Kaum Wahabi Adalah Pengikut Dzul Khuwaishirah at-Tamimi

Perpecahan Salafy Wahabi Akibat Ajaran Sesat

Investigasi Hadits: Kaum Wahabi Adalah Pengikut Manhaj Dzul Khuwaishirah at-Tamimi

Ciri-cirinya Menurut Nabi: Mereka Selalu Mengajak Kembali Kepada Al-Quran

Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang membagi-bagikan pembagian(harta), datang Dzul Khuwaishirah, seorang laki-laki dari Bani Tamim, lalu berkata; Wahai Rasulullah, tolong engkau berlaku adil. Maka beliau berkata: Celaka kamu!. Siapa yang bisa berbuat adil kalau aku saja tidak bisa berbuat adil.

Kemudian ‘Umar berkata; Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk memenggal batang lehernya!. Beliau berkata: Biarkanlah dia. Karena dia nanti akan memiliki teman-teman yang salah seorang dari kalian memandang remeh shalatnya dibanding shalat mereka, puasanya dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an namun tidak sampai ke tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari hewan buruannya. Kemudian dilihat mata tombaknya dan tidak didapati apa-apa, kemudian dilihat ikatan yang ada di atas mata tombaknya, dan tidak didapati apa-apa. Kemudian dilihat kayu panahnya dan tidak didapati apa-apa, kemudian dilihat bulu panahnya dan tidak didapati apa-apa.

Ciri-ciri mereka adalah laki-laki berkulit hitam yang salah satu dari dua lengan atasnya bagaikan payudara wanita atau bagaikan potongan daging yang bergerak-gerak. Mereka akan muncul pada zaman timbulnya firqah/golongan. Abu Sa’id berkata, Aku bersaksi bahwa aku mendengar hadits ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan aku bersaksi bahwa ‘Ali bin Abu Thalib telah memerangi mereka dan aku bersamanya saat itu lalu dia memerintahkan untuk mencari seseorang yang bersembunyi lalu orang itu didapatkan dan dihadirkan hingga aku dapat melihatnya persis seperti yang dijelaskan ciri-cirinya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “. (HR Bukhari 3341)

Dari hadits ini, kita dapat pahami bahwa tokoh awal yang keluar dari Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam adalah Dzul Khuwaishirah at-Tamimi yang berasal dari Najd dan tinggal di sana. Kemudian dari generasi keturunannya atau pengikutnya, akan muncul kelompok yang Nabi sifati dengan sifat-sifat di atas yaitu: sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah, senantiasa membaca Al-Quran namun semua itu tidak membekas dalam hatinya dan lepas dari agama sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya dan karena sangat cepat dan kuatnya tarikan sipemanah hingga tidak membekas sedikitpun dari darah atau daging buruannya, artinya mereka lepas dari agama Islam dan tidak membawa sedikitpun darinya.

Mereka inilah kaum Khawarij yang akan terus berlanjut hingga masa fitnah dajjal dan awal perbuatan buruk yang mereka lakukan adalah membunuh imam Ali Radhiallahu ‘anhu wa ‘an ashaabi Rasulillah ajma’iin.

Imam Al-Khoththabi berkomentar :

الضئضئ الأصل يريد أنه يخرج من نسله الذين هو أصلهم أو يخرج من أصحابه وأتباعه الذين يقتدون به ويبنون رأيهم ومذهبهم على أصل قوله

“ Makna dhidhi’ adalah asal. Nabi bermaksud bahwa akan keluar dari keturunannya orang-orang yang dia (Dzul Khuwaishirah) menjadi bibit awal mereka, atau akan keluar dari sahabatnya atau pengikutnya yang mengikutinya dan membangun pemikiran dan madzhabnya atas dasar asal ucapannya “. selesai.
=========

Di Antara Kaum yang Mengikuti Manhaj Dzul Khuwaishirah at-Tamimi Tersebut Adalah Kaum Wahabi, Kenapa ?

Sebab Rasulullah Saw telah menginformasikan sifat dan ciri-ciri mereka :

1. Kemunculan mereka dari arah Timur kota Madinah tepatnya dari kota Najd Saudi Arabia :
Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من ها هنا جاءت الفتن ، نحو المشرق ، والجفاء وغلظ القلوب في الفدادين أهل الوبر ، عند أصول أذناب الإبل والبقر ، في ربيعة ومضر

“Dari sinilah fitnah-fitnah akan bermunculan, dari arah Timur, dan sifat kasar juga kerasnya hati pada orang-orang yang sibuk mengurus onta dan sapi, kaum Baduwi yaitu pada kaum Rabi’ah dan Mudhar “. (HR. Bukhari)
Suku Rabi’ah dan Mudhar sudah jelas berada di Najd…
2. Sering membawakan hadits-hadits Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dan juga ayat-ayat Al-Qur’an ;
Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda ;

سيخرج في آخر الزمان قوم أحداث الأسنان سفهاء الأحلام يقولون قول خير البرية يقرؤون القرآن لا يجاوز حناجرهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية ، فإذا لقيتموهم فاقتلوهم ، فإن قتلهم أجراً لمن قتلهم عند الله يوم القيامة

“ Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda, berucap dengan ucapan sbeaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya, maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena memerangi mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “.(HR. Imam Bukhari : 3342)
3. Mereka selalu mengajak kembali kepada Al-Quran.

يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِى شَىْءٍ مَنْ قَاتَلَهُمْ كَانَ أَوْلَى بِاللَّهِ مِنْهُمْ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا سِيمَاهُمْ قَالَ : التَّحْلِيقُ .

” Mereka mengajak pada kitab Allah tetapi justru mereka tidak mendapat bagian sedikitpun dari Al-Quran. Barangsiapa yang memerangi mereka, maka orang yang memerangi lebih baik di sisi Allah dari mereka “, para sahabat bertanya “ Wahai Rasul Allah, apa cirri khas mereka? Rasul menjawab “ Bercukur gundul “.
(Sunan Abu Daud : 4765)
4. Berusia muda dan lemahnya akal. Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda ;

سيخرج في آخر الزمان قوم أحداث الأسنان سفهاء الأحلام يقولون قول خير البرية يقرؤون القرآن لا يجاوز حناجرهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية ، فإذا لقيتموهم فاقتلوهم ، فإن قتلهم أجراً لمن قتلهم عند الله يوم القيامة

“ Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda, berucap dengan ucapan sbeaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya, maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena memerangi mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “.(HR. Imam Bukhari 3342)
5. Bercukur gundul. Cirri khas ini merupakan cirri khas yang sangat menonjol bagi mereka dan merupakan penetapan dan penentuan dari Nabi shallahu ‘alaihi terhadap kelompok wahabi saat awal kemunculannya. Karena tidak ada satupun kelompok ahlul bid’ah yang melakukan kebiasaan itu selain kelompok wahabi ini.

يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِى شَىْءٍ مَنْ قَاتَلَهُمْ كَانَ أَوْلَى بِاللَّهِ مِنْهُمْ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا سِيمَاهُمْ قَالَ : التَّحْلِيقُ .

” Mereka mengajak pada kitab Allah tetapi justru mereka tidak mendapat bagian sedikitpun dari Al-Quran. Barangsiapa yang memerangi mereka, maka orang yang memerangi lebih baik di sisi Allah dari mereka “, para sahabat bertanya “ Wahai Rasul Allah, apa cirri khas mereka? Rasul menjawab “ Bercukur gundul “.
(Sunan Abu Daud : 4765)
6. Mereka akan bersama dajjal di dalam menyebarkan fitnah terhadap kaum muslimin :
Rasul juga memberitahukan pada kita bahwa generasi mereka akan terus ada sampai akhir zaman dan sampai mereka menjadi pengikut dajjal.
Dalam riwayat lainnya, Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يخرج ناس من المشرق يقرؤن القران لا يجاوز تراقيهم كلما قطع قرن نشأ قرن حتى يكون آخرهم مع المسيخ الدجال

“ Akan muncul sekelompok manusia dari arah Timur, yang membaca al-Quran namun tidak melewati tenggorokan mereka. Tiap kali Qarn (kurun / generasi) mereka putus, maka muncul generasi berikutnya hingga generasi akhir mereka akan bersama dajjal “ (Diriwayatkan imam Thabrani di dalam Al-Kabirnya, imam imam Abu Nu’aim di dalam Hilyahnya dan imam Ahmad di dalam musnadnya)
Ketika sayyidina Ali dan para pengikutnya selesai berperang di Nahrawain, seseorang berkata :

الحمد لله الذي أبادهم وأراحنا منهم

“ Alhamdulillah yang telah membinasakan mereka dan mengistirahatkan kita dari mereka “, maka sayyidina Ali menyautinya :

كلا والذي نفسي بيده إن منهم لمن هو في أصلاب الرجال لم تحمله النساء وليكونن آخرهم مع المسيح الدجال

“ Sungguh tidak demikian, demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya akan ada keturunan dari mereka yang masih berada di sulbi-sulbi ayahnya dan kelak keturunan akhir mereka akan bersama dajjal “.

Kenapa wahabi bisa menjadi pengikut dajjal? Nantikan pemaparannya dalam buku yang akan segera terbit Insya Allah…

Investigator: Ibnu Abdillah Al-Katibiy

You might like

About the Author: admin

497 Comments

  1. mas ardana putra basuki, sekarang saya balik tanya kepada anda
    dengan apa anda akan menghidupkan agama Alloh ?
    dengan apa anda akan menta’ati perintah Alloh ?
    dengan apa anda akan memulyakan nabi pembawa kebenaran ?
    bagaimana sikap anda ketika ulama2 kami dituduh sesat, ahli bid’ah, kurofat dll… ??
    dan menurut anda kesimpulan dari dawuh imam ghozali itu apa ?
    silahkan dijawab dengan lugas dan penuh makna.. terus terang saya belum mengerti apa maksud dari ” dawuh imam ghozali tersebut” dan saya minta anda mencantumkan teks arabnya.. apa benar kandungan dawuh tersebut sesuai dengan pemahaman tulisan anda..

  2. maaf untuk semua saudara saudaraku.. komen yg aku tulis itu adalah perkataan imam ghozali dlm kitap iqya ulumudin.. sengaja aku tak kasih keterangan penulisnya.. bukanya aku ingin mengetahui seberapa besar anda mengenal agama . seharusnya untuk saudara saudara semua baca dengan teliti apa yg telah aku komenkan.. dan knp aku memasukan komen itu… ( perenungan) apa yg di perintahkan Allah untuk anda semua.. menyebarkan agama Allah apa menyebarkan organisasi kalian.. lebih sering membicarakan kaegungan Allah apa lebih sering menunjukan kepandaiaan kalian ..?
    mungkin ini bisa jadi perenungan untuk kita semua…

    1. Bismillah,
      Maaf mas ardana@, sekedar koreksi translit anda :

      kitap iqya ulumudin

      tulisan arabnya adalah : كتاب إحياء علوم الدين kalo ditranslit dengan ejaan yang mendekati menjadi : Kitab Ihya’ ‘Ulumiddiin

  3. @mas ardana putra basuki
    maksud anda apa?? jangan ngambek to…
    sampean ingin ngajak bahas ilmu apa..?? mbok bilang baik-baik..
    oke tak kasih opsi.. shorof, nahwu, balaghoh, mantiq, kalam, mustholahal hadist, atau apalah.. terserah sampean poko’e ilmu.. yang penting ojo ilmu ngawur karo ngambek… silahkan kamu pilih yang mana hayo.. jangan kayak ibnu ilyas dan ummuhasanah, yang satunya ngaku jago bahasa indonesia tapi nulis ” di atas ” saja ruwet.. yang satunya ngakunya cerdas tapi memahami kata “hampir” saja salah kaprah..
    monggo mas ARDANA PUTRA BASUKI..

  4. HAK ORANG AWAM itu hanyalah mereka harus percaya, menyerah dan mengerjakan ibadah dan penghidupan mereka dan meninggalkan ilmu yg menjadi hak para ulama…. Orang ami (tak berilmu) andaikata ia berzina atau mencuri maka perbuatan2 itulebih baik baginya dari pada ia berbicara tentang ilmu. sebab orang yg berbicara tentang Allah dan agamanya , tanpa ilmu yg sempurna, ia bisa terjerumus dalam kekufuran tanpa disadari, ia se umpama orang yg hendak mengarungi laut yg dalam padahal ia tidak tau akan cara berenang…
    di antara pintu pintu syitan ialah mengajak orang orang bodoh yg belum mempraktikan ilmu, begitu pula belum melaut ilmu mereka, untuk memikirkan zat Allah dan sifat sifatnya, begitu hal-hal yg akal mereka belum sampai kesitu, aqirnya pemikiran itu menyebabkan mereka ragu-ragu tentang pokok-pokok agama, atau syitan membukakan khyalan2 kepada mereka tentang Allah ta’ala, padahal Allah jauh maha tinggi dari apa2 yg mereka khayalkan itu, malahan dng khayalan2 itu orang akan menjadi kafir atau ahli bid’ah, sedangkan ia merasa senang dan bangga dng apa2 yg terjadi dalam hatinya,: ia menyaka bahwa hal itu adlh ma’rifat dan kecekatan batin, ia mengira bahwa hal itu telah terbuka baginya dengan kecerdasanya dan kelebihan akalnya…( PERENUNGAN )
    MANUSIA YG PALING TOLOL IALAH YG PALING KUAT KEPERCAYAANNYA KEPADA AKALNYA SENDIRI: DAN MANUSIA YG PALING KUAT AKAL NYA IALAH ORANG YG PALING MENARUH PRASANGKA KEPADA ORANG2 PANDAI (ULAMA) semoga bisa menjadi bermanfaat untuk kita semua.. AMIN

    1. ardana putra basuki@
      mBok kalo koment itu yg nyambung dg tema diskusi, biar aku bisa melihat kamu sejauh mana kepandaianmu.
      Coba antum komentari itu apa yg isampikan mas Agung.

    2. Bismillahirohmanirohim…
      Kemuliaan manusia terletak pada akalnya, fungsi akal adalah sebagai hakim, sifatnya kiriman, menimbang setiap perkara yang masuk ke pikir, melalui penglihatan, haq dan bathil, baik dan buruk, benar dan salah…
      penghalang akal adalah syaitan
      penghalang pikir adalah jinn
      penghalang hati adalah iblis
      penghalang baathin adalah idajil
      Jka manusia tidak mempunyai akal, maka derajatnya akan sama dengan hewan,
      hanya nafsu yang punya,
      kata-kata kasar anda, adalah cerminan hati anda…

  5. Ada banyak perkataan para ahli bahasa terkemuka dan para ulama dalam menyebutkan definisi tempat. Berikut ini kita kutip sebagian di antaranya:
    Ahli bahasa terkemuka (al-Lughawiy) Abul Qasim al-Husain bin Muhammad yang dikenal dengan sebutan ar-Raghib al-Ashbahani (w 502 H) berkata: “Tempat (al-Makân) menurut ahli bahasa adalah ruang yang meliputi bagi sesuatu”. (Al-Mufradat Fi Gharib al-Qur’an, h. 471)
    Al-‘Allâmah Kamaluddin Ahmad bin Hasan al-Bayyadli al-Hanafi (w 1098 H) berkata: “Tempat (al-Makân) adalah ruang yang dipenuhi oleh benda”. (Isyarat al-Maram, h. 197)
    Asy-Syaikh Yusuf bin Sa’id ash-Shafati al-Maliki (w 1193 H) menuliskan:“Ahlussunnah berkata: “Tempat adalah ruang kosong yang menyatu (berada) di dalamnya suatu benda”. (Hasyiyah ash-Shafati, Nawaqidl al-Wudlu’, h. 27)
    Al-Imâm al-Hâfizh al-Muhaddits al-Faqîh al-Lughawiy; Sayyid Muhammad Murtadla az-Zabidi al-Hanafi (w 1205 H) berkata: “Tempat (al-Makân) adalah ruang yang meliputi bagi sesuatu”. (Taj al ‘Arus, j. 9, h. 348)
    Asy-Asy-Syaikh Salamah al-Qudla’i al-‘Azami asy-Syafi’i (w 1376 H) menuliskan: “Tempat (al-Makân) adalah ruang yang ada di dalamnya suatu benda yang mencukupinya, dan arah (al-Jihah) adalah tempat tersebut”. (Furqan al-Qur’an, h. 62 (Dicetak bersama kitab al Asma’ Wa ash Shifat karya al-Bayhaqi))
    Al-Muhaddits al-Faqîh al-‘Allâmah asy-Asy-Syaikh Abdullah al-Harari yang dikenal dengan sebutan al-Habasyi berkata: “Tempat (al-Makân) adalah ruangan yang diambil oleh suatu benda”.
    Pakar bahasa Majduddin Muhammad bin Ya’qub al-Fairuzabadi (w 817 H) berkata: “al-Jihah sama dengan an-Nâhiyah (arah; puncak atau penghabisan yang kita tuju), kata jamaknya al-Jihat”. (Al Qamus al Muhith, h. 1620)
    Al-‘Allâmah asy-Syaikh Abdul Ghaniy an-Nabulsiy (w 1143 H) berkata: “Definisi al-Jihah (arah) menurut para ahli teologi adalah sama dengan tempat dengan
    melihat adanya suatu benda yang bersandar kepadanya (berada padanya)”. (Ra’ihah al Jannah Syarh Idla’ah ad Dujinnah, h. 49)
    Al-‘Allâmah asy-Syaikh Kamaluddin Ahmad bin Hasan yang dikenal dengan sebutan al-Bayyadli (w 1098 H), pernah memangku jabatan hakim wilayah kota Halab (Aleppo), berkata: “Definisi al-Jihah (arah) adalah nama bagi penghabisan dari sebuah isyarat, penghabisan tempat bagi sesuatu yang bergerak kepadanya; maka demikian dua sifat ini tidak terjadi kecuali hanya pada benda dan sifat benda saja. Itu semua adalah perkara mustahil bagi Allah”. (Isyarat al Maram, h. 197)
    Al-‘Allâmah asy-Syaikh Salamah al-Qudla’i asy-Syafi’i (w 1376 H) berkata: “Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang memiliki ukuran; -dari segala benda- yang pastilah dia itu merupakan tubuh (al-Jism), atau yang lebih kecil dari tubuh (seperti al-Jawhar al-Fard; yaitu benda yang telah sampai batas terkecil yang tidak lagi dapat dibagibagi); itu semua dengan tempat dan arah memiliki keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan. Bagi orang-orang berakal ini adalah perkara jelas yang tidak membutuhkan kepada argumen; (artinya bahwa segala benda pasti memiliki tempat dan arah), karena definisi tempat adalah suatu ruang yang berada padanya suatu benda seukuran tempat it sendiri, dan definisi arah adalah tempat itu sendiri dengan ikatan adanya penyandaran suatu benda lain kepadanya”.(Furqan al-Qur’an (dicetak bersama al Asma’ Wa ash Shifat karya al-Bayhaqi), h. 62)
    JADI, APAKAH MUNGKIN AYAT DAN HADIST MUTASYABIHAT KEMUDIAN DIARTIKAN SECARA DZAHIR DAN HAKIKAT?

  6. Di antara mukjizat besar yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam adalah Isra’ dan Mi’raj, sebuah peristiwa luar biasa yang terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia, peristiwa nyata yang telah terjadi dan kita wajib mempercayainya. Dari masjid al Haram Rasulullah memulai perjalanannya (Isra’) dengan melewati beberapa tempat bersejarah hingga akhirnya beliau sampai di masjid al Aqsha. Setelah Isra’, Rasulullah yang ditemani Malaikat Jibril melanjutkan perjalanannya menuju Sidrat al Muntaha. Perjalanan ini disebut dengan Mi’raj; perjalanan yang dimulai dari masjid al Aqsha hingga ke atas sidrat al Muntaha, ke atas langit ke tujuh.
    Tetapi, mukjizat tersebut telah disalah artikan dan di jadikan dalil oleh kaum mujassim musyabbih, untuk menetapkan bahwa Allah swt. Yang maha suci bertempat di langit.
    Al-Hâfizh al-Muhaddits al-Faqîh al-Hanafi Murtadla az-Zabidi menuliskan sebagai berikut: “Al-Imâm Qâdlî al-Qudlât Nashiruddin ibn al-Munayyir al-Iskandari al-Maliki dalam kitab al-Muntaqâ Fî Syaraf al-Musthafâ dalam menjelaskan ketiadaan tempat dan arah bagi Allah berkata: Bagi penjelasan penafian tempat dan arah bagi Allah ini al-Imâm Malik memberikan petunjuk dengan sabda Rasulullah: “Lâ Tufadl-dlilunî ‘Alâ Yûnus ibn Mattâ” (Jangan kalian agung-agungkan aku di atas nabi Yunus). Al-Imâm Malik berkata: “Sesungguhnya penyebutan secara khusus dengan nabi Yunus adalah untuk memberikan pemahaman kesucian Allah dari tempat, oleh karena nabi Muhammad diangkat ke arah atas hingga ke arsy sementara nabi Yunus diturunkan ke arah bawah hingga ke kedalaman lautan, namun demikian arah keduanya sama saja bagi Allah (artinya dua arah tersebut salah satunya tidak lebih utama dari lainnya, dan nabi Muhammad dan nabi Yunus sama-sama seorang nabi Allah). Seandainya keutamaan itu semata-mata dengan tempat dan arah maka tentu nabi Muhammad lebih dekat -dari segi jarak- kepada Allah daripada nabi Yunus, dan tentunya Rasulullah tidak akan melarang kita melebih-lebihkan beliau di atas nabi Yunus. Kemudian al-Imâm Nashiruddin menjelaskan bahwa keutamaan itu adalah dengan derajat, bukan dengan tempat. Demikianlah penjelasan yang telah dikutip oleh al-Imâm as-Subki dalam Risâlah ar-Radd ‘Alâ ibn Zafîl”. (Ithaf as Sadah al Muttaqin, j. 2, h. 105)
    Al-Mufassir al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya menuliskan sebagai berikut: “Abul Ma’ali berkata: Sabda Rasulullah: “Lâ Tufadl-lilunî ‘Alâ Yûnus ibn Mattâ” mengandung makna bahwa saya (Nabi Muhammad) diangkat ke arah Sidrah al-Muntaha bukan berarti lebih dekat dari segi jarak kepada Allah dari pada Nabi Yunus yang berada di dasar lautan dalam perut ikan. Ini menunjukan bahwa Allah ada tanpa arah dan tempat” . (Al Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 11, h. 333-334, dan j. 15, h. 124)
    Al-‘Allâmah al-Muhaddits al-Faqîh Abdullah al-Harari berkata:
    “Di antara yang dijadikan dalil oleh Ahlussunnah bahwa mi’raj-nya Rasulullah ke arah atas hingga hingga ke ketinggian di mana Rasulullah mendengan Kalam Allah (yang bukan huruf, suara dan bahasa) bahwa Allah tidak bertempat pada arah tersebut; adalah bahwa Nabi Musa juga mendengar Kalam Allah (yang bukan huruf, suara dan bahasa) sebagaimana Nabi Muhammad, tapi Nabi Musa bukan berada pada tempat yang tinggi sebagaimana Nabi Muhammad, ia berada di Tursina, dan Tursina berada di bumi ini. Dari sini menjadi jelas bahwa Allah ada tanpa tempat. Mendengar terhadap Kalam Allah (yang bukan huruf, suara dan bahasa) tidak haruskan bahwa Allah sendiri berada pada tempat dan arah. Sifat-sifat Allah tidak berada pada tempat. Allah telah berkehendak pada azal untuk memperdengarkan Kalam-Nya (yang bukan huruf, suara, dan bahasa) terhadap Nabi Muhammad ketika Nabi Muhammad berada pada suatu tempat yang tinggi (yaitu ketika Mi’raj), demikian pula Allah telah berkehendak pada azal untuk memperdengarkan Kalam-Nya (yang bukan huruf, suara, dan bahasa) terhadap Nabi Musa ketika Nabi Musa berada di Tusina (karena itulah keduanya digelar dengan Kalîmullah). Hanya saja Nabi Muhammad memiliki keistimewaan dengan segala macam “Taklîm Ilâhiy” sebagaimana disebutkan dalam ayat; yang sifat istimewa ini tidak dimiliki oleh seorang-pun dari para Nabi Allah”. (Izh-har al ‘Aqidah as Sunniyyah, h. 118-119).
    Apakah Tujuan Isra’ dan Mi’raj ?
    Tujuan dan hikmah yang sebenarnya dari Isra’ dan Mi’raj adalah memuliakan Rasulullah dan memperlihatkan kepadanya beberapa keajaiban ciptaan Allah sesuai dengan firman Allah dalam surat al Isra’: 1: Maknanya: “Agar kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran kami”. beliau diperlihatkan oleh Allah beberapa keajaiban ciptaan-Nya. Antara lain : “Arasy. ‘Arsy, yaitu makhluk Allah yang paling besar bentuknya (H.R. Ibn Hibban) dan makhluk kedua yang diciptakan Allah setelah air (Q.S. Hud : 7). Imam al Bayhaqi mengatakan : “Para ahli tafsir menyatakan bahwa ‘arsy adalah benda berbentuk sarir (ranjang) yang diciptakan oleh Allah. Allah memerintahkan para malaikat untuk menjunjungnya dan menjadikannya sebagai tempat ibadah mereka dengan mengelilinginya dan mengagungkannya sebagaimana Ia menciptakan ka’bah di bumi ini dan memerintahkan manusia untuk mengelilinginya ketika thawaf dan menghadap ke arahnya di saat shalat” (lihat al Asma’ wa ash-shifat, hlm. 497).
    ‘Arsy bukanlah tempat bagi Allah, karena Allah tidak membutuhkan tempat. Sayyidina ‘Ali berkata : Maknanya:”Sesungguhnya Allah menciptakan ‘arsy untuk menunjukkan kekuasaan-Nya, dan tidak menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya”. (Riwayat Abu Manshur al Baghdadi dalam al farq bayna al firaq, hlm : 333)
    Tujuan dari Isra’ dan Mi’raj bukanlah bahwa Allah ada di arah atas, lalu Nabi naik ke atas untuk bertemu dengan-Nya. Karena Allah ada tanpa tempat dan arah, dan tempat adalah makhluk sedangkan Allah tidak membutuhkan kepada makhluk-Nya. Allah ta’ala berfirman : Maknanya : “Maka sesungguhnya Allah maha kaya (tidak membutuhkan) dari alam semesta”. (Q.S. Al Imran : 97) Allah tidak disifati dengan salah satu sifat makhluk- Nya seperti berada di tempat, arah atas, di bawah dan lain-lain. Juga perkataan Imam ath-Thahawi : “Allah tidak diliputi oleh salah satu arah penjuru maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan, belakang), tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi oleh enam arah penjuru tersebut” Dalam pembukaan risalah al-‘Aqîdah ath- Thahâwiyyah ini, al Imâm ath-Thahawi menuliskan: “Ini adalah penjelasan akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah, di atas madzhab para ulama agama; Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit al-Kufi, Abu Yusuf Ya’qub ibn Ibrahim al-Anshari, dan Muhammad ibn al-Hasan asy-Syaibani (Lihat matan al-‘Aqîdah at-Thahâwiyyah dalam Izhâr al-‘Aqîdah as-Sunniyyah Bi Syarh al-‘Aqîdah at-Thahâwiyyah, karya al-Imâm al-Hâfizh asy-Syaikh Abdullah al-Habasyi, h. 341). Jadi, Hal ini merupakan ijma’ ulama Islam seluruhnya.

  7. Pada kesempatan ini, saya akan menjawab pernyataan saudara kita, yg mengatakan bahwa Asy’ariyyah adalah kaum yang mendahulukan akal di bandingkan nash Al-qur’an dan Hadist.
    Fungsi Akal Sebagai Bukti Kebenaran Syari’at
    Al-Faqîh asy-Syaikh Syits ibn Ibrahim al-Maliki (w 598 H) berkata: “Golongan yang benar (Ahlul Haq) telah menyatukan antara Ma’qûl dan Manqûl, -atau antara akal dan syari’at- dalam meraih kebenaran. Mereka mempergunakan keduanya, yang dengan itulah mereka menapaki jalan moderat; jalan antara tidak berlebihan dan tidak teledor (Bayn Tharîqay al-Ifrâth Wa at-Tafrîth). Berikut ini kita berikan contoh sebagai pendekatan bagi orang-orang yang kurang paham; sebagaimana para ulama selalu membuat contoh-contoh untuk tujuan mendekatkan pemahaman, juga sebagaimana Allah dalam al-Qur’an sering menggambarkan contoh-contoh bagi manusia sebagai pengingat bagi mereka. Kita katakan bagi mereka yang memiliki akal; sesungguhnya perumpamaan akal sebagai mata yang melihat, sementara syari’at sebagai matahari bersinar. Siapa yang mempergunakan akal tanpa mempergunakan syari’at maka layakanya ia seorang yang keluar di malam yang gelap gulita, ia membuka matanya untuk dapat melihat dan dapat membedakan antara objek-objek yang ada di hadapannya, ia berusaha untuk dapat membedakan antara benang putih dari benang hitam, antara merah, hijau, dan kuning, dengan usaha kuatnya ia menajamkan pandangan; namun akhirnya dia tidak akan mendapatkan apapun yang dia inginkan, selamanya. Sementara orang yang mempergunakan akal dan syari’at secara bersamaan maka ia seperti orang yang keluar di siang hari dengan pandangan mata yang sehat, ia membuka kedua matanya di saat matahari memancarkan cahaya dengan terang, sudah tentu orang seperti ini akan secara jelas mendapatkan dan membedakan di antara warna-warna dengan sebenar-benarnya, ia dapat membedakan antara warna hitam, merah, putih, kuning dan lainnya”. (Hazz al Ghalashim Fi Ifham al Mukhashim, h. 94).
    Kemudian, jangan samakan kami seperti muktazilah, anda sepertinya tidak tahu sejarah. Mu’tazilah juga dikenal sebagai aliran yang mendahulukan akal daripada nash (teks) al-Qur’an dan Sunnah. Di tangan Mu’tazilah, teks-teks al-Qur’an dan hadits menjadi berkurang nilai sakralitasnya karena harus dikoreksi terlebih dahulu dengan perisai rasio dan nalar. ilmu filsafat yang dianggap sebagai sumber pemikiran liberal dalam Islam, menjadi terkapar untuk selama-lamanya dari ranah intelektual kaum Muslimin setelah dibabat habis oleh Hujjatul Islam al- Ghazali dengan kitabnya Tahafut al-Falasifah.
    Bahkan, didalam Al-qur’an pun terdapat dimensi sains, sebagai contoh adalah teori big bang atau teori ledakan besar tentang alam raya yang dikemukakan oleh seorang ahli fisika george gamo pada tahun 1948. Padahal, jauh sebelum itu, 14 abad yang lalu,Allah swt.telah mengabarkan melalui lisan Nabi Muhammad saw. “……..Langit dan bumi keduanya dahlu berpadu,lalu kamipisahkan antara keduanya…………” (QS.Al-Anbiya’ : 30)
    Dan juga diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah swt berfirman : ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits No.2569)
    Hadist diatas, kalau mau mengikuti pendapata ABU AISYAH bahwa setiap ayat atau hadist yg berkaitan dengan sifat Allah swt. harus dipahami secara zahir dan hakikat,tentunya akan di pahami bahwa Allah swt. memiliki sifat sakit. Akal sehat pun akan menolak hal tersebut,karena bagaimana mungkin Allah swt. yg maha suci dan maha sempurna memiliki kekurangan. Berkata Imam Nawawi berkenaan hadits qudsiy diatas dalam kitabnya yaitu Syarah Nawawiy alaa Shahih Muslim bahwa yang dimaksud sakit pada Allah adalah hamba-Nya, dan kemuliaan serta kedekatan-Nya pada hamba-Nya itu. ”Wa ma’na wajadtaniy indahu ya’niy wajadta tsawaabii wa karoomatii indahu” dan makna ucapan : akan kau temui aku disisinya adalah akan kau temui pahalaku dan kedermawanan-Ku dengan menjenguknya (Syarh Nawawi ala Shahih Muslim Juz 16 hal 125).

  8. @ibnu ilyas
    ini ucapan ente
    “Salah satunya adalah ucapan dan tulisan-tulisan teman-teman anda dalam blog ini yang gampang sekali mengkafirkan, memusyrikan”
    tolong cariin ada ga…?

  9. Bismillah..
    @Abi raka
    1.tolong cariin perkataan atau fatwa NU yang bilang kafir ahlu tauhid, klo ga bisa buktiin berarti ente fitnah
    Jawab : Memang tidak ada fatwanya kang.. Yang ada justru fatwa MUI tentang tidak sesatnya manhaj salafy wahaby.. Yang latar belakang keluarnya fatwa ini adalah karena ada sebagian orang (sebagian besar tidak lain adalah orang-orang NU) yang gampang menyesatkan kelompok tertentu (yakni salafy wahaby)..
    Salah satunya adalah ucapan dan tulisan-tulisan teman-teman anda dalam blog ini yang gampang sekali mengkafirkan, memusyrikan, menuduh sebagai munafik, menuduh sebagai khawarij, pengikut dajjal dan penghuni neraka.. Bahkan pembahasan yang tidak nyambung dengan wahabi yang jelek-jelek selalu di lemparkan kepada wahabi.. Tidak salah jika saya yakin bahwa blog ini dibuat untuk menjelek-jelekan, menggibah bahkan memfitnah untuk mengancurkan salafy wahaby yang dikenal dengan ahlul tauhid.. Maka saya nasehatkan kepada anda dan kawan-kawan anda : “Takutlah kepada Allah” atas dosa fitnah yang telah anda lakukan itu..
    Sekarang coba anda cari blog salafy yang tujuannya menghancurkan NU Aswaja.. Khan nggak ada??
    2.gusdur bukan seorang mujtahid kang sehingga ada orang yang mukallid ama dia, sekedar membela dan mencintai ulamanya dari caci maki orang yang hasud apa itu salah dan sekali lagi saya katakan ucapan gusdur bukan sedang berfatwa yang bisa jadi rujukan tapi pemikiran beliau sendiri yang bisa saja salah. kan kata ente ga ada yang ma;sum selain nabi
    Jawab : Itulah kesalahan anda dan kaum anda yang terlalu taklid kepada gusdur, padahal sudah jelas-jelas banyak kesalahan dan kekacauannya dalam berucap dan bertindak.. Kenapa kita harus mencintai seseorang yang katanya ulama itu, padahal sepak terjangnya merugikan Islam, menghina Islam, melecehkan al qur’an yang berarti juga melecehkan Islam.. Tolong dipikirkan ini mas abi raka..!
    Pernah saya katakan bahwa andaikan ulama kami berucap dan bertindak seperti apa yang dilakukan dan diucapkan gusdur, maka pasti kami telah meninggalkan ulama tersebut bahkan kami tidak akan segan-segan untuk mengutuknya..
    Maka salah jika anda mengatakan bahwa kami taklid kepada mereka..
    Adapun anda dan kawan-kawan anda sangat kelihatan taklid kepada gusdur yang jelas-jelas telah melakukan pelanggaran agama yang berat… Aneh..
    Coba anda bayangkan jika perkataan : Al qur’an adalah kitab suci paling porno di dunia itu di ucapkan oleh orang salafy wahaby (na’udzu billahi min dzalik).. Pasti kalian akan berteriak kegirangan.. Karena kalian akan lebih mendapatkan tempat untuk menyesatkan bahkan mengkafirkan kaum salafy wahaby.. Tapi karena yang mengucapkan ulama kalian, maka kemudian kalian mencari-cari celah untuk membela sesuatu yang seharusnya tidak perlu di bela bahkan harus di kutuk…
    3.penulisan lafaz Allah yang kecil belum tentu di sengaja kang, lebay banget ente…! mending renungin tuh tulisan arab yang di posting ama kang alfeyd!
    Jawab : Sengaja atau tidak sengaja itu tanda ketidak hati-hatian dan kebodohan.. Jadi kalau kang alfeyd mengatakan bahwa wahaby itu bodoh, maka kata-kata itu kembali kepada dia sendiri… (Allahu Akbar..)..
    Terus kalau kang alfeyd mengatakan : imam nawawi berkata para ulama’ sepakat bahwa nikah tersebut memang shohih dan halal dan bukan merupakan nikah mut’ah.
    dan Al auza’i mengatakan itu merupakan nikah mut’ah
    (tapi kalau menurut saya: karena beliau cuma memandang pengertian mut’ah dan tidaknya atau istilahnya amrun dakhilnya tidak mengharamkan sedangkan amrun khorij yang mengharamkanya. coba sampean simak keterangan yang saya copas di bawah ini…)..
    Lantas apa masalahnya??

    1. walaupun aku sudah mengklarifikasi komentku tapi aku tetap ingin ngakak liat si ahli terjemah ibnu ilyas berkata ” Sengaja atau tidak sengaja itu
      tanda ketidak hati-hatian dan kebodohan..” ilmu dari mana lagi ini..
      ini dia si IBNU ILYAS (nama kamu tak tulis besar semua lo ya… hehe..) mujtahid abad moderen sampai2 orang lupa/tidak sengaja pun dia hukumi “bodoh / tidak hati2 ” parah…parah..
      Robbana la tuakhidna aw akhtho’na (Al-baqarah: 286)
      walaisa ‘alaikum junaahun fiimaa akhtho’tum bihi walakin ma ta-‘ammadat quluubukum (al-ahzab:5)
      robbana ighfir lana fiima fa’alanaa wamin sayyiati ‘amalina wamin fitnati al mahya wa al mamat.. amin

      1. ibnu ilyas
        masalahnya adalah kamu kalo mengambil dawuh ulama-ulama kami jangan semena-mena tanpa memperdulikan dawuh ulama yang lain.. pangkatmu opo sampek wani2 nuqil dawuh beliau tanpa mau memperhatikan dawuh ulama yang lain yang kapasitas keilmuanya jauh di atas kita.. sak penae udele dewe wae..
        sehingga mempunyai kesimpulan bahwa mungkin perbedaan cuma dalam sisi lafadl saja atau dalam istilah ilmu ushul fiqih dikenal dengan sebuta “wal ikhtilafu lafdziyyun”
        atau mungkin ilmu ushul fiqih menurut sampea BID’AH DLOLALAH
        wallohu ‘alam
        wis mas abi raka ora usah sampean tanggapi..

  10. hehe si ahli terjemah, ahli menyimpulkan, ahli mlintir dll muncul lagi…
    ibnu ilyas kalau saya cinta mati ma gusdur trus sampean mau ngapain.. dari pada cinta mati sama albani.., bin baz,,. yo luweh apik gusdur wae lah yang udah karuan jelas sanad ilmunya
    lo mas yang nulis lafadl Alloh dengan huruf kecil itu teman sampean lo… itu lo yang namanya ARDANA PUTRA BASUKI, saya kan cuma COPAS saja agar semua teman diskusi di blog ini tau kwalitas teman2 sampean yang kayak apa gitu… ilmu yang sperti itu sudah berani ndalil-ndalil… aneh
    tapi biarlah ucapan ibnu ilyas seperti itu.. lawong kenyataanya saya memang masih bodoh.. dan beliau ibnu ilyas merasa sangat pinter

  11. @ibnu ilyas
    1.tolong cariin perkataan atau fatwa NU yang bilang kafir ahlu tauhid, klo ga bisa buktiin berarti ente fitnah
    2.gusdur bukan seorang mujtahid kang sehingga ada orang yang mukallid ama dia, sekedar membela dan mencintai ulamanya dari caci maki orang yang hasud apa itu salah dan sekali lagi saya katakan ucapan gusdur bukan sedang berfatwa yang bisa jadi rujukan tapi pemikiran beliau sendiri yang bisa saja salah. kan kata ente ga ada yang ma;sum selain nabi
    3.penulisan lafaz Allah yang kecil belum tentu di sengaja kang, lebay banget ente…! mending renungin tuh tulisan arab yang di posting ama kang alfeyd!

  12. Bismillah..
    @Alfeyd..
    Ada dua macam orang:
    1. orang bodoh, dia di katakan bodoh memang benar benar bodah karna tak mau membuka hatinya untuk memahami ilmu agama dan taklid kepada orang yang sudah jelas-jelas jauh dari kebenaran.. seperti mas alfeyd yang taklid berat dan cinta mati sama idolanya : gusdur..
    2. orang yang merasa bodoh, inilah cirri-ciri orang yg memiliki kedudukan ilmu.. seperti ulama-ulama salafy yang tidak pernah mempermainkan Al Quran dan Al hadist.. dan tidak suka berdebat meskipun diatas kebenaran.. katakan pada hati anda anda termasuk yg mana…???
    memerangi tidak harus mencela atau menghina.. seperti NU Aswaja yang mudah mengkafirkan kaum yang disebut dengan ahlul tauhid dan menuduh kaum wahaby sebagai khawarij..
    Satu lagi bukti kebodohan mas alfeyd dengan tulisannya :
    “bagai mana saudara saudara semua ini
    bisa menjadi mulia di sisi alloh kalau
    semua pada berebut kebenaran
    sesungguhnya kebenaran hanya milik alloh
    s.w.t semata..”
    Berani benar anda menulis lafadz Allah azza wa jalla dengan huruf kecil??

  13. Bismillah..
    @Alfeyd..
    Ada dua macam orang:
    1. orang bodoh, dia di katakan bodoh
    memang benar benar bodah karna tak
    mau membuka hatinya untuk memahami
    ilmu agama dan taklid kepada orang yang sudah jelas-jelas jauh dari kebenaran.. seperti mas alfeyd yang taklid berat sama idolanya : gusdur..
    2. orang yang merasa bodoh, inilah cirri-ciri
    orang yg memiliki kedudukan ilmu.. seperti ulama-ulama salafy yang tidak pernah mempermainkan Al Quran dan Al hadist.. dan tidak suka berdebat meskipun diatas kebenaran..
    katakan pada hati anda anda termasuk yg
    mana…???
    memerangi tidak harus mencela atau
    menghina.. seperti NU Aswaja yang mudah mengkafirkan kaum yang disebut dengan ahlul tauhid dan menuduh kaum wahaby sebagai khawarij..
    Satu lagi bukti kebodohan mas alfeyd dengan tulisannya :
    “bagai mana saudara saudara semua ini
    bisa menjadi mulia di sisi alloh kalau
    semua pada berebut kebenaran
    sesungguhnya kebenaran hanya milik alloh
    s.w.t semata..”
    Berani benar anda menulis lafadz Allah azza wa jalla dengan huruf kecil??

    1. ibnu ilyas@
      Ente yg merasa pinter sendiri, malah nuduh2 pihak lain, heran deh sama ente!
      Lagian mana ada ulama2 Salafy yg merasa dirinya bodoh, kan bisa dilihat dari kata2 mereka dalam kitab2 karya2nya, nyaris semuanya sombong2 dan kurang ajar kepada ulama selainnya.
      Kalau mereka nggak mau debat, bukan karena di atas kebenaran, tetapi kalau debat selalu kalah dan hanya mempertontonkan kedunguan dan kekeras kepalaannya, aja. Ulama2 Salafy aja cuma bisa ngandalkan sikap keras kepala, apalagi ente?

  14. dua macam orang 1orang bodoh dia di katakan bodoh memang benar benar bodah karna tak mau membuka hatinya untuk memahami ilmu agama..
    2orang yang merasa bodoh inilah ciri orang yg memiliki kedudukan ilmu
    katakan pada hati anda anda termasuk yg mana…
    memerangi tidak harus mencela atau menghina..
    bagai mana saudara saudara semua ini bisa menjadi mulia di sisi alloh kalau semua pada berebut kebenaran
    sesungguhnya kebenaran hanya milik alloh s.w.t semata
    pernah dalam satu riwayat di katakan ada salah seorang bertanya bada baginda muhamad s.a.w..dia berkata dimanakah alloh berada yg rosullilah.. nabi muhamad s.a.w menjawab di hati orang mukmin… ( perenungan) firman alloh dlm hadis qudsi…AKU MEMPUNYAI PERBENDAHARAAN YG LEBIH BESAR DARI PADA ARSY, LEBIH LUAS DARI KURSI LEBIH BAIK DARI SURGA DAN LEBIH INDAH DARI KERAJAAN YG AMAT BESAR, HATI SEORANG MU’MIN. BUMINYA MA;RIFAH, LANGITNYA IMAN, MATAHARINYA RINDU, BULANNYA CINTA, BINTANGNYA BUAH PIKIRAN, TANAHNYA KEMAUAN, DINDINGNYA KEYAKINAN AWANNYA AKAL, HUJANNYA ROHMAT. POHONNYA TAAT, BUAHNYA HIKMAT, DAN IA MEMPUNUAI EMPAT TIANG ADA TIANG BERUPA TAWAKAL, ADA TIANG BERUPA SABAR, ADA TIANG BERUPA YAKIN DAN ADA TIANG BERUPA KEMULIAAN, DAN IA JUGA MEMPUNYAI EMPAT PINTU, PINTU ILMU, PINTU SANTUN, PINTU RIDHO DAN PINTU SABAR, DAN ATAS SEMUANYA ADA PIKIRAN, ITULAH HATI
    mungkin ini bisa menjadi plajaran untuk kita semua sudahkah kita menjadikan diri kita seperti yg tertera pada firman alloh s.w.t di atas.. ( semoga bermanfaat)

    1. ardana,
      koment antum nggak nyambung dg thema diskusi, tolong jangan NYEPAM, hormatilah jalannya diskusi yg indah ini. Oke terimakasih atas perhatiannya.

    2. ada dua macam orang:
      1. orang bodoh, dia di katakan bodoh
      memang benar benar bodah karna tak
      mau membuka hatinya untuk memahami
      ilmu agama.. seperti wahabi
      2. orang yang merasa bodoh, inilah ciri
      orang yg memiliki kedudukan ilmu.. seperti ulama-ulama aswaja yang tidak pernah mempermainkan Al Quran dan Al hadist..
      katakan pada hati anda anda termasuk yg
      mana…???
      memerangi tidak harus mencela atau
      menghina.. seperti wahabi yang mudah mengkafirkan orang bersyahadat.
      bagai mana saudara saudara semua ini
      bisa menjadi mulia di sisi alloh kalau
      semua pada berebut kebenaran
      sesungguhnya kebenaran hanya milik alloh
      s.w.t semata

  15. permisi.. awa lagi baca wawancara di link ini :
    http://www.mosleminfo.com/dr-ahmad-karimah-ikhwan-dan-salafi-berusaha-tutup-al-azhar-wawancara-eksklusif/
    terus tertarik dengan pernyataan DR. Ahmad Karimah (Gur Besar Syariah Islam Al-Azhar Kairo) yang mengomentari orang-orang salafi dengan hadist Rasul saw… saya coba googling rujukan hadisnya apa, ternyata nyampe disini..
    salam kenal akang-akang sekalian.. baru pertama kali dapet laman aswaja dengan hujjah yang komprehensif..

  16. buat mas ibnu ilyas silahkan direnungi
    فالزواج بنية الطلاق: لا يخلو من حالتين: إما أن يشترط في العقد بأنه يتزوجها لمدة شهر أو سنة أو حتى تنتهي دراسته فهذا نكاح متعة وهو حرام، والعقد فاسد.
    وإما أن ينوي ذلك بدون أن يشترطه، فمذهب الجمهور عدم منعه، والمشهور من مذهب الحنابلة أنه حرام وأن العقد فاسد، لأنهم يقولون: إن المنوي كالمشروط، لقول النبي صلى الله عليه وسلم: “إنما الأعمال بالنيات وانما لكل امرئ ما نوى” متفق عليه، ولأن الرجل لو تزوج امرأة من شخص طلقها ثلاثا من أجل أن يحللها له ثم يطلقها فإن النكاح فاسد، وإن كان ذلك بغير شرط ،لأن المنوي كالمشروط، فإذا كانت نية التحليل تفسد العقد فكذلك نية المتعة تفسد العقد. هذا هو قول الحنابلة
    والقول الثاني لأهل العلم: أنه يصح أن يتزوج المرأة وفي نيته أن يطلقها إذا فارق البلد كهؤلاء الغرباء الذين يذهبون إلى الدراسة ونحو ذلك، قالوا: لأن هذا لم يشترط، والفرق بينه وبين المتعة أن المتعة إذا تم فيها الأجل حصل الفراق شاء الزوج أم أبى، بخلاف هذا فإنه يمكن أن يرغب في الزوجة، وتبقى عنده وهذا أحد القولين لشيخ الإسلام ابن تيمية. وهذا الكلام صحيح، من جهة أنه لا ينطبق عليه تعريف المتعة، ولكن لقائل أن يقول إنه محرم من جهة أنه غش للزوجة وأهلها، وقد حرم النبي صلى الله عليه وسلم الغش والخداع.
    فإن الزوجة لو علمت بأن هذا الرجل لا يريد أن يتزوجها إلا لهذه المدة ما تزوجت به، وكذلك أهلها كما أنه هو لا يرضى أن يتزوج ابنته شخص في نيته أن يطلقها إذا انتهت حاجته منها، فكيف يرضى لنفسه أن يعامل غيره بما لا يرضاه لنفسه؟ يقول النبي صلى الله عليه وسلم: “لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه” متفق عليه. ومثل هذا الفعل غش وخداع وتغرير، ولأن فتح هذا الباب يترتب عليه مفاسد كبيرة، حيث إن أكثر الناس لا يمنعهم الهوى من تعدي محارم الله، وقد كرهه مالك رحمه الله.. وقال: إنه ليس من أخلاق المسلمين. وعلى القول بالحرمة فلافرق في الحكم بين المسلمة والنصرانية فالغش حرام ومذموم في التعامل مع أي إنسان كا
    قال النووي رحمه الله :
    قال القاضي : وأجمعوا على أن من نكح نكاحا مطلقا ونيته أن لا يمكث معها إلا مدة نواها فنكاحه صحيح حلال، وليس نكاح متعة. وإنما نكاح المتعة ما وقع بالشرط المذكور. ولكن قال مالك: ليس هذا من أخلاق الناس . وشذ الأوزاعي فقال : هو نكاح متعة ولا خير فيه.أ.هـ. ” شرح مسلم” (9/182).
    ج- وقال الإمام ابن قدامة رحمه الله :
    وإن تزوجها بغير شرط، إلا أن في نيته طلاقها بعد شهر، أو إذا انقضت حاجته في هذا البلد فالنكاح صحيح في قول عامة أهل العلم، إلا الأوزاعي قال : هو نكاح متعة. والصحيح : أنه لا بأس به ، ولا تضر نيته، وليس على الرجل أن ينوي حبس امرأته، وحسبه إن وافقته وإلا طلقها .أ.هـ. “المغني” (7/573).
    imam nawawi berkata para ulama’ sepakat bahwa nikah tersebut memang shohih dan halal dan bukan merupakan nikah mut’ah.
    dan Al auza’i mengatakan itu merupakan nikah mut’ah
    (tapi kalau menurut saya: karena beliau cuma memandang pengertian mut’ah dan tidaknya atau istilahnya amrun dakhilnya tidak mengharamkan sedangkan amrun khorij yang mengharamkanya. coba sampean simak keterangan yang saya copas di bawah ini…)
    قلت:
    ويظهر أن المراد من قول ابن قدامة رحمه الله “أنه لا بأس به، ولا تضر نيَّتُه” إنما هو في صحة العقد، فإن أراد أنه لا شيء عليه من الإثم: فلا يظهر أنه صواب، ومثله قول من قال إنه “نكاح متعة”، لكن الأظهر أنه غير جائز لما فيه من خداع ولي أمر المرأة، وإفساد علاقة الناس بعضهم ببعض، وهو ما سيأتي إن شاء الله في كلام الشيخ ابن عثيمين حفظه الله، والشيخ رشيد رضا رحمه الله.
    د- وقال الشيخ محمد الصالح بن عثيمين رحمه الله :
    لو نوى زوج “المتعة” بدون شرط يعني: نوى الزوج بقلبه أن يتزوج هذه المرأة لمدة شهر، ما دام في هذا البلد فقط، فهل نقول إن هذا حكمه حكم المتعة أم لا؟ في هذا خلاف، فمنهم من قال ” إنه في حكم نكاح المتعة” لأنه نوى وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم ” إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى” (2) . وهذا الرجل قد دخل على نكاح مؤقت “المتعة” ، فكما أنه إذا نوى التحليل وإن لم يشترطه: صار حكمه حكم المشترط، فكذلك إذا نوى المتعة وإن لم يشترطها ، فحكمه كمن نكح نكاح متعة، وهذا القول – كما ترى – قول قوي.
    وقال الآخرون: إنه ليس بنكاح متعة ، لأنه لا ينطبق عليه تعريف ” نكاح المتعة” فنكاح المتعة أن ينكحها نكاحا مؤقتا إلى أجل، ومقتضى هذا النكاح المؤجل : أنه إذا انتهى الأجل انفسخ النكاح ولا خيار للزوج فيه ولا للزوجة، وهو أيضا: ليس فيه رجعة، لأنه ليس طلاقا ، بل هو انفساخ النكاح، وإبانة للمرأة ، فهذا هو نكاح المتعة، لكن من نوى هل يلزم نفسه بذلك إذا انتهى الأجل ؟ الجواب : لا، لأنه قد ينوي الإنسان أنه لا يريد أن يتزوجها إلا ما دام في هذا البلد، ثم إذا تزوجها ودخل عليها رغب فيها ولم يطلقها، فحينئذ لا ينفسخ النكاح بمقتضى العقد، ولا بمقتضى الشرط لأنه لم يشرِط ولم يُشترَط عليه. فيكون النكاح صحيحا وليس من “نكاح المتعة”.
    وشيخ الإسلام رحمه الله اختلف كلامه في هذه المسألة ، فمرة قال بجوازه، ومرة قال بمنعه. والذي يظهر لي أنه ليس من نكاح المتعة، لكنه محرم من جهة أخرى، وهي خيانة الزوجة ووليها. لأن الزوجة ووليها لو علما بذلك : ما رضوا وما زوجوه. ولو شرطه عليهم صار نكاح متعة .
    فنقول : إنه محرم لا من أجل أن العقد اعتراه خلل يعود إليه، ولكن من أجل أنه من باب الخيانة والخداع
    semoga mas ibnu ilyas merenungkannya

    1. @alfeyd
      mantaf kang alfeyd saya jadi tahu arabnya dan keterangan ulama lain walaupun saya hanya ngerti bahasa arab dikit syukron katsir !

  17. hehehe kang ibnu ilyas kenapa sampean bertanya? apakah sampean jago bahasa terjemah ? lagian kenapa sampen gak berani..
    di forum ini gak ada orang yang niat ngajari mas.. semua sama rata masih dalam tahap belajar.. adakah kata2 saya yang hendak mengajari sampean… ???
    loo.. yang melencengkan pembahsan siapa mas???
    sampean kok gak mau mengakui kalau kita masih sekelas muqolid mas.. gak usah belagak mujtahid.. mas.. dikit2 hadist.. dikit2 hadist.. sedangkang yang sampean tanyakan sudah di bahs di ummati.. kenapa golongan anda senengnya mengulang2..
    dan saya lebih percaya lajnah daimah saudi arabia mengenai najd dibanding sampean …..
    saya cuma mau meyakinkan apakah sampean sama dengan firanda atau tidak???? kalau sampean masih mau melanjutkan diskusi dengan saya silahkan tampilkan tulisan arabnya saja.. kalau tidak mau ya berarti pertukaran ilmu kita cuma sampai di sini saja.. saya tidak ingin mengganggu orang laen yang mau belajar di blog ini

  18. Bismillah..
    @Mas Abi raka..
    Mengenai fatwa syaikh bin baz tentang nikah dengan niat thalaq..
    Maka dapat saya jelaskan sebagai berikut :
    Pernikahan ini juga merupakan jenis pernikahan yang belakangan marak, khususnya bagi mereka yang berada jauh dari negeri asalnya untuk satu urusan (pekerjaan, studi, atau yang lainnya), sebagaimana nikah mis-yaar. Bentuknya : Ia merencanakan dalam hatinya untuk menceraikan wanita yang hendak ia nikahi setelah urusannya di negeri tersebut selesai. Para ulama berbeda pendapat tentang penghukuman nikah dengan niat thalaq. Jumhur ulama membolehkannya dan sebagian yang lain mengharamkannya (dengan menyerupakannya dengan nikah mut’ah).
    An-Nawawi rahimahullah berkata :
    قَالَ الْقَاضِي : وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ مَنْ نَكَحَ نِكَاحًا مُطْلَقًا وَنِيَّته أَلَّا يَمْكُث مَعَهَا إِلَّا مُدَّة نَوَاهَا فَنِكَاحه صَحِيح حَلَال ، وَلَيْسَ نِكَاح مُتْعَة ، وَإِنَّمَا نِكَاح الْمُتْعَة مَا وَقَعَ بِالشَّرْطِ الْمَذْكُور ، وَلَكِنْ قَالَ مَالِك : لَيْسَ هَذَا مِنْ أَخْلَاق النَّاس ، وَشَذَّ الْأَوْزَاعِيُّ فَقَالَ : هُوَ نِكَاح مُتْعَة ، وَلَا خَيْر فِيهِ . وَاَللَّه أَعْلَم .
    “Al-Qaadli berkata : Para ulama telah bersepakat bahwa siapa saja yang melakukan nikah mutlak dengan niat (dalam hati) hanya akan bersamanya dalam waktu terbatas, maka nikahnya sah dan halal. Ini bukan nikah mut’ah. Nikah mut’ah adalah nikah yang dilaksanakan disertai syarat yang disebutkan. Akan tetapi Malik berkata : ‘Ini tidak termasuk akhlaq manusia (generasi salaf)’. Sedangkan Al-Auza’i mempunyai pendapat yang berbeda, dimana ia berkata : ‘Hal itu adalah nikah mut’ah dan tidak ada kebaikan di dalamnya’. Wallaahu a’lam” [Syarh Shahih Muslim lin-Nawawi, 9/182].
    Ibnu Qudamah rahimahullah berkata :
    وإن تزوجها بغير شرط إلا أن في نيته طلاقها بعد شهر أو إذا انقضت حاجته في هذا البلد‏,‏ فالنكاح صحيح في قول عامة أهل العلم إلا الأوزاعي قال‏:‏ هو نكاح متعة والصحيح أنه لا بأس به‏,‏ ولا تضر نيته وليس على الرجل أن ينوي حبس امرأته وحسبه إن وافقته وإلا طلقها‏.‏
    “Dan apabila seseorang menikah dengan tanpa syarat, namun dalam hatinya meniatkan untuk menceraikannya sebulan kemudian atau ketika kebutuhannya di negeri itu telah selesai, maka nikahnya sah menurut pendapat ulama secara umum, kecuali Al-Auza’i. Ia (Al-Auza’i) berkata : ‘Itu adalah nikah mut’ah’. Yang benar, tidak mengapa dengannya sekalipun ada niat demikian. Si laki-laki tidak boleh berniat untuk mengurung istrinya [
    Boleh saja ia melakukan itu apabila istrinya menyetujui; namun jika tidak, maka ia harus menceraikannya” [Al-Mughniy, 10/48-49]
    Pernah diajukan pertanyaan kepada Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah :
    هل يجوز الزواج بنية الطلاق ؟
    “Apakah boleh menikah dengan niat thalaq ?
    Maka beliau menjawab :
    لا حرج في ذلك إذا كان ذلك بينه وبين ربه من دون شرط من المرأة أو أوليائها وترك ذلك أفضل لأن ذلك أكمل في الرغبة، وهذا قول جمهور أهل العلم كما ذكر ذلك أبو محمد بن قدامة في المغني – رحمه الله – .
    “Tidak mengapa mengenai hal itu bila niatnya hanya diketahui ia dan Allah saja, tanpa ada syarat dari pihak wanita atau dari walinya. Namun membuang niat tersebut lebih utama (afdlal), sebab yang demikian itu lebih sempurna keinginannya. Ini adalah pendapat jumhur ulama, sebagaimana yang disebutkan Abu Muhammad bin Qudamah dalam Al-Mughniy – rahimahullah” [Fataawaa Islaamiyyah, dihimpun dan disusun oleh Muhammad bin ‘Abdil-‘Aziiz Al-Musnid, hal. 235, Asy-Syaikh Ibnu Baaz – melalui perantaraan Fataawaa ‘Ulamaa’ Al-Baladil-Haraam, hal. 453].
    Pertanyaan lain kepada Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah :
    يذكر أحد الإخوة أنه قرأ عن سماحتكم إنه يجوز الزواج بنية الطلاق بدون تحديد وقت الطلاق وأنكم تنصحون الشباب المغتربين بالزواج على هذه الصفة وأنه من الممكن أن تتولد بينهم المحبة أو يرزقهم الله بولد فيستمر فهل هذا صحيح أرجو التوضيح أثابكم الله ؟
    “Salah seorang rekan menyebutkan bahwa ia pernah membaca dari Syaikh yang terhormat, bahwasannya boleh menikah dengan niat thalaq dengan tidak dibatasi kapan waktu thalaqnya. Dan bahwasannya Syaikh juga menasihatkan kepada para pemuda yang bepergian jauh agar menikah dengan cara seperti itu, dan bahwasannya sangat mungkin akan lahir rasa saling mencintai di antara mereka berdua dan dikaruniai anak oleh Allah ta’ala sehingga pernikahan menjadi langgeng. Apakah ini benar ? Kami mohon penjelasannya”.
    Beliau rahimahullah menjawab :
    قد صدرت هذه الفتوى من اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء في المملكة العربية السعودية برئاستي واشتراكي وهذه هو قول جمهور أهل العلم كما ذكر ذلك موفق الدين بن قدامة رحمه الله في كتابه المغني على أن يكون ذلك بينه وبين الله سبحانه وليس ذلك من نكاح المتعة.
    أما لو اتفق مع أهل المرأة على ذلك أو شرط ذلك لمدة معلومة فإن ذلك منكر لا يجوز ويعتبر النكاح نكاح متعة باطلًا لأن الرسول صلى الله عليه وسلم نهى عنه وأخبر أن الله قد حرمه إلى يوم القيامة، وبالله التوفيق.
    “Fatwa itu memang telah dikeluarkan oleh Al-Lajnah Ad-Daaimah lil-Buhuuts wal-Ifta’ Kerajaan Saudi Arabia yang saya pimpin dan dengan keterlibatan saya di situ. Ini adalah pendapat jumhur ulama, sebagaimana disebutkan oleh Muwafiquddin Ibnu Qudamah rahimahullah dalam kitabnya Al-Mughniy. Namun niat tersebut hanya diketahui oleh dirinya sendiri dan Allah saja. Itu tidak termasuk nikah mut’ah.
    Adapun jika hal itu disepakati bersama pihak keluarga wanita atau dengan syarat waktu tertentu saja, maka nikah seperti ini munkar, tidak boleh dilakukan dan termasuk dalam katagori nikah mut’ah nan bathil. Karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya dan telah memberitahukan bahwa Allah telah mengharamkannya hingga hari kiamat. Wabillaahit-Taufiq” [Fataawaa Islaamiyyah, dihimpun dan disusun oleh Muhammad bin ‘Abdil-‘Aziiz Al-Musnid, hal. 235, Asy-Syaikh Ibnu Baaz – melalui perantaraan Fataawaa ‘Ulamaa’ Al-Baladil-Haraam, hal. 454].
    Pertanyaan lain kepada Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah :
    سمعت لك فتوى على أحد الأشرطة بجواز الزواج في بلاد الغربية، وهو ينوي تركها بعد فترة معينة، كحين انتهاء الدورة أو الابتعاث، فما هو الفرق بين هذا الزواج وزواج المتعة ؟
    “Saya pernah mendengar fatwa Syaikh yang mulia melalui sebuah kaset yang membolehkan seseorang menikah di negara lain (tujuan safar) dengan niat akan meninggalkannya pada waktu tertentu, seperti sesudah selesai mengikuti pelatihan atau selesai melakukan tugas. Maka apa perbedaan antara nikah tersebut dengan nikah mut’ah ?”
    Maka beliau rahimahullah menjawab :
    نعم لقد صدرت من اللجنة الدائمة وأنا رئيسها بجواز النكاح بنية الطلاق إذا كان ذلك بين العبد وبين ربه، إذا تزوج في بلاد غربة ونيته أنه متى انتهى من دراسته أو من كونه موظفًا وما أشبه ذلك أن يطلق فلا بأس بهذا عند جمهور العلماء، وهذه النية تكون بينه وبين الله – سبحانه – وليست شرطًا.
    والفرق بينه وبين المتعة : أن نكاح المتعة يكون فيه شرط مدة معلومة كشهر أو شهرين أو سنة أو سنتين ونحو ذلك. فإذا انقضت المدة المذكورة انفسخ النكاح هذا هو نكاح المتعة الباطل، أما كونه تزوجها على سنة الله ورسوله ولكن في قلبه أنه متى انتهى من البلد سوف يطلقها، فهذا لا تضره وهذه النية قد تتغير وليست معلومة وليست شرطًا، بل هي بينه وبين الله فلا يضره ذلك، وهذا من أسباب عفته عن الزنى والفواحش وهذا قول جمهور أهل العلم حكاه عنهم صاحب المغني موفق الدين بن قدامة رحمه الله.
    “Benar. Sudah ada fatwa yang dikeluarkan oleh Al-Lajnah Ad-Daaimah dan saya adalah pimpinannya, tentang diperbolehkannya menikah dengan niat thalaq bila niat tersebut hanya diketahui oleh dirinya dan Allah saja. Apabila seseorang menikah di negara lain dan niatnya adalah menceraikannya apabila studinya telah selesai atau setelah tugasnya sebagai pegawai selesai. Menurut pendapat jumhur ulama, nikah seperti itu diperbolehkan, namun niatnya hanya diketahui oleh ia (si laki-laki) dan Allah saja, dan itu bukan termasuk syarat.
    Perbedaannya dengan nikah mut’ah adalah bahwa nikah mut’ah itu ada syaratnya yaitu untuk waktu tertentu, seperti sebulan, dua bulan, setahun, dua tahun, atau semisalnya. Lalu apabila habis masa itu, maka nikahpun dengan sendirinya menjadi gugur (bubar/cerai otomatis). Inilah yang disebut nikah mut’ah yang bathil itu. Adapun menikah berdasarkan ajaran Allah dan Rasul-Nya, akan tetapi di dalam hatinya ada niat akan menceraikannya apabila telah selesai melaksanakan tugas di negara lain tersebut, maka nikah seperti ini tidak mengapa, karena niat seperti itu bisa berubah. Ia tidak diketahui dan bukan sebagai syarat. Niat itu hanya diketahui oleh ia sendiri dan Allah saja. Maka tidak apa-apa yang demikian itu. Ini merupakan cara pemeliharaan diri dari zina dan perbuatan keji. Ini adalah pendapat jumhur ulama, sebagaimana disebutkan oleh penulis kitab Al-Mughniy, yaitu Muwaffiquddin Ibnu Qudamah rahimahullah” [Fataawaa Islaamiyyah, dihimpun dan disusun oleh Muhammad bin ‘Abdil-‘Aziiz Al-Musnid, hal. 236, Asy-Syaikh Ibnu Baaz – melalui perantaraan Fataawaa ‘Ulamaa’ Al-Baladil-Haraam, hal. 455].
    Sebagai pelengkap, mari kita ambil pelajaran yang sarat faedah dari Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah :
    لو نوى المتعة بدون شرط، يعني نوى الزوج في قلبه أنه متزوج من هذه المرأة لمدة شهر ما دام في هذا البلد فقط، فهل نقول: إن هذا حكمه حكم المتعة أو لا؟ في هذا خلاف، فمن العلماء من قال: إنه حرام وهو المذهب لأنه في حكم نكاح المتعة؛ لأنه نواه، وقد قال النبي صلّى الله عليه وسلّم: «إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى» ، وهذا الرجل قد دخل على نكاح متعة مؤقت، فكما أنه إذا نوى التحليل وإن لم يشترطه صار حكمه حكم المشترط، فكذلك إذا نوى المتعة وإن لم يشترطها فحكمه كمن نكح نكاح متعة، وهذا القول قول قوي.
    وقال آخرون: إنه ليس بنكاح متعة؛ لأنه لا ينطبق عليه تعريف نكاح المتعة، فنكاح المتعة أن ينكحها نكاحاً مؤقتاً إلى أجل، ومقتضى هذا النكاح المؤجل أنه إذا انتهى الأجل انفسخ النكاح، ولا خيار للزوج ولا للزوجة فيه؛ لأن النكاح مؤقت يعني بعد انتهاء المدة بلحظة لا تحل له هذه المرأة، وهو ـ أيضاً ـ ليس فيه رجعة؛ لأنه ليس طلاقاً بل هو انفساخ نكاح وإبانة للمرأة، والناوي هل يُلزِم نفسه بذلك إذا انتهى الأجل؟
    الجواب: لا؛ لأنه قد ينوي الإنسان أنه لا يريد أن يتزوجها إلا ما دام في هذا البلد، ثم إنه إذا تزوجها ودخل عليها رغب فيها ولم يطلقها، فحينئذٍ لا ينفسخ النكاح بمقتضى العقد، ولا بمقتضى الشرط؛ لأنه ما شرط ولا شُرط عليه، فيكون النكاح صحيحاً وليس من نكاح المتعة.
    وشيخ الإسلام ـ رحمه الله ـ اختلف كلامه في هذه المسألة، فمرة قال بجوازه، ومرة قال بمنعه، والذي يظهر لي أنه ليس من نكاح المتعة، لكنه محرم من جهة أخرى، وهي خيانة الزوجة ووليها، فإن هذا خيانة؛ لأن الزوجة ووليها لو علما بذلك ما رضيا ولا زوجاه، ولو شرطه عليهم صار نكاح متعة، فنقول: إنه محرم لا من أجل أن العقد اعتراه خلل يعود إليه، ولكن من أجل أنه من باب الخيانة والخدعة.
    فإذا قال قائل: إذا هم زوَّجوه، فهل يلزمونه بأن تبقى الزوجة في ذمته؟ فمن الممكن أن يتزوج اليوم ويطلق غداً؟
    قلنا: نعم، هذا صحيح أن الأمر بيده إن شاء طلق وإن شاء أبقى، لكن هنا فرق بين إنسان تزوج نكاح رغبة، ثم لما دخل على زوجته ما رغب فيها، وبين إنسان ما تزوج من الأصل إلا نكاح متعة بنيته، وليس قصده إلا أن يتمتع هذه الأيام ثم يطلقها.
    فلو قال قائل: إن قولكم إنه خيانة للمرأة ووليها غير سديد؛ وذلك لأن للرجل عموماً أن يطلق متى شاء، فالمرأة والولي داخلان على مغامرة ومخاطرة، سواء في هذه الصورة أو غيرها؛ لأنهما لا يدريان متى يقول: ما أريدها.
    قلنا: هذا صحيح لكنهما يعتقدان ـ وهو أيضاً يعتقد ـ أنه إذا كان نكاح رغبة أن هذا النكاح أبدي، وإذا طرأ طارئ لم يكن يخطر على البال، فهو خلاف الأصل، ولهذا فإن الرجل المعروف بكثرة الطلاق لا ينساق الناس إلى تزويجه، ولو فرضنا أن الرجل تزوج على هذه النية، فعلى قول من يقول: إنه من نكاح المتعة ـ وهو المذهب ـ فالنكاح باطل، وعلى القول الثاني ـ الذي نختاره ـ أن النكاح صحيح، لكنه آثم بذلك من أجل الغش، مثل ما لو باع الإنسان سلعة بيعاً صحيحاً بالشروط المعتبرة شرعاً، لكنه غاشٌ فيها، فالبيع صحيح والغش محرم،
    “Apabila ia (laki-laki) meniatkan nikah agar bisa mendapatkan kenikmatan/kesenangan tanpa ada syarat, yaitu calon suami berniat dalam hatinya untuk menikahi wanita ini selama sebulan – selama masih berada di negerinya saja – , maka apakah akan kita katakan bahwa nikah ini hukumnya sama dengan nikah mut’ah atau tidak ? Dalam perkara ini ada perselisihan di kalangan ulama. Di antara mereka ada yang berkata : Hukumnya sama dengan nikah mut’ah; sebab ia telah meniatkan, sedangkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : ‘Sesungguhnya semua amalan itu hanya tergantung dengan niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan’ [2]. Laki-laki ini telah masuk dalam pernikahan yang ia niatkan mendapatkan kenikmatan untuk sementara waktu, maka sebagaimana jika ia niatkan untuk penghalalan – sekalipun tidak mensyaratkan – maka hukumnya sama dengan hukum bersyarat. Demikian pulalah jika ia berniat sekedar mengambil kenikmatan – sekalipun tidak mensyaratkannya – , hukumnya sama dengan hukum nikah mut’ah. Pendapat ini sebagaimana dapat engkau lihat sendiri adalah pendapat yang kuat.
    Yang lain berpendapat : Ini bukan nikah mut’ah; sebab tidak terpenuhi padanya definisi nikah mut’ah. Nikah mut’ah adalah ia menikahinya sampai waktu tertentu, di saat waktu itu telah sampai maka nikah itu bubar dengan sendirinya tanpa ada pilihan bagi suami ataupun istri. Juga pada nikah mut’ah tidak boleh kembali setelahnya, sebab perpisahan keduanya bukan karena thalaq, tetapi dengan sebab bubarnya pernikahan dan terlepasnya istri. Inilah nikah mut’ah. Sedangkan orang yang sekedar berniat, apakah dia harus melakukannya setelah tiba masa itu ? Jawabnya : Tidak. Sebab, terkadang seseorang berniat hanya ingin mempertahankan pernikahan selama di negeri ini saja, lalu ternyata setelah ia menikahinya dan melakukan hubungan dengannya, ia pun senang kepadanya dan tidak mau menceraikannya. Maka ketika itu nikahnya tidak bubar berdasarkan akad atau syarat, sebab dirinya tidak mensyaratkan dan tidak pula diberi syarat. Maka kesimpulannya : Nikahnya sah, dan bukan nikah mut’ah.
    Syaikhul-Islam mempunyai pendapat beragam dalam masalah ini. Beliau pernah mengatakan boleh dan pernah juga mengatakan tidak boleh. Sedangkan yang nampak benar bagiku, ini bukan nikah mut’ah. Hanya saja ia diharamkan dengan sebab lain, yaitu tindakan penipuan terhadap istri dan walinya. Dimana istri dan wali kalau mengetahui hal tersebut, maka tidak akan mau dan tidak akan menikahkan dengannya, sedangkan kalau dia terang-terangan menjadikannya sebagai syarat di hadapan mereka, maka ini menjadi nikah mut’ah. Maka kami katakan : Ia haram bukan karena terjadinya cacat pada akad, tetapi karena ia termasuk pengkhianatan dan penipuan.
    Kalau seseorang berkata : Bagaimana kalau para wali telah menikahkannya, apakah mereka boleh memaksa si laki-laki untuk memelihara terus pernikahannya ? Sebab, bisa jadi mereka menikahkannya pada hari ini lalu esok hari ia menthalaqnya.
    Kami katakan : Ya, ini benar bahwasannya keputusan berada di tangannya (suami), apakah ia mau menthalaq atau mempertahankan pernkahan. Akan tetapi ada perbedaan antara seorang yang menikah karena memang suka lalu sekamar dengan istri yang dicintainya dengan seorang yang sejak awal memang meniatkan sekedar kenikmatan dalam hatinya. Orang kedua ini hanyalah menginginkan kenikmatan dalam beberapa hari lalu habis itu diapun menthalaqnya.
    Apabila ada seseorang yang berkata : Ucapanmu bahwa ini sebuah pengkhianatan terhadap pihak wanita dan walinya tidaklah benar, sebab pihak suami mempunyai pilihan kapan saja dia hendak menceraikannya, sehingga pihak wanita telah mempertaruhkan diri dalam tantangan besar, dimana mereka tidak tahu kapan suami akan menceraikannya.
    Kami katakan : Ini benar. Akan tetapi apabila pernikahan didasari cinta, maka pihak wanita maupun laki-laki sama-sama menginginkan agar pernikahan ini abadi. Jika ternyata di belakang hari terjadi sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terlintas di benak mereka, maka ini suatu hal yang datang kemudian yang berbeda dengan maksud awal. Oleh sebab itu, seorang yang dikenal suka menthalaq (menceraikan), orang-orang tidak akan senang menikahkan keluarganya dengan laki-laki tersebut.
    Apabila ada seorang laki-laki yang melakukan nikah dengan niat yang demikian, maka berdasarkan pendapat yang mengatakan ia termasuk nikah mut’ah, maka nikah ini bathil (tidak sah). Sedangkan berdasarkan pendapat kedua – inilah yang kita pilih – pernikahannya sah, akan tetapi dia telah berdosa dengan sebab menipu. Ia semisal dengan seorang yang menjual suatu barang dengan syarat yang syar’iy, akan tetapi dia melakukan penipuan. Maka jual belinya sah, sedangkan penipuannya haram” [Asy-Syarhul-Mumti’, 12/76].
    Demikianlah keadaan fatwa para ulama mengenai nikah dengan niat thalaq.
    Terdapat khilaf yang mu’tabar di dalamnya. Bahkan, pendapat yang mengatakan sahnya nikah jenis ini adalah merupakan pendapat jumhur ulama. Namun kemudian mereka (jumhur) berbeda dalam perinciannya.
    Kami cenderung sependapat dengan pendapat Syaikh Utsaimin untuk menghindari subhat dan demi kehati-hatian. Kami tidak sepakat jika hal ini sampai pada derajat haram, karena unsur penipuan yang dikatakan oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin pun bersifat kemungkinan atau nisbi. Apalagi jika ada seseorang yang menikah dengan cara ini dengan niat (yang benar) agar tidak terjerumus pada zina, maka sangat sulit mengatakan bahwa apa yang ia lakukan itu dihukumi haram. Bahkan ia boleh melakukannya sebagaimana dijelaskan Asy-Syaikh Ibnu Baaz !!
    Oleh karena itu, sungguh sangat naif dan culas jika ada sebagian pihak yang menisbatkan adanya praktek penyimpangan atas dua jenis pernikahan ini kepada ulama yang membolehkannya -.
    Entahlah, saya tidak tahu, apakah anda mengetahui duduk permasalahan ini atau tidak dalam pembahasan para ulama. Mengapa sikap sinis anda tidak sekalian saja dialamatkan kepada jumhur ulama seperti Ibnu Qudamah dan An-Nawawi rahimahumallah atau yang lainnya ?. Kesalahan sikap menggampangkan dan penyimpangan yang dilakukan segelintir orang seharusnya hanya dinisbatkan kepada orangnya. Sedangkan para ulama bara’ (berlepas diri) terhadap penyimpangan-penyimpangan itu. Itu seperti halnya jika ada ulama yang menjelaskan kebolehan poligami kemudian ada beberapa pihak yang ‘bermudah-mudah’ dan berlaku dhalim dalam urusan ini; apakah kemudian kita nisbatkan sebab musababnya pada ulama yang membolehkannya ?
    Janganlah kita jadikan sebagian ketidaktahuan (kejahilan) kita menjadi sebab kita mencela apa yang seharusnya tidak perlu dicela !!
    Jika kita perhatikan dengan cermat apa yang difatwakan leh Asy-Syaikh Ibnu Baaz sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh kebanyakan yang menyandarkan perbuatannya kepada fatwa beliau.
    Wallaahu a’lam bish-shawwaab.

