enggak dapat dipisahkan, dua-duanya saling menguatkan. “Agama saja saja tanpa nasionalisme enggak sanggup menyatukan bangsa, adapun nasionalisme tanpa agama akan kering nilai-nilai” seperti ini yang sering dikatakan oleh KH. Said Aqil Siradj, ketum PBNU. Inilah sikap tawazun (seimbang) NU dalam politik.

loading...

Jadi NU Murni dan Kaffah akan difitnah sampai panas telinga

Sikap ini bukan tanpa resiko. Resikonya NU difitnah dengan sekian beberapa macam dakwaan yang memanaskan telinga. Ingat, tahun 1965 waktu NU menyimpulkan untuk berkoalisi dengan gabungan NASAKOM, tujuannya ialah untuk mengimbangi power PKI di pemerintahan, KH. Wahab Hasbullah dinyinyiri oleh Masyumi.

Beliau difitnah selaku antek PKI, tergila-gila jabatan, gila uang, dan tuduhan-tuduhan keji lainnya. Bahkan seorang figur Masyumi dengan sarat kebencian berkata, “kalau kepala Kyai Wahab dibelah, maka isinya ialah palu arit….”

Apa reaksi Kyai Wahab? Cuek. Mungkin Mbah Wahab dalam kesendiriannya berkata, “Biarlah sejarah yang bakal membuktikan….” Dan sejarah memang telah membuktikannya, bahwa perbuatan Mbah Wahab benar. Kebalikannya, Masyumi yang dibubarkan  oleh Sukarno.

Keadaan sekarang ini agak-agak serupa dengan tahun 65-an. Tokoh-tokoh NU difitnah, dibully dimedsos, dan terang-terangan dicela, dimaki. Boleh jadi sejarah pun bakal berulang, mengenai siapa yang bakal dibubarkan.

Politik kebangsaan yang diangkat oleh NU pun mengatakan dengan tegas bahwa NU menampik ideologi khilafah dan turunannya. Semacam NKRI bersyari’ah yang diusahakan oleh FPI dan kawan-kawannya.

NU menampik dakwah dengan cara-cara radikal (radikal perkataan dan tindakan) dan revolusioner, karena berkemungkinan besar menggangu keutuhan bangsa. Cara-cara seperti ini berkemungkinan besar memunculkan perpecahan bangsa, karena pasti bakal memperoleh perlawanan dari kumpulan kubu nasionalis dan non muslim. Kaidah fiqh-nya, “Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada memungut kemaslahatan”.

Alhasil, maka jadilah NU Murni dan kaffah, jadilah nahdhiyyin kaffah. Jangan NU separuh. Separuh wahabi, separuh HTI, setengah PKS, lebih-lebih setengah gila, hehe… Caranya dengan mengetahui dan mempelajari sejarah NU, Aswaja An-Nahdliyah, Nilai Dasar dan Perjuangan NU, ideologi NU, garis politik dan keputusan strategi NU, serta profil dan kiprah kiai-kiai dan tokoh-tokoh NU yang telah memberi warna dalam sejarah perjalanan bangsa ini. (al)

loading...

(Artikel ini telah terbit di sejumlah media, seperti forum detik, arrahmah.co.id, nahdliyin.id, muslimoderat, dan lain-lain. Kami persembahkan lagi di sini, karena tulisan tetap relevan dengan situasi dan keadaan keindonesiaan sekarang ini.)
Source

Loading...

You might like

About the Author: admin

2 Comments

KOLOM KOMENTAR ANDA :