  19. Bismillah..
    @Mas Abi raka..
    Benar mas, tidak ada yang ma’shum kecuali rasulullah shalallahu alaihi wa sallam..
    Tapi ketahuilah mas, andaikan ulama kami, melakukan perbuatan dan perkataan seperti yang gusdur katakan dan lakukan.. Maka pasti ulama tersebut sudah kami tinggalkan bahkan kami tidak akan segan-segan untuk mengutuknya..
    Ini khan beda dengan anda dan para mukallid-mukallid gusdur..
    Sudah jelas-jelas perkataan dan perbuatan gusdur sangat jauh melenceng dari agama ini, kok masih di taklidi juga, bahkan disanjung dan di puja-puji serta tidak terima jika ada orang yang menyalahkan perkataan dan perbuatannya.. Ini kan aneh…

    1. @ibnu ilyas
      pertanyaan saya yang lain mana jawabannya….?
      masih saya tunggu loh….!
      terus yang saya heran ente begitu husnudzon sama ulama ente walaupun uacapan salah, tapi sama orang lain ente langsung suudzon walaupun belum tahu maksud dari ucapannya!

  20. Bismillah..
    @Mas Gandi..
    Mengenai raja arab yang mempunyai istri 30 dan bekerjasama dengan yahudi??
    Maaf mas, saya nggak kenal dengan raja ini, dan kami juga bukan orang yang taklid kepadanya.. Kalau memang dia salah, ya kami berani menyalahkannya.. Tidak seperti anda dan kaum anda yang taklid buta dengan kyainya yang jelas-jelas melakukan pelanggaran agama yang sangat berat…
    Dan lagi, apa benar berita ini?? Kalau raja ini kawin dengan 30 wanita tapi dengan tidak mengumpulkannya (yakni dengan cara kawin cerai), kemudian menyisakan 4 wanita, maka ini tidak masalah…
    Lalu yang dia bekerjasama dengan yahudi?? Anda ambil berita darimana? Kayaknya saya nggak pernah dengar berita itu…
    Kemudian anda mengatakan kerajaan arab saudi melakukan perbuatan “maha bid’ah”??..
    Maha itu kan artinya, yang paling besar ya… Bisa dijelaskan mas perbuatan apa itu??, supaya tidak menjadi fitnah disini…

  21. Bismillah..
    @Mas Gandi..
    Anda benar mas, memang fir’aun, hitler, marcos dan simon peres di kenal dengan tokoh yang cerdas otaknya, tapi rapuh hati dan mentalnya…
    Tapi secerdas-cerdasnya mereka, tidak ada tuh yang berani menghina kesucian kitab suci, apalagi kitab sucinya sendiri, beda dengan gusdur..
    Mungkin saking cerdasnya sehingga keluar dari mulutnya hinaan terhadap kitab sucinya sendiri, bahkan dengan berani mengatakan bahwa kitab suci Al qur’an lebih porno daripada kitab-kitab suci agama lain.. (Na’udzu billahi min dzalik…)..
    Sebuah perkataan dusta dan aneh…
    Mas, mas… orang kayak gitu kok masih aja di bela bahkan di taklidi…
    Tobat mas..

  22. Bismillah…
    @Mas Alfeyd..
    Wah wah, rupanya anda ini jago bahasa arab ya?? Sampai sedemikian PD nya mau ngajarin bahasa arab segala..
    Maaf mas, kalau untuk belajar bahasa arab saya rasa bukan disini tempatnya..
    Lagipula kenapa pembahasan kita bisa melenceng jauh begini ya??
    Mendingan kita kembali ke tema awal pembahasan saja mas…

  23. apakah koment saya kurang jelas mas baik saya ulangi lagi
    “silahkan tampilkan teks arabnya saja
    kemudian kita mencoba latihan memaknai
    dengan tatacara memahami bahsa arab
    seauai dengan ilmu yang telah saya
    sampaikan dalam setiap koment saya..”

  24. Bismillah…
    @Mas Alfeyd..
    Saya akan buktikan bahwa tulisan dalam blog ini sama sekali tidak menyentuh kebenaran :
    Nggak usah jauh-jauh mas, dalam artikel ini judulnya saja sudah profokatif dan tidak menyentuh kebenaran, yakni : “Investigasi hadits : kaum wahabi adalah pengikut manhaj dzul khuwaishirah at tamimi”
    Itu sama saja dengan mengatakan bahwa wahaby adalah sesat..
    Mas.., apa anda sudah membaca fatwa MUI tentang salafy wahaby?? Kalau belum ini salah satu artikelnya : artikelassunnah.blogspot.com/2009/12/fatwa-mui-tentang-manhaj-salafy.html#.UUvB2lt-U1I
    Lalu ciri-ciri wahabby yang di maksud sesuai dengan hadits nabi mengenai khawarij itu jauh sekali dengan ciri-ciri wahaby..
    Coba mas perhatikan dan bandingkan :
    1. Kaum khawarjij suka ngebom, salafy wahaby justru yang paling anti dengan bom dan teroris..
    2. Kaum khawarij bercukur gundul, salafy wahaby justru mensunnahkan untuk membiarkan rambut.. Kalau wahaby bercukur gundul, tentu orang makkah dan madinah yang wahabby itu sudah gundul semua..
    Coba mbak baca : kitab : Al Haq al mubin hal 45, dari Da’awi al munawi hal 190, disitu tertulis : Bahwa menurut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab membiarkan rambut adalah sunnah, atau antum baca kitab majmu’ah muallafat syaikh ibnu abdil wahhab.. dan banyak kitab-kitab yang lain yang justru mengisyaratkan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab membenci cukur gundul dan mensunnahkan untuk membiarkan rambut..
    3. Fitnah datangnya dari Najed?..
    Semua ulama yang lurus dari zaman dulu sampai sekarang menafsirkan bahwa dimaksud arah timur adalah Iraq, sesuai dengan hadits berikut :
    Riwayat Ath-Thabaraaniy dalam Mu’jamul-Kabiir.
    Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Aliy Al-Ma’mariy : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Mas’uud : Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Aun, dari ayahnya, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Syaam kami dan Yamaan kami”. Beliau mengatakannya beberapa kali. Saat beliau mengatakan yang ketiga kali atau keempat, para shahabat berkata : “Wahai Rasulullah, dari juga ‘Iraaq kami ?”. Beliau bersabda : “Sesungguhnya di sana terdapat bencana dan fitnah. Dan di sana lah muncul tanduk setan” [Al-Mu’jamul-Kabiir, 12/384 no. 13422; sanadnya jayyid].
    Hadits diatas lebih diperkuat lagi dengan hadits yang lain sebagai berikut :
    Riwayat Muslim dalam Shahih-nya. :
    Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, Waashil bin ‘Abdil-A’laa, dan Ahmad bin ‘Umar Al-Wakii’iy (dan lafadhnya adalah lafadh Ibnu Abaan); mereka semua berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail, dari ayahnya, ia berkata : Aku mendengar Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata : “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda : ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini – ia menunjukkan tangannya ke arah timur – dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya : ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” (Thaahaa: 40)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2905 (50)].
    Adapun tentang hadits dengan lafadz “Najd”, maka para ulama menafsirkan bahwa kata najd yang dimaksud adalah tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya..
    Silakan merujuk kembali dalam kamus bahasa ‘Arab, Ibnul-Mndhuur menyebutkan :
    “Semua tanah yang tinggi dari Tihaamah sampai tanah ‘Iraaq, maka itu Najd” [lihat dalam Lisaanul-‘Arab].
    Wallahu a’lam..

  25. Bismillah..
    Bismillah..
    @Mas gandi..
    Kalau kecerdasan itu diukur dari pernahnya dia jadi pemimpin..
    Ketahuilah, Fir’aun, Hitler, Marcos dan Simon Perez juga jadi pemimpin, bahkan ketokohannya diakui lebih hebat daripada gusdur…
    Mungkin dia cerdas dalam satu hal, tapi dalam hal pikiran dan mental, maka apakah anda berani menjamin bahwa perkataan gusdur “ Al qur’an adalah kitab suci paling porno di dunia” itu adalah perkataan yang cerdas dan di ucapkan oleh orang yang mentalnya sehat??
    Mengenai syaikh bin baz yang mengatakan bumi itu datar :
    Begitulah kebiasaan ahlul bid’ah yang suka memotong-motong berita.
    Adapun kabar selengkapnya adalah sebagai berikut :
    Sebagaimana diketahui teori bumi terbagi menjadi 2 pendapat, yakni pendapat Ibnu Hazm yang menyatakan bahwa bumi adalah bulat. Dan pendapat Imam Al qurthubi yang berpendapat bahwa bumi adalah rata.
    Sebagaimana halnya Imam al-Qurthubi yang berpendapat bahwa bumi itu rata, Syaikh Bin Baz pada awalnya juga merupakan seorang yang mempercayai bahwasanya bumi itu rata.
    Namun suatu ketika ada seseorang yang mengabarkan pada Syaikh Bin Baz perihal ekspedisi luar angkasa yang dilakukan oleh beberapa ilmuan barat, dan hal ini membuktikan kebenaran tafsir Imam Ibnu Hazm dalam menafsirkan sebuah ayat didalam Al-Qur’an yaitu surat Al-Gashiyyah ayat 20. Imam Ibnu Hazm berpendapat bahwa penekanan kata “dihamparkan” pada surat Al-Ghasiyyah ayat 20 menunjukkan bahwa sebenarnya bentuk bumi itu tak rata dan terhampar sebagaimana karpet, namun karena kekuasaan Allah sehingga bumi yang tak rata itu seakan-akan terhampar pada bagian permukaannya dan makhluk hidup pun bisa tinggal serta berjalan-jalan diatasnya.
    “Dan (apakah mereka tidak memperhatikan) bumi, bagaimana ia dihamparkan” (QS. Al-Gashiyyah: 20)
    Sejak saat itu maka muncul sebuah fatwa rujuknya Syaikh Bin Baz dari pendapat bahwa bumi itu rata dan beliaupun berhujjah dengan pendapat Imam Ibnu Hazm diatas..
    Adalah sesuatu yang wajar, seorang ulama melakukan kesalahan dalam berfatwa, apalagi beliau telah rujuk dengan pendapat yang benar..
    Tidak ada seorangpun yang dianggap ma’sum kecuali Rasulullah shalallahu alaihi wasallam…
    Jangankan syaikh bin baz, para imam dan ulama besar, dan bahkan sahabat nabi saja pernah melakukan kesalahan dalam beritjihad. Tidakkah kalian perhatikan kesalahan ijtihad dari sahabat mu’awiyah, thalhah, zubair, bahkan aisyah radiyallahu anha ketika memerangi Imam Ali radiyallahu anhu..
    Lagipula kenapa anda sibuk-sibuk ngurusi kesalahan ijtihad syaikh bin baz, padahal di depan mata kalian, ulama panutan kalian yang kalian puja puji melakukan banyak sekali kesalahan dan kekacauan dalam berpikir dan berucap. Dari seorang kyai yang mengatakan al qur’an porno, semua agama adalah sama, niat melakukan hubungan dagang dengan Israel (yahudi), melukis dengan lukisan aneh “zikir bersama inul”, sampai yang mengatakan bahwa hampir semua sahabat rasulullah murtad setelah wafatnya rasulullah kecuali sebagian kecil saja, namun itupun bukan karena keimanan, tetapi karena fanatisme kabilah (ini sama saja mengatakan bahwa para sahabat r.a. adalah munafik), na’udzu billahi min dzalik…
    Dan masih banyak lagi pikiran-pikiran nyleneh dari tokoh-tokoh anda, namun anda sendiri kok tenang-tenang saja, malahan taklid kepada mereka…
    Ibarat pepatah : “Semut diseberang lautan tampak, tetapi gajah didepan mata justru tidak nampak”.
    Aneh bin ajaib..

    1. ibnu ilyas, udah jelas iyalah bang orang bisa jadi pemimpin itu salah satunya adalah karena kecerdasannya, contoh ya seperti Fir’aun, Hitler, Marcos, Soeharto mereka adalah orang-orang yang cerdas. Bahkan Raja Abdul Azis bin Abdurrahaman Al-Saudi yang konon mempunyai 30 istri , dengan kecerdasannya menggandeng yahudi bisa mendirikan kerajaan Arab Saudi. coba kalau dia gak cerdas mana bisa jadi raja ? Sepakat kan bang …….
      pepatah : ” semut diseberang lautan tampak, tetapi gajah didepan mata justru tidak nampak” emang sangat tepat buat ulama wahabi …. contohnya : bid’ah dinegeri Indonesia tampak, tetapi maha bid’ah di di kerajaan Arab Saudi justru tidak nampak.

  26. tanggapi tulisan saya yang atas mas ibnu ilyas… bagaimana… tunjukan bahwa hujjah anda memang paatut untuk sampean bela sampek mati…
    setelah itu kita bahas tulisan saya yang di bawahnya kemudian bawahnya lagi biar tertib tidak ngalor ngidul

  27. Bismillah..
    @Mas Alfeyd..
    Anda berkata : maka sekali lagi.. jangan sampai
    menuduh murtad, kafir, musrik dll kepada
    orang yang sahadat..
    Jawab : Mas, kalimat tersebut mestinya anda pakai untuk menasehati kawan-kawan anda dan (mungkin) kepada diri anda sendiri supaya tidak sembarangan mengucap kata murtad, kafir, musyrik, pengikut dajjal, pengikut khawarij, kepada orang-orang yang berpegang teguh dengan manhaj salaf yang kalian sebut dengan wahaby itu..
    Karena kaum salafy wahaby juga bersahadat bahkan dengan sahadat yang benar, sehingga mereka dikenal dengan ahlul tauhid..
    Apakah kalian, hai orang NU Aswaja pernah disebut sebagai ahlul tauhid..??
    Apakah blog ini bisa disebut dengan blog yang menyentuh kebenaran, jika tidak bisa menerapkan apa yang diucapkannya sendiri..?
    Yakni disatu sisi mencela orang yang telah menuduh mereka dengan ahlul bid’ah dan banyak melakukan kesyirikan, padahal di sisi lain mereka sendiri justru menuduh kaum wahaby dengan tuduhan yang lebih parah…

  28. Bismillah..
    Anda katakan gusdur cerdas??
    Itu artinya anda juga meyakini bahwa perkataan gusdur : Al qur’an adalah kitab suci paling porno di dunia” adalah perkataan yang keluar dari otak orang yang sangat cerdas”.. Berarti anda meyakini kebenaran perkataan tersebut.. Astaghfirullahal adzhiim..
    Mas alfeyd, sadarlah, dan bertobatlah…

    1. ibnu ilyas lo mikir dong…. jangan cuma ngurusin bid’ah orang lain aja………
      kalau gak cerdas mana bisa Gusdur jadi presiden RI ? Kalau gak cerdas mana bisa Gusdur diakui ketokohannya oleh dunia ? atau menurut ibnu Ilyas yang cerdas itu macam ulama wahabi yang mengatakan bahwa bumi datar ya. ?????… xi xi xi xi

  29. Bismillah…
    Apa anda sudah baca koment-koment kawan-kawan anda dalam blog ini?? mana yang lebih kejam dari apa yang saya tuliskan??
    Saya hanya menyoroti satu orang kyai NU saja, tapi kawan-kawan anda dan (barangkali) anda sendiri menuduh seluruh pengikut manhaj salaf di seluruh dunia sebagai kafir, musyrik, munafik, pengikut dajjal, penghuni neraka, menuduh sebagai khawarij.. Bahkan ada yang mendoakan dengan “laknatullah alaih (naudzu billahi min dzalik..)..
    Seperti itukah akhlak seorang muslim?? Saling mendoakan dengan keburukan??
    Sekali lagi, mana yang lebih kejam mas alfeyd????…

  30. Bismillah…
    @Alfeyd..
    Sehingga jelas bagi kami bahwa fatwa albani berdasarkan qorinah2 tadi adalah mengusir rakyat palestina dengan halus.. YANG AKHIRNYA TUDUHAN KAMI BUKAN FITNAH
    Anda mengatakan “tuduhan kami bukan fitnah”.. Kalimat tersebut justru secara jelas mengungkapkan fitnah yang anda lontarkan..
    Adapun yang saya tuliskan :
    “Dibaptis. Ini pertanda bahwa gusdur barangkali munafik”.
    Masih ada kata “barangkali”…
    Mana yang lebih kejam????

  31. @ibnu ilyas: Dalil yang mana mas..
    Semua dalil-
    dalil yang anda dan kawan-kawan anda
    sampaikan sama sekali tidak menyentuh
    kebenaran..
    mas mas.. sudah berapa lama golongan
    anda mengikuti perkembangan blok ini,
    dan apakh hujah golongan anda pernah
    bertahan lama menghadapi hujah-hujah
    aswaja.. ? pernahkah itu terpikirkan oleh
    kalian… ???
    kalau sampean mengatakan “jauh dari
    kebenaran” bisa sampean sebutkan di
    bagian mana hal tersbt terjadi atau dalam
    pembahasan apa? mari kita kupas lagi
    dengan hati ikhlas… kalau anda mau
    silahkan tampilkan teks arabnya saja
    kemudian kita mencoba latihan memaknai
    dengan tatacara memahami bahsa arab
    seauai dengan ilmu yang telah saya
    sampaikan dalam setiap koment saya..
    ibnu ilyas:
    Jangan suudzan mas.. apalagi memfitnah..
    Apakah anda tahu isi hati syaikh al Albani
    bahwa tujuan fatwa itu adalah untuk
    mengusir rakyat Palestina??
    Lalu apakah ulama sampeyan (gusdur)
    pernah turun langsung ke Palestina untuk
    membantu rakyat palestina??
    saya: adakah koment saya menuduh
    albani.. saya mengatakan “berdasarkan
    qorinah”
    dan apakah sampean juga tau isi hati
    albani..??
    mengenai gusdur apakah sampean juga
    tau isi hati gusdur? bahkan sampean
    sudah berani mengatakan “murtad” lantas
    kejam mana tulisan saya dibanding tulisan
    anda..??
    la nek sampean tetap mempermasalahkan
    gusdur ingat beliau adalah tokoh
    kontroversial yang kemampuan IQnya di
    atas rata2 dan saya yaqin kemampuan
    saya dan sampean belum mampu untuk
    menguak apa yang dikehendaki gusdur..
    silahkan klik
    http://www.gusdur.net/Opini/Print_page?
    id=232/hl=id/
    Mencangkok_Kecerdasan_Gus_Dur
    sedangkan bukti2 sumber lain yang telah
    saya carikan “untuk anda” itu juga tidak
    bisa menjamin bahwa itu yang dikendaki
    gusdur.. maka sekali lagi.. jangan sampai
    menuduh murtad, kafir, musrik dll kepada
    orang yang sahadat..

  32. @ibnu ilyas: Jawab : Dalil yang mana mas..
    Semua dalil-
    dalil yang anda dan kawan-kawan anda
    sampaikan sama sekali tidak menyentuh
    kebenaran..
    mas mas.. sudah berapa lama golongan
    anda mengikuti perkembangan blok ini,
    dan apakh hujah golongan anda pernah
    bertahan lama menghadapi hujah-hujah
    aswaja.. ? pernahkah itu terpikirkan oleh
    kalian… ???
    kalau sampean mengatakan “jauh dari
    kebenaran” bisa sampean sebutkan di
    bagian mana hal tersbt terjadi atau dalam
    pembahasan apa? mari kita kupas lagi
    dengan hati ikhlas… kalau anda mau
    silahkan tampilkan teks arabnya saja
    kemudian kita mencoba latihan memaknai
    dengan tatacara memahami bahsa arab
    seauai dengan ilmu yang telah saya
    sampaikan dalam setiap koment saya..
    ibnu ilyas:
    Jangan suudzan mas.. apalagi memfitnah..
    Apakah anda tahu isi hati syaikh al Albani
    bahwa tujuan fatwa itu adalah untuk
    mengusir rakyat Palestina??
    Lalu apakah ulama sampeyan (gusdur)
    pernah turun langsung ke Palestina untuk
    membantu rakyat palestina??
    saya: adakah koment saya menuduh
    albani.. saya mengatakan “berdasarkan
    qorinah”
    dan apakah sampean juga tau isi hati
    albani..??
    mengenai gusdur apakah sampean juga
    tau isi hati gusdur? bahkan sampean
    sudah berani mengatakan “murtad” lantas
    kejam mana tulisan saya dibanding tulisan
    anda..??
    la nek sampean tetap mempermasalahkan
    gusdur ingat beliau adalah tokoh
    kontroversial yang kemampuan IQnya di
    atas rata2 dan saya yaqin kemampuan
    saya dan sampean belum mampu untuk
    menguak apa yang dikehendaki gusdur..
    silahkan klik
    http://www.gusdur.net/Opini/Print_page?
    id=232/hl=id/
    Mencangkok_Kecerdasan_Gus_Dur
    sedangkan bukti2 sumber lain yang telah
    saya carikan “untuk anda” itu juga tidak
    bisa menjamin bahwa itu yang dikendaki
    gusdur.. maka sekali lagi.. jangan sampai
    menuduh murtad, kafir, musrik dll kepada
    orang yang sahadat..

  33. Bismillah…
    @Mas abi raka..
    Dalam masalah ini (nikah dengan niat talak), demi sifat kehati-hatian, kami mengambil pendapat dari Syaikh Utsaimin..
    Tapi kami juga tidak menyalahkan pendapat syaikh bin baz, karena beliau telah berfatwa berdasarkan pendapat jumhur ulama dari kalangan ulama ahlu sunnah, jadi bukan dengan hawa nafsu beliau..
    Anggaplah bahwa fatwa syaikh bin baz itu dianggap sebagai suatu kesalahan, maka hal itu adalah sesuatu yang wajar, seorang ulama melakukan kesalahan dalam berfatwa, apalagi beliau berfatwa dengan mengambil pendapat dari banyak ulama salaf..
    Tidak ada seorangpun yang dianggap ma’sum kecuali Rasulullah shalallahu alaihi wasallam…
    Jangankan syaikh bin baz, para imam dan ulama besar, dan bahkan sahabat nabi saja pernah melakukan kesalahan dalam beritjihad. Tidakkah anda perhatikan kesalahan ijtihad dari sahabat mu’awiyah, thalhah, zubair, bahkan aisyah radiyallahu anha ketika memerangi Imam Ali radiyallahu anhu..?
    Dan tidakkah anda perhatikan perbedaan pendapat dari para imam mazhab? Beranikah kita mengatakan bahwa mereka itu sesat?
    Pikirkanlah wahai saudaraku…
    Wallahu a’lam..

    1. @ibnu ilyas
      1. aneh ente bilang bahwa bin baz bukan seorang yang ma’sum, bisa saja salah terus kenapa ente tidak menganggap hal yang sama pada gusdur dan ulama2 aswaja..? malah ente buat daftar dosa kaya ente tuhan aja yang bisa nentuin dosa apa nggak, buat saya ente malah ngeduluin tuhan menetukan orang dosa apa ga. berfikirlah wahai sodaraku
      2. coba bandingkan gusdur bicara bukan dalam rangka memberikan fatwa, tapi pendapat dia sendiri yang bukan fatwa apalagi di bukukan dan katanya berdasarkan jumhur ulama? efeknya lebih besar mana boz?
      trus jumhur ulama mana yang membolehkan nikah dengan niat talak? tolong cariin kitabnya klo bs scan kitabnya trus posting disini
      3.satu pertanyaan saya bagaimana hukumnya menurut ente kalo seseorang wahabi melakukan nikah dengan niat talak dengan alasan bin baz membolehkan..?
      boleh apa nggak?

  34. Anda menuduh Syaikh Al Albani tidak mengetahui kondisi ummat saat ini..
    Justru sebaliknya mas, Syaikh Al albany tahu betul kondisi rakyat Palestina, sehingga tidak memfatwakan untuk melawan Israel dengan kekuatan senjata.. Anda tahu kenapa mas??
    Ketahuilah mas, kondisi ummat Islam saat ini sangat lemah, belum saatnya bagi kita untuk melawan kekuatan israel yang didukung oleh Amerika serikat dan sekutu-sekutunya..
    Ada saatnya dimana janji Allah akan terwujud yakni dengan kemenangan ummat Islam atas yahudi, tapi bukan saat ini mas..
    Jika anda tahu bahwa janji Allah tidak akan meleset, maka anda pasti akan bersabar menanti saat-saat itu, yakni saat-saat kemenangan bagi ummat Islam..
    Wallahu’alam…

  35. @ibnu ilyas: Jawab : Dalil yang mana mas.. Semua dalil-
    dalil yang anda dan kawan-kawan anda
    sampaikan sama sekali tidak menyentuh
    kebenaran..
    mas mas.. sudah berapa lama golongan anda mengikuti perkembangan blok ini, dan apakh hujah golongan anda pernah bertahan lama menghadapi hujah-hujah aswaja.. ? pernahkah itu terpikirkan oleh kalian… ???
    kalau sampean mengatakan “jauh dari kebenaran” bisa sampean sebutkan di bagian mana hal tersbt terjadi atau dalam pembahasan apa? mari kita kupas lagi dengan hati ikhlas… kalau anda mau silahkan tampilkan teks arabnya saja kemudian kita mencoba latihan memaknai dengan tatacara memahami bahsa arab seauai dengan ilmu yang telah saya sampaikan dalam setiap koment saya..
    ibnu ilyas:
    Jangan suudzan mas.. apalagi memfitnah..
    Apakah anda tahu isi hati syaikh al Albani
    bahwa tujuan fatwa itu adalah untuk
    mengusir rakyat Palestina??
    Lalu apakah ulama sampeyan (gusdur)
    pernah turun langsung ke Palestina untuk
    membantu rakyat palestina??
    saya: adakah koment saya menuduh albani.. saya mengatakan “berdasarkan qorinah”
    dan apakah sampean juga tau isi hati albani..??
    mengenai gusdur apakah sampean juga tau isi hati gusdur? bahkan sampean sudah berani mengatakan “murtad” lantas kejam mana tulisan saya dibanding tulisan anda..??
    la nek sampean tetap mempermasalahkan gusdur ingat beliau adalah tokoh kontroversial yang kemampuan IQnya di atas rata2 dan saya yaqin kemampuan saya dan sampean belum mampu untuk menguak apa yang dikehendaki gusdur.. silahkan klik
    http://www.gusdur.net/Opini/Print_page?id=232/hl=id/Mencangkok_Kecerdasan_Gus_Dur
    sedangkan bukti2 sumber lain yang telah saya carikan “untuk anda” itu juga tidak bisa menjamin bahwa itu yang dikendaki gusdur.. maka sekali lagi.. jangan sampai menuduh murtad, kafir, musrik dll kepada orang yang sahadat..

  36. Bismillah…
    @Mas Alfeyd
    Anda berkata : ibnu ilyas, belum cukupkah dalil naqli dan aqli yang di jelaskan oleh teman2 aswaja buat kalian… ????
    Jawab : Dalil yang mana mas.. Semua dalil-dalil yang anda dan kawan-kawan anda sampaikan sama sekali tidak menyentuh kebenaran..
    Anda berkata :
    saya: yang menjadi pertanyaan kami ialah kenapa al bani tidak pernah memberikan fatwa kepada seluruh negara islam di dunia atau minimal negara islam di jazirah arab untuk membantu palestina ??? bahkan arab saudi rela bandaranya ditempati tentara kafir.. sudahkah sampean merenungi qorinah yang saya sampaikan..
    Sehingga jelas bagi kami bahwa fatwa albani berdasarkan qorinah2 tadi adalah mengusir rakyat palestina dengan halus.. YANG AKHIRNYA TUDUHAN KAMI BUKAN FITNAH
    kalau sampaian menyamakan perang israel vs palestina dengan kondisi perang pada zaman nabi vs kufar makkah sudahkah sampean liat kondisi umat islam pada waktu itu yang kondisinya menurut kami tidak sama.. sampean dan kaumu menggunakan metode qiyas dalam membuat fatwa, tapi disisi lain kalian tidak mengakui bahwa qiyas bisa digunakan sebagai sumber hukum.. aneh..
    wallohu ‘alan
    Jawab : Mas alfeyd.. Syaikh Al Albani tidak saja memberikan fatwa untuk membantu rakyat Palestina, bahkan beliau turun langsung ke Palestina untuk menjadi mentor bagi raktyat Palestina, bahkan hampir juga Syaikh al-Albani berjuang disana sebelum pemerintah di negrinya mengetahui hal ini dan serta merta memulangkan Syaikh al-Albani.. (Bukankah sudah saya tuliskan mas.. Anda nggak baca ya??)..
    Jangan suudzan mas.. apalagi memfitnah..
    Apakah anda tahu isi hati syaikh al Albani bahwa tujuan fatwa itu adalah untuk mengusir rakyat Palestina??
    Lalu apakah ulama sampeyan (gusdur) pernah turun langsung ke Palestina untuk membantu rakyat palestina??
    Bahkan sebaliknya, dia malah pernah mendapatkan penghargaan dari Amerika atas perjuangannya membela perjuangan Israel :
    Berikut beritanya :
    Abdurrahman Wahid terbang ke Amerika Serikat memenuhi undangan Shimon Wiesenthal Center (SWC) untuk menerima Medal of Valor, Medali Keberanian. Selain untuk menerima medali tersebut, Durahman juga menyatakan ikut merayakan hari kemerdekaan Israel, sebuah hari di mana bangsa Palestina dibantai besar-besaran dan diusir dari tanah airnya. Medali ini dianugerahkan kepada mantan presiden RI ini dikarenakan Durahman dianggap sebagai sahabat paling setia dan paling berani terang-terangan menjadi pelindung kaum Zionis-Yahudi dunia di sebuah negeri mayoritas Muslim terbesar seperti Indonesia. (hidayatullah.com)

  37. Bismillah..
    @alfeyd :
    Anda berkata : JANGAN SUKA MEMOTONG-MOTONG UCAPAN ORANG LAIN APALAGI MEMLINTIRNYA.. lihat, cermati, perhatikan, gali dari berbagai sumber, gunakan akal sehat, pakai ilmu yang saya sampaikan tadi dengan tertib.. dst.. kalau anda belum mengenal ilmu tadi.. belajarlah.. ojo ngeyel tok
    Jawab : Kang alfeyd, sebaiknya anda sendiri yang menerapkan ilmu yang anda sudah tulis itu.. Jangan memotong-motong ucapan (bukankan sudah saya tampilkan hasil wawancara gusdur selengkapnya?).. Anda lihat,anda cermati, gunakan akal sehat, perhatikan dan gali dari berbagai sumber yang independent, dan anda buat perbandingan.. ojo ngeyel tok, pasti anda akan menemukan kebenaran..
    Wallahu a’lam..

  38. Bismillah..
    @Abu Dzikri as Sundawi..
    Salam kenal juga ya akhii..
    Kita doakan juga, mudah-mudahan saudara-saudara kita dalam blog ini mendapat hidayah, untuk bisa kembali kepada manhaj yang benar, yakni manhaj salafush shalih…
    Aamiin..

  39. @ Ibnu Ilyas: Salam kenal akhii semoga tetap pada manhaj Salafush Shaleh 🙂 , terima kasih buat blog aswaja (asli wajah Jawa) yang sudah mempertemukan saya dengan salah satu Ikhwani fillah (ibnu Ilyas) ini

  40. @ibnu ilyas sudah berapa kali saya sampaikan kepada sampean JANGAN SUKA MEMOTONG-MOTONG UCAPAN ORANG LAIN APALAGI MEMLINTIRNYA.. lihat, cermati, perhatikan, gali dari berbagai sumber, gunakan akal sehat, pakai ilmu yang saya sampaikan tadi dengan tertib.. dst.. kalau anda belum mengenal ilmu tadi.. belajarlah.. ojo ngeyel tok
    oke, ini tak bantu lagi nyari kabar versi sumber lain..
    http://amiratnawatiutami.blogspot.com/2011/11/tentang-ulama-yang-mengatakan-al-quran_13.html?m=1
    cari ilmu kok males… wahabi memang aneh..m

  41. Hmmmm….. kayaknya koment-koment salafierz yg pada bermunculan secara serentak, untuk MENGALIHKAN PERHATIAN ATAS “KEOKNYA” ABU AISYAH DI TANGAN GARDA ASWAJA, MAS MAMAK NIY….. hehehehe… anak SD aja udah tahu. padahal gw menanti tanggapan si alim abu aisyah niy… tambah nyambung apa tambah jauhhhhhh…. nyimak ajja. aseeeeekkkk….
    salut wat alfeyd, gandi, jabir, yuyu, abdussukur n all garda aswaja. semangat…..

    1. @Abu Aisyah sudah tewas kali yaa …, kok ga nongol-nongol. Eh … Abu Aisyah keluar … pertanggungjawabkan tulisan mu pada lawan diskusi mu. Atau silahkan balik lagi dengan nama lain dan pura-pura awam.

  42. Bismillah..
    @Kang Alfeyd
    1. kita harus tau peletakan kalimat untuk makna yang sesuai dengan pembahasan (haqiqat atau majaz)
    Jawab : Kalau kita runut isi wawancara dari awal sampai akhir apa yang diucapkan gusdur itu bukan majaz, tetapi hakekat.. Andaikan itu majaz sekalipun, tetap saja merupakan penghinaan terhadap kitab suci al qur’an.
    2. kita harus tau asbabun nuzulnya
    Jawab : Asbabun nuzul keluarnya perkataan itu intinya adalah gusdur tidak setuju dengan diberlakukannya undang-undang anti pornografi dan pornoaksi.. Sehingga nekat mengatakan perkataan kotor itu..
    3. kita harus tau siapa yang mengucapkannya
    Jawab : yang mengucapkannya gusdur.. Kyai panutan NU.. yang meskipun telah banyak melakukan perbuatan dan ucapan-ucapan aneh tetap saja ditaklidi oleh kaumnya, antara lain kang Alfeyd, dan kawan-kawannya..
    4 . ojo akeh-akeh ngko nggarai mbulet.. lawong aku dewe yo bingung hehehe
    Ojo bingung mas, mendingan tobat wae… hehehe…

  43. ibnu ilyas : pernah difatwakan juga olehnya dan fatwa
    ini ditujukan kepada warga Gaza pada
    khususnya, agar sebaiknya hijrah keluar
    dari wilayah Gaza dan masuk ke negri
    muslim terdekat untuk menegakkan
    ibadah serta mengumpulkan kekuatan,
    sebagaimana hijrahnya para Sahabat Nabi
    ke Etyopia atau hijrahnya Nabi serta
    sebagian Sahabat yang lainnya ke kota
    Madinah ketika di kota Mekkah kaum
    Muslimin mendapat tekanan yang keras
    dan larangan beribadah oleh para
    penyembah berhala, dan kemudian
    kembali lagi ke Mekkah pada peristiwa
    Fathu Makkah (Pembukaan/Penaklukan
    kota Mekkah)
    saya: yang menjadi pertanyaan kami ialah kenapa al bani tidak pernah memberikan fatwa kepada seluruh negara islam di dunia atau minimal negara islam di jazirah arab untuk membantu palestina ??? bahkan arab saudi rela bandaranya ditempati tentara kafir.. sudahkah sampean merenungi qorinah yang saya sampaikan..
    Sehingga jelas bagi kami bahwa fatwa albani berdasarkan qorinah2 tadi adalah mengusir rakyat palestina dengan halus.. YANG AKHIRNYA TUDUHAN KAMI BUKAN FITNAH
    kalau sampaian menyamakan perang israel vs palestina dengan kondisi perang pada zaman nabi vs kufar makkah sudahkah sampean liat kondisi umat islam pada waktu itu yang kondisinya menurut kami tidak sama.. sampean dan kaumu menggunakan metode qiyas dalam membuat fatwa, tapi disisi lain kalian tidak mengakui bahwa qiyas bisa digunakan sebagai sumber hukum.. aneh..
    wallohu ‘alan

  44. Bismillah..
    @Mas gandi kalo ngomong ngaca dong…
    Yang suka mengkafirkan itu justru orang-orang aswaja sendiri..
    Coba anda lihat koment2 kawan-kawan anda di blok ini..
    Tidak sedikit ucapan-ucapan kotor, mumusyrikan, mengkafirkan, menuduh wahaby sebagai khawarij, bahkan ada yang mendoakan dengan “laknatullah alaih (naudzu billahi min dzalik..)..
    Seperti itukah akhlak seorang muslim?? Saling mendoakan dengan keburukan??
    Mengenai tulisan saya tentang daftar dosa gusdur..
    Apakah anda bisa menjamin bahwa sepak terjang gusdur yang merugikan umat islam itu bukan suatu dosa?
    Kalau anda melihat seorang wahaby menasehati aswaja dengan agak kasar saja maka anda berani mengatakan bahwa wahaby tersebut telah berbuat dosa dengan berkata kasar..
    Bagaimana dengan gusdur ketika melakukan hal-hal yang jelas-jelas melanggar larangan agama, kemudian kita mengatakan hal itu bukan dosa???
    Mikir mas…

  45. Bismillah..
    @Kang Alfeyd
    1. kita harus tau peletakan kalimat untuk makna yang sesuai dengan pembahasan (haqiqat atau majaz)
    Jawab : Kalau kita runtut isi wawancara dari awal sampai akhir apa yang diucapkan gusdur itu bukan majaz, tetapi hakekat.. Andaikan itu majaz sekalipun, tetap saja merupakan penghinaan terhadap kitab suci al qur’an.
    2. kita harus tau asbabun nuzulnya
    Jawab : Asbabun nuzul keluarnya perkataan itu intinya adalah gusdur tidak setuju dengan diberlakukannya undang-undang anti pornografi dan pornoaksi.. Sehingga nekat mengatakan perkataan kotor itu..
    3. kita harus tau siakul kalamnya (rentetan kalimat mulai awal sampai akhir) atau dalam artian jangan sepotong-sepotong
    Jawab : Mau tahu wawancara selengkapnya??, buka saja disini : http://www.mail-archive.com/ikbal_alamien@yahoogroups.com/msg01975.html
    4. kita harus tau siapa yang mengucapkannya
    Jawab : yang mengucapkannya gusdur.. Kyai panutan NU.. yang meskipun telah banyak melakukan perbuatan dan ucapan-ucapan aneh tetap saja ditaklidi oleh kaumnya, antara lain kang Alfeyd, dan kawan-kawannya..
    5 . ojo akeh-akeh ngko nggarai mbulet.. lawong aku dewe yo bingung hehehe
    Ojo bingung mas, mendingan tobat wae… hehehe…

  46. Anda menuduh bahwa Syaikh al albani berfatwa bahwa sebaiknya tanah Palestina diserahkan saja ke Israel??
    Ini adalah kedustaan atas nama beliau atau seperti biasa musuh-musuh dakwah beliau hanya memotong-motong kabar.. Berikut kabar selengkapnya :
    Perhatian Syaikh al-Albani terhadap kasus Palestina sangatlah besar. Syaikh al-Albani pernah secara langsung turun ke Yerusalem dan menjadi mentor untuk mengajari ilmu syar’i bagi Brigade Izzuddin al-Qossam, bahkan hampir juga Syaikh al-Albani berjuang disana sebelum pemerintah di negrinya mengetahui hal ini dan serta merta memulangkan Syaikh al-Albani. Syaikh al-Albani senantiasa mengikuti perkembangan Palestina, hingga pernah difatwakan juga olehnya dan fatwa ini ditujukan kepada warga Gaza pada khususnya, agar sebaiknya hijrah keluar dari wilayah Gaza dan masuk ke negri muslim terdekat untuk menegakkan ibadah serta mengumpulkan kekuatan, sebagaimana hijrahnya para Sahabat Nabi ke Etyopia atau hijrahnya Nabi serta sebagian Sahabat yang lainnya ke kota Madinah ketika di kota Mekkah kaum Muslimin mendapat tekanan yang keras dan larangan beribadah oleh para penyembah berhala, dan kemudian kembali lagi ke Mekkah pada peristiwa Fathu Makkah (Pembukaan/Penaklukan kota Mekkah). Hal ini dikarenakan pada waktu itu pemerintah militer Israel melarang adanya kegiatan azan dan sholat bagi kaum Muslimin secara terang-terangan ketika mereka menduduki jalur Gaza, dan disisi lain warga Gaza pun dalam keadaan lemah serta belum mampu berbuat apa-apa. Meskipun begitu, banyak kalangan yang mengkritisi keluarnya fatwa ini dan menuduh Syaikh al-Albani dengan berbagai macam tuduhan yang buruk.

  47. Bismillah..
    Mas Abi raka..
    Anda mengatakan syaikh wahaby menghalalkan nikah dengan niat talak..
    Berikut saya sampaikan fatwa Syaikh Utsaimin :
    Fatawa Mar’ah oleh Syaikh Ibnu Utsaimin :
    Nikah dengan niat talak itu tidak akan lepas dari dua hal.
    Pertama : Di dalam akan ada syarat bahwa ia akan menikahinya hanya untuk satu bulan, satu tahun atau hingga studinya selesai. Maka ini adalah nikah mu’tah dan hukumnya haram.
    Kedua : Nikah dengan niat talak namun tanpa ada syarat, maka hukumnya menurut madzhab yang masyhur dari Hanabilah adalah haram dan akadnya rusak (tidak sah), karena mereka mengatakan bahwa yang diniatkan itu sama dengan yang disyaratkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu (diterima atau tidak) sangat tergantung pada niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang itu adalah apa yang ia niatkan” [Muttafaq ‘Alaih]

    1. @ibnu ilyas
      saya minta pendapat anda tentang nikah dengan niat talak dibawah ini
      silahkan membaca TEKS FATWA SYEKH BIN BAZ “NIKAH DENGAN NIAT TALAK” yang kami kutip dari buku “Majmuk Fatawa“-nya Syekh Abdul Aziz bin Abdullah yang dikenal dengan sebuatan Bin Baz, Jilid 4, hal 29-30 cetakan Riyadh – Saudi Arabia, Tahun 1411/1990″
      -NIKAH DENGAN NIAT (AKAN) DI TALAQ-
      Pertanyaan: Saya mendengar bahwa anda berfatwa kepada salah seorang polisi bahwa diperbolehkan nikah di negeri rantau (negeri tempat merantau), dimana dia bermaksud untuk mentalak istrinya setelah masa tertentu bila habis masa tugasnya. Apa perbedaan nikah semacam ini dengan nikah mut’ah? Dan bagaimana kalau si wanita melahirkan anak? Apakah anak yang dilahirkan dibiarkan bersama ibunya yang sudah ditalak di negara itu? Saya mohon penjelasanya.
      Jawab: benar. Telah keluar fatwa dari “Lajnah Daimah”, di mana saya adalah ketuanya, bahwa dibenarkan nikah dengan niat (akan) talak sebagai urusan hati antara hamba dan Tuhannya. Jika seseorang menikah di negara lain (di rantau) dan niat bahwa kapan saja selesai dari masa belajar atau tugas kerja, atau lainnya, maka hal itu dibenarkan menurut jumhur para ulama. Dan niat talak semacam ini adalah urusan antara dia dan Tuhannya, dan bukan merupakan syarat dari sahnya nikah.
      Dan perbedaan antara nikah ini dan nikah mut’ah adalah dalam nikah mut’ah disyaratkan masa tertentu, seperti satu bulan, dua bulan, dan semisalnya. Jika masa tersebut habis, nikah tersebut gugur dengan sendirinya. Inilah nikah mut’ah yang batil itu. Tetapi jika seseorang menikah, di mana dalam hatinya berniat untuk mentalak istrinya bila tugasnya berakhir di negara lain, maka hal ini tidak merusak akad nikah. Niat itu bisa berubah-ubah, tidak pasti, dan bukan merupakan syarat sahnya nikah. Niat semacam ini hanyalah urusan dia dan Tuhannya. Dan cara ini merupakan salah satu sebab terhindarnya dia dari perbuatan zina dan kemungkaran. Inilah pendapat para pakar (ahl al-ilm), yang dikutip oleh penulis Al-Mughni Muwaffaquddin bin Qudamah rahimahullah

  48. tambahan buat @mas ibnu ilyas
    kapan anda nenjadi orang bijak… sudahkah sampean pelajari koment2 saya di atas.. ????
    kalau anda ingin ilmu yang benar coba bandingkan, angen2, pikiren sak jerone pranah (mboh bahasa opo kuwi).. jangan engkau mengambil informasi sebatas yang kamu condongi (hawa nafsumu) saja.. ingat media cetak, elektronik, dst.. adalah cuma sekedar “media” yang tidak bisa menjamin itu pasti benar atau dalam artian media tersebut tidak bisa menjamin kebenaran suatu khabar sesuai yang dikehendaki pelaku..
    kontroversi asalamu’alaikum coba sampean klik
    http://icrp-online.org/082010/post-120.html
    kontroversi gus dur di baptis
    http://m.inilah.com/read/detail/339752/pendeta-damanik-gus-dur-tak-pernah-dibaptis
    sedangkan yang lain silahkan ubek-ubek internet…
    pesan saya sesuai dengan koment2 saya di atas jangan sampean mudah menyimpulkan apalagi sampai mengatakan murtad, kafir, musrik dll. . ingat mas islam dan kafir itu masalah hati.. dan yang paling tau tentang hati ya gusti Alloh semata.. sekali lagi cermati dan perhatikan koment saya sebelumnya. ..
    wallohu ‘alam

  49. tambahan buat @mas ibnu ilyas
    kapan anda nenjadi orang bijak… sudahkah sampean pelajari koment2 saya di atas.. ????
    kalau anda ingin ilmu yang benar coba bandingkan, angen2, pikiren sak jerone pranah (mboh bahasa opo kuwi).. jangan engkau mengambil informasi sebatas yang kamu condongi (hawa nafsumu) saja.. ingat media cetak, elektronik, dst.. adalah cuma sekedar “media” yang tidak bisa menjamin itu pasti benar atau dalam artian media tersebut tidak bisa menjamin kebenaran suatu khabar sesuai yang dikehendaki pelaku..
    kontroversi asalamu’alaikum coba sampean klik
    http://icrp-online.org/082010/post-120.html
    kontroversi gus dur di baptis
    m.inilah.com/read/detail/339752/pendeta-damanik-gus-dur-tak-pernah-dibaptis
    sedangkan yang lain silahkan ubek-ubek internet…
    pesan saya sesuai dengan koment2 saya di atas jangan sampean mudah menyimpulkan apalagi sampai mengatakan murtad, kafir, musrik dll. . ingat mas islam dan kafir itu masalah hati.. dan yang paling tau tentang hati ya gusti Alloh semata.. sekali lagi cermati dan perhatikan koment saya sebelumnya. ..
    wallohu ‘alam

  50. tambahan buat mas ibnu ilyas
    kontroversi asalamu’alaikum coba sampean klik
    http://icrp-online.org/082010/post-120.html
    kontroversi gus dur di baptis
    m.inilah.com/read/detail/339752/pendeta-damanik-gus-dur-tak-pernah-dibaptis
    sedangkan yang lain silahkan ubek-ubek internet…
    pesan saya sesuai dengan koment2 saya di atas jangan sampean mudah menyimpulkan apalagi sampai mengatakan murtad, kafir, musrik dll. . ingat mas islam dan kafir itu masalah hati.. dan yang paling tau tentang hati ya gusti Alloh semata.. sekali lagi cermati dan perhatikan koment saya sebelumnya. ..
    wallohu ‘alam

  51. Wah ada lagi wahabi boy, ibnu ilyas. Pembahasannya ngalor ngidul. Gak usah ditanggapi.
    Melemparkan masalah baru, tapi gak ada solusi. Hati-hati hit and run-nya wahabi boy

  52. buat mas ibnu ilyas
    Kehadiran ajaran Islam yang
    dibawa oleh Nabi Muhammad SAW ke
    muka bumi ini diharapkan dapat menjamin
    terwujudnya kehidupan manusia yang
    damai dan sejahtera lahir dan batin.
    Dalam risalah ajaran Islam terdapat
    berbagai petunjuk bagi umat manusia,
    bagaimana seharusnya manusia itu
    menyikapi hidup dan kehidupan ini secara
    lebih bermakna. Petunjuk-petunjuk
    tersebut tertuang secara jelas dalam
    sumber ajaran Islam, yakni al-Qur`an dan
    Hadits.
    Dalam al-Qur`an, ajaran mengenai
    hidup dan kehidupan ini tampak begitu
    ideal dan agung. Islam mengajarkan
    kepada para pengikutnya agar selalu
    mengembangkan kesalehan dan kepedulian
    terhadap sesama, menjunjung tinggi sikap
    marhamah (penuh kasih sayang),
    mengembangkan kualitas diri serta
    berprilaku yang mencerminkan akhlakul
    karimah. Karakter dasar Islam sebagai
    agama mengejawantahkan misi kerasulan nabi Muhammad Saw berbentuk ajaran yang
    bersendikan rahmat (kasih sayang) bagi umat. Karakter dasar
    tersebut terdistorsi oleh beragam
    pemahaman atas teks sumber pokok ajaran
    (Al-Qur’an dan Al Hadis) ketika
    dihadapkan pada struktur masyarakat
    Indonesia yang tergolong majemuk dan
    terakumulasi menjadi doktrin-doktrin
    keagamaan radikal.
    Masyarakat majemuk yaitu ikatan berbasis suku atau agama dan sebagainya.
    Identitas agama dalam struktur masyarakat
    majemuk – berdasar catatan sejarah– telah
    memperlihatkan legitimasi paling efektif
    dalam memperkuat posisi kelompok. Hal
    itu terjadi karena keyakinan
    terhadap doktrin agama rentan
    memunculkan klaim kebenaran di kalangan pemeluk agama masing-
    masing.
    Tatkala fanatik keagamaan diikuti
    oleh solidaritas kelompok secara
    berlebihan, maka akan muncul perilaku
    keagamaan yang ekstrim berupa sentimen
    kolektif terhadap kelompok pendukung
    faham keagamaan yang lain. Perlawanan
    oleh kelompok faham keagamaan yang
    berseberangan sangat mungkin berupa
    tindakan kekerasan kolektif.
    Realitas kekerasan bernuansa
    keagamaan di Indonesia jelas berindikasi dari
    penyimpangan terhadap teks-teks
    sumber pokok agama (Islam) yang dipahami
    secara tidak benar dan membentuk
    doktrin-doktrin. Sayyid Muhammad ‘Alawi
    al malikiy almakiy di dalam kitab MAFAHIM YAJIBU AN TUSHOHAHA menegaskan bahwa faktor
    penyebab radikalisme pemahaman ajaran
    Islam adalah kedangkalan ilmu
    pengetahuan dan kedangkalan wawasan
    keagamaan atau human error dalam memahami
    agama (Islam) hal tersebut bisa mengambil bentuk
    penyimpangan (tahrif) akibat sikap
    ekstrim dan penyesatan atas nama agama oleh sebagian kelompok (wahabi) dan juga pengulasan
    makna oleh orang-orang yang
    bodoh.
    Antisipasi terhadap arus gerakan
    radikalisme-fundamentalisme perlu pendekatan multi dimensi untuk memahami nash (Al Quran dan Al Hadist)
    Pola sinergi tersebut guna menghindari
    jebakan pitfall (keangkuhan disiplin ilmu
    yang merasa pasti dalam wilayah sendiri-
    sendiri tanpa mengenal masukan dari
    disiplin di luar dirinya). Tidak ada alasan etik
    dan moral yang bisa membenarkan suatu
    tindakan kekerasan ataupun teror.
    Nahdlatul Ulama (NU)
    adalah salah satu organisasi keagamaan
    terbesar yang sangat serius dalam
    mewujudkan Islam sebagai agama yang
    rahmatan lil alamin. Konsepsi Islam
    rahmatan lil alamin dalam NU tercermin
    dalam dasar-dasar sikap kemasyarakatan
    NU yang tercakup dalam nilai-nilai sebagai
    berikut:
    1. Tawassuth (moderat) dan
    i’tidal (lurus/tegak), yaitu, sikap tengah
    dan lurus yang berintikan prinsip hidup
    yang menjunjung tinggi keharusan berlaku
    adil dan lurus di tengah kehidupan
    bersama, dan menghindari segala bentuk
    pendekatan yang bersifat tatharruf
    (ekstrem).
    2. Tasamuh (toleran), yaitu,
    sikap toleran terhadap keberagaman (terutama masalah furuiyyah)
    3. Tawazun, perbandingan masa lalu dan kini
    4. Amar ma’ruf nahi munkar.
    NU selalu memiliki kepekaan
    untuk mendorong perbuatan yang baik dan
    bermanfaat bagi kehidupan bersama, serta
    menolak dan mencegah segala hal yang
    berpotensi merendahkan nilai-nilai
    kehidupan.
    NU dengan nilai-nilai tersebut
    benar-benar berkomitmen untuk
    membumikan Islam rahmatan lil’alamin,
    baik dalam ranah agama, sosial, hukum
    dan politik, baik dalam lingkup nasional
    maupun internasional. Nilai-nilai tersebut
    tidak hanya dipahami sebagai doktrin akan
    tetapi juga harus dipahami sebagai metode
    berpikir (manhaj al-fikr) dalam mencarikan
    solusi atas berbagai persoalan umat yang
    kompleks.
    Penutup, sengaja kami tidak menampilkan dalil2 nash karena kami masih terlalu bodoh dan kotor atas kesucian Al Quran dan Al Hadist. cukuplah untaian dawuh-dawuh guru kami, kiyai kami dan para ulama’-ulama’ yang kapasitas keilmuannya tidak diragukan
    wallohu ‘alam

  53. Bismillah..
    @Mas Mamak..
    Anda mikir dong, masa saya harus tanya ke pak kyai hanya untuk menanyakan tentang peristiwa pembunuhan itu?? Lha wong orangnya saja saya nggak kenal..
    Maksud saya kalau anda punya data yang akurat atau web yang bisa dipercaya yang memberitakan itu, tunjukin ke saya di mana link nya..
    Jangan cuma omong doang, itu, fitnah namanya…

    1. @ibnu ilyas
      1. ga semua informasi bisa kita dapatkan di web bos, n klo pun ada pasti di web aswaja dan ente ga bakal percaya karna ente wahabi…!
      2. banyak syaikh ente juga yang ngomong yang ga bener, kalo kata ente gusdur mau menjalin hubungan ama israel lah syaikh ente lebih parah nyuruh penduduk palestina menyerahkan negaranya ke israel lebih parah mana hayo…? trus masalah nikah dengan niat talak yang ga ada dalilnya syaikh ente malah ngebolehin lebih parah mana hayo…?
      apakah anda masih mau menjadi mukallid juga…?

  54. Coba anda renungi lagi perkataan gusdur yang lain berikut ini :
    “Saya tidak suka yang islam-islam itu. Ini Indonesia, NU menolak yang islam-islam itu” (detikNews, Jum’at/27-04-2007)..
    “Sebenarnya jangankan Tionghoa atau Konghucu, PKI pun saya lindungi (Jawa Pos, Senin 26 Januari 2009)
    “Takwa dan ketakwaan, kata gusdur itu bermakna takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang betul-betul takut pada Tuhan, imbuhnya dia telah bertakwa, tidak peduli muslim atau bukan, ujarnya” (www.wahidinstitute.org, selasa 29 Januari 2008)..
    Belum lagi niatan gusdur untuk menjalin hubungan dagang dengan Israel dikala masih menjadi presiden..
    Aneh, seorang kyiai panutan mau bermesraan dengan Yahudi??
    Bagaimana kang alfeyd, apakah anda masih mau jadi mukallid juga ???
    Monggo….
    Wallahu a’lam..

    1. Masalah mau membuka hubungan diplomatik dengan israel, saya tahu alasannya :
      Menurut saudara saya yang bekerja di BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal), Saat itu PMA/Joint Venture dari negara-negara Timur tengah sangatlah minim, kemudian Gus Dur melontarkan wacana untuk membuka hubungan diplomatik dengan israel yang notabene tidak diakui keberadaaannya oleh negara-negara islam TIMTENG. Strategi itu hanyalah “gertak sambal” ala Gus Dur. Setelah itu terbukti PMA dari negara-negara TIMTENG menjadi berlipat-lipat. Waktu itu sayapun ditunjukkan grafik datanya.
      BKPM ini adalah lembaga non departemen yang bertanggung jawab lansung kepada presiden.
      Demikian Mas Ibnu Ilyas, benar tidaknya Wallahu A’lam, setidaknya info yang saya dapatkan kredibel dan dari sumber yang terpercaya. Saat itu saya juga marah Gus Dur mau membuka hubungan dengan Israel, sekarang yang lebih membuat saya marah adalah Arab Saudi yang berlindung dibawah ketiak Amerika.

  55. Bismillah…
    @Alfeyd..
    Anda mau tahu daftar dosa Gusdur?
    Berikut sebagaiannya :
    Mengatakan al-Qur’an sebagai kitab paling porno di dunia
    Memperjuangkan pluralisme
    Mengakui semua agama benar
    Menjalin kerjasama dengan Israel
    Mendukung gerakan kristenisasi
    Membela Ahmadiyah
    Ingin mengganti ucapan assalamu alaikum dengan selamat siang.
    Tidak bersimpati terhadap korban Muslim pada perang Ambon.
    Di dalam RUU Sisdiknas, Gusdur lebih membela aspirasi kaum kafirin untuk mentiadakan / mencabut pasal memasukkan pelajaran agama di sekolah-sekolah, dan justru menentang aspirasi kaum Muslim agar pasal pelajaran agama di sekolah-sekolah dimasukkan di dalam UU Sisdiknas
    Menginginkan Indonesia menjadi sekuler.
    Di dalam RUU Pornografi, kembali Gusdur lebih membela aspirasi kaum kafirin agar DPR tidak mensahkan RUU Anti Pornografi menjadi undang-undang, dan justru menentang aspirasi kaum Muslim supaya Indonesia / DPR mensahkan UU Anti Pornografi demi menjaga moral bangsa. Pada moment inilah gusdur menyatakan bahwa Alquran adalah kitab paling porno se-Dunia!
    Gusdur ikut bersama kaum kafirin merangsek untuk menuntut Pemerintah mencabut pasal penodaan agama. Padahal pasal itu amat sentral demi terjaminnya kerukunan umat beragama. Yang dibidik Gusdur adalah kaum Muslim, supaya kaum Muslim tidak berkutik ketika agama nya dihina.
    Gusdur ikut bersama kaum kafirin merangsek untuk menuntut Pemerintah mencabut pasal pendirian rumah ibadah melalui Judicial Review ke Mahkamah Konstitusi. Padahal pasal itu amat sentral demi terjaminnya kerukunan umat beragama. Yang dibidik Gusdur adalah kaum Muslim, supaya kaum Muslim tidak berkutik ketika kaum kafirin membangun Gereja di mana-mana.
    Dibaptis. Ini pertanda bahwa gusdur barangkali munafik. Kalau memang ia benar-benar murtad dari Islam, maka hal itu tidak masalah sama sekali. Namun belakangan ia masih juga mengaku Muslim, dan pembaptisannya itu ia gunakan untuk menyerang Islam.
    Pemberian Raja Brunei untuk rakyat Indonesia yang kala itu sedang kelaparan, diambil sendiri oleh gusdur. Dia bilang bahwa pemberian Raja Brunei itu adalah untuk pribadinya saja.
    Menyerukan supaya MUI (Majelis Ulama Indonesia) dibubarkan.
    Merestui dan membela Inul dengan goyang ngebornya, padahal semua Ulama sudah mengutuknya.
    Menghadiri dan mendukung kontes kecantikan ala WARIA.
    Ziarah dan berdo’a di salah satu Gereja di Jakarta.
    Ziarah dan berdo’a di Watu Pinabentengan di kakas MINAHASA atas saran seorang pendeta Kristen yang katanya bisa meramal masa depan. Kejadian ini saya rasa semua ingat. Waktu itu Gusdur di ambang keruntuhan dari kursi presiden. Karena dia ulama yang percaya klenik sehingga dia mau mempertahankan kedudukan presiden dengan cara apapun termasuk menuruti semua saran pendeta yang sakti itu. Pendeta itu mengatakan bahwa Gusdur tidak akan turun dari kursi presiden kalau berziarah dan berdoa di tiga tempat yaitu di Masjid Istiqlal, di salah satu Gereja di Jakarta, dan di Watu Pina Bentengan. Namun apa yang terjadi? Meskipun semua di jalani oleh Gusdur, tetap saja lengser.
    Bagaimana kang alfeyd, masih mau menjadi mukallid??
    Wallahu a’lam..

    1. ibnu suradi , mang anda tuhan ya ? kok memvonis DOSA kepada Gusdur ? bahkan punya daftar dosa-dosa segala …….. sekalian aja kamu daftarin masuk neraka ha ha ha…..hebat wahabi emang.

  56. hadeeeh… mas ibnu ilyas, harus berapa kali saya harus menjelaskan…?? menangkap sbuah makna itu harus melihat beberapa aspek.. seperti yang tlah saya jelaskan pada koment2 saya di atas… yo wis tak balenane maneh..
    1. kita harus tau peletakan kalimat untuk makna yang sesuai dengan pembahasan (haqiqat atau majaz)
    2. kita harus tau asbabun nuzulnya
    3. kita harus tau siakul kalamnya (rentetan kalimat mulai awal sampai akhir) atau dalam artian jangan sepotong-sepotong
    4. kita harus tau siapa yang mengucapkannya
    5 . ojo akeh-akeh ngko nggarai mbulet.. lawong aku dewe yo bingung hehehe
    6. de el el..
    contoh begini ada orang tua marah kepada abu ilyas kemudian orang tua tadi mengatakan ” kalau kau tidak mau melakukan apa yang aku suruh, pergilah.. carilah orang tua selain aku..” apakah kalam yang menunjukan perintah langsung sampean artikan perintah untuk pergi? ??….
    contoh lainnya: Gusdur : Sebaliknya menurut saya. Kitab
    suci yang paling porno di dunia adalah
    Alqur’an, ha-ha-ha..
    kalau sampean cuma membaca yang saya copas tok.. yo jadinya pemahaman kayak sampean.. lemes-lemes
    tapi kalau kalian mau jujur membaca, mencermati dan memperhatikan mulai awal sampai akhir maka insyaAlloh pemahaman anda akan sama dengan pemahan kami..
    sedikit kami jabarkan bahwa kalam cuma ada 2 1. kalam khobar 2. kalak insya’
    1. kalam khobar ialah kalam yang mencakup dua sisi (benar dan salah) tapi kalau kita melihat yang “menyampaikan” kalam tersebut maka terkadang sebuah kalam sudah dipastikan kebenarannya seperti halnya Al Qur’an dan Al Hadist
    2. kalam insya’ ialah kalam yang tidak mencakaup dua sisi seperti perintah , do’a dst…
    ahkhirnya ketika sampean-sampean mengambil pemahaman yang sepotong-sepotong dan menimbulkan faham yang berbeda biasanya kami namakan orang tersebut AHLI MLINTIR.. wallohu a’lam

  57. Bismillah..
    @Alfeyd :
    Kang alfeyd, sebenarnya yang memelintir perkataan gusdur itu anda sendiri dan para mukallidnya..
    Sudah sangat jelas bunyi wawancaranya yang diberitakan oleh berbagai media masa dengan perkataannya yang jelas dan terang, seperti terangnya matahari di siang bolong.
    Saya akan mengutip sedikit wawancara beliau kelompok JIL sebagai berikut :
    JIL: Gus, ada yang bilang kalau kelompok-kelompok penentang RUU APP ini bukan kelompok Islam, karena katanya kelompok ini memiliki kitab suci yang porno?
    Gusdur : Sebaliknya menurut saya. Kitab suci yang paling porno di dunia adalah Alqur’an, ha-ha-ha.. (tertawa terkekeh-kekeh).
    JIL: Maksudnya?
    Gusdur : Loh, jelas kelihatan sekali. Di Alqur’an itu ada ayat tentang menyusui anak dua tahun berturut-turut. Cari dalam Injil kalau ada ayat seperti itu. Namanya menyusui, ya mengeluarkan tetek kan?! Cabul dong ini. Banyaklah contoh lain, ha-ha-ha… (Dari berbagai sumber)

  58. Bismillah..
    @Abi raka
    Afwan mas, saya mengambil berita tentang kesimpulan ulama suriah atas terbunuhnya al buthi bukan dari link wahaby.. Anda boleh mengeceknya sendiri…
    Adapun ummati sangat mungkin membuat fitnah kepada wahaby, lha wong memang blog ini dibuat untuk menghancurkan dakwah salafy..
    Lihat saja koment-koment dari anda-anda sekalian orang-orang aswaja..
    Segala sesuatu yang jelek-jelek, bahkan yang nggak nyambung dengan tema pembahasan sekalipun, selalu dialamatkan kepada wahaby..
    Benar-benar blog yang tidak mendidik, isinya cuma fitnah dan kedengkian serta kebencian yang membabibuta…
    Takutlah kepada Allah wahai antum sekalian pendukung blog ini…

  59. Bismillah..
    @Mas Mamak..
    Anda mengatakan Syaikh nawawi al bantani di bunuh oleh wahaby??
    Afwan mas, anda dapat kabar darimana?.. Tidak ada berita itu…
    Kayaknya anda telah melakukan fitnah… bertobatlah..

    1. Bismillah,
      Mas Ibnu Ilyas @, kan sudah kami katakan, tanyakan langsung sama ahli warisnya (keluarga syeh Nawawi)… Tanya sama KH. Thobari Syadzili (cucu syeh Nawawi) OK…

  60. Ikut nyimak…semoga ketularan ilmunya 🙂
    sedikit komentar aja..

    Bukankah Allah yang telah menciptakan arah dan tempat?!
    lalu kenapa “ucapan Allah tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan, tidak dikiri, tidak di depan, tidak di belakang, tidak di dalam, tidak di luar, tidak bersambung, tidak berpisah sebagaimana keyakinan ahli kalam (filsafat). Ucapan di atas jelas-jelas menunjukkan bahwa Allah tidak ada. Inilah ta’thil (peniadaan) yang amat nyata”…

    mbok yao jangan merendahkan kemampuan Allah, memang sudah gak percaya bahwa Allah adalah Awal dari segala sesuatu???

  61. @ abu aisyah beginilah kalau anda dan golongan anda tidak menyetujui adanya majaz dalam Al- Qur’an, bahkan golongan anda mengada2 tentang makna antara haqiqat dan majaz (weleh2 ngilmu soko ngendi maneh kuwi… lawong ulama2 dunia telah mangakui adanya majaz..) cuma golongan anda saja yang tetap ngeyel tidak adanya majaz padahal sehari-hari kita sering menggunakan majaz.. misal “mobil berjalan” atau “saya naik pesawat” de el el.. karena arti dari berjalan ya sesuatu yang punya kaki.. masak mobil punya kaki… hadeh lemes…
    sedikit kami uraikan pengertian haqiqat dan majaz
    1. haqiqat: Ialah kalimat yang digunakan untuk sebuah makna asal sesuai yang di kehendaki pengguna(wadhi’) kalimat tersebut. maka dikecualikan dari pengertian di atas contoh kata “SINGA” kalau yang dikhendaki adalah “seorang pemberani” maka hal itu bukan haqiqat, berbeda halnya kalau yang dikehendaki “hewan buas” maka pastilah itu haqiqat.
    contoh lain ” kami dalam perjalanan dan bulan bersama kami” , kalimat “bulan bersama kami” tidak bisa dikatakan haqiqat kenapa?? karena arti kalimat “bersama” ialah berbarengan, serentak (contoh kami berangkat sekolah bersama) sedangkan bulan pergerakannya tidak pernah lepas dari porosnya..
    Syaikh yusuf As-sakakiy di dalam hamisya kitab MURSYIDI ala UQUDILJUMAN menambahkan kalimah tanpa adanya ta’wil jadi haqiqat menurut beliau ialah Ialah kalimat yang digunakan untuk sebuah makna asal sesuai yang di kehendaki pengguna(wadhi’) kalimat tersebut tanpa adanya ta’wil.
    2. Majaz adalah pengertianya kebalikan dari haqiqat.. namun tidak hanya samapai disitu. Haqiqat ataupun majaz punya pembagian masing2.. dan kami tidak sanggup untuk mengurai satu persatu.. maklum disamping kami masih bodoh juga terkendala oleh fasilitas hehehe (ngetike ndamel hp)..:-)
    oleh karena itu mas abu aisyah mari kita belajar islam dengan ikhlas… niscya persaudaraan kita akan bertambah indah. .. wallohu a’lam

  62. Mas Abu aisyah,
    Penjelasan tafsir Surah Al Mulk ayat 16-17 sudah dijabarkan dengan panjang lebar dan sangat ILMIYAH oleh Mas Agung, dilengkapi oleh Mas Lasykar dan teman-teman lainnya. Silahkan anda cek dulu kebenarannya. Disitu disebutkan kitab, pengarang dan halamannya, silahkan dicek ya mas…

  63. ikut nyimak mbuletnya abu aisyah… lanjut mas mamak…
    mengeja kata “di atas” saja ruwet… belagak sok jago bahasa indonesia..

  64. Pertanyaan mas mamak yg trakhir blum dijwb abu aisyah. Justru sebalikx abu haidsyah membw copasan shg mengaburkan focus diskusi. Maaf sekedar mengingatkan abu haidsyah agar lebih tertib.

  65. Bismillah..
    @Mas Mamak..
    Mengenai Allah azza wa jalla ada diatas langit..
    Sebenarnya pada awal-awal diskusi sudah pernah ana tulis mengenai dalil-dalil bahwa Allah ada diatas langit..
    Mungkin antum belum baca ya..
    Baik, kalau begitu akan ana tampilkan lagi, mudah-mudahan antum mau membacanya:
    Sangat banyak dalil dari al-Qur’an dan As Sunnah yang shahihah yang menunjukkan bahwa Allah berada di atas ‘Arsy, di atas langit, di atas seluruh makhlukNya. Demikian banyaknya dalil itu sehingga tidak terhitung jumlahnya.
    Imam telah al-Alusiy menjelaskan:
    “ Dan engkau mengetahui bahwa madzhabus Salaf menetapkan ketinggian Allah Ta’ala sebagaimana disebutkan oleh al-Imam AtThohawy dan yang selainnya, mereka berdalil dengan sekitar 1000 dalil” (Lihat Tafsir Ruuhul Ma’aaniy fii Tafsiiril Qur’aanil ‘Adzhiim was Sab’il Matsaaniy juz 5 halaman 263).
    Berikut sebagian dalil-dalil dimaksud yang ana sarikan dari penjelasan Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafy dalam Syarh al-‘Aqiidah atThohaawiyyah halaman 267-269 dan juga tulisan berjudul al-Kalimaatul Hisaan fii Bayaani Uluwwir Rahmaan yang ditulis Abdul Hadi bin Hasan..
    Pertama: Penyebutan ‘alFauqiyyah (ketinggian) Allah dengan kata penghubung ‘min’. Seperti dalam firman Allah:
    “ dan milik Allah sajalah segala yang ada di langit dan di bumi berupa makhluk melata dan para Malaikat, dalam keadaan mereka tidaklah sombong. Mereka takut terhadap Rabb mereka yang berada di atas mereka, dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan” (Q.S AnNahl:49-50).
    Ibnu Khuzaimah –rahimahullah- meyatakan:
    “Maka Allah Yang Maha Mulya dan Maha Tinggi memberitahukan kepada kita dalam ayat ini bahwa Rabb kita berada di atas para MalaikatNya, dan berada di atas segala yang ada di langit dan di bumi berupa makhluk melata, dan (Allah) mengkhabarkan kepada kita bahwa para Malaikat takut terhadap Rabb mereka yang berada di atas mereka” (Lihat Kitaabut Tauhid karya Ibnu Khuzaimah halaman 111).
    Perhatikanlah, Ibnu Khuzaimah memahami ayat tersebut bahwa memang Allah Ta’ala berada di atas seluruh makhlukNya. Siapakah Ibnu Khuzaimah sehingga kita perlu mengambil rujukan (tentang Ketinggian Allah ini) darinya? Ibnu Khuzaimah adalah salah seorang ulama’ bermadzhab Asy-Syafi’i. Beliau merupakan salah satu murid al-Bukhari. Al-Bukhari dan Muslim juga mengambil ilmu (hadits) darinya, namun tidak dikeluarkan dalam As-Shahihain. Ibnu Khuzaimah adalah guru Ibnu Hibban al-Busty, sedangkan Ibnu Hibban adalah guru al-Haakim.
    Al-Hafidz Adz-Dzahaby menyatakan tentang Ibnu Khuzaimah:
    “ Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah bin alMughirah bin Sholih bin Bakr. (Beliau) adalah al-Hafidz, al-Hujjah, alFaqiih, Syaikhul Islam, Imamnya para Imam. Abu Bakr As-Sulamy anNaisabuury Asy-Syaafi’i (bermadzhab Asy-Syafi’i)(Lihat Siyaar A’laamin Nubalaa’ juz 14 halaman 365).
    Sisi pendalilan yang pertama ini juga sebagaiman disebutkan dalam hadits Nabi, bahwa Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam menyatakan kepada Sa’ad bin Mu’adz ketika Sa’ad memberi keputusan terhadap Bani Quraidzhah:
    “ Sungguh engkau telah menetapkan hukum (pada hari ini) dengan hukum Allah yang telah Allah tetapkan dengannya dari atas tujuh langit” (diriwayatkan oleh anNasaa-i dalam Manaaqibul Kubraa, Ibnu Sa’ad dalam atThobaqoot, atThohaawy dalam Syarh al-Maa’niy, al-Haakim dalam al-Mustadrak. Al-Hafidz Ibnu Hajar menghasankan hadits ini dalam Takhriijul Mukhtashor. Silakan dilihat penjelasan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaany dalam Silsilah al-Ahaadits Asshohiihah juz 6/556).
    Kedua: Penyebutan al-fauqiyyah (ketinggian) tanpa diikuti kata penghubung apapun. Seperti dalam firman Allah:
    “ dan Dialah Yang Maha Menundukkan di atas hamba-hambaNya”(Q.S al-An’aam:18).
    Ketiga: Penjelasan adanya sesuatu yang naik (Malaikat, amal sholih) menuju Allah. Lafadz ‘naik’ yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan al-Hadits bisa berupa al-‘uruuj atau as-Shu’uud.
    Seperti dalam firman Allah:
    “ dari Allah yang memiliki al-Ma’aarij. Malaaikat dan Ar-Ruuh naik menuju Ia “(Q.S al-Ma’aarij:3-4).
    Mujahid (murid Sahabat Nabi Ibnu Abbas) menafsirkan: (yang dimaksud) dzil Ma’aarij adalah para Malaikat naik menuju Allah (Lihat dalam Shahih al-Bukhari).
    Dalam hadits disebutkan:
    “ Bergantian menjaga kalian Malaikat malam dan Malaikat siang. Mereka berkumpul pada sholat ‘Ashr dan Sholat fajr. Kemudian naiklah malaikat yang bermalam bersama kalian, sehingga Allah bertanya kepada mereka –dalam keadaan Dia Maha Mengetahui- Allah berfirman: Bagaimana kalian tinggalkan hambaKu? Malaikat tersebut berkata: “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan sholat, dan kami tinggalkan mereka dalam keadaan sholat” (H.R Al-Bukhari dan Muslim).
    Ibnu Khuzaimah menyatakan: “ Di dalam khabar (hadits) telah jelas dan shahih bahwasanya Allah ‘Azza Wa Jalla di atas langit dan bahwasanya para Malaikat naik menujuNya dari bumi. Tidak seperti persangkaan orang-orang Jahmiyyah dan Mu’aththilah (penolak Sifat Allah) (Lihat Kitabut Tauhid karya Ibnu Khuzaimah halaman 381)
    Seperti juga firman Allah:
    “ kepada-Nyalah naik ucapan yang baik dan amal sholih dinaikkannya” (Q.S Fathir:10).
    Disebutkan pula dalam hadits:
    Dari Usamah bin Zaid –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah aku tidak pernah melihat shaummu di bulan lain sebagaimana engkau shaum pada bulan Sya’ban? Rasul bersabda: Itu adalah bulan yang banyak manusia lalai darinya antara Rajab dengan Ramadlan. Itu adalah bulan terangkatnya amalan-amalan menuju Tuhan semesta alam. Maka aku suka jika amalku terangkat dalam keadaan aku shaum (puasa)(H.R AnNasaa-i dishahihkan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaany).
    Dari Abu Musa radliyallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah berdiri di hadapan kami dengan menyampaikan 5 kalimat (di antaranya) beliau bersabda: “ Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidaklah tidur dan tidak layak bagiNya tidur. Dia menurunkan timbangan dan mengangkatnya, terangkat (naik) kepadaNya amalan pada malam hari sebelum amalan siang hari, dan amalan siang hari sebelum amalan malam hari…”(H.R Muslim).
    Keempat: Penjelasan tentang diangkatnya sebagian makhluk menuju Allah.
    Sebagaimana dijelaskan dalam AlQur’an:
    “ Bahkan Allah mengangkatnya kepadaNya” (Q.S AnNisaa’:158).
    “ Sesungguhnya Aku mewafatkanmu dan mengangkatmu kepadaKu” (Q.S Ali Imran:55).
    Kelima: Penjelasan tentang ketinggian Allah secara mutlak
    Sebagaimana dijelaskan dalam AlQur’an, di antaranya:
    “ dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung” (Q.S al-Baqoroh:255).
    “ dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” (Q.S Saba’:28)
    Keenam: Penjelasan bahwa AlQur’an ‘diturunkan’ dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Ini jelas menunjukkan bahwa Allah berada di atas, sehingga Ia menyebutkan bahwa AlQur’an diturunkan dariNya. Tidaklah diucapkan kata ‘diturunkan’ kecuali berasal dari yang di atas.
    Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam AlQur’an, di antaranya:
    “Kitab (Al Quran ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Q.S Az-Zumar:1).
    “ (AlQur’an) diturunkan dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (Q.S Fusshilaat:2)
    “ (Al Qur’an) diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji” (Q.S Fusshilat:42).
    Ketujuh: Penjelasan tentang kekhususan sebagian makhluk di ‘sisi’ Allah (‘indallaah) yang menunjukkan bahwa sebagian lebih dekat dibandingkan yang lain kepada Allah.
    Sebagaimana disebutkan dalam AlQur’an, di antaranya:
    “…maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu”(Q.S Fushshilat:38).
    “Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih” (Q.S Al-Anbiyaa’:19).
    Kedelapan: Penjelasan bahwa Allah ada di atas langit
    Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam AlQur’an:
    “ Apakah kalian merasa aman dari (Allah) Yang Berada di atas langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, atau apakah kamu merasa aman terhadap (Allah) Yang Berada di atas langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? (Q.S al-Mulk:16-17).
    Yang dimaksud dengan ‘Yang berada di atas langit’ sesuai ayat tersebut adalah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Karena Allahlah Yang Maha Mampu menjungkirbalikkan manusia bersama bumi yang dipijaknya tersebut serta meneggelamkan mereka di dalamnya. Hal ini diperjelas dengan ayat-ayat yang lain, di antaranya:
    Disebutkan dalam sebuah hadits:
    Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang akan meninggal dihadiri oleh para Malaikat. Jika ia adalah seorang yang sholih, maka para Malaikat itu berkata: ‘Keluarlah wahai jiwa yang baik dari tubuh yang baik’. Keluarlah dalam keadaan terpuji dan bergembiralah dengan rouh dan rayhaan dan Tuhan yang tidak murka. Terus menerus dikatakan hal itu sampai keluarlah jiwa (ruh) tersebut. Kemudian diangkat naik ke langit, maka dibukakan untuknya dan ditanya: Siapa ini? Para Malaikat (pembawa) tersebut menyatakan: Fulaan. Maka dikatakan: Selamat datang jiwa yang baik yang dulunya berada di tubuh yang baik. Masuklah dalam keadaan terpuji, dan bergembiralah dengan Rauh dan Rayhaan dan Tuhan yang tida murka. Terus menerus diucapkan yang demikian sampai berakhir di langit yang di atasnya Allah Azza Wa Jalla” (diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah, Al-Bushiri menyatakan dalam Zawaaid Ibnu Majah: Sanadnya sahih dan perawi-perawinya terpercaya, dan dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaany).
    Perlu dipahami dalam bahasa Arab bahwa lafadz في tidak hanya berarti di ‘dalam’, tapi juga bisa bermakna ‘di atas’. Hal ini sebagaimana penggunaan lafadz tersebut dalam ayat:
    Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    “ Tidakkah kalian mempercayai aku, padahal aku kepercayaan dari Yang Berada di atas langit (Allah). Datang kepadaku khabar langit pagi dan sore” (H.R al-Bukhari dan Muslim).
    Disebutkan pula dalam hadits:
    Dari Abdullah bin ‘Amr radliyallaahu ‘anhumaa beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Orang-orang yang penyayang disayangi oleh ArRahmaan. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya akan menyayangi kalian Yang ada di atas langit (Allah) (H.R atTirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albaany).
    Kesembilan: Persaksian Nabi bahwa seorang budak wanita yang ditanya di mana Allah, kemudian menjawab Allah di atas langit sebagai wanita beriman.
    Sesuai dengan hadits Mu’awiyah bin al-Hakam:
    “ Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya: Di mana Allah? Dia menjawab: di atas langit. Rasul bertanya: Siapa saya? Wanita itu menjawab: engkau adalah utusan Allah. Maka Nabi bersabda: ‘Bebaskan dia, karena dia adalah seorang (wanita) beriman” (H.R Muslim).
    Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Asy-Syafi’i di dalam kitab al-‘Umm juz 5 halaman 298. Mengenai periwayatan Imam Asy-Syafi’i tersebut Imam Abu Utsman Ash-Shoobuny menyatakan di dalam kitabnya ‘Aqidatus Salaf Ashaabul Hadiits:
    Asy-Syafi’i –semoga rahmat Allah atasnya- berhujjah terhadap para penentang yang menyatakan bolehnya memerdekakan budak kafir dengan khabar (hadits) ini karena keyakinan beliau bahwa Allah Subhaanahu Wa Ta’ala di atas makhluk-makhlukNya, dan di atas tujuh langit di atas ‘ArsyNya sebagaimana keyakinan kaum muslimin Ahlussunnah wal Jama’ah baik yang terdahulu maupun kemudian, karena beliau (Asy-Syafi’i) tidaklah meriwayatkan khabar (hadits) yang shahih kemudian tidak berpendapat dengan (hadits) tersebut.
    Kesebelas: Nabi mengisyaratkan ke atas saat meminta persaksian kepada Allah.
    Sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir riwayat Muslim yang mengisahkan kejadian pada Haji Wada’:
    “(Nabi bersabda) “Dan kalian akan ditanya tentang aku, apa yang akan kalian katakan? Para Sahabat berkata: ‘Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, menunaikan (amanah), dan menyampaikan nasihat’. Maka Nabi mengisyaratkan dengan mengangkat jari telunjuknya ke langit mengetuk-ngetukkannya ke hadapan manusia (dan berkata) Ya Allah persaksikanlah (3 kali)(H.R Muslim).
    Keduabelas: Disunnahkannya seorang yang berdoa menengadahkan tangan menghadap ke atas, sebagaimana dalam hadits Umar bin al-Khottob yang mengisahkan kejadian pada perang Badr:
    “Nabiyullah shollallaahu ‘alaihi wasallam menghadap kiblat kemudian menengadahkan tangannya dan berseru kepada Rabb-nya: Ya Allah tunaikanlah apa yang Engkau janjikan untukku, Ya Allah berikanlah apa yang Engkau janjikan untukku, Ya Allah jika Engkau membinasakan kelompok ini dari Ahlul Islam, Engkau tidak akan disembah di bumi” (H.R Muslim).
    Dari Salman –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Pemalu lagi Mulya. Dia malu jika seseorang mengangkat kedua tangan ke arahNya kemudian Allah mengembalikan kedua tangan itu dalam keadaan sia-sia (H.R atTirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh alAlbaany).
    Ketigabelas: Penjelasan bahwa penduduk Jannah akan melihat Wajah Rabb-Nya
    Para Ulama’ menjelaskan bahwa salah satu dalil yang menunjukkan ketinggian Allah adalah bisa dilihatnya Allah nanti oleh penduduk Jannah.
    Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    Dari Jarir bin Abdillah al-Bajaliy –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: “Kami duduk pada suatu malam bersama Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam kemudian beliau melihat pada bulan pada malam tanggal 14 beliau bersabda: ‘Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat (bulan) ini, tidaklah berdesakan dalam melihatnya” (H.R al-Bukhari dan Muslim).
    Keempatbelas: Khabar dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau pada waktu Isra’ Mi’raj setelah mendapatkan perintah sholat bolak-balik ketika berpapasan dengan Musa kembali naik menuju Allah untuk meminta keringanan bagi umatnya. Demikian terjadi beberapa kali. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits:
    Dari Anas bin Malik –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “….Allah mewahyukan kepadaku apa yang Ia wahyukan. Maka Ia mewajibkan kepadaku 50 sholat sehari semalam. Maka aku turun menuju Musa shollallaahu ‘alaihi wasallam, kemudian ia berkata: Apa yang Rabbmu wajibkan bagi umatmu? Aku berkata: 50 sholat. Musa berkata: kembalilah pada Tuhanmu, mintakanlah padanya keringanan, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukannya. Karena sesungguhnya aku telah mencoba Bani Israil dan aku mengerti keadaan mereka. Rasululullah berkata: Maka aku kembali kepada Tuhanku dan berkata: Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk umatku. Maka dihapuskan dariku 5 sholat. Kemudian aku kembali ke Musa dan berkata: Telah dihapuskan (dikurangi) untukku 5 sholat. Musa berkata: sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup, kembalilah pada Tuhanmu dan mintakanlah keringanan. Nabi bersabda: Senantiasa aku bolak-balik antara Tuhanku Tabaroka Wa Ta’ala dengan Musa ‘alaihis salaam sampai Allah berfirman: Wahai Muhammad sesungguhnya kewajiban sholat tersebut adalah 5 kali sehari semalam. Setiap sholat dilipatgandakan 10 kali. Maka yang demikian adalah (senilai) 50 sholat…..Nabi bersabda: Maka kemudian aku turun sampai pada Musa shollallaahu ‘alaihi wasallam, maka aku khabarkan kepadanya. Musa berkata: Kembalilah pada Rabmu dan mintakanlah keringanan. Maka aku (Rasulullah) berkata: Aku telah kembali pada Rabku, sampai aku merasa malu padaNya” (H.R al-Bukhari dan Muslim, lafadz sesuai riwayat Muslim).
    Keenambelas: Nash-nash tentang penyebutan ‘Arsy dan sifatnya, dan seringnya diidhafahkan kepada Penciptanya yaitu Allah Subhaanahu Wa Ta’ala yang berada di atasnya. Seperti disebutkan dalam ayat-ayat AlQur’an:
    “Rabb Arsy yang Agung..”(Q.S AnNaml:126).
    “ Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Yang Memiliki Arsy yang mulya “(Q.S alBuruuj:14-15).
    “(Allah)lah Yang Mengangkat derajat-derajat, yang memiliki ‘Arsy” (Q.S Ghafir:15).
    Penyebutan bahwa Allah istiwa’ di atas ‘Arsy telah dikemukakan dalam sisi pendalilan kesepuluh di atas.
    Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus karena sesungguhnya ia adalah tengah-tengah Jannah, dan Jannah yang paling tinggi. Di atasnya adalah ‘Arsy ArRahmaan” (H.R al-Bukhari).
    Ketujuhbelas: Pensucian Allah terhadap diriNya bahwa Ia terjauhkan dari segala aib, cela dan kekurangan maupun penyerupaan.
    Al-Imam Ahmad rahimahullah ketika membantah Jahmiyyah, beliau berdalil dengan ayat-ayat AlQur’an yang menunjukkan bahwa setiap penyebutan keadaan ‘rendah’ selalu dalam konteks celaan. Setelah menyebutkan dalil-dalil bahwa Allah berada di atas ketinggian, beliau menyatakan:
    “Maka ini adalah khabar dari Allah. Allah mengkhabarkan kepada kita bahwa Ia berada di atas langit. Dan kami dapati segala sifat rendah sebagai tercela. Sebagaimana firman Allah:
    “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka..” (Q.S AnNisaa’: 145).
    Dan orang-orang kafir berkata: “Ya Rabb kami perlihatkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami (yaitu) sebagian dari jinn dan manusia agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina” (Q.S Fusshilat:29) (Lihat ArRadd ‘alal Jahmiyyah waz Zanaadiqoh karya Imam Ahmad bin Hanbal halaman 147).
    Ibnu Batthoh juga menyatakan: Tuhan kita Allah Ta’ala mencela keadaan rendah dan memuji yang tinggi. Sebagaimana dalam firmanNya:
    “Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘Illiyyin”.(Q.S al-Muthoffifiin: 18).’Illiyyin adalah langit ke tujuh… Dan Allah Ta’ala juga menyatakan:
    “Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin”(Q.S al-Muthoffifiin:7) Sijjin yaitu lapisan bumi yang terbawah. (Lihat Ucapan Ibnu Batthoh tersebut dalam kitab al-Ibaanah juz 3 halaman 142-143).
    Demikianlah, beberapa sisi pendalilan yang bisa kami sebutkan dalam tulisan ini. Pada tiap sisi pendalilan, terkandung banyak dalil dari AlQur’an maupun hadits yang shahih.
    Bantahan terhadap keyakinan Allah ada dimana-mana
    Faham yang satu ini banyak dianut oleh mayoritas kaum muslimin dinegara kita sekarang ini. Padahal tahukah mereka pemahaman siapakah ini sebenarnya?! Faham ini dicetuskan oleh kaum Jahmiyyah dan Mu’tazilah.
    Imam Ahmad bin Hanbal telah menepis dan membongkar kerusakan faham ini dalam kitabnya “Ar-Rad ‘ala Al-Jahmiyyah” hal. 53..
    Konsekuansi faham sesat “Allah dimana-mana” ini sangatlah batil sekali yaitu Allah berada di tempat-tempat yang kotor dan membatasi Allah pada makhluk sebagaimana diceritakan dari Bisyr Al-Mirrisyi tatkala dia mengatakan: “Allah berada di segala sesuatu”, lalu ditanyakan padanya: Apakah Allah berada di kopyahmu ini?! Jawabnya: Ya, ditanyakan lagi padanya: Apakah Allah ada dalam keledai?! Jawabnya: Ya!!!
    Perkataan ini sangatlah hina dan keji sekali terhadap Allah!!! Oleh karena itulah sebagian ulama’ salaf mengatakan: “Kita masih mampu menceritakan perkataan Yahudi dan Nasrhani tetapi kita tak mampu menceritakan perkataan Jahmiyyah!
    Kedua: Allah tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan, tidak dikiri, tidak di depan, tidak di belakang, tidak di dalam, tidak di luar, tidak bersambung, tidak berpisah sebagaimana keyakinan ahli kalam (filsafat).
    Ucapan di atas jelas-jelas menunjukkan bahwa Allah tidak ada. Inilah ta’thil (peniadaan) yang amat nyata. Maha suci Allah dari apa yang mereka ucapkan. Alangkah indahnya perkataan Mahmud bin Subaktukin terhadap orang yang mensifati Allah dengan seperti itu: “Bedakanlah antara Allah yang engkau tetapkan dengan sesuatu yang tidak ada!
    Walhasil, kedua keyakinan diatas merupakan kebatilan yang tidak samar lagi bagi orang yang beri hidayah oleh Allah..
    Demikian, wallahu a’lam..

  66. Bismillah..
    @Mas Mamak..
    Entah dengan analogi apa lagi untuk supaya antum bisa mengerti maksud ana..
    Sebenarnya sederhana saja mas.. Intinya untuk menunjukkan bahwa yang dimaksud penterjemah itu Allah azza wa jalla, maka awal hurufnya harus ditulis dengan huruf balok, sedangkan untuk menunjukan bahwa dimaksud penterjemah adalah makhluk, maka awal hurufnya ditulis dengan huruf kecil.. Gitu aja kok repot..
    Gini aja, saya analogikan lagi :
    Andaikan disepakati bahwa kata “bulan” awal hurufnya harus ditulis dengan huruf besar, maka jika ada 2 kalimat, yakni :
    Kalimat pertama : matahari dan bulan ada diatas awan, maka penulisannya adalah : “matahari dan Bulan ada diatas awan” (dengan B besar).
    Kemudian kalimat kedua berbunyi : kami dalam perjalanan dan bulan bersama kami, maka penulisannya adalah : “kami dalam perjalanan dan Bulan bersama kami (tetap dengan B besar)..
    Begitu juga jika ada ayat al qur’an :
    “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu (QS Al-Mulk : 16..)
    Maka disini huruf “D” pada kata Dia ditulis dengan huruf besar, karena yang dimaksud Dia disini adalah Allah azza wa jalla (bukan malaikat seperti tafsiran antum)..
    Sama saja jika ada ayat al qur’an :
    Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada (al hadiid : 4)
    Maka huruf “D” pada kata Dia di ayat ini juga ditulis dengan huruf balok, karena maksud penterjemah dengan “Dia” adalah Allah azza wa jalla..
    Dua ayat ini khan perlakuannya sama, tidak ada standard ganda yang berbeda..
    Antum mudeng nggak sih…
    Mengenai takwil, afwan mas dalam hal ini ana tidak mentakwil…
    Bukankah sudah ana umpamakan : Misalnya, ada seseorang yang mengatakan, “kami masih meneruskan perjalanan dan bulan pun bersama kami.” Ini tidak dianggap kontradiksi, dan tidak seorangpun memahami dari perkataan tersebut bahwa bulan turun ke bumi..
    Apabila hal ini bisa terjadi pada makhluk, maka bagi Allah azza wa jalla (Yang meliputi segala sesuatu), walaupun berada diatas arsy, tentu lebih patut lagi, karena hakikat pengertian ma’iyah (kebersamaan) tidak berarti berkumpul dalam satu tempat..
    Apabila ana mengatakan ““kami masih meneruskan perjalanan dan bulan pun bersama kami.”.. Apakah itu berarti ana mentakwil bulan?? Mas, dzat bulan tidak harus turun ke bumi untuk menunjukkan kebersamaan…
    Ana harap antum bisa fokus pada materi diskusi kita ini..
    @Mas Abi Raka, antum berkata : “Abu aisah tuh bukannya ga mudeng kang, dia tuh malu n gengsi ngakuin kekeliruan dia n biar keliatan ada perlawanan n pinter dia mengalihkan deh n ngomong ngalor ngidul ga jelas gitu hehehe……!
    wahabi tuh karakternya semuanya sama ga nyambung….!”
    Afwan mas, sebenarnya yang ngomong ngalur ngidul itu kan temen ente, mas mamak ini… Awalnya kita kan diskusi masalah surah al mulk 16-17..
    Kenyataan yang ada bahwa semua tafsir terjemahan diseluruh indonesia (bahkan mungkin diseluruh dunia) menunjukan bahwa kata “Dia” pada surah al mulk 16-17 adalah Allah azza wa jalla.. Dan itu tidak bisa dipungkiri lagi oleh mas mamak.. Maka kemudian dia berusaha untuk mengganti materi diskusi dengan membandingkan dengan ayat-ayat lain…
    Sebenarnya kalau dia dan antum semua mau mengakui bahwa yang dimaksud “Dia” dalam surah al mulk 16-17 itu adalah Allah azza wa jalla, maka selesai sudah diskusi ini..
    Apa kalian, hai para aswaja mau mengakuinya??
    Kalau tidak mau, ya silahkan kalian buat tafsir al qur’an sendiri versi kalian sendiri…
    Wallahu a’lam..

    1. Bismillah,
      Mas abu aisyah@,analogi yang anda ajukan :

      Kalimat pertama : matahari dan bulan ada diatas awan, maka penulisannya adalah : “matahari dan Bulan ada diatas awan” (dengan B besar)

      Maka yang dimaksud dengan kata “Bulan” adalah fisik “Bulan”. Selanjutnya analogi anda :

      Kemudian kalimat kedua berbunyi : kami dalam perjalanan dan bulan bersama kami, maka penulisannya adalah : “kami dalam perjalanan dan Bulan bersama kami (tetap dengan B besar)..

      Pertanyaan kami, adakah kata “Bulan” pada analogi anda (kalimat kedua) tersebut sama persis artinya dengan kata “Bulan” pada analogi anda (kalimat pertama).
      Sehingga pertanyaan jelasnya adalah : Ketika anda mengatakan “Alloh diatas langit” maka yang anda maksud adalah “Dzat Alloh”. Apakah arti yang sama (yakni : Dzat Alloh) juga yang anda maksud ketika al qur’an mengatakan “Dan Dia (Alloh) bersama kalian dimanapun kalian berada” ?
      Agar lebih jelas pertanyaannya kami simpelkan menjadi : Apakah untuk kata “Dia” yang mengisyaratkan Alloh diatas langit dan kata “Dia” yang mengisyaratkan lain anda memaknai sama, yakni sama-sama bermakna “Dzat Alloh”?
      Ini dulu tolong dijawab yang tegas untuk membuktikan ucapan anda :

      Mengenai takwil, afwan mas dalam hal ini ana tidak mentakwil…

      Hujjah anda selanjutnya dapat kita diskusikan setelah kami mendapat ketegasan anda…

      1. @abu aisah
        ente menganalogikan surat alhadiid dengan perkataan seseorang “kami masih meneruskan perjalanan dan bulan pun masih bersama kami” kata kang alfeyd ini majaz namanya, kata “bersama” disitu tidak berarti bersama dalam artian satu tempat atau berkumpul betul….?
        klo saya punya analogi juga tentang kata ” atas” atau “diatas” ayat yang ada di alqur’an belum tentu menunjukan arah atau tempat misalkan ada yang berkata ” diatas orang pintar, ada yang lebih pintar” atau pernah temen saya ngomong ” bro ada orang atas lagi sidak tuh” padahal yang dimaksud adalah petinggi perusahaan atau ada yang berkata ” klo masalah harta jangan liat ke atas”, boleh ga…..?
        dan kekeliruan ente tentang jawaban klo ada orang yang mengatakan Allah dimana ente belum jawab sama sekali, malu yah…?

  67. setuju mas/mbak yuyu… afwan kalau salah
    ALLOHUMMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMMAD…
    sebenarnya saya udah males mas naggapi wong wahabi.. inginya kami yang masuk ke ummati biar tambah ilmu.. tapi ya itu lo.. kadong gregeten sama ocehannya… mengganggu orang mencari ilmu saja…

  68. @ibnu ilyas : Tapi kalau ada ulama aswaja yang
    mengatakan al qur’an itu kitab suci paling
    porno di dunia, itu kenyataan..
    Dan yang mengatakan itu adalah kyai
    panutan NU.
    saya: memang kebiasaan buruk sulit di hilangkan, yang disampaikan gusdur itu memang benar (ingat jagan diplintir ya…..) kitab atau buku apapun yang memuat kebajikan dan hukum2 kalau yang membaca otaknya ngeres ya jadinya seperti yang di dawuhkan gusdur hehehe. contoh di dalam Al-Qur-an ada ayat yang menjelaskan menyusui, ada ayat yang menjelaskan menikah, dst…dst… tapi ya itu… orang wahabi demenya melintir omongan orang.. lawong ulama’2 saja kitabnya berani ditahrif… jadi teringat sama firanda yang katanya hdrotussyaikh KH Hasyim Asy’ari melarang maulidan.. subhanalloh hadza buhtanun ‘adhim..
    ini ni yang paling aku demen ma tukang fitnah, abu aisyah dan ummu hasanah tumbang tumbuh lagi yang lainnya… temen2 aswaja yang sabar ya… insyaAlloh ridlo Alloh menanti kita…

  69. Bismillah,
    Mas @Ibnu Ilyas, siapa yang membunuh syeh Nawawi Al Bantani ?…. Tanya sama ahli waris beiau!!! Apa anda masih mau berkelit?

  70. Bismillah,
    Mas abi raka anda nambah lagi dosa fitnahnya.. Saya nasehatkan supaya anda bertobat, karena fitnah adalah dosa yg sangat besar..
    Anda ingin bukti bahwa apa yg anda ucapkan itu hanya fitnah?
    Coba anda buka alamat ini :
    m.eramuslim.com/berita/dunia-islam/pernyataan-resmi-persatuan-ulama-suriah-atas-terbunuhnya-said-ramadhan-al-buthi.htm
    Kalau anda malas membukanya akan saya jelaskan sedikit :
    Menurut kesimpulan dari persatuan ulama suriah, bahwa yg melakukan pengeboman di mesjid damaskus hingga menyebabkan terbunuhnya al bouti adalah tentara bashar al assad sendiri..
    Bukti2 dilapangan menunjukkan hal itu.
    Tentu saya lebih percaya dengan berita ini daripada berita dari ummatipress yg membabibuta, yang lahir dari hati2 yang kotor karena kebencian yang sedemikian besarnya..
    Apalagi yg mengatakannya adalah kumpulan para ulama yg tentu lebih terpercaya daripada ummatipress..
    Adapun tentang gusdur apanya yg nggak nyambung mas?
    Bukankah aswaja di indonesia ini orang2 NU?
    Lha kalau kyai panutannya punya pemikiran kayak gitu, nggak heran jika ummatnya pada lari..
    Dan alhamdulillah banyak mantan2 NU yang akhirnya rujuk kpd manhaj salaf, mengikuti dakwah tauhid..
    Mangkannya pantas jika ummu hasanah & saya sendiri berterimakasih, kepada aswaja yg hendak menghancurkan salafy wahaby juga kepada gusdur & para mukallidnya seperti ente2 ini..

    1. @ibnu ilyas
      tuh kan ga nyambung lagi….!
      1. sedikit contoh ya, maaf bukan ngajarin klo saya bilang wahabi ingin menghancurkan aswaja lalu saya memberikan bukti tentang pembunuhan ulama aswaja oleh wahabi lah itu masih ada kaitannya tapi klo saya bilang ” tuh albani membolehkan nikah dengan niat talak” lah apa kaitannya omongan saya tentang wahabi ingin menghancurkan aswaja dengan omongan albani…?
      2.ente percaya ama web ente lah saya juga lebih percaya ama ummati lah dari pada web wahabi, plus firanda begitu senang dengan terbunuhnya syaikh Albouti menunjukan bahwa wahabi tidak senang dengan syaikh Al-bouti dan klopun ada ulama yang ngomong yang ente percaya pasti wahabi.
      3.koment ente juga penuh fitnah boz mending nasehat ente buat ente aja….!

  71. Bismillah,
    Mas abi raka & mas alfeyd..
    Kalau wahaby membunuh ulama aswaja itu kan cuma igauan syaikh kalian idahram al majhul al kadzab.
    Jangan fitnah bro..
    Tapi kalau ada ulama aswaja yang mengatakan al qur’an itu kitab suci paling porno di dunia, itu kenyataan..
    Dan yang mengatakan itu adalah kyai panutan NU.
    Mudah2an tidak ada lagi orang seperti itu setelah kepergiannya.
    Amiin..

    1. @ibnu ilyas
      lah yang ngebunuh syaikh muhammad said albouti siapa boz klo bukan wahabi yang bawa bom di mesjid, terus firanda malah seneng terbunuhnya syaikh albouti itu sedikit bukti,
      klo perkataan gusdur tentang alquran porno, lah kaitannya ama aswaja menghancurkan wahabi yang di omongnin ama ummu hasanah apaan boz…?
      wahabi suka ga nyambung deh klo koment xixixixi….!

  72. Saran saya buat semua teman2 Aswaja dan Admin…., Langkah teman2 Aswaja semua harus jauh lebih konkrit lagi mulai saat ini…
    Cukupkan saja diskusi dengan @ummu hasanah cs karena sepertinya mereka semua tidak berniat utk mencari kebenaran/ hidayah Allah lewat diskusi ini. Mereka bicara Ayat Al-Qur’an tetapi tidak mengerti perangkat “ulumul Qur’an” sebagai cara memahaminya. Mereka bicara hadits, tetapi tidak mengerti perangkat “ulumul hadits” sebagai cara memahaminya. Mereka bicara Fiqh dan Muamalah, tetapi tidak mengerti perangkat Ilmu Fiqh dan Ushulnya. Mereka bicara Akhlak, tetapi tidak mengerti bagaimana Nabi berakhlak dalam kehidupannya. Mereka menolak taklid, tetapi sangat taklid terhadap ajaran wahabinya.
    Mereka sudah melihat kebenaran, tetapi masih menolak kebenaran itu..
    Kecuali mungkin klu ada teman2 wahabi yang memang niatnya mencari kebenaran dan ilmu, baru mungkin bisa dilakukan diskusi yang komprehensif…
    Alangkah lebih baiknya menurut saya, kita mencoba memberikan pencerahan dan pemahaman yang benar tentang akidah ahlussunnah yg benar dan lainnya dengan cara dakwah yang lebih massive effectnya untuk masyarakat luas, semoga bisa menjadi manfaat dan benteng dari akidah2 yang menyimpang… (Bisa dengan membentuk komunitas Aswaja, membuat bulettin2, ebook, dll)…
    Demikian, hanya urun saran…. semoga Allah selalu menunjukkan kita semua dalam jalan Hidayah-Nya agar selamat hidup di Dunia dan Akhirat…
    Wallahu’alam

  73. Kami sih sangat berterima kasih dengan apa yg saudara2 aswaja lakukan terhadap kami. Krn pada kenyataannya semua itu malah membantu menyebarkan dakwah tauhid ini menjadi lebih pesat berkembangnya.
    Mungkin ini sunnatullah, kita semua masih ingat ketika george bush merekayasa tragedi 11/9 dengan maksud menghancurkan Islam, tetapi justru menarik minat manusia utk menari tahu tentang Islam . Dan saat ini Islam agama yang paling berkembang pesat di Amerika, eropa, Australia, afrika dll.
    Hal yang sama juga terjadi disini ketika aswaja ingin menghancurkan salafi wahabi, yang terjadi justru sebaliknya, malah menarik perhatian orang, baik awam atau tidak utk lebih mengetahu apa itu salafi wahabi.
    Dan Alhamdulillah saat ini dakwah tauhid telah menyebar semakin pesat. Dan salah satunya adalah “berkat bantuan” dari saudara2 aswaja.
    Semoga segala perbuatan saudara2 aswaja trhadap kami, mendapat balasan yg lebih baik dari Allah tabarooka wa ta’ala.

    1. @ummu hasanah
      alhamdulillah komentnya agak baik kali ini, cuma tetep ada aja kalimat yang kurang enak anti bicara ” ketika aswaja ingin menghancurkan salafi wahabi”, itukan hanya kesimpulan tanpa bukti, tapi klo wahabi ingin menghancurkan aswaja banyak bukti artikel disini yang membicarakan’y seperti tentang wahabi menghancurkan mesjid aswaja atau bahkan membunuh ulama aswaja.

      1. @ummu hasanah,
        Sejak tragedi 11/9 memang islam meningkat pesat pemeluknya di Amerika, tapi saya yakin bukan Sekte Wahabi yang mereka ikuti, jika wahabi yg diikuti itu gak beda dengan faham agama lama mereka yg mengesampingkan akal, wahabi itu radikal melahirkan teroris semacam Al Qaeda dan osama bin laden pasti pula dihindari oleh mereka sebab yang mereka cari ketenangan batin dan sifat lemah lembut tehadap sesama manusia itu bisa didapatkan dari ASWAJA bukan wahabi.

  74. Bila ruang itu dimensi yang diciptakan akal, Tuhannya wahabi lebih kecil dari akal..
    dan Aneh, satu-satunya pembahasan ruang tentang Tuhan
    Bahwa Tuhan tidak dapat direngkuh oleh Petala Langit dan Bumi
    Tapi oleh hati orang arif..
    Tentu takwilnya dengan hikmah..
    Haruskah dibahas ke Abstrak atau ke Makro kosmos?
    Tidak perlu, menurut saya mungkin wahabi bid’ah,
    mengada-ada hal-hal yang telah lama dibahas dan tak pernah dibahas….
    Jahat….

  75. @abu aisyah : Afwan mas, ana mengatakan Allah
    bersemayam diatas arsy, bukan didalam
    arsy.. Allah ada diatas langit, bukan
    didalam langit.. Allah maha tinggi dan
    tidak ada yang lebih tinggi dariNya..
    Apakah ana mengatakan bahwa diatas
    langit atau diatas arsy itu adalah ruangan
    atau dimensi??, khan tidak!??
    saya: mas katanya sampean jago bahasa indonesia mengeja kata di atas saja masih mawut… ini saya jelaskan cara penulisan yang benar :
    ‘di’ sebagai pembentuk kata kerja pasif cara
    penulisannya digandengkan atau serangkai
    dengan kata kerjanya. Contoh, tempe
    dimakan, truk digandengkan, Baskora
    dipenjarakan, harta disita, hukum
    diremehkan, Amir dipermalukan dan
    sebagainya. Sedangkan ‘di’ sebagai kata
    depan, penulisannya dipisahkan. Contoh, di
    bawah, di atas, di mana, di sini, di situ, di
    sungai, di kuburan, di dalam, di luar, di
    Jakarta sebagaimana dicontohkan di atas.
    @abu aisyah: Apakah ana mengatakan bahwa diatas
    langit atau diatas arsy itu adalah ruangan atau dimensi?? khan tida!!
    saya: ilmu dari mana lagi ini…. weleh-weleh… mas yang namanya atas itu adalah ruang, dimensi atau sesuatu yang berbatas… kok tambah mumet aku.. seng sabar mas mamak menghadapi abu aisyah dan umu hasanah
    all aswaja untuk menghadapi kroco-kroco wahabi gak usah pakai teks arab… buang2 tenaga.. paling yo ra godak murodi… dunia telah terbalik

  76. Bismillah…
    PERTAMA :
    @Mas Mamak, nampaknya antum memang susah untuk bisa mengerti apa yang ana ucapkan, mungkin antum belum pernah belajar bahasa Indonesia waktu sekolah dulu??, atau mungkin belajar juga, tapi nilai raportnya merah? Atau mungkin antum ini sebenarnya pandai, tapi pura-pura tidak mengerti??… Entahlah..
    Baik, ana akan analogikan seperti ini :
    Andaikan kita mempunyai ketentuan bahwa huruf huruf B pada kata Bulan harus diawali dengan huruf besar, sedangkan“m” pada kata mamak harus diawali dengan huruf kecil..
    Maka untuk menerangkan bahwa bulan diatas awan maka harus kita tulis : “Bulan ada diatas awan (dengan B besar)” tentu berbeda dengan jika menerangkan mamak diatas awan, yaitu dengan menuliskan : “mamak ada diatas awan (dengan m kecil)”..
    Begitu juga bila kita ingin menerangkan bahwa bulan bersama kita dimanapun kita berada, maka harus kita tulis : “Bulan bersama kita dimanapun kita berada” (dengan B besar, sesuai ketentuan)..
    Berbeda juga bila kita ingin menerangkan bahwa mamak bersama kita dimanapun kita berada, maka harus kita tulis “mamak bersama kita dimanapun kita berada (dengan “m” kecil, sesuai ketentuan)…
    Nah, jika ada surah yang berbunyi : “Dan Dia bersamamu dimanapun kamu berada”.. Tentu yang dimaksud disini adalah Allah azza wa jalla..
    Tetapi jika kalimatnya berbunyi : “Dan dia (dengan d kecil) bersamamu dimanapun kamu berada”, maka tentu yang dimaksud bukan Allah azza wa jalla, namun bisa manusia, bisa juga malaikat dan bisa makhluk yang lainnya..
    Dalam bahasa Indonesia untuk membedakan apakah yang dimaksud adalah Khaliq atau makhluk, maka dengan kaidah huruf besar dan huruf kecil tadi…
    Apa antum bisa paham??..
    KEDUA :
    Kemudian tentang Allah bersemayam diatas arsy.. Mengapa antum tidak mengimani kalimat ini, padahal itu tercantum dibanyak ayat Al qur’an dan hadits rasulullah?
    Afwan mas, ana mengatakan Allah bersemayam diatas arsy, bukan didalam arsy.. Allah ada diatas langit, bukan didalam langit.. Allah maha tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dariNya.. Apakah ana mengatakan bahwa diatas langit atau diatas arsy itu adalah ruangan atau dimensi??, khan tidak!??
    Ana harap antum bisa mengerti apa yang ana maksud…
    KETIGA :
    Mengenai tafsir surah al baqarah : 186 :
    وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
    Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (al-Baqarah 2:186).
    Dalam ayat ini, kata qoriib (dekat) tidak bisa kita bayangkan sebagaimana dekatnya makhluk dengan makhluk. Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini: “Sesungguhnya Allah Maha Menjaga dan Maha Mengetahui. Mengetahui yang samar dan tersembunyi. Mengetahui mata yang berkhianat dan hati yang ketakutan. Dan Allah juga dekat dengan hamba-Nya yang berdoa, sehingga Allah berfirman ‘Aku mengabulkan doa orang yang berdoa jika berdoa kepada-Ku’ ”. Kemudian dijelaskan pula: “Doa ada 2 macam, doa ibadah dan doa masalah. Dan kedekatan Allah ada 2 macam, dekatnya Allah dengan ilmu-Nya terhadap seluruh makhluk-Nya, dan dekatnya Allah kepada hambaNya yang berdoa untuk mengabulkan doanya” (Tafsir As Sa’di). Jadi, dekat di sini bukan berarti menempel atau bersebelahan dengan makhluk-Nya. Hal ini sebenarnya bisa dipahami dengan mudah. Dalam bahasa Indonesia pun, tatkala kita berkata ‘Mamak dan Alfeyd sangat dekat’, bukan berarti mereka berdua selalu bersama kemanapun perginya, dan bukan berarti rumah mereka bersebelahan..
    Mudah-mudahan yang inipun antum bisa paham…
    Wallahu a’lam..

    1. @abu aisah
      klo saya perhatiin ente banyak ga nyambungnya ama kang mamak, maaf saya negesin dikit
      1. ente buat pernyataan klo ada yang bertanya dimana Allah ente jawab diatas langit, itu ga sesuai Al-qur’an bos, kan Allah udah ngajarin di Al-qur’an saya yakin pasti ente tahu kesalahan ente ini, cuma ente malu buat ngakuinnya!
      2. ente bilang kata “Dia” dengan D besar yakni Allah azza wajalla, sementara dia ayat lain dengan D besar juga ente bilang bukan dzat Allah SWT ente plin plan boz…!
      3. sekali lagi saya yakin ente pasti tahu cuma ente gengsi n malu ngakuinnya…!

    2. Bismillah,
      Mas abu aisyah@, maaf agak terlambat barusan bantu tetangga hajatan kawinan…
      Mas abu aisyah, nampaknya anda belum memahami pertanyaan kami, ketika kami mempertanyakan sikap dan pandangan anda tentang dua kata “Dia” yang sama-sama menggunakan huruf balok “D”:
      Maka jawaban anda begitu tegas untuk kata “Dia” yang mengisyaratkan Alloh berada diatas Arsy adalah berarti Dzat Alloh, namun ketika kata “Dia” yang mengisyaratkan Alloh tidak bersemayam diatas arsy anda mentakwilnya dengan ilmu-Nya, dengan demikian anda mengimani sebagian ayat dan menolak takwil atas ayat tersebut, namun disaat yang sama anda men-takwil ayat lain yang tidak sesuai dengan keyakinan anda “Bahwa Dzat Alloh bersemayam diatas arsy”.
      Maka pertanyaan jelasnya adalah :
      1. Dengan standard apa anda membedakan ayat-ayat mutasyabihat, sehingga sebagian anda terima dengan tanpa takwil sedang yang lain harus ditakwil ?
      2. Kami mengimani ” Bahwa Alloh Istawa diatas arsy” menurut apa yang dikehendaki Alloh dan diajarkan Rosululloh saw, lantas apakah anda juga mengimani ayat-ayat lain yang juga banyak yang mengisyaratkan lain, seperti :
      Kepunyaan Alloh-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Alloh. Sesungguhnya Alloh maha luas lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Baqoroh : 115)
      Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Alloh Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada satu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku diatas jalan yang lurus. (QS. Hud :56)
      Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allohlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melampar, tetapi Alloh-lah yang melempar. (QS. Al Anfal :17)
      Dll….
      3. Terhadap ayat-ayat seperti yang kami sebutkan diatas apakah anda juga mengimani tanpa interpretasi tambahan (mentakwil) sebagaimana anda mengimani anda mengimani ayat-ayat yang mengisyaratkan Alloh Bersemayam diatas arsy ?
      4. Jika anda mentakwil atas ayat-ayat sebagaimana yang telah kami sebutkan diatas, lantas mengapa hal yang sama tidak anda lakukan terhadap ayat-ayat yang mengisyaratkan Alloh bersemayam diatas arsy?
      Kami harap anda fokus pada materi diskusi, karena sesungguhnya anda tidak memahami pertanyaan kami tentang standard ganda yang anda terapkan dalam mengiterpretasikan dua kata “Dia” yang sama-sama menggunakan huruf balok “D”. Semoga pertanyaan kami kali ini lebih mudah untuk anda mengerti makksudnya….

    3. Mas abu aisyah@, ada yang lupa :
      Anda belum menjawab pertanyaan kami, yakni : Mengapa jika ada yang bertanya tentang Alloh anda menjawab “diatas langit” padahal Alloh tidak mengajarkan demikian ? semoga anda mudeng…

      1. @ mamak
        abu aisah tuh bukannya ga mudeng kang, dia tuh malu n gengsi ngakuin kekeliruan dia n biar keliatan ada perlawanan n pinter dia mengalihkan deh n ngomong ngalor ngidul ga jelas gitu hehehe……!
        wahabi tuh karakternya semuanya sama ga nyambung….!

  77. Bismillah,
    Mas abu aisyah@…..menanggapi pernyataan anda berikut :
    Kalau kita baca ayat yang mulia ini secara lengkap, maka dapat diketahui bahwa Allah azza wa jalla menerangkan dulu sifatNya, yakni bersemayam diatas arsy, baru kemudian berfirman bahwa Dia bersama kita dimanapun kita berada..
    Disini dengan tegas anda katakan bahwa Alloh bersemayam diatas arsy…
    Bukankah arsy adalah makhluk ? Bukankah setiap makhluk memiliki keterbatasan ? Maka mampukah arsy meliputi Alloh yang Maha Agung lagi Maha Besar ? Bukankah telah anda katakan bahwa kita tidak boleh mengikat Dzat Alloh dengan dimensi makhluk yang terbatas ?
    Dan apa maksud pernyataan anda bahwa “bersemayam” adalah shifat Alloh ?
    Penjelasan anda yang kami blockquote diatas bukanlah terjemahan al qur’an bukan pula kutipan tafsir/penjelasan para ulama’ mu’tabar…. Adakah penjelasan tersebut hanyalah interpretasi anda atas ayat al qur’an ? mohon dijelaskan….
    selanjutnya anda katakan :

    Artinya apa?
    Artinya bahwa Dia bersama kita ; mengatahui, mendengar, dan melihat kita dimana pun kita berada, meskipun Dia berada diatas arsy. Apa yang disebutkan sebelum dan sesudah ayat ini menjelaskan hal tersebut.. Coba antum baca lagi surah ini selengkapnya..
    Hakikat pengertian kebersamaan Allah dengan makhluk tidak bertentangan dengan keberadaan Allah diatas arsy, sebab perpaduan antara kedua hal ini bisa terjadi pada makhluk.. Misalnya, ada seseorang yang mengatakan, “kami masih meneruskan perjalanan dan bulan pun bersama kami.” Ini tidak dianggap kontradiksi, dan tidak seorangpun memahami dari perkataan tersebut bahwa bulan turun ke bumi..

    bukankah sebelumnya anda mengharuskan kata “Dia” dengan huruf balok “D” untuk diartikan Dzat Alloh? maka pertanyaan kami :
    1. Mengapa anda tidak konsisten dengan methode anda sebelumnya yang mengharuskan kata “Dia” dengan huruf balok “D” untuk diartikan Dzat Alloh ? Bukankah para penerjemah al qur’an adalah para ulama yang berkompeten dan juga telah di tashih oleh MUI sebagaimana yang anda sampaikan sebelumnya ?….
    2. Dalam ayat tersebut terdapat dua kata “Dia” yang sama-sama menggunakan huruf balok “D”, akan tetapi anda mengartikan berbeda, yang satu anda artikan sebagai Dzat Alloh sedang yang lain tidak, pertanyaan kami : Apa standard anda untuk membedakan kata “Dia” yang satu dengan yang lain yang sama-sama menggunakan huruf balok “D”?
    3. Sekali lagi kami ingatkan anda tentang pernyataan anda :

    Juga seluruh kitab tafsir al qur’an yang beredar di masyarakat sekarang ini salah semua, terbukti dalam tafsir surah al mulk 16 – 17 kata “Man” ditafsirkan dengan “Dia” dengan D besar, yakni Allah azza wa jalla..

    4. Anda juga belum menjawab pertanyaan kami sebelumnya, dimana anda katakan :

    sehingga apabila ada yang bertanya dimana Allah? Maka kita akan mendapat kemudahan untuk menjawabnya, yakni “diatas langit”.. Tidak seperti jawaban kalian yang mbulet dan njlimet

    Pertanyaan kami : Bukankah Alloh sendiri telah mengajarkan jawabannya jika ada yang bertanya tentang Alloh… ? coba anda perhatikan ayat berikut !!
    وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ
    “Dan jika hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat” (Al Baqoroh, 186)
    Dengan demikian jawaban anda bahwa Alloh “diatas langit” tidak sesuai dengan yang diajarkan oleh Alloh sendiri… coba anda perhatikan… salah satu riwayat yang dikutib oleh Al Hafidz Ibn Katsir berkaitan ayat diatas :
    وقال عبد الرزاق: أخبرنا جعفر بن سليمان، عن عوف، عن الحسن، قال: سأل أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم [النبي صلى الله عليه وسلم] : أين ربنا؟ فأنزل الله عز وجل: { وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ }
    Abdur Rozzaq berkata : Telah menceritakan padaku Ja’far bin Sulaiman dari ‘Auf dari Hasan, ia berkata : Para sahabat bertanya kepada Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- “Dimana Tuhan kami ?… maka Alloh menurunkan ayat : “Dan jika hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat”
    5. Jika anda enggan mengartikan kata “Dia” dalam ayat “Dan Dia bersama kalian dimanapun kalian berada” (QS. Al Hadiid:4) dengan arti Dzat Alloh, karena memperhatikan redaksi ayat sebelumnya, maka pertanyaannya : Mengapa anda juga tidak memperhatikan ayat Alloh yang lain semisal Al Baqoroh : 186 sebagaimana yang kami sebutkan diatas ?

  78. @abu aisyah
    Hakikat pengertian kebersamaan Allah
    dengan makhluk tidak bertentangan
    dengan keberadaan Allah diatas arsy,
    sebab perpaduan antara kedua hal ini bisa
    terjadi pada makhluk.. Misalnya, ada
    seseorang yang mengatakan, “kami masih
    meneruskan perjalanan dan bulan pun
    bersama kami.” Ini tidak dianggap
    kontradiksi, dan tidak seorangpun
    memahami dari perkataan tersebut bahwa
    bulan turun ke bumi..
    saya: mas… mas.. kok saya tambah pingin menangis aja melihat sampean ngeyelnya gak berujung… subhanalloh.. mempelajari islam harus ikhlas.. sampean dan kaum wahabi menolak majaz.. tapi ketika menunjukan makna suatu lafadz yang bertolak belakang dengan arti haqiqat kalian berusaha dan terkesan ngawur agar makna tadi diterima.. sudah gini saja saya mau bertanya kepada anda pengertian haqiqat ialah??? monggo…

    1. Bismillah,
      Mas abu aisyah@…..menanggapi pernyataan anda berikut :

      Kalau kita baca ayat yang mulia ini secara lengkap, maka dapat diketahui bahwa Allah azza wa jalla menerangkan dulu sifatNya, yakni bersemayam diatas arsy, baru kemudian berfirman bahwa Dia bersama kita dimanapun kita berada..
      Disini dengan tegas anda katakan bahwa Alloh bersemayam diatas arsy..

      Bukankah arsy adalah makhluk ? Bukankah setiap makhluk memiliki keterbatasan ? Maka mampukah arsy meliputi Alloh yang Maha Agung lagi Maha Besar ? Bukankah telah anda katakan bahwa kita tidak boleh mengikat Dzat Alloh dengan dimensi makhluk yang terbatas ?
      Dan apa maksud pernyataan anda bahwa “bersemayam” adalah shifat Alloh ?
      Penjelasan anda yang kami blockquote diatas bukanlah terjemahan al qur’an bukan pula kutipan tafsir/penjelasan para ulama’ mu’tabar…. Adakah penjelasan tersebut hanyalah interpretasi anda atas ayat al qur’an ? mohon dijelaskan….
      selanjutnya anda katakan :

      Artinya apa?
      Artinya bahwa Dia bersama kita ; mengatahui, mendengar, dan melihat kita dimana pun kita berada, meskipun Dia berada diatas arsy. Apa yang disebutkan sebelum dan sesudah ayat ini menjelaskan hal tersebut.. Coba antum baca lagi surah ini selengkapnya..
      Hakikat pengertian kebersamaan Allah dengan makhluk tidak bertentangan dengan keberadaan Allah diatas arsy, sebab perpaduan antara kedua hal ini bisa terjadi pada makhluk.. Misalnya, ada seseorang yang mengatakan, “kami masih meneruskan perjalanan dan bulan pun bersama kami.” Ini tidak dianggap kontradiksi, dan tidak seorangpun memahami dari perkataan tersebut bahwa bulan turun ke bumi..

      bukankah sebelumnya anda mengharuskan kata “Dia” dengan huruf balok “D” untuk diartikan Dzat Alloh? maka pertanyaan kami :
      1. Mengapa anda tidak konsisten dengan methode anda sebelumnya yang mengharuskan kata “Dia” dengan huruf balok “D” untuk diartikan Dzat Alloh ? Bukankah para penerjemah al qur’an adalah para ulama yang berkompeten dan juga telah di tashih oleh MUI sebagaimana yang anda sampaikan sebelumnya ?….
      2. Dalam ayat tersebut terdapat dua kata “Dia” yang sama-sama menggunakan huruf balok “D”, akan tetapi anda mengartikan berbeda, yang satu anda artikan sebagai Dzat Alloh sedang yang lain tidak, pertanyaan kami : Apa standard anda untuk membedakan kata “Dia” yang satu dengan yang lain yang sama-sama menggunakan huruf balok “D”?
      3. Sekali lagi kami ingatkan anda tentang pernyataan anda :

      Juga seluruh kitab tafsir al qur’an yang beredar di masyarakat sekarang ini salah semua, terbukti dalam tafsir surah al mulk 16 – 17 kata “Man” ditafsirkan dengan “Dia” dengan D besar, yakni Allah azza wa jalla..

      4. Anda juga belum menjawab pertanyaan kami sebelumnya, dimana anda katakan :

      sehingga apabila ada yang bertanya dimana Allah? Maka kita akan mendapat kemudahan untuk menjawabnya, yakni “diatas langit”.. Tidak seperti jawaban kalian yang mbulet dan njlimet

      Pertanyaan kami : Bukankah Alloh sendiri telah mengajarkan jawabannya jika ada yang bertanya tentang Alloh… ? coba anda perhatikan ayat berikut !!
      وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ
      “Dan jika hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat” (Al Baqoroh, 186)
      Dengan demikian jawaban anda bahwa Alloh “diatas langit” tidak sesuai dengan yang diajarkan oleh Alloh sendiri… coba anda perhatikan… salah satu riwayat yang dikutib oleh Al Hafidz Ibn Katsir berkaitan ayat diatas :
      وقال عبد الرزاق: أخبرنا جعفر بن سليمان، عن عوف، عن الحسن، قال: سأل أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم [النبي صلى الله عليه وسلم] : أين ربنا؟ فأنزل الله عز وجل: { وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ }
      Abdur Rozzaq berkata : Telah menceritakan padaku Ja’far bin Sulaiman dari ‘Auf dari Hasan, ia berkata : Para sahabat bertanya kepada Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- “Dimana Tuhan kami ?… maka Alloh menurunkan ayat : “Dan jika hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat”
      5. Jika anda enggan mengartikan kata “Dia” dalam ayat “Dan Dia bersama kalian dimanapun kalian berada” (QS. Al Hadiid:4) dengan arti Dzat Alloh, karena memperhatikan redaksi ayat sebelumnya, maka pertanyaannya : Mengapa anda juga tidak memperhatikan ayat Alloh yang lain semisal Al Baqoroh : 186 sebagaimana yang kami sebutkan diatas ?

  79. Bismillah…
    Surah Al Hadiid ayat 4 tersebut selengkapnya berbunyi :
    “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam diatas arsy. Dia mengetahui apa yang masuk kedalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kesana. Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan”.
    Kalau kita baca ayat yang mulia ini secara lengkap, maka dapat diketahui bahwa Allah azza wa jalla menerangkan dulu sifatNya, yakni bersemayam diatas arsy, baru kemudian berfirman bahwa Dia bersama kita dimanapun kita berada..
    Artinya apa?
    Artinya bahwa Dia bersama kita ; mengatahui, mendengar, dan melihat kita dimana pun kita berada, meskipun Dia berada diatas arsy. Apa yang disebutkan sebelum dan sesudah ayat ini menjelaskan hal tersebut.. Coba antum baca lagi surah ini selengkapnya..
    Hakikat pengertian kebersamaan Allah dengan makhluk tidak bertentangan dengan keberadaan Allah diatas arsy, sebab perpaduan antara kedua hal ini bisa terjadi pada makhluk.. Misalnya, ada seseorang yang mengatakan, “kami masih meneruskan perjalanan dan bulan pun bersama kami.” Ini tidak dianggap kontradiksi, dan tidak seorangpun memahami dari perkataan tersebut bahwa bulan turun ke bumi..
    Apabila hal ini bisa terjadi pada makhluk, maka bagi Allah azza wa jalla (Yang meliputi segala sesuatu), walaupun berada diatas arsy, tentu lebih patut lagi, karena hakikat pengertian ma’iyah (kebersamaan) tidak berarti berkumpul dalam satu tempat…
    Wallahu a’lam…

  80. Bismillah,
    Saudaraku @abu aisyah, anda belum menanggapi pertanyaan kami tentang kata “Dia” dalam surah al hadiid : 4… disana kata tsb menggunakan huruf balok “D”….. bagaimana penjelasan anda

  81. Bismillah,
    @Mas Mamak dan Mas Bachtiar..
    Rupanya antum tidak sepenuhnya menangkap maksud tulisan ana..
    Baik, kalau begitu akan ana jelaskan lagi secara detail :
    PERTAMA :
    Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa semua kitab-kitab tafsir Al qur’an (atau terjemahan) di Indonesia ini dari sabang sampai merauke (bahkan mungkin diseluruh dunia), menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Dia” pada surah al mulk 16 – 17, adalah Allah azza wa jalla, buktinya apa? Buktinya huruf “D” ditulis dengan huruf balok yang menandakan bahwa yang dimaksud adalah Allah aza wa jalla, kenapa demikian? Karena tidak mungkin penerjemah yang terdiri dari para ahli agama berani menulis kata Dia dengan D besar jika yang dimaksud adalah malaikat, karena jika demikan berarti menganggap bahwa malaikat adalah Allah (naudzu billahi min dzalik..)..
    KEDUA :
    Mungkin antum tidak percaya dengan perkataan ana.. Antum ingin bukti??,.. Kebetulan ana sendiri sudah membuktikannya.. Coba antum cek seluruh kitab suci al qur’an terjemahan diseluruh Indonesia ini, yang terbitan apa saja, antum bisa mencarinya diseluruh toko-toko buku, diseluruh mesjid-mesjid atau dimana saja.. Dan buktikan bahwa dalam surah al-mulk ayat 16 dan 17, huruf D pada kata “Dia” pasti ditulis dengan huruf balok, yang menandakan bahwa yang dimaksud tidak lain adalah Allah azza wa jalla..
    KETIGA :
    Mungkin antum merasa hal ini sepele dan tidak valid, karena ana merujuk bukan pada kitab aslinya melainkan terjemahan..
    Mas.. perlu antum ketahui, bahwa para penterjemah kitab suci al qur’an itu bukan orang sembarangan seperti kita.. Mereka tentu para ahli agama yang mumpuni dibidangnya, bahkan melibatkan para mubaligh dari MUI yang telah dipilih oleh pemerintah untuk mengerjakan penterjemahan kitab suci al qur’an..
    Kalau antum mempercayai hadits : “ummat islam tidak mungkin sepakat dalam suatu kesesatan”, maka antum harusnya mempercayai terjemahan kitab suci al qur’an yang beredar sekarang di masyarakat.. Karena apa? Karena tidak ada khilaf dalam penterjemahan surah al mulk ayat 16 – 17.. Semuanya sepakat bahwa kata “Dia” bukan malaikat, tetapi Allah azza wa jalla..
    KEEMPAT :
    Kalau antum masih juga berkilah, dan meyakini bahwa kata “Dia” adalah malaikat, maka antum dan kelompok antum yang mengaku cinta kepada agama ini, mestinya berjuang keras agar masyarakat awam yang membaca terjemahan al qur’an tidak terkecoh, yakni dengan mengusulkan kepada kementerian agama agar seluruh terjemahan kitab suci al qur’an yang telah terlanjur beredar dimasyarakat supaya ditarik dari peredaran, kemudian menggantinya dengan kitab suci terjemahan versi antum dan kelompok antum… Kalau perlu diumumkan juga diseluruh dunia…
    Atau jika kementerian agama tidak menyetujui, maka antum buat saja kitab tafsir al qur’an terjemahan versi antum. Mungkin dengan judul : “Al qur’an dan terjemahnya versi Syaikh Kamam dan Syaikh Raithcab atau Syaikh Nguga.. terserah…
    Ingat mas, ini masalah akidah, jangan disepelekan..

  82. alhamdulillah ummati online lagi, ahlusunnah akan membrantas kebatilan salafy wahabi, semoga dengan rahmat Allah swt kita semua di beri keselamatan dan para salafy wahaby agar cepat sadar 🙂

  83. Bismillah,
    Alhamdulillahi Robbil ‘Alamiin… akhhirnya ummatipress dapat di akses kembali
    Oh ya.. mas admin.. kenapa ummati sempat nggak bisa diacses dlm waktu agak lama hampir seminggu…

    1. Bismillah walhamdulillah….,
      betul Mas Mamak, sejak pagi tanggal 10 Aprli 2013 Ummatipress.com tidak bisa diakses karena hosting mengalami musibah di data centernya di Dallas US, akhirnya berdampak tidak bisa diaksesnya UmmatiPress.
      Mudah-mudahan ke depan tidak ada musibah lagi, amin….

  84. abu aisyah. entah harus berapa kali kami mengingatkan anda… jangan menjadi fitnah diinulislam… hujah anda telah terbantahkan… tolong tanggapi secara ilmiah, ojo ngeyel tok…
    buat all aswaja mungkin abu aisyah sudah di cuci otaknya, dan saya yaqin dia tidak akan mau taslim dengan pemahaman salafussholih.. mungkin teman wahaboy lainya ada yang mau bantu?????

  85. Dan maaf, yg saya komentari buatan saudi bukan tafsir ibnu katsir, tapi tafsir at thobari, as sa’diy dan al maisyir…. silahkan di cek ulang. Makasih
    Wallohu a’lam

  86. Bismillah..
    @mas mamak & mas lasykar
    Ana dapat menangkap maksud antum :
    Intinya kan antum su’udzan berat terhadap pemerintah Arab Saudi.. Apapun yang dilakukan oleh Arab Saudi maka pasti ada maksud-maksud jahat didalamnya, atau kitab apapun yang diterbitkan oleh Pemerintah Arab Saudi maka wajib untuk ditolak karena sudah tidak asli lagi alias sudah dikreasi atau dipalsu disana-sini, termasuk juga yang harus diwaspadai adalah Kitab suci al qur’an yang diterbitkan oleh pemerintah Arab Saudi. Boleh jadi Pemerintah Saudi nekad untuk merubahnya pelan-pelan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka… Na’udzu bilahi min dzalik..
    Juga seluruh kitab tafsir al qur’an yang beredar di masyarakat sekarang ini salah semua, terbukti dalam tafsir surah al mulk 16 – 17 kata “Man” ditafsirkan dengan “Dia” dengan D besar, yakni Allah azza wa jalla..
    Berarti semua tafsir al qur’an yang ada sekarang ini harus direvisi ulang sesuai dengan keinginan antum berdua..
    Huruf “D” (besar) harus diganti dengan “d” (kecil), karena “d” disini adalah malaikat..
    Kalau begitu, silahkan antum usulkan ke Kementerian Agama untuk merealisasikan keinginan antum berdua.. Atau seperti saran ana sebelumnya, buat saja sendiri tafsir al qur’an versi antum dengan tafsiran yang berbeda dengan seluruh kitab-kitab tafsir diseluruh Indonesia ini, bahkan mungkin diseluruh dunia…
    Silahkan….

    1. Maaf sebelumnya @Mas Abu asiah: Apakah yang anda baca tafsir terjemahan Bahasa Indonesia? kalau benar apa anda tidak takut terjerumus dalam taklid kepada pemahaman penerjemahnya?
      Kita tahu bahwa bahasa apapun tidak akan bisa diterjemahkan secara harfiah langsung kedalam bahasa yang lain. Demikian juga bahasa Arab, dalam menerjemahkan pastilah akan ada penyesuaian kalimat agar bahasa terjemahan bisa dimengerti dengan mudah. Faktor gramatikal, idiom dsb kadangkala tidak kita temukan persamaan artinya dalam bahasa Indonesia. Disinilah faktor penerjemah sangat berperan dalam menentukan isi terjemahannya tsb, mau tidak mau pemahaman penerjemah pasti akan mewarnai hasil terjemahannya. Apalagi jika si penerjemah itu mempunyai misi tersendiri.
      Saya tidak berburuk sangka dengan tafsir yang anda baca, tetapi alangkah baiknya kita lebih berhati-hati, bersikap kritis dan berpikir secara komprehensif dengan mencari perbandingan-perbandingan setiap ilmu yang kita dapatkan, agar kebenaran yang nyata bisa kita dapatkan.

    2. Bismillah,
      Mas abu aisyah@, Kami berharap anda fokus pada inti pembahasan… Namun demikian akan kami sampaikan tanggapan kami tentang pernyataan anda berikut :

      Ana dapat menangkap maksud antum :
      Intinya kan antum su’udzan berat terhadap pemerintah Arab Saudi.. Apapun yang dilakukan oleh Arab Saudi maka pasti ada maksud-maksud jahat didalamnya, atau kitab apapun yang diterbitkan oleh Pemerintah Arab Saudi maka wajib untuk ditolak karena sudah tidak asli lagi alias sudah dikreasi atau dipalsu disana-sini, termasuk juga yang harus diwaspadai adalah Kitab suci al qur’an yang diterbitkan oleh pemerintah Arab Saudi. Boleh jadi Pemerintah Saudi nekad untuk merubahnya pelan-pelan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka… Na’udzu bilahi min dzalik..

      Maaf mas abi aisyah, kami memang bersikap selektif terhadap kitab-kitab karya para salaf as sholih, tidak hanya yang dari terbitan KSA (Arab Saudi), kami juga selektif terhadap penerbit-penerbit lain semisal Darul Fikr (Lebanon) Darul Kutub Islamiyah (Mesir) dll.. kami lakukan itu semua mengingat perkara tersebut menyangkut agama kami (terutama aqidah kami) yang berarti otomatis akhirat kami.. jadi tidak tepat jika kami dianggap bersikap diskriminatif terhadap kitab-kitab terbitan KSA…
      Selanjutnya pernyataan anda :

      Juga seluruh kitab tafsir al qur’an yang beredar di masyarakat sekarang ini salah semua, terbukti dalam tafsir surah al mulk 16 – 17 kata “Man” ditafsirkan dengan “Dia” dengan D besar, yakni Allah azza wa jalla..
      Berarti semua tafsir al qur’an yang ada sekarang ini harus direvisi ulang sesuai dengan keinginan antum berdua..
      Huruf “D” (besar) harus diganti dengan “d” (kecil), karena “d” disini adalah malaikat..

      Dari sini kami dapat menarik kesimpulan dua hal :
      Pertama : Nampaknya anda tidak membaca tafsir Ibnu Katsir secara langsung, tapi anda mempelajari terjemahnya…
      Kedua : Anda juga tidak dapat membedakan antara Tafsir dan Terjemah… mengingat kata “Dia” yang anda maksud bukanlah penjelasan/penafsiran Imam Ibnu Katsir, melainkan terjemah tekstual dari ayat tersebut….
      Seandainya kita memahami al qur’an dengan pola/methode sebagaimana tersirat dalam pernyataan anda tersebut, juga pernyataan anda sebelumnya :

      Kalau ada yang punya tafsir Ibnu Katsir, silahkan dibuka juga, dan lihat, bahwa huruf “D” pada kata “Dia” bukankah ditulis dengan huruf besar? Siapa yang dimaksud “Dia” disini?.. Apakah malaikat??? Apakah semua kitab tafsir al qur’an ahlu sunnah yang beradar sekarang ini keliru semua?? Apakah Ibnu Katsir itu ulama yang sesat???

      anda mengasumsikan penggunaan huruf balok “D” pada kata “Dia” menunjukkan bahwa kata tersebut artinya adalah “Dzat Alloh”.. maka apakah anda juga setuju jika dikatakan “Alloh ada disekitar kita”, sebagaimana yang telah Alloh firmankan :
      وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
      “Dan Dia bersama kamu dimanapun kamu berada” (QS. Al Hadiid :4)
      Coba anda perhatikan penggunaan huruf balok “D” pada kata “Dia” pada ayat diatas…maka apakah anda juga mengimani bahwa Alloh disekitar kita ?…
      Kami berharap anda fokus pada materi diskusi… dan yakinlah jika memang kebenaran yang anda usung adalah kebenaran yang benar anda pasti dapat menjelaskannya dengan izin Alloh… namun jika kebenaran yang anda klaim hanyalah kebenaran semu yang berdiri diatas landasan doktrin yang rapuh… maka segeralah bertaubat dan mencari kebenaran yang sesungguhnya dengan methode belajar yang benar….
      Wallohu A’lam…

  87. anda ketika di “su’udhoni” langsung respon “tanggap darurat” ….. tapi ketika golongan anda menuduh sesat terhadap guru2 kami yang nasab keilmuanya nyata-nyata telah sampai salafussholih versi aswaja kenapa diam.. bahkan mungkin ikut2tan mengatakan sesat (semoga saja tidak) .
    coba bayangkan ketika anda di posisi saya bagsimana perasaan anda????? kami aswaja sangat menghormati guru2 kami.. bahkan beliau kami hormati mengalahkan orang tua kandung kami… renungkanlah

  88. @ Abu Aisah : Anta Shahih 🙂 , tp sorry yaa ane ga mau ngerayain kebenaran antum dengan acara2 dangdutan, shalawat2an rame2 , dzikir bersama pulang dengan bawa berkat yaaa….soalana kurang uang kalo buat acara begituan

  89. Ayo Abu Aisah, jangan menyerah. Berbohong dan ngarang-ngarang juga boleh. Banyak contoh wahabi yang tukang bohong di sini, misalnya Ibnu Abdul Chair, MPM alias Kumat, Dodol dll, Mereka suka nipu-nipu di sini. Anda juga nanti kalau ga mampu jawab, boleh pake nama lain. Pokoknya menipu itu dibolehkan oleh Wahabi demi pemurnian tauhid. Firanda juga banyak bohongnya, Abu Jauza juga banyak bohongnya. Ayo Abu Aisah terus maju. Jangan menyerah

  90. @abu aisyah.
    Temen2 wahabi ditempat saya tetap mengakui Allah SWT berada dilangit sesuai pemahaman mereka terhadap Al quran dan hadist dan tidak berpendapat seperti nalar anda seperti ” bahwa yang dimaksud diatas langit adalah bukan tempat dan ruang, seperti yang ada dalam logika kita, tetapi sesuatu yang hanya Allah azza wa jalla saja yang mengetahui tentang hakekatnya, kita tidak diberi pemahaman tentang hal itu”
    Mereka (wahabi) sangat tertawa dan lucu melihat statement anda diatas dan mereka (wahabi) juga bertanya dari mana abu aisyah mengambil pendapat seperti itu. Menurut mereka tidak ada para ulama wahabi benalar seperti abu aisyah dan yang ada mereka tetap konsisten bhw Allah SWT ada dilangit.
    Jelas mas abu aisyah menggunakan hawa nafsu untuk mengartikan hal tersebut.
    Sudahlah mas abu aisyah, saya juga dulu wahabi dan telah bertobat untuk keluar dari paham mujasim tsb. Dan saya telah mengakui bhw Aswaja adalah jalan yang benar. Teman2 di ummatipress disini sangat jelas sekali mengikuti Alquran dan hadist dengan mengikuti pemahaman para ulama muktabar dan jauh dari hawa nafsu.
    Ajib utk mas agung

  91. Bismillah..
    @Mas Mamak..
    Afwan mas, mungkin antum belum baca tanggapan ana sebelumnya, bahwa yang dimaksud diatas langit adalah bukan tempat dan ruang, seperti yang ada dalam logika kita, tetapi sesuatu yang hanya Allah azza wa jalla saja yang mengetahui tentang hakekatnya, kita tidak diberi pemahaman tentang hal itu..
    Kita hanya diperintahkan untuk meyakini sebagaimana yang tercantum dalam al qur’an dan as sunnah, sehingga apabila ada yang bertanya dimana Allah? Maka kita akan mendapat kemudahan untuk menjawabnya, yakni “diatas langit”.. Tidak seperti jawaban kalian yang mbulet dan njlimet…
    Wallahu a’lam..

    1. Abu Aisah@
      Siapa Ulama yg mengatakan seperti yg antum katakan ini: “bahwa yang dimaksud diatas langit adalah bukan tempat dan ruang,”
      Tolong sebutkan siapa Ulama yg mengatakannya? Silahkan.

    2. Bismillah,
      Mas @abu aisyah,
      Anda mengatakan :

      Kita hanya diperintahkan untuk meyakini sebagaimana yang tercantum dalam al qur’an dan as sunnah,

      Pertanyaan kami : Apakah anda juga mengimani bahwa Alloh juga ada disekitar kita sebagaimana juga telah dijelaskan dalam dalam al qur’an dan as sunnah ? Jika tidak demikian maka berarti anda mengimani sebagian namun mengingkari sebagian yang lain..
      selanjutnya anda katakan :

      sehingga apabila ada yang bertanya dimana Allah? Maka kita akan mendapat kemudahan untuk menjawabnya, yakni “diatas langit”.. Tidak seperti jawaban kalian yang mbulet dan njlimet

      Pertanyaan kami : Bukankah Alloh sendiri telah mengajarkan jawabannya jika ada yang bertanya tentang Alloh… ? coba anda perhatikan ayat berikut !!
      وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ
      “Dan jika hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat” (Al Baqoroh, 186)
      Dengan demikian jawaban anda bahwa Alloh “diatas langit” tidak sesuai dengan yang diajarkan oleh Alloh sendiri… coba anda perhatikan… salah satu riwayat yang dikutib oleh Al Hafidz Ibn Katsir berkaitan ayat diatas :
      وقال عبد الرزاق: أخبرنا جعفر بن سليمان، عن عوف، عن الحسن، قال: سأل أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم [النبي صلى الله عليه وسلم] : أين ربنا؟ فأنزل الله عز وجل: { وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ }
      Abdur Rozzaq berkata : Telah menceritakan padaku Ja’far bin Sulaiman dari ‘Auf dari Hasan, ia berkata : Para sahabat bertanya kepada Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- “Dimana Tuhan kami ?… maka Alloh menurunkan ayat : “Dan jika hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat”
      Selanjutnya, tentang penjelasan anda sebelumnya :

      Kenapa semua kitab-kitab tafsir Al qur’an yang kita baca (termasuk tafsir Ibnu Katsir) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Dia dalam surat Al Mulk 16 – 17 adalah Allah azza wa jalla, bukan malaikat seperti tafsiran antum..

      maaf mas, kami tidak mendapati tafsir Ibnu Katsir pada QS. Al Mulk 16-17, yang menjelaskan bahwa yang dimaksud “Man” dalam ayat tersebut adalah Alloh…berikut kami kutipkan penjelasan beliau tentang ayat tersebut…
      وقال هاهنا: { أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ } أي: تذهب وتجيء وتضطرب، { أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا } أي: ريحا فيها حصباء تدمغكم، كما قال: { أَفَأَمِنْتُمْ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمْ جَانِبَ الْبَرِّ أَوْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا ثُمَّ لا تَجِدُوا لَكُمْ وَكِيلا }
      coba anda perhatikan penjelasan beliau diatas… pada bagian mana Ibnu Katsir menyatakan bahwa yang dimaksud “Man” adalah Alloh…. atau mungkin anda punya tafsir Ibn Katsir yang lain ?…

      1. Sedikit urun rembug, semoga berkenan…..
        Mas abu aisyah…. Dalam Maktabah syamilah ada yang mentafsiri “man” dengan Alloh. Namun sayang penerbitnya adalah “Muassasatur Risalah”. Dan tempat pengambilan kitab dari “Mauqi’u Majma’il Malikil Fahd” alias Saudi Arabia…. Anda bisa “menangkap” yg saya katakan? Saya contohkan tiga ibarat untuk jadi renungan. Wallohu a’lam
        تفسير الطبري – (ج 23 / ص 513)
        الكتاب : جامع البيان في تأويل القرآن
        المؤلف : محمد بن جرير بن يزيد بن كثير بن غالب الآملي، أبو جعفر الطبري،
        [ 224 – 310 هـ ]
        المحقق : أحمد محمد شاكر
        الناشر : مؤسسة الرسالة
        الطبعة : الأولى ، 1420 هـ – 2000 م
        عدد الأجزاء : 24
        مصدر الكتاب : موقع مجمع الملك فهد لطباعة المصحف الشريف
        http://www.qurancomplex.com
        [ ترقيم الكتاب موافق للمطبوع ، والصفحات مذيلة بحواشي أحمد ومحمود شاكر ]
        يقول تعالى ذكره:( أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ ) أيها الكافرون( أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ ) يقول: فإذا الأرض تذهب بكم وتجيئ وتضطرب( أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ ) وهو الله( أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا ) وهو التراب فيه الحصباء الصغار( فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ ) يقول: فستعلمون أيها الكفرة كيف عاقبة نذيري لكم، إذ كذبتم به، ورددتموه على رسولي.
        تفسير السعدي – (ج 1 / ص 877)
        الكتاب : تيسير الكريم الرحمن في تفسير كلام المنان
        المؤلف : عبد الرحمن بن ناصر بن السعدي
        المحقق : عبد الرحمن بن معلا اللويحق
        الناشر : مؤسسة الرسالة
        الطبعة : الأولى 1420هـ -2000 م
        عدد الأجزاء : 1
        مصدر الكتاب : موقع مجمع الملك فهد لطباعة المصحف الشريف
        http://www.qurancomplex.com
        [ ترقيم الكتاب موافق للمطبوع ، والصفحات مذيلة بحواشي المحقق ]
        هذا تهديد ووعيد، لمن استمر في طغيانه وتعديه، وعصيانه الموجب للنكال وحلول العقوبة، فقال: { أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ } وهو الله تعالى، العالي على خلقه. { أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ } بكم وتضطرب، حتى تتلفكم وتهلككم (1) .
        التفسير الميسر – (ج 10 / ص 206)
        الكتاب : التفسير الميسر
        المؤلف : عدد من أساتذة التفسير تحت إشراف الدكتور عبد الله بن عبد المحسن التركي
        عدد الأجزاء : 1
        مصدر الكتاب : موقع مجمع الملك فهد لطباعة المصحف الشريف
        http://www.qurancomplex.com
        [ الكتاب مرقم آليا غير موافق للمطبوع ]
        { أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ (16) أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ (17) }
        هل أمنتم- يا كفار “مكة”- الله الذي فوق السماء أن يخسف بكم الأرض، فإذا هي تضطرب بكم حتى تهلكوا؟ هل أمنتم الله الذي فوق السماء أن يرسل عليكم ريحا ترجمكم بالحجارة الصغيرة، فستعلمون- أيها الكافرون- كيف تحذيري لكم إذا عاينتم العذاب؟ ولا ينفعكم العلم حين ذلك. وفي الآية إثبات العلو لله تعالى، كما يليق بجلاله سبحانه.
        Maaf salah tempel, mestinya di sini. Mohon coment yg pertama di hapus mas admin…. Afwan dan makasih….

        1. DAN TAFSIR IBNU KATSIR Maktabah syamilah, ternyata tidak ada tafsiran “Man” dengan Alloh padahal dalam empat tempat yang berbeda. Silahkan di cek di bawah ini….
          تفسير ابن كثير – (ج 1 / ص 200)
          وقال في الترهيب: { أَفَأَمِنْتُمْ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمْ جَانِبَ الْبَرِّ } [الإسراء: 68]، { أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ * أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ } [الملك: 16، 17]
          تفسير ابن كثير – (ج 3 / ص 276)
          قول ثان: قال ابن جرير وابن أبي حاتم: حدثنا يونس بن عبد الأعلى، أخبرنا ابن وَهْب، سمعت خلاد بن سليمان يقول: سمعت عامر بن عبد الرحمن يقول: إن ابن عباس كان يقول في هذه الآية: { قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ } فأما العذاب من فوقكم، فأئمة السوء { أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ } فخدم السوء.
          وقال علي بن أبي طلحة، عن ابن عباس: { عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ } يعني: أمراءكم. { أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ } يعني: عبيدكم وسفلتكم.
          وحكى ابن أبي حاتم، عن أبي سنان وعمير بن هانئ، نحو ذلك.
          وقال ابن جرير: وهذا القول وإن كان له وجه صحيح، لكن الأول أظهر وأقوى.
          وهو كما قال (6) ابن جرير، رحمه الله، ويشهد له بالصحة قوله تعالى: { أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ * أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ * [وَلَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ] (7) } [الملك: 16 -18]، وفي الحديث: “ليكونن في هذه الأمة قَذْفٌ وخَسْفٌ ومَسْخٌ” (8) وذلك مذكور مع نظائره في أمارات الساعة وأشراطها وظهور الآيات
          تفسير ابن كثير – (ج 4 / ص 575)
          { أَنْ يَخْسِفَ اللَّهُ بِهِمُ الأرْضَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لا يَشْعُرُونَ } أي: من حيث لا يعلمون مجيئه إليهم، كما قال تعالى: { أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ } [الملك: 16 ، 17]، وقوله { أَوْ يَأْخُذَهُمْ فِي تَقَلُّبِهِمْ } أي: في تقلبهم في المعايش واشتغالهم بها، من أسفار (2) ونحوها من الأشغال الملهية.
          تفسير ابن كثير – (ج 5 / ص 96)
          وقال: { أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ * أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ } [ الملك: 16 ، 17 ].
          تفسير ابن كثير – (ج 8 / ص 180)
          { أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ (16) أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ (17) وَلَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ (18) أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلا الرَّحْمَنُ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ بَصِيرٌ (19) }
          Ternyata itupun sesuai dengan tafsir ibnu katsir cetakan Darul kutub ilmiyyah yang kami punya. Wallohu a’lam…..

  92. bismillah….
    @abu aisyah
    adapun Ahlu sunnah yang meyakini bahwa
    Allah berada diatas langit tapi ilmuNya
    melampaui segala sesuatu sangat sesuai
    dengan hadits ini, karena Allah azza wa jalla
    yang berada diatas langit, dengan pun Ahlu sunnah yang meyakini bahwa
    Allah berada diatas langit tapi ilmuNya
    melampaui segala sesuatu sangat sesuai
    dengan hadits ini, karena Allah azza wa jalla
    yang berada diatas langit, dengan kekuasanNya
    dan ilmuNya yang tidak terbatas, maha
    melihat semua makhukNya bahkan ada
    didepan orang yang sedang shalat sesuai
    kehendakNya..
    Subhanallah…
    dan ilmuNya yang tidak terbatas, maha
    melihat semua makhukNya bahkan ada
    didepan orang yang sedang shalat sesuai
    kehendakNya..
    Subhanallah…
    saya: begitu kontradiktif pemahan antum.., dalam hadist di atas mana yang menunjukan arti “ilmuNya mekampui segala sesuatu” ingat kami berusaha memahami teks hadist sesuai manhaj antum TANPA TA’WIL.
    abu aisyah
    coba kalian pikir, jika Allah azza wa jalla
    berfirman bahwa Dia turun, apakah Dia turun,
    sebagaimana turunnya makhluk? Kalau Dia
    berfirman Dia disisi hamba yang sakit, apakah
    Dia disisi hamba sebagaimana hamba disisi
    hamba yang lain? Kalau Dia berfirman bahwa
    Dia akan menjadi mata, tangan dan kaki
    seorang hamba, apakah menurut kalian Dia
    menjadi mata, tangan dan kaki sebagaimana
    seorang hamba menjadi mata, tangan dan kaki
    hamba lainnya? @
    saya: lantas menurut pemahaman antum bagaimana?????? ingat TANPA TA’WIL
    Ketahuilah bahwa Abul Hasan al asy’ari yang
    dianggap sebagai imamnya asy’ ariah, dulunya
    beliau adalah seorang mu’tazilah sebelum
    Allah memberinya hidayah sehingga kemudian
    ruju’ menjadi ahlu sunnah…
    saya: tolong cantumkan teks arabnya kalau Abul Hasan Al Asy’ari ruju’ ke ahlusunah versi golongan antum kalau bisa scan kitabnya..
    KENAPA KALIAN ANTI SEKALI TERHADAP ULAMA MU’TABAR??? ATU ANTUM PUNYA ULAMA’ MU’TABAR SENDIRI???? LANTAS SIAPA SAJA MEREKA???? ? SANAD KE ILMUANNYA JELAS APA TIDAK????
    kalau anda konsisten dengan manhaj anda dalam memahami dalil pastilah diskusi ini akan lebih ilmiah dan menarik… tapi berulang kali anda merusak manhaj yang anda buat.
    pesan saya pelajarilah islam dengan ikhlas.. karungilah hasanah keilmuan islam dari berbagai arah… insyaAlloh kita akan menemukan indahnya islam amin…..

  93. Bismillah…
    Maaf mas Abu Aisah@, bukan bermaksud mencampuri diskusi anda dengan mas Agung … anggap saja kami sebagai moderator….
    Bisa anda jelaskan maksud dari tulisan anda

    bebaskan Dzat Alloh dari ikatan-ikatan makhluk

    Bukankah ketika anda meyakini Alloh berada diatas langit berarti anda telah mengikat Dzat Alloh dengan dimensi ruang yang terbatas ?
    Kami berharap anda memahami apa yang anda tulis….

    1. kang mamak, biasanya mereka termasuk mas Abu aisah bisa ngomong tetapi tidak mengerti omongannya sendiri.
      meyakini secara fisik / jasnmani Allah di langit, itu berarti otomatis mereka mengikat dzat Allah dg dimensi, yg otomatis pula berarti menjisimkan, karena itulah mereka disbut mujassim. Tapi biasanya mereka mengelak disebut mujassim, maklum namanya juga orang yg nggak mengerti apa yg diucapkannya sendiri. Wallohu a’lam.
      Abu Aisah@
      Asawaja semenjak dahulu kala sampai sekarang dan sampai kiyamat tidak berkeyakinan Allah ada di mana-mana secara fisik/jasmani, sebab Aswaja mentakwilnya bahwa yang berada di mana-mana bukan fisiknya tetapi rahmat-NYA, kasih sayang-NYA, pengawasan-NYA, dll. jadi bukan jasmani atau fisik-NYA. Ente jangan fitnah, Bro.

      1. bener juga ya mas, kalau abu asiah menyuruh kita membebaskan Dzat Allah dari ikatan-ikatan makhluk, sementara dia sendiri meyakini bahwa Allah ada dilangit… berarti dia sendiri malah mengikat Allah dengan makhluknya. berarti bener juga ya mas, abu aisyah gak ngerti yang dia omongin

  94. Bismillah,
    @Mas Agung dan konco-konconya…
    He, he, he .. segitu senengnya kalian, sampai-sampai dialog ini mau dijadikan buku segala… Santai aja kawan, jangan seneng dulu, kita lanjutkan lagi diskusi ya…
    Mengenai hadits dahak di Ka’bah…
    Jika dicermati, hadits ini ternyata lebih mendukung keyakinan bahwa “Allah ada diatas langit, tetapi ilmuNya melampaui segala sesuatu”..
    Coba perhatikan :
    1. Untuk pendukung “Allah ada dimana-mana”..
    Dikatakan bahwa Allah ada dimana-mana, sedangkan Rasulullah memerintahkan kita untuk meludah ke arah kiri atau dibawah telapak kaki,, Bagaimana mungkin kita meludah ke arah kiri dan dibawah telapak kaki, sedangkan Allah ada dimana-mana?
    2. Untuk pendukung “Allah ada tanpa tempat dan arah, yakni tidak diatas, tidak dibawah, tidak dikanan tidak dikiri, tidak dilangit dan tidak dibumi”, maka tidak sesuai juga dengan hadits ini, karena rasulullah bersabda bahwa Allah azza wa jalla ada di bumi ini, yakni didepan orang yang sedang shalat..
    3. Adapun Ahlu sunnah yang meyakini bahwa Allah berada diatas langit tapi ilmuNya melampaui segala sesuatu sangat sesuai dengan hadits ini, karena Allah azza wa jalla yang berada diatas langit, dengan kekuasanNya dan ilmuNya yang tidak terbatas, maha melihat semua makhukNya bahkan ada didepan orang yang sedang shalat sesuai kehendakNya..
    Subhanallah…
    Sekali lagi ana nasehatkan kepada antum semua, janganlah kita samakan Allah dengan makhluk.. Kalau antum berpikir dengan logika manusia dan menyamakan Allah dengan makhluk, maka beginilan akibatnya.. Ayat al qur’an maupun hadits yang tidak sesuai logika, serta merta akan kalian tolak atau kalian takwil…
    Ana sependapat dengan mas Ibnu Manan, bahwa pertama-tama kita harus bebaskan dulu Dzat Allah dari ikatan-ikatan yang berlaku atas makhlukNya.. Makhluk dibatasi oleh dimensi-dimensi, sedangkan Allah azza wa jalla bebas dari semua itu…
    Tidak bisakah kita menerima ayat al qur’an dan hadits rasulullah secara hakiki, kemudian menyerahkan maksud dan arti serta takwilnya kepada Allah azza wa jalla?
    Coba kalian pikir, jika Allah azza wa jalla berfirman bahwa Dia turun, apakah Dia turun, sebagaimana turunnya makhluk? Kalau Dia berfirman Dia disisi hamba yang sakit, apakah Dia disisi hamba sebagaimana hamba disisi hamba yang lain? Kalau Dia berfirman bahwa Dia akan menjadi mata, tangan dan kaki seorang hamba, apakah menurut kalian Dia menjadi mata, tangan dan kaki sebagaimana seorang hamba menjadi mata, tangan dan kaki hamba lainnya?
    Tawadhlu’ lah sedikit, akal dan logika kita belum sampai kesana…
    Atau jangan-jangan kalian ini adalah kelompok mu’tazilah yang mendewa-dewakan akal??
    Ketahuilah bahwa Abul Hasan al asy’ari yang dianggap sebagai imamnya asy’ ariah, dulunya beliau adalah seorang mu’tazilah sebelum Allah memberinya hidayah sehingga kemudian ruju’ menjadi ahlu sunnah…
    Pantas saja perkataan Abul Hasan al asy’ari yang antum bawakan mengenai keberadaan Allah azza wa jalla, kontradiksi dengan perkataan beliau setelah beliau rujuk menjadi ahlu sunnah..
    O’ya, ngomong-ngomong mas agung belum menjawab pertanyaan ana :
    Kenapa semua kitab-kitab tafsir Al qur’an yang kita baca (termasuk tafsir Ibnu Katsir) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Dia dalam surat Al Mulk 16 – 17 adalah Allah azza wa jalla, bukan malaikat seperti tafsiran antum??..
    Kalau antum dan kelompok antum tidak percaya, silahkan buka seluruh tafsir al qur’an (yang versi ahlu sunnah, bukan ahlul bid’ah)..
    Kalau ada yang punya tafsir Ibnu Katsir, silahkan dibuka juga, dan lihat, bahwa huruf “D” pada kata “Dia” bukankah ditulis dengan huruf besar? Siapa yang dimaksud “Dia” disini?.. Apakah malaikat??? Apakah semua kitab tafsir al qur’an ahlu sunnah yang beradar sekarang ini keliru semua?? Apakah Ibnu Katsir itu ulama yang sesat???
    Kalau antum masih juga berkilah, saran ana sebaiknya antum buat sendiri saja tafsir Al qur’an versi antum, mungkin dengan judul : “Tafsir Al qur’an versi As Syaikh al Allamah K.H. Agung Gusti” atau “Tafsir Al qur’an versi Ummatipress” .. Silahkan.. Pasti antum akan memiliki banyak kaum, terutama yang mendukung pendapat antum dalam blog ini..
    Satu lagi pertanyaan ana, kalau menurut keyakinan kalian, Allah ada tanpa arah, mengapa saat isra’ mi’raj, rasulullah shalallahu alaihi wassalam diriwayatkan naik keatas langit untuk menemui Allah azza wa jalla?
    Kalau kalian beranggapan bahwa itu hanya perumpaan saja, dan harus ditakwil, mengapa rasulullah tidak memberikan penjelasan bahwa itu hanya perumpamaan saja dan kemudian menjelasksan takwilnya?? Bahkan tidak ada seorang sahabatpun serta para ulama-ulama ahlu sunnah yang mentakwil peristiwa isra’ mi’raj tersebut..

    1. @abu aisyah
      mohon maaf nimbrung
      1. yang bilang Allah ada dimana-mana siapa kang….?
      bisa buktiin apa hanya kesimpulan ente saja…!
      2. yang nyamain Allah sama mahluknya itu siapa kang, setau saya justru wahabi yang nyamain Allah dengan mahluknya, kaya bertempat, memiliki tangan wajah dsb.
      3. ente ga konsisten nolak takwil, kadang2 ente make juga sesuai nafsu ente

    2. Sedikit urun rembug, semoga berkenan…..
      Mas abu aisyah…. Dalam Maktabah syamilah ada yang mentafsiri “man” dengan Alloh. Namun sayang penerbitnya adalah “Muassasatur Risalah”. Dan tempat pengambilan kitab dari “Mauqi’u Majma’il Malikil Fahd” alias Saudi Arabia…. Anda bisa “menangkap” yg saya katakan? Saya contohkan tiga ibarat untuk jadi renungan. Wallohu a’lam
      تفسير الطبري – (ج 23 / ص 513)
      الكتاب : جامع البيان في تأويل القرآن
      المؤلف : محمد بن جرير بن يزيد بن كثير بن غالب الآملي، أبو جعفر الطبري،
      [ 224 – 310 هـ ]
      المحقق : أحمد محمد شاكر
      الناشر : مؤسسة الرسالة
      الطبعة : الأولى ، 1420 هـ – 2000 م
      عدد الأجزاء : 24
      مصدر الكتاب : موقع مجمع الملك فهد لطباعة المصحف الشريف
      http://www.qurancomplex.com
      [ ترقيم الكتاب موافق للمطبوع ، والصفحات مذيلة بحواشي أحمد ومحمود شاكر ]
      يقول تعالى ذكره:( أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ ) أيها الكافرون( أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ ) يقول: فإذا الأرض تذهب بكم وتجيئ وتضطرب( أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ ) وهو الله( أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا ) وهو التراب فيه الحصباء الصغار( فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ ) يقول: فستعلمون أيها الكفرة كيف عاقبة نذيري لكم، إذ كذبتم به، ورددتموه على رسولي.
      تفسير السعدي – (ج 1 / ص 877)
      الكتاب : تيسير الكريم الرحمن في تفسير كلام المنان
      المؤلف : عبد الرحمن بن ناصر بن السعدي
      المحقق : عبد الرحمن بن معلا اللويحق
      الناشر : مؤسسة الرسالة
      الطبعة : الأولى 1420هـ -2000 م
      عدد الأجزاء : 1
      مصدر الكتاب : موقع مجمع الملك فهد لطباعة المصحف الشريف
      http://www.qurancomplex.com
      [ ترقيم الكتاب موافق للمطبوع ، والصفحات مذيلة بحواشي المحقق ]
      هذا تهديد ووعيد، لمن استمر في طغيانه وتعديه، وعصيانه الموجب للنكال وحلول العقوبة، فقال: { أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ } وهو الله تعالى، العالي على خلقه. { أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ } بكم وتضطرب، حتى تتلفكم وتهلككم (1) .
      التفسير الميسر – (ج 10 / ص 206)
      الكتاب : التفسير الميسر
      المؤلف : عدد من أساتذة التفسير تحت إشراف الدكتور عبد الله بن عبد المحسن التركي
      عدد الأجزاء : 1
      مصدر الكتاب : موقع مجمع الملك فهد لطباعة المصحف الشريف
      http://www.qurancomplex.com
      [ الكتاب مرقم آليا غير موافق للمطبوع ]
      { أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ (16) أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ (17) }
      هل أمنتم- يا كفار “مكة”- الله الذي فوق السماء أن يخسف بكم الأرض، فإذا هي تضطرب بكم حتى تهلكوا؟ هل أمنتم الله الذي فوق السماء أن يرسل عليكم ريحا ترجمكم بالحجارة الصغيرة، فستعلمون- أيها الكافرون- كيف تحذيري لكم إذا عاينتم العذاب؟ ولا ينفعكم العلم حين ذلك. وفي الآية إثبات العلو لله تعالى، كما يليق بجلاله سبحانه.

  95. setuju sekali kalau mas admin bersedia sebagai media dalam pembukuan hasil diskusi aswaja vs wahabi agar kami yang awam tambah mantab dengan aswaja.. salut ummati..

  96. Salut buat mbak ummu hasanah dan abu aisyah, pernah sy jumpai oknum salafy nek dakwah copas. Nek di kei buku ra gelem diwoco.. trus dakwahnya bukan bertujuan untuk mengambil hikmah tapi bermotif..

  97. setuju mas @lasykar.. andai diskusi antara mas Agung dengan abu dzar dkk di posting atau di bukukan, bahkan lebih menarik kalo di mediasi salah satu stasiun Televisi. Tentu masyarakat awam seperti saya ini bisa mengambil banyak manfaat.

  98. Sepertinya Wahabi2 nya sudah lempar handuk alias menyerah. Kita maklumi saja sebab seperti mas abu dzar juga sdh diKO oleh Mbak Aryati, sedangkan ummu hasanah dan abu aisah sudah diKO oleh mas Agung.
    Semoga dapat hidayah-NYA, jika Allah mendhendaki niscaya hidayah akan turun di hati mereka, amin….

  99. Bismillahirrohmanirrohim…
    Siapakah Allah?
    “ Sesungguhnya AKU ini adalah ALLAH, TIDAK ADA TUHAN (yang hak) selain AKU, maka SEMBAHLAH AKU dan DIRIKANLAH SHALAT UNTUK MENGINGAT AKU ” At -Thaahaa : 14
    AKU adalah “pribadi” Allah, yaitu DZAT dan SIFAT-Nya Laisa kamishlihi syaiun, Dzat yang tidak dapat diserupai oleh sesuatu apapun, tidak ada umpamanya.
    Billa haefin, artinya tak berwarna dan tak berupa, tidak merah tidak hitam, tidak gelap tidak pula terang.
    Billa makanin, artinya tidak berarah tidak bertempat, tidak di barat tidak di timur, tidak di utara maupun di selatan, tidak di atas maupun di bawah.
    Dzat/Nurullah yang berdiri sendiri tanpa adanya ketergantungan kepada mahluk lain ciptaan-Nya, berbeda dengan manusia yang membutuhkan Allah, untuk bisa selamat di kehidupan Dunia dan Akhirat, adanya Alam Dunia, Arasy, Malaikat, Azazil/Idajil, Syaitan, Jinn dan Manusia, semua ciptaan-Nya ada, karena adanya akibat dari adanya Dzat Yang Maha Suci.
    DZAT ADALAH MANIS, GULA ADALAH SIFAT-Nya.
    DZAT dan SIFAT ADALAH PASTI.
    TIDAK AKAN ADA SIFAT, JIKA TIDAK ADA DZAT, begitupun sebaliknya.
    100 – 1 = 99 Nama Allah, yang 1-nya adalah,
    DZAT WAJIBUL WUJUD, DZAT YANG WAJIB ADANYA.

  100. Ayo Abu Aisah… maju terus pantang mundur sampai titik…. titik…. penghabisan.
    Kalau di Google sudah nggak ada lagi yg bisa diCopas, buka aja kitab2 wahabi yg ada di lemarimu (kalau punya), siapa tahu ketemu hujjah yg dapat mengauatkan hujjah untum membela aqidah mujassimah musabbihah yg antum ikuti.
    Mas Agung, thank’s atas hujjah2nya yg mantabs.
    Mbajk Aryati, sepertinya ibnu manan sudah nggak mampu lagi, makin ciut nyalinya plus grogi kayaknya.

  101. sangat bagus, andai diskusi ini di posting atau di bukukan… insya alloh akan banyak yang mengambil manfaat…. terima kasih mas abu aisyah dan mas agung…. Nastafidzu ulumakuma…. dan terima kasih tementemen semua
    Wallohu a’lam

  102. @abu aisyah : “Pernah ana tulis bahwa Imam Al Ausiy berkata bahwa dalil Allah berada diatas langit itu ada sekitar 1,000 dalil..”
    JAWAB
    yang benar itu, Imam Al Ausiy atau Imam Al Alusi?
    saya ingin bertanya, keyakinan tersebut terdapat dalam kitab apa? karena saat ini ada kebiasaan mereduksi karya kitab kitab ulama terdahulu. Al-Muhaddits Asy-Syaikh Muhammad Zahid al-Kautsari mengatakan bahwa kitab al-Ibânah yang sekarang beredar sama sekali tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, karena kitab ini sudah lama sekali berada di bawah kekuasaan kaum Musyabbihah, hingga mereka telah melakukan reduksi terhadapnya dalam berbagai permasalahn pokok akidah. (Muqaddimât al-Imâm al-Kautsari, h. 247)
    saya pernah membaca bahwa Terhadap al-Alusi mereka melakukan hal yang sama dengan kitab tafsirnya; Tafsîr al-Alûsi. Terlebih lagi kitab Tafsîr al-Alûsi terbitan Munir Agha yang mengklaim dirinya sebagai as-Salafi asy-Syahir (mengaku sebagai pengikut Salaf). Kitab tafsir dengan terbitan yang kita sebutkan yang cukup banyak dipasaran, di dalamnya terdapat ta’lîq (tulisan tambahan dalam footnote) yang berisikan faham-faham tasybîh dan tajsîm yang sangat buruk.

  103. Al Imam As-Sajjad Zayn al -Abidin Ali ibn al Husain ibn Aliibn Abi Thalib (38 H-94 H) berkata : Engkaulah Allah yang tidak diliputi tempat, dan dia berkata: Engkaulah Allah yang Maha suci dari hadd (benda, bentuk, dan ukuran)‖, beliau juga berkata : Maha suci Engkau yang tidak bisa diraba maupun disentuh (Diriwayatkan olehal Hafizh az-Zabidi dalam al Ithaf dengan rangkaian sanad muttashil mutasalsil yang kesemua perawinya adalah Ahl al Bayt; keturunan Rasulullah).
    Menurut ulama tauhid yang dimaksud al mahdud (sesuatu yang berukuran) adalah segala sesuatu yang memiliki bentuk baik kecil maupun besar. Sedangkan pengertian al hadd (batasan) menurut mereka adalah bentuk baik kecil maupun besar. Adz-Dzarrah (sesuatu yang terlihat dalam cahaya matahari yang masuk melalui jendela) mempunyai ukuran demikian juga Arsy, cahaya, kegelapan dan angin masing-masing mempunyai ukuran.
    Al Imam Sayyidina Ali -semoga Allah meridlainya- berkata yang maknanya: Barang siapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)‖ (diriwayatkan oleh Abu Nu‘aym (W. 430 H) dalam Hilyah al Auliya‘).

  104. هذا لا يقوله مسلم مؤمن
    ” Ini sepatutnya tidak dituturkan oleh seorang Muslim yang beriman “. Lihatlah kitab ( Fatawa Al-Albaany ) m/s 523.
    Ini tanggapan siAL Bani tentang takwil imam bukhori ” Segala sesuatu akan hancur, kecuali wajahNya”. Imam Bukhori mentakwil wajahNya berarti kekuasaannya.
    Silahkan Abu Aisah, keluarkan fatwanya….

  105. Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam bersabda: “Allah ada pada azal (Ada tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al-Bukhari, al-Bayhaqi dan Ibn al-Jarud). Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah.
    Al-Imam al-Bayhaqi (w 458 H) dalam kitabnya al-Asma Wa ash-Shifat, hlm. 506, berkata: “Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah shalllallahu ‘alayhi wa sallam: “Engkau Ya Allah azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu apapun di atas-Mu, dan Engkau al-Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu apapun di bawah-Mu (HR. Muslim dan lainnya). Jika tidak ada sesuatu apapun di atas-Nya dan tidak ada sesuatu apapun di bawah-Nya maka berarti Dia ada tanpa tempat”.
    KEDUA HADIST TERSEBUT JELAS MENGATAKAN, BAHWA ALLAH SWT. TELAH ADA SEBELUM SEGALA SESUATU ITU ADA DAN ALLAH SWT. TIDAK BERTEMPAT.
    MUNGKIN ABU AISYAH PUNYA PENDAPAT LAIN TENTANG HADIST TERSEBUT. TOLONG DONG MAS, YG MERASA PALING BENAR, JAWAB PERTANYAAN SAYA DIATAS, OK?

  106. KELIMA
    @abu aisyah : “Kalau dicermati, ternyata tuduhan “Mujassimah” itu sebenarnya kalian sendirilah yang pantas menerimanya (senjata makan tuan). Mengapa demikian? Karena orang yang berfaham bahwa Allah berada di setiap tempat, dia telah membatasi Allah pada tempat yang terbatas”.
    @abu aisyah : “Juga tuduhan musyabih, ternyata kalian juga yang pantas menyandangnya karena sebelum menolak sifat Allah di atas langit kalian mentasybiih dahulu Allah dengan makhluk”.
    JAWAB
    Mana pernyataan kami yg mengatakan bahwa Allah swt. Berada di setiap tempat? Kalianlah (abu aisyah cs) yg mengatakan bahwa Allah swt. Itu di setiap tempat. “Dimanapun kalian menghadap, di sanalah wajah Allah”(Al-Baqoroh: 115). Ayat tersebut, menurut saudara kan harus dipahami secara ZAHIR DAN HAKIKATNYA. Jadi, kalau mau menuduh, salah tempat.
    Tasbih itu meyerupakan Allah swt. Dengan makhluknya. Bukankah kalian yg mengatakan bahwa Allah swt. Memiliki tangan, wajah, sakit, turun naik dsb, dengan jargon : “………DIPAHAMI SESUAI ZAHIR DAN HAKIKATNYA…….”. Kasihan Imam Al_Bukhori karena melakukan takwil, “Bab tentang ayat : Segala sesuatu akan hancur kecuali Wajah-Nya, artinya Kekuasaan-Nya.” Nah, kata wajah-Nya, oleh al-Imam al-Bukhari diartikan dengan mulkahu, artinya kekuasaan-Nya. Artinya, menurut abu aisyah ini, Imam Bukhori bukan ahlussunah dan seorang musyabbih. Sungguh kejamnya engkau wahai abu aisyah mujassim musyabbih.
    imam al Haramain Abul Ma’ali Abdul Malik259 dalam kitabnya al Irsyad, dia mengatakan: “Madzhab Ahlussunnah seluruhnya bahwa Allah subahanahu wa ta’ala maha suci dari tempat dan dari berada pada arah”.
    Al Imam al Kabir Abdul Qahir ibn Thahir at Tamimi al Baghdadi mengatakan: “Dan mereka (Ahlussunnah) telah berijma’ bahwasanya Allah tidak diliputi oleh tempat dan tidak berlaku bagiNya zaman”.

  107. KEEMPAT
    @abu aisyah : “Berulangkali antum menggelari ana, abu dzar dan ummu hasanah dengan gelar : “mujassim musyabbih”..
    Maka benarlah apa yang dikatakan oleh : Al Imam Abu Hatim Ar-Razi (semoga Allah merahmatinya) yang telah mengatakan:
    وَعَلاَمَةُ أَهْلِ الْبِدَعِ : الْوَقِيْعَةُ فِيْ أَهْلِ الأَثَرِ وَعَلاَمَةُ الْجَهْمِيَّةِ أَنْ يَسُمُّوْا أَهْلَ السُّنَّةِ مُشَبِّهَةً
    Tanda ahli bid’ah adalah mencela ahli atsar. Dan tanda Jahmiyyah adalah menggelari ahli sunnah dengan Musyabbihah.
    Juga Ishaq bin Rahawaih mengatakan:
    عَلاَمَةُ جَهْمٍ وَأَصْحَابِهِ دَعْوَاهُمْ عَلَى أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ مَا أُوْلِعُوْا مِنَ الْكَذِبِ أَنَّهُمْ مُشَبِّهَةٌ بَلْ هُمُ الْمُعَطِّلَةُ
    Tanda Jahm dan pengikutnya adalah menuduh ahli sunnah dengan penuh kebohongan dengan gelar Musyabbihah padahal merekalah sebenarnya Mu’atthilah (meniadakan/mengingkari sifat bagi Allah).
    Jadi berdasarkan perkataan ulama diatas, maka tidak syak lagi bahwa antum dan yang sepaham dengan antum itu adalah kelompok Jahmiyyah yakni pengikut Jahm bin Sofwan yang sesat… Na’udzu billahi min dzalik…”.
    JAWAB
    JIKA ANDA MERASA BENAR, TOLONG JAWAB PERTANYAAN SAYA INI. SEBELUMNYA, AKAN SAYA KUTIP KEMBALI KALIMAT ANDA : “AYAT ATAU HADIST YG BERKAITAN DENGAN SIFAT ALLAH SWT. HARUS DIPAHAMI SECARA ZAHIR DAN HAKIKATNYA”.
    apa makna ayat berikut, “kemanapun kalian menghadap, disanalah Wajah Allah”. (Al-Baqoroh :115). Ayat ini, secara zahirnya, memberikan pemahaman bahwa Allah swt. itu tidak dilangit, dan tidak juga di ‘arasy. jadi TOLONG DIJELASKAN?
    apa makna hadist berikut ini :”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits No.2569).
    dari hadist tersebut, SAYA INGIN BERTANYA, APA YANG DIMAKSUD dengan firman Allah swt. dalam hadist qudsi tersebut, yaitu kalimat : “AKU SAKIT” dan kalimat “BILA KAU MENJENGUKNYA MAKA AKAN KAU TEMUI AKU DISISINYA”.
    ika anda tetap berkeyakinan bahwa ayat atau hadist mutasyabihat harus dipahami berdasarkan zhahir dan hakikatnya, saya ingin bertanya kembali, apa makna hadist berikut ini : “Allah berfirman : ”Barangsiapa memusuhi wali-Ku sungguh Ku-umumkan perang kepadanya, tiadalah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan hal – hal yang fardhu, dan Hamba-Ku terus mendekat kepada-Ku dengan hal–hal yang sunnah baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya maka Aku menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, dan menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya yang ia gunakan untuk melangkah, bila ia meminta pada-Ku niscaya Ku-beri permintaannya….” (Shahih Bukhari hadits No.6137)”.
    YANG INGIN SAYA TANYAKAN ADALAH APA MAKNA KALIMAT: “………Bila Aku mencintainya maka Aku menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, dan menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya yang ia gunakan untuk melangkah……….”
    فَنَفَخْنَا فِيْها مِنْ رُوْحِنَا (الأنبياء: 91), makna literalnya mengatakan: ”Maka Kami (Allah) tiupkan padanya (Maryam) dari ruh Kami”. Secara zahir, ayat ini memberi prasangkaan bahwa Allah memiliki ruh. TOLONG DIJELASKAN?
    يُؤْذُوْنَ اللهَ (الأحزاب: 57), makna literalnya yang seakan bahwa Allah disakiti atau diperangi. TOLONG DIJELASKAN?
    وَيُحَذّرُكُمُ اللهُ نَفْسَه (ءال عمران: 28) ، تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلا أعْلَمُ مَا افِي نَفْسِكَ (المائدة116, makna zahirnya yang seakan mengatakan bahwa Allah memiliki jiwa, raga, tubuh, atau fisik].. TOLONG DIJELASKAN?
    apakah semua ayat al-quran tidak boleh di takwil dan harus dipahami secara hakikat dan zahirnya? jika tidak, tunjukkan dalilnya? jika iya, apa makna ayat berikut ini, “Dan barangsiapa yang buta di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS. al-Isra’ : 72). seingat saya, syaikh bin baz itu kan buta, apa kemudian syaikh tersebut akan masuk neraka berdasarkan zhahirnya ayat tersebut.
    ABU AISYAH, INGAT PERKATAAN ANDA, “AYAT ATAU HADIST YG BERKAITAN DENGAN SIFAT ALLAH SWT. HARUS DIPAHAMI SECARA ZAHIR DAN HAKIKATNYA”. KALAU ANDA MERASA BENAR, DAN YAKIN BAHWA PERKATAAN TERSEBUT BUKAN DITUJUKAN UNTUK ANDA, TOLONG JAWAB PERTANYAAN SAYA TERSEBUT.

  108. KETIGA
    @abu aisyah : “Antum membawakan perkataan Imam Ali radiyallahu anhum untuk membela keyakinan antum.. Tahukah antum darimana atsar ini? Sesungguhnya atsar ini dibawakan oleh orang-orang Syi’ah Rofidoh dalam buku-buku mereka tanpa ada sanad sama sekali. Diantaranya dalam kitab mereka Al-Kaafi (karya Al-Kulaini).
    JAWAB
    Diriwayatkan dari sayyidina Ali bahwa beliau mengatakan: “Sesungguhnya Tuhanku azza wa jalla adalah al Awwal (adanya tanpa permulaan) tidak bermula dari sesuatupun (ada tanpa permulaan), tidak bersama-Nya sesuatupun (tidak bertempat pada sesuatu), tidak dapat dibayangkan (tidak seperti yang dibayangkan oleh wahm), bukan jisim, tidak diliputi oleh tempat dan adanya tidak bermula dari ketidak adaan. “ Kemudian beliau mengatakan: Maknanya: “Barang siapa yang menyangka bahwa Tuhan kita mahdud (memiliki bentuk dan ukuran) maka dia tidak mengetahui pencipta yang disembah” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim, Lihat Abu Nu’aim, Hilyah al Auliya, juz. 1, hal. 73)
    Al-Imam ‘Ali ibn Abi Thalib (w 40 H) berkata:
    كَانَ اللهُ وَلاَ مَكَان وَهُوَ الآنَ عَلَى مَا عَليْه كَانَ
    “Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, dan Dia Allah sekarang -setelah menciptakan tempat- tetap sebagaimana pada sifat-Nya yang azali; ada tanpa tempat” (Diriwayatkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam al-Farq Bain al-Firaq, h. 333).
    Beliau juga berkata:
    إنّ اللهَ خَلَقَ العَرْشَ إْظهَارًا لِقُدْرَتهِ وَلَمْ يَتّخِذْهُ مَكَانًا لِذَاتِهِ
    “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘arsy (makhluk Allah yang paling besar bentuknya) untuk menampakan kekuasaan-Nya, bukan untuk menjadikan tempat bagi Dzat-Nya” (Diriwayatkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam al-Farq Bain al-Firaq, h. 333).
    Seorang tabi’in yang agung, Al-Imam Zainal-‘Abidin ‘Ali ibn al-Husain ibn ‘Ali ibn Abi Thalib (w 94 H) berkata:
    أنْتَ اللهُ الّذِي لاَ يَحْويْكَ مَكَانٌ
    “Engkau wahai Allah yang tidak diliputi oleh tempat” (Diriwayatkan oleh al-Imam Murtadla az-Zabidi dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddin, j. 4, h. 380).
    Juga berkata:
    أنْتَ اللهُ الّذِي لاَ تُحَدُّ فَتَكُوْنَ مَحْدُوْدًا
    “Engkau wahai Allah yang maha suci dari segala bentuk dan ukuran” (Diriwayatkan oleh al-Imam Murtadla az-Zabidi dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddin, j. 4, h. 380).
    Al-Imam Ja’far as-Shadiq ibn Muhammad al-Baqir ibn ibn Zainal ‘Abidin ‘Ali ibn al-Husain (w 148 H) berkata:
    مَنْ زَعَمَ أنّ اللهَ فِي شَىءٍ أوْ مِنْ شَىءٍ أوْ عَلَى شَىءٍ فَقَدْ أشْرَكَ، إذْ لَوْ كَانَ عَلَى شَىءٍ لَكَانَ مَحْمُوْلاً وَلَوْ كَانَ فِي شَىءٍ لَكَانَ مَحْصُوْرًا وَلَوْ كَانَ مِنْ شَىءٍ لَكَانَ مُحْدَثًا (أىْ مَخْلُوْقًا)
    “Barang siapa berkeyakinan bahwa Allah berada di dalam sesuatu, atau dari sesuatu, atau di atas sesuatu maka ia adalah seorang yang musyrik. Karena jika Allah berada di atas sesuatu maka berarti Dia diangkat, dan bila berada di dalam sesuatu berarti Dia terbatas, dan bila Dia dari sesuatu maka berarti Dia baharu -makhluk-” (Diriwayatkan oleh al-Imam al-Qusyairi dalam ar-Risalah al-Qusyairiyyah, h. 6).
    Mereka semua adalah ahlul bait, di mana hal tersebut diriwayatkan oleh al-Imam al-Qusyairi, al-Imam Murtadla az-Zabidi dan al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi. Apakah ketiga Imam tersebut syiah, apakah ketiga Imam tersebut rafidoh?

  109. KEDUA
    @Abu Aisyah : “Antum menafsirkan hadits budak yang mengatakan dengan sangat jelas : “Allah di langit“ adalah maksudnya dia menganggungkan Allah azza wa jalla, dan pertanyaan Rasululullah “dimana Allah” adalah bermakna : bagaimana engkau menganggungkan Allah? Sungguh, ini adalah tafsiran terlucu yang pernah ana baca.. Jelas sekali, antum menafsirkannya dengan hawa nafsu.. Coba antum sebutkan ulama siapa yang menafsirkan seperti itu?? Tafsiran seperti ini baru pernah ana dengar.. Begitulah ahlul bid’ah, kalau dulu ana pernah dengar bahwa mereka berusaha menolak hadits ini dengan melemahkannya, atau mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits ahad sehingga tidak bisa dijadikan hujjah.. Maka setelah ketahuan kedustaan mereka, sekarang muncul lagi cara dan model baru yakni dengan menafsirkan hadits yang mulia ini dengan tafsiran sebagaimana yang antum sebutkan itu… Sungguh licik dan lucu…
    JAWAB
    Imam Muslim dalam hadits-hadits yang redaksinya diriwayatkan menyendiri olehnya (al-Afrâd) dari sahabat Mu’awiyah bin al-Hakam, bahwa ia (Mu’awiyah bin al-Hakam) berkata:
    (قيل) كَانَتْ لِي جَارِية تَرْعَى غنَمًا، فانْطلقَتْ ذَات يَوْم فإذَا الذّئْب قدْ ذَهَب بشَاةٍ فصَكَكْتُهَا صكّة فأتيْتُ رسُوْلَ الله صلّى الله عَليه وَسَلّم فعَظُم ذلك علَيَّ، فقلتُ ألا أُعْتقُها، قال: ائْتِنِي بِها، فقالَ لَها: أيْن الله تعالَى؟ قالَتْ: فِي السّمَاء، قالَ: منْ أنَا؟ قالَتْ: أنْتَ رَسُولُ الله، فقَال: اعْتِقْها فإنّهَا مُؤمنَة
    [: “Aku memiliki seorang budak perempuan yang selalu menggembala kambing. Maka suatu hari ia pergi [untuk menggembala] dan ternyata salah satu kambing telah dimangsa oleh srigala, maka aku memukul budak tersebut dengan satu pukulan. Lalu aku mendatangi Rasulullah menyesali perbuatanku tersebut, aku berkata: “Tidakkah aku merdekakan saja ia?”, Rasulullah berkata: “Datangkan budak itu kepadaku”. Lalu Rasulullah berkata kepadanya (budak): “Di mana Allah?”, budak menjawab: “Di langit”, Rasulullah berkata: “Siapa aku?”, budak menjawab: “Engkau adalah Rasulullah”. Rasulullah berkata: “Merdekakanlah ia, karena sungguh ia seorang mukmin”].
    Ibnul Jawzi berkata dalam kitab Dafu Syubah al-Tasybih bi-Akaffi al-Tanzih: “Para ulama (Ahlussunnah Wal Jama’ah) telah menetapkan bahwa Allah tidak diliputi oleh langit dan bumi serta tidak diselimuti oleh segala arah [artinya Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah; karena tempat dan arah adalah makhluk-Nya]. Adapun bahwa budak perempuan tersebut berisyarat dengan mengatakan di arah langit adalah untuk tujuan mengagungkan Allah [Artinya bahwa Allah sangat tinggi derajat-Nya. Dan pertanyaan Rasulullah dengan redaksi “أين” adalah dalam makna “ما مدى تعظيمك لله؟”; artinya “Bagaimana engkau mengagungkan Allah?”, oleh karena kata “أين” digunakan tidak hanya untuk menanyakan tempat, tapi juga biasa digunakan untuk menanyakan kedudukan atau derajat].
    sebagian ulama hadits telah mengkritik Hadits al-Jariyah ini, mereka mengatakan bahwa hadits tersebut sebagai hadits mudltharib, yaitu hadits yang berbeda-beda antara satu riwayat dengan riwayat lainnya, baik dari segi sanad (mata rantai) maupun matan-nya (redaksi). Kritik mereka ini dengan melihat kepada dua segi berikut;
    Pertama: Bahwa hadits ini diriwayatkan dengan sanad dan matan (redaksi) yang berbeda-beda; ini yang dimaksud hadits mudltharib. Di antaranya; dalam matan Ibn Hibban dalam kitab Shahih-nya diriwayatkan dari asy-Syuraid ibn Suwaid al-Tsaqafi, sebagai berikut: ”Aku (asy-Syuraid ibn Suwaid al-Tsaqafi) berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya ibuku berwasiat kepadaku agar aku memerdekakan seorang budak atas nama dirinya, dan saya memiliki seorang budak perempuan hitam”. Lalu Rasulullah berkata: “Panggilah dia!”. Kemudian setelah budak perempuan tersebut datang, Rasulullah berkata kepadanya: “Siapakah Tuhanmu?”, ia menjawab: “Allah”. Rasulullah berkata: “Siapakah aku?”, ia menjawab: “Rasulullah”. Lalu Rasulullah berkata: “Merdekakanlah ia karena ia seorang budak perempuan yang beriman” .
    Sementara dalam redaksi riwayat al-Imam al-Bayhaqi bahwa Rasulullah bertanya kepada budak perempuan tersebut dengan mempergunakan redaksi: “Aina Allah?”, lalu kemudian budak perempuan tersebut berisyarat dengan telunjuknya ke arah langit. Dalam riwayat ini disebutkan bahwa budak tersebut adalah seorang yang bisu.
    Kemudian dalam riwayat lainnya, masih dalam riwayat al-Imam al-Bayhaqi, Hadits al-Jariyah ini diriwayatkan dengan redaksi: “Siapa Tuhanmu?”. Budak perempuan tersebut menjawab: “Allah Tuhanku”. Lalu Rasulullah berkata: “Apakah agamamu?”. Ia menjawab: “Islam”. Rasulullah berkata: “Siapakah aku?”. Ia menjawab: “Engkau Rasulullah”. Lalu Rasulullah berkata kepada pemiliki budak: “Merdekakanlah!” .
    Dalam riwayat lainnya, seperti yang dinyatakan oleh al-Imam Malik, disebutkan dengan memakai redaksi: “Adakah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah?”, budak tersebut menjawab: “Iya”. Rasulullah berkata: “Adakah engkau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?”, budak tersebut menjawab: “Iya”. Rasulullah berkata: “Adakah engkau beriman dengan kebangkitan setelah kematian?”, budak tersebut menjawab: “Iya”. Lalu Rasulullah berkata kepada pemiliknya: “Merdekakanlah ia” .
    Namun, apabila Anda berargumen dengan hadits tersebut tentang keyakinan Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit, maka argumen Anda dapat dipatahkan dengan hadits lain yang lebih kuat dan menegaskan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak ada di langit, bahkan ada di bumi. Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat dahak di arah kiblat, lalu beliau menggosoknya dengan tangannya, dan beliau kelihatannya tidak menyukai hal itu. Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya apabila salah seorang kalian berdiri dalam shalat, maka ia sesungguhnya berbincang-bincang dengan Tuhannya, atau Tuhannya ada di antara dirinya dan kiblatnya. Oleh karena itu, janganlah ia meludah ke arah kiblatnya, akan tetapi meludahlah ke arah kiri atau di bawah telapak kakinya.” (HR. al-Bukhari [405]).
    Hadits ini menegaskan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di depan orang yang sedang shalat, bukan ada di langit. Hadits ini jelas lebih kuat dari hadits riwayat Muslim, karena hadits ini riwayat al-Bukhari.
    “.

  110. @abu aisyah : “Abul Hasan Al Asy’ari dalam kitabnya : Risaalah ila Ahli Ats-Tsagr berikut ini : Dan mereka (para salaf) berkonsensus (ijmak) … bahwasanya Allah ta’aala di atas langit, diatas arsyNya bukan di bumi.”.
    JAWAB
    Al Imam Abu al Hasan al Asy’ari (W. 324 H) semoga Allah meridlainya berkata: “Sesungguhnya Allah ada tanpa tempat” (diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam al Asma wa ash-Shifat). Beliau juga mengatakan: “Tidak boleh dikatakan bahwa Allah ta’ala di satu tempat atau di semua tempat”. Perkataan al Imam al Asy’ari ini dinukil oleh al Imam Ibnu Furak (W. 406 H) dalam karyanya al Mujarrad.

  111. PERTAMA
    @abu aisyah : “Antum menafsirkan surah al mulk 16-17, bahwa yang dimaksud Yang dilangit adalah malaikat? Bahkan antum mengatakan ini adalah tafsiran Al Iraqi.. Tafsiran al Iraqi yang mana ya? Kok berbeda dengan tafsiran Ibnu Abbas : bahwa yang dimaksud Yang dilangit adalah Allah azza wa jalla, sebagaimana juga tafsiran Ibnul Jauzi …
    JAWAB
    Bukankah diatas telah saya jelaskan. Anda mengatakan bahwa ibnu abbas mengatakan bahwa Allah swt. Dilangit, dalam kitab tafsir siapa? Ibnu Abbas menta’wîl ayat: “Pada hari betis disingkapkan.” (QS.68 [al Qalam]:42) Ibnu Abbas ra. berkata (ayat itu berarti): “Disingkap dari kekerasan (kegentingan).” Disini kata ق سا(betis) dita’wîl dengan makna ٌ ة شدkegentingan. Ta’wîl ayat di atas ini telah disebutkan juga oleh Ibnu Hajar dalam Fathu al Bâri,13/428 dan Ibnu Jarir dalam tafsirnya 29/38. Ia mengawali tafsirnya dengan mengatakan, “Berkata sekelompok sahabat dan tabi’în dari para ahli ta’wîl, maknanya (ayat al-Qalam:42) ialah, “Hari di mana disingkap (diangkat) perkara yang genting
    Sedangkan dalam kitab Dafu Syubah al-Tasybih bi-Akaffi al-Tanzih karya Imam Ibnul Jauzi, Makna yang benar sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama bahwa yang dimaksud “Sâq”(Qs. Al Qalam: 42)., “ساق” dalam ayat ini adalah “asy-Syiddah”, “الشدة”, artinya “kesulitan yang sangat dahsyat”; dengan demikian makna ayat tersebut adalah: “Hari di mana kesulitan yang sangat dahsyat akan diangkat (dihilangkan)”. Penggunaan kata seperti ini biasa dipakai dalam bahasa Arab, seperti dalam sebuat bait sya’ir; وَقَامَتِ الْحَرْبُ عَلَى سَاقٍ [Artinya: “Peperangan terjadi dengan sangat dahsyat”]. Dalam bait sya’ir lainnya mengatakan:
    وَأنْ شَمّرَتْ عَنْ سَاقِهَا الْحَرْبُ شَمْرًا [Artinya: “Bahwa peperangan telah menyingsingkan kedahsyatannya”, artinya peperangan tersebut terjadi dengan sangat dahsyat. Kata “ساق” di sini berarti “شدة”, artinya “dahsyat”].
    Ibnu Qutaybah berkata: “Dasar penggunaan kata “Sâq” dalam makna ini adalah karena bila seseorang tengah menghadapi urusan yang besar dan dahsyat maka ia membutuhkan kepada kekuatan tekad dan kesungguhan dalam menghadapinya, lalu ia menyingsingkan celananya hingga nampak betisnya, dari sini kemudian kata “Sâq” dalam bahwa Arab biasa dipergunakan (dipinjamkan) untuk mengungkapkan tentang adanya kesulitan yang sangat dahsyat” [dalam Istilah Ilmu Balaghah disebut Majâz Isti’ârah].
    Dalam hadits riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Sahih masing-masing menyebutkan bahwa Rasulullah bersabda:إنّ اللهَ عَزّ وَجَلّ يَكْشفُ عنْ سَاقِه (روَاه البُخاريّ ومُسْلم) Penyandaran (Idlâfah) kata “Sâq” dalam hadits ini bukan untuk mengungkapkan bahwa Allah memiliki betis, tapi Idlâfah di sini dimaksudkan untuk mengungkapkan bahwa Allah akan menghilangkan atau mengangkat segala kesulitan yang sangat dahsyat di di hari kiamat kelak dari orang-orang mukmin. Dan makna “Yaksyifu”, “يكشف” artinya “Yuzîlu”, “يزيل”; artinya mengangkat atau menghilangkan. Diriwayatkan bahwa Sa’id ibn Jabir sangat marah terhadap orang yang memahami firman Allah dalam QS. al-Qalam: 42 di atas dalam makna literalnya, lalu beliau berkata: “Yang dimaksud ayat tersebut adalah terangkatnya segala kesulitan yang sangat dahsyat di saat itu”. Sementara pendapat lainnya; dari Abu Amr az-Zahid menyebutkan bahwa kata “Sâq” biasa pula dipergunakan dalam makna “nafs” [secara hafiyah kata “nafs” pada hak manusia atau makhluk bermakna raga, tubuh, atau fisiknya. Adapun kata “nafs” pada hak Allah dalam makna Dzat-Nya, artinya Hakekat-Nya; bukan dalam makna raga, tubuh atau fisik). Kata “Sâq” dalam makna “nafs” ini seperti perkataan sahabat Ali ibn Abi Thalib saat beliau memerangi kaum Khawarij:لا بُدّ مِنْ مُحَاربَتهِمْ وَلوْ تَلفَتْ سَاقِي [Artinya: “Saya pasti memerangi mereka (kaum Khawarij) sekalipun harus hancur raga (tubuh dan fisik) saya”].
    Adapun kata “Sâq” dalam makna “nafs” pada hak Allah adalah dalam pengertian Dzat-Nya (Hakekat-Nya), dengan demikian maka makna ayat dalam QS. Al-Qalam: 42 di atas adalah bahwa kelak di hari kiamat Dzat Allah akan dilihat [oleh orang-orang mukmin penduduk surga dengan tanpa tempat, tanpa arah, dan tanpa disifati dengan sifat-sifat benda]. Dalam makna ini sesuai dengan sebuah hadits diriwayatkan dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari bahwa Rasulullah bersabda:
    يُكْشَفُ لَهُم الْحجَابُ فَيَنظُروْن إلَى اللهِ عَزّ وجَلّ فَيَخِرُّوْن للهِ سُجّدًا ويَبْقَى أقْوَامٌ فِي ظُهُورهِمْ مِثْلُ صَياصي البَقَر يُريْدُوْن السّجُودَ فلا يَسْتطيْعُون، فذلكَ قوْلُه تَعالَى (يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إلَى السّجُوْد فلا يَسْتَطيْعُوْن)
    [Artinya: “Nanti hijab akan dibuka bagi mereka, maka mereka akan melihat kepada Allah, maka mereka turun bersujud. Tersisa beberapa kaum yang di pundak mereka terdapat semacam punuk-punuk sapi, mereka hendak sujud namun mereka tidak mampu melakukannya. Peristiwa itulah yang dimaksud dengan firman Allah: “يوم يكشف عن ساق ويدعون إلى السجود فلا يستطيعون”, artinya: “Di hari itu akan diangkat segala kesulitan dan kesusahan yang sangat dahsyat, mereka diseru untuk sujud namun mereka tidak mampu melakukannya”].
    Dalam kitab Dafu Syubah al-Tasybih bi-Akaffi al-Tanzih karya Imam Ibnul Jauzi, أأمنْتُمْ مَنْ فِي السّمَاء (الملك: )16) [ ”Adakah kalian merasa aman terhadap yang ada di langit?”]. Argumen kuat dan nyata telah menegaskan bahwa yang dimaksud ayat ini bukan dalam makna zahirnya [seperti pemahaman sesat kaum Musyabbihah yang menyimpulkannya bahwa Allah berada di langit], karena dasar kata ”في” [yang artinya ”di dalam”] dalam bahasa Arab dipergunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang ”berada di dalam sebuah tempat dengan diliputi oleh tempat itu sendiri”( للظرفية ); padahal Allah tidak diliputi oleh suatu apapun. Pemahaman ayat di atas tidak sesuai jika dipahami dalam makna indrawi seperti ini, karena bila demikian maka berarti Allah diliputi oleh langit [dan itu artinya bisa jadi sama besar, lebih besar, atau lebih kecil dari langit itu sendiri]. Pemahaman yang benar adalah bahwa ayat tersebut untuk mengungkapkan keagungan dan kemuliaan Allah.
    Dari penjelasan diatas, Ibnu Abaas r.a dan ulama ulama lainnya melakukan takwil, mereka tidak mengambil zahir dan hakikat ayat tersebut. Sedangkan menurut kalian, orang yang melakukan takwil bukan ahlussunah.
    Kemudian anda mengatasnamakan ibnu jauzi. Saya mau bertanya, ibnu jauzi yang mana, Ibn al Jawzi atau Ibn Qayyim al Jawziyyah? Kedua orang tersebut beda mas. Ibn al Jawzi, bernama Jamaluddin Abu al Faraj Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Ali al Qurasyi al Baghdadi, sedangkan Ibn Qayyim al Jawziyyah; adalah murid Ibn Taimiyah, Ia bernama Muhammad ibn Abi Bakr ibn Ayyub az-Zar’i, dikenal dengan nama Ibn Qayyim

    1. LANJUTAN………….
      Ibnu Abbas ra. menta’wîl ayat: ا لمَُوسِعُونَ ￿ و السَّمَاءَ ب ََنيْناهَا بِأَي ْدٍ و إَِّ “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa.” (QS.51 [adz Dzâriyât]: 47) Kata أَيْدٍ secara lahiriyah adalah telapak tangan atau tangan dari ujung jari jemari hingga lengan, ia bentuk jama’ dari kata يَدٌ . (Baca Al Qamûs al Muhîth dan Tâj al ‘Ârûs,10/417.). Akan tetapi Ibnu Abbas ra’ mena’wîl arti kata tangan dalam ayat Adz-Dzariyat ini dengan بِقُوَّةٍ artinya kekuatan. Demikian diriwayatkan al-Hafidz Imam Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya, 7/27.
      Jadi, Ibnu Abbas r.a ini pun menurut kalian sesat karena melakukan takwil. jadi, di kitab tafsir siapa ibnu abbas mengatakan bahwa Allah swt. berada di langit?

    2. LANJUTAN……………….
      الرّحْمنُ علَى العَرْش اسْتَوى (طه: 5) dan masih banyak ayat lainnya yg memberi prasangkaan bahwa Allah swt. bersemayam di ‘arasy.
      Imam al-Khalil ibn Ahmad [ahli bahasa terkemuka; guru Imam Sibawaih] berkata: “Makna al-‘Arsy “العرش” adalah as-Sarîr “السرير”; artinya ranjang [atau singgasana]. Setiap ranjang atau singgasana yang ditempati oleh seorang raja secara bahasa disebut dengan arsy. Penggunaan kata “‘Arsy” dalam bahasa Arab sangat dikenal, baik di masa jahiliyah maupun setelah kedatangan Islam. Dalam al-Qur’an penggunaan kata arsy di antaranya dalam firman Allah:
      وَرَفَعَ أبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْش وَخَرّوْا لَهُ سُجّدًا (يوسف: 100)
      [Maknanya: “Dan Nabi Yusuf menaikan kedua ibu bapaknya (Nabi Ya’qub) ke atas arsy (singgasana), dan mereka semua turun baginya bersujud]” (QS. Yusuf: 100)
      Juga dalam firman-Nya tentang perkataan Nabi Sulaiman:
      قَالَ يَاأيّهَا الْمَلأ أيّكُمْ يَأتِيْنِي بعَرْشِهَا (النمل: 38)
      [Maknanya: “Nabi Sulaiman berkata: Wahai pembesar-pembesar siapakah di antara kalian yang dapat mendatangkan arsy-nya kepadaku? (yang dimaksud mendatangkan singgasana Ratu Bilqis)]”. (QS. An-Naml: 38 ).
      Ketahuilah, kata Istawâ “استوى” dalam bahasa Arab memiliki berbagai macam arti, di antaranya bermakna I’tadala “اعتدل”; artinya “sama sepadan”. Dalam makna ini sebagian kabilah Bani Tamim berkata:
      فَاسْتَوَى ظَالِمُ العَشِيْرَةِ وَالْمَظْلُوْمُ
      [Artinya “Menjadi sama antara orang yang zalim dari kaum tersebut dengan orang yang dizaliminya”. Kata Istawâ dalam bait sya’ir ini artinya “sama sepadan”].
      Kata Istawâ dapat pula bermakna tamma “تمّ” ; artinya sempurna. Dalam makna ini seperti firman Allah tentang Nabi Musa:
      وَلَمّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى ءَاتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا (القصص: 14)
      [”Ketika dia (Nabi Musa) telah mencapai kekuatannya dan telah sempurna Kami (Allah) berikan kepadanya kenabian dan ilmu”]. (QS. Al-Qashash: 14).
      Kata Istawâ dapat pula bermakna al-Qashd Ilâ asy-Syai’ “القصد إلى الشىء” artinya; bertujuan terhadap sesuatu. Dalam makna ini seperti firman Allah:
      ثُمّ اسْتَوَى إلَى السّمَاء (فصلت: 11)
      [Yang dimaksud Istawâ dalam ayat ini ialah qashada “قصد”, artinya bahwa Allah berkehendak (bertujuan) untuk menciptakan langit].
      Kata Istawâ dapat pula dalam makna al-Istîlâ’ ‘Alâ asy-Syai’ “الاستيلاء على الشىء” artinya; menguasai terhadap sesuatu. Dalam makna ini sebagaimana perkataan seorang penyair:
      إذَا مَا غَزَا قَوْمًا أبَاحَ حَرِيْمهُمْ وأضْحَى عَلى مَا مَلَكُوْهُ قَدِ اسْتَوَى
      [Maknanya: “Apa bila ia memerangi suatu kaum maka ia mendapatkan kebolehan atas sesuatu yang terlarang dari mereka, dan jadilah ia terhadap apa yang mereka miliki telah menguasai”].

    3. LANJUTAN……………..
      ءَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَآءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ اْلأَرْضَ (الملك 16)
      al-Imâm al-Qurthubi menuliskan:
      “Yang dimaksud oleh ayat ini adalah keagungan Allah dan kesucian-Nya dari arah bawah. Dan makna dari sifat Allah al-‘Uluww adalah dalam pengertian ketinggian derajat dan keagungan bukan dalam pengertian tempat-tempat, atau arah-arah, juga bukan dalam pengertian batasan-batasan. Karena sifat-sifat seperti demikian itu adalah sifat-sifat benda (al-ajsam). Adapun bahwa kita mengangkat tangan ke arah langit dalam berdoa karena langit adalah tempat turunnya wahyu, tempat turunnya hujuan, tempat yang dimuliakan, juga tempat para Malaikat yang suci, serta ke sanalah segala kebaikan para hamba diangkat, hingga ke arah arsy dan ke arah surga, hal ini sebagaimana Allah menjadikan ka’bah sebagai kiblat dalam doa dan shalat kita. Karena sesungguhnya Allah yang menciptakan segala tempat, maka Dia tidak membutuhkan kepada ciptaannya tersebut. Sebelum menciptakan tempat dan zaman, Allah ada tanpa permulaan (Azali), tanpa tempat, dan tanpa zaman. Dan Dia sekarang setelah menciptakan tempat dan zaman tetap ada -sebagaimana sifat Azali-Nya- tanpa tempat dan tanpa zaman” (al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 18, h. 216, dalam QS. al-Mulk: 16).

    4. LANJUTAN…………
      firman Allah: ”A-amintum Man Fi as-Sama’” (QS. al-Mulk: 16), bahwa yang dimaksud dengan “Man Fi as-Sama’” adalah para Malaikat. (Al-Hafiz Al-Iraqi dalam Kitab Amali)

  112. Bismillah….
    Subhanallah, penjelasan antum banyak sekali, tapi kok ngawur semua, dan kadang-kadang nggak nyambung atau kelihatannya antum maksa-maksain untuk nyambung..
    Pernah ana tulis bahwa Imam Al Ausiy berkata bahwa dalil Allah berada diatas langit itu ada sekitar 1,000 dalil..
    Tentu ana lebih percaya pernyataan ini daripada pernyataan antum yang ngawur itu..
    Jadi tulisan antum yang banyak itu nggak ada artinya sama sekali..
    Baiklah, kalau antum masih berkilah juga, ana akan sedikit saja memberi sedikit saja komontar, karena ana rasa penjelasan ana sebelumnya merupakan hujjah yang sangat jelas bagi orang-orang yang diberi hidayah…
    PERTAMA :
    Antum menafsirkan surah al mulk 16-17, bahwa yang dimaksud Yang dilangit adalah malaikat? Bahkan antum mengatakan ini adalah tafsiran Al Iraqi..
    Tafsiran al Iraqi yang mana ya? Kok berbeda dengan tafsiran Ibnu Abbas : bahwa yang dimaksud Yang dilangit adalah Allah azza wa jalla, sebagaimana juga tafsiran Ibnul Jauzi …
    Adakah tafsir al qur’an yang menyatakan bahwa yang dimaksud Di langit adalah malaikat?
    Ana rasa semua kitab tafsir al qur’an menfsirkan ayat yang mulia ini tidak seperti yang antum tafsirkan itu…
    Coba antum baca seluruh kitab-kitab tafsir al qur’an.. Bukankah huruf “D” pada kata “Dia” ditulis dengan huruf besar??? Mungkinkah yang dimaksud Dia itu adalah malaikat?
    Sungguh tafsiran yang ngawur…
    Apa pendapat antum mengenai perkataan Abul Hasan Al Asy’ari dalam kitabnya : Risaalah ila Ahli Ats-Tsagr berikut ini :
    Dan mereka (para salaf) berkonsensus (ijmak) … bahwasanya Allah ta’aala di atas langit, diatas arsyNya bukan di bumi. Hal ini telah ditunjukan oleh firman Allah
    أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ
    Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu (QS Al-Mulk : 16).
    Dan Allah berfirman
    إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
    kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya (QS Faathir : 10).
    Dan Allah berfirman
    الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏
    “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arasy.” (QS. Thâhâ;5)
    Dan bukanlah istiwaa’nya di atas arsy maknanya istiilaa’ (menguasai) sebagaimana yang dikatakan oleh qodariah (Mu’tazilah-pent), karena Allah Azza wa Jalla selalu menguasai segala sesuatu. Dan Allah mengetahui yang tersembunyi dan yang lebih samar dari yang tersembunyi, tidak ada sesuatupun di langit maupun di bumi yang tersembunyi bagi Allah, hingga seakan-akan Allah senantiasa hadir bersama segala sesuatu. Hal ini telah ditunjukan oleh Allah Azza wa Jalla dengan firmanNya :
    Dan bahwasanya Allah –subhaanahu- diatas arsyNya, sebagaimana Allah berfirman :
    الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏
    “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arasy.” (QS. Thâhâ;5)
    Dan Allah memiliki dua tangan tanpa ditanyakan bagaimananya… dan Allah memiliki wajah… (Maqoolaatul Islaamiyiin 1/345)
    KEDUA :
    Antum menafsirkan hadits budak yang mengatakan dengan sangat jelas : “Allah di langit“ adalah maksudnya dia menganggungkan Allah azza wa jalla, dan pertanyaan Rasululullah “dimana Allah” adalah bermakna : bagaimana engkau menganggungkan Allah?
    Sungguh, ini adalah tafsiran terlucu yang pernah ana baca..
    Jelas sekali, antum menafsirkannya dengan hawa nafsu.. Coba antum sebutkan ulama siapa yang menafsirkan seperti itu??
    Tafsiran seperti ini baru pernah ana dengar..
    Begitulah ahlul bid’ah, kalau dulu ana pernah dengar bahwa mereka berusaha menolak hadits ini dengan melemahkannya, atau mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits ahad sehingga tidak bisa dijadikan hujjah.. Maka setelah ketahuan kedustaan mereka, sekarang muncul lagi cara dan model baru yakni dengan menafsirkan hadits yang mulia ini dengan tafsiran sebagaimana yang antum sebutkan itu… Sungguh licik dan lucu…
    KETIGA :
    Antum membawakan perkataan Imam Ali radiyallahu anhum untuk membela keyakinan antum..
    Tahukah antum darimana atsar ini?
    Sesungguhnya atsar ini dibawakan oleh orang-orang Syi’ah Rofidoh dalam buku-buku mereka tanpa ada sanad sama sekali. Diantaranya dalam kitab mereka Al-Kaafi (karya Al-Kulaini). Al-Kulaini berkata:
    وَ رُوِيَ أَنَّهُ سُئِلَ ( عليه السلام ) أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ سَمَاءً وَ أَرْضاً فَقَالَ ( عليه السلام ) أَيْنَ سُؤَالٌ عَنْ مَكَانٍ وَ كَانَ اللَّهُ وَ لَا مَكَانَ
    Dan diriwayatkan bahwasanya Ali bin Abi Tholib ‘alaihis salam ditanya : Dimanakah Robb kami sebelum menciptakan langit dan bumi?, maka Ali bin Abi Tholib ‘alaihis salaam berkata, “Mana pertanyaan tentang tempat?! padahal Allah dahulu tanpa ada tempat (Al-Kaafi 1/90 dalam بَابُ الْكَوْنِ وَ الْمَكَانِ)
    Kalau seandainya riwayat-riwayat di atas shahih maka tidak menunjukan bahwasanya Ali bin Abi Tholib mengingkari adanya Allah di atas langit. Namun dalam riwayat-riwayat di atas beliau –radhialllahu ‘anhu- hanyalah mengingkari bahwasanya Allah diliputi oleh tempat, dan pernyataan tersebut adalah pernyataan yang benar.
    Ahlus sunnah tidak mengatakan bahwa Allah berada di suatu tempat yang meliputi Allah, akan tetapi mereka mengatakan bahwasanya Allah berada di atas, yaitu di arah atas.
    KEEMPAT :
    Berulangkali antum menggelari ana, abu dzar dan ummu hasanah dengan gelar : “mujassim musyabbih”..
    Maka benarlah apa yang dikatakan oleh : Al Imam Abu Hatim Ar-Razi (semoga Allah merahmatinya) yang telah mengatakan:
    وَعَلاَمَةُ أَهْلِ الْبِدَعِ : الْوَقِيْعَةُ فِيْ أَهْلِ الأَثَرِ وَعَلاَمَةُ الْجَهْمِيَّةِ أَنْ يَسُمُّوْا أَهْلَ السُّنَّةِ مُشَبِّهَةً
    Tanda ahli bid’ah adalah mencela ahli atsar. Dan tanda Jahmiyyah adalah menggelari ahli sunnah dengan Musyabbihah.
    Juga Ishaq bin Rahawaih mengatakan:
    عَلاَمَةُ جَهْمٍ وَأَصْحَابِهِ دَعْوَاهُمْ عَلَى أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ مَا أُوْلِعُوْا مِنَ الْكَذِبِ أَنَّهُمْ مُشَبِّهَةٌ بَلْ هُمُ الْمُعَطِّلَةُ
    Tanda Jahm dan pengikutnya adalah menuduh ahli sunnah dengan penuh kebohongan dengan gelar Musyabbihah padahal merekalah sebenarnya Mu’atthilah (meniadakan/mengingkari sifat bagi Allah).
    Jadi berdasarkan perkataan ulama diatas, maka tidak syak lagi bahwa antum dan yang sepaham dengan antum itu adalah kelompok Jahmiyyah yakni pengikut Jahm bin Sofwan yang sesat… Na’udzu billahi min dzalik…
    KELIMA :
    Kalau dicermati, ternyata tuduhan “Mujassimah” itu sebenarnya kalian sendirilah yang pantas menerimanya (senjata makan tuan). Mengapa demikian? Karena orang yang berfaham bahwa Allah berada di setiap tempat, dia telah membatasi Allah pada tempat yang terbatas. Maha suci Allah dari apa yang mereka ucapkan.
    Juga tuduhan musyabih, ternyata kalian juga yang pantas menyandangnya karena sebelum menolak sifat Allah di atas langit kalian mentasybiih dahulu Allah dengan makhluk. Oleh karenanya kalau makhluk yang berada di atas sesuatu pasti diliputi oleh tempat. Karenanya antum mentasybiih dahulu baru kemudian menolak sifat tingginya Allah.karena aqidah bahwasanya Allah tidak di dalam ‘alam dan juga tidak di luar alam merupakan bentuk mentasybiih Allah dengan sesuatu yang tidak ada atau sesuatu yang mustahil. Jadilah kalian musyabbih sebelum menolak sifat dan musyabbih juga setelah menolak sifat Allah..
    Adapun pendapat yang menyatakan bahwa Allah di atas langit, tidaklah melazimkan tajsim (membentuk). Mengapa demikian? Karena perkataan kita: “Allah tinggi di atas arsy dan berpisah dari makhluknya” tidaklah berkonotasi membatasi Allah pada satu tempat, sebab tempat itu sesuatu yang terbatas di langit dan bumi serta antara keduanya, sedangkan di atas arsy tidak ada tempat..
    Wallahu a’lam..

    1. Kok jadi menuduh bahwa Allah ada di segala tempat sih Abu Aisyah?
      Tulisan2 argumen mas Agung justru mensucikan Allah dari kebergantungan terhadap makhluknya termasuk tempat dan langit.. coba dibaca lagi baik-baik tulisannya.. makanya perkataan diatas langit itu tidak diartikan harfiah karena jika iya akan menimbulkan arti bahwa Allah bergantung makhluk.. coba mana tunjukan tulisan mas Agung yang membatasi Allah pada tempat?

    2. Kalo memakai konsep anda menuduh orang yang mentakwil sebagai orang yang meniadakan sifat Allah maka ada suatu kontradikisi mas Abu Aisyah..
      Yaitu takwil imam Bukhari terhadap:
      “Bab tentang ayat : Segala sesuatu akan hancur kecuali Wajah-Nya, artinya Kekuasaan-Nya.” Nah, kata wajah-Nya, oleh al-Imam al-Bukhari diartikan dengan mulkahu, artinya kekuasaan-Nya..
      Apakah mentakwilkan wajah-Nya dengan Kekuasaanya itu dikenai vonis Jahmiah?
      Disini terlihat bahwa akidah Imam Bukhari sama seperti kami yang anda anggap Ahli Bid’ah dan Jahmiah.. Jika akidah Imam Bukhari sesat=Jahmiah karena meniadakan sifat Allah maka seyogyanya Anda dan ustadz2 anda tidak mengambil sumber hukum dari kitab yang dikarang oleh orang yang sesat..tidak layak anda mengambil dalil dari shahih Bukhari… any solution?
      Mungkin karena itu pula sebagian besar salafi wahabi lebih percaya pada shahih Albani daripada Shahih Bukhari..

    3. Allah ada di setiap tempat, bukan seperti sesuatu yang memasuki sesuatu yang lain.. Sebenarnya ini pembahasan juga menyangkut ihsan, agar kita selalu mawas, dan memperhatikan pengawasanNya.. Membahas hal-hal seperti ini rujuklah pada ulama-ulama mu’tabar. Jangan gunakan akal, tapi gunakan rasa batin.. Jangan belajar di salafy, karena mereka menolak rasa batin para ahli tasawuf.. agar tidak salah memahami..

  113. Paling yang dimaksud Ibnu Manan@:
    Pertama-tama anti harus bebaskan dulu Dzat Allah dari ikatan-ikatan yang berlaku atas makhluk-Nya..
    Makhluk dibatasi oleh dimensi-dimensi, sedangkan Allah azza wa jalla bebas dari semua itu.
    _____________
    Tentang tauhid 3(mirip trinitas)…

  114. Mas Ibnu Manan,
    Aryati ini kan beragama dengan cara mengandalkan akalnya. Jadi wajar aja kl pemahamannya cuma sampe segitu…wong akalnya juga cuma sampe segitu…

    1. Ummu hasanah@
      maaf Ummu hasanah, apakah antum tidak pernah dengar dari Rasulullah Saw bahwa agama islam ini diturunkan kpd orang2 yang berakal? Kalau akalnya lemah, tidak berfungsi dg baik atau tidak tertib cara berpikirnya, maka kacaulah agama ini. Agama Islam di tangan orang2 yg akalnya lemah hanya akan menimbulkan fitnah di mana-mana, bukan hanya di Indonesia saja tetapi di seluruh dunia Islam.
      Justru karena agama Islam ini sesuai logika maka orang2 bule di Amerika dan Eropa yg berpikirnya logis tertarik masuk Islam, do you know ummu hasanah. Please, excuse me….

  115. Bismillah..
    @mbak aryati yang (katanya) cuantik n manizz..
    Pertama-tama anti harus bebaskan dulu Dzat Allah dari ikatan-ikatan yang berlaku atas makhluk-Nya..
    Makhluk dibatasi oleh dimensi-dimensi, sedangkan Allah azza wa jalla bebas dari semua itu.
    Pertanyaan anti ini menandakan bahwa anti berpikir dengan logika manusia..
    Anti berpikir bahwa jika Allah turun maka Dia turun seperti turunnya makhluk, anti berpikir bahwa bila Dia disisi makhluk maka Dia disisi makhluk sebagaimana makhluk disisi makhluk lainnya..
    Subhanallah…

    1. mas ibnu manan@
      Mas, maaf… itu bukan penjelasan, tapi nggak apalah, karena memang akan sangat sulit menjelaskan apa yg antum dan kaum antum yakini itu. Karena itulah Ahlussunnah Wal Jamaah menggunakan takwil, dan para Ulama Salafus sholih mentakwil dalam permasalahan ini demi terjaganya ke-mahasucian Allah.
      Baiklah, kita kembali ko topic semula. Allah di langit, Allah di sisi orang2 sakit, bagaimana antum bisa menjelaskan akan keadaan seperti ini jika tanpa takwil? Maaf yg saya perlukan penjelasan antum, bukan perintah. Kalau antum nggak bisa menjelaskannya, maka diskusi ini tidak bisa dilankutkan, karena hanya akan buang2 waktu saya.

  116. ha ha ha…. mantab mBak Aryati, ibnu manan langsung KO dan nggak bangun-bangun dari tadi.
    ibu manan, ha ha ha… malu apa nggak tuh diKO oleh peyempuan cuantik n manizz?

  117. Bismillah,
    ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits No.2569).
    Subhanallah, Maha suci Allah dari sifat sakit..
    Mbak Aryati, hadits ini nggak perlu ditakwil..
    Bukankah Allah sudah menjawab Sendiri..
    Coba anti baca lagi lanjutannya :
    maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?..
    Wallahu a’lam

    1. Mas Ibnu manan@
      Ok lah kalau begitu saya ikuti dulu apa mau antum.
      Tapi… dalam hadits tsb Allah berkata: “bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya”. Nah…. pertanyaan saya: BUKANKAH menuerut kalian Allah di atas langit?
      Bukankah setiap hari bahkan setiap jam di dunia ini ribuan bahkan jutaan orang jatuh sakit?
      Ketika kalian meyakini Allah di atas langit secara fisik, kemudian Allah juga berada di sisi jutaan orang sakit di dunia ini, bagaimana penjelasan antum dan kaum antum akan keadaan seperti ini? Ingat… tanpa takwil ya, sebab kalian mengkafirkan muslimin yg bertakwil.
      OK saya tungguin sekarang juga.

    2. @mbk aryati
      sepertinya kaum mujassim ini aneh, di satu sisi mengatakan bahwa ayat atau hadist yg berkaitan dengan sifat Allah swt. harus diambil zahir dan hakikatnya, tapi ketika ditanya masalah hadist tersebut, mereka tidak mengambil zahir dan hakikatnya. karena hadist tersebut, bila di ambil zahir dan hakikatnya, akan memberi pemahaman Allah swt. memiliki sifat sakit. kedua, hadist tersebut memberi pemahaman bahwa Allah swt. berada di samping orang yg sakit, bukan dilangit.

      1. Betul mas Agung, mereka ini sangat kontradiktif (saling berlawanan) dalam berpikir aikibat lemah akal. Hal ini membuktikan kebenaran sabda Rasulullah saw yg menggabarkan akan muncul kaum lemah akal yang dari pemikirannya memunculkan hal-hal yg kontradiktif (saling berlawanan):
        “Pada akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akalnya. Mereka berkata-kata seolah-olah mereka adalah manusia yang terbaik. Mereka membaca al-Quran tetapi tidak melepasi kerongkong mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah menembus binatang buruan. Apabila kamu bertemu dengan mereka, maka bunuhlah (perangilah) mereka karena sesungguhnya, membunuh (memerangi) mereka ada pahalanya di sisi Allah pada Hari Kiamat. [HR. Bukhari dan Muslim]
        Membunuh atau memerangi mereka untuk saat ini adalah bisa dengan cara mendebat/melawan pemikiran mereka yg kontradiktif tsb, agar hasil-hasil pemikiran mereka mati dan tidak berkembang di masyarakat awam agama.
        Bisa juga mereka diajak berdebat secara terbuka tentang pemikiran-pemikiaran mereka yg kontradiktif agar masyarakat lua mengetahuinya.

  118. @UmmuH, rasanya ga ada satupun yg nolak ayat Al-Quran dan Hadist Sohih, dikalimat yg mana dan siapa yg nulis??? Coba deh dibicarakan baik2….

  119. Mas Abu Dzar, emangnya antum mau diajak diskusi atau debat oleh mas Mamak? Percuma aja kali.
    Ayat Al Qur’an dan Hadist shohih aja mereka tolak dengan 4T (Tahrif, Ta’thil, Tamtsil, Takyif).
    Trus Mas Abu Dzar mau pake dalil apa lagi.

    1. ummu hasanah@
      Oleh mas Agung sudah bertanya berkali-kali kpada antum, abu dzar juga Wahabiyyun lainnya tenteng hadits ini:
      ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits No.2569).
      dalam hadits shahih Imam Muslim tsb Allah menyatakan dirinya sakit, bagaimana kalau ini tidak ditakwil? Jadi… kalau tidak ditakwil apakah Allah sakit? Alangkah ironisnya Allah yg MAHA SEGALANYA kok sakit? Coba dipikir…..
      Jadi kalian Wahabiyyun itu yg keterlaluan gara-gara nggak mau takwil akhirnya melecehkan Allah jadi pesakitan, maaf….

  120. all teman2 diskusi di mohon tetap santun dalam berkata.. biarlah yang menjadi fitnah agama islam ya’lu wala yu’la alaih cukup abu dzar dkk..
    ya Alloh jadikanlah kami orang yang mukhlis atas setiap perbuatan kami… amin

  121. gak yakin si abu dzar punya nyali….biasanya wahabi jago bacot di internet doang….tinggal copas…kalo di dunia nyata bingung buka2 kitab, karena gak bisa copas 😆

  122. Bismillah,
    Saudaraku Abu Dzar, nggak perlu banyak cerita, buktikan saja disini…. mari kita diskusi one vs one… dan silahkan coppass sepuasnya… OK!!

    1. Yah… ini kang abu dzar cuma banyak omong doangan…. cerita ngalor ngidul hanya nyebar fitnah, emangnya antum2 yg tingkat atas berani debat dg kami di sini?
      Ini lhoh kang mamak sudah pasang badan, berani nggak antum2 wahabiyyin ngetes ilmu kalian di sini, mumpung dikasih kesempatan Copas-Capis…. peluang ini buat kalian sebab kalian nggak bisa ngomong teratur kalau nggak Copas, betul kan?
      Atau jawab tuh pertanyaan Mas Agung… jangan cuma bisa nyombong doang tanpa ilmu.
      Atau baca ini link bagus di ummati, biar antum jadi pintar….
      http://ummatipress.com/2013/04/04/anda-perlu-tahu-siapa-salafi-wahabi-agar-bisa-waspada-terhadapnya/
      http://ummatipress.com/2013/04/05/mereka-bilang-istighotsah-syirik-maka-sahabat-nabi-yang-beristighotsah-jadi-musyrik/
      http://ummatipress.com/2013/03/31/penjelasan-ilmiyyah-soal-jamuan-makan-pada-jamaah-dzikir-tahlilan/
      http://ummatipress.com/2013/03/28/nabi-saw-menilai-tidak-syirik-semua-jimat-wahabi-anggap-semua-jimat-itu-syirik/
      oke… silahkan dibaca biar pintar kang abu dzar.

  123. to mas bachitar
    bkn masalh mau atau tidak mau, tapi masalahnya ada manfatnya ga? atau anda dan kawan2 anda mau merujuk kepada yag haq atau tidak????atau hanya debat kusir, coz banyak sekali orang2 yang menentang dakwah sunnah itu bahkan lebih parah tingkah lakunya ketika kalah argumen, banyak yg sy alami dan bnyak khobar yg tsiqoh dari kawan2 ketika mereka kalah hujjah.
    1. yg sy alami ketika tiggal di kampung luar batang, Ust. abal2 mendebat kami lalu kami bantah dgn hujjah yg tsiqoh dan hujjahnya diakalah, bknnya merujuk malah panggil polisi dan meneuduh kami sesat, lalu kami balikkan lagi dimana kesesatannya dia g bsa menjawab.
    2. ketika sy msh skolah SMA, sy mengudang ust. pengajar rohis yg berfahaman suka terhadap acara tahlilan(yg g syar’i ya), yg suka maulidan, isra mi’raj(tapi aneh ya ktana ga percaya klo Allah brda di ars??? trus nabi Muhammad nemuin siapa ya????),dgn gelar S.Ag(tpi aneh sy tanya kitab riyadhushalihin itu karangan siapa di jawab karangan imam nawawi al-bantani), berhadapn dgn ust lulusan Ponpes Al-Furqon, Gresik, keduanya menegluarkan dalil tapi hujjah ust S.Ag ini kalh, Di akhir kata2 nya sblm penutup dan sy msh ingat dia berucap : sy akan berpegang teguh dengan apa yg di ucapkan dan yg difahami oleh GURU SAYA. weleh2 nh ust bknnya merujuk malah membuat fitnah di luar menuduh rohis di sekolah saya sudah sesat. semoga sang ust mendapatkan hidayah.
    3. ketika sy mendengar khobar bahwa ponpes ust fatah di Lombok di serbu dan di bakar oleh orang suruan dari ust2 dan kiyai2 yg kalah hujjah dan tidak senang terhadap dakwah ust fatah di Lombok, hampir Lombok menjadi perang, Karena ikhwan2 yg di jakarta dan di Lombok sdh mempersiapkan balasan, namun Ust 2 yg lain melarang termasuk ust Yazid bin Abdul Qadir Jawas melarang untuk membalas, karena apa? karena yg menyerang belum sampai ilmu kepada mereka & mereka hanya ikut2 tan saja dan belum mendapatkan hidayah dan biarkan pemerintah yg mengurus, dan Alhamdulillah dakwah Tauhid di Lombok semakin banyak dan menyebar dan Ponpes ust Fattah semakin besar.
    4.Khobar terbaru klo kantor majalah Qiblati di datangi dan di acak2 oleh orang suruan ust atau kiyai2 yg tidak suka terhadap isi materi majalah qiblati yg mengajak kepada pemurnian Tauhid tidak menyekutukan Allah di dalam peribadatan.
    dan masih banyk lagi tpi sy tidak sy sebutkan disini, ini sebagai hujjah bagi sy klo mereka tidak terima setelah plng nya mereka maik premanisme.

    1. Tuh Mas Abu Dzar, Mujtahid Mutlaq, Mas Mamak sudah membuka diri,
      Semua bisa bercerita, tetapi fakta dilapangan menunjukkan hal yang berbeda :
      Beberapa kali saya berdiskusi dengan Wahabi, mereka kalah Hujjah nyebar fitnah. Kalau ada kajian giliran waktu diskusi cuma lewat SMS atau tulisan. Wahabi memang bisanya menebar DUSTA..

      https://www.youtube.com/watch?v=Lfcl2_W_3rM
      Silahkan dicek itu bukti NYATA Ya..Abu Dzar..

  124. Diriwayatkan dari sayyidina Ali bahwa beliau mengatakan: “Sesungguhnya Tuhanku azza wa jalla adalah al Awwal (adanya tanpa permulaan) tidak bermula dari sesuatupun (ada tanpa permulaan), tidak bersama-Nya sesuatupun (tidak bertempat pada sesuatu), tidak dapat dibayangkan (tidak seperti yang dibayangkan oleh wahm), bukan jisim, tidak diliputi oleh tempat dan adanya tidak bermula dari ketidak adaan. “ Kemudian beliau mengatakan: Maknanya: “Barang siapa yang menyangka bahwa Tuhan kita mahdud (memiliki bentuk dan ukuran) maka dia tidak mengetahui pencipta yang disembah” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim, Lihat Abu Nu’aim, Hilyah al Auliya, juz. 1, hal. 73)
    orang orang seperti abu aisyah dkknya mengingkari takwil secara mutlak meskipun baik tujuan orang yang mentakwil. Bahkan syaikh mereka (Al Albani, Syarh al Thahawiyah, hal. 18 dan Ibn Baz, al Tanbihat, hal. 34-71) menyebut orang yang mentakwil dengan penghancur. Apa yang mereka katakan tentang hadits Rasulullah shallAllahu ‘alaihi wasallam kepada sayyidina Ibn Abbas juru bicara al Qur’an: Maknanya: “ya Allah ajarkanlah hikmah kepadanya dan takwil al Qur’an”. (HR. Ibn Majah).
    al Nawawi dalam syarh Muslim mengutip perkatan al Qadhi ‘Iyadh: “Tidak ada perbedaan pendapat di antara umat Islam seluruhnya yang ahli fikih, ahli hadits, ahli kalam dan orang-orang yang semisal dengan mereka serta orang-orang yang bertaklid pada mereka bahwa lafadz dhahir yang terdapat dalam al Qur’an dengan menyebut Allah ta’ala di langit seperti firman Allah ta’ala: ءَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَآءِ Dan semacamnya maknanya bukanlah seperti dhahirnya akan tetapi seluruhnya ditakwilkan. (Al Nawawi, Syarh Shahih Muslim, (Beirut: Dar Fikr), Juz.5 hal.24).
    cukuplah dua pernyataan diatas sebagai bantahan terhadap kaum mujassim musyabbih

  125. @abu aisyah mujassim musyabbih
    Pertama, pernyataan saudara sebelumnya sudah kami jawab. silahkan di lihat juga pada older comments.
    Kedua, tolong dijawab pertanyaan saya ini, karena dengan gagahnya anda mengatakan bahwa, ayat atau hadist yg berkaitan dengan sifat Allah swt.harus dipahami sesuai zahir dan hakikatnya.
    apa makna ayat berikut, “kemanapun kalian menghadap, disanalah Wajah Allah”. (Al-Baqoroh :115)
    apa makna hadist berikut ini :”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits No.2569).
    dari hadist tersebut, SAYA INGIN BERTANYA, APA YANG DIMAKSUD dengan firman Allah swt. dalam hadist qudsi tersebut, yaitu kalimat : “AKU SAKIT” dan kalimat “BILA KAU MENJENGUKNYA MAKA AKAN KAU TEMUI AKU DISISINYA”.
    ika anda tetap berkeyakinan bahwa ayat atau hadist mutasyabihat harus dipahami berdasarkan zhahir dan hakikatnya, saya ingin bertanya kembali, apa makna hadist berikut ini : “Allah berfirman : ”Barangsiapa memusuhi wali-Ku sungguh Ku-umumkan perang kepadanya, tiadalah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan hal – hal yang fardhu, dan Hamba-Ku terus mendekat kepada-Ku dengan hal–hal yang sunnah baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya maka Aku menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, dan menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya yang ia gunakan untuk melangkah, bila ia meminta pada-Ku niscaya Ku-beri permintaannya….” (Shahih Bukhari hadits No.6137)”.
    YANG INGIN SAYA TANYAKAN ADALAH APA MAKNA KALIMAT: “………Bila Aku mencintainya maka Aku menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, dan menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya yang ia gunakan untuk melangkah……….”
    Ketiga, apakah semua ayat al-quran tidak boleh di takwil dan harus dipahami secara hakikat dan zahirnya? jika tidak, tunjukkan dalilnya? jika iya, apa makna ayat berikut ini, “Dan barangsiapa yang buta di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS. al-Isra’ : 72). seingat saya, syaikh bin baz itu kan buta, apa kemudian syaikh tersebut akan masuk neraka berdasarkan zhahirnya ayat tersebut.

  126. @abu dzar mujassim musyabbih
    anda pernah mengatakan kutipan saya salah, tapi anda tidak pernah menunjukkan, mana kutipan yg benar… kedua, seingat saya, yg anda permasalahkan waktu itu bukan menyangkut masalah isi. jd mohon kiranya saudara dapat menjelaskan kembali.
    kalau anda merasa yakin dengan aqidah saudara, tolong dijawab pertanyaan saya diatas! kemudian saya ingin bertanya, jika suatu permasalahan tidak terdapat secara eksplisist dalam al-qur’an dan hadist, apa yg harus dilakukan?

  127. Wahabi ini mau nggak ya kalau diajak diskusi langsung, didokumentasikan, biar kelihatan siapa sebenarnya yang Ngeyel tanpa ilmu, kalau mau banyak kawan-kawan saya dari ASWAJA yang siap untuk mudzakaroh dengan wahabi.

  128. to sarah salsabila
    sarah yang di jelskan abu aisyah itu sudh jelas sejelas2nya, trus kenapa sy mesti mejelaskannya lagi???klo mba mau memahaminyanya, mba mengatakan nglindur atau ngigau,sy katakan ya, krana hujjah yg disampaikan abu aisyah tidak sejalan dengan akal mba, krna begitulah fhm Mu’tazillah menolak dalil yg bertentangn dgn akal mereka dan mendahulikan akal dari pada naql.
    mba kewajiban kami kepada sesama muslim yg lain hanya menyampaiakan, kami tidak memaksa anda dan kawan2 anda megikuti hujjah yg terang dan jelas ini. adapun mba menolak tafadhol itu haq anda.
    adapun ulama ASWAJA yg wafat khusnul khatimah yg anda maksud sy tidak mengetahui, karena setelah sy mendapat khobar dari ummu hasanah bhwa ASWAJA adalah AS’ARIYAH WAL JAHMIYAH???
    Adapun kami hanya mengikuti ulama2 ahlu sunnah wal jama’ah ulama2 yg mengambil pemahaman Al-qur’an dan sunnah rosulullah dari generasi terbaik umat ini yang diawali oleh 4 khalifah rasyiddin, Abu bakar Ashiddiq, Umar bin Khatab, Ustman bin affan, dan Ali bin abu thalib radhiyallahu ‘anhum, dan di ikuti oleh sahabat2 yang lain dan kemudian dilanjut oleh para tabi’in dan atba’uttabi’in, dan siapa saja yang mengikuti pemahaman cara beragama mereka maka diaalah ahlu sunnah bukan ahlu bid’ah hasanah, baik dia berada timur maupun di barat, baik dia miskin ataupun kaya, baik dia jelek atupun bagus rupa.
    dan kami tidak malu2 untuk menyebutkan para ulama ahlusunnah, atau ahlu atsar atau ahlu hadits,atau salafu shalih, dengan singkatan2.
    sarah “apakah antum nggak mau mikirin kenapa seperti itu?”
    al-jawab
    apa yg sy harus pikirkan???? sy hanya berfikir bagaimana di dunia yg sementara ini dengan waktu yg tersisa ini hidup sy bermanfaat unutk diri saya, keluarga dan orang lain terutama kaum muslimin, berbuat baik sebanyak2nya, beribadah kepada Allah sja tidak kepda yg lain.Wallahu a’lam

  129. @abu aisyah, abu dzar, ummu hasanah dan para mujassim musyabbih
    tolong pertanyaan saya ini di jawab, abu aisyah dengan gagahnya mengatakan bahwa, ayat atau hadist yg berkaitan dengan sifat Allah swt.harus dipahami sesuai zahir dan hakikatnya.
    apa makna ayat berikut, “kemanapun kalian menghadap, disanalah Wajah Allah”. (Al-Baqoroh :115)
    apa makna hadist berikut ini :”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits No.2569).
    dari hadist tersebut, SAYA INGIN BERTANYA, APA YANG DIMAKSUD dengan firman Allah swt. dalam hadist qudsi tersebut, yaitu kalimat : “AKU SAKIT” dan kalimat “BILA KAU MENJENGUKNYA MAKA AKAN KAU TEMUI AKU DISISINYA”.
    ika anda tetap berkeyakinan bahwa ayat atau hadist mutasyabihat harus dipahami berdasarkan zhahir dan hakikatnya, saya ingin bertanya kembali, apa makna hadist berikut ini : “Allah berfirman : ”Barangsiapa memusuhi wali-Ku sungguh Ku-umumkan perang kepadanya, tiadalah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan hal – hal yang fardhu, dan Hamba-Ku terus mendekat kepada-Ku dengan hal–hal yang sunnah baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya maka Aku menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, dan menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya yang ia gunakan untuk melangkah, bila ia meminta pada-Ku niscaya Ku-beri permintaannya….” (Shahih Bukhari hadits No.6137)”.
    YANG INGIN SAYA TANYAKAN ADALAH APA MAKNA KALIMAT: “………Bila Aku mencintainya maka Aku menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, dan menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya yang ia gunakan untuk melangkah……….”

  130. Al-Hâfizh Ibn Asakir dalam Tabyîn Kadzib al-Muftarî menuliskan pernyataan al-Imâm al-Bayhaqi dengan sanad-nya dari Yahya ibn Fadlillah al-Umari, dari Makky ibn Allan, berkata: Telah mengkabarkan kepada kami al-Hâfizh Abu al-Qasim ad-Damasyqi, berkata: Telah mengkabarkan kepada kami Syaikh Abu Abdillah Muhammad ibn al-Fadl al-Furawy, berkata: Telah mengkabarkan kepada kami al-Hâfizh Abu Bakar Ahmad ibn al-Husain ibn Ali al-Bayhaqi, bahwa ia (al-Bayhaqi) berkata: “Sesungguhnya sebagian para Imam kaum Asy’ariyyah -semoga Allah merahmati mereka- mengingatkanku dengan sebuah hadits yang diriwayatkan dari ‘Iyadl al-Asy’ari, bahwa ketika turun firman Allah: (Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan kaum tersebut mencintai Allah) QS. Al-Ma’idah: 54, Rasulullah kemudian berisyarat kepada sahabat Abu Musa al-Asy’ari, seraya berkata: “Mereka adalah kaum orang ini”. Dalam hadits ini terdapat isyarat akan keutamaan dan derajat mulia bagi al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari, karena tidak lain beliau adalah berasal dari kaum dan keturunan sahabat Abu Musa al-Asy’ari. Mereka adalah kaum yang diberi karunia ilmu dan pemahaman yang benar. Lebih khusus lagi mereka adalah kaum yang memiliki kekuatan dalam membela sunah-sunnah Rasulullah dan memerangi berbagai macam bid’ah. Mereka memiliki dalil-dalil yang kuat dalam memerangi bebagai kebatilan dan kesesatan. Dengan demikian pujian dalam ayat di atas terhadap kaum Asy’ariyyah, bahwa mereka kaum yang dicintai Allah dan mencintai Allah, adalah karena telah terbukti bahwa akidah yang mereka yakini sebagai akidah yang hak, dan bahwa ajaran agama yang mereka bawa sebagai ajaran yang benar, serta terbukti bahwa mereka adalah kaum yang memiliki kayakinan yang sangat kuat. Maka siapapun yang di dalam akidahnya mengikuti ajaran-ajaran mereka, artinya dalam konsep meniadakan keserupaan Allah dengan segala makhluk-Nya, dan dalam metode memegang teguh al-Qur’an dan Sunnah, sesuai dan sejalan dengan faham-faham Asy’ariyyah maka ia berarti termasuk dari golongan mereka”.

  131. Ada yang mengatakan bahwa asy’ariyyah itu sesat. benarkah demikian?
    Al-Imâm Tajuddin as-Subki (w 771 H) dalam Thabaqât asy-Syâfi’iyyah mengutip perkataan al-Imâm al-Ma’ayirqi; seorang ulama terkemuka dalam madzhab Maliki, menuliskan sebagai berikut: “Sesungguhnya al-Imâm Abu al-Hasan bukan satu-satunya orang yang pertama kali berbicara membela Ahlussunnah. Beliau hanya mengikuti dan memperkuat jejak orang-orang terkemuka sebelumnya dalam pembelaan terhadap madzhab yang sangat mashur ini. Dan karena beliau ini maka madzhab Ahlussunnah menjadi bertambah kuat dan jelas. Sama sekali beliau tidak membuat pernyataan pernyataan yang baru, atau membuat madzhab baru.
    Sebagaimana telah engkau ketahui, bahwa madzhab para penduduk Madinah adalah madzhab yang dinisbatkan kepada al-Imâm Malik, dan siapapun yang
    mengikuti madzhab penduduk Madinah ini kemudian disebut seorang yang bermadzhab Maliki (Mâliki). Sebenaranya al-Imâm Malik tidak membuat ajaran
    baru, beliau hanya mengikuti ajaran-ajaran para ulama sebelumnya. Hanya saja dengan adanya al-Imâm Malik ini, ajaran-ajaran tersebut menjadi sangat formulatif, sangat jelas dan gamblang, hingga kemudian ajaran-ajaran tersebut dikenal sebagai madzhab Maliki, karena disandarkan kepada nama beliau sendiri. Demikian pula yang terjadi dengan al-Imâm Abu al-Hasan. Beliau hanya dan menjelaskan dengan rincian-rincian dalil tentang segala apa yang di masa Salaf sebelumnya belum diungkapkan”.
    Kemudian al-Imâm Tajuddin as-Subki juga menuliskan sebagai berikut: “Kaum Malikiyyah (orang-orang yang bermadzhab Maliki) adalah orang-orang
    yang sangat kuat memegang teguh akidah Asy’ariyyah. Yang kami tahu tidak ada seorangpun yang bermadzhab Maliki kecuali ia pasti seorang yang berakidah Asy’ari. Sementara dalam madzhab lain (selain Maliki), yang kami tahu, ada beberapa kelompok yang keluar dari madzhab Ahlussunnah ke madzhab Mu’tazilah atau madzhab Musyabbihah. Namun demikian, mereka yang menyimpang dan sesat ini adalah firqah-firqah kecil yang sama sekali tidak
    berpengaruh”.
    Masih dalam kitab Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, al-Imâm Tajuddin as-Subki juga menuliskan sebagai berikut: “Aku telah mendengar dari ayahku sendiri, asy-Syaikh al-Imâm (Taqiyuddin as- Subki) berkata bahwa risalah akidah yang telah ditulis oleh Abu Ja’far ath- Thahawi (akidah Ahlussunnah yang dikenal dengan al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah) persis sama berisi keyakinan yang diyakini oleh al-Asy’ari, kecuali dalam tiga perkara saja. Aku (Tajuddin as-Subki) katakan: Abu Ja’far ath-Thahawi wafat di Mesir pada tahun 321 H, dengan demikian beliau hidup semasa dengan Abu al- Hasan al-Asy’ari (w 324 H) dan Abu Manshur al-Maturidi (w 333 H). Dan saya tahu persis bahwa orang-orang pengikut madzhab Maliki semuanya adalah kaum Asy’ariyyah, tidak terkecuali seorangpun dari mereka. Demikian pula dengan para pengikut madzhab asy-Syafi’i, kebanyakan mereka adalah kaum Asy’ariyyah, kecuali beberapa orang saja yang ikut kepada madzhab Musyabbihah atau madzhab Mu’tazilah yang telah disesatkan oleh Allah. Demikian pula dengan kaum Hanafiyyah, kebanyakan mereka adalah orang-orang Asy’ariyyah, sedikitpun mereka tidak keluar dari madzhab ini kecuali beberapa saja yang mengikuti madzhab Mu’tazilah. Lalu, dengan kaum Hanabilah (para pengikut madzhab Hanbali), orang-orang terdahulu dan yang terkemuka di dalam madzhab ini adalah juga kaum Asy’ariyyah, sedikitpun mereka tidak keluar dari madzhab ini kecuali orang-orang yang mengikuti madzhab Musyabbihah Mujassimah. Dan yang mengikuti madzhab Musyabbihah Mujassimah dari orang-orang madzhab Hanbali ini lebih banyak dibanding dari para pengikut madzhab lainnya”.
    Al-Imâm al-Hâfizh Muhammad Murtadla az-Zabidi (w 1205 H) dalam pasal ke dua pada Kitab Qawâ-id al-‘Aqâ-id dalam kitab Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn Bi Syarh Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, menuliskan sebagai berikut: “Jika disebut nama Ahlussunnah Wal Jama’ah maka yang dimaksud adalah kaum Asy’ariyyah dan kaum Maturidiyyah”.
    Asy-Syaikh Ibn Abidin al-Hanafi (w 1252 H) dalam kitab Hâsyiyah Radd al-Muhtâr ‘Alâ ad-Durr al-Mukhtâr, menuliskan: “Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah kaum Asy’ariyyah dan Maturidiyyah”.
    Asy-Syaikh al-Khayali dalam kitab Hâsyiyah ‘Alâ Syarh al-‘Aqâ’id menuliskan sebagai berikut: “Kaum Asy’ariyyah adalah kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah.
    Madzhab ini sangat mashur di wilayah Khurrasan (Iran), Irak, Syam (Siria, Lebanon, Yordania, dan Pelestina), dan di berbagai penjuru dunia. Adapun di wilayah seberang sungai Jaihun (Bilâd Mâ Warâ’ an-Nahr) Ahlussunnah lebih dikenal sebagai kaum al-Maturidiyyah; para pengikut al-Imâm Abu Manshur al-Maturidi”.
    Asy-Syaikh al-Kastuli al-Hanafi (w 901 H) juga dalam kitab Hasyiah ‘Alâ Syarh al-‘Aqâ-id menuliskan: “Yang dikenal sangat mashur sebagai Ahlussunnah di wilayah Khurrasan, Irak, Syam, dan di berbagai penjuru dunia adalah kaum Asy’ariyyah; para pengikut al- Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari. Beliau adalah orang yang pertama kali menentang faham-faham Ali al-Jubba’i (pemuka kaum Mu’tazilah) dan keluar dari madzhabnya. Al-Imâm al-Asy’ari kemudian kembali kepada jalan sunnah, jalan yang telah digariskan oleh Rasulullah, setelah sebelumnya ikut faham al-Jubba’i. Dan maksud dari al-Jama’ah adalah para sahabat Rasulullah dan orang-orang yang mengikuti mereka. Adapun di wilayah seberang sungai Jaihun, Ahlussunnah lebih dikenal sebagai kaum al-Maturidiyyah, para pengikut al-Imâm Abu Manshur al- Maturidi. Perbedaan antara keduanya hanya dalam beberapa masalah saja yang bukan dalam masalah-masalah prinsip. Karena itu kedua kelompok ini tidak pernah saling menyesatkan satu sama lainnya hanya karena perbedaan tersebut”.
    Al-‘Ârif Billâh al-Imâm as-Sayyid Abdullah ibn Alawi al-Haddad (w 1132 H), Shâhib ar-Râtib, dalam karyanya berjudul Risâlah al-Mu’âwanah menuliskan sebagai
    berikut: “Hendaklah engkau memperbaiki akidahmu dengan keyakinan yang benar dan meluruskannya di atas jalan kelompok yang selamat (al-Firqah an-Nâjiyah). Kelompok yang selamat ini di antara kelompok-kelompok dalam Islam adalah dikenal dengan sebutan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Mereka adalah kelompok yang memegang teguh ajaran Rasulullah dan para sahabatnya. Dan engkau apa bila berfikir dengan pemahaman yang lurus dan dengan hati yang bersih dalam melihat teks-teks al-Qur’an dan Sunnah-Sunnah yang menjelaskan dasar-dasar keimanan, serta melihat kepada keyakinan dan perjalanan hidup para ulama Salaf saleh dari para sahabat Rasulullah dan para Tabi’in, maka engkau akan mengetahui dan meyakini bahwa kebenaran akidah adalah bersama kelompok yang dinamakan dengan al-Asy’ariyyah, golongan yang namanya dinisbatkan kepada asy-Syaikh Abu al-Hasan al-Asy’ari -Semoga rahmat Allah selalu tercurah baginya-. Beliau adalah orang yang telah menyusun dasar-dasar akidah Ahl al-Haq dan telah memformulasikan dalil-dalil akidah tersebut. Itulah akidah yang disepakati kebenarannya oleh para sahabat Rasulullah dan orang-orang sesudah mereka dari kaum tabi’in terkemuka. Itulah akidah Ahl al-Haq setiap genarasi di setiap zaman dan di setiap tempat. Itulah pula akidah yang telah diyakini kebenarannya oleh para ahli tasawwuf sebagaimana telah dinyatakan oleh Abu al Qasim al-Qusyairi dalam pembukaan Risâlah-nya (ar-Risâlah al-Qusyairiyyah). Itulah pula akidah yang telah kami yakini kebenarannya, serta merupakan akidah seluruh keluarga Rasulullah yang dikenal dengan as-Sâdah al-Husainiyyîn, yang dikenal pula dengan keluarga Abi Alawi (Al Abî ‘Alawi). Itulah pula akidah yang telah diyakini oleh kakek-kakek kami terdahulu dari semenjak zaman Rasulullah hingga hari ini. Dan
    ketahuilah bahwa akidah al-Maturidiyyah adalah akidah yang sama dengan akidah al-Asy’ariyyah dalam segala hal yang telah kita sebutkan.
    Al-Imâm al-Hâfizh Ibn ‘Asakir dalam kitab Tabyin Kadzib al-Muftari menuliskan: “Tidak mungkin bagiku untuk menghitung bintang di langit, karenanya aku
    tidak akan mampu untuk menyebutkan seluruh ulama Ahlussunnah di atas madzhab al-Asy’ari ini; dari mereka yang telah terdahulu dan dalam setiap masanya, mereka berada di berbagai negeri dan kota, mereka menyebar di setiap pelosok, dari wilayah Maghrib (Maroko), Syam (Siria, lebanon, Palestin, dan
    Yordania), Khurrasan dan Irak”.
    Al-Muhaddits al-Hâfizh asy-Syaikh Abdullah al-Harari al-Habasyi (w 1430 H) dalam banyak karyanya menuliskan syair sebagai berikut:
    “(al-Hâfizh) al-Bayhaqi adalah seorang yang berkeyakinan Asy’ari, demikian pula (al-Hâfizh) Ibn Asakir; seorang Imam yang menjadi sandaran. Dia (al-Hâfizh Ibn Asakir) adalah seorang ahli hadits yang paling utama di masanya di seluruh daratan Syam (sekarang Siria, Lebanon, Yordania, dan Palestina).
    Demikian pula panglima Shalahuddin al-Ayyubi berakidah Asy’ari; dialah orang yang telah menghancurkan tentara kafir yang zhalim (Membebaskan Palestina dari tentara Salib). Mayoritas umat ini adalah Asy’ariyyah, argumen-argumen mereka sangat kuat dan sangat jelas. Mereka adalah para Imam, para ulama terkemuka, dan orang-orang pilihan, yang jumlah mereka tidak dapat dihitung. Katakan oleh kalian terhadap mereka yang mencaci-maki Asy’ariyyah:
    “Kelompok kalian adalah kelompok batil dan tertolak”. Dan al-Maturidiyyah sama dengan al-Asy’ariyyah di dalam pokok-pokok akidah. Perbedaan antara keduanya hanya dalam beberapa pasal saja (yang tidak menjadikan keduanya saling menyesatkan). Mereka adalah kelompok yang selamat. Sandaran mereka adalah Sunnah Rasulullah terdahulu. Mereka telah menyatukan antara Itsbat dan Tanzîh. Dan mereka telah menafikan Ta’thil dan Tasybîh.
    Maka seorang yang berfaham Asy’ari ia juga pastilah seorang berfaham Maturidi. Dan katakan olehmu bahwa seorang Maturidi pastilah pula ia seorang Asy’ari.

  132. Kaum Mujassim Musyabbih seperti abu aisyah, abu dzar dkknya, berpendapat bahwa, ayat dan hadist yg berkaitan dengan sifat Allah swt. harus dipahami secara hakikat dan zahirnya, mereka pun menolak takwil. berikut kerancuan pemahaman mereka :
    1. mereka mengatakan bahwa Allah swt. memiliki jiwa, raga dan tubuh, dalilnya adalah وَيُحَذّرُكُمُ اللهُ نَفْسَه (ءال عمران: 28) ، تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلا أعْلَمُ مَا افِي نَفْسِكَ (المائدة116, makna zahirnya yang seakan mengatakan bahwa Allah memiliki jiwa, raga, tubuh, atau fisik].
    Sedangkan ahlussunah wal jama’ah mengatakan, Makna “nafs”, “نفس” pada ayat-ayat di atas bukan dalam pengertian bahwa Allah memiliki jiwa, raga atau tubuh (fisik). Para ahli tafsir berkata: “ويحذركم الله نفسه” artinya: “Wa Yuhadz-dzirukumullâh Iyyâh”, “ويحذركم الله إياه”; maksudnya: “Allah mengingatkan kalian supaya kalian takut terhadap-Nya” [bukan maknanya supaya kalian takut kepada jiwa dan raga Allah].
    2. merekapun mengatakan bahwa Allah swt. memiliki betis, dalilnya adalah يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ (القلم: 42), makna zahirnya yang seakan mengatakan bahwa Allah memiliki betis (bagian dari kaki) dan bahwa Allah akan membuka betis-Nya tersebut.
    maka, kita katakan kepada mereka, Makna yang benar sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama bahwa yang dimaksud “Sâq”, “ساق” dalam ayat ini adalah “asy-Syiddah”, “الشدة”, artinya “kesulitan yang sangat dahsyat”; dengan demikian makna ayat tersebut adalah: “Hari di mana kesulitan yang sangat dahsyat akan diangkat (dihilangkan)”. Ibnu Qutaybah berkata: “Dasar penggunaan kata “Sâq” dalam makna ini adalah karena bila seseorang tengah menghadapi urusan yang besar dan dahsyat maka ia membutuhkan kepada kekuatan tekad dan kesungguhan dalam menghadapinya, lalu ia menyingsingkan celananya hingga nampak betisnya, dari sini kemudian kata “Sâq” dalam bahwa Arab biasa dipergunakan (dipinjamkan) untuk mengungkapkan tentang adanya kesulitan yang sangat dahsyat” [dalam Istilah Ilmu Balaghah disebut Majâz Isti’ârah].
    3. mereka pun mengatakan bahwa Allah swt. adalah ruh, dalilnya adalah فَنَفَخْنَا فِيْها مِنْ رُوْحِنَا (الأنبياء: 91), makna literalnya mengatakan: ”Maka Kami (Allah) tiupkan padanya (Maryam) dari ruh Kami”. Makna literal ini seakan mengatakan bahwa Allah adalah ruh yang sebagian dari ruh tersebut adalah ruh Nabi Isa]
    sedangkan ahlussunah wal jama’ah mengatakan, Para ahli tafsir berkata: ”Yang dimaksud ”Min Rûhinâ” , ”من روحنا” adalah ”Min Rahmatinâ”, ”من رحمتنا” ; artinya bahwa Allah memberikan rahmat dan kemuliaan bagi Nabi Isa. Adapun penyebutan kata ”روح” dalam ayat tersebut dengan disandarkan kepada Allah (yaitu kepada zhamîr ”نا”) adalah karena kejadian peristiwa tersebut (penciptaan Nabi Isa) dengan perintah Allah.
    4. mereka pun, tanpa malu malu mengatakan, bahwa Allah swt. dapat disakiti dan diperangi, dalilnya adalah, يُؤْذُوْنَ اللهَ (الأحزاب: 57), makna literalnya yang seakan bahwa Allah disakiti atau diperangi.
    sedangkan ahlussunah wal jama’ah mengatakan, yang dimaksud dengan ”يؤذون الله” dalam ayat ini adalah dalam makna: ”Yu-dzûna Awliyâ-ahu”, ”يؤذون أوليائه” ; artinya yang disakiti di sini adalah para wali Allah.
    5. mereka pun mengatakan, bahwa Allah swt. memiliki dagu yg akan diletakkan kepada hambaNya, kaum mujassim musyabbih berpendapat dengan hadist riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Sahih masing-masing meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah bersabda:
    (قيل) يُدنى الْمؤمِن منْ ربّه فيَضَع عَليْه كَنفَه، فيقُولُ: تَعْرفُ ذَنْبَ كَذا؟
    [“Seorang mukmin akan didekatkan kepada Tuhannya, lalu Tuhannya meletakan dagu padanya, berkata: “Tahukah (ingatkah) engkau dosa ini?”].
    Para ulama [Ahlussunnah Wal Jama’ah] berkata: “Makna hadits ini adalah untuk mengungkapkan bahwa Allah memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya bagi seorang mukmin”.
    Imam Ibn al-Anbari berkata: “Makna “كنفه” dalam redaksi hadits ini adalah dalam pengertian perlindungan dan penjagaan dari Allah terhadap seorang mukmin [artinya, Allah menutupinya dari keburukan-keburukan, jadi makna “الكنف” di sini adalah “الإحاطة والستر”; melindungi dan menutupi]. Dalam bahasa Arab jika dikatakan: “قد كنف فلان فلانا” maka artinya; “si fulan A telah melindungi dan menutupi si fulan B”. Atau dalam bahasa bila dikatakan; “شىء كنف شيئا”; maka makna “كنف” di sini artinya menutupi (ستر). Lalu dalam bahasa Arab; kata “الترس” terkadang disebut pula dengan kata “الكنيف”; yaitu kayu penyangga pintu dari arah belakang untuk menguncinya. Kata “الترس” ini disebut dengan “الكنيف” oleh karena menutupi dan menjaga pemiliki rumah yang ada di dalamnya.

  133. saat ini, ada kaum mujassim musyabbih seperti abu aisyah, abu dzar, ummu hasanah dkknya, yg memaknai ayat dan hadist yg berkaitan dengan sifat Allah secara zahir dan hakikat.
    Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Sahih masing-masing meriwayatkan dari hadits sahabat Abu Hurairah bahwa ada seseorang yang datang menghadap Rasulullah;
    (قيل) عَنْ أبِي هُريرَة رَضي الله عنْه أنّ رجُلا أتَى النّبيَ صَلّى الله عليه وَسلّم، فقال: إنّي مَجْهوْد، فقال صلّى الله عليه وسَلّم: مَنْ يُضيفُه هَذه اللّيلَة؟ فقَام رَجُلٌ منَ الأنْصَار فقَال: أنَا يَا رسُوْلَ الله. فانْطَلَق بهِ إلَى امْرأتهِ، فقَال: هَلْ عِنْدَكِ شىءٌ؟ قالَتْ: لا إلاّ قُوْت صِبيَانِي، فقَال: فَعَلّلِيْهِمْ بشَىء إذَا أرَاد الصّبيةُ العشَاءَ فنَوّمِيْهِم، فإذَا دخَل ضَيفُنَا فأطْفِئِي السّرَاجَ وأريْهِ أنّا نَأكُل. فَقَعَدُوا وَأكَل الضّيفُ، فُلمّا أصْبَح غَدَا عَلى النّبيّ صَلّى اللهُ عَليهِ وَسَلّم فقَال: “لَقدْ عَجبَ الله تعالَى مِنْ صَنِيعكُمَا بضَيفِكُمَا اللّيلَة”
    [Dari sahabat Abu Hurairah bahwa seseorang datang kepada Rasulullah, ia berkata: “Sesungguhnya saya tengah kesulitan”. Maka Rasulullah berkata [kepada para sahabatnya]: “Siapakah yang mau menjamu orang itu malam ini?”. Lalu seorang dari sahabat Anshar berdiri: “Aku wahai Rasulullah”. Maka ia pergi membawa tamu tersebut ke tempat istrinya. Ia bertanya kepada istrinya: “Adakah engkau memiliki makanan?”, istrinya menjawab: “Tidak ada, kecuali makanan anak-anak kita”. Ia berkata: “Buatlah alasan bagi mereka, jika mereka ingin makan malam maka tidurkanlah mereka, lalu jika tamu kita masuk maka matikanlah lampu dan perlihatkan kepadanya bahwa kita tengah makan [bersamanya]”. Kemudian mereka semua duduk, dan tamu tersebut makan [sementara lampu dimatikan dan kedua orang suami istri ini menggerak-gerakan tangan seakan sedang makan untuk menemani tamunya tersebut]. Di pagi harinya Rasulullah berkata kepada sahabat tersebut: “لقد عجب الله تعالى من صنيعكما بضيفكما الليلة”. [Teks ini tidak boleh kita pahami dalam makna literal, yang mengatakan: “Allah benar-benar telah heran terhadap perbuatan kalian berdua terhadap tamu kalian tadi malam. Makna literal ini seakan mengatakan bahwa Allah “heran” atau “takjub”].
    Dalam hadits lainnya, di antara hadits-hadits yang diriwayatkan menyendiri oleh Imam al-Bukhari (al-Fard), dari sahabat Abu Hurairah, dari Rasulullah berkata:
    (قيل) عَجَبَ اللهُ منْ قَوْمٍ جرَّ بِهِمْ فِي السّلاسِل حَتّى يُدْخلُهُم الْجَنّة
    [Makna literal riwayat ini tidak boleh kita ambil, mengatakan: “Allah heran dari suatu kaum yang terikat pada rantai-rantai sehingga Allah memasukan mereka ke dalam surga”].
    Para ulama kita mengatakan bahwa “العجب” dalam pengertian bahasa adalah suatu keadaan yang terjadi pada diri seseorang saat ia merasa aneh terhadap sesatu yang sebelumnya tidak pernah ia ketahui, yang karena itu ia memandang sesuatu tersebut sebagai keajaiban [kata “العجب” ini terjemah literalnya berarti “heran” atau “takjub”]. Sifat seperti ini tentu tidak bolah dinyatakan bagi Allah, karena itu adalah sifat manusia.
    Makna al-‘ajab pada hak Allah bukan dalam pengertian Allah heran, tapi yang dimaksud adalah dalam pengertian bahwa perkara tersebut sesuatu yang agung dan memiliki keistimewaan bagi Allah [sebagaimana ini dapat dipahami dari konteks dan redaksi hadits di atas]. Dalam bahasa ketika dikatakan: “المتعجب من الشىء” maka pengertiannya; “يعظم قدره عنده” [artinya, seorang yang takjub atau heran terhadap sesuatu; itu artinya bahwa sesuatu tersebut memiliki keistimewaan baginya].
    Adapun kata “as-Salâsil” [dalam redaksi hadits ke dua di atas yang secara literal bermakna “rantai yang mengikat tangan dan kaki”] adalah untuk mengungkapkan bahwa orang-orang tersebut memaksa diri mereka dalam melakukan ketaatan-ketaatan kepada Allah; yang karena sebab itu mereka menjadi masuk ke dalam surga. Imam Ibnul Anbari berkata: “Pengertian al-‘Ajab pada hak Allah adalah untuk mengungkapkan bahwa Allah memberikan karunia dan nikmat yang sangat besar. Dalam hadits ini diungkapkan dengan kata al-‘Ajab untuk tujuan tersebut”.
    APAKAH MEREKA AKAN MENGATAKAN BAHWA ALLAH SWT. MEMILIKI SIFAT HERAN DAN TAKJUB

  134. @abu aisyah
    Penjelasan bahwa penduduk Jannah akan melihat Wajah Rabb-Nya
    Para Ulama’ menjelaskan bahwa salah satu dalil yang menunjukkan ketinggian Allah adalah bisa dilihatnya Allah nanti oleh penduduk Jannah.
    Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    Dari Jarir bin Abdillah al-Bajaliy –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: “Kami duduk pada suatu malam bersama Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam kemudian beliau melihat pada bulan pada malam tanggal 14 beliau bersabda: ‘Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat (bulan) ini, tidaklah berdesakan dalam melihatnya” (H.R al-Bukhari dan Muslim).
    JAWAB
    Ayat diatas sepertinya dijadikan argumen oleh abu aisyah untuk menetapkan arah bagi Allah swt. dalam al-Fiqh al-Akbar, Al-Imam Abu Hanifah juga menuliskan sebagai berikut : “Dan kelak orang-orang mukmin di surga nanti akan melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka melihat-Nya tanpa adanya keserupaan (tasybih), tanpa sifat-sifat benda (Kayfiyyah), tanpa bentuk (kammiyyah), serta tanpa adanya jarak antara Allah dan orang-orang mukmin tersebut (artinya bahwa Allah ada tanpa tempat, tidak di dalam atau di luar surga, tidak di atas, bawah, belakang, depan, samping kanan atau-pun samping kiri)”” ( Lihat al-Fiqh al-Akbar dengan syarah Syekh Mulla Ali al-Qari, h. 136-137).
    Pernyataan al-Imam Abu Hanifah ini sangat jelas dalam menetapkan kesucian tauhid. Artinya, kelak orang-orang mukmin disurga akan langsung melihat Allah dengan mata kepala mereka masing-masing. Orang-orang mukmin tersebut di dalam surga, namun Allah bukan berarti di dalam surga. Allah tidak boleh dikatakan bagi-Nya “di dalam” atau “di luar”. Dia bukan benda, Dia ada tanpa tempat dan tanpa arah. Inilah yang dimaksud oleh Al-Imam Abu Hanifah bahwa orang-orang mukmin akan melihat Allah tanpa tasybih, tanpa Kayfiyyah, dan tanpa kammiyyah.
    Pada bagian lain dari Syarh al-Fiqh al-Akbar, yang juga dikutip dalam al-Washiyyah, al-Imam Abu Hanifah berkata:
    ولقاء الله تعالى لأهل الجنة بلا كيف ولا تشبيه ولا جهة حق
    “Bertemu dengan Allah bagi penduduk surga adalah kebenaran. Hal itu tanpa dengan Kayfiyyah, dan tanpa tasybih, dan juga tanpa arah” (al-Fiqh al-Akbar dengan Syarah Mulla ‘Ali al-Qari’, h. 138).
    Kemudian pada bagian lain dari al-Washiyyah, beliau menuliskan:
    وَنُقِرّ بِأنّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى مِنْ غَيْرِ أنْ يَكُوْنَ لَهُ حَاجَةٌ إليْهِ وَاسْتِقْرَارٌ عَلَيْهِ، وَهُوَ حَافِظُ العَرْشِ وَغَيْرِ العَرْشِ مِنْ غَبْرِ احْتِيَاجٍ، فَلَوْ كَانَ مُحْتَاجًا لَمَا قَدَرَ عَلَى إيْجَادِ العَالَمِ وَتَدْبِيْرِهِ كَالْمَخْلُوقِيْنَ، وَلَوْ كَانَ مُحْتَاجًا إلَى الجُلُوْسِ وَالقَرَارِ فَقَبْلَ خَلْقِ العَرْشِ أيْنَ كَانَ الله، تَعَالَى اللهُ عَنْ ذَلِكَ عُلُوّا كَبِيْرًا.
    “Kita menetapkan sifat Istiwa bagi Allah pada arsy, bukan dalam pengertian Dia membutuhkan kepada arsy tersebut, juga bukan dalam pengertian bahwa Dia bertempat atau bersemayam di arsy. Allah yang memelihara arsy dan memelihara selain arsy, maka Dia tidak membutuhkan kepada makhluk-makhluk-Nya tersebut. Karena jika Allah membutuhkan kapada makhluk-Nya maka berarti Dia tidak mampu untuk menciptakan alam ini dan mengaturnya. Dan jika Dia tidak mampu atau lemah maka berarti sama dengan makhluk-Nya sendiri. Dengan demikian jika Allah membutuhkan untuk duduk atau bertempat di atas arsy, lalu sebelum menciptakan arsy dimanakah Ia? (Artinya, jika sebelum menciptakan arsy Dia tanpa tempat, dan setelah menciptakan arsy Dia berada di atasnya, berarti Dia berubah, sementara perubahan adalah tanda makhluk). Allah maha suci dari pada itu semua dengan kesucian yang agung” (Lihat al-Washiyyah dalam kumpulan risalah-risalah Imam Abu Hanifah tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 2. juga dikutip oleh Mullah Ali al-Qari dalam Syarh al-Fiqhul Akbar, h. 70).

  135. @abu aisyah al mujassim
    dan dalam kitab Dafu Syubah al-Tasybih bi-Akaffi al-Tanzih karya Imam Ibnul Jauzi, أأمنْتُمْ مَنْ فِي السّمَاء (الملك: 16) [Makna literal ayat ini tidak boleh kita ambil, makna literalnya mengatakan seakan Allah berada di langit: ”Adakah kalian merasa aman terhadap yang ada di langit?”].
    Argumen kuat dan nyata telah menegaskan bahwa yang dimaksud ayat ini bukan dalam makna zahirnya [seperti pemahaman sesat kaum Musyabbihah yang menyimpulkannya bahwa Allah berada di langit], karena dasar kata ”في” [yang artinya ”di dalam”] dalam bahasa Arab dipergunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang ”berada di dalam sebuah tempat dengan diliputi oleh tempat itu sendiri”( للظرفية ); padahal Allah tidak diliputi oleh suatu apapun. Pemahaman ayat di atas tidak sesuai jika dipahami dalam makna indrawi seperti ini, karena bila demikian maka berarti Allah diliputi oleh langit [dan itu artinya bisa jadi sama besar, lebih besar, atau lebih kecil dari langit itu sendiri]. Pemahaman yang benar adalah bahwa ayat tersebut untuk mengungkapkan keagungan dan kemuliaan Allah.

  136. @abu aisyah mujassim menggunakan ayat berikut ini untuk menetapkan tempat bagi Allah swt. yg maha suci, ““ Apakah kalian merasa aman dari (Allah) Yang Berada di atas langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, atau apakah kamu merasa aman terhadap (Allah) Yang Berada di atas langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? (Q.S al-Mulk:16-17).”
    JAWAB
    firman Allah: ”A-amintum Man Fi as-Sama’” (QS. al-Mulk: 16), bahwa yang dimaksud dengan “Man Fi as-Sama’” adalah para Malaikat. Takwil ini sebagaimana telah dinyatakan oleh al-Imam al-Hafizh al-Iraqi dalam penafsiran beliau terhadap hadits yang berbunyi:
    ارْحَمُوْا مَنْ فِي الأرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السّمَاء (رواه الترمذي)
    Al-Hafizh al-Iraqi menafsirkan hadits ini dengan hadits riwayat lainnya yang berasal dari jalur sanad Abdullah ibn Amr ibn al-Ash, dari Rasulullah, bahwa Rasulullah bersabda:
    الرّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرّحِيْمُ ارْحَمُوْا أهْلَ الأرْضِ يَرْحَمْكُمْ أهْلُ السّمَاءِ
    Al-Hafizh al-Iraqi menuliskan: “Diambil dalil dari riwayat hadits yang menyebutkan “Ahl as-Sama’” (hadits kedua di atas) bahwa yang dimaksud dengan hadits pertama (yang menyebutkan “Man Fi as-Sama’”) adalah para Malaikat” (Amali al-Iraqi, h. 77).
    Apa yang dilakukan oleh al-Hafzih al-Iraqi ini adalah sebaik-baiknya metode dalam memahami teks; yaitu menafsirkan sebuh teks yang datang dalam syari’at (warid) dengan teks lainnya yang juga warid, inilah yang disebut Tafsir al-Warib Bi al-Warid, atau dalam istilah lain disebut at-Tafsir Bi al-Ma-tsur. Karena itu al-Hafizh al-Iraqi sendiri berkata dalam Alfiah-nya:
    وَخَيْرُ مَا فَسَّرْتَهُ بالوَارِدِ كَالدُّخِّ بِالدُّخَانِ لاِبْنِ صَائِدِ
    “Sebaik-baik cara engkau menafsirkan teks yang warid adalah dengan menafsirkannya dengan teks yang warid pula, seperti penafsiran kata al-Dukh dengan makna al-Dukhan, sebagaimana telah dinyatakan oleh Ibn Sha’id”.
    Dengan demikian riwayat hadits ke dua ini menafsirkan makna firman Allah QS. al-Mulk: 16 tersebut di atas. Maka makna “yang ada di langit (Man Fi as-Sama’)” adalah para Malaikat, karena para Malaikat memiliki kekuasaan untuk menggulung bumi terhadap orang-orang musyrik seperti yang dimaksud oleh ayat tersebut. Artinya, jika para Malaikat tersebut diperintah oleh Allah untuk melakukan hal itu maka pastilah mereka akan melakukannya. Demikian pula dalam pengertian ayat seterusnya; ”Am Amintum Man Fi as-Sama…” (QS. al-Mulk: 17), yang dimaksud ayat ini adalah para Malaikat Allah. Artinya, bahwa para Malaikat yang berada di langit tersebut memiliki kekuasaan untuk mengirimkan angin keras yang dapat menghancurkan orang-orang musyrik.

  137. @abu aisyah
    Berikut salah satu dalil yg digunakan saudara abu aisyah al mujassim untuk menetapkan arah bagi Allah swt. Yang maha suci, “dan Dialah Yang Maha Menundukkan di atas hamba-hambaNya”(Q.S al-An’aam:18)”.
    JAWAB
    Al-Hâfizh Ibn al-Jawzi dalam kitab Daf’u Syubah at-Tasybîh penjelasan firman Allah: “Wa Huwa al-Qahiru Fawqa ‘Ibadih” (QS. Al-An’am: 18), Kata “fawq” dalam makna zhahir berarti “di atas”. Mereka lupa (tepatnya mereka tidak memiliki akal sehat) bahwa pengertian “fawq”, “فوق” dalam makna indrawi hanya berlaku bagi setiap jawhar dan benda saja. Mereka meninggalkan makna “fawq” dalam pengertian “Uluww al-Martabah”, “علوّ المرتبة”; “derajat yang tinggi”, padahal dalam bahasa Arab biasa dipakai ungkapan: “فلان فوق فلان”; artinya; “Derajat si fulan (A) lebih tinggi dibanding si fulan (B)”, ungkapan ini bukan bermaksud bahwa si fulan (A) berada di atas pundak si fulan (B).
    Al-Imâm Badruddin ibn Jama’ah dalam Idlah ad-Dalil menuliskan sebagai berikut: “Allah berfirman: “Wa Huwa al-Qahiru Fawqa ‘Ibadih” (QS. Al-An’am: 18), dan berfirman tentang para Malaikat: “Yakhafuna Rabbahum Min Fawqihim” (QS. An-Nahl: 50). Ketahuilah bahwa penggunaan kata fawq dalam bahasa Arab terkadang dipergunakan untuk mengungkapkan tempat yang tinggi, terkadang juga dipergunakan untuk mengungkapkan kekuasaan, juga untuk mengungkapkan derajat yang tinggi. Contoh untuk mengungkapkan kekuasaan, firman Allah: “Yadullah Fawqa Aidihim” (QS. Al-Fath: 10), dan firman-Nya: “Wa Huwa al-Qahiru Fawqa ‘Ibadih” (QS. Al-An’am: 18). Pemahaman fawq dalam dua ayat ini adalah untuk mengugkapkan kekuasaan. Contoh untuk mengungkapkan ketinggian derajat, firman Allah: “Wa Fawqa Kulli Dzi ‘Ilmin ‘Alim” (QS. Yusuf: 76). Tidak ada seorangpun yang memahami makna fawq dalam ayat ini dalam pengertian tempat, karena sangat jelas bahwa yang dimaksud adalah ketinggian kekuasaan dan kedudukan.
    Al-Imâm Ibn Jahbal dalam Risalah Fi Nafy al-Jihah ‘An Allah menuliskan sebagai berikut: “Penggunaan kata fawq dikembalikan kepada dua pengertian. Pertama; Fawq dalam pengertian tempat bagi suatu benda yang berada di atas benda lainnya. Artinya posisi benda yang pertama berada di arah kepala posisi benda yang kedua. Pemaknaan semacam ini tidak akan pernah dinyatakan bagi Allah kecuali oleh seorang yang berkeyakinan tasybîh dan tajsîm. Kedua; Fawq dalam pengertian ketinggian derajat dan kedudukan. Contoh, bila dikatakan dalam bahasa Arab: “al-Khalifah Fawq as-Sulthan Wa as-Sulthan Fawq al-Amir”, maka artinya: “Khalifah lebih tinggi kedudukannya di atas raja, dan raja lebih tinggi kedudukannya di atas panglima”, atau bila dikatakan: “Jalasa Fulan Fawq Fulan”, maka artinya: “Si fulan yang pertama kedudukannya di atas si fulan yang kedua”, atau bila dikatakan: “al-‘Ilmu Fawq al-‘Amal” maka artinya: “Ilmu kedudukannya di atas amal”. Contoh makna ini dalam firman Allah: “Wa Rafa’na Ba’dlahum Fawqa Ba’dlin Darajat” (QS. Az-Zukhruf: 32), artinya Allah meninggikan derajat dan kedudukan sebagian makhluk-Nya atas sebagian yang lain. Makna ayat ini sama sekali bukan dalam pengertian Allah menjadikan sebagian makhluk-Nya berada di atas pundak sebagian yang lain. Contoh lainnya firman Allah tentang perkataan para pengikut Fir’aun: “Wa Inna Fawqahum Qahirun” (QS. Al-A’raf: 127). Yang dimaksud ayat ini adalah bahwa para pengikut yang setia kepada Fir’aun -merasa- menguasai dan lebih tinggi kedudukannya di atas Bani Isra’il. Makna ayat ini sama sekali bukan berarti para pengikut Fir’aun tersebut berada di atas pundak-pundak atau di atas punggung-punggung Bani Isra’il” (Lihat dalam Risalah fi Nafy al-Jihah dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah, j. 9, h. 47. Risalah ini adalah bantahan keras terhadap Ibn Taimiyah yang mengatakan bahwa Allah bertempat di atas arsy).
    Al-Imâm al-Hâfizh Jalaluddin as-Suyuthi dalam al-Itqan Fi ‘Ulum al-Qur’an menuliskan tentang pemahaman fawq pada hak Allah, sebagai berikut: “…antara lain sifat fawqiyyah, seperti dalam firman-Nya: “Wa Huwa al-Qahiru Fawqa ‘Ibadih” (QS. Al-An’am: 18), dan firman-Nya: “Yakhafuna Rabbahum Min Fawqihim” (QS. An-Nahl: 50). Makna fawq dalam ayat ini bukan dalam pengertian arah atas. Makna fawq dalam ayat tersebut sama dengan makna fawq dalam firman Allah yang lain tentang perkataan Fir’aun: “Wa Inna Fawqahum Qahirun” (QS. Al-A’raf: 127), bahwa pengertiannya bukan berarti Fir’aun berada di atas pundak Bani Isra’il, tapi dalam pengertian ia menguasai Bani Isra’il”.

  138. @ABU AISYAH, ABU DZAR DAN UMMU HASANAH
    Demikianlah jawaban kami. InsyaAllah, pernyataan Abu Aisyah yg belum kami jawab, akan kami jawab kemudian. NAMUN, ALANGKAH BAIKNYA JUGA, KALIAN MENJAWAB PERTANYAAN SAYA DIATAS. BERIKUT PERTANYAAN SAYA :
    dari pernyataan kaum mujassim musyabbih seperti anda inilah, saya bertanya, apa makna hadist berikut ini :”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits No.2569).
    dari hadist tersebut, SAYA INGIN BERTANYA, APA YANG DIMAKSUD dengan firman Allah swt. dalam hadist qudsi tersebut, yaitu kalimat : “AKU SAKIT” dan kalimat “BILA KAU MENJENGUKNYA MAKA AKAN KAU TEMUI AKU DISISINYA”.
    ika anda tetap berkeyakinan bahwa ayat atau hadist mutasyabihat harus dipahami berdasarkan zhahir dan hakikatnya, saya ingin bertanya kembali, apa makna hadist berikut ini : “Allah berfirman : ”Barangsiapa memusuhi wali-Ku sungguh Ku-umumkan perang kepadanya, tiadalah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan hal – hal yang fardhu, dan Hamba-Ku terus mendekat kepada-Ku dengan hal–hal yang sunnah baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya maka Aku menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, dan menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya yang ia gunakan untuk melangkah, bila ia meminta pada-Ku niscaya Ku-beri permintaannya….” (Shahih Bukhari hadits No.6137)”.
    YANG INGIN SAYA TANYAKAN ADALAH APA MAKNA KALIMAT: “………Bila Aku mencintainya maka Aku menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, dan menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya yang ia gunakan untuk melangkah……….”

  139. KEENAM
    @abu aisyah : “Para ulama sering mengatakan : “ tafakkaruu fi khalqillaah wa laa tafakkaruu fi dzatillaah ”; ” Silakan berpikir tentang ciptaan Allah, namun jangan berpikir tentang Dzat-Nya”.
    JAWAB
    TUH SUDAH DIJAWAB OLEH MAS LASYKAR

  140. KELIMA
    @abu aisyah
    Ada logika yang diyakini sebagian orang ;“ Kalau Allah di atas Arsy, lalu dimana Dia sebelum Arsy itu diciptakan ?”. Apakah Dia sebelumnya berada di suatu “ tempat ”, kemudian pindah ke atas Arsy?. Mungkinkah Dzat Allah berpindah-pindah?, Sungguh mustahil. Logika demikian kan sangat kelihatan kalau si penanya berpikir dalam dimensi makhluk. Dia ingin memahami Allah dengan persepsi makhluk. Sebenarnya, Allah mau mengambil “ posisi ” dimanapun, itu hak Dia. Andaikan Allah tidak menunjuki diri-Nya di atas Arsy, tidak ada masalah bagi-Nya. Tetapi karena kasih-sayang Allah, di atas Keghaiban-Nya, Dia ingin memudahkan manusia memahami keghaiban itu, maka Dia berkehendak istiwa’ di atas Arsy. Dengan demikian, manusia mendapati satu kemudahan ketika ditanya “aina Allah” (dimana Allah).. Maka kita bisa menjawab secara pasti: Fis sama’i ‘alal Arsy (di langit, di atas Arsy).
    Mungkinkah Allah berpindah-pindah dari satu posisi ke posisi lain?.
    JAWAB
    “Abi Razin radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku berkata, wahai Rasulullah, di manakah Tuhan kita sebelum menciptakan makhluk-Nya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah ada tanpa sesuatu apapun yang menyertainya. Di atasnya tidak ada sesuatu dan di bawahnya tidak ada sesuatu. Lalu Allah menciptakan Arasy di atas air.” Ahmad bin Mani’ berkata, bahwa Yazid bin Harun berkata, maksud hadits tersebut, Allah ada tanpa sesuatu apapun yang menyertai (termasuk tempat). Al-Tirmidzi berkata: “hadits ini bernilai hasan”. (Sunan al-Tirmidzi, [3109]).
    Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya: “Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku berada bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang sekelompok dari penduduk Yaman dan berkata: “Kami datang untuk belajar agama dan menanyakan tentang permulaan yang ada ini, bagaimana sesungguhnya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah telah ada dan tidak ada sesuatu apapun selain Allah.” (HR. al-Bukhari [3191]).
    Nabi Muhammad sw. pun telah mengabarkan bahwa Allah swt. itu telah ada sebelum segala sesuatu itu ada (termasuk ‘arasy).
    kemudian, yg mengatakan bahwa Allah itu bergerak dan ber pindah pindah adalah orang seperti anda. seperti yang anda katakan : “bahwa ayat atau hadist mutasyabihat harus dipahami berdasarkan zhahir dan hakikatnya”. ada sebuah hadist “Yanzilu Rabbunâ…” (Hadîts an-Nuzûl), saya lupa redaksinya, mungkin sahabat sahabat kami ada yg dapat menunjukkannya. dan makna zahir ”nuzûl” adalah pindah dengan bergerak dari satu tempat (atas) ke tempat yang lain (bawah).
    “Aku memiliki seorang budak perempuan yang selalu menggembala kambing. Maka suatu hari ia pergi [untuk menggembala] dan ternyata salah satu kambing telah dimangsa oleh srigala, maka aku memukul budak tersebut dengan satu pukulan. Lalu aku mendatangi Rasulullah menyesali perbuatanku tersebut, aku berkata: “Tidakkah aku merdekakan saja ia?”, Rasulullah berkata: “Datangkan budak itu kepadaku”. Lalu Rasulullah berkata kepadanya (budak): “Di mana Allah?”, budak menjawab: “Di langit”, Rasulullah berkata: “Siapa aku?”, budak menjawab: “Engkau adalah Rasulullah”. Rasulullah berkata: “Merdekakanlah ia, karena sungguh ia seorang mukmin”].
    Imam Ibn Al Jauzi berkata: “Para ulama (Ahlussunnah Wal Jama’ah) telah menetapkan bahwa Allah tidak diliputi oleh langit dan bumi serta tidak diselimuti oleh segala arah [artinya Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah; karena tempat dan arah adalah makhluk-Nya]. Adapun bahwa budak perempuan tersebut berisyarat dengan mengatakan di arah langit adalah untuk tujuan mengagungkan Allah [Artinya bahwa Allah sangat tinggi derajat-Nya]. Dan pertanyaan Rasulullah tersebut dalam makna “Bagaimana engkau mengagungkan Allah?”.

  141. KEEMPAT
    @abu aisyah : “Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa ada kalanya dalam diri manusia timbul pikiran-pikiran aneh karena bisikan syaitan. Misalnya dia berpikir,bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Allah. Lalu siapa yang menciptakan Allah ?”.
    JAWAB
    firman Allah subhanahu wa ta‘ala: “Dialah (Allah) Yang Maha Awal (wujudnya tanpa permulaan) dan Yang Maha Akhir (Wujudnya tanpa akhir).” (QS. al-Hadid : 3). Kata al-Awwal dalam ayat ini artinya al-Azali atau al-Qadim. Maknanya tidak memiliki permulaan. Makna al-Awwal, al-Azali dan atau al-Qadim dalam pengertian ini secara mutlak hanya milik Allah saja. Tidak ada suatu apapun dari makhluk Allah yang memiliki sifat seperti ini. Karena itu segala sesuatu selain Allah disebut makhluk, karena semuanya adalah ciptaan Allah, semuanya menjadi ada karena ada yang mengadakan. Dengan demikian semua makhluk tersebut baru, semuanya ada dari tidak ada, sebagaimana firman Allah swt. : ““Allah-lah pencipta segala sesuatu.” (QS. al-Zumar : 62).”

  142. KETIGA
    @abu aisyah : “Munculnya pertanyaan,dimana Allah sebelum Dia menciptakan langit dan Arsy, hal ini lahir karena kesalahan berpikir sangat fatal, yaitu sejak awal sudah mempersepsikan Allah seperti makhluk.”.
    JAWAB
    “Abi Razin radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku berkata, wahai Rasulullah, di manakah Tuhan kita sebelum menciptakan makhluk-Nya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah ada tanpa sesuatu apapun yang menyertainya. Di atasnya tidak ada sesuatu dan di bawahnya tidak ada sesuatu. Lalu Allah menciptakan Arasy di atas air.” Ahmad bin Mani’ berkata, bahwa Yazid bin Harun berkata, maksud hadits tersebut, Allah ada tanpa sesuatu apapun yang menyertai (termasuk tempat). Al-Tirmidzi berkata: “hadits ini bernilai hasan”. (Sunan al-Tirmidzi, [3109]).
    firman Allah subhanahu wa ta‘ala: “Dialah (Allah) Yang Maha Awal (wujudnya tanpa permulaan) dan Yang Maha Akhir (Wujudnya tanpa akhir).” (QS. al-Hadid : 3). Kata al-Awwal dalam ayat ini artinya al-Azali atau al-Qadim. Maknanya tidak memiliki permulaan. Makna al-Awwal, al-Azali dan atau al-Qadim dalam pengertian ini secara mutlak hanya milik Allah saja. Tidak ada suatu apapun dari makhluk Allah yang memiliki sifat seperti ini. Karena itu segala sesuatu selain Allah disebut makhluk, karena semuanya adalah ciptaan Allah, semuanya menjadi ada karena ada yang mengadakan. Dengan demikian semua makhluk tersebut baru, semuanya ada dari tidak ada, sebagaimana firman Allah swt. : ““Allah-lah pencipta segala sesuatu.” (QS. al-Zumar : 62).”
    Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya: “Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku berada bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang sekelompok dari penduduk Yaman dan berkata: “Kami datang untuk belajar agama dan menanyakan tentang permulaan yang ada ini, bagaimana sesungguhnya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah telah ada dan tidak ada sesuatu apapun selain Allah.” (HR. al-Bukhari [3191]).
    Imam asy-Syafi’i Muhammad ibn Idris (w 204 H), seorang ulama Salaf terkemuka perintis madzhab Syafi’i, berkata: Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Kemudian Dia menciptakan tempat, dan Dia tetap dengan sifat-sifat-Nya yang Azali sebelum Dia menciptakan tempat tanpa tempat. Tidak boleh bagi-Nya berubah, baik pada Dzat maupun pada sifat-sifat-Nya” (LIhat az-Zabidi, Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn…, j. 2, h. 24).
    Dalam salah satu kitab karnya; al-Fiqh al-Akbar[selain Imam Abu Hanifah; Imam asy-Syafi’i juga menuliskan Risalah Aqidah Ahlussunnah dengan judul al-Fiqh al-Akbar], Imam asy-Syafi’i berkata: “Ketahuilah bahwa Allah tidak bertempat. Dalil atas ini adalah bahwa Dia ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Setelah menciptakan tempat Dia tetap pada sifat-Nya yang Azali sebelum menciptakan tempat, ada tanpa tempat. Tidak boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik pada Dzat-Nya maupun pada sifat-sifat-Nya. Karena sesuatu yang memiliki tempat maka ia pasti memiliki arah bawah, dan bila demikian maka mesti ia memiliki bentuk tubuh dan batasan, dan sesuatu yang memiliki batasan mestilah ia merupakan makhluk, Allah Maha Suci dari pada itu semua. Karena itu pula mustahil atas-Nya memiliki istri dan anak, sebab perkara seperti itu tidak terjadi kecuali dengan adanya sentuhan, menempel, dan terpisah, dan Allah mustahil bagi-Nya terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Karenanya tidak boleh dibayangkan dari Allah adanya sifat menempel dan berpisah. Oleh sebab itu adanya suami, istri, dan anak pada hak Allah adalah sesuatu yang mustahil” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).
    Dalam al-Fiqh al-Absath, al-Imam Abu Hanifah menuliskan: “Aku katakan: Tahukah engkau jika ada orang berkata: Di manakah Allah? Jawab: Dia Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum segala makhluk-Nya ada. Allah ada tanpa permulaan sebelum ada tempat, sebelum ada makhluk dan sebelum segala suatu apapun. Dan Dia adalah Pencipta segala sesuatu” (Lihat al-Fiqh al-Absath karya al-Imam Abu Hanifah dalam kumpulan risalah-risalahnya dengan tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 20).

  143. KEDUA
    @abu aisyah : “Bagaimana cara Allah bersemayam di atas Arsy,hal itu merupakan perkara ghaib. Kita tidak boleh mengatakan ; Allah disana “duduk”, “berdiri”,“menempel”, “mengambang”, dll., karena memang semua itu tak dijelaskan oleh-Nya dan oleh Nabi-Nya Shallalalahu ‘Alaihi Wasallam. Termasuk pertanyaan; apakah Arsy itu berupa ruang, udara kosong, dimensi nihil, atau apapun ?. Semua itu tidak usah dipikirkan dan ditanyakan. Dengan sendirinya, jika Istiwa’ Allah di atas Arsy tak usah ditanyakan, maka bagaimana keadaan Allah sebelum menciptakan Arsy, lebih tak perlu ditanyakan lagi.”
    kemudian, abu aisyah mujassim musyabbih ini pernah berkata : “bahwa ayat atau hadist mutasyabihat harus dipahami berdasarkan zhahir dan hakikatnya”.
    JAWAB
    Dalam kitab Dafu Syubah al-Tasybih bi-Akaffi al-Tanzih karya Imam Ibnul Jauzi, beliau menjelaskan kesalahan kaum mujassim musyabbih seperti abu aisyah, abu dzar, ummu hasanah dan cs mereka.
    pertama, Mereka selalu menamakan setiap teks yang memberitakan tentang Allah sebagai sifat-sifat-Nya, padahal tujuan teks-teks tersebut hanya untuk mengungkapkan penyandaran saja (al-Idlâfah). [Artinya penyandaran sesuatu kepada nama Allah untuk menunjukan bahwa Allah memuliakan sesuatu tersebut]. Sementara, tidak setiap bentuk Idlâfah itu dalam pengertian sifat, contohnya firman Allah tentang Nabi Isa:
    وَنَفَخْتُ فيْه مِنْ رُوْحِي (الحجر: 29)
    Kata ”من روحي” dalam ayat ini tidak boleh dipahami bahwa Allah memiliki sifat yang disebut dengan ”ruh” [lalu sebagian ruh tersebut adalah bagian dari Nabi Isa yang ditiupkan kepadanya]. (Tetapi yang dimaksud adalah bahwa ruh tersebut adalah ruh yang dimuliakan oleh Allah). Barangsiapa memahami bahwa setiap Idlâfah itu sebagai sifat maka dia seorang yang telah sesat dan ahli bid’ah.
    kedua, Mereka selalu saja berkata: ”Hadits-hadits yang kita bicarakan ini adalah hadits-hadits mutasyâbihât yang maknanya tidak diketahui oleh siapapun kecuali oleh Allah saja”, lalu mereka berkata: ”Kita harus memahami hadits-hadits tersebut sesuai makna zahirnya”.
    Kata-kata seperti ini adalah ungkapan yang sangat aneh, mereka mengatakan ”Makna-maknanya tidak diketahui oleh siapapun kecuali oleh Allah saja”, tapi begitu mereka sendiri memaknai itu semua dalam makna zahirnya. Padahal siapapun tahu bahwa makna zahir dari kata ”Istawâ” adalah duduk, dan makna zahir ”nuzûl” adalah pindah dengan bergerak dari satu tempat (atas) ke tempat yang lain (bawah). [Lalu adakah pantas jika Allah disifati dengan sifat-sifat benda semacam ini? Allah maha suci dari apa yang dikatakan oleh orang-orang kafir dengan kesucian yang agung].
    APA YANG DIKATAKAN OLEH IMAM IBNU AL JAUZI, MIRIP SEKALI DENGAN ABU AISYAH DIATAS

  144. @abu aisyah mujassim musyabbih
    PERTAMA
    Dalam kitab Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, al-Imâm Tajuddin as-Subki juga menuliskan sebagai berikut: “Aku telah mendengar dari ayahku sendiri, asy-Syaikh al-Imâm (Taqiyuddin as- Subki) berkata bahwa risalah akidah yang telah ditulis oleh Abu Ja’far ath-Thahawi (akidah Ahlussunnah yang dikenal dengan al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah) persis sama berisi keyakinan yang diyakini oleh al-Asy’ari, kecuali dalam tiga perkara saja. Aku (Tajuddin as-Subki) katakan: Abu Ja’far ath-Thahawi wafat di Mesir pada tahun 321 H, dengan demikian beliau hidup semasa dengan Abu al-Hasan al-Asy’ari (w 324 H) dan Abu Manshur al-Maturidi (w 333 H). Dan saya tahu persis bahwa orang-orang pengikut madzhab Maliki semuanya adalah kaum Asy’ariyyah, tidak terkecuali seorangpun dari mereka. Demikian pula dengan para pengikut madzhab asy-Syafi’i, kebanyakan mereka adalah kaum Asy’ariyyah, kecuali beberapa orang saja yang ikut kepada madzhab Musyabbihah atau madzhab Mu’tazilah yang telah disesatkan oleh Allah. Demikian pula dengan kaum Hanafiyyah, kebanyakan mereka adalah orang-orang Asy’ariyyah, sedikitpun mereka tidak keluar dari madzhab ini kecuali beberapa saja yang mengikuti madzhab Mu’tazilah. Lalu, dengan kaum Hanabilah (para pengikut madzhab Hanbali), orang-orang terdahulu dan yang terkemuka di dalam madzhab ini adalah juga kaum Asy’ariyyah, sedikitpun mereka tidak keluar dari madzhab ini kecuali orang-orang yang mengikuti madzhab Musyabbihah Mujassimah. Dan yang mengikuti madzhab Musyabbihah Mujassimah dari orang-orang madzhab Hanbali ini lebih banyak dibanding dari para pengikut madzhab lainnya”.
    Al-Imam Abu Ja’far al-Thahawi juga berkata dalam al-’Aqidah al-Thahawiyyah, “Allah subhanahu wa ta‘ala tidak dibatasi oleh arah yang enam.”
    Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- berkata: “Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.
    Salah seorang ulama besar dan sangat terkemuka di masanya, yaitu al-Imâm Abu al-Abbas al-Hanafi; yang dikenal dengan sebutan Qadli al-Askari, adalah salah seorang Imam terkemuka di kalangan ulama madzhab Hanafi dan merupakan Imam terdahulu dan sangat senior hingga menjadi rujukan dalam disiplin Ilmu Kalam. Di antara pernyataan Qadli al-Askari yang dikutip oleh al-Hâfizh Ibn Asakir dalam kitab Tabyîn Kadzib al-Muftarî adalah sebagai berikut:
    “Saya menemukan kitab-kitab hasil karya Abu al-Hasan al-Asy’ari sangat banyak sekali dalam disiplin ilmu ini (Ilmu Usuluddin), hampir mencapai dua ratus karya, yang terbesar adalah karya yang mencakup ringkasan dari seluruh apa yang beliau telah tuliskan. Di antara karya-karya tersebut banyak yang beliau tulis untuk meluruskan kesalahan madzhab Mu’tazilah. Memang pada awalnya beliau sendiri mengikuti faham Mu’tazilah, namun kemudian Allah memberikan pentunjuk kepada beliau tentang kesesatan-kesesatan mereka. Demikian pula beliau telah menulis beberapa karya untuk membatalkan tulisan beliau sendiri yang telah beliau tulis dalam menguatkan madzhab Mu’tazilah terhadulu. Di atas jejak Abu al-Hasan ini kemudian banyak para pengikut madzhab asy-Syafi’i yang menapakkan kakinya. Hal ini terbukti dengan banyaknya para ulama pengikut madzhab asy-Syafi’i yang kemudian menulis banyak karya teologi di atas jalan rumusan Abu al-Hasan”.

  145. Semoga situs ummatipress.com selalu istiqomah dalam berdakwah. Saya harap di dalam situs ini ada ruang khusus kaum ASWAJA, sehingga para pengunjung ASWAJA bisa fokus dan khusus dalam mengaji ilmu, dan tak terganggu oleh perkataan orang-orang SAWAH yang seringkali hanya membuat kacau. Menurut pendapat pribadi saya, meladeni orang orang SAWAH itu kadang hanya merepotkan. Gak dilawan kok makin kebangetan, dikasih tau dengan baik2 kok ya nglunjak.

  146. @abu dzar : “mantaf abu aisyah, mas agung KO.HEEEE, mslh merujuk kitab sja dia salah, eh, dengan sombong dan angkuh nya dia menghina banyak kibaru ulama,”.
    Terima kasih atas pujiannya mas abu dzar mujassim musyabbih. pertama, saya mohon maaf tidak bisa rutin mengikuti blog ini, karena saya ditugaskan ke salah satu daerah di sumatera selatan, dimana PLN saja blm masuk, jd saya tidak membawa peralatan elektronik selain HP. kedua, anda memang pernah mengatakan bahwa kutipan saya salah, tapi, anda tidak pernah menunjukkan kutipan yang benar. ketiga, yang anda permasalahkan, seingat saya bukan menyangkut masalah isi, tapi menyangkut masalah bab.

  147. Berita gembira nih…(mungkin bisa jadI berita duka buat yang lain)
    Ada sebuah masjid di Jakarta yang besar dan sudah berumur puluhan tahun. Selama berpuluh-puluh tahun itu pula menjadi pusat TBC. Dari masjid ini pula banyak “kyai-kyai kharismatik” dilahirkan.
    Qodarullah, saat ini sudah menjelma masjid yang sesuai sunnah dan mulai menjadi pusat kajian salaf. Semoga hal ini senantiasa akan berjalan selamanya hingga akhir zaman. Dan berharap bisa diikuti oleh masjid-masjid yang lain.
    ALLAH MEMBERI PETUNJUK BAGI ORANG-ORANG YANG DIKENDAKINYA DAN ALLAH MEMBIARKAN ORANG-ORANG TETAP DALAM KESESATAN BAGI SIAPA SAJA YANG DIKEHENDAKINYA.

    1. ummu hasanah@
      Ah…. itu sudah biasa dan wajar ummu hasanah, yg lebih besar dari itu juga sudah sejak lama “dikuasai wahabi”, lho?
      Bukankah masjid Nabawi dan masjid al Haram lebih besar dari yg ada di Jakarta tsb? Nah…. masjid Allah yg ada di dua kota suci umat Islam pun semenjak lama sudah “dikuasai” Wahabi, dan hanya Allah lah satu-satunya dzat yg maha mampu mengenbalikannya kepada ummat Islam Sejati. Mungkin jika kerajaan keluarga Saud runtuh, insyaallah tidak akan lama lagi mengingat kerajaan keluarga Saud pelan tapi pasti menuju keadaan yg semakin rapuh. Percaya sama saya apa nggak, Ummu Hasanah?

    2. Bismillah,
      Ummu Hasanah@, fakta yang anda sampaikan persis sebagaimana telah diwanti-wantikan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam :
      عن أم سلمة أنها سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ليأتين على الناس زمان يكذب فيه الصادق ويصدق فيه الكاذب ويخون فيه الأمين ويؤتمن فيه الخئون
      “Dari Ummu Salamah, bahwa ia pernah mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sungguh akan datang suatu masa menimpa manusia, dimana (dalam masa tersebut) orang jujur didustakan, dan pendusta dipercaya, orang yang amanah di anggap berkhianat sedang pengkhianat dipercaya… (HR. At Thobaroni dalam Al Ausath)
      Al Hafidz As Suyuthi dalam Al Jami’ As Shoghir menilai hadits tersebut Hasan…
      Mungkin ada benarnya anda mengklaim bahwa anda dan kelompok anda paling “Nyunnah” karena terbukti bahwa anda dan kelompok anda adalah pelaku isi hadits tersebut…
      Wallohu A’lam

  148. Mas abi dzar apa pandangan panjenengan tentang makalah yg saya usung, mari berdiskusi dan biar lebih akurat tolong di kasih teks arab. kita telaah bersama-sama. semoga berkenan.
    Wallohu a’lam……

  149. mantaf abu aisyah, mas agung KO.HEEEE, mslh merujuk kitab sja dia salah, eh, dengan sombong dan angkuh nya dia menghina banyak kibaru ulama,.ummu hasanah ane juga paru tahu Klo ASWAJA itu kepanjangan AS’ARIYAH WAL JAHMIYAH. bisa warning nh.heee

    1. abu dzar, emangnya abu aisah itu sedang ngomong apa kok antum bilang mataf? coba jelaskan ngomong apa dia? Kalau di dunia nyata itu disebut nglindur atau ngigau nggak jelas.
      Kamu juga ngigau, masak hari gini masih bisa menghina Aswaja, gaul yg lebih luas mas biar pintar.
      Para ulama Aswaja wafatnya khusnul khitimah sehingga indah untuk dikisahkan, coba ulama wahabi… apakah ada satu saja contoh yg matinya khusnul khotimah, semuanya mati misterius, jangan2 mati bunuh diri sehingga cerita proses kematiannya selalu dirahasiakan atau ditutup-tutupi.
      apakah antum nggak mau mikirin kenapa seperti itu?

  150. jeng Ummu…saya Insya Allah akidahnya ngikut shalafush shaleh… coba baca di atas, Imam Ali Ra saja mengatakan Allah itu mawujud, tidak bertempat dan tidak berarah. Imam Ali Ra pun pernah mengatakan bahwa, “Di akhir jaman banyak umat Islam yg akan kembali kepada kekafiran.” ditanya oleh sahabat, “Apakah mereka menyembah selain Allah? dijawab oleh Imam Ali Ra, “Tidak, namun mereka menyifati Allah dengan sifat2 anggota tubuh.” Dan Insya Allah bukan kamilah yg ditunjuk kafir oleh Imam Ali Ra tersebut, karena kami tidak menyifati Allah dengan sifat2 anggota tubuh.
    Imam Malik Ra mengatakan bahwa “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul (al-Istiwa sudah jelas diketahui dan adanya al-Kayf (sifat benda) bagi Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal)”, Jadi Imam Malik Ra menolak adanya sifat benda/kayf…jadi kalau sifat benda/kayf saja sudah ditolak, maka tidak ada pembahasan makna lagi.
    Namun di tangan da’i-da’i Salafi perkataan Imam Malik Ra menjadi berubah, menjadi “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah”. Di kalimat Imam Malik Ra yg sudah dirubah, seolah2 Imam Malik Ra menerima sifat benda namun sifat bendanya tidak diketahui maknanya.
    Itulah perbedaan antara kami yg aswaja dengan kalian yg Salafi/Wahabi….
    salam

  151. Kenapa dengan madzhab asy’ariyyah mbak ummu? dan kenapa pula anda mengatakan kami jahmiyyah? bisakah di sebutkan alasannya? janganlah membenci dan memfitnah kalau anda masih remang-remang tentang madzhab asy’ari…..
    Wallohu a’lam…..

  152. Menambahi Mbak sihinta dan temen-temen aswaja, semoga berkenan.
    Dalam menyikapi ayat-ayat mutasyabbihat ada dua madzhab yang di sepakati ke-sahihannya. Yakni tafwidl dan ta’wil. Namun perkhilafan ini ini tidak sampai menimbulkan perpecahan ataupun takfiri. Di sini akan kami nuqilkan pendapat yang menjelaskan tafwidl sekaligus pemraktekkan tafwidl yang sesuai dengan pendapat para Imam tersebut.
    Tafwidl Ulama Hanabilah, Pengikut Imam Ahmad bin Hanbal
    Bismillahirrohmanirrohim….
    Dalam masalah akidah, yang merupakan pondasi keyakinan. Beliau Nabi Mewanti-wanti:
    جمع الجوامع أو الجامع الكبير للسيوطي – (ج 1 / ص 11084)
    تفكَّروا فى الخلق ولا تفكروا فى الخالق فإنكم لا تقدروا قدره (أبو الشيخ عن ابن عباس)
    Artinya: “Berfikirlah kalian semua tentang makhluk (segala hal selain Alloh:pent), DAN JANGANLAH BERFIKIR TENTANG PENCIPTA. Karena kalian semua tidak akan mampu mengetahui hakikatNya”. Imam Munawi As Syaafi’i menjelaskannya sebagai berikut:
    فيض القدير – (ج 3 / ص 345)
    (ولا تفكروا في الخالق) فإن كل ما يخطر بالبال فهو بخلافه (فإنكم لا تقدرون قدره) أي لا تعرفونه حق معرفته لما له من الإحاطة بصفات الكمال ولما جبلتم عليه من النقص قال العارف ابن عطاء الله: الفكرة سير القلب في ميدان الأغيار، الفكرة سراج القلب فإذا ذهبت فلا إضاءة له، الفكرة فكرتان فكرة تصديق وإذعان وهي لأرباب الاعتبار المستدلين بالصفة على الصانع وبالمخلوق على الخالق أخذا من قوله سبحانه وتعالى (قل انظروا ماذا في السماوات) (سنريهم آياتنا في الآفاق) وفكرة أهل شهود وعيان وهم الذين عرفوا الصنعة بالصانع وشهدوا الخلق بالخالق استمدادا من قوله تعالى (أولم يكف بربك أنه على كل شئ شهيد) (أبو الشيخ) في كتاب العظمة (عن ابن عباس) قال : خرج النبي صلى الله عليه وسلم على قوم ذات يوم وهم يتفكرون فقال : ما لكم لا تتكلمون فقالوا نتفكر في الله فذكره.
    Artinya: “(Dan janganlah berfikir tentang pencipta) KARENA SETIAP HAL YANG TERBERSIT DALAM BENAK, ALLOH TIDAKLAH SEPERTI ITU (Karena kalian semua tidak akan mampu mengetahui hakikatNya) yakni kalian semua tidak akan mengetahui Alloh, dengan sebenarnya. Karena Alloh diliputi dengan kesempurnaan dan tertutupnya sifat Alloh dari kekurangan. Imam Al Arif Ibnu Athoillah berkata: pemikiran adalah perjalanan hati di medan yang berliku. Pemikiran adalah lentera hati, apabila lentera padam, maka tidak akan ada yang meneranginya. Pemikiran ada dua macam, (kesatu) pembenaran sekaligus tunduk, yakni pemikiran orang-orang berpandangan yang mengambil dalil dengat sifat atas Shoni’ (pencipta) dan dengan Makhluk atas Kholiq (pencipta) karena mengambil pemahaman firman Alloh Subhanahu wa Ta’la (Katakanlah: “Perhatikanlah apa yaag ada di langit” QS. Yunus 101) (Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi QS AlFusshilat 53). Dan (kedua) pemikiran ahli pen-saksian dan ahli melihat (peneliti:pent). Mereka adalah orang-orang yang mengetahui karya dengan Shoni’ (pencipta) dan melihat makhluk dengan Kholiq (pencipta). Karena mengurai Firman Alloh Ta’ala (Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? QS AlFusshilat 53)”. Sampai perkataan…. Imam Ibnu Abbas berkata: “SUATU HARI NABI SAW. KELUAR MELEWATI KAUM, (NABI MELIHAT) MEREKA SEDANG BERFIKIR”. KEMUDIAN NABI BERSABDA: “KENAPA KALIAN TIDAK SALING BERBICARA?”. “KAMI BERFIKIR TENTANG ALLOH”. JAWAB MEREKA. KEMUDIAN NABI MENYABDAKAN HADIST DIATAS (Berfikirlah kalian semua tentang makhluk (segala hal selain Alloh:pent), dan janganlah berfikir tentang pencipta. Karena kalian semua tidak akan mampu mengetahui hakikatNya).
    Dalam kesempatan lain, beliau Imam Munawi As Syaafi’i menegaskan Sabda Nabi SAW. (Dan janganlah berfikir tentang pencipta. Karena kalian semua tidak akan mampu mengetahui hakikatNya):
    التيسير بشرح الجامع الصغير ـ للمناوى – (ج 1 / ص 923)
    (ولا تتفكروا في الخالق فإنكم لا تقدرون قدره) إي لا تعرفونه حق معرفته قال رجل لعلي يا أمير المؤمنين أين الله فقال أين سؤال عن مكان وكان الله ولا مكان.
    Artinya: “(Dan janganlah berfikir tentang pencipta. Karena kalian semua tidak akan mampu mengetahui hakikatNya) yakni kalian semua tidak akan mengetahui Alloh, dengan sebenarnya. ADA SEORANG LELAKI BERTANYA PADA SAYYIDINA ALI: “DIMANA ALLOH?”. “KENAPA MEMPERTANYAKAN TEMPAT (BAGI ALLOH)?, ALLOH MAUJUD DAN TIDAK BERTEMPAT”. JAWAB SAYYIDINA ALI KW.”
    Sehingga cukuplah apa yang di ungkapkan Imam Jalaluddin As Suyuthi As Syaafi’i:
    تنوير الحوالك الجزء الأول ص: 39
    عن النبي صلى الله عليه وسلّم. (ينزل ربنا تبارك وتعالى كل ليلة). هذا من المتشابه الذي يسكت عن الخوض فيه وإن كان لا بد فأولى ما يقال فيه ما في رواية النسائي: إن «الله يمهل حتى يمضي شطر الليل ثم يأمر منادياً يقول: هل من داع فيستجاب له»، فالمراد إذن نزول أمره، أو الملك بأمره. وذكر ابن فورك أن بعض المشايخ ضبطه ينزل بضم أوله على حذف المفعول أي ينزل ملكاً. قال الباجي: وفي العتبية سألت مالكاً عن الحديث الذي جاء في جنازة سعد بن معاذ في العرش فقال: لا تتحدثن به وما يدعو الإنسان إلى أن يحدث به وهو يرى ما فيه من التغرير
    Artinya: “Dari nabi SAW. (Tuhan kita tabaaroka wa ta’ala nuzul setiap malam) INI ADALAH TERMASUK AYAT MUTASYABBIH YANG (LEBIH BAIK:PENT) DIAM DARI MEMBICARAKANNYA, dan apabila terpaksa maka yang terbaik di ucapkan adalah keterangan yang diriwayatkan Imam Nasai: (sesungguhnya Alloh menangguhkan (perkaranya:pent) sampai lewat setengah malam kemudian memerintahkan penyeru yang berkata: barang siapa yang berdoa maka akan di kabulkan) maka yang dikehendaki (dengan ayat mutayabbih ini: pent) adalah turunnya perkara Alloh atau malaikat-malikat dengan perintah Alloh……..”
    Namun kita tak menutup mata bahwa para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini: Sebagian ber-ijtihad dengan men takwil: mengarahkan makna dhohir ke makna lain yang tidak mengurangi keagungan sifat Alloh SWT. DAN SEBAGIAN MENGARAHKAN KE PENDAPAT TAFWIDL: Menyerahkan makna ayat Mutasayabbihat (Ayat yang makna dlohirnya menyerupakan Alloh dengan Makhluq, seperti: Atas, Wajah, Tangan dsb.Pent) kepada Alloh, tanpa men Takwil, seperti Ulama Hanabilah Berikut:
    Sebelumnya alangkah lebih baiknya kita mengetahui pengertian ulama Salaf (kuno/lama) dan Kholaf (baru). Imam Sulaiman Bin Ahmad Al Bujairimi memberikan devinisi sebagai berikut:
    حاشية البجيرمي على المنهج للإمام سليمان بن محمد البجيرمي- (ج 2 / ص 196)
    قَالَ: بَعْضُهُمْ: السَّلَفُ هُمْ الصَّحَابَةُ وَالْخَلَفُ مَنْ بَعْدَهُمْ، وَهُوَ الْمَشْهُورُ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: السَّلَفُ مَا قَبْلَ الْأَرْبَعِمِائَةِ وَالْخَلَفُ مَنْ بَعْدَهُمْ،
    حاشية البجيرمي على المنهج – (ج 3 / ص 306)
    السَّلَفُ هُمْ أَهْلُ الْقُرُونِ الْأُوَلِ الثَّلَاثَةِ الصَّحَابَةُ، وَالتَّابِعُونَ وَأَتْبَاعُ التَّابِعِينَ، وَالْخَلَفُ مَنْ بَعْدَهُمْ كَمَا قَرَّرَهُ شَيْخُنَا.
    Artinya: “Sebagian Ulama mendevinisikan Salaf dengan Para Sahabat. Dan Kholaf dengan Ulama setelah sahabat, ini adalah pendapat yang masyhur. Namun sebagian Ulama berkata: SALAF ADALAH ULAMA YANG ADA SEBELUM TAHUN 400 HIJRIYYAH (Abad ke III Hijriyyah). Dan Kholaf adalah ulama setelahnya”. Dalam kitab yang sama di Juz yang beda, Imam Sulaiman berkata: “Salaf adalah Ahli Kurun (ulama’ saleh yang hidup) pada tiga abad pertama Islam. Yakni Sahabat, Tabi’in dan atbaut Taabi’in. sedangkan Kholaf adalah Ulama Yang hidup setelahnya. Seperti ketetapan Syaikhuna”.
    1. Imam Imam Ahmad bin Hanbal:
    الورع للإمام أحمد بن حنبل ص: 199
    ومن وصف الله تعالى بمعنى من معاني البشر فقد كفر فمن ابصر هذا اعتبر وعن مثل قول الكفار ازدجر واعلم أن الله تعالى بصفاته ليس كالبشر والرؤية حق لأهل الجنة من غير إحاطة ولا كيفية كما نطق به كتاب ربنا وجوه يومئذ ناضرة إلى ربها ناظرة وتفسيره على ما أراد الله تعالى وعلمه
    Artinya: “BARANGSIAPA MEN-SIFATI ALLOH TA’LA DENGAN MAKNA-MAKNA MANUSIA, MAKA BENAR-BENAR KAFIR. DAN BARANGSIAPA MENGETAHUI PENDAPAT INI, BERFIKIRLAH!!!, Serta hindarilah perkataan yang menyamai orang-orang kafir (Trinitas, Alloh mempunyai anak dst:pent). Ketahuilah! Sungguh Alloh Ta’ala dengan sifat-sifatNya, tidaklah seperti manusia. Sedangkan melihat Alloh adalah hak ahli syurga tanpa memperpanjang pembahasan dan cara seperti yang tertera dalam Kitabu Robbina yakni “22. Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. 23. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. QS Al Qiyamah 22-23” TAFSIRNYA SESUAI DENGAN KEHENDAK ALLOH TA’ALA DAN SIFAT ILMUNYA.”
    2. Imam Ibnu Batthoh Al ‘Akbari Al Hanbali:
    الشرح والإبانة على أصول السنة والديانة قال ابن بطة العكبري (ت:387هـ)
    أرشيف ملتقى أهل الحديث 3 – (ج 1 / ص 4886)
    (فكل هذه الأحاديث وما شاكلها تمر كما جاءت ، لا تعارض ولا تضرب لها الأمثال ولا يواضع فيها القول فقد رواه العلماء وتلقاها الأكابر منهم بالقبول وتركوا المسألة عن تفسيرها ورأوا أن العلم بها ترك الكلام في معانيها) اهـ . الشرح والإبانة ص 227 – 229
    Artinya: “Maka adapun Setiap hadist-hadist ini (Hadist Mutasyabbihat) dan yang sejenis, itu terlaku seperti apa adanya. Tidak bisa di arahkan dan tidak bisa di buatkan perumpamaan, serta tidak bisa terwakili/tertempati ucapan. Maka sungguh! Para ulama telah meriwayatkannya, dan Ulama-ulama besar dari mereka telah menemuinya serta beliau-beliau menerima hadist-hadist mutasyabbih ini TANPA MENTAFSIRinya. Dan beliau-beliau berpendapat bahwa SESUNGGUHNYA YANG DINAMAKAN ILMU/MENGETAHUI HADIST-HADIST MUTASYABBIH ADALAH TIDAK MEMBICARAKAN MAKNA-MAKNANYA”.
    3. Imam AbulKhitthoob Al Kaluudaniy Al Hanbali:
    قال أبو الخطاب الكلوذاني الحنبلي (ت: 510هـ) في بعض شعره الذي نقله عنه الذهبي في السير:
    سير أعلام النبلاء – (ج 19 / ص 349)
    قالوا: أتزعم أنْ على العرش استوى *** قلت الصوابُ كذلك خبّر سيدي
    قالوا: فما معنى استواه أَبْنِ لنا *** فأجبتهم: هذا سؤال المعتدي .
    Artinya: “Mereka bertanya: “Apakah engkau menyangka Alloh Istawa di atas ‘ArsNya?” *** Aku menjawab: “Yang benar memang seperti itu, khabarkanlah wahai Sayyidiy…”
    Mereka berkata: “APA MAKNA ALLOH ISTAWA DI ATAS ‘ARSNYA, JELASKAN PADAKU!” *** AKU MENJAWAB MEREKA: “INI ADALAH PERTANYAAN ORANG YANG MELEWATI BATAS!”
    4. Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisiy Al Hanbali:
    قال الإمام ابن قدامة المقدسي (ت:620هـ) في كتابه ذم التأويل :
    ذم التأويل – (ج 1 / ص 11)
    “ومذهب السلف رحمة الله عليهم الإيمان بصفات الله تعالى وأسمائه التي وصف بها نفسه في آياته وتنزيله أو على لسان رسوله صلى الله عليه وسلم من غير زيادة عليها ولانقص منها ولاتجاوز لها ولاتفسير ولاتأويل لها بما يخالف ظاهرها ولاتشبيه بصفات المخلوقين ولاسمات المحدثين بل أمروها كما جاءت وردوا علمها إلى قائلها ومعناها إلى المتكلم بها..”ا.هـ المقصود.
    Artinya: “Adapun madzhab Salaf Rohmatullohi ‘alaihim, mengimani Sifat-sifat dan Asma Alloh Ta’ala sesuai yang Alloh sendiri men-sifatinya dalam Ayat-ayat dan Hadist QudsiNya atau sesuai lisan RosulNya SAW, tanpa adanya penambahan, pengurangan, melewati batas, penafsiran dan pen-takwilan yang membedai Dlohirnya dan tanpa adanya penyerupaan dengan sifat-sifat makhluk serta tanpa adanya tanda-tanda hal-hal yang baru (Mahluk). BAHKAN PARA ULAMA SALAF MENETAPKANNYA SEPERTI APA ADANYA DAN MENGEMBALIKAN PENGERTIAN SIFAT-SIFAT DAN ASMANYA PADA DZAT YANG MEM-FIRMANKANNYA (ALLOH) SERTA MENGEMBALIKAN MAKNA PADA DZAT YANG BER-UCAP (ALLOH)”
    5. Al Allamah Imam Ibnu Hamdan Al Hanbali:
    قال العلامة ابن حمدان (ت:695هـ) كما في نهاية المبتدئين
    “أحاديث الصفات تمر كما جاءت من غير بحث على معانيها وتخالف ماخطر في الخاطر عند سماعها وننفي التشبيه عن الله عند ذكرها مع تصديق النبي صلى الله عليه وسلم والإيمان بها وكلما يعقل ويتصور فهو تكييف وتشبيه وهو محال.”
    Artinya: “HADIST-HADIST TENTANG SIFAT ALLOH (MEMPUNYAI MAKNA) TETAP SEPERTI APA ADANYA. TANPA ADANYA PEMBAHASAN ATAS MAKNA-MAKNANYA. Dan hadist-hadist tersebut membedai dengan apa yang tersirat di benak pendengarnya. Serta men-tiadakan penyerupaan Alloh tatkala menuturkannya, besertaan membenarkan Nabi SAW. dan mengimaninya. Sewaktu seseorang meng-angan-angan dan menggambarkannya maka itu adalah sebuah takyiif (cara menggambarkan) dan tasybih (penyerupaan), hal tersebut adalah Mukhal (mustahil bagi Alloh.).”
    6. Imam Ibnu Rajab Al Hambali:
    جاء عن ابن رجب الحنبلي (ت:795هـ) في فضل علم السلف على الخلف – (ج 1 / ص 4)
    والصواب ما عليه السلف الصالح من إمرار آيات الصفات وأحاديثها كما جاءت من غير تفسير لها ولا تكييف ولا تمثيل: ولا يصح من أحد منهم خلاف ذلك البتة خصوصاً الإمام أحمد ولا خوض في معانيها ولا ضرب مثل من الأمثال لها : وإن كان بعض من كان قريباً من زمن الإمام أحمد فيهم من فعل شيئاً من ذلك اتباعاً لطريقة مقاتل فلا يقتدى به في ذلك إنما الإقتداء بأئمة الإسلام كابن المبارك. ومالك. والثوري والأوزاعي. والشافعي. وأحمد. واسحق. وأبي عبيد. ونحوهم.
    Artinya: “YANG BENAR ADALAH SESUAI PENUTURAN ULAMA SALAF AS SHOLIH, YAKNI MENETAPKAN AYAT-AYAT DAN HADIST-HADIST SIFAT ALLOH APA ADANYA TANPA ADANYA PENAFSIRAN, Tanpa adanya Takyiif dan tanpa adanya Tamtsil (penyontohan). Dan tidak sah sama sekali bagi mereka untuk membedai menetapkan Ayat-ayat dan Hadist-hadist sifat Alloh apa adanya, tanpa adanya penafsiran, terlebih pada pendapat Imam Ahmad. DAN TIDAK SAH UNTUK MEMBICARAKAN TENTANG MAKNA-MAKNANYA….”.
    7. Al Allamah Imam Mar’iy Al Karmiy Al Hanbali
    قال العلامة مرعي الكرمي (ت:1033هـ) في: “أقاويل الثقات” (ص:65ـ66)
    أقاويل الثقات – (ج 1 / ص 65-66)
    هذا كلام أئمة الحنابلة ولا خصوصية لهم في ذلك بل هذا مذهب جميع السلف والمحققين من الخلف. قال الحافظ السيوطي في كتابه الإتقان من المتشابه آيات الصفات ولابن اللبان فيها تصنيف مفرد نحو الرحمن على العرش استوى طه 5 كل شيء هالك إلا وجهه القصص 88 ويبقى وجه ربك الرحمن 27 ولتصنع على عيني طه 39 يد الله فوق أيديهم الفتح 10 لما خلقت بيدي ص 75 والسموات مطويات بيمينه الزمر 67 وجمهور أهل السنة منهم السلف وأهل الحديث على الإيمان بها وتفويض معناها المراد منها إلى الله تعالى ولا نفسرها مع تنزيهنا له عن حقيقتها قال وذهبت طائفة من أهل السنة إلى أنا نؤولها على ما يليق بجلاله تعالى وهذا مذهب الخلف قال وكان إمام الحرمين يذهب إليه ثم رجع عنه فقال في الرسالة النظامية الذي نرتضيه رأيا وندين الله تعالى به عقدا هو اتباع سلف الأمة فإنهم درجوا على ترك التعرض لمعانيها ودرك ما فيها وهم صفوة الإسلام وكانوا لا يألون جهدا في ضبط قواعد الملة والتواصي بحفظها وتعليم الناس ما يحتاجون إليه منها فلو كان تأويل هذه الظواهر سائغا لأوشك أن يكون اهتمامهم بها فوق اهتمامهم بفروع الشريعة فإذا انصرم عصرهم وعصر التابعين على الإضراب عن التأويل كان ذلك هو الوجه المتبع فحق على ذي الدين أن يعتقد تنزيه الباري عن صفات المحدثين ولا يخوض في تأويل المشكلات ويكل معناها إلى الرب. وقال الإمام ابن الصلاح وعلى هذه الطريقة مضى صدر الأمة وساداتها وإياها اختار أئمة الفقهاء وقاداتها وإليها دعا أئمة الحديث وأعلامه ولا أحد من المتكلمين من أصحابنا يصدف عنها ويأباها انتهى قلت وهذا القول هو الحق وأسلم الطرق فإنك تجد كل فريق من المتأولين يخطئ الأخر ويرد كلامه ويقيم البرهان على صحة قوله ويعتقد أنه هو المصيب وأن غيره هو المخطئ ومن طالع كلام طوائف المتكلمين والمتصوفين علم ذلك علم اليقين … الناس شتى وآراء مفرقة … كل يرى الحق فيما قال واعتقدا
    Artinya: “INI (TAFWIDL) ADALAH PENDAPAT IMAM-IMAM MADZHAB HANBALI, TIDAK ADA KETERKHUSHUSAN TENTANG MASALAH INI. Bahkan ini adalah madzhab semua Ulama salaf dan Ulama Muhaqqiqin (yang memberikan pendapat beserta dalil) dari Ulama Kholaf. Imam Al Hafidz As Suyuthi bertutur dalam Kitab Al Ithqon-nya: Sebagian dari ayat-ayat mutasyabbih adalah ayat-ayat sifat-sifat Alloh. Imam Ibnu Labbaan mempunyai karya khusus tentang ayat mutasyabbihat, seperti: الرحمن على العرش استوى, كل شيء هالك إلا وجهه, ويبقى وجه ربك, ولتصنع على عيني, يد الله فوق أيديهم, لما خلقت بيدي, والسموات مطويات بيمينه. Kebanyakan AhlusSunnah sebagian adalah ulama salaf dan Ahli Hadist: MENG-IMANI AYAT-AYAT TERSEBUT DAN MENYERAHKAN MAKNA YANG DI KEHENDAKI DALAM AYAT-AYAT TERSEBUT PADA ALLOH TA’ALA. SERTA TIDAK MENTAFSIRINYA besertaan kita men-sucikannya dari hakikatnya…”.
    8. Imam As Safaraaniy Al Hanbali:
    قال الإمام السفاريني (ت:1188هـ) من اللوامع (1/107)
    اعلم أن مذهب الحنابلة هو مذهب السلف فيصفون الله بما وصف به نفسه وبما وصفه به رسوله من غير تحريف ولاتعطيل… ثم قال: فإذا ورد القرآن العظيم وصحيح سنة النبي عليه أفضل الصلاة وأتم التسليم بوضف للباري جل شأنه تلقيناه بالقبول والتسليم ووجب إثباته على الوجه الذي ورد ونكل معناه للعزيز الحكيم ولانعدل به عن حقيقة صفه ولانلحد في كلامه ولا في أسمائه ولا في صفاته ولانزيد على ماورد ولانلتفت لمن طعن في ذلك ورد فهذا اعتقاد سائر الحنابلة كجميع السلف”ا.هـ
    Artinya: “Ketahuilah! Sesungguhnya madzhab hanabilah yakni madzhab ulama salaf, men-sifati Alloh sesuai yang Alloh sendiri men-sifatinya dan dengan apa yang Rosul sifatkan tanpa tahrif (membelokkan/memalingkan makna) dan ta’thil (menelantarkan makna/mengingkari sifat Alloh dan menafikannya)… kemudian beliau berkata: Apabila ada keterangan dari Al Qur’an al ‘Adzim dan hadist shohih Nabi Afdlolussholah wa AtammutTasliim tentang sifat bagi Alloh Al Baari Jalla Sya’nuhu maka kita (harus) menerimanya dan taslim (menerima tanpa bertanya) dan wajib menetapkan sesuai cara/jalan yang telah ada (menetapkan apa adanya). DAN KITA WAJIB MENYERAHKAN MAKNANYA PADA ALLOH AL ‘AZIZ AL HAKIIM, dan kita tidak boleh memindahkannya dari hakikat sifatNya. Kita tidak boleh melenceng dari FirmanNya, tidak dalam nama-namaNya, tidak dalam sifat-sifatNya dan kita tidak boleh menambahi atas hal yang telah ada, serta kita tidak boleh menoleh (menyetujui) orang yang membahasnya. Dan (kalau ada) tangkal-lah!. KARENA INILAH KEYAKINAN SEMUA MADZHAB HANABILAH SEPERTI SEMUA ULAMA SALAF”.
    9. Kami tidak menampilkan pendapat Imam Abu Ya’la, Imam Ibnu Qudamah dan Imam Ibnul Jauzi Dalam kitab “Daf’u Subahit Tasybih” beliau, karena telah Masyhur dan banyak yang menguraikannya.
    Jadi kesimpulannya: Madzhab tafwidl melarang kita memaknai dan menafsiri Al Qura’an dan Al hadist yang tergolong mutasyabbihat. sebuah contoh dalam ayat al Qur’an
    الرحمن على العرش استوى
    MAKNA YANG BENAR MENURUT MADZHAB TAFWIDL ADALAH:
    “(yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang ISTAWA di atas ‘ARSY (QS Thahaa 5)”
    BUKAN:
    “(yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. Yang BERSEMAYAM di atas ‘Arsy”
    DAN JUGA BUKAN:
    “(yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang BERSEMAYAM di atas SINGGASANANYA”
    JADI. TIDAK MEMBERIKAN MAKNA DAN TIDAK MEMBERIKAN TAFSIRAN.
    Satu contoh lagi, dalam ayat:
    وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مِنْ دَابَّةٍ وَالْمَلائِكَةُ وَهُمْ لا يَسْتَكْبِرُونَ. يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ } [النحل: 48 -50]
    Makna Yang benar menurut madzhab tafwidl adalah:
    “Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) Para ma]aikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di FAWQ mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka). (QS An Nahl 49-50)”
    Bukan:
    “Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) Para ma]aikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di ATAS mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka). (QS An Nahl 49-50)”
    JADI. TIDAK MEMBERIKAN MAKNA DAN TIDAK MEMBERIKAN TAFSIRAN.
    Semoga bisa menjadikan sedikit titik terang pada kita semua, Wallohu a’lam
    M. ROBERT AZMI AL ADZIM
    Ndalem Pule, Sabtu 30 Maret 2013
    http://alfattahpule.com/tafwidl-ulama-hanabilah-pengikut-imam-ahmad-bin-hanbal/

    1. @ummu hasanah,
      Kalo ya kenapa, ente mau katakan sesat ya Ayariyah wal Jamaah maka ente plesetkan jadi Asyariyah wal Jahmiyah, dasar Wahabi merasa paling benar, paling Nyunnah, paling bertauhid tapi Tiga(Trinitas), paling mengikuti Qur’an dan Hadis, merasa pasti masuk surga, orang2 yg diluar golongan Sawah(salafi wahabi) kafir dan tempatnya di neraka, Surga hanya milik Salafi (salah fikir) dan sudah dikontrak selama-lamanya kunci surga sudah digenggaman kalian para Wahabiyun yg merasa 100% benar.

  153. Wah..ini copas dari blognya ustad Firanda Andirja itu ya? Hehehe…
    Sudah dijawab ini copasannya…coba cek lagi tentang jawaban dari ustadz aswaja terhadap hujjah ustadz Firanda ini…ada koq di Ummatipress.
    Btw, jika Allah mengatakan langit…apakah itu artinya harus langit secara plek….atau maksudnya ketinggian derajat-Nya?
    Kalau Allah mengatakan mengangkat…apakah artinya itu harus diangkat secara tekstual?
    Bagaimana kalau diangkat itu sifatnya hanya tersirat…contoh : “Si B diangkat oleh Boss-nya.” Si B diangkat ke atas langit, atau hanya sekedar kiasan saja???
    Malaikat naik itu maksudnya apa benar plek naik ke atas langit secara tekstual…atau kembali ke dimensinya????
    Allah sendiri berfirman di dalam hadist Qudsi, bahwa “ Tidak (akan) mampu menampungKu bumi dan langitKu, akan tetapi mampu menampungKu sanubari hambaKu yang beriman”
    (kira2 Bagaimana kalian mengimani hadist qudsi ini? Secara tekstual atau secara kiasan???)
    Jika kalian mengartikan hadist tersebut secara tekstual, jelas di situ Allah tidak bertempat baik di langit maupun di bumi (karena bumi dan langit adalah ciptaan-Nya).
    Kami yang mengikuti ulama ahlusunnah waljama’ah TIDAK mengimani ALLAH ADA DI MANA-MANA seperti yg dituduhkan ustadz Firanda Andirja.
    Yang Kami imani adalah ALLAH TIDAK DILIPUTI TEMPAT/RUANG, TIDAK DILIPUTI WAKTU, TIDAK DILIPUTI ARAH
    Oke saudaraku….sudah jelas ya maksudnya?

  154. Bismillah,
    Berikut ini ana akan bawakan dalil-dalil bahwa Allah berada diatas langit :
    Sangat banyak dalil dari al-Qur’an dan As Sunnah yang shahihah yang menunjukkan bahwa Allah berada di atas ‘Arsy, di atas langit, di atas seluruh makhlukNya. Demikian banyaknya dalil itu sehingga tidak terhitung jumlahnya.
    Imam telah al-Alusiy menjelaskan:
    “ Dan engkau mengetahui bahwa madzhabus Salaf menetapkan ketinggian Allah Ta’ala sebagaimana disebutkan oleh al-Imam AtThohawy dan yang selainnya, mereka berdalil dengan sekitar 1000 dalil” (Lihat Tafsir Ruuhul Ma’aaniy fii Tafsiiril Qur’aanil ‘Adzhiim was Sab’il Matsaaniy juz 5 halaman 263).
    Berikut sebagian dalil-dalil dimaksud yang ana sarikan dari penjelasan Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafy dalam Syarh al-‘Aqiidah atThohaawiyyah halaman 267-269 dan juga tulisan berjudul al-Kalimaatul Hisaan fii Bayaani Uluwwir Rahmaan yang ditulis Abdul Hadi bin Hasan..
    Pertama: Penyebutan ‘alFauqiyyah (ketinggian) Allah dengan kata penghubung ‘min’. Seperti dalam firman Allah:
    “ dan milik Allah sajalah segala yang ada di langit dan di bumi berupa makhluk melata dan para Malaikat, dalam keadaan mereka tidaklah sombong. Mereka takut terhadap Rabb mereka yang berada di atas mereka, dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan” (Q.S AnNahl:49-50).
    Ibnu Khuzaimah –rahimahullah- meyatakan:
    “Maka Allah Yang Maha Mulya dan Maha Tinggi memberitahukan kepada kita dalam ayat ini bahwa Rabb kita berada di atas para MalaikatNya, dan berada di atas segala yang ada di langit dan di bumi berupa makhluk melata, dan (Allah) mengkhabarkan kepada kita bahwa para Malaikat takut terhadap Rabb mereka yang berada di atas mereka” (Lihat Kitaabut Tauhid karya Ibnu Khuzaimah halaman 111).
    Perhatikanlah, Ibnu Khuzaimah memahami ayat tersebut bahwa memang Allah Ta’ala berada di atas seluruh makhlukNya. Siapakah Ibnu Khuzaimah sehingga kita perlu mengambil rujukan (tentang Ketinggian Allah ini) darinya? Ibnu Khuzaimah adalah salah seorang ulama’ bermadzhab Asy-Syafi’i. Beliau merupakan salah satu murid al-Bukhari. Al-Bukhari dan Muslim juga mengambil ilmu (hadits) darinya, namun tidak dikeluarkan dalam As-Shahihain. Ibnu Khuzaimah adalah guru Ibnu Hibban al-Busty, sedangkan Ibnu Hibban adalah guru al-Haakim.
    Al-Hafidz Adz-Dzahaby menyatakan tentang Ibnu Khuzaimah:
    “ Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah bin alMughirah bin Sholih bin Bakr. (Beliau) adalah al-Hafidz, al-Hujjah, alFaqiih, Syaikhul Islam, Imamnya para Imam. Abu Bakr As-Sulamy anNaisabuury Asy-Syaafi’i (bermadzhab Asy-Syafi’i)(Lihat Siyaar A’laamin Nubalaa’ juz 14 halaman 365).
    Sisi pendalilan yang pertama ini juga sebagaiman disebutkan dalam hadits Nabi, bahwa Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam menyatakan kepada Sa’ad bin Mu’adz ketika Sa’ad memberi keputusan terhadap Bani Quraidzhah:
    “ Sungguh engkau telah menetapkan hukum (pada hari ini) dengan hukum Allah yang telah Allah tetapkan dengannya dari atas tujuh langit” (diriwayatkan oleh anNasaa-i dalam Manaaqibul Kubraa, Ibnu Sa’ad dalam atThobaqoot, atThohaawy dalam Syarh al-Maa’niy, al-Haakim dalam al-Mustadrak. Al-Hafidz Ibnu Hajar menghasankan hadits ini dalam Takhriijul Mukhtashor. Silakan dilihat penjelasan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaany dalam Silsilah al-Ahaadits Asshohiihah juz 6/556).
    Kedua: Penyebutan al-fauqiyyah (ketinggian) tanpa diikuti kata penghubung apapun. Seperti dalam firman Allah:
    “ dan Dialah Yang Maha Menundukkan di atas hamba-hambaNya”(Q.S al-An’aam:18).
    Ketiga: Penjelasan adanya sesuatu yang naik (Malaikat, amal sholih) menuju Allah. Lafadz ‘naik’ yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan al-Hadits bisa berupa al-‘uruuj atau as-Shu’uud.
    Seperti dalam firman Allah:
    “ dari Allah yang memiliki al-Ma’aarij. Malaaikat dan Ar-Ruuh naik menuju Ia “(Q.S al-Ma’aarij:3-4).
    Mujahid (murid Sahabat Nabi Ibnu Abbas) menafsirkan: (yang dimaksud) dzil Ma’aarij adalah para Malaikat naik menuju Allah (Lihat dalam Shahih al-Bukhari).
    Dalam hadits disebutkan:
    “ Bergantian menjaga kalian Malaikat malam dan Malaikat siang. Mereka berkumpul pada sholat ‘Ashr dan Sholat fajr. Kemudian naiklah malaikat yang bermalam bersama kalian, sehingga Allah bertanya kepada mereka –dalam keadaan Dia Maha Mengetahui- Allah berfirman: Bagaimana kalian tinggalkan hambaKu? Malaikat tersebut berkata: “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan sholat, dan kami tinggalkan mereka dalam keadaan sholat” (H.R Al-Bukhari dan Muslim).
    Ibnu Khuzaimah menyatakan: “ Di dalam khabar (hadits) telah jelas dan shahih bahwasanya Allah ‘Azza Wa Jalla di atas langit dan bahwasanya para Malaikat naik menujuNya dari bumi. Tidak seperti persangkaan orang-orang Jahmiyyah dan Mu’aththilah (penolak Sifat Allah) (Lihat Kitabut Tauhid karya Ibnu Khuzaimah halaman 381)
    Seperti juga firman Allah:
    “ kepada-Nyalah naik ucapan yang baik dan amal sholih dinaikkannya” (Q.S Fathir:10).
    Disebutkan pula dalam hadits:
    Dari Usamah bin Zaid –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah aku tidak pernah melihat shaummu di bulan lain sebagaimana engkau shaum pada bulan Sya’ban? Rasul bersabda: Itu adalah bulan yang banyak manusia lalai darinya antara Rajab dengan Ramadlan. Itu adalah bulan terangkatnya amalan-amalan menuju Tuhan semesta alam. Maka aku suka jika amalku terangkat dalam keadaan aku shaum (puasa)(H.R AnNasaa-i dishahihkan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaany).
    Dari Abu Musa radliyallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah berdiri di hadapan kami dengan menyampaikan 5 kalimat (di antaranya) beliau bersabda: “ Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidaklah tidur dan tidak layak bagiNya tidur. Dia menurunkan timbangan dan mengangkatnya, terangkat (naik) kepadaNya amalan pada malam hari sebelum amalan siang hari, dan amalan siang hari sebelum amalan malam hari…”(H.R Muslim).
    Keempat: Penjelasan tentang diangkatnya sebagian makhluk menuju Allah.
    Sebagaimana dijelaskan dalam AlQur’an:
    “ Bahkan Allah mengangkatnya kepadaNya” (Q.S AnNisaa’:158).
    “ Sesungguhnya Aku mewafatkanmu dan mengangkatmu kepadaKu” (Q.S Ali Imran:55).
    Kelima: Penjelasan tentang ketinggian Allah secara mutlak
    Sebagaimana dijelaskan dalam AlQur’an, di antaranya:
    “ dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung” (Q.S al-Baqoroh:255).
    “ dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” (Q.S Saba’:28)
    Keenam: Penjelasan bahwa AlQur’an ‘diturunkan’ dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Ini jelas menunjukkan bahwa Allah berada di atas, sehingga Ia menyebutkan bahwa AlQur’an diturunkan dariNya. Tidaklah diucapkan kata ‘diturunkan’ kecuali berasal dari yang di atas.
    Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam AlQur’an, di antaranya:
    “Kitab (Al Quran ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Q.S Az-Zumar:1).
    “ (AlQur’an) diturunkan dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (Q.S Fusshilaat:2)
    “ (Al Qur’an) diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji” (Q.S Fusshilat:42).
    Ketujuh: Penjelasan tentang kekhususan sebagian makhluk di ‘sisi’ Allah (‘indallaah) yang menunjukkan bahwa sebagian lebih dekat dibandingkan yang lain kepada Allah.
    Sebagaimana disebutkan dalam AlQur’an, di antaranya:
    “…maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu”(Q.S Fushshilat:38).
    “Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih” (Q.S Al-Anbiyaa’:19).
    Kedelapan: Penjelasan bahwa Allah ada di atas langit
    Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam AlQur’an:
    “ Apakah kalian merasa aman dari (Allah) Yang Berada di atas langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, atau apakah kamu merasa aman terhadap (Allah) Yang Berada di atas langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? (Q.S al-Mulk:16-17).
    Yang dimaksud dengan ‘Yang berada di atas langit’ sesuai ayat tersebut adalah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Karena Allahlah Yang Maha Mampu menjungkirbalikkan manusia bersama bumi yang dipijaknya tersebut serta meneggelamkan mereka di dalamnya. Hal ini diperjelas dengan ayat-ayat yang lain, di antaranya:
    Disebutkan dalam sebuah hadits:
    Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang akan meninggal dihadiri oleh para Malaikat. Jika ia adalah seorang yang sholih, maka para Malaikat itu berkata: ‘Keluarlah wahai jiwa yang baik dari tubuh yang baik’. Keluarlah dalam keadaan terpuji dan bergembiralah dengan rouh dan rayhaan dan Tuhan yang tidak murka. Terus menerus dikatakan hal itu sampai keluarlah jiwa (ruh) tersebut. Kemudian diangkat naik ke langit, maka dibukakan untuknya dan ditanya: Siapa ini? Para Malaikat (pembawa) tersebut menyatakan: Fulaan. Maka dikatakan: Selamat datang jiwa yang baik yang dulunya berada di tubuh yang baik. Masuklah dalam keadaan terpuji, dan bergembiralah dengan Rauh dan Rayhaan dan Tuhan yang tida murka. Terus menerus diucapkan yang demikian sampai berakhir di langit yang di atasnya Allah Azza Wa Jalla” (diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah, Al-Bushiri menyatakan dalam Zawaaid Ibnu Majah: Sanadnya sahih dan perawi-perawinya terpercaya, dan dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaany).
    Perlu dipahami dalam bahasa Arab bahwa lafadz في tidak hanya berarti di ‘dalam’, tapi juga bisa bermakna ‘di atas’. Hal ini sebagaimana penggunaan lafadz tersebut dalam ayat:
    Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    “ Tidakkah kalian mempercayai aku, padahal aku kepercayaan dari Yang Berada di atas langit (Allah). Datang kepadaku khabar langit pagi dan sore” (H.R al-Bukhari dan Muslim).
    Disebutkan pula dalam hadits:
    Dari Abdullah bin ‘Amr radliyallaahu ‘anhumaa beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Orang-orang yang penyayang disayangi oleh ArRahmaan. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya akan menyayangi kalian Yang ada di atas langit (Allah) (H.R atTirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albaany).
    Kesembilan: Persaksian Nabi bahwa seorang budak wanita yang ditanya di mana Allah, kemudian menjawab Allah di atas langit sebagai wanita beriman.
    Sesuai dengan hadits Mu’awiyah bin al-Hakam:
    “ Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya: Di mana Allah? Dia menjawab: di atas langit. Rasul bertanya: Siapa saya? Wanita itu menjawab: engkau adalah utusan Allah. Maka Nabi bersabda: ‘Bebaskan dia, karena dia adalah seorang (wanita) beriman” (H.R Muslim).
    Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Asy-Syafi’i di dalam kitab al-‘Umm juz 5 halaman 298. Mengenai periwayatan Imam Asy-Syafi’i tersebut Imam Abu Utsman Ash-Shoobuny menyatakan di dalam kitabnya ‘Aqidatus Salaf Ashaabul Hadiits:
    Asy-Syafi’i –semoga rahmat Allah atasnya- berhujjah terhadap para penentang yang menyatakan bolehnya memerdekakan budak kafir dengan khabar (hadits) ini karena keyakinan beliau bahwa Allah Subhaanahu Wa Ta’ala di atas makhluk-makhlukNya, dan di atas tujuh langit di atas ‘ArsyNya sebagaimana keyakinan kaum muslimin Ahlussunnah wal Jama’ah baik yang terdahulu maupun kemudian, karena beliau (Asy-Syafi’i) tidaklah meriwayatkan khabar (hadits) yang shahih kemudian tidak berpendapat dengan (hadits) tersebut.
    Kesebelas: Nabi mengisyaratkan ke atas saat meminta persaksian kepada Allah.
    Sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir riwayat Muslim yang mengisahkan kejadian pada Haji Wada’:
    “(Nabi bersabda) “Dan kalian akan ditanya tentang aku, apa yang akan kalian katakan? Para Sahabat berkata: ‘Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, menunaikan (amanah), dan menyampaikan nasihat’. Maka Nabi mengisyaratkan dengan mengangkat jari telunjuknya ke langit mengetuk-ngetukkannya ke hadapan manusia (dan berkata) Ya Allah persaksikanlah (3 kali)(H.R Muslim).
    Keduabelas: Disunnahkannya seorang yang berdoa menengadahkan tangan menghadap ke atas, sebagaimana dalam hadits Umar bin al-Khottob yang mengisahkan kejadian pada perang Badr:
    “Nabiyullah shollallaahu ‘alaihi wasallam menghadap kiblat kemudian menengadahkan tangannya dan berseru kepada Rabb-nya: Ya Allah tunaikanlah apa yang Engkau janjikan untukku, Ya Allah berikanlah apa yang Engkau janjikan untukku, Ya Allah jika Engkau membinasakan kelompok ini dari Ahlul Islam, Engkau tidak akan disembah di bumi” (H.R Muslim).
    Dari Salman –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Pemalu lagi Mulya. Dia malu jika seseorang mengangkat kedua tangan ke arahNya kemudian Allah mengembalikan kedua tangan itu dalam keadaan sia-sia (H.R atTirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh alAlbaany).
    Ketigabelas: Penjelasan bahwa penduduk Jannah akan melihat Wajah Rabb-Nya
    Para Ulama’ menjelaskan bahwa salah satu dalil yang menunjukkan ketinggian Allah adalah bisa dilihatnya Allah nanti oleh penduduk Jannah.
    Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    Dari Jarir bin Abdillah al-Bajaliy –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: “Kami duduk pada suatu malam bersama Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam kemudian beliau melihat pada bulan pada malam tanggal 14 beliau bersabda: ‘Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat (bulan) ini, tidaklah berdesakan dalam melihatnya” (H.R al-Bukhari dan Muslim).
    Keempatbelas: Khabar dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau pada waktu Isra’ Mi’raj setelah mendapatkan perintah sholat bolak-balik ketika berpapasan dengan Musa kembali naik menuju Allah untuk meminta keringanan bagi umatnya. Demikian terjadi beberapa kali. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits:
    Dari Anas bin Malik –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “….Allah mewahyukan kepadaku apa yang Ia wahyukan. Maka Ia mewajibkan kepadaku 50 sholat sehari semalam. Maka aku turun menuju Musa shollallaahu ‘alaihi wasallam, kemudian ia berkata: Apa yang Rabbmu wajibkan bagi umatmu? Aku berkata: 50 sholat. Musa berkata: kembalilah pada Tuhanmu, mintakanlah padanya keringanan, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukannya. Karena sesungguhnya aku telah mencoba Bani Israil dan aku mengerti keadaan mereka. Rasululullah berkata: Maka aku kembali kepada Tuhanku dan berkata: Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk umatku. Maka dihapuskan dariku 5 sholat. Kemudian aku kembali ke Musa dan berkata: Telah dihapuskan (dikurangi) untukku 5 sholat. Musa berkata: sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup, kembalilah pada Tuhanmu dan mintakanlah keringanan. Nabi bersabda: Senantiasa aku bolak-balik antara Tuhanku Tabaroka Wa Ta’ala dengan Musa ‘alaihis salaam sampai Allah berfirman: Wahai Muhammad sesungguhnya kewajiban sholat tersebut adalah 5 kali sehari semalam. Setiap sholat dilipatgandakan 10 kali. Maka yang demikian adalah (senilai) 50 sholat…..Nabi bersabda: Maka kemudian aku turun sampai pada Musa shollallaahu ‘alaihi wasallam, maka aku khabarkan kepadanya. Musa berkata: Kembalilah pada Rabmu dan mintakanlah keringanan. Maka aku (Rasulullah) berkata: Aku telah kembali pada Rabku, sampai aku merasa malu padaNya” (H.R al-Bukhari dan Muslim, lafadz sesuai riwayat Muslim).
    Keenambelas: Nash-nash tentang penyebutan ‘Arsy dan sifatnya, dan seringnya diidhafahkan kepada Penciptanya yaitu Allah Subhaanahu Wa Ta’ala yang berada di atasnya. Seperti disebutkan dalam ayat-ayat AlQur’an:
    “Rabb Arsy yang Agung..”(Q.S AnNaml:126).
    “ Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Yang Memiliki Arsy yang mulya “(Q.S alBuruuj:14-15).
    “(Allah)lah Yang Mengangkat derajat-derajat, yang memiliki ‘Arsy” (Q.S Ghafir:15).
    Penyebutan bahwa Allah istiwa’ di atas ‘Arsy telah dikemukakan dalam sisi pendalilan kesepuluh di atas.
    Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus karena sesungguhnya ia adalah tengah-tengah Jannah, dan Jannah yang paling tinggi. Di atasnya adalah ‘Arsy ArRahmaan” (H.R al-Bukhari).
    Ketujuhbelas: Pensucian Allah terhadap diriNya bahwa Ia terjauhkan dari segala aib, cela dan kekurangan maupun penyerupaan.
    Al-Imam Ahmad rahimahullah ketika membantah Jahmiyyah, beliau berdalil dengan ayat-ayat AlQur’an yang menunjukkan bahwa setiap penyebutan keadaan ‘rendah’ selalu dalam konteks celaan. Setelah menyebutkan dalil-dalil bahwa Allah berada di atas ketinggian, beliau menyatakan:
    “Maka ini adalah khabar dari Allah. Allah mengkhabarkan kepada kita bahwa Ia berada di atas langit. Dan kami dapati segala sifat rendah sebagai tercela. Sebagaimana firman Allah:
    “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka..” (Q.S AnNisaa’: 145).
    Dan orang-orang kafir berkata: “Ya Rabb kami perlihatkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami (yaitu) sebagian dari jinn dan manusia agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina” (Q.S Fusshilat:29) (Lihat ArRadd ‘alal Jahmiyyah waz Zanaadiqoh karya Imam Ahmad bin Hanbal halaman 147).
    Ibnu Batthoh juga menyatakan: Tuhan kita Allah Ta’ala mencela keadaan rendah dan memuji yang tinggi. Sebagaimana dalam firmanNya:
    “Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘Illiyyin”.(Q.S al-Muthoffifiin: 18).’Illiyyin adalah langit ke tujuh… Dan Allah Ta’ala juga menyatakan:
    “Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin”(Q.S al-Muthoffifiin:7) Sijjin yaitu lapisan bumi yang terbawah. (Lihat Ucapan Ibnu Batthoh tersebut dalam kitab al-Ibaanah juz 3 halaman 142-143).
    Demikianlah, beberapa sisi pendalilan yang bisa kami sebutkan dalam tulisan ini. Pada tiap sisi pendalilan, terkandung banyak dalil dari AlQur’an maupun hadits yang shahih.
    Bantahan terhadap keyakinan Allah ada dimana-mana
    Faham yang satu ini banyak dianut oleh mayoritas kaum muslimin dinegara kita sekarang ini. Padahal tahukah mereka pemahaman siapakah ini sebenarnya?! Faham ini dicetuskan oleh kaum Jahmiyyah dan Mu’tazilah.
    Imam Ahmad bin Hanbal telah menepis dan membongkar kerusakan faham ini dalam kitabnya “Ar-Rad ‘ala Al-Jahmiyyah” hal. 53..
    Konsekuansi faham sesat “Allah dimana-mana” ini sangatlah batil sekali yaitu Allah berada di tempat-tempat yang kotor dan membatasi Allah pada makhluk sebagaimana diceritakan dari Bisyr Al-Mirrisyi tatkala dia mengatakan: “Allah berada di segala sesuatu”, lalu ditanyakan padanya: Apakah Allah berada di kopyahmu ini?! Jawabnya: Ya, ditanyakan lagi padanya: Apakah Allah ada dalam keledai?! Jawabnya: Ya!!!
    Perkataan ini sangatlah hina dan keji sekali terhadap Allah!!! Oleh karena itulah sebagian ulama’ salaf mengatakan: “Kita masih mampu menceritakan perkataan Yahudi dan Nasrhani tetapi kita tak mampu menceritakan perkataan Jahmiyyah!
    Kedua: Allah tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan, tidak dikiri, tidak di depan, tidak di belakang, tidak di dalam, tidak di luar, tidak bersambung, tidak berpisah sebagaimana keyakinan ahli kalam (filsafat).
    Ucapan di atas jelas-jelas menunjukkan bahwa Allah tidak ada. Inilah ta’thil (peniadaan) yang amat nyata. Maha suci Allah dari apa yang mereka ucapkan. Alangkah indahnya perkataan Mahmud bin Subaktukin terhadap orang yang mensifati Allah dengan seperti itu: “Bedakanlah antara Allah yang engkau tetapkan dengan sesuatu yang tidak ada!
    Walhasil, kedua keyakinan diatas merupakan kebatilan yang tidak samar lagi bagi orang yang beri hidayah oleh Allah..
    Demikian, wallahu a’lam..

  155. KEDUA
    Dalam Al Qur’an atau As Sunnah dijelaskan, bahwa Allah Ta’ala bersemayam di atas Arsy.
    Arsy itu ada di atas langit yang ke-7.
    Bagaimana cara Allah bersemayam di atas Arsy,hal itu merupakan perkara ghaib.
    Kita tidak boleh mengatakan ; Allah disana “duduk”, “berdiri”,“menempel”, “mengambang”, dll., karena memang semua itu tak dijelaskan oleh-Nya dan oleh Nabi-Nya Shallalalahu ‘Alaihi Wasallam.
    Termasuk pertanyaan; apakah Arsy itu berupa ruang, udara kosong, dimensi nihil, atau apapun ?.
    Semua itu tidak usah dipikirkan dan ditanyakan.
    Dengan sendirinya, jika Istiwa’ Allah di atas Arsy tak usah ditanyakan, maka bagaimana keadaan Allah sebelum menciptakan Arsy, lebih tak perlu ditanyakan lagi.
    KETIGA
    Munculnya pertanyaan,dimana Allah sebelum Dia menciptakan langit dan Arsy, hal ini lahir karena kesalahan berpikir sangat fatal, yaitu sejak awal sudah mempersepsikan Allah seperti makhluk.
    Misalnya;suatu saat kita melihat seekor burung hinggap di pohon depan rumah.
    Maka pikiran logis kita akan segera bergerak: “ Dari mana nih burung?,Kok pagi-pagi sudah nongol di depan rumah?”.
    Nah, untuk makhluk, kita bisa berpikir seperti itu, karena makhluk terikat oleh hukum-hukum Sunnatullah yang berlaku atasnya.
    Dalam masalah makhluk kita selalu berpikir ; “ darimana ini ”, “ akan kemana ”, “ nanti menjadi apa ”, “ prosesnya bagaimana ”, dll.
    Tetapi untuk Allah Ta’ala, Dia terbebas dari semua ikatan-ikatan hukum yang berlaku pada makhluk-Nya.
    Allah Ta’ala Berfirman :
    “ Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah [ menyamakan Allah dengan makhluknya ]. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui “. QS.An Nahl ; 74.
    “ Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat “. QS.Asy Syuura’ ; 11.
    KEEMPAT
    Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa ada kalanya dalam diri manusia timbul pikiran-pikiran aneh karena bisikan syaitan.
    Misalnya dia berpikir,bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Allah. Lalu siapa yang menciptakan Allah ?.
    Nabi menasehatkan, kalau ada bisikan-bisikan seperti itu, seorang Muslim cukup mengatakan:
    “ Amantu billahi wa bi Rusulihi” (aku beriman kepada Allah dan kepada Rasul-rasul-Nya). HR. Imam Ahmad.
    Dzat Allah sangat berbeda dengan makhluk-Nya. Allah menciptakan,tetapi tidak membutuhkan diciptakan. Allah adalah Awal, tetapi tanpa diawali.
    Dia ada, tanpa diadakan. Dia adalah Akhir, tetapi tanpa diakhiri. Allah bisa membolak-balikkan siang dan malam, gelap dan terang, panas dan dingin, sesuka diri-Nya.
    Jadi kita tidak perlu bertanya ; “ Siapa yang menciptakan Allah ? ”.
    Sebab logika demikian hanya berlaku bagi makhluk-Nya. Allah Ta’ala ada tanpa diadakan, Dia kuasa tanpa diberi kekuasaan, Dia mencipta tanpa pernah terciptakan.
    Dia bisa membolak-balikkan dimensi-dimensi tanpa berkurang sedikitpun Kemuliaan dan Keagungan-Nya. Dia Tinggi tanpa ada yang lebih tinggi dari-Nya, Dia bisa turun tanpa menjadi lebih rendah. Allah tidak terikat sifat-sifat makhluk-Nya.
    Kalau manusia mencari hal-hal di luar semua itu, ingin menerobos hakikat-hakikat seputar Sifat Rubibiyyah Allah; demi memuaskan hawa nafsu akalnya, jelas dia akan binasa. Na’udzubillah min dzalik.
    Ketahuilah, akal manusia dibatasi oleh hukum-hukum yang berlaku di alam semesta (universe). Sedangkan Allah bebas dari semua hukum-hukum itu. Sekali-kali, jangan memahami Allah dengan ukuran-ukuran makhluk-Nya.
    KELIMA
    Ada logika yang diyakini sebagian orang ;“ Kalau Allah di atas Arsy, lalu dimana Dia sebelum Arsy itu diciptakan ?”.
    Apakah Dia sebelumnya berada di suatu “ tempat ”, kemudian pindah ke atas Arsy?.
    Mungkinkah Dzat Allah berpindah-pindah?, Sungguh mustahil.
    Logika demikian kan sangat kelihatan kalau si penanya berpikir dalam dimensi makhluk. Dia ingin memahami Allah dengan persepsi makhluk. Sebenarnya, Allah mau mengambil “ posisi ” dimanapun, itu hak Dia.
    Andaikan Allah tidak menunjuki diri-Nya di atas Arsy, tidak ada masalah bagi-Nya.
    Tetapi karena kasih-sayang Allah, di atas Keghaiban-Nya, Dia ingin memudahkan manusia memahami keghaiban itu, maka Dia berkehendak istiwa’ di atas Arsy.
    Dengan demikian, manusia mendapati satu kemudahan ketika ditanya “aina Allah” (dimana Allah)..
    Maka kita bisa menjawab secara pasti: Fis sama’i ‘alal Arsy (di langit, di atas Arsy).
    Mungkinkah Allah berpindah-pindah dari satu posisi ke posisi lain?.
    Mula-mula, Anda harus bebaskan Dzat Allah dari ikatan-ikatan yang berlaku atas makhluk-Nya.
    Makhluk dibatasi oleh dimensi-dimensi, sedangkan Allah bebas dari semua itu. Kemudian, ingat selalu bahwa Allah memiliki Sifat Iradah (Maha Berkehendak).
    Kalau Allah berkehendak berbuat sesuatu, tidak ada satu pun yang mampu menghalangi-Nya. Seperti sebuah doa yang diajarkan oleh Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam:
    “Allahumma laa mani’a li maa a’thaita, wa laa mu’thiya li maa mana’ta”
    “Ya Allah, tidak ada yang sanggup menolak apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang bisa menerima apa yang Engkau tolak”.
    Jika demikian, lalu bagaimana insan-insan yang lemah, otak-otak yang bodoh, dan hawa nafsu yang meluap-luap ini, hendak menolak Sifat-sifat Allah ?.
    Itulah bahayanya, cara-cara Ta’wil [ menyelewengkan makna ] itu nantinya kerap kali menjadi jalan untuk mengingkari Sifat-sifat Allah.
    Mulanya Ta’wil, lama-lama menjadi Jahmiyyah atau Zindiqah.
    KEENAM
    Para ulama sering mengatakan : “ tafakkaruu fi khalqillaah wa laa tafakkaruu fi dzatillaah ”;
    ” Silakan berpikir tentang ciptaan Allah, namun jangan berpikir tentang Dzat-Nya”.
    Ungkapan seperti ini tidak mengada-ada. Bukannya manusia tak boleh berpikir tentang Allah, tetapi otaknya tak akan bisa memahami Dzat Allah dengan segala Sifat-Nya.
    Dalam Surat Al A’raaf ayat 143, Musa ‘Alaihissalam pernah meminta ingin melihat Dzat Allah. Kemudian Allah berkata kepada Musa : “ Lan taraniy ” ; “engkau tak akan sanggup melihat-Ku”.
    Lalu Allah memperlihatkan diri-Nya kepada gunung, seketika itu gunung tersebut hancur berkeping-keping karena takut kepada Allah. Melihat gunung hancur, Musa langsung pingsan.
    Hal ini merupakan batas demarkasi sifat kebebasan manusia dalam mendayagunakan potensi dan kekuatan nalarnya. Manusia tak boleh melebihi ambang demarkasi itu, agar otak dan kehidupannya tidak menjadi binasa. Nas’alullaaha al ‘afiyah.
    Singkat kata, dimana kedudukan Allah sebelum menciptakan langit dan Arsy,semua itu adalah keghaiban belaka.
    Sama ghaibnya dengan bagaimana keadaan Allah beristiwa’ di atas Arsy.
    Kita tidak dibebani kewajiban untuk menelisik masalah-masalah seperti itu.
    Akal kita tak akan sampai pada kebenaran hakiki dalam hal seperti ini, kecuali kelak kita bisa tanyakan semua itu kepada Allah Ta’ala di Akhirat nanti (dengan syarat, harus masuk syurga dulu) Dalam pertanyaan seperti ini tak ada penjelasan yang bisa memuaskan akal secara sempurna,kecuali akal orang-orang beriman yang rela mengimani Kitabullah dan As Sunnah Rasul-Nya, serta tidak menjadikan otaknya sebagai sumber hukum dan agama, dalam kehidupan ini..
    Wallahu a’lam..

  156. Bismillah,
    Berikut ini ana akan bawakan dalil-dalil bahwa Allah berada diatas langit :
    Sangat banyak dalil dari al-Qur’an dan As Sunnah yang shahihah yang menunjukkan bahwa Allah berada di atas ‘Arsy, di atas langit, di atas seluruh makhlukNya. Demikian banyaknya dalil itu sehingga tidak terhitung jumlahnya.
    Imam telah al-Alusiy menjelaskan:
    “ Dan engkau mengetahui bahwa madzhabus Salaf menetapkan ketinggian Allah Ta’ala sebagaimana disebutkan oleh al-Imam AtThohawy dan yang selainnya, mereka berdalil dengan sekitar 1000 dalil” (Lihat Tafsir Ruuhul Ma’aaniy fii Tafsiiril Qur’aanil ‘Adzhiim was Sab’il Matsaaniy juz 5 halaman 263).
    Berikut sebagian dalil-dalil dimaksud yang ana sarikan dari penjelasan Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafy dalam Syarh al-‘Aqiidah atThohaawiyyah halaman 267-269 dan juga tulisan berjudul al-Kalimaatul Hisaan fii Bayaani Uluwwir Rahmaan yang ditulis Abdul Hadi bin Hasan..
    Pertama: Penyebutan ‘alFauqiyyah (ketinggian) Allah dengan kata penghubung ‘min’. Seperti dalam firman Allah:
    “ dan milik Allah sajalah segala yang ada di langit dan di bumi berupa makhluk melata dan para Malaikat, dalam keadaan mereka tidaklah sombong. Mereka takut terhadap Rabb mereka yang berada di atas mereka, dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan” (Q.S AnNahl:49-50).
    Ibnu Khuzaimah –rahimahullah- meyatakan:
    “Maka Allah Yang Maha Mulya dan Maha Tinggi memberitahukan kepada kita dalam ayat ini bahwa Rabb kita berada di atas para MalaikatNya, dan berada di atas segala yang ada di langit dan di bumi berupa makhluk melata, dan (Allah) mengkhabarkan kepada kita bahwa para Malaikat takut terhadap Rabb mereka yang berada di atas mereka” (Lihat Kitaabut Tauhid karya Ibnu Khuzaimah halaman 111).
    Perhatikanlah, Ibnu Khuzaimah memahami ayat tersebut bahwa memang Allah Ta’ala berada di atas seluruh makhlukNya. Siapakah Ibnu Khuzaimah sehingga kita perlu mengambil rujukan (tentang Ketinggian Allah ini) darinya? Ibnu Khuzaimah adalah salah seorang ulama’ bermadzhab Asy-Syafi’i. Beliau merupakan salah satu murid al-Bukhari. Al-Bukhari dan Muslim juga mengambil ilmu (hadits) darinya, namun tidak dikeluarkan dalam As-Shahihain. Ibnu Khuzaimah adalah guru Ibnu Hibban al-Busty, sedangkan Ibnu Hibban adalah guru al-Haakim.
    Al-Hafidz Adz-Dzahaby menyatakan tentang Ibnu Khuzaimah:
    “ Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah bin alMughirah bin Sholih bin Bakr. (Beliau) adalah al-Hafidz, al-Hujjah, alFaqiih, Syaikhul Islam, Imamnya para Imam. Abu Bakr As-Sulamy anNaisabuury Asy-Syaafi’i (bermadzhab Asy-Syafi’i)(Lihat Siyaar A’laamin Nubalaa’ juz 14 halaman 365).
    Sisi pendalilan yang pertama ini juga sebagaiman disebutkan dalam hadits Nabi, bahwa Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam menyatakan kepada Sa’ad bin Mu’adz ketika Sa’ad memberi keputusan terhadap Bani Quraidzhah:
    “ Sungguh engkau telah menetapkan hukum (pada hari ini) dengan hukum Allah yang telah Allah tetapkan dengannya dari atas tujuh langit” (diriwayatkan oleh anNasaa-i dalam Manaaqibul Kubraa, Ibnu Sa’ad dalam atThobaqoot, atThohaawy dalam Syarh al-Maa’niy, al-Haakim dalam al-Mustadrak. Al-Hafidz Ibnu Hajar menghasankan hadits ini dalam Takhriijul Mukhtashor. Silakan dilihat penjelasan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaany dalam Silsilah al-Ahaadits Asshohiihah juz 6/556).

  157. @abu aisyah
    saya akan menjawab sendiri pertanyaan saya, dimana Allah swt. sebelum menciptakan tempat, langit atau ‘arasy? langit, ‘arasy atau tempat itu, makhluk apa bukan, qadim azali atau tidak?
    firman Allah subhanahu wa ta‘ala: “Dialah (Allah) Yang Maha Awal (wujudnya tanpa permulaan) dan Yang Maha Akhir (Wujudnya tanpa akhir).” (QS. al-Hadid : 3). Kata al-Awwal dalam ayat ini artinya al-Azali atau al-Qadim. Maknanya tidak memiliki permulaan. Makna al-Awwal, al-Azali dan atau al-Qadim dalam pengertian ini secara mutlak hanya milik Allah saja. Tidak ada suatu apapun dari makhluk Allah yang memiliki sifat seperti ini. Karena itu segala sesuatu selain Allah disebut makhluk, karena semuanya adalah ciptaan Allah, semuanya menjadi ada karena ada yang mengadakan. Dengan demikian semua makhluk tersebut baru, semuanya ada dari tidak ada, sebagaimana firman Allah swt. : ““Allah-lah pencipta segala sesuatu.” (QS. al-Zumar : 62).”
    Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya: “Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku berada bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang sekelompok dari penduduk Yaman dan berkata: “Kami datang untuk belajar agama dan menanyakan tentang permulaan yang ada ini, bagaimana sesungguhnya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah telah ada dan tidak ada sesuatu apapun selain Allah.” (HR. al-Bukhari [3191]).
    Imam asy-Syafi’i Muhammad ibn Idris (w 204 H), seorang ulama Salaf terkemuka perintis madzhab Syafi’i, berkata: Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Kemudian Dia menciptakan tempat, dan Dia tetap dengan sifat-sifat-Nya yang Azali sebelum Dia menciptakan tempat tanpa tempat. Tidak boleh bagi-Nya berubah, baik pada Dzat maupun pada sifat-sifat-Nya” (LIhat az-Zabidi, Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn…, j. 2, h. 24).
    Dalam salah satu kitab karnya; al-Fiqh al-Akbar[selain Imam Abu Hanifah; Imam asy-Syafi’i juga menuliskan Risalah Aqidah Ahlussunnah dengan judul al-Fiqh al-Akbar], Imam asy-Syafi’i berkata: “Ketahuilah bahwa Allah tidak bertempat. Dalil atas ini adalah bahwa Dia ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Setelah menciptakan tempat Dia tetap pada sifat-Nya yang Azali sebelum menciptakan tempat, ada tanpa tempat. Tidak boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik pada Dzat-Nya maupun pada sifat-sifat-Nya. Karena sesuatu yang memiliki tempat maka ia pasti memiliki arah bawah, dan bila demikian maka mesti ia memiliki bentuk tubuh dan batasan, dan sesuatu yang memiliki batasan mestilah ia merupakan makhluk, Allah Maha Suci dari pada itu semua. Karena itu pula mustahil atas-Nya memiliki istri dan anak, sebab perkara seperti itu tidak terjadi kecuali dengan adanya sentuhan, menempel, dan terpisah, dan Allah mustahil bagi-Nya terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Karenanya tidak boleh dibayangkan dari Allah adanya sifat menempel dan berpisah. Oleh sebab itu adanya suami, istri, dan anak pada hak Allah adalah sesuatu yang mustahil” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).
    Dalam al-Fiqh al-Absath, al-Imam Abu Hanifah menuliskan: “Aku katakan: Tahukah engkau jika ada orang berkata: Di manakah Allah? Jawab: Dia Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum segala makhluk-Nya ada. Allah ada tanpa permulaan sebelum ada tempat, sebelum ada makhluk dan sebelum segala suatu apapun. Dan Dia adalah Pencipta segala sesuatu” (Lihat al-Fiqh al-Absath karya al-Imam Abu Hanifah dalam kumpulan risalah-risalahnya dengan tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 20).
    oleh karena itulah, orang yang menisbatkan arah atau tempat bagi Allah tidak lepas dari dua kesesatan. pertama, Orang yang menetapkan tempat bagi Allah sama saja dengan menetapkan bahwa tempat adalah sesuatu yang azali dan qadim; ada tanpa permulaan bersama Allah. kedua, Orang yang menetapkan adanya tempat atau arah bagi Allah sama juga dengan mengatakan bahwa Allah baru. Artinya dalam keyakinan orang ini, sebelum Allah menciptakan tempat dan arah Dia ada tanpa tempat dan arah, namun setelah Dia menciptakan arah dan tempat Dia berubah menjadi membutuhkan kepada keduanya.
    Dalam kitab DAF’U SYUBAH AT-TASYBIH BI-AKAFFI AT-TANZIH Karya Imam Ibn Al-Jauzi, salah seorang pembesar mazhab hambali, ada sebuah hadist yg berbunyi : “Datang seorang pendeta kepada Rasulullah, berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah di hari kiamat akan memegang seluruh lapisan langit dengan satu jari, seluruh lapisan bumi dengan satu jari, gunung-gunung dan pepohonan dengan satu jari”. Dalam satu riwayat mengatakan: “Air dan tanah dengan satu jari, kemudian Allah menggerakan itu semua”. Maka Rasulullah tertawa [mendengar perkataan pendeta tersebut], lalu bersabda [dengan turunnya firman Allah: ”Dan tidaklah mereka dapat mengenal Allah dengan sebenar keagungan-Nya”].
    Aku (Ibnul Jawzi) katakan: “Tertawanya Rasulullah dalam hadits di atas sebagai bukti pengingkaran beliau terhadap pendeta (Yahudi) tersebut, dan sesungguhnya kaum Yahudi adalah kaum yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya (Musyabbihah). Lalu turunnya firman Allah: “ وما قدروا لله حق قدره ” adalah bukti nyata lainnya bahwa Rasulullah mengingkari mereka (kaum Yahudi)”.
    KESIMPULAN :
    PERTAMA, ALLAH SWT. TELAH ADA SEBELUM ADANYA TEMPAT, ‘ARASY, LANGIT DSB, DAN ALLAH SWT. ADALAH PENCIPTA SEGALA SESUATU, TERMASUK LANGIT, ‘ARASY, TEMPAT DSB. SETELAH MENCIPTAKAN TEMPAT, LANGIT, ‘ARASY DSB, KEBERADAAN ALLAH SWT. TETAP SAMA SEPERTI SEBELUMNYA, ADA TANPA TEMPAT DAN ARAH.
    KEDUA, AQIDAH SAUDARA (ABU AISYAH) DAN YG SEALIRAN DENGAN SAUDARA, SAMA DENGAN AQIDAH YAHUDI TERSEBUT.

  158. @abu aisyah
    jika anda tetap berkeyakinan bahwa ayat atau hadist mutasyabihat harus dipahami berdasarkan zhahir dan hakikatnya, saya ingin bertanya kembali, apa makna hadist berikut ini : “Allah berfirman : ”Barangsiapa memusuhi wali-Ku sungguh Ku-umumkan perang kepadanya, tiadalah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan hal – hal yang fardhu, dan Hamba-Ku terus mendekat kepada-Ku dengan hal–hal yang sunnah baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya maka Aku menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, dan menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya yang ia gunakan untuk melangkah, bila ia meminta pada-Ku niscaya Ku-beri permintaannya….” (Shahih Bukhari hadits No.6137)”.
    YANG INGIN SAYA TANYAKAN ADALAH APA MAKNA KALIMAT: “………Bila Aku mencintainya maka Aku menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, dan menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya yang ia gunakan untuk melangkah……….”
    KUHARAP ANDA JUGA MENGERTI MAKSUD PERTANYAAN SAYA

  159. @abu aisyah
    ”Mereka yang berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS. Al Fath : 10)”. anda mengatakan bahwa Ayat ini harus dipahami sesuai zahir dan hakikatnya. Karena tangan Allah di atas seluruh tangan orang-orang yang berbai’at. Karena tangannya termasuk sifat-Nya.”
    dari pernyataan kaum mujassim musyabbih seperti anda inilah, saya bertanya, apa makna hadist berikut ini :”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits No.2569).
    dari hadist tersebut, SAYA INGIN BERTANYA, APA YANG DIMAKSUD dengan firman Allah swt. dalam hadist qudsi tersebut, yaitu kalimat : “AKU SAKIT” dan kalimat “BILA KAU MENJENGUKNYA MAKA AKAN KAU TEMUI AKU DISISINYA”. saya harap anda mengerti pertanyaan saya.

  160. @mas abu aisyah
    tolong panjenengan bila menupas masalah tauhid sertakan dalil atau hadist atau minimal dawuh ulama salaf… maaf tauhid bukan termasuk permasalahan ijtihadiy….

  161. Bismillah,
    @Mas Agung :
    Ana ingin menanggapi pernyataan antum mengenai keberadaan Allah azza wa jalla, Pertama-tama ana ingin coba menjawab pertanyaan antum :
    Pertanyaan antum yang pertama :
    Antum membawakan hadits : ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits No.2569)
    hadist tersebut, karena tidak boleh ditakwil, maka akan memberi pemahaman bahwa Allah memiliki sifat sakit.
    Jawab :
    Subhanallah, Maha Suci Allah dari sifat itu..
    Allah azza wa jalla sudah menjawab Sendiri dalam lanjutan hadits qudsi yang antum bawakan itu, coba dibaca lagi haditsnya..
    Pertanyaan kedua : Antum membawakan ayat : :”Mereka yang berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS. Al Fath : 10)”.
    apa maksud tangan tersebut? apakah ada tangan yg turun dari langit yg tidak serupa dengan tangan makhluk?
    Subhanallah.. Ayat ini harus dipahami sesuai zahir dan hakikatnya. Karena tangan Allah di atas seluruh tangan orang-orang yang berbai’at. Karena tangannya termasuk sifat-Nya. Dia berada di atas mereka di Arasy-Nya. Maka tangannya di atas tangan mereka. Ini merupakan zahir dan hakikat lafaz tersebut. Hal itu untuk menguatkan bahwa orang-orang yang berbaiat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam pada hakikatnya dia sedang berbaiat kepada Allah Azza wa Jalla. Hal itu tidak harus berarti bahwa tangan Allah yang langsung membai’at mereka. Bukankah antum memahami jika dikatakan ‘Langit di atas kami’ padahal langit jauh di atas kita. Maka tangan Allah di atas tangan para shahabat yang berbaiat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sementara kedudukannya berbeda dan lebih tinggi di atas mereka.” (Al-Qawa’idul Mutsla, 3/331)..

  162. Bismillah,
    @Mas Agung :
    Ana ingin menanggapi pernyataan antum mengenai keberadaan Allah azza wa jalla, Pertama-tama ana ingin coba menjawab pertanyaan antum :
    Pertanyaan antum yang pertama :
    Antum membawakan hadits : ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits No.2569)
    hadist tersebut, karena tidak boleh ditakwil, maka akan memberi pemahaman bahwa Allah memiliki sifat sakit.
    Jawab :
    Subhanallah, Maha Suci Allah dari sifat itu..
    Allah azza wa jalla sudah menjawab Sendiri dalam lanjutan hadits qudsi yang antum bawakan itu, coba dibaca lagi haditsnya..
    Pertanyaan kedua : Antum membawakan ayat : :”Mereka yang berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS. Al Fath : 10)”.
    apa maksud tangan tersebut? apakah ada tangan yg turun dari langit yg tidak serupa dengan tangan makhluk?
    Subhanallah.. Ayat ini harus dipahami sesuai zahir dan hakikatnya. Karena tangan Allah di atas seluruh tangan orang-orang yang berbai’at. Karena tangannya termasuk sifat-Nya. Dia berada di atas mereka di Arasy-Nya. Maka tangannya di atas tangan mereka. Ini merupakan zahir dan hakikat lafaz tersebut. Hal itu untuk menguatkan bahwa orang-orang yang berbaiat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam pada hakikatnya dia sedang berbaiat kepada Allah Azza wa Jalla. Hal itu tidak harus berarti bahwa tangan Allah yang langsung membai’at mereka. Bukankah antum memahami jika dikatakan ‘Langit di atas kami’ padahal langit jauh di atas kita. Maka tangan Allah di atas tangan para shahabat yang berbaiat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sementara kedudukannya berbeda dan lebih tinggi di atas mereka.” (Al-Qawa’idul Mutsla, 3/331)..
    Pertanyaan antum berikutnya :
    Dimana Allah swt. sebelum menciptakan tempat, langit atau ‘arasy?
    langit, ‘arasy atau tempat itu, makhluk apa bukan, qadim azali atau tidak?
    PERTAMA
    Dalam ajaran Islam banyak perkara yang bersifat ghaib. Ghaib bisa karena waktu (misalnya peristiwa-peristiwa di masa lalu, atau di masa depan).
    Ghaib bisa karena ruang (misalnya letaknya sangat jauh, atau sangat kecil, sehingga tak tampak oleh penglihatan normal).
    Ghaib juga bisa karena wujudnya (misalnya ada makhluk halus yang tak tampak, padahal mereka ada dan eksis, seperti jin, Malaikat, ruh, dll.).
    Di antara perkara ghaib itu ada yang Allah ajarkan, dan ada pula yang tidak Dia ajarkan.
    Contoh, hanya sebagian saja dari ribuan Nabi dan Rasul yang disebutkan kisahnya dalam Al Qur’an dan As Sunnah.
    Terhadap berita-berita yang Allah ceritakan, ya kita imani; adapun yang tidak Dia ceritakan, kita menahan diri untuk tidak masuk ke wilayah itu, agar tidak menjadi sesat karenanya. Na’uudzu billaahi min dzaalik.
    Informasi atau ilmu tentang dimana posisi Allah Ta’ala sebelum Diri-Nya menciptakan langit dan Arasy, adalah termasuk hal-hal sangat ghaib yang tidak diceritakan dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya.
    Kalau terhadap kisah Nabi-nabi tertentu yang tidak dikisahkan dalam Al Qur’an, kita mau menahan diri untuk tidak mengorek-ngorek kisah seperti itu; lalu bagaimana mungkin kita akan mempertanyakan posisi Allah sebelum Dia menciptakan langit dan Arasy ?.
    Apa perlunya ?,kalau misalnya kita sudah tahu, apakah itu bisa meningkatkan keimanan, atau membuat akal justru semakin liberal dengan fantasi-fantasi ala Bani Israil lainnya ?.
    Tidak adanya informasi yang mendetil tentang keberadaan Allah sebelum menciptakan Arsy adalah termasuk batu ujian keimanan buat semua insan..

  163. Bismillah,
    @Mas Agung :
    Ana ingin menanggapi pernyataan antum mengenai keberadaan Allah azza wa jalla, Pertama-tama ana ingin coba menjawab pertanyaan antum :
    Pertanyaan antum yang pertama :
    Antum membawakan hadits : ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits No.2569)
    hadist tersebut, karena tidak boleh ditakwil, maka akan memberi pemahaman bahwa Allah memiliki sifat sakit.
    Jawab :
    Subhanallah, Maha Suci Allah dari sifat itu..
    Allah azza wa jalla sudah menjawab Sendiri dalam lanjutan hadits qudsi yang antum bawakan itu, coba dibaca lagi haditsnya..
    Pertanyaan kedua : Antum membawakan ayat : :”Mereka yang berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS. Al Fath : 10)”.
    apa maksud tangan tersebut? apakah ada tangan yg turun dari langit yg tidak serupa dengan tangan makhluk?
    Subhanallah.. Ayat ini harus dipahami sesuai zahir dan hakikatnya. Karena tangan Allah di atas seluruh tangan orang-orang yang berbai’at. Karena tangannya termasuk sifat-Nya. Dia berada di atas mereka di Arasy-Nya. Maka tangannya di atas tangan mereka. Ini merupakan zahir dan hakikat lafaz tersebut. Hal itu untuk menguatkan bahwa orang-orang yang berbaiat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam pada hakikatnya dia sedang berbaiat kepada Allah Azza wa Jalla. Hal itu tidak harus berarti bahwa tangan Allah yang langsung membai’at mereka. Bukankah antum memahami jika dikatakan ‘Langit di atas kami’ padahal langit jauh di atas kita. Maka tangan Allah di atas tangan para shahabat yang berbaiat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sementara kedudukannya berbeda dan lebih tinggi di atas mereka.” (Al-Qawa’idul Mutsla, 3/331)..
    Pertanyaan antum berikutnya :
    Dimana Allah swt. sebelum menciptakan tempat, langit atau ‘arasy?
    langit, ‘arasy atau tempat itu, makhluk apa bukan, qadim azali atau tidak?
    PERTAMA
    Dalam ajaran Islam banyak perkara yang bersifat ghaib. Ghaib bisa karena waktu (misalnya peristiwa-peristiwa di masa lalu, atau di masa depan).
    Ghaib bisa karena ruang (misalnya letaknya sangat jauh, atau sangat kecil, sehingga tak tampak oleh penglihatan normal).
    Ghaib juga bisa karena wujudnya (misalnya ada makhluk halus yang tak tampak, padahal mereka ada dan eksis, seperti jin, Malaikat, ruh, dll.).
    Di antara perkara ghaib itu ada yang Allah ajarkan, dan ada pula yang tidak Dia ajarkan.
    Contoh, hanya sebagian saja dari ribuan Nabi dan Rasul yang disebutkan kisahnya dalam Al Qur’an dan As Sunnah.
    Terhadap berita-berita yang Allah ceritakan, ya kita imani; adapun yang tidak Dia ceritakan, kita menahan diri untuk tidak masuk ke wilayah itu, agar tidak menjadi sesat karenanya. Na’uudzu billaahi min dzaalik.
    Informasi atau ilmu tentang dimana posisi Allah Ta’ala sebelum Diri-Nya menciptakan langit dan Arasy, adalah termasuk hal-hal sangat ghaib yang tidak diceritakan dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya.
    Kalau terhadap kisah Nabi-nabi tertentu yang tidak dikisahkan dalam Al Qur’an, kita mau menahan diri untuk tidak mengorek-ngorek kisah seperti itu; lalu bagaimana mungkin kita akan mempertanyakan posisi Allah sebelum Dia menciptakan langit dan Arasy ?.
    Apa perlunya ?,kalau misalnya kita sudah tahu, apakah itu bisa meningkatkan keimanan, atau membuat akal justru semakin liberal dengan fantasi-fantasi ala Bani Israil lainnya ?.
    Tidak adanya informasi yang mendetil tentang keberadaan Allah sebelum menciptakan Arsy adalah termasuk batu ujian keimanan buat semua insan..

  164. saya juga Sama-sama newbie mas irhabi, kyknya dalam ummati tidak ada sistem waiting list kok, koreksi bila salah. silahkan, saya yakin mas admin setuju. monggo di lanjut. Nastafidzu ulumakum… semoga barokah.
    Wallohu a’lam

  165. Irhabi
    Tolong dong lampirkan teks asli Fath al-Bari yang Abu Dzar maksud 🙂
    benarkah dalam Fath al-Bari tidak akan ada Bab al-Adzan dan yang ada hanya Kitab al-Adzan? Atau jangan-jangan yang malah gabungan ari keduanya?
    al-jawab
    mas irhabi tlong antri ya ane mash diskusi sma mas agung, klo untuk mlmpirkan di sini sy akui sy lom bisa krna sy tdk thu cranya, adapun klo nt mau cari cba bca sendiri,heeee, apa mas irhabi malas????? ketebalan ya kitab nya.heeee

    1. al-jawab
      mas irhabi tlong antri ya ane mash diskusi sma mas agung, klo untuk mlmpirkan di sini sy akui sy lom bisa krna sy tdk thu cranya, adapun klo nt mau cari cba bca sendiri,heeee, apa mas irhabi malas????? ketebalan ya kitab nya.heeee
      البينة على المدعي واليمين على من أنكر
      ooo… ada peraturan mesti antri ya… baru tau saya, maklum newbie :p
      kalo saya dibilang malas, lalu Tuan Abu Dzar sendiri apa? Tuan Abu Dzar membantah keterangannya Tuan Agung terkait judul … Adzan dalam kitab Fath al-Bari dan juga penjelasannya. Logikanya sebagaimana hadits di atas, yang membantah mestilah memberikan bukti di mana letak kesalahpahaman Tuan Agung terkait pendapat Ibn Hajar al-Asqalani.
      kalo saya bertanya kemudian diminta cari sendiri terus dipertanyakan apakah saya malas, nanti semua orang dengan mudah melakukan yang sama Tuan Abu Dzar.
      maafkanlah kelancangan newbie ini di dunia per-Ummati-an.

  166. cory mba shinta lom jwb pertanyan nya mba coz sibuk di kantor nh juga bru ada wktu
    Mba shinta
    Oh ya, apakah mas Abu Dzar ini menganggap Arab Saudi sebagai kiblat ideal umat Muslim?
    Coba mas Tengok, Arab Saudi yg mayoritas Salafi/Wahabi….bagaimana mereka ketika bermuamalah…apakah sesuai dgn syariat Islam?
    Dari orang2 yg pulang umroh dan haji…kami banyak dapati cerita, bahwa laki2 di sana banyak jg yg tidak sopan terhadap wanita … Kalau ada wanita yg berbelanja, banyak para penjual itu yg memegang tangan wanita2 Indonesia sambil senyum2 genit.
    al-jawab
    okey mba klo kiblat shlat iya mba coz ka’abah nya di sana, tpi masalh agama mba mau dia dari yaman, mesir , palestina, yordania saudi bisa diambil perkataan nya bisa di buang perkataan nya kecuali rosulullah shalallahu ‘alaihi wasalam.sebagaimana perkataan imam malik.
    untuk menilai suatu bangsa harus obyektif mba, okay saya akui banyak di saudi orang2 disana bnyak yg bermahzab hambali tapi tidak menutup kemungkinan klo disana ada yang perfahamn syiah, sufi khawarij dll. adapun ulama saudi sudah mendakwahkan hal tentang mu’amalah dl, tentang agama ini.
    nah sekarang sy mau tnya kpada mba shinta nh
    indonesia tanah air yg kita cintai ini sudah di akui dunia klo mayoritas umat islamnya paling bnyak dan NU organisasi agama yg paling besar dan paling bnyak pengikut asy’ariyah yg di bilang paling ahlusunnah wal jama’ah dan NU( mf menyebut ormas) kata pa said aqil pesantern mencapi krng lebih 1000 pesantern, pertanyaannya ko, masih sj ada yg korupsi pengadan Al-qur’an, masih ada perzinaan dilegalkan, ko masih ada pembunuhan, ko masih ada jual beli dengan cara ribawi ko tidak bisa menegakkan syariat isla, gmana na ya thu mba shinta, dan satu lagi mba sinta pemerkosaan yg terjadi di Saudi gni analoginya, ada kucing malah di kasih ikan sekarng pertanyaan nya yang salah kucing nya, ikannya, apa yang naruh ikan ke kucing??? Silahkan jawab mba sinta

    1. begini mas Abu Dzar, saya membicarakan hal di atas….karena banyaknya doktrin yang saya temui di situs2 Salafi, mengenai penjaga 2 tanah suci. Bahkan saya beberapa kali bertemu dengan orang Salafi, yang mengatakan bahwa Arab Saudi adalah contoh ideal penerapan syariat Islam karena bermanhaj Salafush Shaleh. Namun yg saya dengar dari cerita2 orang yg naik haji dan umroh sangat berbeda.
      saya pribadi berpendapat, bahwa ahlusunnah itu bisa dari golongan mana saja, yang baik, yang tidak usil dengan amalan sesama muslim, yang damai dengan siapa saja….termasuk Salafi dan Syi’ah. Namun yg saya temui, di mana-mana….kenapa justru yg saya temui hujatan dan hujatan terhadap orang2 di luar golongan Salafi (dengan memaki mereka sebagai ahlul bid’ah, kuburiyyin, ahlul ahwa, dsb). Dan awal mulanya muncul situs2 seperti ummatipress ini, karena didahului oleh maraknya situs2 Salafi yg memaki ulama2 kami sebagai ahlul bid’ah, kuburiyyin dan ahlul ahwa.
      Jadi jangan salahkan jika sekarang marak situs2 yg menjawab situs2 Salafi….karena tokh yang memulai adalah Salafi duluan…
      Seandainya Salafi dahulu santun, tidak memajang fatwa2 ulamanya yg mengkafir2kan orang2 di luar golongannya….saya kira, situs2 seperti ummatipress ini tidak akan muncul. Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, bagaimana situs2 Salafi (beberapa tahun yg lalu) menampilkan fatwa2 pengkafiran para ulamanya. Namun fatwa2 itu kini sudah tidak ada lagi…sudah tidak ditampilkan, mungkin untuk merubah image Salafi agar tidak menimbulkan reaksi keras dari muslim di luar kelompoknya.
      Untuk masalah korupsi, perkosaan, dan hal2 negatif yg dilakukan umat Islam di luar Salafi di Indonesia, tentunya itu dilakukan oleh muslim yang salah jalan. Masalah tidak bisa menegakkan syariat Islam tentu yg salah bukan faham Asy’ary-nya, atau organisasi NU-nya. Tapi yang salah kita semua umat Islam di Indonesia yang tidak mau bersatu…
      Kehadiran Salafi pun tidak menambah perbaikan, malah mempertajam polemik khilafiyah yang malah membuat umat Islam semakin berpecah-belah.
      Muslim di Indonesia dihadang westernisasi, hedonisme, liberalisme, sekularisme, sekarang dihadang pula pd masalah2 seputar khilafiyah yg hanya berasal dari cabang saja. Sebenarnya tidak terlalu penting….namun terlalu dibesar-besarkan oleh Salafi sehingga menimbulkan masalah di kalangan umat Islam itu sendiri.
      Ulama2 kami sedang sibuk berdakwah, mengajak umat Islam yg terseret hedonisme, liberalisme, sekularisme untuk kembali kepada kesantunan akhlak baginda Rasulullah Saw….dinistakan oleh Salafi, dengan menghujat mereka sebagai ulama Su’u.
      Kita lihat bagaimana akhlak ustadz Arifin Ilham yg santun yg mengajak umat Islam untuk mencintai dzikir dan masjid…dihadang oleh Salafi dan dicaci maki sebagai ulama Su’u di internet, dan dzikirnya disebut sebagai dzikir makr…naudzubillamindzalik…. dan ini terjadi di hampir setiap ulama kami yg berdakwah.
      Umat Islam yang tadinya hendak bersatu, malah jadi berpencar…terpisah. Malah jadi saling bertengkar dan saling menghujat lantaran kemunculan Salafi ini…
      Kalau begini terus, kapan umat Islam di Indonesia bisa maju???

  167. heee, bru nongol lgi nh, coz lgi longar
    agung
    Sebagaimana pula diriwayatkan bahwa Imam Masjid Quba di zaman Nabi saw, selalu membaca surat Al Ikhlas pada setiap kali membaca fatihah, maka setelah Fatihah maka ia membaca Al Ikhlas, lalu surat lainnya, dan ia tak mau meninggalkan surat Al Ikhlas setiap rakaatnya, ia jadikan Al Ikhlas sama dengan Fatihah hingga selalu berdampingan disetiap rakaat, maka orang mengadukannya pada Rasul saw, dan ia ditanya oleh Rasul saw : “Mengapa kau melakukan hal itu?, maka ia menjawab : Aku mencintai surat Al Ikhlas. Maka Rasul saw bersabda : Cintamu pada surat Al Ikhlas akan membuatmu masuk sorga” (Shahih Bukhari).
    Berkata Hujjatul islam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy dalam kitabnya Fathul Baari Bisyarah shahih Bukhari mensyarahkan makna hadits ini beliau berkata : “pada riwayat ini menjadi dalil diperbolehkannya mengkhususkan sebagian surat Alqur’an dengan keinginan diri padanya, dan memperbanyaknya dengan kemauan sendiri, dan tidak bisa dikatakan bahwa perbuatan itu telah mengucilkan surat lainnya” (Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari Juz 3 hal 150 Bab Adzan).
    Al-Jawab
    mf mas agung bru komen hadits yg ente bawa, sy mau bil coba mas agung kaji kembali hadits yang mas agung bawa adakah qorina perkataan imam ibnu hajar tentang pembolehan mengkhultuskan surat yassin di baca pada setiap malam jum’at???? adapun yang sy dapatkan tidak demikian sebagiaman yg sy baca di kitab Fathul bari yg diterbitkan oleh maktabah darussalam damaskus dan adapun Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari Juz 3 hal 150 Bab Adzan yg ente katakan pun keliru. afwan sebelumnya karna di fathul bari tidak akan di sebutkan bab Adzan akan tetapi kitabu Adzan dan memiliki beberapa bab disana termasuk hadits yg ente bawakan termasuk bab2 di kitabu Adzan.heeee, jadi cba simak perkataan imam ibnu hajar.heeee

    1. Tolong dong lampirkan teks asli Fath al-Bari yang Abu Dzar maksud 🙂
      benarkah dalam Fath al-Bari tidak akan ada Bab al-Adzan dan yang ada hanya Kitab al-Adzan? Atau jangan-jangan yang malah gabungan ari keduanya?

  168. @Rauf
    setahu saya, mazhab ahlul bait yg paling dekat dengan mazhab yg empat adalah mazhab zaidiyah. ahlul bait di indonesia mayoritas bermazhab syafi’i. dalam aqidah, ahlul bait bermazhab as’ariyyah sebagaimana yg dikatakan oleh Al-‘Ârif Billâh al-Imâm as-Sayyid Abdullah ibn Alawi al-Haddad (w 1132 H), Shâhib ar-Râtib, dalam karyanya berjudul Risâlah al-Mu’âwanah.

  169. Pak Yanto…
    Syi’ah sangat terbuka bukan hanya pada Muslim tp pada siapa pun, agama apapun biasa nya di negara-negara yg aman ada perwakilannya yg bisa di mintai informasi… ICC/ALhuda (Islamic cultural center) jakarta ada di pejaten, ahsan dtg dan tanya langsung,,,
    Syiah jg sangat banyak aliran nya mgkn spt jg Sunii, yg besar diantaranya:
    1. 12 Imam (walifaqih (iran), marjaiyah (iraq)
    2. Zaidiyah (saudi arabiyah + yaman)
    3. Alawy (bahrain) sama dg sunni tdk wajib merujuk pd ahlulbait (12 Imam) fiqh sma dg Sunni (kelompok Habaib di Indonesia) mrk sgt menyintai Zuriyah Rosul secara keseluruhan
    4. Ismaily (pakistan) kita anggap sesat spt ahmadiyah di Suni
    5. Druce (libanon) terlalumelebihi Imam Ali pengikut sgt dikit mgkn hy 1000 org
    6. Ghulat Selain terlalu melebihi Imam Ali jg membenci semua yg membuat Imam Ali tdk eksis
    Syi’ah Ghulat inilah yg sering di expose Wahabi utk menyebar fitnah kebencian dan perpecahan…
    Ghulat dianggap sesat di semua aliran Syi’ah (mgkn layak jg dengar perkataan habib Rizik walau sngt urang lengkap).
    7. dll. sangat banyak..
    Ciri khas Syi’ah (maghzab Ahlul bait) semua ajaran atau pemahaman harus bersumnber dari ahlul bait (Imam) salah satu dasar Nash nya Do’a Nabi Ibrahim ttg ketruanannya utk jd Imam …. atau dari luar tp tdk bertentangan,,,
    Syiah yg dinyatakan benar atau Lurus oleh Al-azhar Mesir adalah Syiah 12 Imam + Zaidiyah”
    jk ingin melihat sistem politik dan sikap Syi’ah, lihat sumber fatwannya marjaiyah dari Imam Ali SIstani I(raq), Sayyid Ali Khamanei (iran).. kedua tokoh ini central dan stiap pengikutnya pasti tunduk dgn fatwa-fatwanya… Krn mrk merupakan Imam rujukan maka kata-katanya tdk ada Tauriyah (menutupi) atau Taqiyah (bersiasat krn terancam)) shg anda dpt menilai langsung jgn dari ulama-ulam kecil selain bkn rujukan jg biasanya dlm kondisi yg tdk bebas bicara….
    di Syi’ah kebebasan bicara sgt luas dan kita tetap tdk akan memerangi/membunuh siapapun yg kita anggap sesat baik itu syi’ah, wahabi, atau bahkan diluar islam. Selama itu hanya argumen dan tdk menyerang secara fisik…
    COABALAH MENGENAL SYI’AH SENADAINYA ANDA TDK SEPENDAPAT SAYA SANGAT YAKIN ANDA TDK AKAN ANTI…. SELAMA INI SAYA LIHAT ULAMA-ULAMA SUNNI (NU) DI INDONESIA SANGAT KURANG MEMAHAMI SYI’AH DALAM ULASAN-ULASANNYA…
    WALAUPUN MASIH POSITIF (spt dr. Aqil siradj, Prof Quraish shihab, Habib Rizik dll) bahkan menurut saya cara pandang Islam mereka spt syi’ah Alawy…(bahrain) ..

  170. @abu dzar
    yg mengatakan Syekh Abdullah bin baz sesat itu bukan kami, tapi wahabi mujassim musabbih yg anti takwil, yg mengatakan bahwa siapa yg melakukan takwil, maka bukan ahlussunah. Allah subhanahu wa ta‘ala telah berfirman dalam al-Qur’an: “Dan barangsiapa yang buta di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS. al-Isra’ : 72).
    Berdasarkan ayat di atas, setiap orang yang tuna netra di dunia, maka di akhirat nanti akan menjadi lebih buta dan lebih tersesat, sesuai dengan pendapat bahwa al-qur’an tidak boleh ditakwil. bukankah Syekh Abdullah bin baz itu buta? pesan saya, berterima kasih lah kepada kami yg memperbolehkan takwil.

  171. @Rauf
    maaf mas, saya ini sunni. tidak ada ceritanya sunni memvonis sesat Imam Ali bin Abi Thalib kwh. dahulu kala, tidak ada yg namanya sunni atau syi’ah. dikotomi tersebut baru muncul setelah adanya fitnah dikalangan umat islam, dan terbunuhnya khalifah sebelumnya. syi’ah, pada mulanya adalah kelompok yg mendukung Imam Ali bin Abi Thalib kwh. jd, dahulu kala, syi’ah itu bukan aliran agama. pertentangan antara Imam Ali dengan Aisyah, bukan masalah agama, tetapi masalah politik.

  172. ente berdusta mas anto jenggot, bagaimana ente g benci, bukankan di blog ini menampilkan gambar pakaian ulama yahudi dengan syekh utsaimin, syekh bin baz, ( atum harus beljar bab pakian dlu mas baru diskusi sama ane), yang kedua gmna ente g benci mas anto jenggot di blog ini menghina Syekh Abdullah bin baz dengan tema buta mata buta hati ( mas ente baca dlu sluruh kitab2 nya syekh bin baz baru ente thu keilmuan seseorang & bukan kah bapak mantan presiden 4 RI juga buta mata dan buta hati yang mendukung goyang ngebor inul, yg mengatakan semua agama sama??? dan sy belum menemukan bapak mentan presiden tersebut menulis kitab tentang agama). yang ketiga ko bisa mas anto jenggot mengaku ahlusunnah tidak mengenal syiah??? bkn kah di kitab2 para ulama dalam masalh firqoh banyak menyebutkan masalah syi’ah(tol mas anto jenggot di kaji lagi kitab2 para ulama/ ente syi’ah yg tersembunyi ya)heeeee wallahu ta’ala a’lam. shalat dlu ah

  173. Jika anda benar-benar mengenal Syi’ah… anda seharusnya tahu sdh sekian lam Fatwa dari walifaqih
    “Diharamkan melaknat siapapun yg di kagumi atau menjadi peminpin aliran lain…”
    ini fatwa anda harus tahu kekuatan fatwa bagi umat Syi’ah….
    jangan dalil tersebut terus di jadikan pemecah belah..
    jk anda lihat peritiwa sejarah ada perang antara Imam Ali-Aisyah, apa anda jg akan mengatakan Imam Ali sesat?
    biarlah itu semua mejadi sejarah….dan jk ada syi’ah yg masih melakukan berarti dia sdh keluar dari syi’ah )itu kekuatan fatwa)….
    Semua perlu pengorbanan demi tegaknya Agama Rosulullah ini contoh Imam Husein…
    “Jika hanya dengan darah ku umat ini akan kembali ke titah agama kakekKu… wahai pedang-pedang durjanah hujam lah Aku aliri sungai efrat ini dgn darah Ku”
    Semoga ulasan ini mendi dasar awal utk mengenal Syi’ah lebih dekat dan saling memahami persamaan dan perbedaannya…
    Salam.

    1. Mas Rauf….
      Memang kami Aswaja sedang menunggu keterbukaan kaum Syi’ah, selama ini kami mendapatkan informasi tentang Syi’ah nyaris semuanya bersumber dari sumber2 Wahabi yg memang memiliki kebencian sampai ke ubun2 kepada kaum Syi’ah.
      Kami Aswaja tidak benci kepada Wahabi maupun Syi’ah, hanya saja kami selama ini lebih sering mengkritik Wahabi sebab kami tahu persis siapa Wahabi, dan kaum Wahabi ini berada di tengah2 kami Aswaja sehingga kami tahu karakternya.
      Sedangkan tentang kaum Syi’ah, kami sama sekali buta tentang keadaan yg sebenarnya siapa mereka ini. Itu disebabkan mereka tidak berada di tengah2 kami, sedangkan kaum Wahabi berada di tengah2 kami dan selalu menjadi fitnah bagi ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah. Kami sebenarnya tidak pernah benci kepada Wahabi, tetapi Wahabi merasa dibenci, dan itu wajar sebab kami sering mengkritiknya yg oleh mereka diartikan sebagai kebencian.

  174. Ahhhhhhhh, nunggu pulang kantor dlu ah.
    mas jalu
    abu dzar KO kena uppercut mas Agung…! nunggu abu dzar bangun lagi ah, hehe….
    entar mas ada waktu nya klo mau diskusi sama sy masih ngantri,heee ( kaya ust. aja), alhamdulillah sya ga menyibukkan diri tuk diskusi di sini lebih baik ngerjain laporan kecuali sy merasa orang tersebut memang mau mencari kebenaran, coz sy heran aj sma blog ini mengaku ahlusunnah tapi melihat sunnah nabi di hina malah diam, sahabat Mu’awiyah bin Abu sofyan di caci maki malah membela yang mencaci, dimana ahlusunnahnya??????,heeee.
    mas klo cma pengakuan ahmadiyah, mu’tazilah, jahmiyah, qodariyah, syiah, khawarij juga mengaku ahlusunnah. tapi mereka tidak mengamalkan apa yg diamalkan oleh rosulullah dan memahami agama ini tidak sama ap yang di fahami oleh sahabat nabi.

    1. assalamualaikum wr.wb
      @abu dzar
      iya bener sekali mas banyak yg mengaku ahlussunah tapi tdk mengamalkan sunah rosulullah dan bahkan ada yg mencela dan memfitnah orang yg berusaha mengamalkan sunnah.
      sebagai contoh:
      1.orang yg tdk melaksanakan tujuh bulanan (walimatul hamil) dicela di masyarakat
      2.orang yg memanjangkan jenggot dan celana di atas mata kaki (cingkrang) di fitnah yg macam2,dikatakan wahabi,salafy dsb.bukankah memanjangkan jenggot dan tidak isbal(tidak memanjangkan celana/kain dibawah mata kaki adalah termasuk sunah rosul?)
      maaf mas padahal masyarakat disekitar masyarakat sy adalah NU yg jg mengaku ahlussunah,tapi kenapa masih mencela/memfitnah saudara kita yg mengamalkan hal yg sy sebutkan diatas?

  175. Good mas Agung, Kita harus hati2 terhadap orang yang mencela sahabat2 nabi dan muslim tanpa landasan yang betul sesuai syariat. karena kalo asal mencela bisa2 kita jadi temannya TANDUK SETAN NEJD…! entah itu irak atau riyadh kalo hubunganya dengan tanduk setan pasti bahaya….

  176. BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    ALLOHUMA SHOLI A’LA SYAIDINA MUHAMMAD WA ALI SYAIDINA MUHAMMAD
    Kesalahan Wahabi hanya 1, mereka merasa benar dan yang lainnya musyirikin, ahli bid’ah, kafir, yang harus di ubah atau dibunuh…
    Prinsip “Siapapun jika mengucapkan Syahadat maka dia saudara muslim, dan haram darahnya tertumpah…”
    jika ada perbedaan atau penafsiran coba lah lihat dari sisi bagaimana dia memandangnya jangan paksakan harus sama dengan kita memandang, tetap berpegang pada prinsip.
    Jaga persatuan Islam dan Wahabi cobalah pahami pemahaman kami sesuai bagaimana kami menilai… jangan sekali-kali mengkafirkan apalagi memerangi faham yg berbeda dgn anda..
    dan ingat “tidak ada satupun aliran Islam yg merasa tdk sesuai dengan Alqur’an dan Hadits”
    Bertawakallah komitmen lah thd apa yg anda yakini krn Allah tidak menghukumi apa yg tdk kita yakini, jaga Ukhuwa Islamiyah, Jauhi fitnah-fitnah thd aliran yg berbeda MARI SAMA-SAMA PERANGI ZIONIST + AS
    Salam
    dari pecinta Ahlul bait
    Syi’ah 12 Imam

    1. @Rauf
      maaf mas, saya ini sunni, bukan syi’ah. anda termasuk syi’ah yg mencela sahabat seperti abu bakar, umar, dan usman bukan? kalau iya, maaf mas, kita bukan seaqidah.

  177. Mas @abu dzar,
    mau tanya, kalau yasinan malam jumat itu masuk kedalam penambahan syariat atau pembuatan syariat baru c?
    lah kalau syariat itu sebenarnya apa definisi dan makna secara harfiah?
    trims..

  178. oh ya, maaf ini saya posting ulang di sini….saya dapat dari FB pembela habib Umar bin Hafidz dan habib Ali al-Jufri
    “Tangisan Imam Hanafi Saat Berjumpa Anak Kecil.” Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, atau populer disebut Imam Hanafi, pernah berpapasan dengan seorang anak kecil yang tampak berjalan mengenakan sepatu kayu.
    ”Hati-hati, Nak, dengan sepatu kayumu itu. Jangan sampai kau tergelincir,” sang imam menasehati.
    Bocah miskin ini pun tersenyum, menyambut perhatian pendiri mazhab Hanafi ini dengan ucapan terima kasih.
    ”Bolehkah saya tahu namamu, Tuan?” tanya si bocah.
    ”Nu’man.”
    ”Jadi, Tuan lah yang selama ini terkenal dengan gelar al-imam al-a‘dham (imam agung) itu?”
    ”Bukan aku yang menyematkan gelar itu. Masyarakatlah yang berprasangka baik dan menyematkan gelar itu kepadaku.”
    “Wahai Imam, hati-hati dengan gelarmu. Jangan sampai Tuan tergelincir ke neraka gara-gara dia. Sepatu kayuku ini mungkin hanya menggelincirkanku di dunia. Tapi gelarmu itu dapat menjerumuskanmu ke kubangan api yang kekal jika kesombongan dan keangkuhan menyertainya.”
    Ulama kaliber yang diikuti banyak umat Islam itu pun tersungkur menangis. Imam Hanafi bersyukur. Siapa sangka, peringatan datang dari lidah seorang bocah. NB Lihatlah Apa yg Dibicarakan Dan Jangan Kau Lihat Siapa Yg berbicara
    PS: Imam Hanafi tidak menyematkan suatu gelaran pd dirinya, namun masyarakat di sekitarnya lah yg menyematkan gelaran yg mulia kepadanya…namun ia masih menangis ketika ditegur oleh seorang anak kecil mengenai gelaran yg disandangkan masyarakat padanya. Bagaimana dengan saudaraku yg menggelari dirinya sendiri dengan sebutan atau gelaran yg wah sebagai “SALAFI”? Yang berbangga-bangga dengan gelaran yg dia sandangkan sendiri bagi diri dan kelompoknya? Saya hanya mengingatkan, bahwa tidak akan masuk surga diri kita bila ada kesombongan walau itu sebesar dzarrah. Lebih baik kita intropeksi diri, apakah menyebut diri kita sebagai SALAFI itu bukan bagian dari berbangga diri, dan itu bukan bagian dari kesombongan????

  179. dengerin radio Silaturahim yuk ? RASIL 720 AM, Radio untuk PERSATUAN UMAT.
    Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat. (Al-An’am 159)
    Kepada saudara2ku yang ingin bersatu, yuk mari kita bersatu mewujudkan persatuan umat. Khilafiyah itu akan tetap ada hingga kiamat, karena umat Islam itu jumlahnya milyaran, dengan milyaran kepala dan otak yg memiliki pemikiran masing2. Ada baiknya kita bersatu meski dalam perbedaan, karena nggak mungkin kita akan memaksakan perbedaan cara pandang hanya dengan satu versi saja…
    Lebih baik kita tinggalkan orang2 yg senang meributkan hal2 yg sifatnya khilafiyah….yang senang memecah belah umat Islam dan memaksakan cara pandang hanya satu versi saja yg benar sedangkan yg lainnya sesat. KIta ikuti pemahaman ulama2 Salaf yg tetap berkasih-sayang meskipun antara yg satu dengan yg lainnya memiliki cara pandang yg berbeda dalam menyikapi bid’ah dan sebagainya. Contoh Imam Syafi’i yg selalu qunut subuh dan Imam Hambali yg tidak memakai qunut subuh, keduanya tetap berkasih sayang satu sama lainnya. Bahkan Imam Hambali ketika mengimami shalat, memberikan kesempatan bagi jama’ah dibelakangnya yg mengikuti Imam Syafi’i untuk berqunut dahulu. Lihatlah akhlak yg baik ini, dan kita jadikan contoh demi Persatuan Umat ISlam.

  180. @abu dzar
    titip pertanyaan itu untuk ust abdul hakim bin amir abdat ya mas abu dzar.jangan lupa, menurut jema’ah sesat, takwil itu bukan ahlussunah. trm ksh.

  181. @abu dzar
    “yg di per masalah kan mengkhultuskan surat yassin di baca setiap malm jum’at dengan bersandar bahwa itu benar perkataan nabi, dan mungkin mas sdh mengetahui atau pura2 tidak thu klo hadits dhoif itu disampaikan tidak blh menggunkan lafhz jazem”.
    mas, anda baca saja syarah hadist yg di bawa kan oleh Imam Ibnu Hajar al Asqalani di atas. hadist yg berkaitan dengan keutamaan membaca surah yasin, juga di shohihkan oleh imam lainnya. kedua, Nabi Muhammad saw. memperbolehkan kita merintis perbuatan baik. ketiga, pembacaan surah yasin masih sesuai dengan ayat al-qur’an lainnya, dimana kita disuruh berbuat kebajikan sebanyak banyaknya. sekarang saya ingin bertanya, hadist dhaif itu, masih diakui sebagai sebuah hadist apa bukan?
    apa salahnya dengan tata tertib yasinan setiap malam jum’at? setelah anda tidak yasinan lagi, apakah cara membaca al-qur’an anda sudah benar? anda membaca al-qur’an pakai qiro’ah yg mana, apa dalilnya?
    kalau kalian memang benar mengikuti manhaj salaf, tolong dong ditanyakan kepada situs voa islam, apa makna ayat berikut: “dimanapun kalian menghadap, di sanalah wajah allah. (Al-Baqoroh : 115)”. kan kalian ini paling murni aqidahnya.

  182. wah terlambat dengeren radio rodja lagi. hayooo hari ini ad tabilgh akbar ust abdul hakim bin amir abdat di JCC TANJUNG PRIOK

  183. dan sumber dalil tersebut sy copy dri voa islam dan anda bisa lihat langsung di voa islam,heee
    apa karena bacaan al-qur’annya salah, orang tersebut tidak boleh membaca surah yasin setiap malam jum’at? apa harus menunggu bacaan al-qur’annya sudah benar baru boleh yasinan setiap malam jum’at?
    gni mas perlu anda ketahui pula ini lah kslahpahaman bahwa kelmpok anda (sy tidak thu anda berada di manhaj mana yg bisa jd bukan di atas manhaj ahlusunnah) menuduh para ulama yang mengikuti manhaj salaf sebgai orng yg suka mengkafirkan orang, memusyrikan perorangan,dll, yg di per masalah kan mengkhultuskan surat yassin di baca setiap malm jum’at dengan bersandar bahwa itu benar perkataan nabi, dan mungkin mas sdh mengetahui atau pura2 tidak thu klo hadits dhoif itu disampaikan tidak blh menggunkan lafhz jazem, okay, yg blm bisa baca Al-qur’an apa ga blh baca surat yasin? boleh mau baca surat yasin ke surat albaqoroh dll, tpi ingat di barengi dengan belajr ngaji n tajwid sekarang kan tidak ust na g mau ngajarin dan tidak mau mengajarkan. maunya yasinan dan tata tertibnya pun sy juga sdh hafal 10 tahun sy sdh ikut ritual yasinan mas dan sepuluh tahun itu jg teman barengan sy belum bisa ap2.heeee

  184. @abu dzar
    kalau begitu coba anda sebutkan syarat mengamalkan hadist dhaif? hadist dhaif tersebut juga tidak bertentangan dengan hadist yg diriwayatkan oleh imam bukhori dan di syarah oleh Imam Ibn Hajar al Asqalani. bukankah Imam Ibn Hajar al Asqalani dan Imam Nawawi adalah seorang asy’ariyyah, mengapa anda masih menggunakan kitab kitab mereka? kedua Imam tersebut tidak anti takwil, sedangkan menurut golongan anda, orang yg melakukan takwil bukan ahlussunah, aneh anda ini.
    “di sumpelin baca yasin mlu tiap malm jum’at, surat al kafi nya di tinggalin”. itu adalah kalimat anda, seolah olah membaca yasinan tanpa surah al kahfi adalah perbuatan yg tercela. anda sendiri mengatakan bahwa hukum membaca surah alkahfi adalah sunnah, artinya ditinggalkan tidak mengapa. jd, jangan dihubungkan antara yasinan setiap malam jum’at dengan membaca surah al kahfi.
    Mas, ahlul bid’ah dholalah, tolong dong di jawab juga pertanyaan saya yg berkaitan dengan aqidah.

  185. Al-Syaukani berkata dalam al-Fawaid al- Majmu’ah sebagai berikut: “Hadits, “Barangsiapa membaca surat Yasin karena mencari ridha Allah, maka Allah akan mengampuninya diriwyatkan oleh al-Baihaqi dari Abu Humairah secara marfu’ dan sanadnya sesuai dengan kriteria hadits shahih. Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan al- Khathib. Sehingga tidak ada alasan merryebut hadits tersebut dalam kitab-kitab al-Maudhu’at (tidak benar menganggapnya sebagai hadits maudhu’).” (Al-Syaukani, al-Fawaid al-Majmu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah, haL 302-303).
    memang benar ad nya bahwa imam Asyaukani menyebutkan di dlm kitabnya kumpulan hadits2 maudhu ( palsu), tpi sejauh keilmuan sy yg dimaksud olh imam syaukani tidak seperti yg di fahami mas agung, olh sebab itu cba mas agung bca muqoddimah dri imam syaukani kenpa beliau menulis kitab tersebut.heee.
    seandainya hadist tersebut dhaif, maka dikalangan kami, hadist dhaif masih dapat dipergunakan untuk keutamaan amal.
    Mas agung cba baca di baca di kitab nukhbatul fiqr ( ibnu hajar al-asqolani ) dan kitab Al-majmu’ ( syarhu muhadazab ) imam nawawi ( bukan al-bantani). di situ insya Allah di sebut kan syarat2 boleh mengamalkan hadits dhoif.heee
    sekarang saya ingin bertanya, apa hukum membaca surah al kafi tersebut? kemudian tunjukkan dalilnya?
    hukum nya sunnah dan disunnah kan oleh rosulullah, ad pun dalilnya sbgai berikut:
    1. Dari Abu Sa’id al-Khudri radliyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    مَنْ َقَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ
    “Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dia dan Baitul ‘atiq.” (Sunan Ad-Darimi, no. 3273. Juga diriwayatkan al-Nasai dan Al-Hakim serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, no. 736)
    2. Dalam riwayat lain masih dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu,
    مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ أَضَآءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ
    “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum’at.” (HR. Al-Hakim: 2/368 dan Al-Baihaqi: 3/249. Ibnul Hajar mengomentari hadits ini dalam Takhrij al-Adzkar, “Hadits hasan.” Beliau menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits paling kuat tentang surat Al-Kahfi. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih al-Jami’, no. 6470)
    3. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ سَطَعَ لَهُ نُوْرٌ مِنْ تَحْتِ قَدَمِهِ إِلَى عَنَانِ السَّمَاءَ يُضِيْءُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَغُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ
    “Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua jumat.”
    Al-Mundziri berkata: hadits ini diriwayatkan oleh Abu Bakr bin Mardawaih dalam tafsirnya dengan isnad yang tidak apa-apa. (Dari kitab at-Targhib wa al- Tarhib: 1/298)”
    Imam Al-Syafi’i rahimahullah dalam Al-Umm menyatakan bahwa membaca surat al-Kahfi bisa dilakukan pada malam Jum’at dan siangnya berdasarkan riwayat tentangnya. (Al-Umm, Imam al-Syafi’i: 1/237).hee, wallahu ta’ala a’lam.

  186. @abu dzar
    mau tanya mas, setahu saya membaca al-qur’an itu adalah ibadah. dan setiap ibadah harus sama persis dengan yg dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. dalam membaca al-qur’an itu, ada yg namanya qiro’at. qiro’at itu yg masyhur ada tujuh, salah satunya adalah qiro’at hafshoh. Nabi Muhammad saw. kalau membaca al-qur’an, pakai qiro’at yg mana?

  187. @abu dzar ahlul bid’ah dholalah
    mas, daripada meributkan masalah fiqih seperti membaca yasinan setiap malam jum’at, lebih baik anda jawab pertanyaan saya sebelumnya. pertanyaan saya kan berkaitan dengan aqidah, aqidah itu pokok atau ushul. tapi tak apalah, saya jawab mengenai pembacaan yasin setiap malam jum’at. “Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Yasin pada malam hari, maka pagi harinya ia diampum oleh Allah. Barangsiapa yang membaca surat al-Dukhan, maka ia diampuni oleh Allah.” (HR Abu Ya’la). Menurut al-Hafizh Ibn Katsir, hadits ini sanad-nya jayyid (shahih). Komentar Ibn Katsir ini juga dikutip dan diakui oleh al-Imam al-Syaukani dalam tafsimya Fath al-Qadir, bahwa sanad hadits tersebut jayyid, alias shahih.
    “Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mencari ridha Allah, maka Allah akan mengampuninya,” (HR.
    Ibn Hibban dalam Shahih-nya). Hadits ini dishahihkan oleh al-Imam Ibn Hibban dan diakui oleh al-Hafizh Ibn Katsir dalam Tafsir-nya, al- Hafizh Jalahiddin al-Suyuthi dalam Tadrib al-Rawi, dan al- Imam al-Syaukani dalam tafsir Fath al-Qadir dan al-Fawaid al-Majmu’ah. Al-Syaukani berkata dalam al-Fawaid al- Majmu’ah sebagai berikut: “Hadits, “Barangsiapa membaca surat Yasin karena mencari ridha Allah, maka Allah akan mengampuninya diriwyatkan oleh al-Baihaqi dari Abu Humairah secara marfu’ dan sanadnya sesuai dengan kriteria hadits shahih. Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan al- Khathib. Sehingga tidak ada alasan merryebut hadits tersebut dalam kitab-kitab al-Maudhu’at (tidak benar menganggapnya sebagai hadits maudhu’).” (Al-Syaukani, al-Fawaid al-Majmu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah, haL 302-303).
    seandainya hadist tersebut dhaif, maka dikalangan kami, hadist dhaif masih dapat dipergunakan untuk keutamaan amal. Di antara para imam yang menetapkan hal tersebut adalah Abdurrahman bin Mahdi, Ahmad bin Hanbal, Abdullah bin al-Mubarak dan lain-lain. Ibn Adi telah membuat satu bab dalam mukaddimah kitab al-Kamil dan al-Khathib dalam al-Kifayah mengenal hal tersebut.” (Al-Hafizh al-lraqi, al-Tabshirah wa al-Tadzkirah,juz 1, hal. 291).
    Sebagaimana pula diriwayatkan bahwa Imam Masjid Quba di zaman Nabi saw, selalu membaca surat Al Ikhlas pada setiap kali membaca fatihah, maka setelah Fatihah maka ia membaca Al Ikhlas, lalu surat lainnya, dan ia tak mau meninggalkan surat Al Ikhlas setiap rakaatnya, ia jadikan Al Ikhlas sama dengan Fatihah hingga selalu berdampingan disetiap rakaat, maka orang mengadukannya pada Rasul saw, dan ia ditanya oleh Rasul saw : “Mengapa kau melakukan hal itu?, maka ia menjawab : Aku mencintai surat Al Ikhlas. Maka Rasul saw bersabda : Cintamu pada surat Al Ikhlas akan membuatmu masuk sorga” (Shahih Bukhari).
    Berkata Hujjatul islam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy dalam kitabnya Fathul Baari Bisyarah shahih Bukhari mensyarahkan makna hadits ini beliau berkata : “pada riwayat ini menjadi dalil diperbolehkannya mengkhususkan sebagian surat Alqur’an dengan keinginan diri padanya, dan memperbanyaknya dengan kemauan sendiri, dan tidak bisa dikatakan bahwa perbuatan itu telah mengucilkan surat lainnya” (Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari Juz 3 hal 150 Bab Adzan).
    jika dikembalikan kepada hukum islam yg asal, yaitu, wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. ada juga yg membaginya menjadi, wajib, fardhu, sunnah, makruh tahrim, makruh tanzih, tahrim dsb. sekarang saya ingin bertanya, apa hukum membaca surah al kafi tersebut? kemudian tunjukkan dalilnya? satu lagi mas, dalam ushul fiqih itu dijelaskan bahwa, larangan itu dapat bermakna haram atau makruh, demikian pula perintah, dapat bermakna wajib atau sunnah, tolong jelaskan dalil yg berkaita dengan surah al kahfi tersebut.
    memang benar mas, membaca Al-Qur’an itu seharusnya dengan tartil. tapi ada yg harus kita garis bawahi, tidak semua orang mampu membaca dengan baik dan benar. dahulu ada orang yg belajar membaca Al-Qur’an, sudah di ajari berkali kali, namun tetap tidak bisa. kemudian, apa karena bacaan al-qur’annya salah, orang tersebut tidak boleh membaca surah yasin setiap malam jum’at? apa harus menunggu bacaan al-qur’annya sudah benar baru boleh yasinan setiap malam jum’at? dahulu juga pernah seorang santri di pesantren membaca al-qur’an dihadapan gurunya, membaca bismillah saja banyak salahnya. apa kita harus benar dahulu bacaannya baru kita boleh sholat? coba bacaan anda dites sama ulama yg menguasai qiro’at, sudah benar apa belum.

  188. umat mah ga salh yang salah mah para ust2 nya ud di depan mata jama’ahnya ga bisa baca qur’an bukan di ajarin malah cicing wae, di sumpelin baca yasin mlu tiap malm jum’at, surat al kafi nya di tinggalin.(eehh bkn meremehkan surat al-qur’annya ya).nti di tuduh lagi.

  189. eh mas Alex, nongol, gmana mau melanjutkan lagi, diskusinya, jgn pindah2 dong gw kan bingung. gmna ud baca syarahnya lom.heee

  190. mau diskusi sama mas agung ap mba shinta ya????? ah sama mba sintha dlu, klo mas agung ky na agak tempramen,heee
    Shinta
    mas Abu Dzar…kenapa fenomena umat yg gak ngerti agama selalu dijadikan rujukan untuk menyerang orang2 yg mengikuti ulama mayoritas? Masalah baca yasin dengan satu nafas sehingga tdk tartil, mari kita nasehati bersama2. Namun jangan menyamaratakan semua umat Islam di luar anda seperti itu.
    Kalau anda gak suka melihat ada ustadz datang ke pengajian/yasinan yg niatnya cuma untuk terima amplop…mari kita nasehati bersama2 kalau niatnya itu salah. Namun kita harus tetap proporsional untuk berbaik sangka bahwa masih banyak ustadz2 yg tidak mata duitan.
    al-jawab
    maksud mba itu spa orang2 yg mengikuti ulama mayoritas???heee. Masalah baca yasin dengan satu nafas sehingga tdk tartil, mari kita nasehati bersama2, alhamdulillah dengan ad na radio rodja banyak yang belajar baca Al-qur’an, dan banyak kawan2 kami mengjarkan mereka yg blm bisa baca qur’an mulai bisa baca qur’an secara gratis, lalu timbul orang2 sprti mas alex dan yg lain nya yg benci hal demikian menyebarkan fitnah, betul tidk mba??? gmana kami mau menasehati klo mba (temen mas alex) menyebarkan fitnah???
    Kalau anda gak suka melihat ada ustadz datang ke pengajian/yasinan yg niatnya cuma untuk terima amplop…mari kita nasehati bersama2 kalau niatnya itu salah. Namun kita harus tetap proporsional untuk berbaik sangka bahwa masih banyak ustadz2 yg tidak mata duitan.
    radio rodja sudah mendakwahkan tentang niat, tpi krna syubuhat yang ada di kepala mereka sehingga ilmu terhalang untuk masuk kpada mereka, sehingga mereka pun ikut2 tan menyebarkan fitnah, padahal jama’ah pengajian mereka sendiri baca qur’annya masih plantang plentong makhrojal huruf masih salah, tajwid belom bener hafalan masih sedikit tpi klo shalawat yg bid’ah hafal. aneh dinasehatin g mau tapi menyebarkan fitnah.hee

    1. ulama2 yg mayoritas di dunia ini adalah yg mengikuti 4 madzab, Syafi’i, Hanafi, Hambali, dan Maliki. Ulama Sufi adalah ulama2 dari 4 madzab ini yg mempelajari Tasawuf. jadi jangan berpikiran kalau ulama mayoritas itu cuma NU aja. Benar kalau NU mengikuti madzab Syafi’i, tapi NU itu cuma bagian kecil dr madzab Syafi’i…. Saya pribadi bukan NU, bukan Muhammadiyah… pokoknya saya ngikutin ulama yg mayoritas, gitu aja. Dan orang2 seperti saya ini yg gak ikut golongan mana2 ini yg banyak….
      maaf, bagian mana yg saya menyebarkan fitnah?
      kalau saya memberikan lafadz Imam Malik Ra “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul (al-Istiwa sudah jelas diketahui dan adanya al-Kayf (sifat benda) bagi Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal)” sebagai pembanding dari Istawa versi Salafi/Wahabi yg katanya dinukil dari kitabnya Imam Malik Ra, kenapa saya dikatakan memfitnah? Kenapa anda nggak mencari info di pihak lain di luar golongan anda….paling nggak anda memiliki perbandingan. Apalagi pesantren2 tradisional memang terkenal memiliki perbendaharaan kitab kuning jaman dulu yg bisa dicek keasliannya, dibandingkan kitab2 ulama2 klasik terbitan Arab Saudi bbrp puluh terakhir ini yg isinya banyak dirubah.
      anda mengatakan :
      (radio rodja sudah mendakwahkan tentang niat, tpi krna syubuhat yang ada di kepala mereka sehingga ilmu terhalang untuk masuk kpada mereka, sehingga mereka pun ikut2 tan menyebarkan fitnah, padahal jama’ah pengajian mereka sendiri baca qur’annya masih plantang plentong makhrojal huruf masih salah, tajwid belom bener hafalan masih sedikit tpi klo shalawat yg bid’ah hafal. aneh dinasehatin g mau tapi menyebarkan fitnah.hee)
      mas pernah baca nggak suatu riwayat, dimana Allah lebih melihat isi hati seseorang ketimbang hafalan atau baik benarnya bacaan seseorang ketika shalat?
      shalawatnya buatan Imam Ali Ra dan sahabat Nabi Saw yg lain anda anggap shalawat bid’ah atau tidak?
      mohon maaf…mungkin cukup sekian dulu…

  191. mas alex ga nongol2, ap ud g ad argumennya ya, lgian bca hadits g bca syarahnya, cap nuduh tunjuk aj itu buat wahabi( syekh Muhammad bin Abdul Wahab), belajar ya mas Alex dri awal dlu jgn langsung bab tahdzir okay.

  192. “ada juga yang mengaku salafy ternyata asy’ariah atau maturidiyah”. semoga ini bukan menjustifikasi kesesatan NU, kalau iya tolong di tunjukkan dasarnya. makasih
    Wallohu a’lam

  193. Bismilah….
    Yaa akhi adi & mba shinta, kalian jangan main hantam kromo begitu, memang ada golongan yang mengaku salafy ternyata jama’ah takfiri, ada yang mengaku salafy ternyata jahmiyah, ada yang mengaku salafy ternyata mu’tazilah, ada yang mengaku salafy ternyata ikhwani, ada yang mengaku salafy ternyata sufi, ada juga yang mengaku salafy ternyata asy’ariah atau maturidiyah bahkan orang-orang khawarij yang suka ngebom-ngebom itu juga mengaku salafy..
    Banyak kelompok yang mengaku-ngaku salafy, tapi tindak-tanduknya dan cara beragama mereka jauh dari manhaj salaf…
    Jangan kami disamakan dengan mereka dong….
    Saya katakan : jika mengikuti al qur’an dan as sunnah sesuai dengan pemahaman sahabat dan salaful ummah, dan mengikuti ulama-ulama yang mengikuti mereka dengan baik, mengatakan yang haq adalah haq dan yang bathil adalah bathil, dan menjadikan dakwah tauhid sebagai dakwah utama dikatakan wahabbi, maka ketahuliah bahwa saya adalah wahabi…

    1. karena anda telah menyebutkan perbedaan keyakinan anda dengan takfir, sy harap ‘kesesatan nu’ hanya sekedar khilaf sebagaimana manusia tidak jauh darinya. mari beda kita jadi warna dan semata2 mengharap ridho Nya dgn cara yg berbeda. anda merasa lebih benar maka cukup beri kami kabar (yaa siin). selanjutnya kami dgn pemahaman kami, anda dgn milik anda. hindarkan kata sesat dan yang mengarah padanya karena insyaAllah kami jg sholat… salam dan bahagia semoga bersama anda

    2. Ada juga yang mengajak kepada AlQur’an dan Assunnah padahal mengajak kepada pemahaman wahabi.Ada yg mengajak kepada pemahaman sahabat padahal mngajak kepada pemahaman wahabi.Ada yang mengajak kepada Sunnah Nabi Muhammad saw,padahal mengajak kpd sunnah ibnu taimiyyah,muhammad bin abdul wahab,bin baz,albani… Wahabi..wahabi..pintar nian cara kalian menipu orang islam..

    3. mas..maaf, setahu saya ulama2 yg bermadzhab Imam Syafi’i itu hampir seluruhnya ulama Sufi lho. Karena krn bisa dikatakan semuanya belajar tasawuf, dan mereka semua menghormati Imam Ghazali. Coba anda pelajari sejarah lagi dech…. Apakah anda pikir Imam Nawawi Albantani, dan ulama2 yg bersanad ke atasnya tidak mempelajari tasawuf dan disebut sebagai ulama Sufi????
      Imam Nawawi Albantani jenazahnya masih utuh lho…padahal sudah dikubur ratusan tahun yg lalu…. Berani nggak bilang kalau beliau itu sesat???

  194. untuk mas agung sabar menunggu sy sedang berdiskusi dengan mas Alex leonardo di caprio. ntar biar ga kemana2 pembahasannya.

  195. susah browsing internet kantor rusak sdh 3 hari, terpaksa pake modem saja.
    eh mas alex sdh coment bls dlu ah coment mas alex
    mas Abudzar,
    kami Aswaja juga ngaji berdasar Al Qur’an dan hadits secara proporsional sebagaimana manusia biasa yg normal, dan kami tidak terlalu obral dalil-dalil Al Qur’an sebagaimana Wahabi yang asal sebut dalil tidakl perduli apakah proporsional; atau tidak.
    Mudeng nggak sampeyan mas apa maksud saya ini?
    al- jawab
    mas alex, kami Aswaja juga ngaji berdasar Al Qur’an dan hadits secara proporsional sebagaimana manusia biasa yg normal, yang normal bagaimana mas????? apa yang disebut normal baca yasin pada setiap malam jum’at dipimpin oleh seorang yang mengaku / dianggap ustad, yang bacanya 1 nafas, ga peduli panjang pendeknya, yg g peduli makhrojul hurufnya, yg ga peduli akan tafsir nya, yang penting selesai dapat amplopnya,hee atw yg gmna mas???? gmana mas ente mengakui fenomena umat sekarang kaya gini, atw ente termasuk didalamnya,hee.afwan mas.
    “dan kami tidak terlalu obral dalil-dalil Al Qur’an sebagaimana Wahabi yang asal sebut dalil tidakl perduli apakah proporsional; atau tidak”, maaf mas apa yang dimaksud anda mengobral dalil Al-Qur’an?? anda labil mas tadi ente nuduh syekh Muhammad bin Abdul Wahab selalu menggunakan dalil alqur’an sekarang menuduh mengobral Al-Qur’an, sy bantah perkataan ente Syekh abdul wahab Mengobral ayat2 Al-qur’an dengan kebenaran dan ilmu tapi bukan kaya ente mengobral ayat2 Al-Qur’an disisipi dengan kedustaan dan ketidak kepahaman,heee, sy tanya sudah baca syarah hadits nya belum, malah g dibaca,heee.

    1. mas Abu Dzar…kenapa fenomena umat yg gak ngerti agama selalu dijadikan rujukan untuk menyerang orang2 yg mengikuti ulama mayoritas? Masalah baca yasin dengan satu nafas sehingga tdk tartil, mari kita nasehati bersama2. Namun jangan menyamaratakan semua umat Islam di luar anda seperti itu.
      Kalau anda gak suka melihat ada ustadz datang ke pengajian/yasinan yg niatnya cuma untuk terima amplop…mari kita nasehati bersama2 kalau niatnya itu salah. Namun kita harus tetap proporsional untuk berbaik sangka bahwa masih banyak ustadz2 yg tidak mata duitan.
      Oh ya, apakah mas Abu Dzar ini menganggap Arab Saudi sebagai kiblat ideal umat Muslim?
      Coba mas Tengok, Arab Saudi yg mayoritas Salafi/Wahabi….bagaimana mereka ketika bermuamalah…apakah sesuai dgn syariat Islam?
      Dari orang2 yg pulang umroh dan haji…kami banyak dapati cerita, bahwa laki2 di sana banyak jg yg tidak sopan terhadap wanita … Kalau ada wanita yg berbelanja, banyak para penjual itu yg memegang tangan wanita2 Indonesia sambil senyum2 genit.
      Di dalam Masjid Nabawi…orang yg foto2 dengan gaya2 yg berlebihan dan tidak sopan, tidak ditegur, malah didiamkan saja. Sedangkan orang yg berdoa dan shalat sambil menitikkan air mata malah ditarik-tarik dipaksa keluar oleh polisi syariat.
      Masjid Nabawi berisik seperti pasar, tidak khidmat. Laskar2 syariat sibuk teriak sana-teriak sini dan menarik orang2 yg berdoa menangis di sisi makam Nabi Saw.
      Bahkan anggota keluarga kami ketika sdg berada di dekat Raudhah, melihat imam masjid Nabawi ke lantai atas diiringi teman2nya dengan tertawa-tawa keras dan saling bercanda…padahal di bawah ada makam Nabi Saw. Sepertinya tidak ada sikap sopan santun berada di dekat makam Nabi Saw. Lalu sang Imam turun ke bawah dan merubah sikapnya menjadi wibawa dan mengimami shalat.
      Dari cerita salah seorang anggota keluarga kami yg umroh, banyak kejanggalan yg terjadi di sana, terutama di masjid Nabi Saw.

      1. Ya begitulah wahabi, ngakunya memurnikan islam tapi nyatanya meremehkan dan menghina Nabi SAW. kayaknya wahabi itu sudah tercampur dengan faham yahudi (yg sangat membenci islam) maklum saja dinasti saud masih satu trah dengan yahudi, jadi gak heran mereka lebih pro israel dan amerika, ketimbang membela palestina dan umat islam yg tertindas.demi melanggengkan kekuasaannya.

      2. maaf, ada ralat….yg menarik-narik jamaah yg berdoa di dekat makam Nabi Saw di masjid Nabawi menurut anggota keluarga kami bukan laskar syariat, tapi semacam orang2 yg ditugaskan menjaga masjid. maaf saya salah info…
        dan ada tips dr yg pernah umroh, bagi yg ingin berdoa di sisi makam Nabi Saw, sebaiknya wajah ditutupi kain dan tangan memegang al-Qur’an…Insya Allah tidak akan diganggu atau ditarik keluar, jadi bisa berlama2 di sisi makam Nabi Saw. Tapi kalau menengadahkan tangan berdoa di dekat makam Nabi Saw kalau ketahuan langsung di tarik keluar.

  196. Artikel ini membuat saya semakin yakin akan kebenaran salafy wahaby, dan semakin yakin akan kesesatan NU Aswaja..
    Karena golongan yang berada dalam kebenaran tidak mungkin melakukan fitnah dengan membati buta terhadap sesama muslim, apalagi yang di fitnah adalah golongan ahlul tauhid…

    1. “diantara orang-orang yang penuh ilmu di hatinya, ada yang berlidah kikuk” ~ Jala al Khawatir
      Mas ibn Ilyas, sy tidak akan mencegah anda mengikuti wahabi. Tapi sy ingin anda berhati-hati dengan lidah anda. Nabiyullah pernah menghentikan sahabat yang ingin menebas leher orang yang mengatakan Nabiyullah tidak Adil karena beliau khawatir orang tersebut adalah orang yang Sholat (lihat hadist diatas). Itu adalah kisah generasi salaf berdasarkan hadist nabi, lalu apakah anda akan mengikuti contoh itu? agar berhati-hati tentang kesesatan?
      Lalu manhaj yang kiranya akan anda jalani. Sy yakin anda akan menilai manhaj itu lebih ilmiyah dari metode mahzab. Semua harus kembali ke dalil. Sy ingin menunjukkan analogi pada saat mengejakan suatu teori, kita biasanya mengambil teori yang mendukung. Nah, pada saat teori tersebut kita ambil, sesungguhnya kita berpikir tentang teori itu dengan makna kita sendiri (maksud untuk mendukung). Apalagi biasanya hanya sempalan dari suatu teori lain. Nah bila itu Qur’an dan Hadist, maka sebenarnya Quran dan Hadist, selanjutnya sy sebut dalil, ini kita sebutkan, tidak lain dan tidak bukan agar sesuai dengan maksud yang ingin kita sampaikan saja. Bila kita bergerak dari satu topik ke topik lain maka belum tentu kita mengetahui, atau bahasa awamnya (nanti saya cari dalilnya dulu).
      Tentu sangat berbeda dengan kami, kami harus memastikan kami membaca dengan benar dengan menguasai ilmunya (ada di postingan sebelumnya tentang mujtahid), dan boleh saja kami menisbatkan pada orang yang kami percayai (siapa yang tidak percaya Imam Syafii?). Lalu guru-guru kami yang bersanad jelas. Tentu masalah-masalah pokok sudah lama mengendap walaupun ada pendapat-pendapat baru seperti mashur pada jaman AlJunaid saat beliau ditanya tentang makna ikhlas. Tapi itu tidak mengurangi kebenaran karena kebenaran itu Mutlak Milik Nya. Dan kami berbaik sangka pada perbedaan khilaf karena tujuan kami bukan mengakui kebenaran.
      Tujuan website semacam ini dipublikasikan sejatinya untuk menenangkan masyarakat yang tiba-tiba dilabeli sesat, bidah, kafir, yang tentu bagi hati yang peka akan merasa resah karena yang demikian berarti jauh dari Allah. Bahwa amalan-amalan yang dilakukan kami ada dasarnya, kalaupun berbeda hanya masalah wadag saja. Seperti Tawasul, orang-orang wahabi menyerang bahwa berdoa disamping kubur tidak boleh sedangkan beberapa ulama membolehkannya. Beberapa kalangan awam wahabi malah mengira orang-orang tersebut meminta pada kubur itu, padahal mana ada muslim yang tidak tahu laa hawla wa laa quwwata illa billah. Yang demikian berarti hati hilang berbaik sangka, dan itu adalah penyakit menurut hemat kami.
      Demikian menurut pendapat saya tentang manhaj yang akan mas Ilyas gunakan.

      1. inilah yg saya sayangkan….mengapa Salafi tidak berbaik sangka. coba kalau anda posisikan diri anda bbrp tahun yg lalu, dimana blog2 seperti ummati ini belum ada….begitu ganasnya ustadz2 Salafi ini menebar doktrin syirik, musyrik, ahlul bid’ah, ahlul ahwa, dsb. Saya sampai terkaget-kaget, tidak menyangka ada ustadz2 yg demikian entengnya menjelek2an ulama2 kami. saya tadinya menyangka, bahwa Islam itu satu…Islam itu lembut, damai, dan tidak mempermasalahkan hal2 yg sifatnya khilafiah demi persatuan umat. namun yg saya baca di blog2 ustadz2 Salafi tidak demikian.
        Saya dulu sempat stress baca2 tulisan ustadz2 Salafi, apalagi masalah anti takwil dan masalah harus mengartikan al-Qur’an untuk ayat2 mustasyabihat secara tekstual….
        saya sampai bingung, kenapa Islam jadi seperti Kristen? Kenapa ayat2 mustasyabihat harus diartikan secara tekstual? Sungguh jika kita mau membaca bible, maka umat Islam nantinya akan terjebak pada paham tajsim dan tasybih sama halnya umat Kristen pd saat ini.
        Jadi tidak salah jika akhirnya saya ikutan nimbrung di blog ini, lantaran sudah tidak tahan dengan caci maki Salafi yg mengatai ulama2 kami sebagai ulama Su’u, ahlul ahwa, ahlul bid’ah, dsb….
        Bagaimana kata2 keji semacam itu gampang dikeluarkan oleh orang2 yg merasa dirinya pengikut Salafush Saleh…

    1. Jeng Ummu…kalau dirimu merasa tidak sesat, tolong jelaskan ini ya?
      Perkataan Imam Malik yg asli “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul (al-Istiwa sudah jelas diketahui dan adanya al-Kayf (sifat benda) bagi Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal)”,
      sedangkan hadist Imam Malik versi Salafi/Wahabi dirubah bentuknya menjadi : “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah”.
      Ayo tolong jelaskan jeng Ummu….

      1. mbak, apa gak takut? Jeng Ummu sudah tahu yang menunggu kita malaikat Malik as apa mbak Shinta tidak takut bahwa:
        “Hati-hatilah dengan firasat seorang Mukmin, sebab dia melihat dengan cahaya Allah”
        Mbak ummu hasanah belum bisa berdialog karena telah menemukan “kebenaran”.
        Stop bercandanya, mbak ummu hasanah ini siapa sih, agen wahaby yah.. bikin orang-orang yang serius belajar jadi sibuk ngomen gak penting. xixixixixixixixixi..

    2. @ummu hasanah
      saya penasaran ummmu hasanah ini manusia bukan ya…punya akal ga sih….heran….ini ibarat sesat menyesatkan……ente ….nantangain ketemu lakat…ente kali yang ditunggu….mau dihajar klo ga tobat

    3. @ummu hasanah
      saya penasaran ummmu hasanah ini manusia bukan ya…punya akal ga sih….heran….ini ibarat sesat menyesatkan……ente ….nantangain ketemu malaikat…ente kali yang ditunggu….mau dihajar klo ga tobat

    1. ummu hasanah ini sepertinya contoh seorang Wahabi yg sudah nggak bisa diingatkan lagi, persis sabda rasulullah saw:
      يخرج في آخر الزمان قوم أحداث الأسنان سفهاء الأحلام يقولون قول خير البرية يقرؤون القرآن لا يجاوز حناجرهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية ، فإذا لقيتموهم فاقتلوهم ، فإن قتلهم أجراً لمن قتلهم عند الله يوم القيامة
      “Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda, berucap dengan ucapan sbeaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya, maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena memerangi mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “.(HR. Imam Bukhari 3342)
      Saya tetap do’akan buat ummu hasanah yg telah sudi berdiskusi di sini semoga dapat hidayah, walaupun akhir2 ini diskusinya makin menggambarkan kepanikan seseorang yg terpojok oleh hujjah2nya sendiri. Semoga dg kekuasaan Allah yg Maha mampu berkenan mengembalikan panah (ummu hasanah) ke busurnya, amin yaa lathiif yaa qodiir….

    2. Kalau anda merasa tidak menyimpang, tolong anda jelaskan ini ya..
      Perkataan Imam Malik yg asli “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul (al-Istiwa sudah jelas diketahui dan adanya al-Kayf (sifat benda) bagi Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal)”,
      sedangkan hadist Imam Malik versi Pemecah Belah umat dirubah bentuknya menjadi : “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah”.
      Ayo tolong jelaskan jeng Ummu….katanya anda yg tidak menyimpang?

  197. Wahaby telah Mengubah dan mengacak-acak kitab klasik ulama salaf. Dengan kedok Methode ilmiyyah, Pada hal itu methode Yahudi yang suka malsu kitab atau METHODE SYAITHON bin IBLIS…..!!
    LICIK…! dan CURANG…!

  198. Untuk teman2 Aswaja,
    Sejauh yang sy ketahui, dari beberapa referensi membuktikan tidak pernah wahabi itu menang dalam diskusi ilmiah tentang apapun termasuk dalam konsep tauhid ini dengan Aswaja. Baik pada awal kemunculannya, ataupun setelahnya sampai saat ini, misalnya: ulama wahabi yang dikalahkan oleh Syaikh Alwi al Maliki di Mekkah, atau yang terbaru ulama2 NU yang mengalahkan ustad2 wahabi dalam diskusi ttg bid’ah atau tauhid di beberapa tempat.
    Jadi pernyataan teman2 wahabi (@ummu hasanah), “Vijay, sy enggak segera jawab krn sy sedang menunggu mungkin saja ada jawaban yang benar dan baik. Tp kenyataannya…ya spt inilah.. semakin ngawur. Betul khan sy bilang…”
    Menurut saya adalah pernyataan yang apatis, Jangankan orang selevel ummu hasanah, orang selevel ulamanya wahabi saja sudah tidak mampu mengalahkan Ulama2 dan Ustad Aswaja…
    Jadi kesimpulannya untuk teman2 Aswaja, sebaiknya teman2 Aswaja berpaling dari orang2 yang tidak mau melihat kebenaran (sebagaimana dalam al-Qur’an, ” Fa a’ridh anil Jaahiliin…” (maka berpalinglah dari orang-orang bodoh..). Karena mohon maaf utk teman2 wahabi (@ ummu hasanah cs), jika memang teman2 wahabi benar2 berilmu, mereka akan tahu bagaimana bersikap dalam diskusi dalam mencari kebenaran (ilmu) dalam Islam, dalam kaidah Ushul, “Jika pendapat orang yang diajak diskusi itu (benar/komprehensif) serta tidak mampu dijawab oleh lawan diskusinya, maka ia harus menerima pendapat yang benar tsb.”
    Perhatikan di blog ini, Bukankah dalam setiap diskusi dalam hal apapun, teman2 Aswaja selalu unggul? Menggunakan data yang valid dan komprehensif dalam argumennya, serta sanad dan matan keilmuannya dapat dipertanggungjawabkan.
    Sebaliknya teman2 wahabi selalu kalah dalam setiap diskusi dengan teman2 Aswaja dan tidak mampu membawakan dalil yg komprehensif, serta pertanggungjawaban matan dan sanad keilmuannya…
    Inilah yang saya maksud dengan saran saya utk teman2 wahabi agar meniatkan diskusi ini dengan hati dan akal yang bersih utk semata2 mencari kebenaran karena Allah Swt semata… Mudah2an dengannya Allah akan memberikan petunjuk dan hidayahnya.
    Jadi utk teman2 Aswaja (Mas Agung Cs), kapasitas keilmuan seseorang bisa dilihat dari perkataan dan konsistensi thd perkataannya,… termasuk di sini kita bisa menilai keilmuan teman2 wahabi di sini (@ ummu hasanah cs) yang sepertinya belum kompeten dan kadang tidak konsisten.
    Tugas teman2 Aswaja di sini hanya menyampaikan kebenaran ttg ilmu yang benar, bersanad dari generasi ke generasi sampai Rasululloh Saw, dapat dipertanggungjawabkan dan dipegang serta diyakini kebenarannya oleh hampir sebagian ummat islam yang dikenal dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja) dengan cara yg santun dan baik. Adapun hidayah itu hanya Allah Swt yang memberikan. Mudah2an saja teman2 wahabi di sini dapat diberikan hidayah oleh Allah Swt. Sekalipun tidak maka itu memang kehendak Allah SWT.
    Wallahu A’lam
    .

    1. setuju…!
      bener kata mba yuyu, cape hati ngeladenin wahabi, sebenarnya mereka ( ummu hasanah cs) udah terpojok, ga bsa berkutik tinggal satu senjata mereka menghina, merendahkan dan memaki lawan diskusi untuk temen2 aswaja mending jangan di tanggapi n tetap lanjutkan dakwah.
      tapi klo dipikir2 ada sisi positif nya juga adanya wahabi yaitu para ustad, santri dan muta’allimin yang tadinya sering mutola’ah kitab, jadi makin rajin karena harus mengcounter attack wahabi.
      wallahu a’lam
      bravo ummati, bravo aswaja

      1. MAs Abi Raka, pertanyaannya kemudian adalah, jika benar kebenaran itu datangnya dari Rosullulah lewat jalurnya Wahabi, tapi kenapa setiap kali diuji selalu kalah, terlalu banyak kelemahan2, penuh dengan kontradiktif. Apakah Rosullulah telah gagal membawa Fitrah Islam ini sampai masa sekarang kini? KAN TIDAK!!!
        Jika sanadnya Lurus dari Rosul ke sahabat, sahabat ke tabiin, tabiin ke tabiut, tabiut ke imam mazhab dst, maka diuji dari sisi manapun (apaun Issuenya) akan tetap kelihatan yang namanya KEBENARAN. Apakah Rosullulah telah gagal sehingga ummatnya Minoritas? KAN TIDAK!!! Sudah sepantasnyalah kaum wahabi utk berpikir panjang lagi, mana yg Nyempal dan mana yg Lurus, mana yg Minor dan mana yg Mayor.

        1. vijay
          betul sekali kang vijay, sebenarnya kita hampir tidak perlu diskusi sama wahabi karena endingnya sudah ketahuan udah gitu ga mau taslim lagi. makanya klo menurut saya lebih baik ga usah di tanggapi apalagi orang2 kaya ummu hasanah itu yang komentnya cuma ngerendahin n maki2, cuma bikin kesel doang!

  199. ikut gabung lagi, saya seneng banget bergabung disini….saya makin yakin dengan aswaja….untuk para wahabiyun…..jgan lama-lama tuh mempertahankan aqidah yang rapuh….cepat bertobat…..karena sampai kapanpun kebenaran….akan menang…mudah-mudahan Allah memberi hidayah kpd kaum wahabi….agar kembali kpd jalan yang lurus(ahlussunnah waljama’ah)

  200. Beda Salaf Shalih dengan (musyabih) dalam masalah nash matasyabih.
    Imam Al Qurthubi menunjukkan titik perbedaannya dalam tafsir beliau Al Jami’ li Al Ahkam Al Quran.
    Salaf Shalih: Kami membaca, kami mengimani, kami serahkan maknanya kepada Allah (tafwidh)
    Musyabih:Kami membaca, kami mengimani, kami maknai sesuai dhahirnya.
    Nah, akidah imam Malik adalah yang pertama, menurut beliau. Dan beliau ini lebih layak untuk diambil perkataannya, karena beliau adalah ulama besar Malikiyah yang tentu labih tahu mengenai imamnya dibanding yang lain.

  201. Vijay, sy enggak segera jawab krn sy sedang menunggu mungkin saja ada jawaban yang benar dan baik. Tp kenyataannya…ya spt inilah.. semakin ngawur. Betul khan sy bilang…

    1. Perkataan Imam Malik yg asli “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul (al-Istiwa sudah jelas diketahui dan adanya al-Kayf (sifat benda) bagi Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal)”,
      sedangkan hadist Imam Malik versi Pemecah Belah umat dirubah bentuknya menjadi : “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah”.
      Coba jelaskan jeng Ummu….kenapa koq bisa dirubah begitu perkataan Imam Malik Ra?

      1. Mbak Shinta,
        mereka merubah perkataan Para Ulama mu’tabar tsb dimaksudkan sebagai methode ilmiyyah, demikian seperti yg saya baca di blognya ustadz Abul Jauzaa, ustazd Wahabi ini sangat konsisten dg prinsip methoda ilmiyyah ajaran setan.
        bagaimana bukan ajaran setan jika berani merubah perkataan Ulama Mu’tabar, dan perubahan dg sengaja tsb diatas-namakan methoda ilmiyyah? Bukankah methoda yg benar dalam menjelaskan karya ulama sudah dicontohkan oleh para ulama dg cara memberi “CATATAN KAKI”? Atau kenapa para Wahabiyyun tsb tidak menggunkan gaya Hasiyyah saja demi menjaga keaslian karya Ulama? Inilah yg bikin saya benar2 marah dg arogansi kaum wahabi yg bsunggguh kurang ajar!

        1. sepertinya pemalsuan kitab ini harus cepat2 diatasi mas Yanto….saya khawatir, kalau ulah mereka2 ini didiamkan, maka anak cucu kita akan menjadi korban cuci otak mereka.

  202. Ummu hasanah, coba dech bantah dengan baik ustadz wahabi anda dengan pernyataan mbak shinta dan yang temen2 aswaja yg lain, saya tau sekali anda tidak akan berani membantah ustadz/guru anda, krn saya juga dulu merasakannya. Coba sedikit demi sedikit dialog dengan ustadz anda, insyaalah akan hadir kebenaran itu dalam dialog anda.
    Pernyataan saya diatas saya ambil dari temen aswaja di facebook, padahal saya dulu hanya meyakini al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah secara harfiyah, ternyata berbeda.

  203. Sedikit tambahan buat ummu hasanah.
    Mereka kaum wahabi juga sering mengubah Al-istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul dengan mengatakan “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah”. Perkataan semacam ini sama sekali bukan riwayat yang benar berasal dari al-Imam Malik atau lainnya. Tujuan kaum Musyabbihah mengucapkan kata tesebut tidak lain adalah untuk menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Istawa Allah, lalu mereka mengatakan Kayfiyyah-Nya tidak diketahui. Karena itu mereka seringkali mengatakan: “Allah bersemayam atau bertempat di atas arsy, tapi cara bersemayam-Nya tidak diketahui”. Atau terkadang mereka juga berkata: “Allah duduk di atas arsy, tapi cara duduk-Nya tidak diketahui”. jadi, Perkataan kaum Musyabbihah “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah” tidak lain hanyalah untuk mengelabui orang-orang awam bahwa semacam itulah yang telah dikatakan dan yang dimaksud oleh Al-Imam Malik. A’udzu Billah.

  204. @ummu hassanah
    tanya lagi tanya lagi. Kami mengikuti Imam Malik terhadap apa yg termaktub dlm Al Qur’an dan Al Hadist Shohih tentang sifat Allah tabarooka wa ta’ala.”mengimaninya wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah”.
    Awas!!! jangan tanya lagi.
    Mbak hassanah, ini sering saya dapatkan pernyataan ini dari ustadz wahabi saya dulu, tapi saya membantahnya dgn pernyataan ini: ( mirip dgn pernyatan mas agung):
    Al-Hafizh al-Bayhaqi dalam karyanya berjudul al-Asma’ Wa ash-Shifat, dengan sanad yang baik (jayyid), -sebagaimana penilaian al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari-, meriwayatkan dari al-Imam Malik dari jalur Abdullah ibn Wahb, bahwa ia -Abdullah ibn Wahb-, berkata:
    “Suatu ketika kami berada di majelis al-Imam Malik, tiba-tiba seseorang datang menghadap al-Imam, seraya berkata: Wahai Abu Abdillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimanakah Istawa Allah?. Abdullah ibn Wahab berkata: Ketika al-Imam Malik mendengar perkataan orang tersebut maka beliau menundukan kepala dengan badan bergetar dengan mengeluarkan keringat. Lalu beliau mengangkat kepala menjawab perkataan orang itu: “ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa sebagaimana Dia mensifati diri-Nya sendiri, tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana, karena “bagaimana” (sifat benda) tidak ada bagi-Nya. Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”. Lalu kemudian orang tersebut dikeluarkan dari majelis al-Imam Malik (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408)”.
    Anda perhatikan; Perkataan al-Imam Malik: “Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”, hal itu karena orang tersebut mempertanyakan makna Istawa dengan kata-kata “Bagaimana?”. Seandainya orang itu hanya bertanya apa makna ayat tersebut, sambil tetap meyakini bahwa ayat tersebut tidak boleh diambil makna zhahirnya, maka tentu al-Imam Malik tidak membantah dan tidak mengusirnya. Jadi kesimpulannya bid’ah disini adalah orang tersebut bertanya bagaimana Allah istawa?
    Adapun riwayat al-Lalika-i dari Ummu Salamah; Umm al-Mu’minin, dan riwayat Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman (salah seorang guru al-Imam Malik) yang mengatakan: “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul (al-Istiwa sudah jelas diketahui dan adanya al-Kayf (sifat benda) bagi Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal)”, yang dimaksud “Ghair Majhul” di sini ialah bahwa penyebutan kata tersebut benar adanya di dalam al-Qur’an. Ini dengan dalil riwayat lain dari al-Lalika-i sendiri yang mempergunakan kata “al-Istiwa madzkur”, artinya kata Istawa telah benar-benar disebutkan dalam al-Qur’an. Dengan demikian menjadi jelas bahwa yang dimaksud “al-Istiwa Ghair Majhul” artinya benar-benar telah diketahui penyebutan kata Istawa tersebut di dalam al-Qur’an.

  205. Subhanallah, saya selalu menyimak pernyataan temen2 aswaja dan pernyataan mas yuyu dan mas agung sungguh sangat membuka hati bagi yang mau menerima kebenaran. Untuk Mbak ummu hasanah dan abu dzar, kurang apalagi lagi anda tidak mau menerima hujjah dari temen2 aswaja ini, kebeneran sudah didepan mata!
    Maju terus Aswaja.

    1. karena sudah di doktrin bro…sama kek iblis…disuruh sujud sama adam sampe beberapa kali malah ngeyel dengan kesombongannya karena diciptakan dari api….
      gak ada bedanya sama wahabi disini…biar dikasi kebenaran juga gak akan mudeng, karena sifat sombong yang teramat sangat….padahal tinggal sholat istikharah minta petunjuk, insyaAllah, Allah akan memeberikan kebenaran, tapinya nggak, jadinya gitu deh….

  206. Jadi point di atas, hadist Imam Malik yg benernya berbunyi : “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul (al-Istiwa sudah jelas diketahui dan adanya al-Kayf (sifat benda) bagi Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal)”,
    sedangkan hadist Imam Malik versi Pemecah Belah umat dirubah bentuknya menjadi : “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah”. Dan hadist ini yg mereka sebarkan untuk memusuhi sesama muslim yg bersyahadat, krn diharuskan memiliki konsep tauhid yg sama dengan mereka…..
    jeng Ummu Hasanah, kenapa hadistnya jadi berbeda begitu ya? Ingat lho…ulama2 yg bersanad itu masih memegang kitab2 manuskrip jadul….jadi kalau ada pemalsuan pasti ketahuan….
    ayo cepet tobat jeng Ummu….jangan menjadi bagian pemecah belah umat, sudah saatnya umat Islam bersatu…

  207. Jadi point di atas, hadist Imam Malik yg benernya berbunyi : “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul (al-Istiwa sudah jelas diketahui dan adanya al-Kayf (sifat benda) bagi Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal)”,
    sedangkan hadist Imam Malik versi Pemecah Belah umat dirubah bentuknya menjadi : “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah”. Dan hadist ini yg mereka sebarkan untuk memusuhi sesama muslim yg bersyahadat, krn diharuskan memiliki konsep tauhid yg sama dengan mereka…..
    jeng Ummu Hasanah, kenapa hadistnya jadi berbeda begitu ya? Ingat lho…ulama2 yg bersanad itu masih memegang kitab2 manuskrip jadul….jadi kalau ada pemalsuan pasti ketahuan….
    gek cepet tobato jeng Ummu….jangan menjadi bagian pemecah belah umat, sudah saatnya umat Islam bersatu…

  208. # PEMALSUAN PERKATAAN IMAM MALIK RA OLEH KAUM PEMECAH BELAH UMAT
    ————————————————————
    IMAM MALIK IBN ANAS TENTANG ISTAWA copy dr http://www.allaboutwahabi.blogspot.com
    Al-Hafizh al-Bayhaqi dalam karyanya berjudul al-Asma’ Wa ash-Shifat, dengan sanad yang baik (jayyid), -sebagaimana penilaian al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari-, meriwayatkan dari al-Imam Malik dari jalur Abdullah ibn Wahb, bahwa ia -Abdullah ibn Wahb-, berkata:
    “Suatu ketika kami berada di majelis al-Imam Malik, tiba-tiba seseorang datang menghadap al-Imam, seraya berkata: Wahai Abu Abdillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimanakah Istawa Allah?. Abdullah ibn Wahab berkata: Ketika al-Imam Malik mendengar perkataan orang tersebut maka beliau menundukan kepala dengan badan bergetar dengan mengeluarkan keringat. Lalu beliau mengangkat kepala menjawab perkataan orang itu: “ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa sebagaimana Dia mensifati diri-Nya sendiri, tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana, karena “bagaimana” (sifat benda) tidak ada bagi-Nya. Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”. Lalu kemudian orang tersebut dikeluarkan dari majelis al-Imam Malik (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408)”.
    Anda perhatikan; Perkataan al-Imam Malik: “Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”, hal itu karena orang tersebut mempertanyakan makna Istawa dengan kata-kata “Bagaimana?”. Seandainya orang itu hanya bertanya apa makna ayat tersebut, sambil tetap meyakini bahwa ayat tersebut tidak boleh diambil makna zhahirnya, maka tentu al-Imam Malik tidak membantah dan tidak mengusirnya.
    Adapun riwayat al-Lalika-i dari Ummu Salamah; Umm al-Mu’minin, dan riwayat Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman (salah seorang guru al-Imam Malik) yang mengatakan: “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul (al-Istiwa sudah jelas diketahui dan adanya al-Kayf (sifat benda) bagi Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal)”, yang dimaksud “Ghair Majhul” di sini ialah bahwa penyebutan kata tersebut benar adanya di dalam al-Qur’an. Ini dengan dalil riwayat lain dari al-Lalika-i sendiri yang mempergunakan kata “al-Istiwa madzkur”, artinya kata Istawa telah benar-benar disebutkan dalam al-Qur’an. Dengan demikian menjadi jelas bahwa yang dimaksud “al-Istiwa Ghair Majhul” artinya benar-benar telah diketahui penyebutan kata Istawa tersebut di dalam al-Qur’an.
    Dari sini dapat dipahami bahwa al-Lali’ka’i dan Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman mengatakan “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul”, sama sekali bukan untuk tujuan menetapkan makna duduk atau bersemayam bagi Allah. Juga sama sekali bukan untuk menetapkan makna duduk atau bersemayam yang Kayfiyyah duduk atau bersemayam-Nya tidak diketahui oleh kita. Hal ini berbeda dengan orang-orang Wahhabiyyah yang salah paham terhadap pernyataan al-Lalika’i dan Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman tersebut. Mereka mengatakan bahwa Allah bersemayam atau bertempat di atas arsy. Hanya saja, –menurut mereka–, Kayfiyyah-Nya tidak diketahui. A’udzu Billah.
    Untuk membantah keyakinan kaum Wahhabiyyah tersebut, kita katakan kepada mereka: Dalam perkataan al-Lalika-i dan Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman terdapat kata “al-Kayf Ghair Ma’qul”, ini artinya bahwa Istawa tersebut bukan Kayfiyyah, sebab Kayfiyyah adalah sifat benda. Dengan demikian, oleh karena kata Istawa ini bukan Kayfiyyah maka jelas maknanya bukan dalam pengertian duduk atau bersemayam. Karena duduk atau bertempat itu hanya berlaku pada sesuatu yang memiliki anggota badan, seperti pantat, lutut dan lainnya. Sementara Allah maha suci dari pada anggota-anggota badan.
    Yang mengherankan, kaum Musyabbihah seperti kaum Wahhabiyyah di atas seringkali memutarbalikan perkataan dua Imam di atas. Mereka sering mengubahnya dengan mengatakan “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah”. Perkataan semacam ini sama sekali bukan riwayat yang benar berasal dari al-Imam Malik atau lainnya. Tujuan kaum Musyabbihah mengucapkan kata tesebut tidak lain adalah untuk menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Istawa Allah, lalu mereka mengatakan Kayfiyyah-Nya tidak diketahui. Karena itu mereka seringkali mengatakan: “Allah bersemayam atau bertempat di atas arsy, tapi cara bersemayam-Nya tidak diketahui”. Atau terkadang mereka juga berkata: “Allah duduk di atas arsy, tapi cara duduk-Nya tidak diketahui”. jadi, Perkataan kaum Musyabbihah “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah” tidak lain hanyalah untuk mengelabui orang-orang awam bahwa semacam itulah yang telah dikatakan dan yang dimaksud oleh Al-Imam Malik. A’udzu Billah.
    Al-Hafizh al-Bayhaqi dari jalur Yahya ibn Yahya telah meriwayatkan bahwa ia -Yahya ibn Yahya- berkata: Suatu saat ketika kami berada di majelis al-Imam Malik ibn Anas, tiba-tiba datang seseorang menghadap beliau, seraya bekata: Wahai Abu Abdlillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimankah Istawa Allah? Lalu al-Imam Malik menundukan kepala hingga badanya bergetar dan mengeluarkan keringat. Kemudian beliau berkata: “al-Istiwa’ telah jelas -penyebutannya dalam al-Qur’an- (al-Istiwa Ghair Majhul), dan “Bagaimana (sifat benda)” tidak logis dinyatakan kepada Allah (al-Kayf Ghair Ma’qul), beriman kepada adanya sifat al-Istiwa adalah wajib, dan mempermasalahkan masalah al-Istiwa tersebut adalah perbuatan bid’ah. Dan bagiku, engkau tidak lain kecuali seorang ahli bid’ah”. Lalu al-Imam Malik menyuruh murid-muridnya untuk mengeluarkan orang tersebut dari majelisnya. Al-Imam al-Bayhaqi berkata: “Selain dari al-Imam Malik, pernyataan serupa juga diungkapkan oleh Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman, guru dari al-Imam Malik sendiri” (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408).
    Dalam mengomentari peristiwa ini, asy-Syaikh Salamah al-Uzami, salah seorang ulama al-Azhar terkemuka dalam bidang hadits, dalam karyanya berjudul Furqan al-Qur’an, mengatakan sebagai berikut:
    “Penilaian al-Imam Malik terhadap orang tersebut sebagai ahli bid’ah tidak lain karena kesalahan orang itu mempertanyakan Kayfiyyah Istiwa bagi Allah. Hal ini menunjukan bahwa orang tersebut memahami ayat ini secara indrawi dan dalam makna zhahirnya. Tentu makna zhahir Istawa adalah duduk bertempat, atau menempelnya suatu benda di atas benda yan lain. Makna zhahir inilah yang dipahami oleh orang tersebut, namun ia meragukan tentang Kayfiyyah dari sifat duduk tersebut, karena itu ia bertanya kepada al-Imam Malik. Artinya, orang tersebut memang sudah menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah. Ini jelas merupakan keyakinan tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya), dan karena itu al-Imam Malik meyebut orang ini sebagai ahli bid’ah” (Furqan al-Qur’an Bain Shifat al-Khaliq Wa al-Akwan, h. 22).

  209. mas Agung…coba dicek itu kitabnya Imam Malik Ra terjemahan Wahabi dgn yg asli…ada perbedaan yg sangat menonjol. Saya juga baru sadar setelah lihat blog orang…cuma saya lupa dimana ya saya baca.

  210. Iya ya … itu Ummu Hasanah dan Abu Dzar kelihatan banget bloonnya, tapi sok pintar. Kata-kata sendiri aza ga ngerti apalgi kata-kata teman diskusi. Terlebih lagi bagaimana memahami Al Qur’an dan Hadits. Kaya beo juga. Mungkin niru Firanda kali Ustadz Beo

  211. Saran saya,
    Sudah saatnya teman2 wahabi sudah mulai kritis ke dalam internal mereka bukan hanya kritis ke luar saja, (bukankah mereka menolak taklid? Jadi belum tentu 100% pernyataan guru2 mereka atau ulama2 mereka itu benar). Jadi coba lakukan studi komparasi yang komprehensif mengenai masalah2 yang selama ini diperdebatkan, semisal konsep bid’ah, tauhid, sholat, dsb dengan melihatnya dari berbagai perspektif yang jauh lebih luas, bukan hanya meligitimasi bahwa pemahaman sendiri yg paling benar.
    Cara yang terdekat adalah
    1) Coba lihat sanad keguruannya? ini penting karena teman2 Aswaja itu sudah membuktikan bahwa sanad keguruannya bersambung dari 1 generasi ke generasi berikutnya mulai masa Nabi Saw sampai dengan ulama2 saat ini. Sehingga ilmunya dapat dipertanggungjawabkan secara kesahihan sanad dalam memperoleh ilmu. Maka pemahaman teman2 Aswaja thd suatu permasalahan tetap sama sesuai dengan pemahaman ulama2 salaf terdahulu… (Dinamis, Selaras dan tidak kontradiktif antara satu dengan lainnya). Hal ini karena mereka belajar mendapatkan ilmu itu talaqqi (bertemu langsung dengan gurunya), sehingga pemahamannya akan tetap sama setiap zaman (mulai dari zaman Rasululloh Saw sampai dengan saat ini).
    Nah, tugas teman2 wahabi utk mengecek sanad keilmuan guru2nya dalam mendapatkan ilmu? karena ini penting… bisa jadi karena tidak bersanad keilmuannya sehingga ada kesalahan pemahaman terhadap makna yang hakiki dari sebuah hadits atau qaul ulama..
    Inilah mungkin, kenapa para ulama mengingatkan pentingnya sanad? untuk menjaga kesohihan sebuah riwayat. Dalam terminologi Aswaja, sanad keilmuan ini sangat dijaga dari zaman ke zaman.
    2) Cobalah melihat Matan (Isi) dari sebuah Ilmu yang didapatkan dari guru2nya? Kemudian teliti apakah ilmu yang didapatkan itu sesuai dengan sejalan dengan nilai2 mulia ilmu yang dijunjung Nabi Saw, para sahabat, tabiiin, imam2 besar, dan ulama2 besar dari zaman ke zaman, yang dinamis, santun, mencerahkan, memberikan dampak yang positif, baik terhadap si empunya ilmu ataupun orang di sekitarnya, menjunjung tinggi nilai2 kemanusiaan dan akhlak yang terpuji…. yang intinya menjadikan umat islam yang berilmu tsb rahmatan lil’alaamin bagi siapapun…. Inilah yang berabad-abad dilakukan oleh Baginda Rasululloh Saw, para sahabat yang mulia, Imam-imam yang mu’tabar, dan ulama-ulama besar yang tawadhu padahal mumpuni keilmuannya… yang kemudian dikenal dengan Ahlussunah Wal Jamaah. Fakta sejarah adalah bukti utk hal ini.
    Tidak satupun dari orang-orang terbaik tersebut sekalipun sangat mumpuni keilmuannya, merasa diri paling benar, gampang menyalahkan orang lain tanpa jelas kesalahannya, gampang mengkafirkan orang lain tanpa jelas kekafirannya, tidak mau menerima kebenaran yang datang dari orang lain, atau bahkan kehadirannya memecah belah ummat…. tidak pernah sama sekali…
    Generasi tersebut adalah cerminan bagaimana ilmu itu menjadi rahmat illahi bukan hanya bagi sesama muslim, melainkan juga non muslim bahkan alam semesta ini…
    Nah, tugas teman2 wahabi utk merenungkannya apakah matan (isi) ilmu yang didapatkan sesuai dengan hakikat ilmu yang ditunjukkan generasi2 terbaik tsb?
    3) Karena ilmu itu cahaya dan cahaya ilmu itu hanya bisa diterima oleh hati yang bersih dan akal yang bersih. Maka niatkanlah untuk mencari kebenaran dengan keduanya. Karena bisa jadi diskusi ini adalah jalan Allah menunjukkan hidayah kepada orang-orang yang dikehendakinya utk melihat kebenaran.
    Demikian, semoga menjadi renungan untuk teman2 wahabi,..
    Percayalah Allah akan menunjukkan jalan kebenaran kepada siapapun… Masalahnya bersediakah kita melihat dan menerima kebenaran itu?
    Semoga bermanfaat
    Wallahua’lam

  212. di awal-awal Ummu Hasanah dan Abu Dzar keliatan pinter dgan sedikit sombong….. eh, pas ada pertanyaan tentang Tauhid kebuka dech aslinya yg ngeyel and bodoh. para wahaboy ini kayaknya para pemaen sinetron semue ni, haha…!

  213. Sekali lagi terlihat bagaimana kuatnya pengambilan dalil dari teman2 Aswaja, karena konsep Tauhid yang pada dasarnya ditanyakan mas Agung dan teman2 Aswaja adalah sebagaimana yang dipahami dan diajarkan oleh Nabi Saw, Para Sahabat, Tabi’in, Imam2 Mu’tabar… sampai dengan ulama2 besar saat ini… yang telah terbukti mengkikis habis aqidah musyabbihah, mu’tazilah, dan mujassimah dari zaman ke zaman…
    Kalimat dari teman wahabi (@ummu hasanah) yg berkata, “Bukannya sy enggak mau jawab pertanyaan Agung, tp pembahasan ini sangat perlu konsentrasi dan pemahaman yang tinggi, sebab sekali saja lengah maka akan salah kelanjutannya. Dan ini tidak mudah jika melihat (maaf) cara antum dalam memahami suatu masalah.”
    menunjukkan bahwa konsep pemahaman tauhidnya rapuh karena permasalah tauhid bukanlah ranah ijtihadi orang perorang, akan tetapi harus merujuk kepada pemahaman ulama2 yang kompeten dan diakui kebenarannya oleh sebagian besar ulama2 dan umat islam. Sejauh ini berdasarkan sejarah, Aswaja (Imam Al-Asy’ari dan Imam Maturidi) lah yang secara terbukti telah mengikis habis akidah2 mujassimah. mu’tazilah, dan musyabbihah dari zaman ke zaman. Dan ini diakui oleh hampir sebagian besar ulama2 Islam sedunia, ditambah fakta bahwa imam2 besar ahli2 tafsir, hadist, fiqh, bahasa, dan disiplin ilmu lainnya adalah pengikut akidah Aswaja.
    Ada hal yang menarik, ketika Imam Ibn Katsir yang notabene ahli tafsir tetapi sekalipun begitu beliau tetap memilih bermazhab fiqh Syafi’i karena beliau menilai Imam Syafi’i lah yang jauh lebih menguasai ilmu fiqh dan paling kompeten untuk itu, sekalipun beliau punya legitimasi utk menafsirkan al-Qur’an karena seorang ahli tafsir.
    Nah, inilah mungkin yang harus direnungkan oleh teman2 wahabi. Dalam diskusi ini, teman2 Aswaja (mas Agung Cs) tidak perlu lagi merenungkan dan berijtihad dalam masalah tauhid karena teman2 Aswaja hanya menyampaikan akidah yang memang berdasar dan bersanad dari gurunya dari gurunya lagi.. terus sampai imam2 besar, sahabat dan Rasululloh Saw.
    Sebaliknya, konsep teman2 wahabi itu rapuh karena sampai saat ini dari mulai munculnya konsep akidah wahabi ini, tidak pernah ada pertanggungjawaban yg komprehensif dari dulu, baik terkait sanad maupun matan yang bisa dipertanggungjawabkan sampai kepada ulama2 besar umat Islam, sahabat, apalagi sampai Rasululloh Saw.
    Jadi berdasarkan hal tsb, sy kira pertanyaan teman2 Aswaja (Mas Agung cs) sepertinya sulit dapat dijawab oleh teman2 wahabi (Ummu hasanah Cs).
    Jadi dari segi komprehensifitas, konsep Aswaja jauh lebih kuat, komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan.
    Wallahu’alam

  214. Bukannya sy enggak mau jawab pertanyaan Agung, tp pembahasan ini sangat perlu konsentrasi dan pemahaman yang tinggi, sebab sekali saja lengah maka akan salah kelanjutannya. Dan ini tidak mudah jika melihat (maaf) cara antum dalam memahami suatu masalah.
    Sy lihat, banyak dari antum tidak mengerti substansi / pokok pembahasan, sehingga pembahasan jadi lari kemana-mana. Sekali lagi maaf, ini bukan sombong..tp itulah kenyataannya.

    1. @Ummu Hasanah
      Tauhid itu kan masalah pokok. kalau fiqih itu sebagian besar berkaitan dengan masalah cabang. kalian ini kan mengaku paling benar tauhidnya, bahkan ada salah seorang golongan kalian yg mengatakan bahwa orang yg melakukan takwil bukan ahlussunah. jadi, anda jawab saja pertanyaan saya diatas. jangan cuma bisa menuduh bid’ah kepada kami. anda buka Al-Qur’an, kemudian lihat Surah Al-Baqoroh : 115, ayat tersebut berbunyi : “dimanapun kalian menghadap, di sanalah wajah Allah”.
      jd pertanyaan saya adalah, apa makna sakit pada hadist yg saya sebutkan, apa makna tangan dan wajah pada ayat Al-Qur’an tersebut? kemudian komentari pernyataan saya yg berbunyi : “Allah swt. itu telah ada sebelum segala sesuatu ada, termasuk tempat, ‘arasy, langit dsb, jadi, Allah telah ada tanpa tempat, langit, arasy. benar tidak pernyataan saya, bila salah, tunjukkan dalilnya?”.

    2. @Ummu Hasanah
      yg tidak mengerti substansi atau pokok permasalahan itu kalian, yg cuma bisa asal kutip, makanya banyak sahabat kami yg menyarankan untuk belajar dulu dari dasar, sehingga tidak asal main fitnah. Bukan bearti kami ini sudah pintar semua, kami di sini hanya muqallid.
      contoh, ada sahabat kalian yg mengutip pendapat ulama mazhab syafi’i untuk mengharamkan dan membid’ahkan tahlilan dsb. lebih baik pelajari dulu pengertian bid’ah dalam mazhab syafi’i, kemudian, ilmu dari mana sesuatu yg dihukumkan makruh, namun oleh sahabat kalian dibawa dalam pengertian haram.
      kalian inipun selalu berjargon : “kembali kepada Al-qur’an dan hadist sohih”. coba anda belajar kepada ulama ahlussunah wal jama’ah, jangan cuma belajar kepada ulama wahabi. apa saja sumber hukum islam selain Al-Qur’an dan Hadist, apa saja yg telah disepakati dan yg masih diperselisihkan. misal, apa yg dilakukan jika ada beberapa hadist sohih yg secara zahir saling bertentangan? apa yg dilakukan jika ada hadist sohih namun ahad bertentangan dengan hadist atau ayat yg mutawattir? kalian ini pun menolak semua hadist dhaif. hadist dhaif itu tetap diakui sebagai sebua hadist, namun tidak memenuhi kriteria hadist sohih maupun hasan, baik dari segi perawi maupun matan hadist. siapa yg berhak menilai suatu hadist, mereka adalah para muhadist seperti imam hadist yg enam, atau imam nawawi, imam ibnu hajar al-asqalani, imam Al-Iraqi dsb, yg hafal ratusan ribu hadist beserta hukum matan dan perawinya, bukan orang sekelas al bani yg entah berapa banyak hadist yg dihapalnya.
      dikalangan ahlussunah, hadist dhaif dapat digunakan untuk keutamaan amal. hadist dhaif yg memiliki jalur periwayatan yg banyak, maka dapat naik menjadi hadist hasan lighairih dan dapat dijadikan hujjah. kalian ini pun mengaku mengikuti generasi salaf. menurut saya itu suatu kedustaan, anda baca saja metode ijtihad imam Hambali, beliau lebih mendahulukan menggunakan hadist dhaif daripada qiyas. tuh, Imam Hambali saja menggunakan hadist dhaif, dan imam Syafi’i sebagai guru Imam Hambali tidak pernah mengingkari hal tersebut, padahal mereka adalah generasi salaf.

  215. @Ummu Hasanah dan Abu Dzar ahlul bid’ah dholalah
    bila saya katakan bahwa Allah swt. itu telah ada sebelum segala sesuatu ada, termasuk tempat, ‘arasy, langit dsb, jadi, Allah telah ada tanpa tempat, langit, arasy. benar tidak pernyataan saya, bila salah, tunjukkan dalilnya?

  216. @Ummu Hasanah Ahlul bid’ah dholalah
    Dengan demikian jika Allah membutuhkan untuk duduk atau bertempat di atas arsy, lalu sebelum menciptakan arsy dimanakah Ia? (al-Washiyyah dalam kumpulan risalah-risalah Imam Abu Hanifah tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 2. juga dikutip oleh Mullah Ali al-Qari dalam Syarh al-Fiqhul Akbar, h. 70).
    Imam Hanafi itu setingkat dengan Imam Maliki. jadi, pertanyaan saya juga tetap sama, dimana Allah sebelum menciptakan tempat?

  217. @Ummu Hasanah
    mbk ku yg beraqidah buruk, akan saya jelaskan maksud perkataan Imam Maliki.
    Al-Hafizh al-Bayhaqi dari jalur Yahya ibn Yahya telah meriwayatkan bahwa ia -Yahya ibn Yahya- berkata: Suatu saat ketika kami berada di majelis al-Imam Malik ibn Anas, tiba-tiba datang seseorang menghadap beliau, seraya bekata: Wahai Abu Abdlillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimankah Istawa Allah? Lalu al-Imam Malik menundukan kepala hingga badanya bergetar dan mengeluarkan keringat. Kemudian beliau berkata: “al-Istiwa’ telah jelas -penyebutannya dalam al-Qur’an- (al-Istiwa Ghair Majhul), dan “Bagaimana (sifat benda)” tidak logis dinyatakan kepada Allah (al-Kayf Ghair Ma’qul), beriman kepada adanya sifat al-Istiwa adalah wajib, dan mempermasalahkan masalah al-Istiwa tersebut adalah perbuatan bid’ah. Dan bagiku, engkau tidak lain kecuali seorang ahli bid’ah”. Lalu al-Imam Malik menyuruh murid-muridnya untuk mengeluarkan orang tersebut dari majelisnya. Al-Imam al-Bayhaqi berkata: “Selain dari al-Imam Malik, pernyataan serupa juga diungkapkan oleh Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman, guru dari al-Imam Malik sendiri” (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408).
    “Penilaian al-Imam Malik terhadap orang tersebut sebagai ahli bid’ah tidak lain karena kesalahan orang itu mempertanyakan Kayfiyyah Istiwa bagi Allah. Hal ini menunjukan bahwa orang tersebut memahami ayat ini secara indrawi dan dalam makna zhahirnya. Tentu makna zhahir Istawa adalah duduk bertempat, atau menempelnya suatu benda di atas benda yan lain. Makna zhahir inilah yang dipahami oleh orang tersebut, namun ia meragukan tentang Kayfiyyah dari sifat duduk tersebut, karena itu ia bertanya kepada al-Imam Malik. Artinya, orang tersebut memang sudah menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah. Ini jelas merupakan keyakinan tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya), dan karena itu al-Imam Malik meyebut orang ini sebagai ahli bid’ah” (Furqan al-Qur’an Bain Shifat al-Khaliq Wa al-Akwan, h. 22).
    “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul (al-Istiwa sudah jelas diketahui dan adanya al-Kayf (sifat benda) bagi Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal)”, yang dimaksud “Ghair Majhul” di sini ialah bahwa penyebutan kata tersebut benar adanya di dalam al-Qur’an. kata “al-Kayf Ghair Ma’qul”, ini artinya bahwa Istawa tersebut bukan Kayfiyyah, sebab Kayfiyyah adalah sifat benda. Dengan demikian, oleh karena kata Istawa ini bukan Kayfiyyah maka jelas maknanya bukan dalam pengertian duduk atau bersemayam.
    anda kan dengan mudahnya mengatakan bahwa Allah itu bersemayam berdasarkan dalil yg kalian kemukakan. sekarang, tolong jawab pertanyaan saya mengenai hadist dan ayat al-qur’an diatas?

  218. @Agung, ini tanya lagi tanya lagi. Kami mengikuti Imam Malik terhadap apa yg termaktub dlm Al Qur’an dan Al Hadist Shohih tentang sifat Allah tabarooka wa ta’ala.”mengimaninya wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah”.
    Awas!!! jangan tanya lagi.

    1. jeng Ummu…coba anda cek kitabnya Imam Malik Ra yg asli, sama nggak dg kitabnya Imam Malik Ra yg dicetak di negeri Saudi?

  219. @Abu Dzar
    mas anti takwil dan beraqidah buruk, tanya lagi mas, ada ayat yg berbunyi :”Mereka yang berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS. Al Fath : 10)”.
    apa maksud tangan tersebut? apakah ada tangan yg turun dari langit yg tidak serupa dengan tangan makhluk?

    1. Maka dari itu Mas Agung, saya jadi iba thp dua Imam dibawah ini.
      Artikel ini sy kutip masih dari ummatipress hal.35 klo ga salah:
      • Imam al-Hâfizh Abu Hafsh Ibn Syahin, salah seorang ulama terkemuka yang hidup sezaman dengan Imam al-Hâfizh ad-Daraquthni (w 385 H), berkata: “Ada dua orang saleh yang diberi cobaan berat dengan orang-orang yang sangat buruk dalam aqidahnya. Mereka menyandarkan aqidah buruk itu kepada keduanya, padahal keduanya terbebas dari aqidah buruk tersebut. Kedua orang itu adalah Ja’far ibn Muhammad dan Ahmad ibn Hanbal” .
      Orang pertama, yaitu Imam Ja’far ash-Shadiq ibn Imam Muhammad al-Baqir ibn Imam Ali Zainal Abidin ibn Imam asy-Syahid al-Husain ibn Imam Ali ibn Abi Thalib, beliau adalah orang saleh yang dianggap oleh kaum Syi’ah Rafidlah sebagai Imam mereka. Seluruh keyakinan buruk yang ada di dalam ajaran Syi’ah Rafidlah ini mereka sandarkan kepadanya, padahal beliau sendiri sama sekali tidak pernah berkeyakinan seperti apa yang mereka yakini.
      Orang ke dua adalah Imam Ahmad ibn Hanbal, salah seorang Imam madzhab yang empat, perintis madzhab Hanbali. Kesucian ajaran dan madzhab yang beliau rintis telah dikotori oleh orang-orang Musyabbihah yang mengaku sebagai pengikut madzhabnya. Mereka banyak melakukan kedustaan-kedustaan dan kebatilan-kebatilan atas nama Ahmad ibn Hanbal, seperti aqidah tajsîm, tasybîh, anti takwil, anti tawassul, anti tabarruk, dan lainnya, yang sama sekali itu semua tidak pernah diyakini oleh Imam Ahmad sendiri. Terlebih di zaman sekarang ini, madzhab Hanbali dapat dikatakan telah “hancur” karena dikotori oleh orang-orang yang secara dusta mengaku sebagai pengikutnya.
      Wallohualam.

  220. @Abu Dzar
    aqidah itu kan masalah pokok, jd anda jawab dulu hadist dan pertanyaan saya tersebut! jangan hanya bilang bahwa aqidah kalian ini yg paling murni.

    1. @Abu Dzar
      diskusi kita tentang kesucian Allah kan belum selesai. saya masih tetap mempertanyakan, dimana Allah sebelum menciptakan tempat?

  221. mas agung
    “hadist itu sangat cocok dengan anda dan kawan kawan mu. kalian ini beraqidah buruk, bahkan saking buruknya mengatakan bahwa Allah swt. memiliki sifat sakit, wajar saja kemudian menjadi tukang fitnah. super sekali mas. tanya dong mas, selain al-qur’an dan hadist, apa lagi sumber hukum islam? monggo di jawab.”heee, isbir mas agung, heeee, ente lom ngobrol sma sy aj ud suudzon dlu mengatakan klo sy beraqidah buruk, bahkan saking buruknya mengatakan bahwa Allah swt. memiliki sifat sakit.” nti ya mas agung ane g mau coment tuduhan ente stu2 dlu ya mas leonardo di caprio aj blom selesai,jadi malu nih ud banyak penggemarnya.heeee

    1. @Abu Dzar
      saya tidak menuduh mas. kalian itu kan anti takwil. salapi mengatakan, bila ada al-qur’an dan hadist yg berkaitan dengan sifat Allah, maka jangan ditakwil, atinya adalah ayat atau hadist itu sendiri.
      ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits No.2569)
      hadist tersebut, karena tidak boleh ditakwil, maka akan memberi pemahaman bahwa Allah memiliki sifat sakit. jadi saya bukan asal main fitnah seperti anda.

  222. gini mas Leonardo di caprio, mas sudah baca belum syarah hadits tersebut dengan perkataan para ulama -ulama klo belum nyok baca sama saya di tempat sy ada maktabah, banyak buku-bukunya.

    1. @abu Dzar
      pertanyaan saya gak pernah di jawab ya? kalau memvonis bid’ah, hebat benar anda ini. mungkin karena aqidah anda yg buruk kali ya. ya sudah lah…..

  223. @Abu Dzar
    hadist itu sangat cocok dengan anda dan kawan kawan mu. kalian ini beraqidah buruk, bahkan saking buruknya mengatakan bahwa Allah swt. memiliki sifat sakit, wajar saja kemudian menjadi tukang fitnah. super sekali mas. tanya dong mas, selain al-qur’an dan hadist, apa lagi sumber hukum islam? monggo di jawab.

  224. sembari nunggu plng kantor lanjut comend dlu ah…
    Mas Alex Leonardo Di Caprio
    “Maksud saya adalah ternyata Acara Radio Roja merupakan ekspresi yg membuktikan kebenaran Hadits yg mulia ini:
    سيخرج في آخر الزمان قوم أحداث الأسنان سفهاء الأحلام يقولون قول خير البرية يقرؤون القرآن لا يجاوز حناجرهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية ، فإذا لقيتموهم فاقتلوهم ، فإن قتلهم أجراً لمن قتلهم عند الله يوم القيامة
    “Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda (baru muncul di akhir tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya, maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah zaman), berucap dengan ucapan sbeaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca Al-Quran mereka, karena memerangi (membantah) mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “.(HR. Imam Bukhari : 3342)
    Naaahhh….. terbukti kan Radio Roja merupakan ekspresi kebenaran hadits tsb?”Mas sy akui kalo radio rodja setiap hari pasti ada murotal Al-Qur’an nya dan ust2 nya menggunakan hadits2 nabi, yg sy tanyakan mas, trus ust mas leonardo klo kajian ga pake al-qur’an ya?? berarti ingkarul quran donk???? atau g pake hadits????berarti ingkarul sunnah dong??qur’an ga pke hadits ga pake berarti pake ro’u dong duh jadi bingung dengan mas leonardo di caprio.heeeee

    1. mas Abudzar,
      kami Aswaja juga ngaji berdasar Al Qur’an dan hadits secara proporsional sebagaimana manusia biasa yg normal, dan kami tidak terlalu obral dalil-dalil Al Qur’an sebagaimana Wahabi yang asal sebut dalil tidakl perduli apakah proporsional; atau tidak.
      Mudeng nggak sampeyan mas apa maksud saya ini?

  225. @Kunari
    kunari ku tersayang, entah wanita atau laki laki, apa sih yg dimaksud dengan dalil? selain Al-Qur’an dan Hadist, apa saja sumber hukum islam yg telah disepakati dan yg masih diperselisihkan? jadi, biar anda tidak asal ngomong saja, tolongjawab pertanyaan saya tersebut, karena sampai sekarang belum pernah di jawab, baik oleh pakar sholat ala al bani syikh ibnu suradi, atau pakar hadist seperti ummu abdillah dkknya. monggo dijelaskan.

  226. @Ummu Hasanah
    maaf ya, kami ahlussunah wal jama’ah menolak paham wahdatul wujud. justru mereka yg menolak takwil seperti wahabi yg dapat terjerumus ke paham wahdatul wujud. berikut hadistnya:
    ”Barangsiapa memusuhi wali-Ku sungguh Ku-umumkan perang kepadanya, tiadalah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan hal – hal yang fardhu, dan Hamba-Ku terus mendekat kepada-Ku dengan hal– hal yang sunnah baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya maka Aku menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, dan menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya yang ia gunakan untuk melangkah, bila ia meminta pada-Ku niscaya Ku-beri permintaannya….” (Shahih Bukhari hadits No.6137)
    Hadist tersebut, jika di ambil zohirnya, maka akan memberi pemahaman bahwa Allah menyatu dengan makhluknya, dengan menjadi mata, telinga, dan tangan hambanya. Anda kan anti takwil, kalau begtu, apa makna hadist tersebut?

  227. Jika saya perhatikan bbrp hasil diskusi di blog sini, teman2 Aswaja terlihat sekali dasar pengambilan dalilnya sangat komprehensif (memutuskan suatu hukum dengan mempertimbangkan berbagai banyak dimensi ilmu dan faktor yang saling mendukung), bersanad (metode istinbath hukumnya sebagaimana yang dicontohkan, nabi, diikuti sahabat, lalu tabiin… sampai ulama2 besar saat ini), dan merujuk kepada ulama-ulama dan kitab-kitab yang mu’tabar (keilmuan ulama2 Aswaja itu bersambung karena mereka belajar kitab tersebut talaqqi/ bertemu langsung dengan gurunya sehingga pemahamannya tetap sesuai dengan sohibul kitabnya sampai saat ini).
    Sedangkan teman2 wahabi, hanya mengambil hadits kemudian ditafsirkan letter lux (apa adanya), dan terkadang sanad keilmuannya tidak mengambil langsung dari sohibul kitabnya, sehingga ada beberapa kesalahan pemahaman yg menimbulkan kontradiksi.
    Misalnya: Ketika mengambil hadits bukhori, maka teman2 Aswaja merujuk kpd penjelasannya yg ada di syarahnya Ibnu hajar, yg itu diajarkan dari gurunya ke gurunya terus sampai imam2 mazhab… sampai sanadnya bersambung ke imam bukhori, sehingga pemahamannya sesuai dengan pemahaman sohibul kitabnya. Jadi penafsiran teman2 Aswaja saat ini merupakan penafsiran yang memang sesuai dengan penafsiran sohibul kitabnya pada waktu itu.
    Berbanding terbalik dengan teman2 wahabi yg hanya mengambil hadits atau ayat yang kadang salah dalam khitob atau maknanya.
    Oleh karenanya dalam kacamata saya, saya tidak melihat suatu argumen yg komprehensif dari teman2 wahabi dalam menjawab suatu permasalahan dalam bbrp diskusi di sini.
    Oleh karena itu juga, terlihat dalam permasalahan sufi misalnya, sepertinya ada kurang komprehensifnya pemahaman yg utuh mengenai apa sufi itu sendiri oleh teman2 wahabi. Sehingga, bisa jadi segolongan kecil sufi yang tdk sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, dijadikan dalil menyalahkan sebagian besar golongan sufi yang sesuai dengan nilai2 Al-Qur’an dan Sunnah nabi Saw.
    Padahal bisa jadi yang salah adalah pemahaman sebagian kecil “orang”nya, dan bukan pokok “ilmu”nya. Sehingga bukan ilmu tasawwufnya yang salah tetapi pemahaman 1-2 orang sufinya.
    Disinilah perlunya dimensi keilmuan yang luas dan komprehensif dan kompetensi keilmuan yang mumpuni dalam menilai sesuatu. Bukannya tekstual dan hanya dari satu perspektif saja, sehingga tidak mudah menyalahkan orang lain.
    Saran saya, mungkin teman2 wahabi juga harus mulai kritis ke dalam internal mereka sendiri, artinya apakah ilmu dan pemahaman yang didapat mereka dari gurunya dikritisi lagi apakah bersambung sanad dan pemahamannya sampai dengan imam-imam besar, sahabat dan Rasululloh Saw?
    Sebagaimana teman2 Aswaja yang sudah mempertanggungjawabkan secara komprehensif sanad keilmuan mereka dan pemahamannya sesuai dengan pemahaman sohibul kitab yang dikutip karena diambil berdasarkan sanad guru yang bersambung terus (sohih)…sehingga dinamis dan tidak kontradiktif.
    Kesimpulannya Aswaja lah yang paling mendekati dengan pemahaman Rasululloh, Sahabat, Tabiin….sampai dengan ulama2 besar saat ini… dibanding dengan Wahabi…
    Wallahua’alam

  228. inilah akibat kesalahpahaman Salafi, sehingga main pukul rata menghukumi semua ulama Sufi sesat. Akibatnya…Salafi2 yg memiliki karakter jelek dan berpenyakit hati mereka membuldozer kuburan2 ulama Sufi di Libya bahkan ada yg membunuh ulama Sufi.
    Sangat bahaya kan? Hanya karena kesalahpahaman mereka membuat mereka berlaku vandalisme dan tidak menghormati sesama muslim yg lain. Yang akhirnya yg terjadi adalah keributan di antara sesama muslim itu sendiri…yg berujung pd perpecahan.
    Inilah yg dimaksud hadist Nabi Saw ttg kaum yg memecah belah umat Islam di akhir jaman, yg shalatnya rapih melebihi shalat muslimin pd umumnya, yg baca al-Qur’annya paling banyak/sering…namun itu semua tidak meresap ke dalam relung2 hatinya sehingga mudah berprasangka jelek pd orang2 di luar kelompoknya, sehingga menimbulkan perpecahan di tubuh umat Islam.
    Nggak semua tarekat itu dzikirnya seperti yg anda lihat di youtoube….jadi jangan membabi buta menyamakan seluruh tarekat itu sama, seluruh orang yg belajar tasawuf sebagai wihdatul wujud…dsb… Lha anda bilang sendiri jangan membabi buta…tapi kenapa anda justru membabi buta?

  229. Tuh kan terlihat sekali anda membenci kaum Sufi. Sufi itu hanya sebutan kami pd mereka….mereka sendiri tidak menyebut diri mereka sbg Sufi. Kami menyebut ulama2 yg hidupnya wara’, zuhud, dan berakhlak baik sebagai Sufi…….itu sebutan kami pada mereka (faham ya maksud saya?), namun ulama2 Sufi sendiri menyebut diri mereka sendiri sebagai Al-Faqir. Krn mereka merasa diri mereka itu bukan orang berilmu… Mereka justru takut menyebut diri mereka dengan sebutan2 wah yang belum tentu Allah nisbatkan kepada diri mereka. Ini berbeda dengan Salafi yg menisbatkan diri mereka dengan penisbatan yg wah…seolah2 mereka yg paling benar sesuai ulama2 Salaf.
    Gak semua kaum Sufi itu wihdatul wujud jeng Ummu…coba anda kaji kembali kitab Ibnu Al-Arabi. Yg dijadikan rujukan Firanda…itu kitab yg sudah dipalsu yg bereda di abad ini. Kitab Ibnu Arabi yg asli yg berbentuk manuskrip tangan dari Ibnu Arabi justru melarang akidah wihdatul wujud. Coba anda baca sejarah yg benar…yg membunuh al-Hallaj itu siapa? Atas persetujuan ulama2 siapa? Padahal ulama2 yg membunuh al-Hallaj itu adalah ulama2 Sufi yg tidak berakidah wihdatul wujud. Kenapa koq anda ngotot semua ulama Sufi itu akidahnya wihdatul wujud???

  230. Dek shinta ini lucu ya. meributkan kaum salafi yang menisbatkan dirinya pada salafush sholih, katanya penisbatan ini tidak diakui Allah sbubhanahu wa ta’ala. Dan membabi buta membela kaum sufi.
    Jangan membabi buta begitu dong…babi aja haram apalagi babi buta.
    Anehnya malah membela kaum sufi yang wihdatul wujud, oh..alangkah sesatnya. Emangnya shinta suka ya ama dzikir ala sufi kelojotan-kelojotan yang banyak di you tube?

  231. Ummu Hasanah mengasihani orang, tapi tidak mengasihi dirinya sendiri yang tertipu oleh ulama-ulama bayaran Kerajaan Arab Saudi. Menuduh Mang Ucep khuruj 5 bulan dan beribadah atas dasar mimpi. Sungguh kejam tuduhan tersebut.

  232. “Kami kaum salafy (huruf ya pada akhir kalimat bermakna penisbatan. artinya menisbatkan diri kepada kaum salaf, generasi terbaik umat ini).”
    jeng Ummu Hasanah sudah bacakah dalil dalam al-Qur’an yg melarang diri kita menyebut dengan sebutan2 yg belum tentu Allah nisbatkan? “Saya Salafi”…itu hanya pengakuan saja atau memang sudah Allah nisbatkan pd diri anda???
    Lebih baik bercermin diri, sudahkah aplikasi kehidupan Salaf itu meresap pd setiap tindak-tanduk anda sampai pd relung2 hati anda yg terdalam??? Kalau belum sebaiknya anda tidak usah ngaku2 sebagai Salafi ya…. Lebih baik seperti orang2 yg dibenci oleh Salafi yaitu ulama2 Sufi, mereka selalu menganggap diri mereka faqir…tidak mengaku2 bermanhaj Salaf meskipun akhlaknya lebih baik daripada akhlak orang2 yg mengaku bermanhaj Salaf

  233. Bagaimana saya bisa lebih smart, jika ulama sekaliber Firanda saja mengajak umat Islam membenci ulama2 yg belajar tasawuf/ulama Sufi. Pdhl perkataan Firanda dijadikan hujjah oleh kalian. Jadi ketika saya melihat bagaimana makam2 Sufi di buldozer oleh Salafi saya jd yakin memang kalian benci sekali dengan ulama2 di luar kalian yg kalian sebut sebagai ulama Su’u. Pdhl jasa2 ulama Sufi itu banyak dalam mengislamkan orang2 kafir di seluruh penjuru negeri ini dari berabad2 silam, bahkan ulama Sufi itu banyak yg rela mati ditangan kafir2 harbi demi menegakkan agama Allah. Hanya karena ulah segelintir oknum yg melenceng dalam mempelajari tasawuf, lantas tasawufnya yg diharamkan…ulama yg belajar tasawuf dikatakan sesat.
    Anda mungkin bisa bicara “Shinta, tenang saja..” Bagaimana bila makam2 ulama anda yg kami buldozer, atau makam orang tua anda yg kami buldozer…apakah anda akan tenang2 saja??? Bagaimana bisa dikatakan berita itu adalah berita dusta, sedangkan kami melihat sendiri kebencian ulama2 kalian terhadap tasawuf dan ulama Sufi…dan kebencian itu mereka ucapkan secara terang2an dalam tulisan mereka…

  234. Shinta, tenang aja…
    Kami kaum salafy (huruf ya pada akhir kalimat bermakna penisbatan. artinya menisbatkan diri kepada kaum salaf, generasi terbaik umat ini). Berita dan info yang anti terima bukanlah hal yg sebenarnya tentang Yaman, Libya atau lainnya. Jangan terpengaruh oleh kaum zindiq yg sering berdusta.
    Kasihanilah diri anti yang masih muda tp tertipu oleh fitnah. Mari kita lebih smart…

  235. Shinta, tenang aja…
    Kami kaum salafy (huruf ya pada akhir kalimat bermakna penisbatan. artinya menisbatkan diri kepada kamu salaf, generasi terbaik umat ini). Berita dan info yang anti terima bukanlah hal yg sebenarnya tentang Yaman, Libya atau lainnya. Jangan terpengaruh oleh kaum zindiq yg sering berdusta.
    Kasihanilah diri anti yang masih muda tp tertipu oleh fitnah. Mari kita lebih smart…

  236. mas Ibnu…tapi orang2 yang mas sebutkan itu tidak membunuh sesama muslim hanyal lantaran khilafiyah. Justru di sana-sini Salafi yg banyak membunuh sesama muslim….tengoklah aksi Salafi di Yaman, di Pakistan, di Libya…dsb. Sepertinya tidak bisa akur berdampingan dengan sesama muslim yg lainnya. Apa gak baca berita Salafi membuldozer makam2 ulama2 Sufi dan membunuh ulama Sufi? Sebegitu bencinya kalian dengan ulama Sufi yg notabene mereka cinta damai dan tidak menghalalkan darah sesama muslim.
    Jadi tolong jawab pertanyaan saya, apakah jika kalian mayoritas di Indonesia kalian akan membuldozer makam2 orang shaleh/wali ahlusunnah kami? Sekarang saja sudah ada koq Salafi yg berani mengusir orang yg tahlilan….apalagi kalau mreka mayoritas, mungkin akan terjadi pula pertumpahan darah seperti yg terjadi di negara2 yg lainnya…

  237. Bismillaah,
    Kawan-kawan semua,
    Kita musti fokus melihat hadits yang disampaikan dalam artikel tersebut:
    “ Ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang membagi-bagikan pembagian(harta), datang Dzul Khuwaishirah, seorang laki-laki dari Bani Tamim, lalu berkata; Wahai Rasulullah, tolong engkau berlaku adil. Maka beliau berkata: Celaka kamu!. Siapa yang bisa berbuat adil kalau aku saja tidak bisa berbuat adil……”
    Apa yang menyebabkan Rasulullaah bersabda: “Celaka kamu!. Siapa yang bisa berbuat adil kalau aku saja tidak bisa berbuat adil……” kepada Dzul Khuwaishirah? Karena ia mengatakan kepada Rasulullaah: “Wahai Rasulullah, tolong engkau berlaku adil.”
    Akhir zaman ini, banyak yang melakukan amalan ibadah yang tidak dicontohkan Rasulullaah seolah-olah mereka mengatakan: “Wahai Rasulullaah, engkau telah menyembunyikan ilmu tentang usholli, Maulid Nabi, Yasinan, Tahlilan, Nujuh Bulan, Shalat Rebo Wekasan, dll.” Orang-orang semacam inilah yang sifatnya mirip dengan Dzul Khuwaishirah.
    Sedangkan orang-orang yang berjenggot dan tidak isbal serta senantiasa memperbaiki ibadahnya termasuk, mereka semata-mata mengikuti sunnah Rasulullaah. Bagaimana anda mencap pengamal sunnah yang tidak menentang Rasulullaah sebagai khwarij?
    Akhir zaman memang aneh. Pengamal sunnah dibilang khwarij, sedangkan pelaku bid’ah dibilang Ahlussunnah!
    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi
      Apa dasarnya anda menyamakan perkataan Dzul Khuqishirah ” “Takutlah kepada Allah, wahai Rasulullah!” atau dalam riwayat lain “Berbuat adillah!”…
      dengan
      “Wahai Rasulullaah, engkau telah menyembunyikan ilmu tentang usholli, Maulid Nabi, Yasinan, Tahlilan, Nujuh Bulan, Shalat Rebo Wekasan, dll.” ??
      Ente memutarbalikan lidah ente dalam membaca hadist Nabi,,
      Ibn Suradi: “Sedangkan orang-orang yang berjenggot dan tidak isbal serta senantiasa memperbaiki ibadahnya termasuk, mereka semata-mata mengikuti sunnah Rasulullaah. Bagaimana anda mencap pengamal sunnah yang tidak menentang Rasulullaah sebagai khwarij?”
      masalahnya Kaum ente selain memang tidak isbal, berjenggot, jidat menghitam dan kata-katanya juga berbisa..membidahkan+memusyrikan orang yang tidak musyrik (mengkafirkan)..
      Bandingkan dgn ini menurut hadist riwayat Imam Bukhari
      “..Kemudian datanglah seorang laki-laki yang cekung kedua matanya, menonjol bagian atas kedua pipinya, menonjol dahinya, lebat jenggotnya, tergulung sarungnya, dan botak kepalanya. Orang itu berkata : “Takutlah kepada Allah, wahai Rasulullah!…dst” (ni orang tidak isbal dan berjenggot)
      Juga kaumnya mengkafirkah Sayyidina Ali dengan argumen:
      “Pertama, dia (Ali) berhukum kepada manusia dalam perintah Allah, sedangkan Allah telah berfirman : ‘Sesungguhnya hukum hanya milik Allah.’ (QS. Al An’am : 57)
      Di masa ini kaum pewarisnya mengkafirkan mayoritas muslim dengan menuduh bahwa “NU, sufi dan syiah adalah penyembah kuburan”…”tawasul dan tabaruk itu bidah dan musyrik”… dan perkataan semisalnya hanya berpegang pada hadist “setiap bid’ah adalah sesat…”.
      Berganti slogan yaaa tapi tetap isi kepalanya sama persis..soalnya sudah trah dari sononya dari Najd….

  238. Yang jelas jika sekte salafi wahabi tidak usil dengan menghakimi amalan Sunni dengan vonis bid’ah dan syirik maka kecaman perlawanan kami tidak akan sekeras ini..ini belum ada apa-apanya..kami ikut ulama kami yang cinta damai dan tidak suka bersengketa/kekerasan kecuali memang kalo diserang/dipanas panasi duluan, jangankan cuma wahabi, sejarah membuktikan bahwa kaum pesantren tidak takut walau harus mati berperang melawan belanda dan jepang..lha kalian tinggal numpang di negri merdeka saja repotnya minta ampun..mencari cari musuh yang notabene masih ahli kiblat.
    .. sekte salafi wahabi harus belajar dan mengaplikasikan konsep “bagimu amalmu bagi kami amal kami” dan stop membidahkan dan mensyirikan tawasul, tahlilan, maulidan shalawatan…jika mau dibahas ilmiah silahkan delegasikan ulama kalian bermajelis terbuka dengan ulama2 kami..biar kita sebagai awam menilai siapa diantara ulama kami dan kalian yang lebih berilmu dan. Dah banyak videonya di youtup.. ustadz wahabi gelagapan setengah mati jika berargumen dengan ulama sarungan..

  239. mba putri karisma, sabar ya klo mau dialog sama saya, sy mau tuntaskan dulu sama mas alex leonardo di caprio, okay.heee sabar ya ada waktu nya satu2 jgn main keroyokan,heee nti ga fokus,heee.tpi ntar mau jln kel dlu.

  240. Bismillaah,
    Kawan-kawan semua,
    Memahami hadits tentang kaum khawarij dengan menandai kaum khawarij hanya dari ciri-ciri fisik dan kualitas ibadahnya bisa menyesatkan. Bila dibiarkan tanpa koreksi, maka pemahaman seperti ini akan menjauhkan umat islam dari Qur’an dan Sunnah.
    Banyak orang tidak mau shalat dengan benar sesuai yang diajarkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya karena mereka takut disebut khawarij. Banyak orang tidak mau merapatkan shaf shalat berjamaah karena takut disebut khawarij. Banyak orang takut shalat dengan tenang karena takut disebut khawarij. Banyak imam tidak mau membaca surat yang biasa dibaca Rasulullaah karena takut disebut khawarij. Dll. Banyak orang tidak mau berjenggot untuk mengikuti sunnah karena takut disebut khawarij. Banyak orang tidak mau menaikkan pakainnya di atas mata kaki karena takut disebut khawarij.
    Bisa jadi, banyak umat Islam enggan merapatkan shaf shalat berjamaah, shalat dengan tenang, berjenggot dan berpakaian di atas mata kaki karena mendapatkan pemahaman seperti itu. Makanya, shaf shalat berjamaah mereka berantakan. Mereka shalat buru-buru apalagi waktu shalat tarawih, mencukur habis jenggot dan menjulurkan pakaiannya hingga di bawah mata kaki. Pakaiannya melambai-melambai menyapu lantai, halaman dan jalan.
    Seharusnya, kaum khawarij ditandai dari perilakunya. Dalam hadits tersebut, seorang lelaki disebutkan menuduh Rasulullaah tidak berlaku adil dalam membagi-bagikan harta rampasan perang. Padahal, Rasulullaah adalah manusia yang paling adil. Ini sama saja bahwa lelaki tersebut menentang Allah yang telah memilih Nabi Muhammad sebagai utusannya. Dia menentang apa yang dilakukan dan diucapkan Rassulullaah. Dia menentang Rasulullaah.
    Jadi, walaupun seseorang tidak berjenggot dan tidak berpakaian di atas mata kaki, bila ia menentang apa yang dikatakan dan diperbuat Rasulullaah, maka ia disebut khawarij.
    Sekali lagi, nilailah seseorang itu khawarij atau tidak dari perilaku menentang Rasulullaah, bukan hanya dari ciri-ciri fisik dan kualitas ibadahnya.
    Wallaahu a’lam.

    1. Mohon maaf mas Ibnu…
      Mungkin yg mas Ibnu maksud adalah muslim yg awam soal agama, sehingga mereka nggan merapatkan shaf shalat. Namun bagi muslim non Salafi yg sudah tahu ilmunya, Insya Allah mereka akan merapatkan shaf shalatnya. Hanya saja mereka berbaur dengan muslim yg awam sehingga tidak terlihat kerapihan shalat mereka….(krn notabene mayoritas masyarakat kita kan memang awam soal agama).
      Ini berbeda dengan Salafi yg shalatnya bersama2 dengan komunitas mereka….otomatis akan terlihat rapih ketika shalat. Dan non Salafi yg sudah tahu ilmunya shalat pun gak suka koq kalau shalatnya terburu2….malah biasanya mereka menggerutu kalau ada Imam yg shalatnya ngebut.
      Soal memanjangkan jenggot…yach itu mah terserah pribadi masing2…gak manjangin jenggot kan juga nggak masuk neraka khan? Kalau manjangin jenggot tapi awut-awutan…ya kurang sedap jg dipandang. Kalau mau manjangin jenggot ya lebih baik ngikutin habib2…yang jenggotnya pd rapih-rapih.
      Permasalahannya….banyak yg terjadi kekisruhan antar sekte di dunia Islam akibat ulah oknum2 Salafi ini. Contoh yg terjadi di Libya….di Pakistan, di Yaman, dsb…. Di Libya apa di mana tuh ya, oknum Salafi membunuh ulama Sufi….dan membuldoser makam2 para ulama Sufi. Ini kan perbuatan vandalisme…..tidak menghargai orang lain yg di luar sektenya. Inilah yg disebut fitnah di tubuh Islam itu sendiri…

      1. Mas Ibnu Suradi…kira2 kalau Salafi jd mayoritas di Indonesia, bakal ngebuldozer kuburan para wali nggak ya? atau bakal mengusir orang2 yg Mauldi Nabi Saw atau Tahlilan? Soalnya ni ada kasus di sini, orang2 Salafi mengusir orang2 yg sedang tahlilan…..

        1. @Mas Ibnu Suradi “Pakar Sholat”
          Saya ingin mendapat tanggapan Anda tentang sholatnya orang-orang yang yang ada di berita di bawah ini. Kondisi mereka hampir sama dengan orang-orang yang ada di kampung saya. Mereka boro-boro mengetahui dalil, sedang baca Quran saja tidak bisa. Tapi mereka belajar sholat melalui hafalan-hafalan yang diajarkan oleh guru atau orang tua mereka yang tidak tegolong ulama seperti Anda. Dapatkah mereka dikatakan menentang Rasulullah, karena tidak mengetahui dalil-dalil dari bacaan dan gerakan sholat? Terima kasih atas sharing ilmunya.
          Mayoritas Pejabat Publik di Kolaka Timur Buta Baca Tulis Al Quran
          Penulis : Kontributor Kolaka, Suparman Sultan | Kamis, 28 Februari 2013 | 12:20 WIB
          KOLAKA, KOMPAS.com – Warga Muslim di Kolaka bagian timur banyak masih belum menguasai baca tulis Al Quran. Bahkan, mayoritas pemangku jabatan publik di wilayah itu pun tidak lulus dalam sertifikasi buta baca tulis Al Quran. Sertifikasi tersebut dilakukan sejalan dengan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2010 tentang baca tulis Al Quran.
          Pemerintah Daerah Kolaka melalui Dinas Kesejahteraan Rakyat kembali merilis data yang menyebutkan, di bagian timur Kolaka masih terdapat lima kecamatan yang warga muslimnya buta baca tulis Al Quran. Lima kecamatan itu adalah Kecamatan Mowewe, Lalolae, Tinondo, Aere dan Uluiwoi.
          Hasil tersebut terungkap saat majelis sertifikasi buta baca tulis Al Quran usai melakukan survei di lapangan. Lebih dari 60 persen warga di tempat tersebut masih tertinggal dalam hal baca tulis Al Quran.
          “Kan telah kita sepakati secara bersama bagi para umat muslim di Kolaka agar mengetahui baca tulis Al Quran. Nah hasilnya itu. Tapi kalau wilayah timur Kolaka 60 persen masih buta. Padahal sesuai dengan Perda Nomor 3 Tahun 2010 tentang baca tulis Al Quran, harusnya –terlebih bagi para pejabat tidak lagi buta baca tulis Al Quran sebelum menduduki jabatan,” ungkap Kepala bagian Kesra Kolaka, Suherman Parab, Kamis (28/2/2013).
          Pemda Kolaka tahun ini akan kembali menggelar uji baca tulis Al Quran bagi seluruh warga Kolaka, dan khususnya pejabat teras dan publik yang tersebar mulai dari tingkat bawah hingga pemerintahan. Majelis tersebut dipimpin langsung oleh Sekda Kolaka, Ahmad Safei.
          Metodenya pengujian adalah dewan penguji yang akan menyodorkan bahan untuk dibacakan. “Memang tahun lalu tidak semua bisa terjangkau apalagi mereka yang cukup jauh dari pusat kota. Nah tahun ini kembali kita lakukan dan fokuskan bagi warga dan pejabat teras dan publik. Tahun lalu juga yang usai kita uji masih banyak dan sangat besar yang tidak tahu baca tulis. Nah ini masuk dalam agenda susulan juga,” papar Suherman.
          Editor :
          Glori K. Wadrianto

          1. Kang Bima AsySyafi’i,
            Sholat hukum wajib dan harus mencontoh rosul dan ini haditsnya shahih, lalu bagaimana dengan orang awam yang belajar sholat, yang tidak bisa baca Al Qur’an ??? Bukankah islam itu agama yang tidak mendzolimi ???? Jikapun orang itu belum bisa baca qur’an, bukan berarti kewajiban sholat gugur. Yang jelas ada dalil yang mengatakan bila belum bisa bacaan sholat, maka bacalah tasbih. Namun, belajar itu hukumnya wajib. Jadi, bila punya dalil yang shohih, nggak perlu diributin…

    2. Rasul SAW mengatakan bahwa khawarij itu akan muncul terus sepanjang zaman hingga kiamat..
      Nah menurut kang Ibnu Suradi kelompok mana yang khawarij abad ini? cirinya ya itu gampang mengkafirkan..gampang membunuh muslim..ibadahnya hebat sampai jidatnya berbekas.
      Kelompok mana yang sesuai ciri ciri ini di indonesia atau di dunia international?
      Jangan bilang NU yang soalnya NU dan aswaja International tidak suka mengkafirkan orang lain..apalagi bunuh bunuhan..awas jangan juga bilang syiah juga soalnya dari zaman salaf syiah dan khawarij sudah beda itikadnya..
      Atau jika kang ibnu mengatakan abad ini tidak ada khawarij berarti ente menyanggah sabda Rasulullah SAW.. jika ada yang mana coba tunjuk yang paling sesuai ciri-cirinya menurut ente.

      1. Kang Ucok,
        Masalah mengkafirlkan, itu tidak sembarang orang bisa melakukan kecuali yg jelas2 kafir. Orang awam tidak bisa melakukan ini karena harus takut dengan ancaman. Khawarij tetap ada, namun yang jadi masalah kenapa Kang Ucok menganggap Khawarij adalah Salafy ? bukankah ini “FITNAH”, antum tau kan resiko dari “FITNAH” itu ?
        Coba antum bayangin, jika tidak ada orang yang tegas dalam masalah bid’ah, maka tiap orang bisa melakukan amalan tanpa dalil ??? dan beranggapan, ini kan bagus, toh Rosul juga tidak melarangnya….Ini bisa merusak agama, kayak orang pluralsime yang menganggap benar semua agama….

        1. @Kunari
          saya dulu punya teman, yg lebih mirip khawarij. menurut mereka, pemerintah indonesia ini kafir. dia berpegang pada fatwa ulama wahabi bin baz, yg mengatakan negara yg tidak berhukum dengan Al-Qur’an dan Hadist, langsung di vonis kafir. Malah para anjing anjing khawarij mengatakan bahwa orang tua Nabi Muhammad saw. musyrik.

        2. @Kunari
          kalo menurut anda khawarij abad ini siapa? menurut pengamatan saya memang wahabi.. ada orang bertabaruk dibilang musyrik.. musyrikin itu kan kafir yang lebih rendah dari Ahli Kitab..
          Betul kata mas Agung sekarang mudah dijumpai orang yang suka menthagutkan pemerintah negara yang berpenduduk muslim..inget yang terjadi dengan Libya dan sekarang Suriah..menurut mas Kunari Basher al Assad kafir tidak? coba cari fatwa ulama salafi suriah yang ingin mencicang lawannya jika menang

  241. Menuduh org lain khawarij lebih mudah drpd mengakui kebenaran yang ada pd org lain. Mengakui diri yang paling benar lebih mudah drpd menerima setiap kesalahan.
    Karena keduanya datang dari syetan.

    1. @ummu Hasanah
      Shaft sholat kami memang tidak serapat shaft shalat kaum anda..
      Janggut kami umumnya tak sepanjang janggut kaum lelaki anda..cenana kami umumnya tidak secingkrang celana kaum lelaki anda. Bacaan yang dibaca saat shalat kami jg rata-rata cuma juz amma..intinya ibadah kami kalah jauh lah..sholat kaum kalian kan paling sama kayak Nabi..karena diluar kelompok kalian shalat kami ini penuh dengan bid’ah.
      Yup meskipun begitu paling banter ulama ulama kami menyebut kaliah kaum khawarij..sedangkan ulama dan orang awam dari kalian berani menuduh penghulu ulama kami sebagai biang kemusyikan/penyembah kuburan.. gitu lho..
      monggo direnungkan ummu Hasanah..

      1. Yang jelas ulama2 kami wafatnya Khusnul Khatimah….sudah banyak lah contohnya. Bahkan tubuh2 mereka banyak yg utuh meski sudah dikubur puluhan ataupun ratusan tahun.

    2. ummu Hasanah…
      Secara kronologis dan fakta sejak munculnya Wahabi di Indonesia, yg pertama selalu menganggap diri paling benar adalah Wahabi sendiri, adapun kami selalu memberi bantahannya bahwa Wahabi ternyata bukan yg paling benar, dan bantahan kami selalu berdasar fakta. Seperti yg ada di UmmatiPress ini kalau saya perhatikan semuanya merupakan bantahan dari isu-isu bid’ah ataupun syirik yg dilontarkan oleh kaum Wahabi.
      Jadi yg sebenarnya terjadi adalah kaum anda menganggap diri paling benar, dan kami kaum Aswaja memberi bantahan bahwa kaum anda bukan yg paling benar akan tetapi sebaliknya ternyata kaum anda adalah kaum yg terlalu banyak salahnya. Demikianlah yg sebenarnya terjadi, bukan hanya di Indonesia , tetapi ini terjadi nyaris di seluruh dunia Islam. Di mana mana ada kaum Wahabi di tengah Ummat Islam pasti akan selalu terjadi fitnah. Begitulah faktanya, dan menurut nabi Muhammad Saw bahwa kaum yg pahamnya muncul dari Najd ini memang membawa kegoncangan fitnah bagi Islam dan kaum Muslimin.
      من ها هنا جاءت الفتن ، نحو المشرق ، والجفاء وغلظ القلوب في الفدادين أهل الوبر ، عند أصول أذناب الإبل والبقر ، في ربيعة ومضر
      “Dari sinilah fitnah-fitnah akan bermunculan, dari arah Timur (Madinah), dan sifat kasar juga kerasnya hati pada orang-orang yang sibuk mengurus onta dan sapi (duniawi), kaum Baduwi (yg dungu) yaitu pada kaum Rabi’ah dan Mudhar “. (HR. Bukhari)
      Suku Rabi’ah dan Mudhar sudah jelas berada di Najd…
      Ummu Hasanah, anda dikaruniai akal gunakanlah untuk memikirkannya, semoga dapat hidayah, amin……..!

  242. ada hadist dimana sahabat menemui kaum khawarij dan terkejut melihat mereka. Penampilan mereka sangat nyunah sekali, shalatnya sangat rapih, sangat disiplin, bila berkata2 selalu dengan dalil. Saya juga bingung…koq bisa jadi khawarij yach…pdhl shalatnya lebih oke dibandingkan muslim yg lainnya. Imam Ali Ra ketika mengutus sahabatnya untuk menemui kaum khawarij, mengatakan ( kira2 begini bunyinya), “Janganlah bicara dalil dengan mereka, karena mereka pun akan membalas dengan dalil pula. Namun berbicaralah dengan akhlak.” Yach kira2 begitu bunyinya…mungkin ada yg lebih tahu persis kata2 hadist Imam Ali Ra tersebut…monggo di share

  243. Saya menangkap adanya unsur pembodohan dari paham wahabi ini.. polanya sangat jelas..amalan populer dibidahkan dengan mengotakatik hadist..untuk selanjutnya menjauhkan umat dari agama dan Ilmu.
    ..satu lagi contohnya
    mereka mengatakan bahwa hadist tuntutlah ilmu sampai ke negeri China itu batil..berpatokan dari pendapat beberapa ulama, tanpa memedulikan pendapat ulama lain yang mengatakan dhaif dan hasan.. untuk selanjutnya melarang setiap aktivitas bepergian ke negeri non muslim walau dengan alasan menuntut ilmu…
    saya menyimak dialog http://muslim.or.id/hadits/tuntutlah-ilmu-sampai-ke-negeri-china.html
    komentar paling bawah antara pengunjung bernama Agus dengan adminnya Yulian Purnama ..disitu terlihat bung Yulian al Wahabi menafsirkan kata Ilmu dalam Qur’an dan Hadist hanya kepada ilmu Agama saja tok. Bahkan mengatakan menuntut ilmu diluar ilmu agama itu tidak dianjurkan dan tidak dipuji…luar biasa.. bacaan Qur’annya yang bagus jadi tidak berbekas..
    Kepada saudara2 yang masih simpati dengan dakwah salafi wahabi, tolong akalnya dijaga..jika sudah terdoktrin akan sangat sulit disembuhkan..kebatilan akan terlihat seperti kebenaran..kritik dan protes (walau dalam rangka mencari kebenaran) akan terberangus..hati nurani menjadi mati. Untuk selanjutnya seperti kebo yang dicocok hidung.
    Itu untuk kasus yang biasa saja dan tidak terlalu ekstrim
    Jelaslah mengapa pada kasus wahabi ekstrim yang dijejali doktrin terus menerus..beberapa pengikut awamnya rela jadi pengantin bom bunuh diri..dengan keyakinan yang menggebu…mereka melihat surga didalam ledakan bom..tanpa mempertimbangkan bahwa bunuh diri dan membunuh orang lain tanpa hak (bukan di medan perang) adalah tercela dan hina di mata Allah.

      1. Benar sekali mas Husaini..stigma teroris yang dialamatkan ke umat Islam juga adalah sumbangsih sekte wahabi…pembesar2 wahabi sibuk cium pipi kanan kiri dengan pemimpin kafir sementara kroconya sibuk menuduh umat Islam Sunni dan Syiah sebagai ahlul bid’ah musyrikin dan halal darahnya…apakah sudah saatnya mereka kita perangi?..maksud saya bukan saja di dunia maya..tapi di dunia nyata.

          1. Allahu akbar! Allahu Akbar! Allahu akabr!
            Kita satukan ummat islam, mungkin sudah dekat waktunya Haromain dibebaskan dari ahlul bid’ah Wahabi Najd!

  244. Bung Alex, koq menyalahkan radio rodja yg putar bacaan Al-qur’an disela-sela kajian? Emang antum maunya yang diputar apa? Nasyid? Qasidah? jrang jreng jrong?
    Tuh…ilmu antum itu aja cuma segitu…

    1. Maksud saya adalah ternyata Acara Radio Roja merupakan ekspresi yg membuktikan kebenaran Hadits yg mulia ini:
      سيخرج في آخر الزمان قوم أحداث الأسنان سفهاء الأحلام يقولون قول خير البرية يقرؤون القرآن لا يجاوز حناجرهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية ، فإذا لقيتموهم فاقتلوهم ، فإن قتلهم أجراً لمن قتلهم عند الله يوم القيامة
      “Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda (baru muncul di akhir tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya, maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah zaman), berucap dengan ucapan sbeaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca Al-Quran mereka, karena memerangi (membantah) mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “.(HR. Imam Bukhari : 3342)
      Naaahhh….. terbukti kan Radio Roja merupakan ekspresi kebenaran hadits tsb?

  245. Kita bisa juga mencermati bahwa ajaran Wahabi ini dari TREND-nya yg selalu timbul tenggelam? Sudah habis diberantas Imam Ali… eh muncul lagi dibawa taimiyah.. trus hilang tau tau dihidupkan kembali oleh MAW, lantas klo timbul tenggelam kapan jadi Wal Jamaahnya (mayoritas),
    Jika kita hubungkan dengan dengan hadist ini “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah kelompok mayoritas (as-sawad al a’zham).”
    (HR. Ibnu Majah, Abdullah bin Hamid, at Tabrani, al Lalika’i, Abu Nu’aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir, ini adalah hadits Shohih). Katanya al-Imam as-Suyuthi menafsirkan kata As-sawadul A’zhom sebagai sekelompok (jamaah) manusia yang terbanyak, yang bersatu dalam satu titian manhaj yang lurus.
    Jadi intinya yg Nyempal mestinya harus berpikir panjang lagi… mana kelompok yg Luempeng dan mana yg Nyempal.
    Wallohualam…

    1. @ummuhasanah, ga baik fitnah begitu..
      kang ucep cuma bilang pamit sementara waktu tdk bisa buka blog ini, dia ga ada bilang ninggalin keluarga, nama aja hasanah tapi ucapan dholalah kan ga sinkron jadinya…